
Apa yang dimaksud oleh pria tua ini? Ia bilang banyak hal yang tak akan bisa ku mengerti dengan mudah di usia segini. Lalu apa aku harus menunggu hingga tua seperti dirinya, baru aku bisa paham dengan seluk-beluk semesta yang terkadang sering menyesatkan ini?
“Sebaiknya kau pergi dari sini secepatnya.” ujar pria itu sekali lagi.
Aku tak tahu apakah ia memang sengaja mengusirku dari sini atau apa. Memangnya apa salah nya jika aku berkunjung ke makam seseorang. Lagipula aku tak mempunyai niat buruk juga. Kenapa ia harus mempermasalahkan hal semacam ini. Aku sama sekali tak pernah mengerti dengan cara berpikir orang tua zaman sekarang ini. Termasuk kedua orang tuaku sendiri.
“Tapi pak, aku mohon tolong mengerti lah.” ujarku dengan nada memelas.
“Bagaimana jika aku tak bertemu dengan temanku di sini? Dia pasti akan sangat marah kepadaku. Ia pasti berpikir kalau aku tak menepati janjiku.” jelasku.
“Kau bisa menunggunya di tempat lain. Nanti jika ia datang, akan ku beri tahu jika kau telah sampai di sini lebih dulu.” balasnya.
“Jika aku pergi dan kau mengatakan aku pernah berada di tempat ini sebelumnya, lalu bagaimana dia akan menemukanku nanti?” tanyaku sekali lagi.
“Kalian ini anak-anak zaman modern pasti bisa saling memberitahu lewat ponsel bukan?” ujarnya secara gamblang.
Aku berusaha mati-matian untuk membujuk orang ini agar mau memberikanku keringanan. Tapi, sepertinya ia terlalu keras kepala untuk ku taklukkan. Semua usahaku rasanya sia-sia saja. Ia tetap pada pendiriannya dan memaksaku untuk pergi dari sana secepat mungkin. Pria tua yang satu ini selalu saja punya alasan untuk membuatku menyerah dengan usahaku. Ia menyerangku habis-habisan dengan seluruh kata-kata yang ia gunakan sebagai amunisi. Ia bahkan tak memberiku kesempatan untuk membela diriku sendiri.
“Aku mohon, jangan hentikan aku kali ini….” batinku dalam hati.
Dengan langkah berat, aku segera meninggalkan tempat itu seperti yang ia mau selama ini. Aku bahkan tak diberitahu alasan apa yang membuatnya ingin mengusirku dari sana. Sikapnya terhadap orang asing sungguh tak sopan. Sesekali aku menendang batu-batu kerikil yang menghalangi jalananku dengan kesal. Bahkan hari ini aku belum sempat merasa terberkati. Keberuntungan dan hari-hari bahagia itu sepertinya tak pernah ada lagi di dalam hidupku. Mereka hanya datang sesaat, membuatku merasa tengah berada di puncak. Kemudian secara kasar, kembali menghempaskanku ke tanah. Mereka semua sungguh kejam, sampai aku tak bisa berkata-kata lebih banyak lagi.
Tapi seperti yang ku bilang tadi, apapun yang terjadi, aku akan tetap melakukan apa yang ku mau. Tak akan ada yang bisa menghalangiku, kecuali takdir Tuhan. Bahkan aku tak akan menyerah hanya karena semesta yang semula berpihak kepadaku, kini malah berbalik menyerangku. Aku akan tetap pada rencanaku. Tak peduli jika rencana itu akan tetap berjalan atau malah berakhir berantakan. Kali ini aku tak akan menyerah begitu saja.
Aku memang berjalan pergi dari sana, tapi sampai di sini aku masih tak berhenti. Aku masih tak kehabisan akal untuk tetap pada rencanaku. Jika aku tak bisa melewati jalanan ini, masih banyak jalan alternatif yang bisa ku lewati. Sekalipun jika itu artinya harus memakan waktu tempauh yang cukup lama, karena rutenya yang jauh lebih panjang. Bagaimanapun itu jalannya, pada akhirnya aku akan tetap sampai pada sesuatu yang aku inginkan.
Aku tahu kemana aku harus pergi. Sepertinya aku masih bisa terus mengamati tempat ini dari kejauhan. Tentunya tanpa harus mengambil resiko untuk berdebat dengan orang tua yang satu itu tadi. Di sekitar sini seingatku ada cafe yang lantai atasnya memiliki view langsung ke areal pemakaman ini. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera memutuskan untuk pergi ke sana. Setidaknya kali ini aku masih tetap bisa menjalankan rencanaku tanpa harus ketahuan oleh Ahn Yoo Ra dan Amel.
“Bisa beri aku Americano satu?” ujarku kepada barista café tersebut.
“Baiklah, silahkan di tunggu pesanannya.” balasnya.
Tentunya aku masih tetap harus menggunakan bahasa Korea. Aku tak akan bisa lepas dari bahasa itu selama aku masih berada di sini. Jika aku tak menggunakannya, bagaimana bisa aku hidup sampai sekarang ini.
Karena aku kaan minum di lantai atas, aku masih tetap berdiri di depan meja barista tersebut, sambil menunggu pesananku jadi. Itu karena mereka tak akan mengentar pesananmu. Jadi mau tak mau semua pelanggan harus tetap berdiri pada tempatnya untuk mendapatkan pesanan mereka masing-masing. Setelah mendapatkan apa yang ku mau, aku segera naik ke lantai atas dan menuju ruangan terbuka di ujung sana. Sebenaarnya tempat ini tak terlalu besar jika dibandingkan dengan café-café yang terletak di tengah kota. Pengunjungnya juga tak sebanyak café di pusat Kota Seoul. Tapi tempat ini tetap beroperasi denagn sebagaimana mestinya. Mereka sepertinya tak pernah mengeluhkan soal semua itu.
Aku duduk pada salah satu kursi yang memang saat itu kebetulan sedang menghadap langsung ke pemakaman. Mungkin bagi sebagian orang, bukan ini pemandangan yang cocok untuk sebuah café. Tapi sepertinya orang-orang di sekitar sini, atau yang sering berkunjung untuk menikmati kopi di tempat ini tak masalah dengan semua itu. Karena pada kenyataannya bukan hanya aku satu-satunya orang yang duduk menghadap ke makam. Ada beberapa orang di sekitarku yang terlihat cukup menikmati pemandangan yang di sediakan oleh café ini.
“Hei, apa aku baru pertama kali berkunjung ke café ini?” tanya seseorang yang berada di sampignku saat itu.
Aku hanya mengangguk pelan, sambil mengiyakan perkataannya.
“Pantas saja aku tak pernah melihatmu.” ujarnya.
“Aku hampir setiap hari selalu datang ke sini. Aku bahkan sudah akrab dengan semua pegawai di sini. Bahkan aku sampai hapal dengan wajah-wajah pelanggan yang pernah mampir ke tempat ini.” jelasnya dengan panjang lebar.
“Oh, begitu ya.” balasku dengan singkat.
Sebenarnya aku sedang tak ingin berbicara dengan dirinya saat ini. Namun, ia terus saja menceritakan hal-hal yang bahkan tak ingin ku ketahui sama sekali.
“Kau lihat pemakaman itu?” tanya wanita itu.
“Iya.” balasku sambil mengangguk-anggukkan kepalaku.
__ADS_1
“Sebenarnya tempat itu dulunya bukanlah sebuah pemakaman.” jelasnya.
Sepertinya ia sudah lama tinggal di daerah sekitar sini, sampai ia tahu betul dengan sejarah tempat ini pada masa lalu.
“Dulunya itu adalah sekolah.” ungkapnya.
Aku lantas terkejut bukan main saat ia bilang begitu kepadaku. Aku tak habis pikir, bagaimana sebuah sekolah bisa berubah menjadi pemakaman. Benar-benar sesuatu yang mengejutkan.
“Dulunya aku bersekolah di sana bersama adikku. Namun, suatu hari sekolah kami mengalami kebakaran yang sangat hebat. Semua makan yang berada di sana adalah milik para korban yang tak berhasil diselamatkan saat itu. Untungnya aku berhasil keluar dari sana pada saat itu. Tapi tidak dengan adikku yang masih tetap terkurung di tempat itu hingga sekarang.” jelasnya dengan panjang lebar.
“Itu sebabnya aku hampir setiap hari berada di sini, untuk memandanginya dari kejauhan sambil mengingat semua kejadian itu.” lanjutnya.
Aku ikut prihatin atas kejadian buruk yang menimpa dirinya dan adiknya pada masa itu. Pasti ia merasa sangat erpukul hari itu. Apalagi dia telah menyaksikan semua kejadian mengerikan itu dengan mata kepalanya sendiri. Tentang bagaimana ratusan nyawa melayang dengan cara yang begitu sadis pada saat itu.
“Lalu bagaimana kau bisa tetap hidup dengan semua kenangan buruk itu? Tidakkah kau ingin menyingkirkannya dari kepala mu?” tanyaku dengan hati-hati.
“Tidak, seburuk apapun kenangan itu, hanya itu satu-satunya hal terakhir yang aku miliki tentang adikku. Selebihnya, semua kenangan manis itu telah ikut terbakar bersama dengan api yang berkobar saat itu.” jelasnya sambil berusaha untuk menutupi perasaan sedihnya yang muncul secara tiba-tiba saat itu.
“Terkadang kau harus berusaha menerimanya, untuk menghargai mereka yang telah tiada.” lanjutnya.
Aku mengangguk paham dengan perkataannya. Aku bisa merasakan apa yang pernah ia rasakan. Aku juga nyaris pernah kehilangan seseorang akibat kecelakaan bis kami itu. Tapi entahlah, rasanya aku tak dapat lagi mengingat wajahnya dengan jelas.
“Kenapa tidak pergi berziarah saja? Bukankah itu lebih baik daripada memandanginya dari atas sini?” tanyaku lagi.
Wanita itu terlihat menarik napasnya dalam-dalam. Ia terlihat begitu tertekan dan sedih di saat yang bersamaan. Sepertinya perlu usaha keras baginya untuk menjawab semua pertanyaanku itu. Aku ingin menghentikan diriku sendiri untuk tidak membuat luka lamanya itu kebali terbuka, tapi rasanya aku tak bisa melakukan itu kepada diriku sendiri. Walaupun sebenarnya aku sama sekali tak ingin membuatnya menjadi lebih sakit lagi.
“Aku tak bisa melakukan hal itu.” jawabnya dengan nada bergetar.
Sepertinya kejadian itu benar-benar telah membuatnya terpukul hingga ia mengalami trauma seperti ini. Pasti sangat sulit menjalani hari-hari seperti biasa lagi setelah kejadian itu. Selalu ada satu hal yang mengganjal. Aku tahu jika ia sangat ingin hidup normal seperti dulu. Tanpa harus membebani pikirannya sendiri dengan semua rasa ketakutan itu.
Kelihatannya kejadian itu sudah terjadi cukup lama. Ia bilang jika dulunya tempat itu adalah sekolah dasar bagi anak-anak di sekitar sini. Sekarang saja jika bisa kutebak, mungkin umur wanita ini sudah sekitar tiga puluh tahunan. Memori kelam itu masih belum bisa menghilang dari ingatannya. Bahkan dalam waktu selama itu saja, belum cukup baginya untuk menghilangkan semua rasa ketakutan itu. Tempat itu benar-benar seperti sebuah kutukan baginya. Ternyata tak semua pepatah konu itu benar. Orang bilang semua akan menghilang dengan seiring berjalannya waktu. Mereka bilang sebuah luka akan sembuh dengan berlalunya waktu. Tapi ternyata hukum alam itu tak berlaku sama sekali untuk sebagian orang di muka bumi ini.
Aku kembali melemparkan pandanganku ke hamparan tanah kosong itu yang kini hanya berisikan jejeran batu nisan. Sesekali sambil meneguk kopi Americano yang ku pesan tadi. Lebih baik aku segera menghabisakannya sebelum ia mulai dingin. Tempat itu benar-benar menjadi saksi bagaimana kejamnya maut yang memaksa semua orang di sana kala itu untuk meninggalkan jiwanya untuk selamanya. Aku benar-benar tak menyangka jika hal semacam itu pernah terjadi. Ku pikir hanya kedamaian yang ada di sini. Tapi ternyata ada sebuah keriuhan besar yang berakhir damai untuk selamanya.
Tak lama kemudian aku melihat dua orang gadis yang terlihat tengah membawa bunga lili di tangannya masuk ke dalam area pemakaman dan menuju ke salah satu makam. Aku yakin jika orang itu adalah Amel dan Ahn Yoo Jin. Mereka pasti barusaja tiba di tempat itu beberapa saat yang lalu. Aku tak bia memperhatikan wajah mereka dengan jelas dari atas sini. Aku tak tahu pasti makam siapa yang sedang mereka kunjungi saat itu. Tapi satu hal yang pasti ku tahu saat ini adalah jika makam yang mereka kunjungi itu adalah makam seseorang yang menjadi salah satu korban kebakaran saat itu.
“Apakah ada orang lain yang dimakamkan di tempat itu selain para korban kebakaran?” tanyaku kepada wanita itu.
“Tidak, setahuku tempat itu di buat khusus hanya untuk para korban kebakaran saat itu untuk menghormati sekaligus mengenang kepergian mereka.” jelasnya padaku.
“Itu artinya semua orang yang terbaring di sana adalah penghuni sekolah itu?” tanyaku sekali lagi.
“Kau benar.” jawabnya dengan singkat.
“Lingkaran api itu hanya melenyapkan kami.” lanjutnya.
Sampai sini aku bisa menyimpulkan jika mereka sedang mengunjungi makan salah seorang korban. Tapi aku tak pernah dengar dari Amel maupun Ahn Yoo Ra soal kejadian itu. Jika itu salah satu dari keluarga mereka, pasti aku tahu soal itu. Ahn Yoo Ra adalah satu-satunya orang yang menetap di tempat ini sudah lumayan lama. Hampir seluruh hidupnya ia habiskan di negeri ginseng ini. Tak mungkin jika orang itu adalah Amel, kami bahkan baru sampai di tempat ini kurang dari setahun yang lalu.
Sebenarnya apa yang sedang mereka sembunyikan dariku. Apa yang mereka lakukan di sana dank e makam siapa mereka pergi. Haruskan aku mencari tahu soal hal itu lebih jauh lagi atau tidak sama sekali. Aku perlu tahu apakah hal ini menyangkut soal diriku juga atau tidak. Aku juga perlu tahu apakah yang terjadi saat ini ada hubungannya dengan mimpi burukku belakangan ini atau tidak. Ya sebenarnya itu bukan mimpi, tapi sebut saja begitu agar aku tak merasa ketakutan sepaanjang hari. Sangat seram jika membayangkan ternyata semua itu benar-benar terjadi di alam bawah sadarku.
Untuk memastikan kembali jika kedua orang yang ku lihat saat ini adalah benar Ahn Yoo Ra dan Amel, aku memutuskan untuk menelepon salah satu dari mereka. Yang pertama, aku mencoba untuk menelepon Ahn Yoo Ra. Tapi seperti dugaannku sebelumnya, jika ia tak akan mengangkat telepon dariku, sama seperti beberapa waktu yang lalu. Aku memutuskan untuk tak menelepon Amel, karena aku tahu jika ia pasti juga akan melakukan hal yang sama terhadapku.
“Aku permisi dulu.” pamitku kepada wanita itu.
__ADS_1
“Kenapa cepat sekali?” tanya nya padaku.
“Oh, itu…. Aku ada urusan lain yang harus di selesaikan.” balasku yang sebenarnya hanya alasan saja.
“Baiklah, hati-hati di jalan.” ujarnya.
Aku hanya mengangguk, mengiyakan perkataannya kemudian membungkukkan badanku sebagai ucapan salam. Setelah itu, aku bergegas pergi dari tempat itu, untuk menyusul Ahn Yoo Ra dan Amel. Aku tak tahu berapa lama lagi wanita itu akan tetap duduk di situ dan menyaksikan kembali semua kejadian itu. Aku tak mengerti bagaimana bisa ia begitu suka untuk membuka luka lama yang tak akan pernah sembuh lagi itu. Sepertinya luka itu memang tak akan pernah bisa sembuh dengan seutuhnyajika ia masih bersikap seperti ini.
Aku keluar dari café tersebut, kemudian segera berjalan ke area pemakaman. Ku harap mereka berdua masih tetap di sana. Namun, sperti yang sudah ku duga jika kali ini pria itu akan kembali menghalangiku. Ia tak pernah suka jika aku mendekat ke tempat itu. Padahal aku tak sama sekali melakukan apa-apa. Aku tak tahu kenapa ia begitu tempramen saat melihatku.
“Kenapa kau kembali lagi?!” tanya pria itu dengan nada bicara yang terkesan kasar.
“Kemana dua orang temanku yang barusaja masuk ke sini tadi?” tanyaku yang tak ingin buang-buang waktu lagi.
“Mereka barusaja pergi dari sini.” jawabnya.
“Biarkan aku masuk, sebentar saja…. Aku mohon….” ujarku.
“Kau tak bisa masuk ke sana, mereka akan mengganggu mu. Kau terlalu menarik bagi mereka.” jelasnya padaku.
Tapi sesungguhnya aku sama sekali tak mengerti dengan apa yang ia ucapkan barusan.
“Arwah-arwah di dalam sana mungkin akan menyukai kedatanganmu.” ujarnya.
“Jiwamu masih terlalu terbuka bagi mereka. Dan mungkin salah satu dari mereka akan mengisinya. Aku melihat jika separuh dari jiwamu telah menghilang entah kemana. Jadi kau harus menjaga dirimu baik-baik.” jelasnya dengan panjang lebar.
“Aku tak mengerti maksud paman.” balasku dengan apa adanya.
“Biar ku jelaskan.” ujarnya.
“Semua manusia dilahirkan dengan dua jiwa yang berbeda dan jiwa itu memiliki pemiliknya masing-masing. Yang satunya milikmu, dan yang satu lainnya adalah milik seseorang yang akan menjadi jodohmu di masa depan.” jelasnya sekali lagi.
“Paman bilang padaku jika salah satunya sudah menghilang. Kenapa dia pergi?” tanyaku.
“Kau tak perlu cemas karena jiwamu tak akan pergi meninggalkan dirimu sebelum kau meninggal.” ucapnya secara gamblang.
“Lalu apakah jiwa yang menghilang itu, artinya jika orang itu telah meninggal?” tanyaku dengan ragu-ragu.
Pria tua itu hanya menganggukkan kepalanya, megiyakan perkataanku. Aku mematung di tempat saat melihat reaksinya. Jika jiwa yang satunya itu adalah jodohku, dan ia bilang kalau jodohku telah meninggal. Mungkinkah aku akan melajang sepanjang hidupku? Apakah aku akan hidup di dalam kesendirian sampai akhir hayatku? Ah, tapi aku tak boleh berpikiran seperti itu. Ini hanay kepercayaan mereka dan aku harus menghargainya. Seperti yang kita tahu jika setiap orang memiliki kepercayaannya masing-masing. Mungkin ini tak benar dan hanay sekedar cerita mitos yang berkembang di masyarakat sekitar sini.
Aku memutuskan untuk tak terlalu ambil pusing soal hal itu. Jika mereka punya kepercayaannya masing-masing, maka aku juga punya kepercayaanku sendiri. Aku hanya percaya jika takdirku sudah digariskan oleh Tuhan. Dan seperti yang kita tahu, tak ada satupun manusia yang tahu tentang rencana Tuhan. Kita hanya bias terus berjalan ke depan, dan saat itu pula satu-persatu rahasia itu akan terungkap. Hanya perlu menunggu waktu yang tepat. Jadi tak perlu terburu-buru.
__ADS_1