Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 82


__ADS_3

 


 


“Omong-omong berapa lama kau akan tinggal di hotel itu?” tanya pria itu padaku.


“Tidak lama, besok malam juga sudah kembali ke Jakarta.” jelasku dengan apa adanya.


“Boleh besok malam kau ke sini lagi sebelum pulang? Aku ingin memberikan sesuatu kepadamu.” ujarnya sambil memainkan jari tangannya.


“Baiklah.” jawabku dengan singkat.


“Mungkin sekarang aku harus segera kembali ke hotel. Sudah terlalu gelap di luar sini.” lanjutku kemudian segera beranjak dari tempat dudukku.


“Mari ku antar sampai depan pintu. Dan maaf telah merepotkanmu malam-malam seperti ini.” balasnya yang kemudian ikut beranjak dari sana juga.


“Tak masalah.” ucapku dengan gamblang.


Setelah pertemuan tadi aku kembali merasakan jika Kak Sendy seolah kembali hidup lagi, walaupun hanya untuk malam ini. Aku tak tahu kenapa petemuan semacam ini bisa terjadi padaku dengan sangat tiba-tiba seperti ini. Apakah aku harus bilang terimakasih kepada seseorang. Malam benar-benar menjelma seperti pria itu, yang durasinya jauh lebih lama daripada senja. Tapi sayangnya tak ada malam yang abadi, karena tak semua orang ingin terjebak di dalam kegelapan yang sering kali membuat mereka dalam kesusahan. Malam harus segera berakhir dengan datangnya pagi, sama seperti senja yang harus segera berakhir karena malam telah datang. Begitulah hukum alam yang berlakku bagi mereka.


Aku tak tahu apakah mama dan papa telah pulang dari perjalannya tadi siang itu, atau belum sama sekali. Tapi sepertinya pintu kamar mereka sudah terkunci. Aku yakin jika mereka telah pulang dan tengah beristirahat sekarang ini. Aku tahu pasti ini adalah hari yang cukup melelahkan bagi mereka berdua, termasuk dengan diriku.


‘BRAKK!!!’


Aku menutup pintu tersebut dengan agak keras, sehingga menciptakan suara yang cukup keras. Semoga saja orang-orang yang tengah beristirahat di lantai ini tak keberatan dan tak mempermasalahkan hal yang barusan terjadi. Lagipula aku melakukannya secara tidak sengaja.


Aku menyalakan beberapa lampu di ruangan ini, agar aku bisa melihat semuanya. Nah, begini jauh lebih baik. Sinar dari cahaya lampu itu jujur menjadi agak sedikit terasa menusuk ke mataku. Mungkin karena aku terlalu banyak melihat dalam keadaan minim cahaya dari tadi, sehingga saat aku menyalakan lampu di ruangan ini mataku menjadi belum terlalu siap untuk beradaptasi. Ini bukan masalah yang serius bagiku, meskipun aku tak begitu suka dengan yang satu ini.


“Jam berapa ini?” tanyaku pada diriku sendiri.


Sedetik kemudian, aku segera memutar kepalaku untuk mencari benda bundar yang tergantung di sana. Aku yakin jika tadi siang aku melihat benda itu di sini. Dan pada akhirnya aku mendapati sebuah kenyataan yang tak akan pernah ku duga sebelumnya. Omong-omong berapa lama aku mengobrol dengan pria itu tadi, sepertinya tak terlalu lama. Aku juga mengingat dengan jelas jika kami tak terlalu banyak bicara tadi.


21.00


Terakhir kali aku keluar dari tempat ini sudah sekitar lima jam yang lalu. Aku tak pernah tahu jika pada akhirnya aku akan menghabiskan waktuku di luar sana selama itu, dan baru kembali sekarang ini. Aku masih harus belajar beberapa mata pelajaran lagi. Aku suah berusaha dengan susah payah untuk kesempatan yang satu ini, Ku harap aku tak akan mengecewakan diriku sendiri nantinya.


Kelihantannya secangkir kopi americano latte yang ku pesan tadi, tak berpengaruh apapun bagiku. Buktinya saja baru jam segini aku sudah mengantuk. Sepertinya aku terlalu lelah selama perjalanan tadi, atau mungkin karena hal yang lainnya.


Tapi mau tak mau aku harus tetap terjaga untuk beberapa saat lagi. Aku harus bertahan sebentar lagi, hanya sampai aku selesai belajar. Aku tak boleh tunduk terhadap rasa kantuk yang seakan-akan menjadi sebuah godaan berat bagiku. Malam ini aku tetap memaksakan diriku untuk belajar dan kemudian tidur sesegera mungkin.


***


‘Ting! Ting!’


Suara apa itu dan dari mana asal bunyinya? Kenapa sudah mengangguku pagi-pagi sekali seperti ini. Tapi aku yakin jika ini bukanlah suara dari barang sejenis ponsel atau alarm. Meskipun aku sedang dalam kondisi setengah sadar seperti ini, karena sebagian nyawaku bellum kembali dengan sempurna. Tapi logikaku masih bisa berpikir dengan benar dan akurat.


Dengan kesal, aku terpaksa bangun dan turun dari tempat tidurku. Suara ini terus-terusan menggangguku sejak tadi. Sebenarnya apa yang ia inginkan sekarang ini.


“Huh! Yang benar saja!” gerutuku kesal sambil mengacak-acak rambutku yang memang sudah berantakan itu.


Dengan segenap tenaga dan niat yang sebenarnya sangat sulit untuk dikumpulkan begitu saja, akhirnya aku mulai mencoba untuk membuka mataku lebar-lebar. Dengan pandangan yang masih tak begitu jelas, aku berusaha mengamati sekelilingku. Sejujurnya pandanganku menjadi begini karena aku baru bangun tidur, di tambah aku memang belum memakai lensa kontak. Sementara di sisi lain suara aneh itu masih terus menghantuiku.


Setelah yakin jika nyawaku telah terkumpul dengan seutuhnya, aku memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurku. Karena aku pasti tak akan menemukan apa-apa jika hanya berdiam diri di atas sana. Sebuah pencarian harus dimulai dengan langkah yang pasti. Sepertinya suaranya berasal dari pintu, mungkin suara bel kamar ini. Kelihatannya ada seseorang yang sedang menungguku pagi-pagi buta seperti ini di luar sana. Tapi siapa orang itu, kenapa pagi-pagi seperti ini dia sudah berdiri di sana. Benar-benar sangat niat orang yang satu itu.


“Ya, siapa?” tanyaku dengan mata yang nyaris akan terpejam lagi.


“Ya ampun!!!” terriak seorang wanita dengan sangat histeris.


Aku mendongakkan kepalaku untuk mencari tahu siapa sebenarnya orang ini. Dan akhirnya aku mendapati jawabannya saat itu juga, seperti apa yang ku ingin kan. Ternyata orang itu yang memencet bel kamarku sedari tadi adalah mama. Aku tak mengira jika wanita yang satu itu akan seniat itu untuk membangunkanku. Aku bahkan tak tahu sudah sejak kapan ia berdiri di sana dan melakukan hal itu.


“Udah jam segini masa belum siap-siap sih….” protes mama sambil melihat penampilanku yang masih mengunakan baju tidur dari atas hingga ke bawah.


“Hmm…” balasku dengan singkat sambil menyenderkan tubuhku di salah satu sisi pintu.

__ADS_1


“Udah sana mandi, habis itu siap-siap.” ujar mama, kemudian mendorong tubuhku secara paksa.


Dengan langkah kaki yang terasa berat, akhirnya aku meguatkan niatku untuk segera mandi. Apakah godaannya bisa menjadi sebesar ini? Ini jauh lebih sulit dari apa yang pernah ku rasakan sebelumnya, untuk hanya sekedar mandi saja.


Aku tak melihat mama kembali ke dalam kamarnya, sejak aku menuruti perintahnya tadi. Kelihatannya mama juga ikut masuk ke dalam kamarku. Mungkin wanita itu hanya ingin melihat kondisi kamar anak gadisnya saja. Tempat ini terkesan sangat berantakan untuk ukuran seorang wanita muda sepertiku. Aku sama sekali tak sempat berberes setelah pulang kemarin malam.


***


“Kok berantakan banget sha?” tanya mama yang tengah duduk di atas kasurku.


“Kemarin belum sempat beresin ma.” jawabku dengan enteng.


“Emang kamu ngapain sampai nggak sempat buat beresin barang kamu begini?” tanya mama sekali lagi.


“Ada aja.” jawabku acuh tak acuh.


“Nggak ada yang liat juga kan.” lanjutku sambil mengeratkan ikatan rambutku.


Wanita paruh baya itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil menghela nafas panjang. Aku tahu jika ia sedang berusaha bersikap sabar untuk menghadapi sikap anak sambungnya ini. Tapi perkataanku tadi benar kan? Tak akan ada orang yang mau melihat tempat ini, dan lagipula bagaimana mereka melakukannya.


Aku mengambil tas ransel yang biasa ku pakai, dan memastikan jika semuanya sudah lengkap ku bawa. Setelah itu aku langsung memasang sepatu snikers yang selalu menjadi pilihanku karena nyaman. Dan tak lupa dengan kartu tanda pengenal yang harus dikalungkan seperti ini. Akhirnya aku telah selesai dan tinggal berangkat ke tempat tes saja.


“Ayo, ma!” seruku kepada wanita tersebut.


“Oh, oke mama datang.” ucapnya sembari beranjak dari atas kasur.


Aku bahkan tak tahu apa yang dilakukannya dari tadi. Kelihatannya ia sangat sibuk, tapi entah dengan apa itu. Tapi ya sudah lah, lagipula itu bukan urusanku juga.


Mama bilang jika papa sudah menunggu di bawah, di dalam mobil lebih tepatnya. Jadi kami segera menuju ke bawah untuk menemui papa. Semoga saja orang itu belum terlanjur jenuh karena harus menunggu kami terlalu lama. Untung saja mama sempat membangunkanku tadi. Meskipun sebenarnya aku merasa sedikit terganggu, tapi tak apa ini demi kebaikanku juga.


Namun tiba-tiba langkahku terhenti saat sampai di lantai basement. Aku terkejut bukan main, bagaimana pria ini bisa muncul tiba-tiba seperti ini. Buat kaget saja lagipula apa yang ia lakukan pagi-pagi seperti ini di tempat ini.


“Bima?” ujarku sambil mundur beberapa langkah.


“Ini aku bawain roti sama kopi. Pasti belum sarapan kan?” ucapnya sembari menyodorkanku sebungkus tas berbahan kertas berwarna coklat.


“I-iya.” balasku dengan perasaan yang masih kebingungan.


“Jangan lupa nanti malam ya.” ucapnya sekali lagi.


Aku menganggukkan kepalaku dengan cepat.


“Terimakasih buat ini, tapi aku lagi buru-buru. Permisi….” ucapku kemudian segera berlalu pergi.


Aku harus menyusul mama yang nyaris saja sudah hampir sampai di pintu mobil. Aku menjadi tertinggal beberapa langkah dari wanita itu, karena harus mengikat tali sepatuku yang tiba-tiba terlepas itu. Di tambah dengan kehadiran pria ini yang membuatku semakin tertinggal. Aku berjalan dengan cepat, nyaris seperti berlari.


Akhirnya aku berhasil mencapai pintu mobil dengan langkah tertatih-tatih. Nafasku juga rasanya sangat memburu. Tanpa berlama-lama lagi, aku segera masuk ke dalamnya. Lagipula kami harus segera pergi, sebelum jalanan menjadi terlalu macet.


“Bawa apa itu kamu sha?” tanya mama yang saat itu tengah duduk di sampingku.


“Oh, ini roti buat sarapan. Tadi beli di dekat hotel sebentar.” ujarku dengan alasan yang masuk akal.


“Oh…” balas mama sambil menganggk-anggukkan kepalanya.


Tumben sekali wanita ini tak duduk di kursi bagian depan, di samping papa seperti biasanya. Ku pikir mereka sedang bertengkar atau semacamnya. Ternyata di sana ada beberapa kardus barang yang tak ku ketahui apa isinya.


Karena mobil kami baru saja mulai jalan, sepertinya aku masih punya cukup waktu untuk memakan sarapan dari Bima. Lagipula kau butuh cukup energi selama tes berlangsung nanti. Tak ada salahnya aku menerima pemberiannya kali ini, meski kami baru kenal kemarin malam.


“Roti isi kacang merah?” batinku dalam hati saat melihat jenis roti seperti apa yang di berikannya padaku.


Sial! Bagaimana bisa pria ini mengetahui aku sangat suka roti dengan isian kacang merah seperti ini. Makanan yang satu ini menjadi mengingatkanku pada satu hal. Waktu itu aku pernah makan roti ini di depan minimarket saat sepulang latihan marching band. Kenapa hal tak penting semacam itu harus tetap bertahan di dalam otakku yang payah ini. Mungkin hanya kebetulan saja, bagaimanapun mereka tak pernah benar-benar mirip. Bima dan Kak Sendy adalah dua orang yang jauh berbeda, meski wajah mereka berdua memang terlihat sangat mirip.


Bima juga memberikanku kopi botolan. Mungkin ia tahu jika aku akan pergi, jadinya ia memberikanku kopi dengan kemasan seperti ini agar tak sulit untuk diminum selama perjalanan nantinya. Dan juga aku tak perlu takut jika kopi ini akan tumpah nantinya.

__ADS_1


Ku pikir sarapan pagiku telah selesai dan sekarang aku bisa menikmati perjalanan. Pemandangan yang di suguhkan kota ini sepanjang jalan, memang membuatku begitu terpesona. Seolah ada sisi tersendiri dari kota ini yang tak pernah ku ketahui sebelumnya.


Kendaraan ini mendadak berhenti di depan salah satu jejeran gedung yang berbaris dan berderet di sepanjang jalan ini. Itu adalah sebuah aula yang di sewakan untuk umum. Tempat ini lumayan besar untuk ukuran sebuah aula. Menurut isi e-mail yang ku terima kemarin, memang benar jika tes tertulisnya akan dilaksanakan di sini nantinya.


“Dah, mama! Papa!” ucapku di depan kaca mobil.


Setelah kendaraan itu benar-benar pergi dari jalanan itu, aku mulai melangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam sana. Kelihatannya mama dan papa akan pergi lagi hari ini. Mereka berdua pergi bukan kea rah jalan pulang, tapi sebaliknya. Meskipun aku tak tahu pastit kemana mereka akan pergi, satu yang pasti ku tahu. Mobil itu melaju dengan kecepatan penuh, sehingga pasti mereka sedang terburu-buru untuk sampai ke suatu tempat.


Tanpa ambil pusing soal itu, aku segera melanjutkan niatku yang sebelumnya. Lagipula untuk apa aku memikirkan hal seperti itu. Hal seperti itu sudah sering terjadi di kehidupanku setiap harinya. Jadi tak usah bingung lagi, hal-hal kecil seperti ini tak perlu di permasalahkan. Hidup ini sudah demikian sederhana, jangan smakin dibuat menjadi ribet.


“Permisi.” ucapku sesampainya di depan pintu.


Di sana ada satu orang yang berjaga tepat di depan pintu masuk. Sepertinya dia adalah salah satu dari mereka.


“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita tersebut kepadaku.


“Apa tes nya sudah dimulai?” balasku yang malah bertanya balik kepadanya.


“Tes nya baru akan dimulai sekitar lima belas menit lagi. Apa anda salah satu dari peserta tes tersebut?” tanya wanita itu lagi.


Aku mmenganggu cepat, mengiyakan perkataannya barusan. Untunglah aku belum terlambat dan yang lebih bagusnya lagi aku masih mempunyai sisa waktu.


“Baiklah kalau begitu silahkan tanda tangan di sini, sebagai tanda daftar hadir anda.” ujar wanita tersebut sambil menyodorkanku selembar kertas.


Kertas ini sudah ditanda tangani oleh orang lain. Kelihatannya peserta lainnya juga telah masuk ke dalam ruangan ini. Tanpa berlama-lama lagi, aku segera menanda tangani daftar hadir tersebut. Setelah selesai dengan urusannya, aku bergegas masuk ke dalam untuk mencari tempat duduk yang massih tersisa.


Untuk yang kesekian kalinya pula langkahku kembali terhenti di depan pintu ini. Aku tak bisa menghitung berapa orang yang sudah berada di dalam ruangan itu. Sepertinya orang-orang yang berada di sini adalah calon penerima beasiswa itu. Aku tak bisa menghitung mereka satu-pesatu, tapi yang jelas pasti mereka berjumlah lebih dari seratus orang. Itu artinya kertas yang ku tanda tangani tadi adalah lembar ke sekian.


Aku meneguk salivaku dengan susah payah. Mana mungkin aku bisa mengalahkan orang-orang sebanyak ini. Isi otak mereka bisa jadi jauh lebih pintar dariku. Aku tak tahu harus bagaimana, aku tak tahu apakah aku akan berhasil melewati tahap ini atau tidak. Aku mulai ragu dan tak yakin dengan kemampuanku sendiri. Rasa pesismis itu kembali muncul dalam diriku.


Jika kali ini aku tak bisa mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di Korea Selatan itu, mungkin sebaiknya aku pasrah saja. Atau mungkin aku harus mencoba opsi lainnya, yaitu beasiswa ke Jepang, walaupun sebenarnya aku tak terlalu berminat dengan hal yang satu ini.


Sekarang ini rasanya kau hanya bisa berharap dan terus berdoa. Aku telah mengeluarkan seluruh kemampuan terbaikku, dan ku harap semua jerih payahku selama ini terbayar dengan setimpal. Semoga saja kali ini dewi fortuna berpihak kepadaku untuk hari ini saja.


***


Akhirnya tes tertulis itu telah selesai dan aku telah melakukan semua yang ku bisa dengan semaksimal mungkin. Aku keluar dari bagunan itu dengan bernapas lega. Jujur aku sangat gugup untuk menunggu hasilnya nanti. Semoga saja kali ini keinginanku bisa terwujud.


Meskipun tak melakukan hal-hal yang berat, entah kenapa ku menjadi berkeringat seperti ini. Keringat itu membasahi wajah dan leherku. Padahal di ruangan itu tadi nyaris dipasangi AC di setiap sudut ruangannya. Sepertinya memang tubuhku saja yang sedang tak beres, atau cuaca di Kota Bandung  saja yang memang sedang panas-panasnya.


Aku menyeka keringat yang memwasahi wajahku dengan tanganku. Sejurus kemudian aku mengamati sekitarku untuk mencari tempat berteduh. Aku masih berada di area bagunan aula itu, sambil menunggu papa menjemputku. Tadi aku sudah menelepon mereka, dan mereka bilang sedang dalam perjalanan ke sini.


Tak lama kemudian, sebuah mobil yang ku duga sebgai mobil papa telah datang. Aku lantas berlari menuju kea rah kemdaraan yang menepi ke pinngir jalan tersebut. Sesuai dengan dugaanku jika itu adalah papa dan mama. Beruntung mereka segera datang untuk menjemputku. Aku telah cukup kepanasan di sini, rasanya aku tak bisa bertahan lebih lama lagi di sini.


“Kita makan siang di café dekat hotel itu yuk!” ajak mama dengan antusias.


“Mama dengar makanan di sana enak-enak.” lanjutnya.


“Terserah mama aja mau makan di mana.” balasku sambil mengibas-ngibaskan tanganku di depan wajahku.


“Ya udah kita makan siang di sana. Habis itu kembali ke hotel buat beres-beres.” ujar papa sambil membenarkan kaca spionnya.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2