Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 80


__ADS_3

 


 


Lebih baik untuk sekarang ini rasanya Arka tak perlu tahu lebih dulu soal seleksi ini. Tapi aku tak yakin jika nantinya akan seperti yang kuharapkan, mulut Stefani pasti telah membeberkan hal ini kepada semuanya. Coba saja jika kemarin mama tidak membahas ini di meja makan, pasti gadis itu tak akan tahu sampai saat ini. Tapi ya sudahlah, aku juga telah hampir menyerah untuk menghadapi gadis yang satu itu.


Setelah selesai makan siang untuk mengisi tenaga, mama dan papa melanjutkan perjalanannya untuk bertemu si pemilik tanah di daerah Cimahi. Mereka telah membuat janji untuk bertemu sebelumnya. Sementara mereka pergi, aku kembali ke kamar hotel untuk melanjutkan berberesku. Tadinya mama dan papa sempat mengajakku untuk ikut dengan mereka, namun aku menolaknnya mentah-mentah.


Aku memeriksa ponselku yang baru menunjukkan pukul dua siang, hampir setengah tiga. Dengan langkah berat, aku menagmbil koperku yang masih berisi beberapa pakaian lagi. Jika nantinya aku lulus tes ini, maka kemungkinan aku akan mengikusti sesi wawancara. Pihak penyelenggara beasiswa juga bilang jika nantinya setiap peserta yang sudah lolos akan langsung mengadakan pemotretan untuk berbagai keperluan.


‘DRRTTT!!!’


Tiba-tiba saja ponselku bergetar pelan, seperti biasanya. Namun jika biasanya aku selalu membiarkan notifikasi tersebut begitu saja, kali ini entah kenapa aku justru malah membukanya. Padahal aku sedang sibuk sekali sekarang ini.


“Hai!” teriak mereka dari seberang sana.


“Kebiasaan lo sha, kita lagi video call malah lo liatin telinga lo.” ujar salah satu dari mereka, yang jika ku tebak dari suaranya adalah Adit.


“Eh?!” ucapku sambil menyingkirkan benda persegi panjang tersebut dari telingaku.


Setelah menjauhkannya sedikit dari wajahku, aku akhirnya baru menyadari hal itu. Kebiasaanku yang dari dulu tak pernah ku ubah yaitu mengangkat telepon dengan sembarangan, tanpa melihat dari siapa dan jenis telepon apa itu. Benar-benar bikin malu saja, mau di taruh dimana mukaku jika sudah seperti ini kejadiannya.


“Hai!” ucap mereka sekali lagi.


“Hai…” balasku dengan nada datar.


Yang benar saja, seperti yang sudah ku duga sebelumnya.Pasti sekarang mereka semua telah mengetahui yang sebenarnya. Jam berapa ini, bukankah harusnya sekarang masih ada kelas.


“Adit, Arka, Titan, Stefani, Clara….” batinku dalam hati.


Aku mencoba mengabsen wajah mereka satu persatu dari layar kaca tersebut. Para anak manusia yang unik dan lucu, pasti modelan yang seperti ini akan sangat sulit ku temukan di Korea Selatan nantinya. Lagi-lagi aku baru menyadari satu hal yang membuatku senang.


“Clara udah balik ke Jakarta?” tanyaku kepada mereka.


“Udah, tadi malam baru sampai.” ujarnya.


“Jadi gimana, menang nggak?” tanyaku sekali lagi.


“Kalah sha, tapi its okey lah. Namanya juga kompetisi, pasti ada yang kalah dan ada yang menang.” jelasnya.


“Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Percaya deh ra, sama yang namanya keajaiban.” ujarku dengan antusias.


“Keajaiban?” tanya Titan yang tiba-tiba ikut menimpalil percakapan virtual kami itu..


Aku mengangguk, mengiyakan perkataannya. Terkadang ada beberapa hal yang tak pernah kita duga akan terjadi, malah terjadi dengan sebaliknya. Kegagalan tak seharusnya memaksa kita untuk menyerah begitu saja. Karena ada beberapa hal yang terjadi begitu saja di luar akal sehat manusia pada umumnya. Sulit dijelaskan dengan konsep semesta, karena itu lah yang dinamakan dengan keajaiban.


“Semenjak hari itu, hari yang membuatku menjadi manusia paling tak berguna. Aku berhenti percaya dengan yang namanya keajaiban sha, aku berhenti berharap tentang hal konyol itu.” jelasnya sambil menurunkan pandangannya.


“Its okay.” balasku singkat.


Karena enggak semua orang bisa percaya dengan hal yang satu itu. Karena umumnya keajaiban sering kali aneh dan tak masuk akal. Itulah sebabnya kenapa tak semua orang bisa menerimanya dengan mudah. Dengan aku yang awalnya tak percaya dengan semua itu. Hal-hal yang ku kira jika sebelumnya hanya omong kosong. Dan di saat aku benar-benar merasakannya sendiri, ku kira jika saat itu kewarasanku sudah mulai tergangu.


“Eh, emangnya kalian main hand phone jam segini nggak takut dimarahinn sama guru apa?” ucapku sembari mengalihkan topik pembicaraan.


“Udah pulang kali.” jawab Stefani dengan begitu santainya.


Aku mengangguk paham dengan maksud dari perkataannya barusan. Aku lupa soal yang satu itu. Sekarang ini adalah Hari Sabtu, jadi seharusnya mereka memang sudah pulang.


Yang aku tahu jika topik yang kami bahas tadi sudah mulai tak menyenangkan. Jadi sebaiknya tak perlu diperpanjang jika hanya akan memperkeruh suasana. Sama halnya seperti urusan cinta yang kadang suka membingungkan. Awalnya mungkin orang mengira jika jatuh cinta itu indah, dan tak pernah memikirkan bagaimana nanti akhir dari jalan ceritanya. Yang namanya jatuh pasti sakit, tinggal menunggu kitanya saja yang bagaimana. Akan terluka atau malah baik-baik saja.


Sama hal nya seperti sebuah harapan yang sudah tak memungkinkan lagi untuk selalu diharapkan, untuk senantiasa disemogakan. Ada beberapa harapan yang tak bisa tetap kita genggam lagi untuk selamanya, atau bahkan minimal sampai di hari esok saja. Karena perlahan harapan itu berubah menjadi sbuah rasa kejam yang hanya akan menyakiti si pemiliknya. Berubah menjadi harapan-harapan hampa yang memakksa berbaur dengan angkasa.

__ADS_1


Itu sebabnya kita harus melepaskannya agar tak menyakiti. Karena pada dasarnya tak semua harapan harus bersama dengan pemiliknya. Ada beberapa harapan yang tak bisa diwujudkan, karena terlalu berani. Karena mereka kini telah berubah menjadi sesuatu yang tak baik lagi. Jadi ada baiknya lepaskan saja. Karena mengikhlaskan adalah cara terbaik untuk memberinya kesempatan hidup. Hidup bersama pemilik baru dan mungkin akan terwujud bersama orang yang baru juga nantinya.


“Udah makan siang?” tanya Arka secara tiba-tiba.


“Yeah…” balasku dengan singkat.


“Pertanyaan lo itu terlalu mainstream banget tau nggak ka.” timpal Titan dengan nada bicaranya yang terkesan menggurui.


“Terus mau lo gimana?” tanya Arka dengan nada bicara datar, di tambah dengan tatapan sinisnya itu.


“Sha, hari ini udah mikirin aku belum?” ucap Titan sambil menirukan gaya bicara ala Arka.


Nyaris saja Arka menjitak kepalanya dengan tangan kosong. Dia kira pria itu akan memberikan saran yang bagus untuknya, ternyata hanya gombalan yang terkesesan receh bagi Arka. Sama sekali tak memiliki nilai sedikitpun jika dilihat dari sudu manapun ucapannya barusan.


“Good luck buat besok.” ucap Arka sambil tersenyum tipis.


“Thanks.” balasku dengan singkat.


“Kalau misalnya lo jadi kuliah ke Korea Selatan, terus Arka pergi ke Australia kita sama siapa dong?” rengek Adit dengan ekspresinya yang sok lucu itu.


“Gue kemungkinan bakalan ikut nyokap gue balik ke kampung kita di Bali.” ucap Titan dengan tatapan sendunya.


“Gue juga bakal lanjut kuliah di Jogja atau nggak ke China.” lanjut Clara.


“Gue berharap bisa masuk ke universitas impian gue, semoga suatu saat nanti gue bisa masuk UI.” Jelas Adit dengan penuh harap.


‘Amin….” balas kami semua dengan serentak.


“Kalau kamu stef, apa rencana kamu setelah selesai sekolah nanti?” tanyaku kepada gadis itu.


“Mungkin gue akan tetap tinggal di Jakarta dan kerja di café itu. Setelah itu mungkin gue bisa jadi karyawan full time, jadi gaji gue bisa lebih besar.” jawabnya dengan nada sendu.


“Nggak usah pesimis gitu deh jadi orang, lagian kan banyak kesempatan buat beasiswa.” sindir Arka sambil menyenggol gadis itu dengan sengaja.


“Ya udah, santai aja dong lo.” balas Stefani yang terlihat malas untuk menanggapi.


“You can do it stef!” timpalku.


Gadis itu hanya membalasnya dengan tersenyum kecil. Aku tahu jika masih ada keinginan yang kuat di dalam dirinya. Selagi ia memiliki kemauan, maka tak akan ada seorangpun yang mampu menghentikan langkahnya. Aku tahu jika ia adalah seorang gadis yang kuat, ia tangguh dan memang dibesarkan untuk itu. Aku percaya jika suatu hari di masa depan nanti akan menyambutnya dengan suka cita kemenangan.


“Sebentar lagi kelulusan guys, itu artinya waktu kita nggak banyak lagi.” ucap Adit yang terlihat begitu serius untuk pertama kalinya.


“Itu artinya kita seharusnya punya lebih banyak waktu untuk kumpul bareng kayak gini lagi.” lanjut Titan yang menambahi ucapannya.


Kami semua termenung setelah mendengarkan ucapan Adit barusan, Titan ada benarnya juga terkadang. Harusnya dari dulu kita lebih sering mengobrol seperti ini, harusnya takdir mempetemukan kita lebih awal agar kita memiliki lebih banyak waktu untuk bersama.


Aku sedikit kecewa sebenarnya tentang yang satu ini. Kenapa aku harus bertemu dengan mereka semua, di tahun ajaran terakhirku seperti ini. Orang-orang yang awalnya ku kira menyebalkan dan hanya akan membuatku dalam masalah saja, ternyata malah sebaliknya. Satu tahun adalah waktu yang cukup bagi kami untuk saling berkenalan dan saling menjaga. Namun satu tahun bukanlah waktu yang cukup bagi kamu untuk duduk dan menghabiskan cerita bersama. Karena cerita persahabatan itu memang tak akan pernah habis sampai kapanpun.


Aku tak pernah menyangka jika sebelumnya kami akan sedekat dan seakrab ini. Jika dipikir-pikir sangat tak masuk akal aku bisa dekat dengan anak-anak jenius ini. Aku tak yakin jika isi otak ku setara dengan mereka. Tapi erangan takdirlah yang membawaku ke sini untuk bersama mereka, begitupula sebaliknya.


Jika di tanya soal perpisahan, agaknya aku tak terlalu suka dengan yang satu itu. Aku sama sekali belum siap untuk melepas mereka begitu saja. Setelah melalui pencarian sulit, akhirnya aku menemukan mereka. Jika dibilang siap atau tidak siap, maka aku pasti akan menjawabnya dengan tidak. Jika aku boleh menawar dengan waktu, maka aku akan pilih untuk memperrlambat perpisahan itu. Atau akan ku ulang lagi pertemuan itu supaya tak ada kata perpisahan. Tapi seperti yang ku bilang tadi, ada beberapa hal yang harus kita lepaskan setiap harinya. Karena tak aksn baik jadinya jika kita tetap menggenggamnya.


“Harusnya kita lebih manfaatin waktu nggak sih, waktu luang di sela-sela kesibukan kita.” ujar Stefani yang mulai terbawa suasana.


“Bakalan sulit buat ketemu lagi nantinya kalau kita udah mulai pergi satu-persatu. Satu du hari setelah kelulusan mungkin kita masih di kota ini dan belum kemana-mana. Tapi kita nggak akan tau ke depanny bakalab gimana. Waktu terus berjalan maju, tanpa menghiraukan siapapun yang menunggu nya.” jelas Clara dengan panjang lebar.


Aku berpindah tempat ke atas tempat tidur. Posisi rebahan akan jauh lebih baik ketimbang jongkok di ubin lantai. Sepertinya percakapan kali ini akan berlangsung lumayan lama, jadi aku tak yakin jika aku bisa bertahan selama itu di bawah sana.


“Kalau kita sama-sama punya waktu luang sesekali jalan nggak ada salahnya kan?” usul Adit dengan ide cemerlangnya.


“Nah, tumben banget bener dit.” balasku sembari mengangguk setuju dengan usul pria ini.

__ADS_1


“Emangnya gue selama ini salah gitu?” tanya nya sambil melayangkan tatapan sinis ke arahku.


Aku meneguk salivaku dengan susah payah. Sepertinya aku salah bicara lagi, ups! Meskipun aku hanya melihat wajahnya dari layar kaca ponselku, namun makna dari emosi yang tengah disampaikan olehnya itu benar- benar dapat ku rasakan. Sepertinya jarak tak menjadi penghalang bagi semua itu. Mau secara langsung atau tidak, rasanya sama saja.


“E-eng-enggak gitu. Selama ini kamu bener kok,  Cuma kadang suka kurang tepat aja sih.” jelasku sambil nyengir seolah tak berdosa.


Sesekaali memasang tampang polos dan lugu seperti ini tak ada salahnya juga. Mereka pasti tak akan tega untuk memarahiku. Lagipula siapa yang tega membentak seorang anak perempuan imut, seperti tokoh Bubles di film kartun Power Puff Girl.


“Terus salah sama kurang tepat apa bedanya sha?” tanya nya sekali lagi dengan ekspresi wajah yang sangat datar.


“Ya itu artinya ya jelas banget lah beda…” ucapku dengan ragu sambil memainkan jari tanganku.


“Kalau kurang tepat itu adalah kata salah yang diperhalus pengucapannya.” jelasku secara gamblang.


Aku sendiri bahkan tak tahu apa yang barusaja ku ucapkan. Aku langsung mengucapkannya saja secara asal, ketika ada sesuatu yang ku pikirkan saat itu. Seperti yang sudah ku duga sebelumnya, pasti mereka sama sekali tak mengerti dengan apa yang ku katakan barusan. Aku saja tak mengerti, apalagi mereka. Adit melengos parah ke arahku, tentu saja aku tahu apa maksudnya. Sangat jelas tergambar jika pria itu tengah menahan kekesalannya padaku untuk sementara waktu.


Sepertinya aku lebih cocok jika mengambil jurusan psikologi saja, atau semacamnya. Ku rasa aku lumayan berbakat di bidang yang satu itu. Meskipun sejauh ini aku belum ada memutuskan jurusan apa yang ingin ku ambil saat kuliah nanti, tapi ayng jelas aku akan segera memutuskannya. Aku akan mengambil satu bidang yang sanagt kusukai dan akan selalu ku sukai sampai kapanpun, atau setidaknya sampai aku menyelesaikan studiku di bidang tersebut.


“Kamu kapan balik ke Jakarta lagi?” tanya Arka yang akhirnya mulai buka suara.


Pria itu merupakan orang yang paling sedikit bicara, jika dibandingkan dengan yang lainnya. Masih sama saja, ia selalu irit dalam berbicara.


“Lusa atau besok mungkin.” jawabku dengan sedikit ragu.


“Jangan lama-lama perginya, ntar Titan yang keenakan ngisi tempat kamu.” jelas Arka sambil berdecak sebal.


“Hehe, sorry ya sha. Gue numpang di tempat duduk lo buat sementara waktu bolehkan?” sambung pria yang dimaksud dengan langsung menyambar saja.


“Heemmm…..” balasku dengan singkat.


“Thank you so much sha… lo memang sahabat gue yang paling the best la pokkonya.” ucap Titan dengan sedikit berlebihan.


Untuk beberapa menit, kami menghabisakn waktu untuk mengobrol bersama melalui panggilan video. Sampai-sampai kelima orang itu diusir dari perkiran sekolah oleh pak satpam. Tentu saja karena tempat ini akan segera ditutup, ini sudah terlalu sore dan lagipula sudah tak ada kegiatan lagi di tempat ini. Akhir minggu seperti ini memang biasanya sangat jarang ada kegiatan ekskul atau semacamnya. Jika kelima orang terssebut tak segera keluar, maka mereka akan terkunci di sana unutuk beberapa waktu sampai gerbang sekolah dibuka lagi.


Pada akhirnya orang-orang itu hanya menepi ke baeah halte di depan sekolah. Aku tak tahu kenapa mereka begitu antusias untuk meneleponku. Padahal biasanya kami juga bertemu nyaris setiap hari. Akan sangat aneh jika mereka merindukan sahabatnya yang satu ini hanya karena aku tak masuk sekolah selama bebrapa hari belakangan ini. Lagipula aku juga tak akan lama-lama berkeliaran di sini. Tunggu sampai urursanku selesai nanti, maka aku akan kembali ke tampat itu dan kembali berkumpul bersama mereka lagi.


Mereka pikir aku tak akan merindukan mereka, sama seperti mereka merindukanku. Bar beberapa hari kami tak bertemu saja sudah seperti ini rasanya. Lalu apa jadinya nanti jika kami semua benar-benar saling berpisah, berkelana ke belahan bumi lainnya dengan arah dan tujuan yang berbeda. Akankah ada kesempatan bagi kami semua untuk saling melepas rindu lagi. Ku harap akan selalu seperti ini, ku harap jika saja wkatu terhenti dan terus berputar di saat ini terus-menerus hingga selamanya. Mungkin kisah ini akan tetap abadi hingga selamanya, seperti kisah para vampir yang tak akan pernah mati itu katanya. Namun sayangnya setiap cerita memang diharuskan untuk berakhir, sekarang ataupun nanti.


“Kalian enggak balik ke rumah? Udah sore loh ini.” ujarku sambil melirik kea rah jam dinding.


“Kita mau liat matahari terbenam dari sekolah ini, sama seperti hari-hari sebelumnya.” jelas Clara yang kini kedapatan bagina untuk memegang ponsel, karena Stefani sepertinya sudah mulai pegal.


“Kita juga bakalan ambil beberapa foto buat kenang-kenangan. Menandakan kalau dulu kita pernah sekolah di sini.” lanjutnya.


“Kenapa enggak pas ada jam pelajaran tambahan aja? Kenapa harus nunggu dari jam dua tadi?” tanyaku sekali lagi.


“Kalau hari biasa kan rame, banyak orang, nggak asik. Jadi ini mumpung suasananya sepi dan cuacanya juga bagus.” jelas gadis tersebut dengan sabar.


Aku hanya mengangguk paham dengan apa yang berusan ia katakana.


“Kita sama- sama liat sunset ya! Kamu liat dari langit Bandung, aku liat dari langit Jakarta. Kira-kira sunsetnya bakal sama nggak ya.” ujar Arka yang tiba-tiba main nyelonong masuk ke dalam frame kamera.


“Ya jelas sama lah, kan matahari cuma satu.” balasku dengan yakin.


“Kalau gitu kita buktiin aja nanti.” ucapnya sekali lagi.


“Oke.” balasku singkat.


 


 

__ADS_1


__ADS_2