
Motor ini membawaku kembali ke sebuah tempat yang menyuguhkan ku sebuah memori di masa lalu. Kami mampir ke sebuah minimarket di dekat kompleks perumahan tempat aku tinggal. Seperti biasanya, kami selalu duduk sebentar di meja yang di sediakan.
Kak Sendy masuk ke dalam minimarket sebentar, kemudian keluar dengan dua bungkus roti kacang dan minuman soda. Momen ini kembali terjadi setelah sekian lama menghilang dan nyaris di lupakan oleh kedua pemiliknya.
Aku merutuki diriku sendiri. Bagaimana bisa hal ini tak pernah terlintas lagi di pikiranku barang sekilas saja. Kurasa ingatan pria ini jauh lebih baik daripada aku. Dia memang jauh lebih sempurna dari pada diriku. Dan itu adalah kenyataan yang sebenarnya dari dulu.
Aku membuka kaleng minuman soda, sehingga suara desisan terdengar pelan di telingaku. Kemudian meminumnya beberapa tegukan.
"Sha, besok mau nggak nonton gue tanding?" Kak Sendy membuka obrolan lebih dulu.
Aku langsung mengalihkan pandanganku kepada pria itu sambil membuka bungkusan roti milikku.
"Tanding apa?" Tanyaku heran.
"Marching band, mau kan? Mau ya please...." Balas pria itu dengan ekspresi imut yang sengaja di lebih-lebihkan.
Sejujurnya aku ingin sekali menampar pipinya. Entah kenapa setiap melihat ekspresinya yang seperti barusan, membuatku geram sendiri. Antara perasaan jijik dan geli bercampur menjadi satu.
Ia tak pantas sama sekali menurutku untuk bersikap seperti itu. Bayangkan saja seseorang yang bertampang dingin, cuek, dengan sedikit kesan bad boy tiba-tiba bersikap sok manis.
"Marching band?"
Kak Sendy mengangguk cepat mengiyakan perkataan ku barusan.
Aku berusaha memastikan kembali jika aku tak salah dengar barusan. Sudah cukup lama ia tak berkecimpung dalam hal itu semenjak kecelakaan.
"Sejak kapan jadi anak marching band lagi? Kok aku enggak tau?"
"Udah lumayan lama sih sebenarnya. Sejak pertama masuk kuliah."
"Masih main alat yang sama? Quint Tom?"
"Iya dong, aku lebih pro di bagian itu."
"Bukannya kakak dari dulu sebenarnya bisa mainin semua alat perkusi? Kenapa enggak ganti aja, buat cari pengalaman baru."
"Iya sih memang, tapi enggak sebagus pas aku mainin quint tom. Lagian aku udah terlanjur untuk terbiasa megang quint tom sejak dulu."
"Kalau udah nyaman sama satu hal memang bakalan susah buat berpaling."
"Heh... Dasar bucin. Masih kecil enggak boleh bucin, sekolah yang bener."
"Oke siap laksanakan bos."
Sebenarnya aku juga teramat merindukan masa laluku. Bisa di bilang, sejak masih kecil aku sudah terbiasa di latih sebagai seorang anggota marching band.
Dulunya hidupku selalu penuh dengan lagu, nada, dan tempo yang terkadang membuatku gereget sendiri saat memainkannya. Semuanya sangat seru dulu.
Aku sudah menjadi bagian dari marching band sejak duduk di bangku sekolah dasar. Jadi benar-benar sudah mendarah daging denganku.
Hanya itu cara satu-satunya untuk menenangkan diriku. Mengasingkan diri sejenak dari hiruk-pikuk dan rumitnya kehidupan dunia persekolahan. Di sinilah aku melepaskan semua beban hidupku, menikmati setiap alunan simfoni yang kami ciptakan bersama.
Di sini sama sekali tak penting seberapa pintar dirimu dalam bidang eksakta atau teori. Tidak seperti sekolah yang selalu menuntut mu atas dua hal tersebut, walau mereka tahu setiap orang memiliki bakat dan potensi yang berbeda-beda.
Di sini yang kita perlukan hanyalah niat, disiplin, konsisten, tahan banting dan yang paling penting adalah kerjasama tim. Di saat-saat seperti inilah yang membuatku merasa sedikit lega. Karena tak harus bersusah payah untuk menghitung hasil geometri.
Tapi ada saatnya kita harus mampu menerima konsekuensinya. Di saat jam latihan yang terus-menerus berlangsung, membuatmu ingin menyerah. Maka lihatlah ke depan, ini adalah proses. Proses di mana kita akan di tempah menjadi kepribadian yang sesungguhnya.
Kadang aku juga membenci latihan. Tapi tak jarang aku juga tersenyum puas melihat hasilnya. Anggap saja ini sebagai sebuah bayaran yang setimpal.
"Jadi gimana? Mau nggak?"
Tiba-tiba suara itu kembali terdengar. Itu cukup membuatku bangun tersentak dari lamunanku.
Tanpa pikir panjang, aku segera mengangguk cepat menyetujui permintaannya.
"Oke, kalau gitu nanti aku kabari tempat sama waktunya ya." Balas pria itu dengan penuh semangat.
Wajahnya langsung berubah menjadi begitu sumringah. Ia benar-benar sedang tersenyum lebar tanpa beban sama sekali.
***
Aku melemparkan tasku ke sembarang arah. Kemudian segera roboh di atas kasur. Aku menatap langit-langit kamarku sambil melamun. Bahkan aku sendiri tak tahu entah apa yang sedang ku lamunkan saat itu.
Aku menghela nafas panjang sembari mengumpulkan niat untuk bangkit. Jika boleh, ingin sekali rasanya aku beristirahat seharian dari kesibukan ku.
__ADS_1
"Tok...tok...tok..."
Aku mengalihkan pandanganku ke arah pintu. Ada yang mengetuk pintu kamarku dari luar. Mau tak mau aku harus beranjak dari kasurku untuk membukakan pintu.
"Nenek? Ada apa nek?" Tapi
Ujarku.
"Buruan ganti baju, siap-siap. Pakai baju yang rapih dan bagus." Ucap nenek tanpa basa-basi.
Tapi aku baru saja sampai rumah. Aku memang akan mandi lalu ganti baju setelah ini. Namun bukan baju yang bagus, hanya kaos oblong seperti biasanya.
"Ta...ta...pi...kenapa?" Tanyaku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.
"Sebentar lagi pacarnya Renata akan datang. Dia mau melamar Renata. Jadi cepat kamu siap-siap. Nenek tunggu di bawah." Jelas nenek.
Kedua bola mataku membulat sempurna setelah mendengar kalimat barusan. Aku terkejut bukan main, tak tahu harus berkata apa. Aku sudah kehabisan kata-kata.
Aku bertanya sekali lagi untuk memastikan jika aku tak salah dengar barusan. "Di lamar?"
Nenek mengangguk cepat kemudian mendorongku masuk ke dalam kamar.
"Udah buruan!" Balas nenek lalu beranjak pergi dari hadapanku.
Aku masih tak bisa percaya jika wanita itu akan bertemu dengan jodohnya secepat ini. Orang yang ia berikan kepercayaan untuk mendampinginya seumur hidup, dan memang sudah di gariskan dalam takdirnya untuk menjaga kakak ku.
"Apa mereka akan langsung menikah? Atau tunangan lebih dahulu?" Gumam ku pelan.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, masih tak habis pikir dengan hal ini. Tak lama aku segera melakukan perintah nenek untuk bersiap.
***
Aku menuruni tangga dengan setelah sweater putih dan rok lipit selutut milik Renata yang belum sempat ku kembalikan sejak acara ke pasar malam waktu itu. Demi wanita itu aku rela berpenampilan berbeda. Mungkin aku juga sudah seharusnya bersikap feminim seperti ini. Lagipula aku memang telah di kodratkan sebagai seorang wanita.
Sesekali aku mencuri pandang ke arah ruang tamu. Kelihatannya aku belum terlalu terlambat. Tidak ada tanda-tanda kehadiran pria itu. Aku mempercepat langkahku, kemudian menghampiri nenek dan Renata di bawah sana.
Yang benar saja, aku bahkan tak menyangka jika ia akan secantik ini. Pantas saja dulu Kak Sendy sempat menjadikan ia ratu di hatinya. Tidak bisa dipungukiri, wanita yang satu ini memang sangat rupawan.
Tapi kenapa aku tak bisa secantik dia. Padahal kami terlahir dari rahim yang sama. Kenapa semua kecantikan ibu diberikan semua kepada Renata. Bahkan tidak menyisakan sedikit saja untuk putri bungsunya ini.
Aku mengangguk pelan mengiyakan perkataannya.
"Belum datang yang mau ngelamar?" Tanyaku sambil mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan.
"Belum." Jawab Renata singkat.
Tak jarang ia terlihat meremas-remas tangannya sendiri. Kakinya juga tak berhenti untuk terus bergetar. Ia terlihat begitu gugup. Wajar saja, wanita mana yang tak gugup di saat seperti ini.
"Udah dandan dari jam berapa? Kok kelihatannya sempurna gitu." Ujarku mencoba mencairkan suasana.
"Hahaha... Bisa aja. Barusan kok lagian, enggak sampai berjam-jam." Balas Renata.
Kini ia sedikit lebih santai, wajahnya tak setegang tadi. Setidaknya ini jauh lebih baik.
"Tapi kelihatannya udah dipersiapkan matang-matang nih." Balasku dengan nada sedikit mengguyon.
"Tok...tok...tok..."
Akhirnya ada juga seseorang yang datang. Apa itu pacarnya Renata, atau malah kurir paket yang biasanya? Aku segera berlari dengan antusias untuk membukakan pintu. Sementara Renata terlihat merapikan dandannya.
"Silahkan masuk!" Ucapku sambil mempersilahkan pria itu masuk.
Ia hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya, lalu menghampiri Renata dan nenek sambil bersalaman. Aku berlari-lari kecil mengikut jejak kaki pria itu dari belakang. Tentu saja aku tak ingin melewatkan kesempatan ini barang sepersekian detik saja.
Aku mengambil tempat tepat di samping nenek. Kedua mataku terus mengawasi setiap gerak-gerik pria itu.
"Kenalin semuanya ini Reksa, pacar aku. Dan Reksa, ini keluarga aku. Ini nenek aku dan ini adik aku namanya Eresha." Jelas Renata.
Ia menjembatani kami untuk saling berkenalan.
"Hai, nama aku Reksa Prahadi." Ujar pria itu sambil mengulurkan tangannya padaku.
"Eresha Caitlyn Ananda." Ucapku sambil membalas uluran tangannya.
"Cantik kayak kakaknya." Balas Reksa.
__ADS_1
Aku hanya bisa tersenyum kaku saat ini. Jarang-jarang ada orang yang mau memujiku. Hh, kenapa aku jadi salah tingkah seperti ini.
Kelihatannya ia seumuran dengan Renata, atau justru sedikit lebih tua darinya. Jika saat ini I Renata berumur dua puluh dua tahun, seharusnya Reksa berumur yang sama atau satu tahun lebih tua di atasnya.
Reksa Prahadi namanya. Perawakannya tinggi jenjang, sekitar seratus delapan puluh centimeter. Kulitnya putih bersih layaknya keturunan keluarga Tionghoa. Tunggu sebentar, mungkin saja dia memang bedarah Tionghoa, jika di lihat dari segi fisiknya sangat mirip.
Badannya juga tegap dan sangat atletis seperti para pembela tanah air yang di latih dalam bidang kemiliteran.
"Jadi begini, maksud kedatangan saya ke sini ingin melamar cucu nenek yang bernama Renata. Karena Renata sempat bercerita kalau orang tuanya berada di luar kota, maka kami memutuskan untuk melakukan lamaran secara simbolik terlebih dahulu." Jelas pria yang bernama Reksa tersebut.
Aku hanya duduk diam, menyimak obrolan mereka. Lagipula aku tak perlu ikut campur, topik ini terlalu berat bagi anak SMA yang sedang duduk di kelas tiga.
"Oh, iya ayah dan ibu mereka memang berada di luar kota. Mereka tinggal di sini bersama nenek." Balas nenek.
"Yaudah kalau begitu silahkan langsung di mulai saja." Sambung nenek.
Reksa mengangguk cepat, kemudian mengambil sesuatu dari saku celananya. Itu sebuah kotak cincin berwarna merah maroon.
Pemuda ini berpindah posisi, ia duduk di lantai sambil berlutut kepada Renata. Kelihatannya ia benar-benar sudah di taklukkan wanita yang satu ini.
Reksa membuka kotak tersebut, hingga tampaklah sepasang cincin berwarna perak dengan model yang sederhana namun cukup elegan.
"Will you marry me?" Ucap Reksa dengan begitu yakin.
Aku tak melihat sedikitpun keraguan di wajah pria ini. Ia benar-benar sudah memantapkan hatinya pada kakak ku.
Sepertinya kebanyakan orang pada umumnya, wajah Renata langsung bersemu merah.
"Yes." Balas Renata dengan malu-malu.
Jawaban darinya memang singkat namun padat dan jelas. Satu kata yang mampu membuat semuanya tersenyum puas. Satu kata yang akan merubah masa depannya sebentar lagi.
Jika suatu saat aku berada di posisi Renata, kiranya siapa yang akan memperlakukan ku seperti ini nantinya.
"Kok malah mikir ke situ sih? Enggak-enggak! Harus fokus sekolah dulu, sebentar lagi kan mau lulus." Batinku dalam hati.
Sesaat setelah mendengar jawaban yang sudah ia tunggu-tunggu dari kekasihnya, Reksa segera melingkarkan cincin itu di tangan Renata di iringi dengan senyum bahagia.
Sekarang giliran Renata yang melingkarkan benda itu di tangan Reksa. Sebentar, apa ini artinya mereka sudah bertunangan? Atau lamaran? Ah! Entahlah! Lagipula itu urusan mereka.
Kedua kekasih itu tengah berbunga-bunga hatinya. Seolah dunia hanya milik mereka berdua saat ini. Aku dan nenek bisa di ibaratkan seperti pepohonan yang menjadi saksi bisu janji suci mereka.
"Oh iya, gimana kalau sekarang kita obrolin tanggal keberangkatan kita ke Pematangsiantar." Ujar Renata antusias.
"Gimana kalau besok?" Usul Reksa.
"Besok? Apa enggak terlalu cepat?" Balas nenek.
Ya, seperti yang kalian tahu, lagi-lagi aku hanya menjadi seorang pendengar budiman.
"Besok kan kita enggak ada kelas. Lagipula aku yakin nenek kamu free kok." Balas Reksa berusaha menyakinkan Renata dan nenek.
"Kalau nenek terserah kalian aja deh."
"Tapi besok kan Eresha harus sekolah." Ujar Renata.
"Kita berangkatnya siang aja, anak sekolah pasti udah pulang lah."
Kenapa tiba-tiba mereka malah membahas soal diriku.
"Gimana sha?" Tanya Renata padaku.
"Ah? Aku? mending enggak usah ikut deh." Balasku.
"Loh kenapa? Kan kakak kamu mau lamaran."
"Lagian nih ya, besok Eresha harus sekolah. Dan baru pulang jam tiga sore, terus ada les tambahan untuk persiapan UN. Jadi besok baru pulang sekitar jam enam." Jelasku.
Sebentar setelah itu, aku masih harus menonton Kak Sendy tanding. Tapi jika aku mengatakan hal yang satu itu, pasti mereka tak akan mengizinkan ku untuk pergi. Mereka pasti akan berasumsi jika aku lebih memilih menonton pertandingan yang belum tentu dimenangkan itu, dari pada datang ke acara lamaran resmi kakak ku sendiri.
Andai mereka tahu jika itu adalah jalan satu-satunya untuk mengobati rindu ku. Karena sebelum kecelakaan itu, adalah kesempatan yang terakhir kalinya bagiku untuk menjadi bagian dari marching band.
"Yahh... enggak seru dong." Keluh Renata.
"Nanti pas nikahannya aku datang deh janji." Balasku.
__ADS_1