Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 79


__ADS_3

 


 


“Terus ntar gue sendirian dong di sekolah, sama tiga orang itu.” keluh Stefani yang diikuti oleh bibirnya yang maju beberapa centi itu.


“Mereka nggak akn ngerti soal cewek.” lanjutnya kemudian menurunkan pandangannya.


“Tenang aja, aku nggak akan lama kok.” ucapku sembari menepuk-nepuk pundaknya pelan.


Gadis itu tersenyum kecil sembari menunjukkan deretan gigi putihnya tersebut. Baru kali ini Stefani bisa dekat dan begitu percaya kepada seseorang. Sebelumnya ia tak pernah melakukan itu, karena terlalu sulit baginya untuk dilakukan . Namun tidak dengan dirinya yang hari ini ataupun kemarin-kemarin sebelumnya. Dahulu ia hanya bisa mempercayai dirinya sendiri, karena ia yakin jika dia bisa mengandalkan dirinya sendiri.


Melihat gadis yang tengah duduk di sebelahku tersenyum lebar, aku segera  ikut tersenyum karenanya. Setidaknya untuk sekarang ini dia bisa memahami kondisiku yang sekarang bagaimana. Ada beberapa hal yang harus ku tinggalkan untuk sementara waktu, demi beberapa hal yang ku inginkan di masa depan nanti.


Setelah semua penjelasan yang diberikan dirasa sudah cukup jelas, kami kembali melanjutkan acara jamuan makan malam kami. Masih tetap berbincang memang, hanya saja kini topic pembahasannya jauh lebih ringan dan santai. Waktu-waktu di meja makan bersama keluarga memang sulit untuk didapatkan. Tak semua orang bisa mendapatkan hal sederhana ini dengan begitu mudah. Sebagian lainnya tak bisa mendapatkan semuanya meski mereka ingin.


Beberapa menit di meja makan tadi, nyaris membuatku kehilangan separuh kesadaranku karena dilanda oleh rasa kantuk. Aku dan Stefani segera kembali ke kamar untuk beristirahat. Lagipula besok aku harus bangun lebih awal untuk berangkat dengan mobil pribadi. Mama dan papa besok akan menangantarkan ku ke Bandung pagi-pagi sekali. Mereka bilang supaya jalanannya tak terlalu macet.


“Selamat malam stef!” ujarku sembari menaikkan selimut milikku.


***


Masih pukul empat pagi, biasanya Stefani bangun di jam-jam seperti ini jika sedang butuh cepat untuk berangkat ke sekolah. Tapi jika sedang taka da apa-apa biasanya gadis ini bangun sekitar satu jam lagi.


Mama dan papa telah menungguku di bawah, untuk segera berangkat. Sebenarnya nenek juga telah bangun jam segini, tapi untuk hari ini mereka semua masih tidur. Entah lah mungkin mereka memang tak peduli dengan kepergianku. Mungkin beberapa hari lagi aku akan kembali, tapi tak akan lama karena aku harus segera pergi lagi.


Beruntung karena kemarin aku sakit dan tak masuk sekolah, jadinya aku mempunyai lebih banyak waktu untuk bersiap-siap. Hal bagus ini membuatku tak perlu kewalahan untuk mempesiapkan semuanya. Sekarang aku tengah bersiap menenteng koperku untuk keluar dari tempat ini. Aku pasti akan merindukan tempat yang satu ini untuk beberapa hari ke depan.


‘Tap! Tap! Tap!’


Langkah kakiku terdengar jelas saat akan menuruni tanggan. Suaranya jauh lebih nyaring daripada yang biasanya. Ku harap aku tak sedang membangunkan seseorang dengan suara berisik ini, semoga saja tak ada yang terganggu. Hari ini aku memakai sepatu jenis ankle boots berwarna hitam, yang dipadu padankan dengan blazer berwarna senada. Sepatu itu lah yang menjadi penyebab kekacauan kecil ini.


Sejujurnya aku tak terlalu ingat kapan aku membeli benda yang satu ini. Aku juga tak tahu passti apa yang menjadi alasan utamaku untuk membeli sepatu ini. Ini adalah satu-satunya sepatu fashion yang ku miliki sudah sejak beberapa tahun yang lalu. Biasanya sepatu yang ku miliki sebelumnya rata-rata adalah sejenis snikers dengan berbagai model.  Jadi tak ada salahnya ku pikir jika aku memiliki setidaknya satu sepatu yang berbeda. Ankle boots tak terlalu buruk bagiku.


“Sudah siap sha?” tanya mama padaku..


Aku hanya mengangguk pelan, mengiyakan perkataannya. Papa juga tengah terlihat bersiap dengan setelan jas miliknya. Setelah memastikan jika semua hal nya telah sempurna dan taka da yang tertinggal sedikitpun, aku dan kedua orang tuaku segera beranjak untuk meninggalkan tempat ini. Meski aku hanya pergi untuk beberapa hari karena akan mengikuti tes,, namun rasanya seperti akan pergi selamanya. Aku tak pernah benar-benar bisa jauh dari rumah apalagi jika keluargaku yang tinggal di dalamnya. Sama seperti ketika aku mendapatkan kesempatan untuk pertukaran pelajar ke Jepang saat itu. Aku hanya bertahan selama beberapa hari di sana. Sebenarnya waktu itu Jepang tak terlalu buruk bagiku, suasananya menyenangkan dan orangnya juga ramah-ramah. Aku suka Jepang dengan segala ketenangan yang ku dapat di sana. Namun entah kenapa Indonesia seperti terus terngiang di kepalaku. Ibu pertiwi seperti terus membisikkan rayuan-rayuan pulau kepala itu untuk memanggilku kembali. Benar kata orang, jika sejauh apapun kita pergi nantiny apasti akan selalu kembali ke tempat cerita kita bermula. Tanah air ini adalah langkah awalku, di sini aku dibesarkan oleh tangan-tangan penuh kasih sayang.

__ADS_1


“Aku janji akan kembali ke sini lagi, setelah menyelesaikan studiku di Korea Selatan. Doakan saja semoga aku bisa mendapatkan program beasiswa itu.” batinku dama hati, sambil melihat kedua sosok orang tuaku yang tengah menyetir di bangku depan.


Sebenarnya aku tak terlalu suka jika bepergian dengan mobil ataupun bis. Kedua kendaraan itu selalu sukses untuk mengingatkanku pada kejadian-kejadian kelam yang tak ingin ku ingat lagi sebenarnya. Jujur secara tidak langsung mereka telah membuatku memiliki trauma akan kecelakaan itu, yang sebelumnya tak pernah terjadi padaku. Beberapa kecelakaan itu bukan sekedar kecelakaan ringan atau yang biasa-biasa saja. Tapi nyawaku nyaris menjadi taruhannya saat itu.


Beberapa cacat yang tersisa di tubuhku seperti layaknya sebuah pengingat jika aku pernah menukar nya untuk sebuah nyawa. Beberapa kemampuanku yang mereka ambil secara paksa dariku itu, sebagai bayaran yang setimpal atas perjanjian yang ku buat dengan maut secara tidak langsung. Tapi kini aku bisa mengndalikan semuanya, emosiku berada di bawah kendaliku sepenuhnya. Trauma itu tak semenakutkan yang pernah ku rasakan dulu,kini semuanya perlahan membaik.


Jadi tak masalah jika mereka membawaku bepegian dengan mobil seperti ini. Walaupun sebenarnya tetap saja selalu ada sesuatu yang berbeda rasanya. Jauh-jauh hari sebelumnya, aku pernah bilang ke mama dan papa jika aku bisa pergi sendiri dengan menggunakan kereta. Tapi tetap saja mereka bersikeras dan ingin menjagaku katanya. Jadi mau tak mau aku terpaksa menururti keinginan mereka. Walaupun sebenarnya naik kereta tak ada masalah juga sih.


Mama bilang papa juga akan sekalian melihat beberapa tanah di bandung. Mereka bilang akan mencari satu rumah di kota itu, karena katanya suasana kota nya yang belum sepanas Jakarta. Setelah papa pensiun nanti, mama dam papa akan menetap di sebuah rumah yang telah mereka beli di Bandung nantinya. Kedua insan yang saling mencintai itu, akan menua seiring waktu dan menikmati masa tuanya di kota pilihan mereka. Itu artinya rumah yang ada di Pematangsiantar itu akn dijual, padahal kita semua thu persis jika rumah itu punya begitu banyak kenangan.


“Ini sha, dimakan dulu sarapannya. Tadi kan kamu belum sempat sarapan.” ujar mama sambil menyodorkanku semangkuk bubur.


Sebenarnya ini adalah bubur instan yang sempat kami beli tadi saat mampir di minimarket dekat rumah. Beruntung keluarga ini selalu membawa termos air panas kecil kemanapun mereka pergi. Jadi tak perlu khawatir soal urusan yang seperti ini.


Aku menikmati suasana pagi di sepanjang perjalanan menuju Bandung. Udaranya masih sangat segar, karena belum terlalu banyak kendaraan yang melintas. Hari ini untuk pertamakalinya aku melihat matahari keluar dari persembunyiannya di tengah perjalanan seperti ini. Menatap bagaimana proses naiknya benda lagit tersebut ke atas langit yang mulai membiru. Mengintip sang surya dari berbagai arah, membidiknya dari berbagai sudut yang tak terkira. Karena biasanya matahari telah naik lebih dulu saat aku keluar rumah untuk berangkat sekolah. Atau malah terkadang mentarilah yang membangunkanku dari tidur nyenyakku untuk bersekolah.


Karena hari sudah mulai terlihat lebih cerah, karena malam harus berganti dengan pagi. Dengan beraninya sinar jingga itu melukis lagit yang gulita dan monokrom itu dengan warna jingga miliknya. Warna jingga kuning keemasan yang memberikan jauh lebih banyak warna, ketimbang hitam yang mencekam. Lebihh banyak gradasi di langit maka akan semakin bagus kelihatannya.


Tanpa ku sadari kami telah mulai memasuki Kota Bandung, aku tak tahu pasti di daerah mana ini. Hanya saja kata papa jika sekarang kami telah berada di kota Bandung. Masih di pinggiran Kota Bandung saja memang, tapi rasanya jauh beda dengan Jakarta. Aku tak bisa mendeskripsikan bagaimana dan dari seugi apa perbedaan itu terrletak. Karena aku yakin jika sudut pandang setiap orang berbeda-beda. Itu sebabnya percuma saja jika aku mengatakannya, karena belum tentu jika pendapatku dengan pendapat orang lain bisa saja berbeda.


Sekarang kami pergi menujuu salah satu hotel yang sengaja telah di booking untuk beberapa hari ke depan. Papa memesan dua kamar yang berbeda, satunya untukku dan satunya lagi untuk mama dan papa. Ujian tes nya akan dilaksanakan besok dan itu pagi-pagi sekali sekitar jam delapan. Aku sangat berharap agar bisa lolos tes beasiswa ini. Sejauh ini aku telah mengikuti beberapa tes beasiswa ke berbagai Negara di seluruh belahan dunia. Saat ini aku tak ingin hanya fokus ke satu beasiswa saja, jika masih banyak yang menawarkannya aku pasti bisa mengambil beasiswa tersebut. Jika aku tidak berhasil lolos untuk beasiswa yang kali ini, mungkin aku akan bisa diterima untuk beasiswa lainnya.


Ternyata kamarku dan kedua orang tuaku berseberangan, namun masih satu lorong. Bukan masalah besar juga, lagipula biasanya aku juga tidur sendirian sebelum Stefani datang dan tinggal bersamaku. Lihat sisi baiknya, aku jadi bisa medapatkan ruang pribadiku lagi. Tanpa ada seorangpun di sini, hanya aku dan memang untuk diriku saja. Akhirnya aku bisa kembali melakukan apapu sesuka hatiku di sini dan bebas mengekspresikan diriku, tanpa harus takut jika di lihat orang lain.


Untuk sementara aku akan mengasing di sini terlebih dahulu, sampai semua urusannya benar-benar telah selesai. Sebenarnya aku tetap mengikuti semua materi pelajaran yang sempat ku tinggalkan itu. Titan beberapa hari ini selalu mengirimiku semua materi pelajarannya. Bahkan tanpa kuminta sama sekali, ia selalu melakukan hal itu kepadaku. Benar-benar wujud nyata dari sebuah defenisi sahabat yang baik, dan orangnya adalah Titan.


Aku berberes untuk beberapa saat dan beristirahat sebentar. Tepat jam satu nanti, mama dan papa akan mengajakku ke restoran untuk makan siang. Tempatnya tak jauh dari sini, hanya tinggal turun ke lantai dasarnya karena memang tempat makan itu terletak di basement hotel.


“Mau makan apa sha?” tanya mama sembari melihat-lihat daftar menu.


“Terserah mama aja.” ucapku dan langsung diangguki oleh papa.


Sejak dulu kami memang tak pernah ambli pusing soal menu makanan. Aku dan papa bisa makan apa saja selagi rasanya tak terlalu buruk. Yang penting cukup untuk membuatku bertahan hidup selama beberapa hari ke depan nanti.


“Gimana kalau ayam saus tiram aja?” tanya mama sekali lagi.


“Kan aku lagi sakit ma, mana boleh makan yang pedas-pedas kata dokter.” jawabku dengan rasa kecewa.

__ADS_1


“Terus kamu maunya makan apa?” tanya papa sambil mengelus pelan puncak kepalaku.


“Tadi mama tanya mau makan apa katanya terserah mama. Sekarang malah protes, gimana sih.” gerutu wanita itu sambil sesekali berdecak sebal.


Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum kecil, seolah tak bersalah sama sekali. Tak usah terlalu ambil pusing, lagipula mama selalu mengerti dengan kemauanku, begitu pula dengan sebaliknya. Meskipun sekarang ini aku sudah terbilang memasuki usia yang cukup dewasa, bahkan telah cukup umur jika aku memutuskan untuk mengurus SIM atas namaku sendiri. Namun tetap saja kedua orang di depanku ini tak peprnah menganggapku benar-benar sepeti orang dewasa. Bagi mereka aku tak lain dan tak bukan akan selalu dan tetap menjadi sosok anak kecil di hadapan mereka. Dan mereka juga akn tetap menjadi orang tuaku apapun yang akan terjadi nantinya.


“Ya udah, buat Eresha mama pesenin ayam bakar madu aja mau?” tanya mama sudah untuk yang kesekian kalinya.


Aku mengangguk mengiyakan perkataannya dengan segera. Aku sudah tak ingin membuatnya kerepotan lagi untuk mencarikan menu yang sesuai untukku. Aku tahu jika ia juga sudah lapar dan ingin segera makan. Jika aku terus-terusan menolak setiap pilihan makanan yang ia beriakn kepadaku, yang ada bukan hanya mama yang kelaparan. Tapi aku dan papa juga akan menjadi korban berikutnya.


Aku sangat menyayangi mereka, meskipun beberapa waktu lalu sempat terjadi pertengkarang hebat di tengah-tengah keluarga kami. Mungkin saat itu semua anggota keluarga hanya belum terbiasa dengan kehadian anggota keluarga baru yang sebelumnya tak pernah kami duga. Yang tak pernah ku duga maksudnya, aku yakin jika mama dan papa pasti sudah tahu soal Renata juh sebelum aku. Tapi untuk sekarang ini aku sangat bersyukur karena kelluargaku telah kembali utuh seprti apa yang pernah ku rindukan sebelumnya.


Mama bukanlah sosok ibu tiri yang kejam nan sadis yang hanya mengejar harta papa saja, sama sepeti yang ku lihat di sinetron pada umumnya. Mama sangat jauh dari kata itu, yang sama sekali tak menggambarkan bagaimana sifatnya kepada keluarga ini. Untuk beberapa kali mama memang pernah marah terhadapku, dan itu hal yang wajar menurutku karena berlandaskan pada sesuatu yang logis. Jika kalian bilang kalau mama hanya ingin memanfaatkan kekayaan pap, rasanya tidak mungkin. Aku tahu jika mereka saling mencintai, karena seseorang pernah bilang padaku kalau mata itu adalh jendela diri kita.


Aku sudah bersama dengan ibu sambungku ini sejak bayi agaknya. Aku terbiasa tumbuh dan besar di bawah asuhannya. Dan menurutku sama sekali taka da maslah soal itu. Yang namanya ibu akan tetap menjadi seorang ibu sampai kapanpun itu. Mau ibu kandung atau tidak jangan menjadi persoalan. Liahtlah segala sesuatunya dari sisi baiknya.


“Permisi, ini pesanannya….” ucap seorang pelayan yang tiba- tiba datang dengan nampan kayu tersebut.


Kemudian ia mengeluarkan beberapa hidangan dari nampan yang ia bawa tadi. Menyusunnya di atas meja dengan sedemikian rupa. Baru melihat penampilannya saja, sudah membuat perutku keroncongan. Kenapa mendadak perutku yang satu ini menjadi begitu kampungan seperti ini, padahal biasanya tak pernah sama sekali. Apakah ia tak bisa ku ajak kerja sama sebentar saja, benar-benar memalukan.


“Ini kami sedang menyediakan sample batagor yang akan segera menjadi menu baru di restoran ini, secara cuma-cuma untuk di nikmati setiap pelanggan yang datang ke sini.” jelas si pelayan tersebut.


“Terimakasih banyak.” ucap kami secara bersamaan.


“Selamat menikmati masakan kami.” balas pelayan tersebut sambil berlalu pergi.


Mataku menatap semua makanan di depanku dengan perasaan kagum. Sepertinya aku telah kalap atau bagaimana. Restoran ini tak pelit-pelit untuk memberikan batagor yang mereka bilang hanyalah sample. Yans satu ini jauh lebih cocok jika di sebut dengan seporsi batagor yang memenuhi seluruh permukaan piring. Tak lupa dengan sedikit tumpukan tahu goreng dan kemudian lidi yang di tancapkan pada puncaknya.


Tanpa berlama-lama lagi, kami segera menyantap semua makanan tarsebut. Menghabisinya tanpa ampun lagi. Pasti makanan ini juga tak mau berlama-lama di atas piring keramik tersebut. Tapi sepertinya aku merasa jika salah satu dari mereka memiliki filosofi tersendiri bagiku. Aneh memang, tapi itu benar-benar sesuatu yang nyata.


Kisah tentang seporsi batagor yang ku beli bersama Arka di salah satu penjual batagor kaki lima dekat sekolah, yang konon katanya juga merupakan tukang batagor langganan pria itu. Dan yang lebih menariknya lagi, pedagang batagor itu lah yang pertama kali mengetahui tentang hubunganku dan Arka.


Mendadak pikiranku kembali ke Jakarta, ke Sekolah Nusantara yang sudah beberapa hari ini tak pernah ku lihat lagi seperti apa rupa bagunannya. Setiap harinya selalu ada yang berubah dari SMA yang satu itu, mulai dari posisi tong sampah hingga pot bunga. Haha…. Maafkan aku, tapi itu memang benar-benar terjadi di sana.


Jika perjalanan dari Jakarta ke Bandung memakan waktu milyaran detik, maka untuk mebali ke sana aku hanya perlu waktu kurang dari satu detik. Aku bisa membayangkan bagaiman situasi di tempat itu sekarang, meski kadang tak bisa sama persis. Karena dunia khayal hanyalah tentang apa yang kau inginkan, bukan tentang sepeti apa yang mereka inginkan.


Tuhan dengan segala kuasanya, menciptakan dunia yang satu itu dengan begitu sempurna. Dunia khayal terkadang di peruntukkan bagi kita dengan kehidupan yang begitu kejam. Di saat kau tak bisa merasakan semuanya di dunia nyata, maka kau bisa merasakan semuanya di dunia khayal. Karena itulah cara beberapa orang untuk bersenang-senang.

__ADS_1


 


 


__ADS_2