
"Aku enggak akan pernah bisa maafin diri aku sendiri, kalau sampai kamu kenapa-kenapa lagi karena aku." Ujar Arka dengan suara bergetar.
"Setiap kamu ada di dekat aku, pasti kami selalu celaka. Aku selalu buat kamu terjebak di dalam pusaran bahaya yang aku buat sendiri." Lanjutnya.
Sepertinya tangis Arka pecah begitu saja. Aku bisa merasakan tetesan air mata pria itu yang perlahan membasahi pundaku. Suaranya juga semakin bergetar dan parau. Cengkraman nya terus bertambah kuat seiring waktu.
Ia tak mengizinkanku untuk pergi saat itu. Itu sebabnya pria ini memelukku dengan begitu erat. Kini aku terjebak dalam dekapannya. Arka butuh seseorang yang mampu menopangnya sekarang. Dirinya masih begitu rapuh, ia bisa roboh kapan saja.
"Enggak seharusnya kita balikan sha." Ucap Arka lagi-lagi dengan suara yang makin parau.
Sementara aku masih bungkam, tak tahu harus berkata apa. Ia terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri. Padahal Arka yang selama ini ku kenal tidak pernah melakukan kesalahan yang dari tadi terus ia lontarkan. Saat ini pria itu sedang menunjukkan sisi lainnya yang tak pernah diketahui semesta. Kesedihan mendalam yang selama ini selalu ia pendam sendirian. Sepertinya aku harus menunggu hingga Arka sedikit lebih tenang, baru aku bisa mulai berbicara.
"Sha!" Sahut Renata dari kejauhan.
Kedua orang yang menyusul ku dengan mobil tadi, akhirnya segera turun dan menghampiri kami. Beruntung saat itu Renata kebetulan sedang memakai sepatu flat shoes, bayangkan saja jika ia berlari dengan high heels saat itu.
"Kalian kenapa sih?" Tanya Kak Reksa yang baru saja tiba, di susul oleh Renata.
"Arka kenapa?" Tanya Renata.
"Nangis?" Sambung Kak Reksa.
"Tapi masa nangis enggak ada suaranya." Balas Renata.
Tiba-tiba aku juga berpikiran sama dengan mereka. Tadi Arka tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri. Sekarang kenapa tiba-tiba ia menjadi bungkam seperti ini. Apa mungkin ia malu jika harus menangis di hadapan lelaki yang lebih tua darinya ini, mau di katakan apa dia.
Aku mencoba mengguncang pelan tubuh Arka, tapi tak ada respon sama sekali dari pria itu. Akhirnya aku memutuskan untuk mengecek keadaannya dengan sedikit menjauhkan diriku darinya. Tiba-tiba saja tubuh Arka langsung roboh seketika, sesaat setelah aku mundur beberapa langkah. Beruntung aku langsung menangkap tubuhnya yang lumayan berat itu. Setidaknya aku bisa menahan tubuhnya untuk beberapa saat, agar tak menyentuh tanah.
"Arka pingsan!" Ujarku kepada mereka.
Aku sudah tak bisa lebih lama lagi menopang tubuhnya yang semakin berat, karena tertarik oleh gaya gravitasi.
"Yaudah kita ke rumah sakit aja ya." Balas Kak Reksa.
Aku mengangguk cepat mengiyakan perkataannya. Akhirnya Arka di bawa masuk ke dalam mobil, dengan bantuan pria itu.
"Terus motor Arka gimana?" Tanyaku.
"Soal itu aku aja yang bawa, nanti biar Renata yang nyetir mobilnya." Jawab Kak Reksa.
Tak lama kemudian kami segera bergegas menuju salah satu rumah sakit terdekat. Coba saja tadi Arka tidak nekat, pasti sekarang ia tak akan jadi seperti ini. Sudah malam begini malah buat masalah saja. Sekarang lihat, siapa yang pernah mengata-ngatai ku sebagai seorang gadis yang nekat, apakah ia tak sadar jika dirinya jauh lebih nekat dari pada aku.
***
Setelah Arka di bawa masuk ke ruangan IGD, kami hanya bisa menunggu di koridor. Sekarang situasinya malah berbalik, giliran ku yang kini tak bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku marah, kesal, takut sekaligus cemas dengannya.
"Baiklah, kondisi anak itu baik-baik saja. Adrenalin nya hanya naik sesaat, itulah yang menyebabkan ia pingsan. Tak ada kondisi yang serius. Sekarang ia boleh pulang dan kembali ke rumahnya." Jelas dokter yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Syukurlah...." Batinku dalam hati.
Kak Reksa segera menyelesaikan admistrasi nya, sementara Renata membantu Arka yang fisiknya masih lemah untuk keluar dari ruangan. Ketika yang lainnya sedang sibuk, aku hanya duduk diam di sana. Bahkan dari tadi aku hanya diam dan tak mengucapkan sepatah katapun.
"Maafin aku sha...." Ucapnya sekali lagi.
Aku menoleh sekilas ke arahnya yang tengah bersandar pada kursi tepat di sebelahku.
"Kamu tahu apa yang paling bikin aku takut tadi ka?" Tanyaku.
"Gimana kalau insiden kecelakaan itu terulang lagi, dan kamu koma untuk kedua kalinya. Pikirin perasaan mama kamu ka, kamu itu harapan satu-satunya mama kamu." Jelasku sambil menunjuk-nunjuk wajahnya.
Sementara sosok yang di ajak bicara hanya diam seribu bahasa. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Kamu berhak hukum aku sha..." Lirihnya.
"Bukan aku yang berhak Arka, tapi diri kamu sendiri yang tahu itu." Balasku.
"Yuk pulang!" Ajak Renata.
Aku segera beranjak dari tempat itu, meninggalkan Arka sendirian di sana. Jujur aku masih begitu kesal dengannya. Namun tiba-tiba langkahku terhenti dan aku terpaksa memutar balik tubuhku. Hh, sial! Ini semua karena permintaan Renata, padahal aku tak ingin melakukannya samasekali.
"Bantuin Arka gih, liat tuh masih lemas dianya." Perintah Renata sambil menunjuk ke arah pria itu.
Dengan berat hati, aku terpaksa mengulurkan tanganku kepada pria itu. Dan akhirnya aku membantunya berjalan hingga keluar dari rumah sakit.
"Arka biar naik mobil aja ya." Ujar Renata.
"Enggak usah kak, Arka biar naik motor aja. Enggak enak ngerepotin terus." Balasnya.
"Udah biar naik mobil aja, biar motornya kakak yang bawa. Lagian kamu masih lemes gini, jangan terlalu maksain diri." Jelas Kak Reksa.
"Yaudah deh." Serah Arka begitu saja.
Aku segera membantunya untuk duduk di bangku belakang. Tiba-tiba Arka menghentikan langkahku dengan cara menarik salah satu tanganku. Ia mencegahku untuk duduk bersama Renata di depan. Sepertinya ia tahu persis jika aku sedang kesal dengannya, tapi pria ini terus mencoba meminta maaf dengan segala cara. Tapi terkadang ada beberapa masalah yang tak akan bisa selesai hanya dengan permintaan maaf saja.
Mau tidak mau kali ini aku harus menuruti permintaan Arka lagi. Ia terus-terusan mendesak ku seperti ini, hingga aku tak bisa berkutik sedikitpun.
"Kalau kamu masih marah, kamu masih tetap mau ikut sama aku kan besok?" Tanya Arka di tengah perjalanan.
"Enggak tau juga sih." Balasku acuh tak acuh.
"Terus apa yang bisa buat kamu enggak marah lagi sama aku?" Tanyanya yang mulai tak sabar.
"Waktu." Balasku singkat.
Tiba-tiba Arka memalingkan wajahku ke arahnya, hingga kedua mata kami saling bertemu pandang. Ingin sekali aku melawan saat itu juga. Tapi apalah dayaku yang hanya seorang gadis lemah seperti ini. Penyerahan diri secara sukarela adalah satu-satunya hal yang bisa ku lakukan saat itu.
"Aku enggak bakalan berhenti sampai aku dapat maaf dari kamu." Ujarnya sambil menyondongkan tubuhnya ke arahku.
"Satu kata maaf enggak akan bisa merubah masa lalu yang udah terjadi kan?" Balasku.
"Setidaknya bisa memperbaiki."
"Terserah!"
Sepanjang jalan pulang aku hanya menatap keluar kaca mobil, memandangi jalanan ibukota yang perlahan mulai lengang. Jakarta sedang beristirahat untuk malam ini.
Tak lama kemudian, kendaraan beroda empat tersebut terparkir di depan rumah nenek, yang sekaligus menjadi tempat tinggalku juga saat ini. Aku bergegas turun dari mobil tersebut, namun sialnya pria ini kembali melakukan aksinya. Ia menahan tas ku untuk mencegahku pergi.
"Lepasin nggak!" Ujarku dengan nada bicara yang sedikit lebih tinggi.
"Enggak mau, sebelum kamu maafin aku." Balasnya sambil tersenyum licik.
"Yaudah terserah!" Ucapku seraya meninggal tas tersebut bersamanya.
Aku langsung keluar dari mobil tanpa menghiraukan tas tersebut. Lagipula aku masih punya satu ransel cadangan di lemari. Tak masalah jika ia mau menahan tas ku. Lagipula untuk apa benda itu baginya.
"Motor Arka aku titip di sini ya." Ujar Kak Reksa.
"Kok di titip?" Tanyaku setengah tak setuju.
"Kan Arka nya belum bisa naik motor. Jadi di sini dulu enggak apa-apa kan?" Jelasnya.
"Enggak apa-apa kok." Balas Renata dengan enteng.
Aku hanya bisa berdecak sebal. Sebagai anggota keluarga yang paling muda di sini, aku tak bisa berbuat apa-apa jika mereka telah membuat keputusan. Terkadang aku sangat ingin menjadi dewasa seperti mereka, namun pada dasarnya sangat seram membayangkan proses menjadi dewasa.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Arka keluar dari mobil, sambil menenteng tas milikku yang ia tahan beberapa saat lalu. Kemudian menyandarkan tubuhnya dengan begitu elegan di badan kendaraan tersebut.
"Oh iya, jadi kalian udah resmi balikan kan?" Tanya Kak Reksa tiba-tiba.
"Aku masuk dulu, sampai jumpa." Balasku seraya berlari ngacir menuju ke dalam.
***
Aku masuk ke kamar dengan langkah tak semangat sama sekali. Kemudian menjatuhkan diriku begitu saja di atas kasur.
"Baru pulang lo sha?" Tanya Stefani yang tengah duduk di meja belajar.
"Hmmm...." Balasku singkat.
Aku tak tahu apa yang ia lakukan di situ. Tapi yang jelas ini adalah pertama kalinya ia sudi menyentuh tempat keramat itu.
"Tok...tok...tok..."
Huh! Padahal barusaja aku sampai di tempat ini, sudah ada gangguan saja. Siapa yang mengetok pintu kamarku malam-malam seperti ini. Jika mereka menyuruhku untuk makan malam, seharusnya waktunya sudah lewat.
"Stef, bukain gih! Aku mager...." Pintaku.
"Dih! Dasar people mageran!"
"Oh iya, kalau misalnya nyariin aku, bilang akunya udah tidur ya."
Stefani segera menuju pintu dengan langkah berat. Aku lantas segera berpura-pura sudah terlelap dengan sangat nyenyak.
"Eh, Arka?! Lo ngapain bisa sampai sini." Ucap Stefani setengah terkejut.
"Arka?" Batinku dalam hati.
"Eresha mana? Gue cuma mau balikin ini. Gue enggak mau kalau besok dia harus di hukum karena gue." Jelasnya.
"Tuh, Eresha udah tidur." Balas Stefani.
"Yaudah nih, gue nitip kasiin ke dia kalau udah bangun ntar."
"Oke, aman."
"Aku tau kok sha, kalau kamu belum tidur. Aku juga tau kalau kamu masih bisa dengar semuanya. Sekali lagi aku minta maaf." Ucapnya dari kejauhan.
"Bagaimana bisa dia tahu jika aku belum terlelap? Ah, mungkin hanya kebetulan saja." Batinku dalam hati, sambil tetap terus melanjutkan sandiwara ku.
"Gue pamit dulu, titip salam buat Eresha." Ucapnya sekali lagi.
Setelah mendengar suara pintu tertutup, aku segera bangun dan termenung sesaat. Aku tak habis pikir bagaimana bisa pria itu sampai ke depan pintu kamarku. Siapa yang membiarkan ia masuk ke sini.
"Lo marahan sama Arka?" Tanya Stefani kebingungan.
"Enggak." Balasku cepat.
"Terus kenapa lagi lo sama Arka?"
"Arka ngajak balikan."
"BRUKK!!!"
Tiba-tiba saja tasku tergelincir begitu saja dari tangan Stefani. Aku lantas langsung mengambilnya, mengingat di dalam sana ada hadiah yang di berikan oleh Arka.
"What?! Lo jadinya udah balikan nih sama Arka?" Tanya Stefani setengah terkejut.
"Belum lah, emang aku ada bilang kalau kita udah balikan?" Celetuk ku.
"Lah terus yang tadi?"
"Terus kenapa kalian enggak balikan aja?"
"Tau ah! Mau mandi, udah capek!"
Aku mencampakkan tas ku ke segala arah, kemudian beranjak dari tempat tidur. Telingaku rasanya begitu panas dari tadi siang. Aku harus bergegas mandi, setelah itu belajar.
Rasanya aku telah begitu lelah dengan pertanyaan mereka. Baru saja aku akan menyalakan shower, Stefani sudah menyahutiku lagi dari luar sana.
"Apaan stef!" Jawabku sambil berdecak sebal.
"Arka nelepon!" Teriaknya di sela pintu kamar mandi.
Aku lantas langsung mandi dan tak menghiraukan gangguan kecil semacam itu. Apakah ia tidak tahu jika aku butuh istirahat. Lagipula pasti pria itu menghubungiku karena ingin meminta maaf.
Tapi jika aku terus-terusan bersikap seperti ini, rasanya tidak mungkin. Aku harus membuat suatu keputusan, antara ya dan tidak.
***
"Ada apa?" Ujarku sambil melilitkan handuk di kepalaku.
"Telat lo, tadi Arka nelepon. Serasa di teror gue sumpah." Jawabnya.
"Matiin aja handphonenya, kan gampang." Balasku dengan gamblang.
Aku lantas segera mengeringkan rambutku yang sudah setengah kering tersebut, dengan bantuan hair dryer. Sesekali aku mengambil beberapa keping coco cookies sambil menunggu rambutku benar-benar kering.
"Sha, lo Udah makan malam?"
"Udah, tadi di luar sama Renata."
"Terus lo enggak bawain sesuatu gitu buat gue?"
"Kan yang ngajak kita makan Kak Reksa, ya kali....."
"Elah parah lo sama sahabat sendiri."
"Tadi juga kamu baru selesai makan pas aku sampai."
"Hehehe....."
Aku hanya melengos kesal melihat kelakuan gadis yang satu itu. Kenapa aku harus dipertemukan dengannya, astaga.
***
Hari ini aku dan Stefani sengaja berangkat ke sekolah lebih cepat, untuk menghindari Arka. Pasti nanti ia akan ke sini untuk mengambil sepeda motornya yang dititipkan kemarin malam. Aku dan Stefani memutuskan untuk naik bis, yang akan membuat kami jauh lebih cepat sampai ke sekolah.
Bahkan kami sengaja bangun lebih cepat sebelum semuanya bangun, termasuk Renata. Dan kami baru berangkat saat bibi telah bangun. Udara pagi ini benar-benar masih bersih di bandingkan dengan yang sebelumnya. Masih layak untuk di hirup dan lumayan menyegarkan. Hari ini rasanya polusi sedikit berkurang.
Kami sampai di sekolah jauh lebih awal daripada biasanya. Kelihatannya memang belum ada orang sama sekali kecuali kami berdua. Tapi aku masih terus berharap semoga ada seseorang di sini selain penjaga sekolah dan pak satpam.
"Ada orang nggak sih di sini?" Tanyaku.
"Biasanya sih dulu, pas gue datang jam segini tuh udah ada orang. Ya walaupun dikit lah." Jelasnya.
"Ohhhh...." Ucapku sambil mengangguk-anggukkan kepalaku.
"Yuk, ah naik!" Ajak gadis itu seraya menarik tanganku.
Kami mulai menyusuri tangga yang menghubungkan antara lantai satu dan lantai di atasnya, tempat di mana kelas kami berada. Kelihatannya memang hanya kami murid paling rajin yang datang sepagi ini.
__ADS_1
Karena deretan kelas kami masih di kunci, mau tak mau aku dan Stefani harus menunggu di selasar. Padahal baru saja kami sampai di tempat ini, mana mungkin jika kami harus turun lagi.
"Tuh kan, apa juga gue bilang. Masih sepi gini, lo nya aja yang ngotot." Ketus Stefani.
"Ya maaf, kan lagian kamu udah tau alasannya." Ujarku.
"Tapi percuma aja sih, kalau lo ngehindar dari Arka sekarang. Lagian nanti di lo pasti juga bakalan ketemu sama dia." Jelasnya.
"Udahlah, biarin aja." Balasku acuh tak acuh.
"Eh menurut kamu, aku itu munafik nggak sih kalau balikan sama Arka?" Lanjutku.
"Enggak." Sahut sebuah suara dari belakang.
Aku lantas membalikkan badanku, untuk mencari sumber suara tersebut. Betapa terkejutnya aku saat mendapati pria yang ku maksud barusan tiba-tiba berada tepat di belakangku. Sejak kapan dia berada di sini, kenapa aku bisa tak tahu soal itu.
"Jadi gimana? Kamu mau balikan sama aku?" Lanjutnya.
"Kok bisa di sini sih?" Tanyaku kebingungan.
"Magic...." Balasnya sambil tersenyum licik.
Aku segera memalingkan wajahku darinya. Menatap lurus ke depan, ke arah gerbang yang tak kunjung ramai. Namun lagi-lagi pria ini selalu mencari kesempatan kapanpun itu. Arka menepikan tubuh Stefani yang saat itu sedang berdiri di sampingku.
"Sejak kapan kamu jadi nyebelin gini sih ka!" Bentak ku tak sabar lagi.
"Sejak rasa yang udah aku pendam itu, sekarang kembali muncul." Balasnya.
"Tapi kita enggak bisa lanjutin itu lagi, cuma kamu yang paham keadaannya sekarang gimana."
"Apa semua karena Kak Sendy?"
Aku hanya bisa bungkam, kata-kata yang ia ucapkan barusan cukup membuatku begitu terpukul. Pada dasarnya aku lah yang bersalah di sini. Tak seharusnya aku dan pria ini pernah saling mengenal, jika pada akhirnya aku akan kembali kepada masa lalu yang menyapaku lagi setelah sekian lama.
"Sekarang aku paham sha, kalau cinta itu harus di perjuangkan bukan di biarkan." Ujarnya.
"Maksudnya?" Tanyaku tak mengerti.
"Aku akan berusaha buat dapetin kamu lagi, enggak peduli masa lalu kamu gimana." Jelasnya.
"Terserah deh ka, lagian aku mau fokus buat ujian akhir nanti." Balasku.
"Aku bakal buktiin itu buat kamu."
Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit berlalu. Aku berdiri di balkon sambil tetap mendengarkan kalimat-kalimat bijak dari Arka. Perlahan tempat ini sudah mulai di serbu oleh ratusan, bahkan ribuan siswa dengan semangat yang menggebu-gebu.
Seperti biasanya, selalu ada forum kecil-kecilan yang dibentuk setiap paginya. Kelompok orang-orang yang selalu punya gosip baru setiap harinya. Aku termasuk orang yang jarang memberikan argumen pada forum tersebut, lebih tepatnya hanya sebagai pendengar budiman.
"Eh, kalian tau nggak si Revienna yang anak IPS itu." Ujar Stefani membuka obrolan.
"Revienna mana sih?" Sambung Adit.
"Itu loh yang suka buat onar itu." Tegas Stefani.
"Oh iya, gue tau. Kenapa emangnya sama dia?" Timpal Clara.
"Masa dia pacaran sama adik kelas yang bakalan jadi kandidat ketua OSIS itu loh." Jelas Stefani.
"Terus kenapa dong?" Balasku.
"Ya masa dia mau sama cewek berandalan kayak gitu." Sambung Clara.
Aku memilih mendengarkan musik dari ponselku dengan bantuan airpods. Ini jauh lebih baik daripada mendengarkan pembicaraan mereka yang sama sekali tidak ada manfaatnya. Aku meletakkan kepalaku di atas meja dengan tatapan kosong ke arah samping. Entah apa yang ku lamunkan saat itu, intinya pikiranku benar-benar kosong dan berkeliaran entah kemana. Imajinasiku terkadang terlalu liar dan tak terkendali.
Tiba-tiba saja aku teringat akan satu hal yang membuatku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Kakak senior ku yang satu itu, ia tak ada kabar sejak tiga hari yang lalu. Seolah-olah menghilang begitu saja bak ditelan bumi, lenyap begitu saja tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
***
"Kantin?" Tanya Stefani.
"Boleh deh, yuk!" Balasku dengan senang hati.
"Aku enggak di ajak?" Sambung Arka.
"Yaudah ayo bareng!" Jawabku dengan enteng.
"Gue ikut juga dong!" Sahut Adit dari kejauhan.
"Enak aja, gue juga lah!" Sambung Titan.
"Sekalian aja sekelas ikut, biar rame tuh kantin." Ujar Stefani.
"Clara enggak ikutan?" Tanyaku.
"Boleh deh." Balasnya.
Padahal tadi awalnya hanya aku dan Stefani, kenapa mereka semua malah ikut juga. Tapi tak apalah, semakin ramai semakin bagus. Akan lebih banyak cerita nantinya.
Kami memilih sebuah meja panjang yang cukup untuk menampung kami berenam. Tak biasanya tempat ini menjadi agak lengang. Biasanya sangat sulit untuk mencari satu tempat duduk saja, sehingga tak jarang kami membawa makanan tersebut ke kelas dan menyantapnya di sana.
"Kalian mau makan apa?" Tanya Adit.
"Terserah kalian aja, kalau aku samain aja sama kalian." Jawabku.
"Gimana kalau bakso?" Usul Titan.
Selebihnya mengangguk setuju dengan usulan bagus dari pria itu. Adit yang saat itu sedang dalam posisi berdiri, langsung menuju etalase untuk memesan menu tersebut.
Tak lama kemudian, pesanan kami telah datang. Tanpa basa-basi lagi, kami segera menyantap hidangan tersebut dengan begitu khidmad. Hingga pada akhirnya, aku selesai lebih dulu daripada mereka semua. Entah karena terlalu nafsu atau bagaimana, yang jelas tak biasanya aku selesai lebih dulu seperti ini.
"Cepat banget sha." Ujar Adit.
"Lo laper atau gimana?" Lanjutnya.
Aku tak menggubris perkataannya barusan, dan langsung menyeruput es teh manis yang turut menjadi pelengkap kudapan yang satu ini.
"Guys, gue mau minta pendapat kalian." Ujar Arka secara tiba-tiba.
Aku lantas mengalihkan pandanganku ke arah pria tersebut. Semua mata tertuju hanya padanya saat itu. Arka tampak berpikir sejenak.
"Enggak jadi deh..." Ucapnya sambil nyengir seolah tak berdosa.
"Ya elah! Dasar plin-plan lo!" Protes Adit.
"Iya, bikin kita penasaran aja." Sambung Titan.
Sepertinya memang ada sesuatu yang ingin diutarakannya saat itu, hanya saja ia masih belum yakin. Arka masih ragu-ragu akan keputusannya, aku bisa menangkap hal itu dengan jelas dari kilau matanya.
"Kenapa ngeliatin aku gitu?" Tanya Arka padaku.
"Enggak." Balasku cepat.
Arka tersenyum lebar ke arahku sambil mengacak-acak puncak kepalaku dengan gemas. Pria ini memang sulit di tebak. Kepribadiannya suka berubah-ubah dan tak tetap, sama seperti emosinya yang terkadang membuatku kebingungan sendiri.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis saja. Untuk sekarang rasanya hanya itu yang bisa ku lakukan.
__ADS_1
"Ini pertama kalinya kamu senyum untuk hari ini. Semoga akan ada lebih banyak bahagia yang tercipta nantinya." Ujarnya sambil menelan bola-bola daging tersebut.