Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 57


__ADS_3

Malam itu kami melihat purnama tanpa gugusan bintang-bintang di atas sana. Mendengarkan kisah klasik tentang sang bulan dan matahari yang tak bisa bertemu barang sekejap saja.


Aku memejamkan mataku sambil menikmati semilir udara malam yang membawa nyanyian alam. Meskipun ini hanya imaji, tapi terasa begitu nyata. Tapi akan ku biarkan semesta tahu jika pria ini adalah imaji terindahku.


"Sha..." Sahut Kak Sendy.


Aku lantas memejamkan mataku dan menoleh ke arah pria itu.


"Aku sekarang pergi dulu ya." Lanjutnya.


"Mau kemana?"


Aku langsung bangkit dari posisiku dan segera mendudukkan tubuhku.


"Ke suatu tempat yang nggak akan bisa di kunjungi oleh seorangpun meskipun ia ingin." Jelasnya.


"Di dunia imajinasi kakak?"


"Bukan, itu lebih dari sekedar imajinasi."


"Terus di mana dong?"


"Aku enggak bisa menjelaskan semuanya sekarang. Suatu hari nanti kamu akan tau, biarkan waktu bekerja sebagai mana mestinya. Sama seperti dulu saat kamu tahu siapa sosok pria misterius itu yang sebenarnya." Jelasnya dengan tatapan mata yang tak bisa ku artikan.


Aku hanya terdiam sambil memikirkan maksud dari perkataannya tadi. Tapi apa yang pria ini bilang ada benarnya juga. Ikuti saja alur waktu kehidupan yang akan membawa kita entah kemana. Sama seperti tetesan air yang tak tahu dimana ia akan bermuara nantinya. Namun ia terus mengalir demi kejernihan dirinya.


"Bisakah kita lebih lama lagi di sini?" Tanyaku.


"Tidak untuk sekarang...." Jawabnya dengan berat hati.


"Apa kakak sedang buru-buru?" Tanyaku lagi.


"Maaf, tapi aku harus pergi sekarang aku tak bisa menundanya." Tegas Kaki padaku.


"Berjanjilah jika kakak akan datang ke tempat ini lagi suatu saat nanti. Aku ingin saat aku kembali ke sini kakak juga ada di tempat ini." Pintaku setengah memelas.


"Semuanya ada di bawah kendalimu sha...." Balas pria itu.


"Kau bisa membawaku kapan saja ke sini." Lanjutnya.


Setidaknya kata-kata nya yang terakhir itu telah membuatku jauh lebih tenang. Meskipun sebenarnya aku belum ingin dia pergi dari duni yang ku ciptakan sendiri.


"Pada dasarnya aku tidak akan benar-benar pergi. Aku akan selalu ada di dalam kalung itu, bersamamu. Jadi jagalah benda itu baik-baik." Ujarnya sambil menunjuk bendayang berkilauan itu.


"Bagaimana bisa?" Tanyaku heran.


Pria itu menggapai salah satu tanganku sambil tersenyum tipis. Membawanya hingga sampai kehadapan nya, kemudian mengecup singkat punggung tanganku. Sedetik kemudian sosok tersebut menghilang begitu saja dari hadapanku. Pergi entah kemana, seolah-olah berubah menjadi gumpalan-gumpalan asap yang berbaur menyatu dengan atmosfir.


Genggamanku kini hampa terasa, semuanya menghilang dalam sekejap mata. Bahkan aku tak tahu ke arah mana ia pergi. Tapi ini adalah dunia imajinasi ku, semuanya bisa terjadi di sini. Bahkan hal yang terkesan tak masuk akal sekalipun bisa terjadi, tak ada yang mustahil di sini. Di alam yang berbeda, jauh di dalam pikiranku.


***


Tiba-tiba kedua mataku kembali terbuka dan mendapati diriku tengah berada di ruangan ku. Seolah ada suatu kekuatan yang sangat besar telah menarik jiwaku untuk kembali. Tubuhku berkeringat dengan sangat banyak saat itu, hingga bajuku terasa basah dan lengket. Nafasku juga terasa memburu, aku berusaha mengatur nafasku yang sudah tak lagi. Tempo detak jantungku juga semakin berdegup kencang.


Aku mengamati keadaan sekitarku yang penuh sesak. Ada beberapa orang berjubah putih di sana, tapi aku tak bisa melihat mereka dengan jelas. Terdengar juga suara tangisan histeris yang tak begitu jelas tertangkap oleh gendang telingaku.


"Sebenarnya apa yang terjadi padaku?" Batinku dalam hati sambil berusaha mengumpulkan seluruh nyawaku kembali.


Perlahan semua pemandangan itu mulai nyata dan terlihat solid. Aku bisa menebak dengan mudah siapa mereka sekarang. Orang-orang berjubah serba putih itu adalah seorang dokter dan beberapa asistennya yang sedang berada di ruangan ku saat itu. Dan wanita paruh baya yang selalu bersamaku itu terlihat sedang menangis dengan terisak di ujung tempat tidur. Aku juga baru menyadari jika aku tengah memakai alat bantu pernafasan.


"Apa yang terjadi...." Ujarku dengan suara parau.


Aku tak yakin jika mereka bisa mendengar suaraku. Rasanya energi ku sudah benar-benar habis, bahkan untuk sekedar berbicara saja rasanya sudah tidak sanggup lagi.


Tak lama setelah dokter menyelesaikan pekerjaannya, bibi menghampiriku yang tengah berbaring kemudian langsung memelukku dengan begitu eratnya. Entah kenapa secara tiba-tiba air mataku mengalir membasahi pipiku begitu saja tanpa sebuah alasan yang jelas.


Beberapa menit kemudian, dokter membuka alat bantu pernafasan ku dan langsung beranjak pergi dari tempat ini. Sesekali bibi mencoba mengajakku berbicara meskipun aku belum bisa meresponnya untuk sekarang ini. Suaranya terdengar parau dan bergetar.


"Apa yang terjadi?" Tanyaku sekali lagi.


Akhirnya perlahan tenagaku mulai kembali pulih.


"Alhamdulillah mbak...." Ujar bibi dengan penuh syukur.


"Bibi tadi khawatir banget sama mbak.... Tadi pas tidur mbak ngomong-ngomong sendiri kayak lagi ngigau. Bibi coba bangunin malah mbaknya diem." Jelas wanita itu sambil sesekali menyeka air matanya.


"Tapi yang buat bibi takut tadi, mbak nggak bernafas sama sekali pas bibi coba bangunin. Makanya bibi panggilin dokter jaga. Dan tadi kata dokter jantung mbak sempat berhenti sesaat, begitu juga sama nafas mbak. Sampai-sampai dokter nyatain kalau mbak udah enggak ada. Tadi hampir aja mbak mau di bawa ke ruang jenazah, untungnya mbak langsung bangun lagi." Ujar bibi dengan susah payah.


"Ini benar-benar sebuah keajaiban mbak...." Lanjutnya.


Aku terkejut bukan main mendengar pengakuan bibi yang begitu menyeramkan. Aku tidak bisa membayangkan jika tadi itu aku benar-benar telah mati. Tapi syukur nya Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk hidup.


Aku berusaha menenangkan diriku yang saat itu benar-benar shock dengan apa yang barusan terjadi padaku. Itu artinya aku hampir saja benar-benar pergi ke alam sana.

__ADS_1


Aku baru menyadari satu hal lagi yang semakin membuatku terkejut. Bagaimana bisa aku sedang memegang seikat bunga krisanthemum saat tertidur seperti ini. Kalung itu juga tiba-tiba telah terikat diantara jari-jemari ku saat itu.


"Kenapa bunga ini ada di sini?" Tanyaku dengan lemah.


"Bibi juga enggak tahu mbak dari mana bunga ini tiba-tiba datang." Jawab bibi dengan apa adanya.


Tanganku bergetar hebat saat mendapati bunga itu di hadapanku. Aku begitu ketakutan saat itu dan ingin sekali melemparkan benda ini ke segala arah rasanya. Siapa saja tolong singkirkan bunga pertanda kematian ini dariku, aku belum mati! Siapa yang tega melakukan ini padaku.


"Tolong singkirkan bunga ini....." Ujarku sambil terisak.


Aku benar-benar ketakutan saat ini. Bahkan aku tak bisa mengontrol diriku sendiri lagi.


Bibi yang mendengar perkataanku barusan, langsung mengambil benda itu dan meletakkannya di atas meja.


"Kalung siapa itu mbak?" Tanya bibi.


Aku hanya menggeleng pelan sambil tetap membiarkan rantai perak berukuran mikro itu terbelit di tanganku. Rasanya benda ini tak begitu mengancam mentalku. Aku menggenggamnya kuat sambil menutup kedua kelopak mataku.


Aku tak habis pikir bagaimana semua benda-benda ini bisa berada di sini. Terakhir kali aku berada di dunia imajinasi ku, di atas bukit itu. Dan aku masih ingat dengan jelas jika kalung ini di berikan oleh Kak Sendy saat aku berada di sana. Mana mungkin sesuatu yang ada di alam bawah sadar kita bisa terbawa hingga ke dunia nyata. Itu semua hanyalah khayalan semata, lalu bagaimana bisa terjadi. Kini aku kebingungan dan tak bisa membedakan mana yang imaji dan mana yang perjalanan spiritual.


"Apa ada orang lain yang datang ke sini tadi?" Tanyaku.


"Enggak ada mbak, bibi kan dari tadi belum tidur. Jadi bibi enggak ada liat seorangpun yang masuk ke sini." Jelas wanita paruh baya tersebut.


Aku semakin kebingungan sekarang. Sebenarnya aku ini sedang berimajinasi, bermimpi atau malah benar-benar sedang melakukan perjalanan spiritual ke dimensi yang lainnya.


"Jam berapa tadi aku tertidur?" Tanyaku sekali lagi.


"Habis makan bubur kan mbak langsung tidur, masa enggak ingat. Sekitar jam dua belas lewat dua puluh gitu sih mbak."


Aku meneguk salivaku dengan susah payah. Sekujur tubuhku kaku, mematung di tempat. Jika aku tertidur secepat itu, lalu kenapa dalam ingatanku aku masih terjaga hingga pukul satu malam.


Apa jangan-jangan aku hanya bermimpi. Setidaknya aku bisa sedikit merasa lega diantara semua keanehan yang terjadi padaku hari ini. Apalah arti sebuah mimpi yang hanya sebagai bunga-bunga tidur. Tapi aku masih tak habis pikir, bagaimana barang-barang yang ku dapatkan di alam mimpi bisa ikut terbawa ke dunia nyata.


Bagaimanapun itu tetap terdengar aneh bagi siapa saja yang mendengarkannya. Kelihatannya aku akan menyimpan benda yang satu ini, pria itu menyuruhku untuk menjaganya. Ia bilang jiwanya akan terus hidup di dalam kalung bermata permata ini. Meskipun rasanya itu tidak mungkin, terkesan seperti dongeng pengantar tidur untuk anak-anak.


Tak biasanya aku bermimpi aneh seperti ini. Aku juga salah satu orang yang termasuk jarang mengalami mimpi selama tertidur. Dan tak biasanya juga aku memimpikan Kak Sendy seperti ini. Semoga saja mimpi ini tak berarti apa-apa bagiku.


Lagipula aku bukanlah orang yang terlalu percaya dengan hal-hal berbau mistis seperti itu. Terkadang aku hanya menganggapnya seperti angin lalu saja. Namun sejak kejadian hari ini, mulai dari melihat arwah orang yang meninggal hingga mimpi aneh ini, sepertinya mulai sekarang aku akan mulai mempertimbangkan tentang hal itu. Mungkin ini adalah salah satu cara mereka menyadarkan ku jika dunia kami selalu hidup berdampingan.


Aku ingin segera cepat-cepat keluar dari tempat ini. Aku sudah tidak tahan lagi dengan semuanya. Semua kejadian aneh yang terjadi belakangan ini seolah sedang meneror ku. Lagi pula ini bukan rumah sakit yang biasa ku datangi, baru pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tempat ini.


"Yaudah, tidur lagi ya mbak." Ujar bibi sambil membelai halus puncak kepalaku.


Aku mulai memejamkan mataku untuk yang kesekian kalinya, sambil berharap semoga tak terjadi apa-apa lagi. Biarkan aku beristirahat sebentar saja. Dengan khusyuk aku merapalkan doa sebelum tidur di dalam hati, dengan penuh harap. Setelah itu aku mulai mencoba untuk kembali terlelap lagi sambil tetap menggenggam kalung perak tersebut.


Entah kenapa aku merasa lebih tenang saat bersamanya. Jiwaku benar-benar terasa begitu tentram dan damai. Aku semakin yakin untuk tetap menyimpan kalung ini bersamaku, meski aku tak tahu asal-usul nya secara jelas. Tapi entahlah dengan bunga krisanthemum itu, aku tak tahu harus berbuat apa dengan benda yang satu itu. Mungkin aku akan membiarkanmu begitu saja hingga layu. Dengan begitu aku tak akan menjadi kepikiran dengan bunga krisanthemum tersebut.


***


"Cuitt....cuitt...cittt....cit..."


Suara burung gereja yang selalu bertengger di atas atap memekik telingaku kala itu. Kumpulan burung-burung kecil itu beterbangan kesana-kemari menyambut sang fajar yang telah menyingsing sejak subuh tadi. Sebuah simbol keceriaan yang tak bisa dimengerti banyak orang. Entah kenapa namanya harus di ambil dari salah satu nama tempat ibadah umat Kristiani. Mungkin dahulu mereka lebih suka bersarang dan bermain di sana, melompat-lompat di atas atap bangunannya yang mengerucut tinggi.


Aku menepikan beberapa helai rambut yang menghalangi pandanganku kala itu. Aku tengah bersandar di atas ranjang kala itu sambil menikmati cahaya matahari pagi yang masuk lewat jendela. Hari ini aku terbangun lebih cepat dari yang ku kira sebelumnya. Kurang lebih aku hanya tidur sekitar empat jam dari tadi malam. Tapi anehnya aku tak merasa mengantuk sama sekali. Sepertinya tubuhku memang telah memiliki alaram alami yang membangunkan ku di jam-jam tertentu.


Hari ini aku merasa lebih baik daripada kemarin. Soal kejadian mengerikan yang kemarin, sudahlah lupakan saja itu sudah berlalu. Sekarang hari yang baru telah di mulai, dengan jutaan kisah baru yang menanti di setiap detiknya.


Aku mengecek botol infus yang tergantung di atas sana. Memastikan jika kemarin mereka tak menambahkan lebih banyak cairan saat aku sekarat kemarin. Jika sampai mereka melakukan hal itu, mungkin aku akan tetap di sini selama dua atau tiga hari kedepan.


Untungnya saja mereka tak menggantikannya dengan botol cairan infus yang baru. Jadi masih ada harapan bagiku untuk bisa segera pulang hari ini juga. Aku tak ingin lebih lama lagi berada di sini.


Jika dipikir-pikir sangat menyeramkan rasanya saat membayangkan kemarin aku benar-benar hampir meregang nyawa di sini. Aku belum siap untuk semua itu jika kemarin benar-benar terjadi. Aku tak ingin menjadi bagian dari sisi kelam tempat ini, menambah kesan mistis rumah sakit ini. Membayangkannya saja sudah membuatku bergidik ngeri.


Aku tak tahu harus melakukan apa sekarang ini, selain melihat pemandangan di luar jendela. Bibi sedang turun ke bawah untuk mencari sarapannya, karena pihak rumah sakit hanya menyediakan makanan untuk pasiennya. Itu sebabnya bibi harus membeli makanan setiap saat. Sepertinya aku harus bicara soal ini kepada nenek, agar nenek bisa menggantikan uang bibi yang keluar selama merawatku di sini. Kasihan wanita itu, pasti isi dompetnya semakin menipis. Padahal itukan uang milik bibi secara pribadi, tak seharusnya ku ganggu gugat seperti ini.


Sementara menunggu bibi datang, aku juga menunggu sarapanku pagi ini yang biasanya selalu di antarkan oleh staff rumah sakit. Bubur dengan kuah sup, tak lupa juga bersama obat-obatan dan segelas air putih hangat selalu di antarkan ke setiap pasien tiga kali dalam sehari. Aku sangat berharap agar hari ini menjadi hari terakhir aku menginjakkan kaki di sini.


Tak lama kemudian seseorang yang tak asing lagi bagiku masuk ke ruangan ini, sambil membawa beberapa bungkusan plastik kresek dan sebuah nampan yang bisanya dibawa oleh staff rumah sakit. Ia menghampiriku yang tengah duduk termangu di atas sana dengan senyuman yang selalu ia tebarkan setiap saat.


"Loh, kok bibi yang bawa makanan nya?" Tanyaku heran.


"Iya, tadi orangnya yang biasa nganterin papasan sama bibi pas di depan. Jadi sekalian bibi aja yang bawain." Jelas wanita tersebut sambil menyodorkan isi nampan tersebut kepadaku.


Bibi menyetel meja lipat yang biasanya ku pakai. Setelah itu aku mulai menyantap sarapan pagi ku, begitu pula dengan wanita tersebut. Kami menyantap makanan di hadapan kami masing-masing dengan khidmat. Meskipun sebenarnya aku merasa bosan dengan menu masakan rumah sakit yang selalu sama setiap harinya, namun aku sudah mulai terbiasa dengan semua ini.


"Oh iya mbak, tadi pagi bibi nerima telepon dari mbak Renata. Katanya hari ini mereka bakalan terbang ke Jakarta." Ujar bibi.


"Oh ya? Baguslah kalau begitu." Balasku singkat sembari mengakhiri kegiatanku saat itu.


"Tapi bibi udah bilang kan kalau ada Stefani di rumah?" Lanjutku.


"Udah kok mbak...."

__ADS_1


"Ntar di kira maling lagi, haha...."


Sedetik kemudian aku langsung meminum beberapa pil dengan berbagai warna yang di sediakan di sana. Rasanya selalu sama setiap kali masuk ke lidahku, semuanya sama-sama pahit. Aku lantas tersenyum kecut setelah benda asing tersebut melewati tenggorokan ku.


"Nanti mereka juga bakal ke sini setelah sampai Jakarta." Ujar bibi.


"Yaudah enggak masalah sih."


"Sama mama dan papa mbak juga bakal ke sini nanti."


Aku hanya tersenyum dengan sedikit terpaksa.


Entah kenapa setiap kali mendengar kata itu, aku selalu tak bersemangat sama sekali. Bukannya aku benci dengan orang tuaku sendiri, hanya saja masih ada sesuatu yang mengganjal rasanya. Kalau aku tak tahu pasti apa sesuatu yang membuatku merasa tak nyaman seperti ini.


"Mama sama papa ikut balik ke sini juga?" Tanyaku.


"Iyalah mbak, sebentar lagi kan mbak Renata mau nikah." Jawab bibi dengan begitu polosnya.


Aku mengangguk paham mengiyakannya saja. Bagaimana bisa aku lupa soal itu. Sebentar lagi Renata akan segera menikah dengan seseorang yang di cintai nya. Tentu saja mereka tak ingin melewatkan momen berharga itu. Orang tua mana yang tak ingin mendampingi anaknya di hari bahagianya seperti itu. Melihat tawa bahagia putrinya saat itu saja sudah lebih dari cukup bagi mereka.


Tiba-tiba saja aku mengingat satu hal yang nyaris ku lupakan.


"Dimana kalung itu?" Batinku dalam hati sambil terus mencarinya.


Seingatku kemarin aku masih membiarkannya di tanganku hingga aku terlelap. Seharusnya benda itu masih ada di sini. Mungkin tersembunyi diantara lipatan selimut kusut ini.


"Cari apa mbak?" Tanya bibi yang sepertinya menyadari sesuatu.


"Kalung yang kemarin aku pegang liat nggak bi?" Balasku sambil tetap mencari.


"Oh, itu bibi letak di atas meja. Takutnya kalau mbak bawa tidur semalaman malah rusak lagi gara-gara tertimpa." Jelas wanita itu kemudian segera mengembalikan kalung itu kepadaku.


Tanpa pikir panjang aku segera melingkarkan benda yang masih belum ku ketahui asal usulnya itu di leherku. Aku tak ingin kehilangan benda yang satu ini.


"Dari siapa sih mbak, kok kayaknya penting banget?" Tanya bibi sekali lagi.


Aku tak yakin bibi akan percaya dengan pengakuanku jika aku mengatakan yang sebenarnya. Bahkan aku sendiri juga masih tak percaya. Otakku tak bisa mencerna kejadian itu dengan logis.


"Ada dari temen yang kemarin datang ke sini." Balasku dengan sedikit berbohong.


Bukan sedikit berbohong lagi, memang aku sedang berbohong. Tapi aku tak memiliki niatan jahat kok.


"Oh yang kemarin rame-rame itu ya mbak?"


"Iya bi...."


"Dari mas Arka ya?"


"Enggak bi! Apaan sih mana mungkin dari dia." Elak ku.


Bagaimana bisa wanita ini mengasumsikan hal seperti itu padaku. Tentu saja hal itu tak akan mungkin pernah terjadi. Sekarang kami hanya sebagai sahabat, tidak lebih.


"Terus dari siapa dong mbak kalau bukan dari mas Arka?"


"Dari Clara...."


"Masa cewek ngasih begituan ke mbak."


"Bingkisan..."


Aku berusaha mengelak sebisa mungkin. Aku tak menyangka jika wanita yang satu ini akan se-kepo itu dengan urusan pribadiku. Tapi aku bisa memaklumi hal itu.


"Selamat pagi...." Sapa seseorang dari pintu.


Itu adalah dokter yang biasa mengecek perkembangan kondisi ku setiap harinya. Tapi tunggu, kenapa dokter itu bersama suster yang kemarin. Suster berparas rupawan seperti bule itu, yang sangat menyebalkan bagiku.


Sangking kesalnya dengan kejadian kemarin, aku sampai tak menjawab sapaan dokter itu tadi. Padahal itu bukan salahnya, kenapa aku harus mendiamkan dokter yang satu itu. Lagipula dia sudah merawatku dengan sangat baik selama ini. Tak seharusnya aku bersikap seperti ini pada dokter itu hanya karena suster menyebalkan itu.


"Pagi dok....." Jawabku sambil tersenyum kecil.


Wanita itu segera memeriksa semua kondisi ku hari ini. Aku menatap lurus ke depan tanpa memalingkan pandan ku sedikitpun ke arah suster tersebut. Aku tak ingin ia menggali lebih banyak soal privasi ku.


"Baiklah, kondisinya sudah cukup baik. Pemulihannya begitu cepat, padahal kemarin kau nyaris saja...." Ujar dokter tersebut sambil menggantungkan kalimatnya.


"Meninggal?" Aku berinisiatif melanjutkan kaya terakhir yang ingin ia ucapkan barusan.


Dokter tersebut hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kaku ke arahku. Aku tahu jika sebenarnya ia sungkan untuk mengatakan hal itu padaku.


"Kau harus banyak-banyak bersyukur atas hal itu, ada sesuatu yang ajaib sedang menghampirimu kemarin." Ujarnya.


"Itu pasti...." Balasku.


"Kabar baiknya kau bisa segera pulang ke rumah hari ini. Kondisimu sudah cukup stabil, kau akan baik-baik saja." Lanjut si dokter tersebut sambil menepuk pelan pundak ku.

__ADS_1


__ADS_2