
Sekarang sudah memasuki waktu makan siang, dua pertiga dari isi sekolah ini sudah menghilang dan kembali ke rumahnya masing-masing. Mereka menyisakan sedikit tempat bagi kami, murid kelas dua belas agar lebih leluasa. Yang mereka tinggalkan di sini adalah kesunyian untuk para seniornya yang tak akan lama lagi berada di sini.
“Kita makan bekal di sini atau di kantin aja.” tanya Clara sambil memberesakn barang-barangnya yang sedikit berantakan di atass meja.
“Di sini aja deh, males turun ke bawah.”jawabku dengan apa adanya.
“Oke deh.” Balasnya singkat.
Kemudian gadis itu segera memanggil Stefani, Adit dan Titan untuk bergabung bersama kami. Sementara itu, pria yang tengah duduk di depanku ini masih terlalu sibuk dengan Alice. Kelihatannya mereka begitu cepat untuk akrab. Ku rasa Arka memang bisa bergaul dengan siapa saja, tanpa terkecuali terhadap seorangpun.
“Lo enggak mau ikutan ka?” tanya Adit sambil menepuk pundak sahabatnya itu.
Pria itu lantas menoleh kea rah sumber suara, untuk menemui seseorang yang tengah berusaha untuk mengajaknya mengobrol itu. Arka tampak berpikir sejenak, mempertimbangkan ajakan Adit yang barusan itu. Jangan bilang jika kali ini dia akan menolak untuk bergabung dengan orang-orang aneh yang telah menjadi sahabatnya ini.
“Boleh deh.” balas Arka dengan begitu santai.
“Lo mau ikutan makan siang bareng kita lice?” tanya Arka pada gadis itu, sambil mengeluarkan kotak makan siang miliknya.
“Enggak usah, kalian aja.” jawab Alice dengan sungkan-sungkan.
“Udah ikutan aja ya.” paksa Arka sekali lagi.
Taak ingin mempermasalahkan soal itu, kami segeram menghabiskan makan siang kami. Seperti biasanya, Adit selalu membuat lelucon yang mampu mencairkan suasana. Setidaknya hal itu membuat kami menjadi sedikit lupa dengan sikap Arka hari ini.
“Mau aku suapin sha?” tanya pria itu padaku.
“Enggak perlu, aku bisa makan sendiri kok.” tolakku dengan mentah-mentah.
“Tapi kan tangan kamu lagi terluka.” ujarnya.
“Yang luka kan tangan kiri, bukan tangan kanan. Jadi enggak usah lebay gitu.” balasku dengan nada ketus.
Aku baru menyadari satu hal jika ternyata sekarang semua mata sedang tertuju ke arah kami, dan menjadikan aku dengan pria ini sebagai pusat perhatian.
“Kalian lagi berantem?” tanya Adit dengan begitu polosnya.
“Yang namanya orang pacaran itu, jangan terlalu banyak berantem.” ujar Clara sambil mengunyah rujak yang ia beli tadi.
“Gue yang ngasih tau sama mereka, kalau kalian udah balikan lagi.” sambung Stefani dengan memasang tampang seolah tak berdosansama sekali.
“Jadi kalian berdua pacaran?” tanya Alice yang terkejut bukan main.
“Balikan.” balas Titan dengan wajah seriusnya.
“Itu artinya kalian udah pernah pacaran sebelum ini dong.” ujar Alice yang mencoba untuk menerka.
“Maafin gue ya semuanya, termasuk kalian berdua. Gara-gara gue kalian jadi berantem kayak gini, padahal gue enggak bermaksud sama sekali.” lanjutnya.
Tiba-tiba aku teringat akan suster menyebalkan itu, yang mencoba untuk meramalku waktu itu saat di rumah sakit. Lagipula kenapa ia harus kembali muncul di dalam kepalaku pada saat seperti ini. Ia pernah mengatakan padaku jika terlalu banyak skenario yang dibuat oleh orang-orang di sekelilingku. Sekarang aku mulai merasakan jika pernyataannya waktu itu benar adanya. Terkadang semua yang terlihat nyata, belum tentu benar adanya. Bisa saja itu hanya sebuah ilusi atau tipuan mata yang mencoba mengalihkan kita dari dunia nyata. Dan mereka membuat semuanya terasa sama, sehingga kita akan sulit membedakan mana yang benar ada dan mana yang taka da.
“Gue pusing tau nggak!” bentak Arka dengan nada bicara yang lebih tinngi.
“Lo sebenarnya mau apa sih sha? Tadi lo cemburu karena gue lebih perhatian ke Alice dari pada ke lo. Sekarang gue udah coba buat ngasih perhatian ke lo, dan lo malah bilang kalau itu lebay.” jelasnya dengan emosi yang meledak-ledak.
“Lo mikir dong! Ya jelas lah kalau Eresha cemburu.” sahut Stefani yang mulai terpancing emosi.
“Pikir aja sendiri ka, aku lagi males cari masalah hari ini.” ujarku dengan nada setenang mungkin.
Aku selalu berusaha bersikap untuk setenang mungkin, meskipun diriku tak bisa seperti itu sekarang. Hanya ragaku saja yang bersikap tenang seolah tak terjadi apa-apa. Namun kalian tahu apa yang dirasakan oleh jiwaku? Ia merintih menangis sendirian di dalam relung hati terdalam. Ia tak ingin menunjukkan kepada semesta jika dirinya tengah rapuh sekarang. Aku benci kenapa semua wanita harus ditakdirkan dengan perasaan serapuh ini. Aku benci jika harus terlihat lemah di hadapan orang lain.
Ini adalah pertama kalinya pria ini memanggil itu dengan kata lo gue, sebelumnya tak pernah seperti itu. Sebelumnya ia selalu bersikap manis terhadapku, dan bahkan tak pernah mengutarakan kemarahannya seperti ini. Tapi untuk hari ini ia berbeda, kini sosok kurcaci yang selama ini memanggilku dengan sebutan peri itu telah berubah menjadi seorang monster yang berbalik menyerangku. Arka berubah dari sosok yang selalu bisa ku percaya untuk melindungiku, menjadi seseorang yang malah kini melukaiku.
Terkadang kita memang tak bisa untuk sepenuhnya percaya dengan manusia. Mereka terlallu licik untuk diberikan kepercayaan begitu saja. Ucapan memang tak pernah selaras dengan hatinya. Manusia selalu mengedepankan ego mereka pada saat yang tidak tepat.
“Apakah aku benar mencintainya, dan dia benar mencintaiku?” batinku dalam hati.
Terkadang sebuah status hubungan tak akan menjamin jika kedua insan yang terlibat di dalamnya akan saling mencintai. Cinta memang indah, tapi terkadang ia juga bisa melukai. Aku sempat berpikir jika rasa ini tak benar adanya, namun sekarang aku telah menemukan jawabannya. Pada kenyataanya, semua rasa ini memang tak pernah bia untuk saling mengasihi satu sama lain.
Arka dan Kak Sendy memang nyaris sama dan hampir tak ada perbedaannya. Dua pria yang sengaja tuhan ciptakan sebagai jiwa yang hilang antara satu sama lainnya. Namun bukan berarti tak ada satupun hal yang bisa membedakan mereka berdua. Dan kini aku telah menemukan perbedaan itu, yang tak perlu ku beri tahu karena mungkin kalian juga sudah tahu.
“Eresha enggak pernah protes sedikitpun sama lo. Dia selalu bisa meredam ego nya, bahkan karena terlalu sering memendam semuanya dia sampai drop.” jelas Clara yang mulai buka suara.
“Harusnya lo bersyukur bisa dapetin cewek kayak Eresha.” lanjutnnya.
“Hari ini lo nyebelin banget tau nggak ka.” ujar Adit yang kelihatannya mulai habis kesabarannya.
__ADS_1
Sekarang makan siang ini bukanlah suasana yang menyenangkan lagi seperti tadi. Semuanya berubah menjadi begitu mencekam dan menakutiku seperti terror mahluk gaib. Tak seharusnya kami mengajak Arka untuk bergabung tadinya, jika ujung-ujungnya hanya akan seperti ini. Ku pikir itu akan menyelesaikan masalah, tapi ternyata malah sebaiknya. Arka membuat benang yang telah ku rapihkan jalinannya itu, menjadi kembali kusut dan tak beraturan.
***
Seperti biasanya, aku dan kelima sahabatku ini selalu kelaur dari kelas paling akhir. Aku dan yang lainnya menunggu di selasar, sambil mengamati keadaan di bawah sana. Tapi kali ini tak hanya kami berenam yang berada di sana. Alice juga turut ikut bersama kami di sana, siapa lagi jika bukan Arka yang mengajaknya. Bahkan pria itu sama sekali tak mau memulai pembicaraan denganku lagi seperti biasanya. Dari tadi dia hanya bungkam dan terus bersikap dingin terhadapku. Ku rasa kami memang benar-benar tak cocok.
Aku tak tahu apa yang akan terjadi ke depannya nanti. Manusia taka da yang bisa memprediksi masa depannya sendiri, walaupun dia bisa pasti orang itu adalah seorang peramal. Terkadang lebih baik kebingungan dari pada harus tau kenyataannya. Tak semua orang siap untuk mengetahui masa depannya lebih dini. Sangat menyeramkan jika harus membyangkan kejadian apa yang akan terjadi di masa depan kita nanti, entah akan berakhir bahagia atau justru tragis.
“Bye!” ucap Adit setelah sampai di parkiran.
“Dah!” balas yang lainnya.
“Sha, gue pergi dulu ya.” ujar Stefani kemudian segera berlari menuju sepeda motor di sana, dengan Titan yang sudah tampak menunggu di atasnya.
“Sha, hari ini aku enggak bisa anterin kamu balik. Soalnya aku udah terlanjur janji sama Alice buat nganterin dia pulang, sebagai tanda permintaan maaf aku.” ujar Arka sambil memegang helmnya dengan gusar dan ragu.
“Lakuin aja apa yang menurut kamu benar, dan ikutin kata hati kamu. Karena kadang perasaan jauh lebih bisa untuk di percaya.” balasku.
“Maafin aku soal yang tadi.” ujarnya sekali lagi.
“Sana gih, kasihan Alice udah nungguin.” ucapku seraya berlalu pergi dari hadapannya.
Kali ini semua orang telah pergi lebih cepat untuk meninggalkanku. Mulai dari Stefani yang akan kencan, Clara yang harus les piano, hingga Arka yang masih terpaku dengan Alice. Aku tak tahu apa yang dilakukan Alice sehingga pria itu bisa seperti tersihir begitu. Pada akhirnya semua orang akan selalu sendirian, pada waktunya masing-masing.
Untuk hari ini hanya senja dan angin sore yang menemaniku. Setelah berjalan agak lama dan sudah lumayan jauh, akhirnya aku memutuskan untuk naik ojek online saja. Tak baik jika aku terus memaksakan diri seperti ini. Jika aku terlalu menuruti ego ku, bisa saja terjadi hal buruk nantinya. Aku juga harus memperhatikan kesehatanku yang bisa saja memburuk kapanpun ia mau.
“Dengan Mbak Eresha?” tanya seseorang yamg tiba-tiba berhenti di depanku dengan sepeda motornya.
“Iya benar mas.” balasku dengan singkat.
Pria itu mengangguk sebentar, sambil berkutat dengan ponsel miliknya. Tapi hal itu tak berlangsung lama, kemudian ia segera menyodorkan helm kepadaku.
***
Hari ini sepertinya aku akan pergi ke salah satu studio dance, untuk melatih kemampuanku yang sudah lama tak ku asah. Tak jauh dari tempat ini, ada sebuah mall yang menyediakan ruangan dance untuk disewakan kepada siapapun yang berminat. Durasi sewanya perjam, sehingga terbilang cukup efisien bagiku.
Aku bersiap dengan setelan kaos oblong dan celana training panjang, kemudian membawa serta tas ransel kecil bersamaku. Setelah selesai bersiap dan memastikan tak ada sesuatu yang tertinggal, aku segera turun ke bawah untuk berpamitan.
“Ma, Eresha pergi dulu ya.” ucapku kepada mama yang sedang noton tv sendirian di ruang tengah.
“Mau kemana nak malam-malam begini?” tanya wanita itu sambil memalingkakn pandangannya ke arahku.
“Perginya sama siapa?” tanyanya lagi.
“Sama abang tukang ojek.” jawabku apa adanya.
“Ya udah hati-hati ya, pulangnya jangan malam-malam loh. Ingat pesan mama ya!” ujar wanita paruh baya tersebut.
“Iya.” jawabku singkat, kemudian segera meraih tangan kanannya untuk bersaliman.
Sama seperti tadi siang, sekarang aku juga pergi ke sana dengan menggunakan ojek online. Sebenarnya aku sudah berjalan sampai ujung komplek untuk naik ojek pangkalan. Tapi aku mengurungkan niatku yang satu itu, setelah mendapati tempat yang biasanya ramai mendadak menjadi sepi seperti ini. Mungkin para tukang ojek yang biasanya mangkal di sini, sedang mengantarkan penumpang lainnya.
Setelah sampai di mall yang ku maksud tadi, aku langsung menyewa satu studio dance untuk durasi selama dua jam. Ukuran setiap studionya tak terlalu besar, dan juga tak terlalu kecil. Perhitungan mereka dalam mendesai tempat ini, pasti sudah terencana dengan baik. Tempat ini juga menyediakan fasilitas lainnya seperti gym. Yang aku suka dari tempat ini adalah ruangannya yang privat. Jadi aku bebas melakukan apapun dan tak perlu khawatir jika akan jadi pusat perhatian.
Aku memulai pemanasan untuk beberapa menit sebelum kegiatan intinya. Aku harus melakukan pemanasan ekstra dari pada yang pernah ku lakukan sebelumnya. Kurang lebih sudah hampir setahun aku tak melakukan kegiatan ini. Semoga saja tubuhku masih selentur dulu, sama seperti yang ku harapkan. Aku tak berharap banyak dilatihan kali ini, kondisi fisikku tak seperti dulu lagi.
Aku menatap diriku sendiri dalam pantulan cermin raksasa yang tertempel di sepanjang tembok. Kini aku bisa menatap diriku secara keseluruhan dari berbagai sisi. Ternyata seseorang di hadapanku sekarang adalah sosok Eresha yang selama ini orang lain kenal.
“You can do it!” ucapku sambil menyemangati diriku sendiri.
Dalam hitungan beberapa detik kemudian, gaungan musik mulai memenuhi seisi ruangan. Tubuhku mulai mengikuti alunan irama yang membelai halus indera pendengaranku. Aku memulai dengan lagu dan gerakan yang mudah saja. Mulai dari mengulang gerakan yang pernah ku latih bersama mereka terlebih dahulu. Bersama tim dance sekolahku dulu, bersama mereka semua. Bersama sebuah kompetisi yang membuatku mendorong jauh batas kemampuanku.
Apa kabarnya anak-anak itu, sekumpulan anak manusia yang bersama karena sebuah kesamaan. Secara kebetulan membuat sebuah cerita baru, tentang kita. Ah, kenapa aku bisa mengingat kota itu lagi. Mungkin kota itu memang tak ingin pergi dari ingatanku, atau sebaliknya karena terlalu banyak kenangan di tempat itu. Entah kenapa aku mendadak menjadi merindukan tempat itu, dan beberapa tempat di sudut kotanya.
Lapangan itu, rasanya ialah perekam memoriku. Terlalu banyak kejadian berarti di tempat itu, kini aku merindukan sepetak tanah yang menjadi saksi bisu perjalananku itu. Tempat di mana aku tak bisa lagi membedakan mana yang namanya air mata dan mana yang namanya keringat. Tapi kali ini aku tak bisa lagi meraih tempat penuh kenangan itu, meskipun aku ingin.
Tapi bagaimana bisa aku tetap menari, sementara pikiranku sendiri entah kemana. Dan yang lebih mengejutkan lagi, aku menari dengan gerakan yang tepat dan akurat. Setelah pikiranku telah benar-benar kembali ke tempat ini lagi, aku memutuskan untuk jeda sejenak. Aku perlu sedikit air untuk membasahi kerongkonganku yang mulai terasa kering ini. Rasanya senang bisa menyambangi tempat itu lagi, meski aku hanya membayangkannya. Ternyata imajinasi itu indah, jika di tempatkan pada porsinya.
Aku melihat jam tanganku sebentar, dan benda bulat itu menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit. Ternyata sudah satu jam lebih aku berada di tempat ini, itu artinya sisa waktuku masih ada sekitar lima puluh menit lagi. Setelah merasa cukup dengan istirahat tadi, aku kembali melanjutkan latihanku. Sebenarnya bukan latihan, lebih cocok jika aku menyebutnya dengan bersenang-senang. Rasanya setiap tetes keringat yang keluar dari tubuhku, membuat diriku terasa semakin ringan dan tenang.
Kali ini aku melanjutkan latihan dengan lagu yang tersusun secara acak. Kemudian aturannya aku harus menari dengan gaya free style yang berbeda di setiap lagunya. Sepertinya babak yang kali ini akan sedikit lebih menantang. Jika yang sebelumnya memaksaku untuk mengingat setiap koreografinya, sekarang aku dituntut untuk menciptakakn koreografi secara mandiri.
Namun siapa kira jik ahari ini aku akan mengalami hal sial lagi. Aku terjatuh karena tersandung oleh tali sepatuku sendiri. Aku benar-benar ceroboh dan akan selalu begitu. Tapi bukan itu masalah yang sebenarnya. Aku terjatuh hingga menyebabkan tangankan tanganku yang sedang terluka itu menjadi terbentur ke lantai, untuk menahan diriku sendiri. Karena lukanya belum benar-benar sembuh, apalagi mengering tentu saja rasa sakitnya bukan main-main lagi.
“Eresha!” sahut seseorang dari belakang saat aku sedang meringis kesakitan.
Kali ini aku tak mampu menoleh untuk melihat siapa orang itu. Lagi pula di tempat umum seperti ini, siapa yang mengenalku bahkan sampai mengetahui namaku. Meskipun begitu, bisa ku rasakan jika orang itu perlahan mendekat ke arahku. Aku dapat mendengar derap langkah kakinya yang hampir terdengar seperti berlari. Sesaat kemudian ia memeluk tubuhku dari belakang, sambil berusaha untuk menenangkan diriku. Salah satu tangannya meraih tanganku yang sedang terluka itu, lalu ia menggenggamnya dengan sangat erat. Sepertinya aku tahu siapa ini, bukankah jika orang ini adalah Arka? Lagipula siapa lagi yang pernah menggenggam tanganku seerat ini, jika bukan pria yang satu itu.
Tapi mustahil jika orang ini adalah Arka. Dari mana ia bisa tahu jika aku sedang berada di tempat ini, dan bukannya ia terlalu sibuk dengan Alice sehingga melupakanku begitu saja. Tidak mungkin jika ini adalah Arka, lalu jika bukan Arka siapa dia.
__ADS_1
“Kamu enggak apa-apa sha?” tanya orang tersebut kepadaku.
Aku berusaha untuk mendongakkan kepalaku dan mencari tahu siapa sebenarnya orang ini. Jika dilihat dari suaranya, kelihatannya ia adalah seorang laki-laki. Ternyata benar jika orang itu adalah seorang pria, yang tak lain dan tak bukan adalah Arka.
“Arka?” gumamaku pelan.
“Tangan kamu enggak apa-apa? Perbannya kelihatannya perlu diganti.” ujarnya dengan raut wajah khawatir.
Aku lantas menyingkirkan tangan pria itu dari tanganku. Untuk saat ini aku masih belum siap untuk memulai pembicaraan dengannya lagi, setelah ia mendiamkanku begitu lama.
__ADS_1