
Arka terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri. Ia selalu merutuki dirinya sepanjang perjalanan. Lagi-lagi ia melakukan hal yang begitu ceroboh. Untuk kesekian kalinya pula Eresha terluka karenanya, ia tak pernah mampu melindungi gadis ini sebagai mana mestinya. Eresha selalu celaka jika bersamanya.
Mungkin memang tak seharusnya mereka masih bersama. Tapi sekeras apapun Arka mencoba, selalu gagal. Dirinya masih belum terbiasa untuk menjadi tidak akrab dengan gadis ini.
Takdir memang tidak salah memilih Sendy. Pria itu jauh lebih pantas untuk bersama Eresha, dibanding dirinya.
***
Jam pelajaran selanjutnya sudah berlangsung sejak tadi. Pasti kami telah melewatkan banyak hal. Coba saja tadi Arka tidak bertindak seperti ini secara tiba-tiba, pasti kami akan sampai tepat waktu.
"Coba liat ada nggak gurunya!" Perintahku kemudian mendorong tubuh Arka.
Pria itu mendecak sebal, walau pada akhirnya ia tetap menuruti perintahku. Arka me mencuri-curi pandang ke dalam kelas dari sela-sela jendela. Tiba-tiba ia menyeret ku masuk ke kelas. Sebenarnya tak masalah mau bagaimana cara dia membawaku ke dalam sana. Toh aku juga sering menyeretnya. Tapi masalahnya, ia menarik tanganku yang terluka.
Meski aku telah berkali-kali mencoba untuk menepis tangannya, tetap saja ia tak menghiraukan hal itu. Ia terus membawaku masuk ke dalam kelas kemudian menuju meja kami. Akhirnya ia melepaskan cengkeramannya juga.
"Sakit tau!" Ketus ku.
Bahkan Arka tak menggubris ucapan ku sama sekali. Beruntung di kelas kami sedang jam kosong, jadi kami bisa selamat.
Aku menyandarkan tubuhku di kursi, kepalaku menengadah ke atas menatap kosong langit-langit. Pada kenyataannya kami harus bertemu lagi, bahkan menjadi lebih intens sekarang.
"Woy! Ngelamun aja!" Sorak Stefani dari belakang.
Aku tak berniat meladeninya saat ini. Aku ingin menenangkan diriku sejenak, meski tak tahu apa yang membuatku merasa terusik saat ini. Sepertinya aku akan ada rencana ke cafe nanti, sekaligus mengerjakan beberapa tugas power points disana.
"Eh, stef!" Sahutku tanpa memalingkan wajah.
"Iya? Kenapa?"
"Nanti aku ikut ke cafe ya."
"Ngapain lo ke cafe?"
"Udah ah banyak tanya. Nanti kita berangkat bareng."
"Oh, yaudah sih terserah lo aja."
Aku mengacungkan salah satu jempol ku pada gadis itu.
"Aku ikut!" Timpal Arka.
Aku lantas mengalihkan pandanganku kepada pria itu.
"Ngapain?" Tanyaku heran.
Hal gila apa lagi yang telah direncanakan pria ini.
"Ya emang enggak boleh? Cafe kan tempat umum, siapa aja boleh kesana." Balas Arka.
"Yaudah deh iyain aja. Males adu mulut sama orang yang enggak penting." Balasku acuh tak acuh.
"Tapi kamu masih penting bagi aku."
Kalimat Arka barusan berhasil membuatku terbungkam. Ku kira ia telah membenciku sebagaimana mestinya, tapi malah sebaliknya. Bagaimana jika rasa itu masih bertahan jauh didalam hatinya, dan tak pernah mati. Ia tentu akan sangat tersiksa.
***
Bel pertanda jam pelajaran hari ini telah usai, bergema di seluruh penjuru sekolah. Semua murid berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Ada yang tergesa-gesa karena harus pergi ekskul atau les, ada yang tak sabar untuk pulang ke rumah, ada yang mampir nongkrong dulu bersama teman-temannya, bahkan ada yang tak memiliki tujuan sama sekali.
Biasanya aku selalu menunggu hingga jalanan diluar sana cukup lengang, kemudian baru aku keluar dari kelas. Tapi karena kali ini aku telah berjanji kepada Stefani untuk ikut dengannya ke cafe, mau tak mau aku harus keluar lebih awal. Sementara Arka tampak membuntuti kami dari belakang dengan berjalan santai.
Stefani menarik tanganku agar aku bisa berjalan lebih cepat sedikit sebelum kami ketinggalan bis kota. Suasana kota Jakarta yang kala itu ramai dan penuh sesak dimana-mana, membuat atmosfir di sekitarnya berubah. Ditambah lagi cuaca saat itu sedang terik-teriknya.
Kami memaksakan diri untuk tetap masuk ke bis kota yang hampir penuh tersebut. Berdiri berjejalan tanpa jarak diantara puluhan orang, membuat suasana disini kian sumpek. Rasanya untuk menghirup oksigen di udara bebas saja harus berebut dengan yang lainnya. Dan inilah yang harus dirasakan gadis ini setiap harinya. Seharusnya aku bisa lebih bersyukur atas kehidupanku.
Akhirnya aku bisa bernafas lega setelah turun dari kendaraan umum itu. Stefani langsung menuju ke belakang untuk berganti seragam kerja. Sementara itu aku mengambil posisi tepat dibawah pendingin ruangan. Seragamku telah basah kuyup karena keringat. Semoga saja tidak ada aroma menyengat yang keluar, seharusnya begitu. Karena aku tak pernah lupa memakai deodorant sebelumnya.
Aku menghampiri Stefani yang baru saja bersiap di meja kasir miliknya.
"Dalgona coffe satu." Ujarku pelan.
"Oke, sip." Balas Stefani singkat.
Aku segera kembali ke meja, kemudian mengeluarkan laptop untuk mulai mengerjakan tugas.
Tadi Arka bilang ia mau ikut kesini, nyatanya sampai sekarang batang hidungnya masih belum kelihatan juga.
"Ah, sudahlah! Kenapa malah memikirkan dia." Gumam ku pelan.
Aku kembali mencoba merajut konsentrasi ku yang sempat buyar tadinya. Kemudian mulai mengerjakan tugasku perlahan.
"Ting!"
Lonceng cafe mendadak berbunyi, itu tandanya tempat ini kembali kedatangan pengunjung. Sebenarnya kali ini aku tak berniat menoleh ke arah sana. Lagipula aku sudah tahu, karena sebelumnya juga selalu begitu.
Tak lama pesanan ku akhirnya datang juga. "Terimakasih!"
__ADS_1
Aku bahkan tak sempat memalingkan wajahku sedikitpun karena terlalu sibuk dengan pekerjaanku saat ini. Namun ekor mataku dapat menangkap semua kejadian disekitarku meskipun tak begitu jelas dan hanya dalam jarak pandang tertentu.
"Ekhemm!"
Tiba-tiba pelayanan cafe tersebut berdeham pelan, kemudian duduk di depanku. Mau tak mau aku terpaksa memeriksanya untuk memastikan. Namun tubuhku malah mematung ditempat, kedua bola mataku membulat sempurna ketika mendapati Arka lah yang tengah berada di depanku saat ini.
Dengan susah payah aku menelan salivaku sendiri. Aku berusaha bersikap tenang dan biasa saja terhadap pria ini.
"Oh? Udah datang." Ucapku dengan sedikit kaku.
Arka tak menggubris pertanyaan ku yang sekedar basa-basi barusan. Kemudian ia meletakkan tasnya di atas meja.
Entah kenapa terkadang aku merasa sedikit canggung saat harus berhadapan dengannya, walaupun lebih sering bersikap biasa-biasa saja sebenarnya. Namun hal ini cukup membuatku merasa tidak begitu nyaman.
Satu menit, dua menit, tiga menit, hingga sepuluh menit berlangsung tak ada dialog antara kami berdua. Dua insan yang saling egois ini enggan memulai topik lebih dulu.
Ah, sudahlah! Lagipula aku harus menyelesaikan pekerjaan ini tepat waktu.
Tiba-tiba Arka menarik paksa laptopku, kemudian menutupnya dengan kasar.
"Oh tidak! Jangan yang satu itu. Mau apa lagi dia." Gumam ku dalam hati.
"Balikin ka." Ujarku sambil menengadahkan tangan.
"Bisa enggak sih jangan sibuk mulu. Aku pengen ngobrol dari tadi."
Pengakuan Arka barusan membuatku bungkam.
"Kenapa enggak ngomong aja?"
"Takut ganggu."
"Yaudah ngomong aja." Balasku dengan santai.
"Aku enggak yakin bakalan bisa move on dari kamu."
"Kenapa? Karena sekarang kita sekelas?"
"Bahkan lebih buruk dari itu, sekarang kita satu meja kan?"
"Aku bakal pindah kok kalau kamu mau, mungkin aku bakal tukeran tempat duduk sama Stefani atau Clara."
"Enggak! Jangan pernah lakuin itu. Setidaknya aku pengen supaya ditahun-tahun terakhir ini kita bisa saling ngasih kesan."
"Maaf aku enggak bisa kasih kesan apapun."
Aku mengangguk lemah mengiyakan perkataannya.
Ujar Arka sambil menghela nafas panjang kemudian menyodorkan benda persegi panjang itu. "Ini laptopnya aku balikin."
Aku langsung mengembalikan laptop tersebut ke dalam tas. Aku bahkan tak berniat untuk melanjutkan tugas itu lagi.
"Kenapa kok malah disimpan?" Tanya Arka kebingungan.
"Udah enggak mood, nanti aja lanjutin di rumah."
"Karena aku?"
Aku menggeleng cepat, tak ingin membuat pria ini menjadi salah paham denganku.
"Kan kamu sendiri yang bilang sama aku suruh nikmati semua kebetulan ini disisa waktu aku. Eh, disisa waktu kita maksudnya." Jelasku.
"Tapi kan ini bukan kebetulan."
"Anggap aja ini semacam sebuah kebetulan yang disengaja. Sama seperti di bus waktu itu."
Arka tertawa pelan setelah mendengar kalimat yang ku lontarkan barusan. Akhirnya setelah sekian lama, aku kembali melihat senyum itu mengembang di bibirnya.
***
Aku melirik sekilas ke arah jam tanganku. Sudah pukul empat sore, sebaiknya aku segera pulang. Aku segera membereskan barang-barang ku, kemudian beranjak dari tempat itu.
"Mau pulang?" Tanya Arka spontan.
Aku mengangguk mengiyakan perkataannya, lalu menuju kasir untuk membayar bill nya.
"Sekalian sama punya Arka, berapa jadinya?" Ujarku pada Stefani.
"Wuih... Kesambet angin apa lo? Kalian baru aja balikan ya?" Ledek gadis itu.
Aku menyeringai singkat "Udah buruan, mau pulang nih."
"Oh oke-oke." Balas Stefani lalu menghitung tagihannya.
"Empat puluh lima ribu rupiah aja Eresha Caitlyn Ananda." Ujarnya dengan sedikit berlebih.
"Nih." Balasku sambil mengeluarkan uang pas.
__ADS_1
"Udah hush...hush... sana pergi." Ujar Stefani sesaat setelah aku membayar bill tersebut.
Jika dia bukan temanku, ingin sekali rasanya aku menjambak wanita yang satu itu. Semenjak ia satu meja dengan Clara, sifatnya menjadi begitu menyebalkan.
Aku menarik nafas panjang, berusaha meningkatkan level kesabaranku untuk menghadapi manusia di hadapanku saat ini.
"Emang mau pergi kali!" Balasku sambil melengos.
Aku langsung memutar balik tubuhku menuju pintu keluar yang sekaligus pintu masuk juga. Sementara Arka terlihat datang dari arah yang berlawanan menuju meja kasir.
Seperti biasanya, aku menunggu taxi di depan cafe ini. Rasanya aku benar-benar kapok jika harus berjalan kaki dari tempat ini untuk pulang ke rumah. Apalagi jika melewati jalanan yang waktu itu. Membayangkannya saja sudah membuatku bergidik ngeri.
Karena hari sudah lumayan sore, jadi matahari tak seterik tadi siang. Aku sengaja berdiri agak lebih maju ke tepi trotoar, agar bisa melihat taxi dari kejauhan.
"Thanks ya, buat traktirannya."
Suara itu tiba-tiba muncul dari belakang. Ternyata Arka lah si pemilik suara bertimbre berat itu.
"It's okay." Balasku singkat.
"Pulang naik apa?"
"Naik taxi kayak biasanya."
Setelah itu Arka tak membalas kalimatku. Lagi-lagi sempat terjadi miss komunikasi antara kami berdua.
Aku memicingkan kedua mataku, mencoba memperjelas pandanganku. Sebuah objek melaju dengan kecepatan penuh, dari kejauhan. Kemudian secara perlahan melambat, lalu berhenti tepat di depan kami.
Tabung gambar itu....
Siapa lagi jika bukan Kak Sendy, hanya dia satu-satunya orang yang ku kenal dan selalu membawa senjata pamungkasnya itu kemanapun. Apa ia baru saja pulang kuliah, atau tidak ada kelas mungkin hari ini. Tapi bagaimana bisa dia mengetahui jika aku disini.
Pria itu membuka kaca helmnya, kemudian tersenyum kecil.
"Udah selesai?" Tanya Kak Sendy.
Aku menganggukkan kepalaku dengan sedikit ragu. "Tau dari mana aku ada di cafe ini?"
"Arka yang ngasih tau. Dia bilang kamu mau balik, jadi aku buru-buru ke sini."
"Terus rela enggak masuk kelas demi aku?" Ujarku dengan sorot mata tajam.
"Enggak lah, lagian kelasnya udah selesai dari siang kok." Elak pria tersebut.
"Beneran?"
"Ya iya lah."
"Terus ngapain masih bawa tabung gambar kalau udah selesai kuliah?"
"Biasalah, biar keliatan anak arsi nya."
Aku mendengus kesal mendengar jawaban pria itu.
"Terus Arka gimana?" Tanyaku spontan.
"Oh? Aku kan kesini naik motor, jadi baliknya ya enggak gimana-gimana." Balas Arka.
Ia terlihat melamun sejak tadi.
"Hati-hati di jalan pulang." Ujarku pada Arka.
Kemudian aku segera naik ke sepeda motor yang tengah terparkir tepat di depanku.
"Hati-hati juga!" Balas Arka sambil tersenyum kaku.
Raut wajahnya tak bisa berbohong. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Senyumnya berbeda dengan yang kulihat beberapa saat lalu. Senyumnya kali ini jauh dari kata tulus, ia terlihat melakukannya dengan terpaksa.
Sorot matanya bersinar, namun berbeda dari yang biasanya. Kilau kedua biji matanya penu arti. Tak bisa ku tangkap dengan jelas apa maknanya, tapi aku tahu apa maksudnya.
Pasti sulit baginya untuk melakukan semua ini. Hatinya berkecamuk tak setuju. Namun ia adalah lelaki yang kuat dan tegar. Ia berhasil mengalahkan rasa egoisnya.
Arka mungkin tak akan menjadi seperti ini sekarang jika kami tak pernah bertemu sebelumnya. Alur kehidupan kami bertiga memang begitu rumit. Aku sendiri bahkan sering tak mengerti dengan apa yang terjadi.
***
Setelah Eresha dan Sendy pergi, siswa kelas tiga SMA itu segera menghampiri motornya yang terparkir di depan cafe. Arka duduk di atas motornya sambil setengah melamun.
Kemudian tanpa sebab Arka mengacak-acak rambutnya dengan perasaan kesal. Tanpa pikir panjang terlebih dahulu, ia langsung menghantam badan motor miliknya dengan tangan kosong.
Tinjuan yang ia berikan hanya membuat tangannya terluka. Sementara badan motor tersebut mengalami sedikit penyok. Jika sudah tersulut emosi, akan sulit baginya untuk mengatur dirinya sendiri.
Arka memandangi tangan kanannya yang terdapat cukup banyak luka. Tak jarang cairan berwarna merah kental itu juga turut mengalir dari sumber luka tersebut.
Arka menghela nafas panjang kemudian membenarkan helmnya. Tak lama ia langsung beranjak dari tempat itu, tak tahu entah akan kemana dia setelah ini.
Tanpa ia sadari, Stefani yang waktu itu masih berada di dalam cafe karena harus bekerja telah melihat semuanya.
__ADS_1
"Ada apa sama Arka? Kok dia kayak emosi gitu." Batin Stefani dalam hati.