
Sekarang baru saja memasuki jam makan siang. Aku dan Stefani memutuskan untuk ke kamar mandi sebentar untuk mencuci muka dengan air agar tak mengantuk dan lebih segar. Sementara Clara, ia tak ikut bersama kami. Ia bilang malas naik turun tangga.
"Serrr!!!"
Aku menghidupkan keran lalu membasuh wajahku. Beruntungnya aku adalah tipe orang yang selalu membawa tisu kering di saku ku. Jadi aku tak perlu memakai tisu toilet untuk mengeringkan wajahku.
Aku melihat penampilanku di cermin, sangat berantakan. Wajahku tandinya terlihat begitu kumal dan lesu, sekarang sudah sedikit lebih baik.
Aku melepaskannya ikatan rambutku, kemudian sedikit merapihkannya. Rambutku memang sedikit panjang, jadinya aku memutuskan untuk mengikatnya menjadi lebih pendek.
"Sha,.."
Stefani yang sudah selesai dengan urusannya, menghampiriku yang tengah bersiap di depan cermin.
"Apaan?" Tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku.
"Menurut lo mungkin nggak sih kalo ada cowok yang bakal suka sama gue?"
Tak biasanya ia menanyakan tentang hal seperti ini. Aku segera menyelesaikan pekerjaanku, lalu mulai serius menanggapi ucapannya barusan.
"Kenapa enggak?" Balasku.
"Ya lo liat aja lah penampilan gue gimana."
Aku menyorotinya tajam dari atas hingga ke bawah, tapi aku tak menemukan sesuatu yang salah pada diri gadis ini.
"Emangnya penampilan kamu kenapa?" Tanyaku dengan polos.
Stefani menarik nafasnya dalam-dalam sebelum mulai berbicara.
"Pertama gaya gue tomboy banget, kedua muka gue juga enggak cakep-cakep banget."
"Itu artinya kamu ya harus berubah."
"Gimana caranya?" Tanya Stefani pasrah.
"Hmmm..... sebentar." Ujarku sambil memperhatikan gadis itu sekali lagi.
Sebenarnya aku juga bingung harus melakukan apa dengan penampilannya agar terlihat lebih feminim. Jujur aku juga tidak terlalu pandai soal hal itu. Tapi mungkin Renata bisa membantu.
"Gini deh, lusa atau besok kamu datang aja ke rumah aku. Kakak aku tuh bisa di bilang orangnya modis lah, udah gitu ngerti soal fashion. Mending kamu konsul sama dia aja, hehe..." Ujarku sambil nyengir seolah tak berdosa.
Stefani melengos parah. "Elah.... kirain tadi bisa ngasih solusi."
"Maaf, untuk kali ini aku enggak ngerti apa-apa."
"Aneh ya, masa kakak sama adek nya beda banget gitu." Umpat Stefani pelan.
"Emang kamu lagi suka sama seseorang ya?"
"Ah? Enggak kok." Elak Stefani.
Tapi aku yakin jika perkataannya barusan tidak sungguh-sungguh. Ia pasti sedang menaruh rasa pada seseorang. Wajahnya langsung bersemburat merah merona, ia tersipu malu dan langsung salah tingkah. Sampai-sampai ia meninggalkan ku di toilet sendirian.
Aku segera menyusul gadis itu keluar toilet. Agak mengerihkan juga jika harus berlama-lama di sini sendirian.
"Ayo deh ngaku, lagi fall in love sama seseorang kan? Siapa? Kasih tau dong. Inisialnya aja....yah, parah. Gitu banget sih sama sahabat sendiri."
Aku terus berusaha membujuk Stefani agar mau memberitahuku siapa pria yang berhasil memenangkan hatinya itu. Sejauh yang aku tahu, Stefani paling malas jika harus membahas tentang cinta. Bahkan menonton film atau drama bergenre romantis saja enggan.
Entah angin apa yang membuat pertahanan nya roboh. Pada akhirnya seorang Stefani merasakan yang namanya jatuh cinta. Ada seorang pria yang tak biasa, mampu membuat gadis ini tak bisa berkutik sedikitpun. Sebuah anugerah yang di berikan Tuhan kepada setiap hambanya. Namun seharusnya kita tidak boleh egois atas rasa itu. Seharusnya kita bersyukur karena telah di izinkan untuk merasakannya. Soal bisa memilikinya atau tidak, hanya takdir yang tahu. Bahkan yang sekarang ini di genggam erat pun, suatu saat nanti pasti bisa terlepas.
***
Meja kami telah di susun sedemikian rupa seperti kemarin saat kami kembali ke kelas. Aku langsung menghampiri Clara dan ketiga pria yang kemarin sempat mengganggu makan siang kami.
"Sesuai janji kita kemarin." Ujar Titan sambil nyengir.
Arka membuka seluruh kotak makanan yang ada di atas meja. Ada rendang, nasi goreng dan cah kangkung sebagai pelengkap lauk pauknya. Tapi aku tak yakin jika mereka yang memasak semua ini sendirian. Pasti mereka membelinya di warung nasi di depan sekolah.
Karena hari ini mereka yang membawa makan siang untuk kami, aku hanya membawa sendok dan sumpit. Tapi makanan kali ini agak berat daripada yang kemarin.
"Bolu cokelatnya mana?
Aku protes ketika tidak mendapati makanan yang satu itu di atas meja. Padahal kemarin Arka telah menjanjikannya untukku. Awas saja kalau sampai dia ingkar janji padaku.
"Haha.... ternyata masih ingat juga." Ujar Arka sambil merogoh lacinya.
Tanpa basa-basi, aku langsung merebut kotak makanan yang Arka pegang itu. Kemudian membukanya, dan yang benar saja. Sesuai dugaan ku, itu adalah bolu cokelat yang ia janjikan kemarin.
Aku mengambilnya sepotong kemudian memberikan sisanya kepada yang lain. Mereka juga harus mencoba kudapan manis yang teramat enak ini.
"Loh kok malah jadi makan kue sih." Ujar Arka.
"Habis ini kan mau langsung makan siang." Balasku.
__ADS_1
Setelah makanan ringan itu habis, kami melanjutkan untuk makan siang dengan menu yang telah di sediakan oleh para lelaki ini. Semua orang menikmati makannya dengan khidmat, walaupun harus berbagi makanannya. Bahkan kami juga harus memutar kotak makanannya agar semua orang mendapatkan porsi yang sama rata.
Tak jarang terselip candaan dan tawa yang menyelingi waktu makan kami. Saat aku aku merasa jika kami telah benar-benar akur satu sama lain. Aku seperti menemukan teman baru di saat yang bersamaan.
Kehangatan yang tercipta saat itu benar-benar lebih nikmat daripada suasana sarapan pagi ku. Tapi diantara mereka ada aku dan Arka. Apakah kami juga telah menjadi sahabat sekarang ini. Melupakan semua lara di masa lampau, lalu duduk dan bergurau bersama yang lainnya.
Apakah sekarang kita semua bersahabat? Apakah saat ini adalah cikal bakal untuk cerita sebuah cerita persahabatan klasik di masa depan nanti?
***
Seperti biasanya, semua berlangsung sebagaimana mestinya. Fokus pada materi yang sedang di jelaskan di depan, dan berharap sedikit dari mereka sudi tinggal dan menetap di dalam otakku.
"Baiklah anak-anak, ibu tinggal sebentar ke loker ya..." Ujar Bu Yani yang saat itu sedang mengajarkan Bahasa Indonesia.
"Baik bu..." Jawab kami secara bersamaan.
Aku memicingkan mataku menatap lurus ke papan tulis. Ini pelajaran bahasa, seharusnya aku akan lebih mudah memahaminya. Semoga saja...
"Sha, ini buku kamu yang kemarin. Makasih banyak ya." Ujar Arka secara tiba-tiba.
Aku lantas mengalihkan pandanganku kepada pria itu.
"Oh iya, sama-sama." Balasku singkat.
Aku langsung menyelipkannya di antara pergelangan tanganku dan meja. Jika aku menaruhnya di laci, kemungkinan besar akan ketinggalan seperti kejadian-kejadian yang pernah terjadi sebelumnya. Meskipun aku telah mengecek laci dan memastikan tak ada barang yang tertinggal, tapi benda yang satu ini seolah berkamuflase dengan lingkungan sekitarnya saat aku mengeceknya. Itu sebabnya ia selalu tak terlihat saat aku mengecek laci dan ku kira semuanya telah masuk ke dalam tas.
"Baiklah anak-anak. Setelah menyimak materi yang ibu jelaskan tadi, silahkan buat contoh puisi di buku kalian masing-masing."
Tiba-tiba Bu Yani masuk tanpa ku sadari. Aku langsung mengambil sembarangan buku yang akan ku jadikan sebagai rancangan puisi ku. Aku membuka halaman paling belakang dan menemukan sesuatu di sana.
Sebuah tulisan yang seingatku tak pernah ada tulisan ini di sini sebelumnya. Aku langsung menghentikan kegiatan sejenak, membaca tulisan yang di torehkan secara sukarela di atas sana.
Dari awal isi tulisan ini, bisa ku ketahui siapa yang menuliskan ini. Di tambah dengan nama penulisnya yang sengaja di cantumkan di akhir kalimat.
"Arka...." Sahutku pelan.
Pria itu lantas menoleh ke arahku.
"Ini.... apa?" Bisik ku sambil menunjukkan karya tulisnya yang satu ini.
"Sekarang kamu udah tahu kan?" Balas Arka sambil tersenyum getir.
Aku tak tahu harus berkata apa. Ku kira semuanya telah biasa saja, perasaan itu telah lenyap. Tapi nyatanya semua tam seperti yang ku kira sebelumnya.
"Thanks buat semuanya, aku bakal simpan yang satu ini." Ujarku kepada pria itu.
Aku langsung mengalihkan perhatianku untuk kembali fokus pada pekerjaanku. Menulis puisi bukanlah hal yang sukar untuk di lakukan bagiku. Perlahan namun pasti, kumpulan kata-kata indah yang di rangkai dengan diksi sedemikian rupa mengisi halaman kosong berwarna putih tersebut.
***
Suara dan Nada
Oleh: Eresha C. Ananda
Ketukan irama dan
Barisan nada terikat rapih dalam sangkar nada
Alunan lagu sendu nan lara
Darah seni pekat mengalir di lengan mu
Melodi abstrak yang engkau mainkan
Simfoni indah yang kita ciptakan bersama
Akankah nyanyian ini tetap tersuara
Akankah melodi ini terus berpacu dalam ritme
Kita satu
Satu dalam nada
Tapi tak sempat utuh untuk menjadi sebuah lagu
Hampir
Kita yang harus mengalah
Mengalah pada kejamnya syair kehidupan
Yang menamatkan kisah kita
Seperti tanda diam
__ADS_1
Ada tembang yang harus diselamatkan
Yang katanya lebih penting daripada sebuah rasa
***
Aku bahkan tak tahu untuk siapa puisi itu ku tujukan. Antara Arka atau Kak Sendy. Kedua pria itu sama-sama pernah membuat kenangan dalam sebuah lagu bersamaku. Mereka berdua juga memiliki bakat yang sama di bidang seni. Dan kisah mereka berdua yang tercipta bersamaku, nyatanya juga berakhir dengan kejam.
Mereka seperti dua orang yang sama persis yang pernah Tuhan titipkan kepadaku secara bersamaan. Jangan-jangan mereka tercipta dari jiwa yang sama, sehingga mereka bisa sama persis seperti ini. Ah, entahlah! Bahkan cita-cita mereka sama-sama ingin menjadi seorang arsitek.
***
Seluruh siswa berhamburan keluar kelas. Suasana hari ini, esok dan seterusnya selalu sama setiap harinya. Pemandangan senja yang luar biasa menakjubkan. Memanjakan indera pengelihatanku yang turut membuat pikiranku menjadi lebih tenang.
Walau kadang awan kelabu datang menghampirinya disertai dengan rintik air, namun hal itu tak berlangsung lama. Kekacauan kecil itu tak bisa merusak pesona si senja dengan cara apapun.
"Mau aku antar pulang?" Tanya Arka yang tiba-tiba datang dari arah belakang.
"Enggak usah, aku bisa naik bis aja kok." Balasku.
"Kali ini aja, sebagai sahabat. Please...."
Entah kenapa kata-kata Arka barusan terasa begitu menyakitkan bagiku. Ada sesuatu di dalam sana yang terus-menerus meneteskan darah. Dulunya kita sempat lebih dari ini, lebih dari sekedar sahabat.
Mungkin ini satu-satunya cara yang di lakukan Arka agar kami bisa saling melupakan. Lantas kenapa aku harus mengeluh sekarang. Aku benar-benar tak mengerti dengan perasaanku sendiri.
"Baiklah." Balasku singkat.
Mulai hari ini dan seterusnya hubungan aku dan pria ini hanya sekedar sahabat, tidak lebih. Aku harus mulai terbiasa dengan semua ini. Pada dasarnya semua hal di dunia ini akan terus berubah hingga pada waktunya akan berhenti dengan sendirinya.
Arka mengambil motornya yang terparkir di dekat dinding pagar yang mengelilingi sekolah ini. Seperti biasanya aku selalu menunggu di depan gerbang.
"Yuk naik."
Tak lama ia muncul di depanku dengan sepeda motornya. Ia memberikanku helm demi mencegah kejadian yang tak diinginkan. Setelah itu aku bergegas naik agar kami lebih cepat sampai ke rumah masing-masing.
Entah kenapa setelah lama tak menghadapi situasi seperti ini, aku menjadi sedikit canggung sekarang.
Angin sore membelai halus rambutku yang tak tertutup helm. Sinar jingga yang menyala di langit Jakarta perlahan mulai meredup seiring berjalannya waktu.
Kami sampai di rumahku sekitar pukul tujuh malam. Hari ini aku pulang agak terlambat karena jalanan macat parah sore tadi. Sebenarnya hal itu wajar karena di jam-jam tersebut memang banyak pekerja kantoran yang baru saja pulang kerja.
"Mau singgah dulu?" Tanyaku sambil mengembalikan helm miliknya.
"Enggak usah, terimakasih. Aku langsung pulang aja." Balasnya.
"Makan malam dulu lah, lagian jalanan pasti masih ramai-ramainya sekarang."
"Yaudah deh."
Akhirnya pria itu mau melunakkan hatinya sedikit. Aku menuntunnya masuk ke dalam dapur. Beruntung bibi sedang berada di dapur saat itu, jadi aku bisa meninggalkan nya sebentar untuk mengganti pakaian.
"Eh, udah pulang mbak?" Tanya bibi yang sedang sibuk menyiapkan makan malam.
"Udah bi." Balasku singkat kemudian meneguk segelas air putih.
"Eh, ada mas Arka juga!" Seru bibi ketika mendapati Arka yang berjalan tepat di belakangku.
"Aku tinggal ke atas dulu ya, mau ganti baju." Ujarku.
Arka mengangguk mengiyakan perkataanku, lalu segera duduk dan meletakkan tasnya di meja makan.
***
Aku bergegas untuk kembali turun menuju meja makan. Ku harap mereka belum terlalu lama menungguku. Seharusnya tidak terlalu lama, aku hanya mandi sebentar.
"Maaf lama." Ujarku sambil menarik bangku untuk duduk.
"Belum mulai makan?" Tanyaku kepada bibi dan Arka.
"Belum mbak, kan nunggu mbaknya selesai dulu. Enggak enak lah kalau makan duluan." Balas bibi.
"Ngapain enggak enak sih, hehe... Lagian kalau laper langsung makan aja enggak apa-apa kok." Ujarku sambil menyendok beberapa centong nasi.
Sementara dari tadi Arka tak membuka suara. Kedua bola mataku refleks melihat ke arah pria tersebut. Ia menatapku lekat dengan tatapan yang sulit di artikan. Tatapannya aneh, ia seperti sedang setengah sadar.
"Arka!"
Aku berusaha mengembalikan kesadaran pria ini seutuhnya dengan cara menyentaknya.
"Ah? Kenapa?"
"Buruan makan, lagian kenapa kok ngeliatin aku kayak gitu?"
"Kamu jauh lebih cantik sekarang."
__ADS_1
"Udah, buruan makan!"
Aku bergegas mengalihkan pembicaraan agar topik ini tak semakin panjang lebar.