Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 54


__ADS_3

Akhirnya bel masuk segera berbunyi dan memecah keriuhan suasana kala itu. Mereka terpaksa berhenti berdebat karena pelajaran akan segera di mulai.


"Ka, gue duduk di sini lagi ya kayak kemarin." Ujar Titan sebelum beranjak dari sana.


"Enggak! Enggak boleh! Awas aja kalau lo berani ninggalin gue lagi." Cegah Adit sekaligus teman sebangkunya.


"Tuh, pasangan hidup lo enggak setuju. Adek Adit butuh belaian dari Abang Titan, hahaha...." Balas Arka.


"Dih, pasangan hidup apaan. Lo kira gue udah sinting gitu sampai suka sama cowok!" Protes Titan yang tidak terima dirinya di bilang seperti itu.


"Kan dia emang pasangan hidup lo selama di kelas ini. Kasian ntar Adit kalau lo tinggalin sendirian." Ujar Arka.


"Tuh denger apa kata Arka, enggak boleh jahat sama sahabat sendiri." Timpal Adit menambahi ucapan Arka barusan.


"Titan,  apa yang kamu lakukan ke saya itu jahat..." Lanjutnya.


Spontan hal itu memicu gelak tawa mereka seketika. Wajah Adit benar-benar penuh penghayatan saat memperagakan salah satu scene di film ada apa dengan cinta tersebut.


"Udah sana jalan duluan lo!" Perintah Titan sembari mendengus kesal.


"Lo dulu lah, ntar kalau gue yang jalan duluan lo malah kabur lagi." Protes Adit yang tak setuju dengan perkataan sahabatnya barusan.


"Udah, mending jalannya barengan aja gih. Gandengan sekalian kalau perlu, biar kayak pengantin baru." Ledek Arka sambil mendorong tubuh kedua orang tersebut agar segera menyingkir dari mejanya.


Tanpa pikir panjang, keduanya langsung ngacir dari tempat tersebut. Mereka enggan jalan beriringan seperti pengantin yang akan naik ke pelaminan.


"Baiklah selamat pagi anak-anak!"


"Pagi bu!"


Cerita yang sesungguhnya barusaja akan segera dimulai sekarang.


Anak-anak di kelas itu selalu antusias dalam kegiatan belajar mengajar. Mereka selalu saling berebut soal kuis yang sering kali diberikan secara tiba-tiba dan tanpa pernah diduga sebelumnya. Tumpukan kertas soal adalah makanan pokok mereka setiap harinya. Tanpa diperintah pun, mereka akan mengerjakannya secara sukarela dan tanpa paksaan samasekali.


Anak-anak di kelas ini benar-benar berbeda dari temannya yang duduk di kelas lain. Di mata para guru, kelas ini selalu menjadi begitu sempurna. Tapi gelar kelas unggulan yang di berikan kepada kelas itu tak akan menjamin kesuksesan para muridnya.


Meskipun kelas itu dihuni oleh puluhan siswa-siswi yang berprestasi baik di bidang akademik maupun bidang lainnya, tetap saja mereka harus berusaha masing-masing. Sukses mereka tak akan sama, cita-cita dan passion mereka juga tak sama. Itu sebabnya mulai hari ini, esok dan bahkan seterusnya, mereka akan tetap berusaha.


"Lampaui batas kemampuanmu maka akan kau temui sesuatu yang di luar ekspektasi mu sebelumnya."


Itu adalah prinsip hidup mereka. Jangan mudah mengatakan tidak bisa jika belum mencobanya sendiri. Dobrak keterbatasan mu, maka kalian akan takjub dengan hasilnya nanti. Selali ada hal sesuatu yang misterius jauh di dalam sana. Ada potensi tersembunyi yang perlu digali lagi agar kita bisa menemukannya. Sama seperti saat penambang mencoba menembus lapisan keras bumi untuk mencari sebongkah logam mulia.


"No pain, no gain."


Salah satu pepatah kuno yang masih di gunakan hingga sekarang. Satu kalimat yang mampu merubah hidup setiap orang yang benar-benar menekuninya.


Di sini, di tempat ini, hari ini adalah sebuah sejarah baru bagi mereka. Sebuah kisah baru yang akan tertulis dengan sendirinya di atas lembaran putih kosong kehidupan mereka. Yang akan menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan, kisah perjuangan yang tak pernah berhenti hingga akhir hayatnya.


***


Akhirnya hari yang melelahkan ini telah usai. Semua sisa pekerjaan mereka akan dilanjutkan esok hari. Semua orang mulai berhamburan keluar dari gedung tempat mereka menuntut ilmu tersebut. Tak terkecuali dengan para pengajar dan staf sekolah lainnya yang juga harus pulang. Tak jarang mereka harus berdesak-desakan di pintu gerbang utama karena berebut keluar lebih dulu. Tapi tidak dengan sekelompok anak-anak itu. Mereka malah memilih untuk tetap berada di selasar sampai situasi sudah lebih sepi dan lengang agar ada sedikit jalan bagi mereka.


Padahal mereka tahu jika suasana sekolah setiap langit mulai menggelap selaku terkesan menyeramkan. Seolah-olah mereka seperti menantang setiap lelembut yang berjaga di sana. Mungkin tanpa mereka sadari sedang mengawasi mereka sekarang. Walaupun tak jarang mereka menjadi ketakutan sendiri di atas sana, tapi lama-kelamaan mereka mulai terbiasa karena selalu melakukan hal ini setiap harinya.


Setelah mereka situasi di gerbang utama sudah agak lengang, mereka memutuskan untuk turun. Hari ini mereka sudah janji akan menjenguk Eresha. Mereka juga telah membicarakan hal ini terlebih dahulu dengan gadis itu.


Arka dan kedua sahabatnya itu pergi ke parkiran untuk mengambil sepeda motornya masing-masing. Kebanyakan anak laki-laki di sekolah ini memang selalu membawa sepeda motornya ke sekolah. Sangat jarang bagi kaum Adam di sekolah ini untuk naik bis atau berjalan kaki. Meskipun mereka memiliki mobil mewah di rumahnya, tetap saja mereka enggan pergi ke sekolah dengan kendaraan yang satu itu. Ada suatu alasan tersendiri yang sulit untuk dimengerti oleh orang lain. Apalagi para wanita tentu tak akan paham dengan alasan mereka.


Sementara Stefani dan Clara menunggu di depan gerbang utama. Sekarang kedua orang ini menjadi lebih akur semenjak mereka menjadi teman sebangku. Hampir tak pernah lagi terdengar percekcokan diantara mereka berdua. Benar-benar berbalik seratus delapan puluh derajat dari keadaan mereka yang dulu.


Tak lama para pria tersebut datang menghampiri mereka dengan sepeda motornya masing-masing. Mere akan mampir ke toko buah terlebih dahulu untuk membeli buah tangan.


"Lo sama gue aja stef..." Ujar Titan tanpa basa-basi.


Mendengar ucapan pria itu barusan, rasanya jantungnya akan meledak. Mimpi apa ia kemarin malam. Namun Stefani berusaha untuk bersikap biasa saja. Gadis itu mengangguk cepat sembari tersenyum kaku. Jika ia bisa menghentikan waktu, rasanya ia ingin lompat-lompat dan berteriak tak karuan sekarang. Namun kali ini ia hanya bisa bersorak dalam hati.


"Dan lo ra, sama gue!" Ujar Arka.


"Enggak usah ka, gue sama Adit aja udah." Tolak Clara.


Gadis itu sedang berusaha untuk melupakan semua masa lalunya. Ia tak ingin hanya karena kejadian ini, hatinya kembali terbawa suasana dan semua benteng pertahanan yang ia bangun selama ini malah rubuh sia-sia.


"Tapi gue enggak bawa helm dua loh ra, maklum lah soalnya biasanya enggak pernah bonceng cewek." Ujar Adit sambil nyengir seolah tak berdosa.


"Yaudah nih pakai helm gue."


Arka menyodorkan helmnya yang biasanya dipakai oleh Eresha saat mereka masih sering pulang bersama. Namun kini benda itu sudah lama tak di sentuh sedikitpun oleh gadis itu. Belakangan ini Eresha lebih sering naik bis kota bersama Stefani.


"Terimakasih." Ujar Clara.


Pria itu hanya mengangguk pelan mengiyakannya saja.


Setelah semuanya selesai, mereka bergegas untuk segera beranjak dari tempat itu. Tempat ini semakin menyeramkan saja jika di lihat dari luar seperti ini. Atmosfir di sana langsung berubah total saat gelap telah menyapa ibukota.


Kini sinar jingga itu perlahan memudar, sang senja berpamitan pulang. Ia begitu indah hingga siapapun yang menatap langit kala itu pasti terkagum-kagum oleh lukisan semesta. Kala ia datang menyapa manusia, semua orang tersenyum bahagia. Sekarang ia juga harus pergi, dengan cara yang baik pula.

__ADS_1


Meskipun hadirnya hanya sesaat lalu pergi ke belahannya dunia lainnya, tapi ia selalu berjanji jika esok akan kembali lagi. Ia akan datang di waktu yang sama setiap harinya, untuk memastikan apakah manusia baik-baik saja, untuk memastikan jika dunia masih bersahabat dengan para penduduknya. Senja tak pernah ingkar kepada jutaan manusia yang selalu menanti hadirnya setiap hari. Tidak seperti manusia yang terkadang selalu membuat kecewa satu sama lain.


Senja mengajarkan kita agar tak egois dan mementingkan diri kita sendiri. Bayangkan saja jika senja enggan pergi, dan ia terus bersinar sepanjang hari hingga fajar terbit. Bayangkan saja jika senja enggan berganti dengan malam, tak mau mengalah dengan kegelapan. Ia merasa manusia lebih membutuhkan sinarnya daripada kegelapan malam yang sering kali membuat sebagian orang merasa ketakutan.


Jika itu semua benar terjadi, mungkin dunia akan kacau. Orang-orang tak bisa beristirahat di malam hari karena cahaya yang terlalu tajam menusuk matanya. Pada hakikatnya, semua hal telah memiliki porsinya masing-masing. Dan itu semua telah di atur oleh yang maha kuasa dengan seadil-adilnya, sehingga tak ada yang merasa di rugikan. Semuanya sudah dalam keadaan yang seimbang, tak ada yang berat sebelah.


***


Mereka berlima mampir sebentar ke salah satu toko buah-buahan yang berada di pinggir jalan besar. Pasar sudah pasti tutup di jam segini. Sepanjang jalanan ini ramai atas bagunan pertokoan yang terlihat berjejalan. Puluhan macam makanan hingga barang-barang, di jajakan secara lengkap di sini.


Sebenarnya Clara sudah menyuruh yang lainnya untuk menunggu di luar saja. Tapi percuma saja jika ia bicara seperti itu kepada orang-orang yang keras kepala seperti ini. Jika mereka semua masuk, pasti akan sangat sesak berada di dalam sana. Clara takut kalau nantinya malah akan membuat pengunjung lain malah merasa tak nyaman dengan kehadiran mereka.


"Udah! Udah!"


Arka berusaha memecah keriuhan suasana saat itu. Mereka malah berdebat lagi di pinggir trotoar.


Seketika semuanya langsung bungkam, tak berani berikutik sedikitpun termasuk Stefani. Ia terlihat jauh lebih menyeramkan jika sedang marah seperti ini. Jarang-jarang mereka bisa melihat Arka begitu emosi seperti ini. Anak itu terkenal miskin ekspresi karena wajahnya selalu terlihat datar tanpa ekspresi. Tentu saja mereka begitu terkejut melihat perubahan emosinya yang meningkat drastis.


"Gini aja, kita mendingan bagi tugas." Ujar Arka yang kini bersikap lebih tenang.


"Kita belum makan malam kan, jadi sebagian ke toko roti itu buat beli brownies atau apa kek yang bisa kita makan bareng." Jelas Arka sambil menunjuk sebuah toko tepat di sebelah toko buah.


Sementara yang lainnya mengangguk setuju dengan perkataan Arka barusan. Semua orang itu tunduk di bawah perintah Arka. Tak di ragukan lagi jika ia terpilih menjadi ketua kelas selama tiga tahun berturut-turut.


"Terus siapa nih yang mau beli buahnya?" Tanya Arka.


"Biar gue sama Stefani aja!" Seru Titan dengan antusias.


"Kok gue?!"


Lagi-lagi pria itu berhasil membuatnya salah tingkah.


"Kan lo udah lama sahabatan sama Eresha, jadi lo pasti tau lah buah kesukaan dia." Jelas Titan.


"Oke..." Balas Stefani sambil tersenyum kaku.


"Oke, jadi kalian yg beli buahnya. Biar gue sama Clara yang beli makanan buat kita." Ujar Arka kemudian segera mengambil kesimpulan.


"Terus gue gimana?" Protes Adit.


"Ya lo jaga di sini lah, jagain motor biar nggak di maling orang." Ujar Arka.


Bibirnya maju beberapa centi me depan sambil mendesis kasar. Bagaimana bisa mereka meninggalkan sahabatnya sendirian di sini. Sementara yang lainnya malah pergi berduaan. Betapa malangnya nasib pria itu, lagi-lagi di terlantarkan oleh sahabatnya sendiri.


Mereka tak bisa berlama-lama di sini, hari semakin larut. Jika tidak segera bergegas ke sana, mereka tidak akan di perbolehkan masuk karena jam besuk sudah habis.


Clara dan Arka masuk ke toko kue yang cukup luas. Ini adalah tempat yang sama di mana Eresha pernah membeli kue ulang tahun Arka beberapa bulan yang lalu. Setelah memberikan kue tersebut, Eresha mendadak kehilangan kesadaran. Dan sekarang kejadiannya hampir mirip. Ia kembali datang ke tempat ini di situasi yang hampir sama.


Mereka menjelajahi tempat ini terlebih dahulu. Mengelilingi toko ini, sambil mengedarkan pandangan hingga menembus etalase-etalase di sana. Pantulan sinar putih hangat nan lembut menyapa setiap indera penglihatan.


"Ka, lo tau nggak kalau dulu Eresha itu beliin kue ulang tahun lo di sini juga." Ujar Clara sambil tetap berjalan di samping pria ini.


"Waktu gue di rumah sakit itu ya?" Tanya Arka memastikan.


"Iya, lo masih ingat kan?"


Arka mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Dan kita beli dreamcatcher itu di toko seberang sana." Ujar Clara sambil menunjuk keluar toko.


Maya Arka mengikuti arah jari telunjuk gadis tersebut yang mengarah ke sebuah toko dengan gaya arsitektur kuno. Itu terlihat cukup jelas dari penampakan di luarnya.


Karena toko ini berdinding kaca di bagian depannya, jadi mereka bisa melihat segala sesuatu di luar sana dari dinding kaca ini.


"Banyak harapan buat lo yang Eresha wakilkan melalui dreamcatcher itu." Lanjutnya.


"Misalnya?" Tanya Arka pemasaran.


"Kalau soal itu lo harus tanya sendiri ke orangnya langsung." Balas Clara.


Mereka kembali menyambung langkah kakinya yang sempat terhenti sejenak, sambil terus mencari kue yang sesuai.


"Toko itu kelihatannya udah lama banget." Ujar Arka.


"Emang iya, kalau kata penjaga tokonya sendiri waktu itu bilang kalau toko itu udah berdiri sejak tahun 1970-an gitu."


"Wih.... Lama banget, pantesan bangunannya udah keliatan tua."


"Di sana juga banyak jual barang-barang antik juga kok."


"Termasuk dreamcatcher gue?"


"Mungkin, gua enggak tau pasti sih. Soalnya sebagian juga ada yang barang baru."


Setelah lelah berkeliling toko, akhirnya mereka kembali ke etalase yang paling depan. Hari juga semakin gelap. Kasihan jika Adit harus kelamaan menunggu di sana sendirian. Yang ada bukannya sepeda motor yang dicuri, malah anak itu yang dicuri.

__ADS_1


"Mbak, beli browniesnya yang rasa black forest nya satu ya." Ujar Arka sambung menunjuk salah satu kue yang di pajang di etalase.


Setelah selesai membeli kue, mereka bergegas keluar untuk menemui yang lainnya. Sudah Arka duga sebelumnya jika dirinya lah yang paling lama. Sementara semua teman-temannya sudah menunggu di tempat awal tadi dengan tatapan yang tidak menyenangkan.


"Sorry lama, yuk buruan ntar kemalaman." Ujar Arka kemudian segera naik ke atas sepeda motornya.


Ia sengaja tak ingin berlama-lama agar tak mendengar ocehan dari teman-teman yang pasti akan protes dengannya.


Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah sakit. Lokasinya agak jauh memang dari sekolahan mereka. Karena di sekitar sekolah itu tak ada bagunan lain selain toko, sekolah dan universitas. Itu adalah satu-satunya rumah sakit yang termasuk paling dekat di bandingkan yang lainnya jika di tempuh dari sekolah.


Angin malam membelai halus para anak manusia tersebut. Membawanya terlarut dalam suasana malam di ibukota. Keriuhan dimana-mana, tapi sedikit lebih menenangkan daripada siang hari tadi. Suhu udaranya juga tak terlalu panas, sehingga bisa sedikit melepas penat seharian ini.


***


(Eresha P.O.V)


"Mbak, bangun mbak. Ada yang datang buat liatin mbak."


Suara itu tiba-tiba muncul begitu saja di indera pendengaran ku. Menyentuh halus gendang tenglinga ku. Hangat, lembut bak suara merdu malaikat pagi hari yang dulunya selalu membuatku terjaga di pagi hari. Malaikat yang konon katanya telah memberikanku kesempatan hidup di dunia ini.


Aku membuka kelopak mataku dengan perlahan. Memaksakan untuk tetap terbuka meski aku sedang sangat mengantuk saat itu. Entah kenapa aku terus merasa mengantuk, padahal aku telah tidur dengan jam yang cukup setiap harinya. Mungkin saja ini adalah efek samping dari obat yang selama ini rutin ku minum selama di rumah sakit.


"Mbak, bangun mbak...."


Lagi-lagi suara itu kembali tertangkap oleh telingaku sebelum aku sempat membuka mataku dengan sempurna.


Aku berusaha melawan rasa kantuk yang sedang menguasaiku saat itu. Kulihat begitu banyak orang di sana, mereka menggunakan baju serba putih. Apakah itu para dokter yang ingin melakukan tindakan operasi terhadapku?


Perlahan namun pasti, pandanganku mulai terlihat jelas. Semua objek yang tadinya ku lihat hanya seperti bayangan kini mulai solid membentuk beragam wujud.


Betapa terkejutnya aku saat melihat mereka berada di hadapanku. Ternyata mereka benar-benar datang kemari. Meskipun tadi siang Arka sempat menelepon ku untuk memberitahukan hal ini, aku masih tak berharap banyak soal itu. Aku tahu persis saat ini jadwal murid kelas dua belas sedang padat-padatnya. Belum lagi kegiatan di luar sekolah yang menuntut mere setiap waktu.


"Kalian beneran datang?" Tanyaku setengah tak percaya dengan apa yang ku lihat.


"Terus menurut lo kita ini lagi di mana? Di dunia halusinasi lo?" Ledek Stefani.


Bagaimana bisa mereka lolos dari suster jaga yang selalu berada di setiap koridor rumah sakit ini. Biasanya para suster tersebut hanya akan mengizinkan dua orang saja untuk menjenguk pasien. Mereka benar-benar hebat bisa masuk ke sini secara bersamaan.


"Oh iya, ini kita ada bawa beberapa oleh-oleh. Cepetan sembuh ya sha, kita semua kangen sama lo." Ujar Clara sambil menaruh bungkusan plastik di atas meja.


"Enggak usah repot-repot lah.... kan sayang uang jajan kalian, hehe..." Balasku.


"Kita kangen makan siang bareng sama lo sha, kangen ngeghibah bareng-bareng setiap pagi."


Kini giliran Adit yang membuka suara. Pria itu memang memiliki selera humor yang tinggi. Setiap hal yang menurutnya biasa saja, selalu terlihat lucu bagi kami.


"Aku juga kangen ngumpul sama kalian." Balasku.


"Cepetan sembuh dong, biar gue bisa nyontek jawaban soal Bahasa Inggris sama lo. Kan pening sendiri tuh gue nge-translate nya. Malah enggak bisa pakai Google translate lagi." Tambah Titan yang tengah menyandarkan dirinya di salah satu sisi dinding.


"Semakin cepat lo sembuh dan balik ke rumah, semakin cepat juga gue nyeritain semua unek-unek gue sama lo sha..." Lanjut Stefani.


Aku tersenyum licik ke arah gadis tersebut. Sepertinya aku bisa menebak hal apa yang akan di biarakan olehi nanti. Pasti tentang pria yang satu itu. Aku yakin jika selama berada di sini banyak kejadian yang ku lewatkan.


"Terimakasih loh semuanya buat doa kalian. Semoga aja aku bisa cepat pulih dan balik main lagi sama kalian." Balasku dengan penuh harap.


Aku benar-benar sudah muak dengan suasana di sini. Rumah memang selalu menjadi tempat terbaik bagi setiap orang untuk pulang. Karena rumah adalah istana si pemiliknya.


"Arka enggak mau ngucapin sesuatu buat Eresha? Doain kek, atau kasih semangat gitu kek!" Seru Stefani.


Aku juga baru menyadari jika pria itu samasekali tak buka suara dari tadi. Ia mengasingkan dirinya di tengah-tengah pembicaraan kami. Arka sedang sibuk dengan dunianya sendiri, sehingga ia tak menghiraukan sama sekali kondisi di sekitarnya.


"Cepat sembuh ya." Ujar Arka dengan begitu kaku.


Tak biasanya ia bersikap sekaku ini padaku. Terlebih kami sudah bisa di bilang cukup akrab satu sama lain.


"Thanks..." Balasku singkat.


"Giliran sama Arka aja jawabannya spesial, pakai Bahasa Inggris segala." Protes Adit.


"Terus kalian mau aku jawab pakai bahasa apa coba?" Balasku sambil tersenyum kecil.


"Kamsahamnida.... Arigatou.... Danke... Sukron...." Lanjutku.


Adit hanya tertawa geli mendengar ucapanku barusan. Ia pasti sama sekali tak mengerti dengan apa yang ku katakan barusan.


"Eh, kalian udah makan belum?" Tanyaku pada mereka.


Lagi-lagi pandanganku tertuju kepada Adit. Pria itu hari ini bertingkah dengan sangat lucu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pose imut ala ullzang-ullzang negeri ginseng tersebut.


Entah memang hari ini ia sedang begitu semangat untuk membuat lawakan, atau ia hanya ingin menghibur ku. Tapi apapun alasannya, aku sangat berterimakasih kepada mereka semua.


"Aku tadi ada beli kue buat kita makan bareng-bareng. Karena kita tahu bakalan balik malam. Makanya kita siapin semuanya..." Ujar Clara.


"Dasar si perfeksionis! Haha..." Balasku sambil tertawa kecil.

__ADS_1


Hari ini Arka tak bantu bicara seperti biasanya. Apa ada sesuatu yang terjadi dengannya? Aku yakin jika ada sesuatu yang salah pada dirinya.


__ADS_2