
Setelah menyelesaikan administrasi, kami kembali ke bandara dan memutuskan untuk pulang hari ini juga. Soal kemarin, rasanya tak perlu diingat lagi. Tiket pesawatku yang hangus, mungkin belum rezeki ku. Lagipula tidak mungkin aku meninggalkan pria aneh ini sendirian di Jakarta tanpa seorangpun yang ia kenal. Lagipun, ia baru saja tertimpa musibah.
Sepanjang perjalanan di dalam pesawat aku hanya memejamkan mataku dan membiarkan jiwaku berkeliaran di alam bawah sadar. Entah dengan pria ini, mungkin ia melakukan hal yang sama denganku. Tubuhku rasanya benar-benar tak memiliki tenaga barang sedikitpun.Beberapa menit sebelum pesawat mendarat, aku telah terjaga. Tapi tidak dengan pria yang duduk di sampingku. Ia masih tertidur pulas. Kasihan, ia pasti lelah. Dan kemarin harus tidur diluar karena aku.
Entah mengapa aku begitu mengaguminya. Ia sosok pria yang keras, dingin, dan terkesan bad boy. Tapi, itu jauh sebelum aku mengenalnya. Dan sekarang semua asumsi itu patah. Jika ditanya, mengapa aku bertahan selama ini, maka aku sendiri tak tahu jawabannya. Jika soal ketampanan, banyak pria di luar sana yang lebih tampan darinya. Jika soal sopan santun dan tata krama nya, banyak pria di luar sana yang kupikir lebih baik daripada dia. Tapi, hatiku masih padanya. Ia berbeda, mungkin itu alasan mengapa aku menyukai pria ini. Bukan satu atau dua bulan rasa ini bertahan. Tapi, hampir tiga tahun. Bahkan aku tak tahu untuk apa aku mempertahankan rasa ini. Rasa yang berkali-kali mati karena rasa kecewa, dan berkali-kali pula ia bangkit kembali. Rasa yang ku harap agar bertahan hingga tahun-tahun berikutnya berganti. Hingga kita lelah menghitung hari. Dan aku tak tahu dimana rasa ini akan berujung.
"Kau tampan, kau indah, kau sempurna, bahkan lebih dari itu. Kau berbeda, kau istimewa, kaulah bahagiaku, mimpi besar ku." Gumam ku dalam hati.
Tak hentinya aku mengagumi ciptaan Tuhan yang satu ini. Entah apa yang membuatnya istimewa hingga aku menjadikannya pusat semesta.
***
Setelah perjalanan yang lumayan panjang, aku memutuskan untuk kembali ke rumah sendirian. Meski tadi Kak Sendy sempat menawarkan untuk mengantarkan ku kerumah. Tapi, aku menolak tawaran itu. Ia juga pasti sangat lelah dan ingin segera kembali ke rumah. Jadi aku tak ingin merepotkan nya. Langkahku terhenti sejenak di depan gerbang yang menjulang tinggi ini. Aku menatap bangunan berlantai dua itu dengan rasa tak sabar. Hari ini tepat hari Minggu, penghujung pekan yang mengesankan. Hari ini tepat dua Minggu sebelum malam pergantian tahun.
"Ting... Tong..."
Jemariku meraih bel yang terletak tepat disebelah kiri pintu kayu jati ini. Berharap seseorang di dalam rumah mendengarnya dan segera membukakan pintu untukku. Tak perlu menunggu lama, seseorang datang dari balik pintu. Tapi,.....
"Renata?"
"Eh, Eresha. Lo udah pulang?"
Gadis ini, mengapa dia ada disini. Apa dunia ini terlalu sempit, hingga aku terus-menerus melihatnya dimanapun aku berada. Yang benar saja, ia berada di setiap tempat.
"Oh, udah. Lo ngapain disini btw?"
__ADS_1
"Emm... Masalah itu mendingan lo masuk dulu. Kita obrolin di dalam. Lagian lo pasti capek juga kan? Yuk masuk." Ajak Renata.
Ia tampak mengelakkan pembicaraan ku barusan. Entah sengaja atau tidak, tapi terkesan seperti itu kurang lebihnya.
"Eh Eresha. Kok udah balik?"
Aku hanya tersenyum tipis lalu mengambil posisi di sebelah mama. Disana juga ada papa. Sepertinya mereka sedang bersantai, menikmati akhir pekan seperti biasanya. Aku tau ada sejuta pertanyaan yang ingin mama utarakan, begitupun dengan papa.
"Aku gak betah disana ma, jadi aku balik ke Indonesia. Terus masalah program pertukaran pelajar itu, bakal digantikan sama siswa lain. Lagian aku tuh gak ada niatan pengen ke Jepang." Jelasku.
Aku sengaja menjelaskan panjang lebar tentang alasanku kenapa aku secepat ini kembali ke Indonesia, agar mereka tak melontarkan pertanyaan-pertanyaan lain yang sebenarnya tak terlalu penting untuk ku jawab. Sekarang giliranku yang bertanya, kenapa gadis ini bisa ada di rumahku.
"Btw Renata kok bisa disini?" Tanyaku yang tak ingin berbasa-basi lagi.
"Jadi, gini biar Papa aja yang jelasin." Ucap Mama.
"Jadi gini, soal yang kamu nanya tentang nama Eresha itu, masih ingat kan?" Tanya Papa mencoba mengukur daya ingatku tentang kejadian waktu itu.
Aku hanya mengangguk mengiyakan perkataannya.
"Kamu tau kan kalau Mama itu bukan ibu kandung kamu."
Aku kembali mengangguk. Sebenarnya pertanyaan ini terlalu bertele-tele bagiku.
__ADS_1
Mama memang bukan ibu kandungku dan aku tau itu. Meski begitu, ia begitu menyayangiku. Hingga aku merasakan ia seperti ibu kandungku. Papa pernah cerita kepada ku soal ini. Waktu aku baru masuk SMP kurang lebih. Mereka pikir aku sudah cukup dewasa untuk mengetahui hal itu. Dan bahkan ketika Mama mengira jika aku tidak akan bisa menerima kenyataan bahwa ia adalah ibu tiri ku, aku malah sebaliknya. Aku hanya bersikap biasa saja, seolah tak ada apapun yang terjadi barusan. Aku hanya menganggap hal itu seperti angin lalu. Tak peduli entah itu candaan atau kenyataan, aku tak pernah mengambil pusing soal itu.
"Jadi, sebelum menikah dengan Mama mu, Papa pernah menikah dengan wanita lain dan dari pernikahan itu kami dianugerahi dua orang anak perempuan yang salah satunya adalah kamu Eresha."
"Langsung ke intinya aja pa." Ucapku tak sabar.
"Dan kamu mempunyai seorang kakak perempuan. Dan itu adalah Renata."
Mataku terbelalak lebar, hampir tak percaya dengan yang dikatakan papa barusan.
"Jadi saat kami bercerai, hak asuh kamu di ambil oleh Papa. Dan hak asuh Renata di ambil oleh mamanya. Karena sekarang mama nya Renata yang artinya ibu kamu juga, akan segera menikah minggu depan. Maka hak asuh Renata Papa yang ambil. Mulai sekarang Renata akan tinggal di rumah ini dan hal itu telah kami putuskan bersama."
"Itu namanya bukan diputuskan bersama. Itu namanya egois. Kenapa kalian enggak cerita ke aku soal hal ini sebelumnya."
"Kan kamu lagi di Jepang nak." Elak Mama.
"Kan bisa telepon."
Aku benar-benar kecewa, mereka dengan mudahnya mengambil keputusan ini. Seolah aku bukan bagian dari keluarga ini. Jadi mereka tak perlu meminta pendapatku. Aku benar-benar merasa terpukul. Duniaku benar-benar hancur. Kenapa setiap gadis ini memberiku kehadiran, semua bahagiaku ia rampas. Apa ia tak bisa menyisakan barang sedikit saja untukku.
"Terserah sih. Yaudah aku mau ke kamar dulu. Mau istirahat." Ucapku.
Aku menyeret koperku ke kamar dengan rasa kecewa yang mendalam. Kemudian membanting pintu jati dengan ukiran klasik itu. Sehingga benda disekitarnya ikut bergetar pelan.
__ADS_1