
Tangisku pecah di pelukan pria itu. Arka membelai halus rambut panjangku. Kehangatan yang ia berikan mampu memberikan ku sedikit lupa dari sekian banyak masalah yang ku punya.
"Aku pengen hari ini, esok dan selamanya kita selalu seperti ini." Ucapku dengan sedikit terisak.
"Aku juga pengen seperti itu, tapi aku sendiri enggak tau apakah besok kita masih bisa seperti ini."
"Harus bisa, kenapa enggak bisa?"
"Kalau misalnya suatu saat nanti aku udah enggak ada di dekat kamu lagi, kamu jangan nekat kayak tadi ya."
"Kamu mau pergi kemana?"
"Ke satu hati yang ku benci."
"Siapa? Clara? Kamu mau balikan sama Clara?"
Arka tak menjawab pertanyaanku barusan ia hanya diam seribu bahasa.
Arka mengantarku dan Renata kembali ke rumah. Selama perjalanan Arka tak berbicara sedikitpun. Ia sedang fokus menyetir mobilnya, meski dengan tatapan kosong.
***
Kemacetan yang lumayan panjang, membuat mereka mau tak mau harus menunggu lama. Eresha yang duduk di sebelah Arka sudah tampak tertidur pulas. Ia begitu kelelahan hari ini, Arka tau dengan jelas jika ia sangat sulit untuk melewati hari ini. Tapi nyatanya, gadis itu berhasil. Sebentar lagi hari ini akan segera berakhir dan esok cerita baru akan menyapanya.
Arka mengusap halus pipi gadis itu yang masih basah karena air matanya sendiri. Kedua matanya bengkak karena ia terlalu banyak menangis untuk hari ini.
Sesampainya di rumah Eresha, Arka menggendongnya turun dari mobil dan membawa gadis itu ke kamar tidurnya. Arka terlalu tega untuk membangunkan peri kecilnya yang sedang kelelahan. Arka meletakkan tubuh Eresha dengan hati-hati di atas kasur kemudian menyelimutinya. Arka mengecup singkat dahi gadis itu sebelum meninggalkannya. Langkah Arka terhenti sejenak, lagi-lagi bola matanya tertuju pada foto yang tergantung di sebelah sana.
***
"Lo udah sekolah?" Tanya Stefani heran.
Aku hanya menganggukkan kepalaku.
"Gue denger dari Arka, kemarin lo nusuk tangan lo sendiri pakai paku. Itu beneran?"
Aku kembali mengangguk.
"Ih, udah gila lo sha."
"Mana coba liat tangan lo."
Stefani meraih tanganku yang terbalut kain kasa.
"Pelan-pelan dong, sakit tau."
"Ya maaf."
Gadis bawel itu mengamati tanganku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lo udah bosen hidup sha?"
"Iya, aku...."
"Lo kenapa?"
"Enggak." Aku langsung mengelak.
"Terus sekarang kondisi lo gimana? Udah mendingan? Sekarang yang lo rasain apa?"
"Enggak apa-apa kok, udah mendingan."
"Gue perhatiin nih ya, dari kemarin muka lo kusut banget. Apa perlu gue ambilin setrikaan?"
Aku tak menggubris ucapan Stefani sedikitpun. Aku menghela nafas panjang sebelum menceritakan semuanya kepada teman sebangku ku ini yang sekaligus berperan sebagai sahabatku.
"Jadi gini, kemarin pas aku pulang ke rumah tiba-tiba Kakak aku yang dari Siantar datang ke rumah. Dia bilang kalau dia bakal kuliah di Jakarta dan tinggal di rumah nenek. Tapi aku enggak suka kalau ada di dekat dia." Aku menceritakan semua keluh kesah ku pada gadis ini.
Stefani tampak serius mendengarkan ceritaku.
"Loh, dia kan kakak lo sendiri. Terus kenapa lo benci sama dia?"
"Kita sempat punya masalah dan semenjak itu aku jadi benci banget sama dia."
"Yaudah mendingan lo coba maafin dia deh. Lo lupain masa lalu kalian yang kurang baik itu. Siapa tau hubungan kalian sebagai kakak adik bisa akur lagi."
"Enggak bakalan bisa stef."
"Yaudah deh, gimana kalau gue beliin lo roti coklat deh. Kan katanya cokelat bisa memperbaiki suasana hati yang lagi bete kayak lo nih."
"Aku juga sekalian mau balikin bajunya Arka."
"Baju Arka kok bisa sama lo?"
"Iya waktu itu aku sama Arka kehujanan, dan Arka ngasih pinjam bajunya ke aku buat ganti."
Aku mengambil baju pria itu dari dalam tas ku. Kemudian kami segera turun ke bawah.
"Sha! Liat deh!" Stefani mengacungkan jarinya ke arah parkiran.
Hatiku seperti di campakkan ke tong sampah rasanya. Sudah tak ada artinya lagi. Aku melihat Arka bersama Clara berboncengan bersama. Clara menempati tempat yang biasanya menjadi milikku. Stefani menarik lenganku untuk menghampiri mereka berdua.
"Gila ya lo Arka! Enggak punya otak atau gimana? Mana yang katanya juara olimpiade, murid kelas unggulan, tapi otaknya enggak di pakai."
"Heh, maksud lo apa bilang kayak gitu ke Arka!" Clara langsung menyambar ucapan Stefani barusan.
"Udah lah stef. Kita ngalah aja, karena mengalah bukan berarti kalah." Aku mencoba menenangkan sahabatku yang tersulut emosi karena Clara.
"Oh, iya aku cuma mau balikin baju kamu yang kemarin. Terimakasih banyak ya. Dan, ini kan hati yang kamu benci itu?" Ujarku sambil menyodorkan baju Arka yang telah ku lipat rapih di dalam goodie bag.
"Kalian masih pacaran kan?" Tanya Stefani khawatir.
"Tanya aja sama Arka." Ujarku.
Stefani menyorot tajam Arka, tapi pria itu masih tetap bungkam.
"Kalau beneran lo masih pacaran sama Eresha, kelakuan lo kali ini benar-benar keterlaluan ka. Dan kalau Eresha masih bisa bertahan dengan situasi ini sampai nanti ataupun besok atau mungkin selamanya, lo harusnya bisa lebih menghargai dia. Lo cowok yang beruntung bisa dapetin cewek kayak dia, karena enggak semua cewek bisa seperti Eresha. Termasuk yang lo bonceng barusan."
Mendadak Stefani menceramahi kami. Entah sejak kapan ia menjadi sebijak ini. Aku sendiri terkejut mendengar kata-katanya barusan. Itu seperti kalimat tabu yang enggan diucapkannya selama ini, tapi akhirnya terucap juga.
"Udahlah ayo." Aku mendesak Stefani agar segera menyelesaikan topiknya.
Aku tak ingin berlama-lama disini, karena itu semua akan membuatku semakin sakit hati saja.
"Satu lagi, mungkin bagi dunia lo itu cuma satu orang! Tapi bagi seseorang, mungkin lo adalah dunia nya!" Stefani memperingati Arka sekali lagi.
Kemudian kami segera pergi dari sana. Aku mempercepat langkahku, hampir berlari.
"Lo tadi pergi sekolah enggak bareng dia sha?"
"Enggak, aku naik bis."
"Gila ya, dengan status kalian yang masih pacaran sekarang. Sempat-sempatnya dia pergi bareng sama si curut itu."
"Mungkin tadi pas Arka mau ke rumah ku, dia ketemu Clara yang lagi kesusahan. Terus di anterin deh. Jangan berpikiran negatif dulu."
Aku terus mencoba untuk berpikir positif, jika ada alasan lain yang membuat Arka berangkat bersama Stefani. Meski rasanya itu tak mungkin, aku tak ingin mengotori pikiranku sendiri dengan hal-hal buruk tentang Arka.
"Mau sampai kapan sih lo stay positive thinking mulu? Sesekali lo harus pakai akal sehat lo."
"Dengerin nih ya stef. Pikiran kita itu adalah magnet. Jika kita berfikiran positif, maka itu akan menarik hal-hal positif di sekeliling kita. Dan kalau kita berfikiran negatif, itu malah sebaliknya."
"Terserah lo deh sha. Percuma juga gue bilangin lo. Tapi nih ya sha, menurut gue jangan siksa diri lo sendiri dengan positive thinking lo. Emang sih positive thinking itu bagus dan harus malahan. Tapi, lo juga harus tau kapan harus ngelakuin itu. Jangan lo pukul rata di semua situasi."
***
"Aku pusing stef." Keluhku pada Stefani.
"Pusing kenapa lo?"
"Ya mana aku tau."
"Terus gimana nih? Mau aku anterin ke UKS? Bu Sarah nih gurunya, gue enggak berani permisi keluar kelas."
Hari ini ada pelajaran Bu Sarah lagi, dan kenapa aku harus mendadak pusing di saat pelajaran Bu Sarah sedang berlangsung. Aku menghela nafas panjang. Aku mencoba tetap fokus meski nyeri ini sudah tak bisa ku tahan lagi. Tapi jika Bu Sarah mendapatiku sedang tak memperhatikan penjelasannya di depan, aku akan terkena masalah baru.
"Tahan deh, dikit lagi udah mau selesai kok kelas maut kita. Sabar sha, tahan dikit lagi ya lima menit lagi kok." Bisik Stefani sambil melirik jam dinding yang tergantung di atas papan tulis.
Aku hanya menggangguk lemah. Apa ini efek samping dari kejadian kemarin, atau aku masuk angin, atau malah vertigo ku kambuh lagi.
"Teng... Teng... Teng..."
Akhirnya bel pertanda jam istirahat telah menggema di seluruh penjuru sekolah. Aki dan Stefani buru-buru merapihkan meja kami yang berantakan.
"Lo masih pusing?" Tanya Stefani padaku.
"Udah mendingan sih."
"Lo tadi pagi, sebelum makan roti yang gue kasih udah sarapan belum?"
Aku menyipitkan mataku mencoba mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
"Belum, hehe..." Jawabku sambil nyengir seolah tak berdosa.
"Eresha.... Pantes aja lah lo pusing." Stefani terlihat meningkatkan level kesabarannya untuk menghadapi anak seperti aku.
"Ya lagian bibi enggak sempat masakin sarapan karena harus ngerawat nenek di rumah."
"Nenek lo udah pulang?"
"Udah."
"Syukurlah.... Yaudah ayo ke kantin, lo isi tuh perut lo yang gentong ini."
"Enak aja bilangin aku gentong. Yanga ada kamu tuh yang gentong."
"Eh, tunggu. Itu yang tadi bukan alasan lo doang kan kalau si bibi enggak masak?"
"Alasan apaan lagi sih?"
"Jangan bilang kalau lo mogok makan gara-gara lo lagi ada masalah sama Arka." Tundingnya seenak jidat.
"Ya enggak lah. Aku enggak sebucin itu juga kali. Eh, ngomong-ngomong bucin, kamu tadi pagi tuh kesambet apa sih? Kok kata-katanya bijak banget gitu, biasanya kan kamu paling anti sama kalimat begituan."
"Ya siapa coba yang enggak emosi liat pelakor yang enggak tau diri."
"Haha... Dasar."
"Nah, gitu dong ketawa."
Kami segera menuju kantin sebelum tempat itu padat dan kami tidak mendapatkan tempat duduk.
"Mbak, mie goreng nya dua ya. Minumnya teh manis dingin." Pesan Stefani pada si mbak yang sedang sibuk di balik etalase.
"Oke." Sahut si mbak.
"Eh, gue boleh duduk disini kan?" Ucap seseorang yang tiba-tiba menghampiri tempat duduk kami.
Aku mendongakkan kepalaku mencari tahu siapa si pemilik suara barusan.
"Clara?" Tanyaku heran.
Ada urusan apa gadis itu kemari.
"Masih ada tempat duduk lain kan?" Tanya Stefani ketus.
__ADS_1
"Enggak ada, udah penuh semua. Tinggal disini doang yang kosong." Balasnya dengan nada sedikit memelas.
Stefani meninggikan pandangannya, mengamati meja disekitarnya. Memang benar tak ada meja kosong yang tersisa. Dengan berat hati Stefani akhirnya mengizinkan gadis menyebalkan itu untuk duduk dengan kami.
"Yaudah iya." Ucap Stefani sambil menghela berat.
Clara langsung mengambil tempat tepat di samping Stefani.
Aku juga tidak keberatan jika Clara duduk semeja dengan kami.
"Tapi, awas aja kalau lo malah buat masalah disini." Ancam Stefani pada Clara.
"Iya-iya, siapa juga yang mau buat masalah."
Wajah Clara yang tadinya tampak begitu sumringah langsung tersenyum kecut mendengar peringatan dari Stefani.
"Arka!" Sahut Clara dari tempat duduknya.
Kedua mataku terbuat sempurna begitu mendengar nama itu. Aku dan Stefani saling bertatapan sebentar kemudian mengawasi setiap gerak-gerik gadis di depanku ini.
Arka langsung menoleh dan menghampiri Clara.
"Lo mau makan kan? Enggak ada tempat duduk yang kosong lagi. Mending lo duduk disini aja." Jelas Clara.
Arka tampak terdiam sebentar sambil menatap tempat duduk di sebelahku yang satu-satunya kosong saat ini. Ia tak berkata sedikitpun, kemudian langsung mengisi kursi disebelahku.
Aku masih belum mengerti dengan maksud dan tujuan Clara, apa ini termasuk ke dalam bagian dari permainannya. Semenjak komunikasi kami tak begitu baik, aku merasa sedikit canggung duduk di sampingnya saat ini. Aku segera membenarkan posisi dudukku.
"Mbak, bakso nya satu. Minumnya teh kosong aja." Arka memesan makan siangnya.
Aku tak percaya jika kami berempat akan makan dalam satu meja sekarang ini.
Dua gadis di depanku ini tampak mencurigakan, sedang membicarakan apa mereka sampai harus bisik-bisik seperti itu.
"Kalian ngapain?" Tanya aku dan Arka secara bersamaan.
Aku dan Arka saling bertatapan sejenak karena ketidak sengaja barusan. Aku benar-benar tak tahu jika Arka akan mengucapkan kalimat itu juga barusan.
"Oh enggak kok." Jawab mereka yang tiba-tiba menjadi salah tingkah.
Aku menjadi semakin curiga dengan mereka berdua. Tak biasanya mereka berdua menjadi begitu akrab, biasanya selalu beradu mulut jika bertemu. Tapi tadi mereka terlihat membicarakan sesuatu yang begitu serius. Aku menyorot lekat Stefani, hingga membuat gadis itu semakin salah tingkah.
"Ini pesanannya." Tiba-tiba si mbak datang memecah ketegangan suasana.
Ia menata beberapa mangkuk dengan menu yang berbeda serta empat gelas minuman yang berbeda pula.
"Terimakasih mbak." Ucap kami berempat.
Kami menikmati makan siang kami dengan khidmat. Kami benar-benar kelaparan saat itu.
Tiba-tiba saja kuah bakso yang disendokkan Arka untuk di lahapnya tumpah tanpa sebab dan mengenai tanganku.
"Aduh!" Aku merintih kesakitan.
Cairan panas itu mengenai tanganku yang terluka kemarin. Ah, sial! Bagaimana bisa ini semua terjadi. Jika dipikir-pikir Arka tak mungkin sengaja melakukan itu.
"Eh, maaf. Aduh, aku beneran enggak sengaja." Ucap Arka tulus.
Arka langsung meraih tanganku yang terkena siraman kuah baksonya tadi.
"Sakit ya?" Tanyanya khawatir.
"Ya iya lah." Jawabku.
"Udah, ayo ke UKS ini harus ganti perban."
Ia kemudian menarik lenganku dan menuntunku menuju ke UKS. Sampai sekarang ia masih belum melepaskan genggamannya dari lenganku, mungkin ia takut jika aku akan kabur.
Langkahku tertatih-tatih di buatnya, aku terus berusaha menyejajarkan posisi kami. Tapi langkahnya yang terlalu besar dibangdingkan aku, membuatku kewalahan dan hampir menyerah. Ia berjalan terlalu cepat. Apa ia tak memperhatikan langkahku yang sudah seperti diseret olehnya.
"Bu, tolong di gantiin bu perbannya. Tadi kena siram kuah bakso panas." Jelas Arka begitu masuk ruangan UKS.
Bahkan ibu penjaga UKS belum sempat mengucapkan sepatah katapun. Ia langsung mengangguk kemudian menyuruhku duduk di kursi panjang, sementara wanita paruh baya itu mengambil peralatan yang diperlukan.
"Sini ibu lepas dulu perbannya."
Aku menyerahkan tanganku yang sudah mati rasa. Ia membuka perbannya, menambahkan sedikit obat. Kemudian menggantinya dengan perban yang baru.
***
Setelah selesai mengganti perban, kami kembali ke kantin. Astaga! Apakah pria ini bisa sedikit memperlambat langkahnya. Aku sudah letih mengejar jejak kakinya.
"Mereka kemana?" Tanya Arka.
Aku juga heran, mana aku tahu kemana mereka pergi. Lagipula dari tadi aku bersama dengannya.
"Udah selesai makan mungkin." Tebak ku begitu saja.
"Cepat banget sih masa." Arka menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ya mungkin kita yang kelamaan di UKS."
Arka mendecak pelan.
"Yaudah kalau gitu aku susul Stefani ke kelas aja deh." Ujarku kemudian beranjak dari tempat dudukku.
Tiba-tiba sebuah tangan kembali mencegahku pergi dari sana. Ia menarik tanganku dengan cepat dan membuatku kembali terduduk. Aku mematung di tempat, apa yang barusan di lakukan oleh pria ini.
"Kamu enggak boleh pergi sebelum makanannya habis." Ucapnya dengan nada datar.
Tangannya yang satu sibuk menyendok kan bola-bola daging itu ke mulutnya, sementara tangan yang lainnya tetap menahanku agar tak beranjak dari sana.
"Udah kenyang." Balasku singkat.
"Apa perlu aku suapin?" Sambung nya.
Aku langsung menggeleng cepat.
"Yaudah kalau gitu makan."
Aku mendengus sebal dengan tingkah menyebalkannya, namun di satu sisi sebenarnya perlakuannya padaku ini begitu manis.
Aku segera menyantap makananku yang hampir dingin itu.
***
Aku membersihkan mulutku dengan tisu yang memang sudah di sediakan di setiap meja. Arka hampir selesai dengan kuah baksonya.
Tanpa disuruh, tanganku bergerak menyeka mulut pria itu yang tampak berminyak. Tubuhnya mematung di tempat, matanya terpaku menatapku.
"Udah kan? Aku balik ya." Pamitku.
Arka masih saja mematung di tempat.
"Woy!" Sahutku.
"Eh? Kenapa?" Arka tampak seperti baru saja selesai melamun.
"Aku mau balik ke kelas." Ucapku sekali lagi.
"Eh, tunggu."
Lagi-lagi ia mencegahku pergi dari sana.
"Apa lagi? Kan makanannya udah habis."
"Biar aku anterin, aku juga mau balik."
"Kan kelas kita beda arah."
"Beda nya kan setelah kamu naik tangga. Sebelum itu ya kita ngelewatin jalan yang sama lah."
"Oh iya ya." Ucapku sambil tersenyum kecil.
"Sebentar, aku bayar dulu."
Aku menunggu Arka yang sedang membayar makanan kami. Aku masih keran kemana perginya kedua gadis itu. Apa mereka sengaja meninggalkan aku dan Arka berduaan di kantin. Tapi rasanya tidak mungkin, mengingat sepertinya Clara masih menyimpan rasa terhadap Arka. Mana mungkin Clara membiarkan apa lagi menyengaja kejadian seperti ini terjadi.
"Udah?" Tanyaku ketika Arka menghampiriku sambil menghitung uang kembalian.
"Udah yuk." Ajaknya.
Tiba-tiba ia kembali menggenggam tanganku.
"Ngapain?" Tanyaku dengan pandangan rendah yang menyoroti tangannya.
"Kan kemarin kamu bilang pengen kayak gini hari ini, esok dan selamanya."
"Haha..." Entah kenapa kali ini aku bisa dengan mudahnya tertawa.
Sikap pria ini lagi-lagi berubah menjadi begitu manis padaku setelah kemarin mendiamkan ku.
"Nah gitu dong ketawa." Ujarnya sambil ikut tertawa juga.
"Eh, nanti kamu pulang sama Kak Sendy aja ya." Sambil Arka.
"Kenapa?"
"Aku enggak bisa nganterin kamu pulang, soalnya nanti pulang sekolah aku langsung kerja kelompok di rumah temen. Enggak apa-apa kan?" Jelasnya.
"Enggak apa-apa. Lagian aku enggak mai gara-gara aku sekolah kamu sampai terganggu. Eh, tapi emang nya Kak Sendy udah pulang jam segitu?"
"Udah, hari ini dia enggak ke kampus katanya. Enggak ada kelas hari ini."
"Kenapa harus sama Kak Sendy? Kan aku bisa naik bis."
"Kalau kamu sama Kak Sendy kan aku lebih tenang. Karena aku juga udah kenal dia. Jadi kalau kamu bareng sama dia, kamu bakalan aman."
Aku hanya menganggukkan kepalaku.
***
"Stefani!" Teriakku dari pintu kelas.
"Aduh, mati gue." Gumamnya.
"Kamu sama Clara kemana tadi? Kok pas aku sama Arka Balim dari UKS kalian enggak ada?" Aku langsung menginterogasi gadis ini.
"Ya kita udah selesai makan lah. Kalian lama banget sih lagian, ya kita balik duluan. Lagian kalian ngapain sih? Pacaran? Bisa emosi gue lama-lama kalau sama si Clara."
"Ya enggak lah, enak aja nuduh aku pacaran."
"Terus kenapa lo baru balik."
"Makan dulu lah di kantin."
"Sama Arka?"
"Ya iya, mau sama siapa lagi."
"Ekhemm..."
"Kenapa?"
"Enggak apa-apa kok."
__ADS_1
"Eh, kamu yakin balik ke kelas duluan karena udah habis makanannya?"
"Ya iya lah."
"Tapi tadi aku liat masih ada sisa tuh."
"Gue kekenyangan." Elaknya.
"Beneran?"
Entah kenapa aku merasa tak puas dengan jawaban nya barusan. Aku merasa jika Stefani menyembunyikan sesuatu dariku.
"Eh, tadi kamu tumben ngobrol sama Clara."
"Eh? Kapan?"
"Tadi pas kita pesan makanan."
"Teng... Teng... Teng..."
Bel pertanda jam istirahat telah usai kembali menggema.
"Udah masuk." Ujar Stefani.
Stefani terus-terusan mengelak dari semua pertanyaanku. Aku menghela panjang. Terserah dia saja, aku juga tak mau memaksakan jika ia tak ingin menceritakannya sekarang.
Aku mengeluarkan buku sejarah dari tas ku. Baiklah.... Mari kita lupakan soal itu.
***
Lonceng pulang sekolah telah berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar dari bangunan itu. Aku melangkah keluar kelas menuju gerbang.
"Gue pulang duluan ya." Pamit Stefani.
Aku menganggukkan kepalaku.
Stefani berlari menyusul bis kota yang hampir meninggalkannya. Kasihan gadis itu, pasti setelah ini ia harus berangkat ke tempat kerjanya.
"Tin... Tin... Tin..."
Suara klakson yang sangat nyaring membuatku tersentak kaget. Kakiku membuat gerakan refleks untuk mundur beberapa langkah kebelakang.
"Kak Sendy?" Aku memastikan jika pria yang baru saja membunyikan suara klakson itu adalah orang yang benar.
"Yuk naik."
Aku langsung menuruti apa yang dikatakannya barusan.
***
Arka mengikuti sepeda motornya Kak Sendy dari belakang. Ia sengaja membuntuti pacarnya itu, karena bagaimanapun juga Arka harus memastikan jika Eresha benar-benar selamanya sampai ke rumah.
Setelah Eresha sampai dirumahnya, Kak Sendy segera memutar balik sepeda motornya. Namun tiba-tiba saja Arka menghalangi jalan Kak Sendy. Hampir saja sepeda motor mereka tabrakan.
"Arka? Kamu ngapain nongol tiba-tiba? Hampir aja aku nabrak kamu loh."
"Ya maaf, aku tadi sebenarnya ngikutin kalian. Oh iya kak, kau mau ngomong hal penting sama kakak."
"Yaudah kita ngomong nya di cafe biasa aja. Enggak enak kalau di tengah jalan gini."
Arka mengangguk paham. Mereka segera menancap gas sepeda motornya ke tempat yang di maksud.
***
"Ting!!!"
Lonceng kecil yang tergantung diatas pintu cafe selalu berbunyi setiap ada seseorang yang membuka pintu. Arka dan Sendy mengambil tempat duduk tepat di samping dinding kaca cafe tersebut.
Seorang pelayan datang menghampiri mereka berdua dengan membawa daftar menu.
"Silahkan, mau pesan apa." Ujar si pelayan cafe sambil menyodorkan daftar menu yang ia bawa.
"Moca latte satu.... Kalau kamu ka?" Sendy menggantungkan kalimatnya, bertanya sebentar pada pria di depannya.
"Cappucino." Jawabnya singkat.
"Oh, oke. Kalau gitu moca latte satu sama cappucino satu ya mbak."
"Baik mas, silahkan di tunggu."
Arka kembali ke tujuan utamanya mengajak Sendy ke sini untuk membicarakan sesuatu.
"Kak, aku mau ngomong sesuatu. Soal Eresha."
"Eresha kenapa?"
Mereka berdua langsung berubah menjadi lebih serius jika mendengar nama gadis itu.
"Mau sampai kapan kita nyembunyiin rahasia ini?"
Sendy mengambil nafas sebentar, kemudian kembali ke topik.
"Aku juga belum tau."
"Apa kakak yakin, mau nunggu waktu yang bongkar semua kenyataan pahit ini?"
"Kalau suatu saat ingatan dia soal masa lalunya kembali, mungkin itu akan lebih meyakinkan bagi dia. Akan sulit bagi kita buat jelasin masalah ini, sementara Eresha sendiri enggak ingat apa-apa soal masa lalu nya." Jelas Sendy.
"Tapi gimana kalau ingatan dia hilang untuk selamanya?" Tanya Arka dengan hati-hati.
Arka takut jika ucapannya barusan malah menyakiti hati Sendy.
"Mungkin aku bukan orang yang ditakdirkan Tuhan untuk Eresha dimasa depan." Jawab Sendy pasrah.
"Apa kita harus ngomongin ini secara langsung?"
"Mungkin enggak perlu. Biarkan semua jawaban itu datang dengan sendirinya."
"Terus kalau suatu saat Eresha udah ingat semuanya, itu malah bikin Eresha tertekan. Mungkin dia bakal bisa nekat seperti kemarin."
"Kemarin? Nekat gimana maksudnya?"
"Eresha nusuk tangannya sendiri pakai paku." Jawab Arka dengan ragu.
"Kenapa kamu enggak cerita sama aku!" Suara Sendy kini meninggi.
Sendy tersulut api emosi, bagaimana bisa ia tak mengetahui hal semacam itu. Hal yang nyaris mengancam kekasihnya di masa lalu.
"Aku juga enggak kepikiran buat ngabarinya kakak kemarin. Aku benar-benar panik."
"Aku juga berhak tau! Aku pacarnya!" Ucap pria itu dengan suara lantang.
Beberapa mata tertuju ke arah mereka. Mereka telah membuat keributan di cafe dan hampir saja diusir oleh security. Beruntung mereka cepat sadar jika mereka telah menjadi pusat perhatian saat ini.
"Aku juga pacarnya." Balas Arka dengan volume suara yang lebih kecil dari sebelumnya.
Pada kenyataannya, mereka berdua memang masih berstatus sebagai pacar Eresha saat ini. Karena gadis itu belum memutuskan hubungan dengan salah satu dari mereka. Berat memang rasanya bagi mereka berdua untuk menerima kenyataan yang tak pernah di inginkan oleh kedua pria itu.
"Sorry, aku lupa kalau aku cuma pacarnya di masa lalu."
Raut wajah Sendy berubah menjadi mendung, ada air hujan yang siap jatuh kapanpun ia mau.
"Kamu adalah orang yang di takdir kan Tuhan untuk bersama dia di masa depan." Sambungnya.
"Enggak, kakak enggak boleh ngomong gitu. Bagaimanapun kalian belum putus, itu artinya kalian masih pacaran."
Arka menepuk pelan pundak Sendy mencoba menabahkan pria itu.
"Kamu harus janji sama kakak."
"Janji apa?"
"Jagain Eresha sebaik yang kamu bisa, jangan putusin dia. Dia berhak bahagia sama kamu, begitu juga sebaliknya."
Arka tak tahu harus berkata apa.
"Kalaupun ingatan dia memang enggak akan pernah kembali lagi, mungkin itu udah garis takdir. Aku enggak bisa melawan, apalagi mengubah takdir."
"Kalau ingatan dia kembali?" Tanya Arka.
"Keputusan sepenuhnya ada di tangan Eresha. Mungkin juga Eresha perlu waktu yang cukup lama untuk menerima kenyataan ini. Sama seperti kita, dia enggak akan dengan mudah menerima semua itu."
Setelah pesanan mereka datang, mereka menikmati secangkir kopi hangat sambil mengobrol tentang hal-hal yang ringan saja. Mereka mengakhiri perdebatannya yang cukup mengundang perhatian pengunjung cafe.
"Gimana kalau besok kita ajak Eresha ke taman hiburan? Soalnya belakang ini mood nya sering berantakan." Usul Arka.
"Lagi kedatengan tamu bulanan kali, jadi emosinya suka turun naik. Biasa kalau cewek mah." Balas Sendy dengan nada santai.
"Tapi enggak ada salahnya dong, kalau kita bawa dia jalan-jalan ke taman hiburan. Siapa tau dia bisa terhibur."
"Boleh juga sih, tapi coba tanya anaknya dulu. Mau atau enggak."
Arka merogoh sakunya, mencari telepon genggam miliknya. Ia berkutat dengan ponselnya, mencari nomer gadis itu.
"Enggak aktif handphone nya." Ujar Arka sesaat setelah ia mencoba menghubungi gadis itu beberapa kali.
"Besok aja kamu tanya di sekolah."
Arka mengangguk mengiyakan perkataan Sendy barusan.
"Terus besok ceritanya cuma kita bertiga nih?" Tanya Sendy tiba-tiba.
"Ya iya lah, terus?"
"Aku jadi nyamuknya dong. Kalian berdua ntar malah sibuk pacaran."
Arka terdiam sejenak, ia berusaha memutar otak untuk mencari jalan keluarnya. Sebenarnya Arka juga merasa tidak enak jika besok Sendy malah menonton mereka berdua saja. Pasti sedikit banyaknya, ia akan merasa cemburu.
"Ah, gini aja. Kita ajak kakaknya Eresha, Kak Renata." Ucap Arka dengan begitu polosnya.
Sendy sedang menyeruput kopinya yang sudah tidak terlalu panas itu, tiba-tiba tersedak tanpa alasan.
"Kamu kenal Renata dari mana?"
"Kemarin kan dia juga ikut nganterin Eresha ke rumah sakit sama aku." Jelasnya.
Arka semakin tak mengerti mengapa pria ini begitu terkejut saat mendengarkan nama Renata.
"Emangnya dia di Jakarta juga?"
Arka menganggukkan kepalanya berkali-kali seperti anak kecil yang masih lugu dan polos.
"Sekalian supaya hubungan Eresha dan Renata kembali seperti dulu lagi. Supaya Eresha enggak benci lagi sama kakaknya sendiri." Jelas Arka.
Sendy tahu jelas maksud pria ini, dia berniat baik sebenarnya. Tapi rasanya agak aneh jika besok mereka harus jalan berempat.
"Yaudah deh terserah kamu. Tapi kamu yang ngomongin ini sama mereka ya."
Sendy tak mau ambil pusing dalam rencana Arka kali ini. Bagaimanapun juga ini semua ide nya dan ia harus bertanggung jawab atas keputusan yang sudah ia buat.
"Kalau itu sih aman." Arka mencoba meyakinkan pria yang setahun lebih tua darinya itu.
Kalian juga sudah tahu jika dulunya Sendy dan Renata sempat dekat meski tak diketahui dengan jelas apa status hubungan mereka sebelumnya. Kejadian di restoran waktu itu, saat Sendy memberikan hadiah sebuah novel pada Renata kemudian tanpa sengaja Eresha melihatnya. Pria ini sangat yakin jika kejadian malam itu masih menyisakan luka yang masih membekas dengan jelas hingga sekarang.
Tapi Sendy memilih ikut saja pada rencana Arka kali ini. Siapa tahu memang hanya Arka yang bisa memperbaiki hubungan kedua kakak adik ini, walau rasanya tetap saja terdengar mustahil.
__ADS_1