Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 9


__ADS_3

  Hari ini hari libur, tanggal merah diakhir pekan. Aku memilih beberes di apartemen ku. Masih terlalu pagi untuk keluar. Setelah selesai beberes, aku duduk di kursi santai di balkon sambil meminum sekotak susu dan mengecek ponselku. Aku melihat chat teratas yang ku sematkan. Hanya tanda ceklis dua yang tak kunjung berwarna biru. Aku sudah mengiriminya pesan dari kemarin. Padahal, ada hal serius yang ingin ku bicarakan.


 


 


  Kemudian aku melihat pembaruan status WhatsApp kontak ku. Kak Sendy mengupload sebuah video. Video seseorang yang tampak sedang marah dan mengacak-acak barang disekitarnya. Hati kecilku bertanya. Apakah ia sedang tak baik baik saja? Kemarin secara mendadak, ia menghapus foto profil nya dan mengganti infonya menjadi tulisan "Hilang".


 


 


  Aku yakin mood nya sedang berantakan dari kemarin, sampai-sampai ia tak berniat membaca pesanku. Aku beralih ke laman Instagram milikku. Ada sebuah pembaruan status dari adiknya. Kurasa ada hubungannya dengan Kak Sendy, mungkin.


 


 


  Sebuah foto yang memperlihatkan sepasang suami istri tampaknya. Tapi, si suami agak kelihatan lebih muda. Apa itu anak nya? Dan ibu itu, ya aku tau. Itu mama nya Kak Sendy. Dan si pria tampak menggunakan topi yang tak asing bagiku. Topi itu sering di pakai Kak Sendy saat latihan.


 


 


  Bukannya aku menjadi sok tau tentang keluarga mereka. Tapi aku yakin ada yang tak beres. Jika ku ingat ingat, aku pernah melihat foto di status Instagram adik nya. Foto lelaki yang sudah tak muda lagi, uban juga sudah tampak bermunculan. Dan ada kalimat yang menunjukkan perasaan berduka atas kepergian pria itu disana. Tapi, apa itu ayah mereka? Aku tak pernah menanyakan itu kepada Kak Sendy. Rasanya, tak pantas aku menanyakan hal semacam itu padanya.


 


 


  Harusnya tahun ini, pria itu telah berumur 17 tahun. Mendadak hal itu muncul di pikiranku. Tapi, ia tampak biasa saja, tak seperti kebanyakan orang pada umumnya yang akan merayakannya dengan meriah. Kemarin aku sempat mengucapkan selamat ulang tahun padanya dan bernyanyi sebuah lagu. Semoga itu bisa menjadi hadiah terindah di ulang tahunnya yang ke-17 kemarin itu.


 


 


  Aku jadi semakin gusar dan ragu untuk melanjutkan pesanku yang kemarin. Sebenarnya kemarin itu, aku ingin memberitahunya soal novel. Iya, aku telah menulis sebuah novel untuk nya. Sebenarnya sudah lama ingin ku sampaikan. Namun, lagi-lagi rasa takut menang. Aku takut ia tak menyukai hal ini, atau mungkin merasa risih. Bahkan bisa aja ia membenciku untuk selamanya. Dan saat aku memutuskan untuk memberitahu nya, situasi nya malah tidak tepat. Benar-benar diluar dugaanku.


 


 


  Aku menghela nafas panjang. Kiranya, dimana pria itu tinggal? Jepang benar-benar luas. Dimana aku bisa menemuinya?


 


 


"Ting tong."


 


 


  Suara bell terdengar jelas. Siapa yang bertamu? Tak biasanya. Atau mungkin petugas kebersihan yang akan mengambil sampah seperti biasanya? Aku buru-buru membukakan pintu.


 


 


"Kak Sendy?" Tanyaku tak percaya.


 


 


"Hai, apa kabar. Udah lama gak ketemu." Ucapnya sekedar basa-basi.


 


 


"Baik. Eh, iya yuk masuk aja." Ajak ku.


 


 


  Aku mengeluarkan meja kecil dan meletakkannya di balkon. Kemudian menyajikan dua cangkir kopi latte kesukaan kami berdua. Dan setoples biskuit cokelat.


 


 


"Btw maaf ya kalo cemilannya ga ada unsur-unsur Jepang nya. Soalnya lidahku belum terlalu akrab sama makanan Jepang." Jelasku.


 


 


"Enggak apa-apa kok. Aku juga sama." Balasnya seraya meneguk minuman yang ku sajikan.


 


 


"Kakak kok bisa tau aku tinggal di sini?"


 


 


"Ya tau lah. Kan ini memang apartemen yang disediakan khusus buat pelajar asing. Ya semacam asrama gitu lah."


 


 


"Terus kakak tau dari mana aku lagi di Jepang?"


 


 


"Rini udah cerita semuanya."


 


 


"Pantesan. Lah, terus kakak disini tinggal di mana?"

__ADS_1


 


 


"Ya di apartemen ini juga lah."


 


 


"Seriusan?"


 


 


"Iya, dua rius malah."


 


 


"Kok aku ga pernah ketemu kakak?"


 


 


"Aku juga ga tau deh kalo soal itu. Hehe."


 


 


"Eh, hidung lo." Sambung pria itu.


 


 


  Aku langsung meraba bagian hidungku. Ya Tuhan, aku mimisan secara mendadak. Pria itu langsung menyuruh ku untuk mendongak kepalaku agar darahnya tak semakin banyak. Sementara itu, ia sibuk mencari tisu. Tubuhku lemas seketika. Aku mencengkram dengan kuat besi pembatas balkon. Berharap pertolongan segera datang.


 


 


  Setelah menemukan tisu, pria itu langsung menghampiriku. Ia meraih tubuhku yang tengah berusaha tetap tegak meski tanpa tenaga. Ia meletakkan kepalaku di atas pangkuannya. Menyuruhku berbaring agar kondisiku tak semakin parah. Tak banyak energi yang tersisa, tapi setidaknya masih cukup untuk sekedar membuka kedua mataku.


 


 


  Ia menyeka sisa darah di wajahku dengan tisu. Wajahnya tampak bingung sekaligus khawatir. Tak bisa dipungkiri jika ia sedang cemas saat itu. Ia tampak melakukan semuanya dengan tulus, tanpa paksaan.


 


 


"Sha, jangan bikin gua khawatir." Ucapnya sambil menyeka darah.


 


 


 


 


"Setelah ini, lo harus cerita ke gua." Ucapnya.


 


 


***


 


 


  Perlahan aku bangkit dari kegelapan yang menyelimuti ku dari tadi. Ku dapati tubuhku terbaring lemas di atas kasur apartemen. Tangan sebelah kiriku sudah terpasang jarum infus yang entah sejak kapan benda itu ada disana. Aku menatap langit-langit kamar, berharap aku bisa melakukan sesuatu. Apa yang sebenarnya terjadi denganku?


 


 


"Sha, lo udah bangun?"


 


 


  Tiba-tiba sebuah suara muncul dari balik pintu. Aku hanya mengangguk lemah.


 


 


"Aku mau pulang ke indo Kak." Ujarku.


 


 


"Loh kenapa?"


 


 


"Enggak apa-apa cuma pengen balik ke Indonesia."


 


 


"Terus gimana sama program pertukaran pelajar lo?"


 


 

__ADS_1


"Bakal aku batalin, kan belum masuk masa belajar intensif juga. "


 


 


"Tapi sayang banget sha kalo lo sia-siakan kesempatan ini. Lo udah susah payah buat ke sini."


 


 


"Aku gak pernah pengen ke sini kok."


 


 


"Terserah lo deh sha. Btw tadi lo kenapa kok tiba-tiba mimisan?"


 


 


"Kecapean mungkin. Kan baru sampai disini juga."


 


 


"Nah baru sampek juga masa mau langsung balik ke Indonesia."


 


 


"Enggak apa-apa kak."


 


 


  Kami hening sejenak. Kak Sendy mungkin lelah menghadapi aku yang keras kepala, jadi ia memilih bungkam. Aku menatap wajahnya sekilas. Aku bisa membaca dengan jelas raut wajahnya. Ia sedang tak baik-baik saja, ada sesuatu yang ia tutupi.


 


 


"Kak." Sahutku.


 


 


"Iya, kenapa?"


 


 


"Kakak kenapa?"


 


 


"Emm? Enggak kok."


 


 


"Yakin?"


 


 


  Ia kembali bungkam. Raut wajahnya semakin mendung. Ia menunduk tak sanggup melihat dunia yang sekejam ini padanya. Sampai air mata itu terlihat mengalir. Baru kali ini aku melihatnya menangis. Seseorang yang kupikir adalah orang paling  dingin dan ketus, ternyata bisa menjadi serapuh ini juga. Ia menenggelamkan wajahnya di pundak ku. Dengan ragu aku mengusap pelan puncak kepalanya. Ia semakin merapatkan tubuhnya hingga saat ini benar-benar tak ada jarak diantara kami. Tangisannya semakin menjadi. Aku hanya bungkam, tak berani berkata. Belum saatnya, biarkan ia melepaskan segala keluh kesah dan beban yang di sembunyikan nya selama ini. Aku merangkul pundak nya. Mencoba meyakinkan nya bahwa ia tak sendirian disini.


 


 


  Sementara tangannya yang satu meraih tanganku. Menggenggamnya begitu erat. Bisa kurasakan perbedaan emosi nya.


 


 


"Sha, lo jangan pernah tinggalin gua. Makasih banyak udah hadir di hidup gua, udah ngasih sejuta warna di hidup gua yang terlalu kelabu. Makasih udah mau ngasih kehangatan tertulus buat gua yang terlalu dingin."


 


 


  Dengan susah payah aku menelan saliva. Antara percaya atau tidak, dengan pengakuannya barusan.


 


 


"Harusnya aku yang bilang gitu ke kakak. Sebentar lagi kakak kan tamat. Aku gak bakal bisa liat kakak lagi. Sebentar lagi jarak akan terbentang diantara kita dan yang pasti itu enggak menjamin kebahagiaan. Aku pasti nya bakal rindu semua hal yang pernah terjadi selama dua tahun ini. Dua tahun penuh air mata kadang penuh tawa. Aku bakal rindu ngeliat kakak mainin Tom kakak pas latihan marching band. Aku juga bakal kangen moment gimana jantung ku rasanya mau copot ketika berada di sekitar kakak. Aku bakal kangen ngeliatin kakak diam-diam. Aku bakal kangen semua hal tentang kakak."


 


 


  Kini kami berdua berada di titik terendah kami masing-masing. Dimana kami tak dapat berbuat apa-apa. Aku menggigit bibir bawahku agar tak terisak. Kami benar-benar hancur saat itu. Rapuh, pecah berkeping-keping. Satu-satunya hal yang kami pikirkan waktu itu, bagaimana kalau kita mengubah takdir kita masing-masing?


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2