
Sudah beberapa hari ini Eresha tidak masuk sekolah. Sejak kejadian yang kemarin itu, dirinya seolah menghilang begitu saja. Tak ada seorangpun yang mengetahui keberadaannya. Bahkan Stefani yang sudah sekamar dengannya sejak lama, tak tahu sama sekali soal hal itu. Setelah sakit kemarin, Eresha hanya masuk sehari saja kemudian setelah itu tak masuk sekolah lagi untuk seterusnya.
“Gimana sih, masa lo nggak tau Eresha kemana! Kan lo serumah sama dia, sekamar malah!” tunding Arka.
“Ya mana gue tau! Keluarganya juga nggak ngejelasin dia pergi ke mana.” bantah Stefani dengan segera.
Tentu saja ia tak ingin jika dirinya yang malah disalahkan soal menghilangnya Eresha beberapa hari ini. Ia tak terima jika dirinya dibuat seolah menjadi biang keroknya di sini. Mereka semua sedang sama-sama kehilangan dan tak tahu harus berbuat apa sekarang ini. Stefani tahu jika Arka pasti juga sedang mencari gadis itu dan menginginkannya untuk segera kembali, namun bukan begini caranya. Tuduhan yang ia berikan hanya akan menyakiti hati Stefani secara sepihak.
“Apa mungkin kali ini dia bener-bener marah sama gue?” batin Arka dalam hati.
Kini ia mulai merasa bersalah, sangat merasa bersalah. Kejadian beberapa waktu yang lalau, sepertinya telah memberikan sebuah luka yang cukup mendalam bagi gadis itu. Tapi jika dipikir-pikir, seluruh sekolah sedang bersiap untuk menyambut ujian akhir. Jadi tak mungkin rasanya jika Eresha harus pergi karena persoalan hatinya yang tak bisa ia ajak berdamai. Gadis itu pasti lebih mementingkan masa depannya dan berusaha mengalahkan ego nya. Arka tahu benar jika cara berpikir gadis yang ia sukai itu bukan sekedar rencana tanpa aksi.
“Nanti gue bakalan coba tanya sama mamanya.” ucap Stefani yang krmbali membuka suara.
“Pasti orang tua Eresha taulah soal ini.” timpal Clara.
“Jadi kalian nggak usah khawatir, gue yakin Eresha pasti baik-baik aja.” lanjutnya.
“Gue harap juga gitu.” balas Adit yang turut diangguki oleh Titan.
“Gimana gue bisa tenang ra! Lo nggak pernah ngerasain gimana rasanya ada di posisi gue!” balas Arka dengan nada bicara yang lebih tinggi.
Gadis yang dimaksud itu lantas menurunkan pandangannya. Untuk saat ini Arka sedang dalam kondisi yang tak baik-baik saja, emosinya terlalu sulit untuk ia kendalikan. Mengalah disaat seperti ini akan jauh lebih baik. Karena dengan begini, maka tak aka nada seorangpun yang merasa dirugikan sama sekali.
“Segininya lo takut kehilangan Eresha, tapi gimana reaksi lo kalau gue yang justru menghilang?” batin gadis itu dalam hati.
__ADS_1
“Kelihatannya lo sayang banget sama Eresha, gue belum pernah liat lo setakut ini untuk kehilangan seseorang.” lanjutnya.
Pagi itu semuanya benar-benar dibuat kacau oleh gadis yang bernama Eresha itu. Entah sihir apa yang ia gunakan sehingga semua orang bisa begitu mencemaskannya. Mungkin dirnya sudah mengambil terlalu banyak tempat di hati orang-orang terdekatnya. Sebenarnya mereka tak perlu cemas, karena gadis itu kini dalam kondisi yang baik-baik saja, jauh dari apa yang mereka khawatirkan sejauh ini.
Nanti siang, mamanya Eresha akan datang menemui mereka semua untuk mengobrol secara pribadi. Tentu saja tentang kabar anaknya yang telah membuat mereka semua terlalu cemas. Hal litu wajar untuk dilakukan seorang sahabat.
Kini mereka tengah berkumpul di parkiran sekolah yang nyaris sepi dan hanya mereka saja yang masih tinggal di sana. Kelima orang ini butuh penjelasan dengan segera. Apalagi Stefani, ia tak ingin dirinya terus-terusan disalahkan oleah Arka seperti ini. Jika mereka sampai kelepasana satu sama lai, mungkin akan terjadi pertengkaran hebat antara sekelompok orang itu.
“Kalian tenang aja, Eresha bakalan balik kok. Dia cuma pergi buat sebentar doang, nggak akan lama. Tapi dia juga bakalan kembali untuk sebentar saja, setelah itu dia harus pergi lagi.” jelas wanita paruh baya tersebut.
“Emangnya Eresha pergi ke mana tante?” tanya Arka sambil harap-harap cemas.
“Dia harus pergi ke Korea buat ngurus semua dokumen sama asrama yang akal ditinggalinya nanti.” jawab mamanya Eresha dengan apa adanya.
“Jadi Eresha lagi di korea?”
“Terus ujian akhir dia gimana? Masa Eresha nggak ikut ujian.”
Pertanyaan itu langsung menyerbu wanita paruh baya tersebut, sesaat setelah mengatakan kalimat barusan. Sementara itu ada satu anak yang tampak diam saja. Mendadak semangatnya seolah hilang, ikut terbawa oleh hembusan angin.
“Tenang aja, soal ujian itu Eresha udah ambil ujian lebih awal dari yang seharusnya.” ucap wanita tersebut.
“Kapan Eresha balik lagi tante?” tanya Arka dengan nada bicara yang terdengar datar.
“Kemungkinan kata Eresha, dia bakalan balik ke Indonesia pas hari kelulusan. Pas prom night sih kalau enggak salah. Sekalian mau perpisahan sama kalian katanya, karena besoknya dia bakalan pergi ke Korea lagi. Eresha bakalan di sana selama empat tahun ke depan. Jujur tante agak sedih soal itu, tapi ini demi masa depan Eresha juga.” jelas mama dari gadis itu
***
Hari demi hari berlalu dengan begitu cepat, hingga menuju hari kelulusan. Eresha bilang jika dia akan tetap di sini, memanfaatkan sisa waktu itu. Namun sekarang yang Arka dapatkan hanyalah omong kosong semata. Tapi tak apa, anggap saja ini sebuah balas dendam yang setimpal baginya. Kini keduanya sama-sama berkhianat atas janjinya sendiri, jadi sekarang sudah impas.
__ADS_1
Malam ini mungkin akan menjaddi malam terakhir bagi seluruh murid kelas dua belas. Untuk terakhir kalinya saling bertatap muka dengan canda atau tangis. Cerita mereka sudah selesai pada mala mini. Esoknya masih ada cerita baru lagi yang harus mereka tulis dan memulainya dari bab paling pertama. Menjadi tokoh yang baru di kehidupan yang baru juga tentu akan sangat menyulitkan.
“Apa dia nggak akan datang ke sini?” tanya Arka pada dirinya sendiri.
Pria itu mulai putus asa dengan harapannya sendiri. Ia mulai berhenti untuk terlalu berharap kepada gadis itu. Kini ia mengerti bagaimana rasanya menunggu tanpa sebuah kepastian, persis seperti apa yang dialami oleh Eresha beberapa waktu lalu.
“Hai!” sahut seseorang dari belakang.
Pria itu lantas menoleh ke arah sumber suara tersebut. Matanya langsung terbelalak lebar, setelah melihat siapa sosok yang tengah berdiri di hadapannya saat itu. Kali ini Eresha tak mengingkari janjinya sendiri. Ia benar-benar datang ke tempat ini pada malam itu, entah memang untuk menemui Arka atau ada hal lainnya. Tapi apapun itu, pria ini dibuat begitu bahagia dengan kedatangan Eresha yang tanpa diduga itu.
Arka lantas menghampirinya dengan begitu antusias. Pria itu mendekatkan dirinya ke arah Eresha dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ia tahu jika malam itu adalah malam terakhirnya bisa melihat wajah gadis ini dari jarak sedekat ini. Apappun akan ia lakukan agar membuat malam itu menjadi abadi.
“Mau dansa? Untuk yang terakhir kalinya.” Bisik Arka pelan di telinga gadis itu.
Sementara seseorang yang tengah diajak bicara itu hanya mengangguk pelan, mengiyakan perkataan pria tersebut.
“Aku harap rasa ini akan tetap abadi, hingga tahun berikutnya berganti. Sampai nanti aku lelah menghitung hari.” jelas Arka.
“Kalalu begitu aku akan tetap menunggu senja setiap harinya, hingga ia tak pernah muncul lagi untuk selamanya.” balas Eresha.
THE END
__ADS_1