Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 22


__ADS_3

Suara kicauan burung dapat kudengar dari seberang sana. Mentari perlahan naik, sinarnya menerobos setiap celah yang ada di ruangan itu. Aroma rumah sakit, menusuk tajam ke indera penciumanku sejak kemarin.


Tidak ada seorangpun di ruangan ku. Mungkin mama masih marah kepadaku karena kejadian semalam. Dan setelah itu ia tak pernah kembali lagi ke rumah sakit.


"Permisi, ini sarapannya." Ucap seseorang dari balik pintu kemudian masuk ke ruangan ku bersama sesuatu di tangannya.


"Terimakasih." Balasku.


Ia meletakkan semangkuk bubur yang kelihatannya masih panas serta segelas teh hangat di meja samping kasurku. Kemudian pergi keluar karena masih ada puluhan sarapan yang harus diantarkannya mungkin.


Aku samasekali tak berniat untuk menyantapnya. Masakan warung pinggir jalan selalu lebih baik daripada makanan rumah sakit. Aku tak tahu apakah hari ini ada jadwal terapi atau tidak. Biasanya mama yang paling tahu soal itu. Tapi kini mama tak berada di sini. Lagi-lagi itu semua karena kesalahanku.


Rasanya kakiku sudah baik-baik saja. Tak ada rasa nyeri yang timbul setelah terapi kemarin. Peban nya juga telah di lepas. Mungkin aku bisa berjalan-jalan sebentar. Menikmati udara pagi akan baik bagi kesehatan.


Aku memberanikan diriku untuk berjalan. Semoga saja kaki ku sudah benar-benar sembuh. Tapi, baru meletakkan kaki ku di atas lantai saja rasanya sudah ngilu. Ayolah, aku bosan jika harus disini sepanjang hari.


"Bagaimana kalau telepon Kak Sendy aja. Kira-kira dia udah pulang belum ya?"


Aku segera mengambil ponselku kemudian menelepon pria itu untuk meminta bantuannya memindahkan aku ke kursi roda. Aku beruntung bertemu pria ini kemarin. Bayangkan saja jika aku tak bertemu dengannya kemarin dan kami tak saling kenal. Disaat-saat seperti ini mungkin aku tak bisa apa-apa.


"Halo?" Suara pria itu terdengar tak begitu jelas dari seberang sana.


"Halo kak, bisa minta tolong?"


"Minta tolong apa?"


"Bantuin aku pindah ke kursi roda. Hehe..."


"Emang disana enggak ada orang?"


"Aku sendirian, mama ngambek sama aku dan enggak balik lagi ke rumah sakit dari kemarin."


"Oh, oke yaudah aku kesana."


"Makasih banyak ya kak. Aku tunggu."


Syukurlah pria itu mau membantuku. Kuharap dia kesini tak bersama gadis itu.


"Permisi, mbak nanti jam sembilan ada jadwal terapi ya. Jangan lupa."


Aku terkejut bukan main. Hanya ada aku di ruangan ini dan tiba-tiba suara itu muncul. Dari mana asalnya suara itu? Kepalaku berputar seratus delapan puluh derajat untuk mengamati sekitarku. Mencari asal suara itu. Satu lagi hal yang membuatku semakin terkejut, adalah ketika aku melihat sebuah kepala di pintu.


"Aduh sus, bikin jantungan aja."


"Hehe, maaf mbak. Saya males masuk soalnya masih banyak kerjaan." Ucap suster sambil nyengir-nyengir tanpa rasa bersalah


Aku sedikit lega begitu tahu jika itu adalah suster. Setidaknya itu bukan hantu atau mahluk halus sejenisnya yang ku duga sebelumnya.


***


"Sha?"


Aku yang sedari tadi sibuk dengan ponselku lantas menoleh ke arah pintu.


"Hai." Sapa nya kemudian duduk di sebelahku.


"Eh? Kak Sendy. Sendirian aja kan kesini?"


"Iya, Rina baru datang siang nanti habis pulang sekolah."


"Oh. Yaudah yuk buruan bantuin aku pindah ke kursi roda. Ada jadwal terapi jam sembilan nanti."


"Buru-buru banget. Kan masih setengah jam lagi. Eh, ini btw bubur kok nggak di makan?"


"Nanti aja."


"Sarapan dulu sebelum terapi. Biar ada tenaga."


"Ayolah."


"Sarapan dulu atau aku tinggalin nih."


"Iya iya yaudah siniin buburnya biar aku makan."


"Eits... Biar aku suapin aja.".


Aku melongo setengah tak percaya.


"Aaaaaaa." Ucapnya mengisyaratkan agar aku membuka mulutku lebar-lebar.


Sesendok bubur telah menanti di depan mulutku. Dengan sedikit ragu aku membuka mulutku. Lalu langsung menelan makanan yang tentunya tak perlu di kunyah lagi.


"Enak?"


"Enggak, hambar!"


"Masa sih?"


"Makanan rumah sakit memang selalu hambar."


"Enak gini kok kelihatannya."


"Udahan. Enggak mau lagi. Enggak enak."


"Sesuap lagi deh. Habis itu kita ke ruang terapi."


Aku hanya mengangguk pasrah. Bertahanlah ini yang terakhir, setelah ini selesai.


"Udah yuk." Ucapku.


"Sebentar."


Kemudian ia meletakkan mangkuk itu sebentar. Lalu tiba-tiba...


Lagi-lagi aku hanya dapat melongo. Ia menggendongku dari atas kasur kemudian meletakkan tubuhku di kursi roda. Harusnya ia cukup membopong tubuhku saja, tak perlu sampai seperti ini. Bukankah ia masih sakit? Aku tak yakin jika ia benar-benar sakit. Ia punya cukuo banyak tenaga untuk menggendongku.


***


"Ayo! Kamu pasti bisa. Sedikit lagi." Suara itu begitu menyemangati ku saat itu.


Kini kami berada di ruang terapi bersama dokter yang menangani ku dan Kak Sendy. Aku sedang latihan berjalan untuk memperkuat otot kaki ku. Meski sudah diberi suntikan vitamin secara rutin, tetap saja kaki ku terasa lemas.


Pria itu berada di depanku. Dokter memintanya untuk berjaga-jaga jika tiba-tiba terjadi sesuatu denganku. Sejauh ini aku masih baik-baik saja. Di tambah dengan kata-katanya barusan membuatku semakin semangat. Aku sudah melakukan beberapa set latihan dan hasilnya semakin membaik. Walaupun begitu, kita dokter setelah pulang dari rumah sakit sebaiknya aku jangan terlalu banyak berjalan dulu.


Di set latihan yang terakhir, sedikit lagi hampir selesai. Tiba-tiba tubuhku kehilangan keseimbangan dan...


'Hap'


Dengan sigap Kak Sendy menangkap tubuhku. Sedikit lagi tubuhku menyentuh lantai. Tapi tangan itu mampu menahannya.

__ADS_1


"Enggak apa-apa kan?"


Aku kembali mengangguk, mengiyakan nya.


"Udah yuk duduk dulu. Latihannya udah selesai." Ucapnya.


"Mas sekalian checkup aja ya mumpung disini." Ujar Dokter


"Oh iya boleh dok."


Kemudian mereka masuk ke dalam sebuah bilik yang di batasi oleh tirai hijau toska sehingga aku tak bisa melihat apa yang mereka lakukan di dalam sana.


Aku menunggu di depan meja dokter sembari memainkan rambutku. Selang beberapa menit, mereka keluar dari balik tirai.


"Silahkan duduk mas." Persilakan dokter itu.


"Baik dok."


"Jadi begini mas, cedera di kepala mas sudah membaik. Dan beberapa saraf yang rusak akibat benturan sudah kembali seperti semula. Vitaminnya jangan lupa diminum terus sampai habis ya mas."


"Oh, baiklah kalau begitu dok. Kalau boleh tahu kapan ingatan saya kembali ya dok?"


"Sebenarnya amnesia yang mas alami ini amnesia ringan. Mas hanya lupa dengan kejadian baru-baru ini saja. Termasuk kejadian tentang kecelakaan itu. Ingatan mas akan kembali dengan sendirinya jika jaringan saraf di kepala mas sudah benar-benar sembuh."


"Amnesia?" Batinku dalam hati.


"Baiklah dok kalau begitu kami permisi. Terimakasih dokter."


"Permisi dok." Ucapku.


"Iya sama-sama. Silahkan."


***


Jakarta 2 Februari 2020


"Sha! Ini sarapannya udah siap. Buruan turun, nanti telat." Teriak nenek dari bawah.


"Iya nek." Balasku seraya bergegas turun ke bawah.


Rumah nenek lumayan besar, ada tiga lantai di bangunan ini. Ia tinggal bersama seorang asisten rumah tangga. Sebenarnya aku sudah sampai disini sekitar tanggal 28 Januari kemarin.


Mama memindahkan ku ke salah satu sekolah swasta di dekat sini. Namanya SMA Nusantara. Ini bukan hari pertamaku sekolah disana. Dan aku sudah mendapatkan beberapa teman juga disana. Intinya Jakarta tak seperti yang ku bayangkan sebelumnya.


"Ini rotinya di makan."


"Iya nek."


Aku segera melahap roti tawar dengan selai kacang yang sudah di sediakan nenek. Selesaikan sarapan, aku langsung berangkat sekolah.


"Aku pergi dulu ya nek."


"Iya, hati-hati di jalan ya."


Aku mencium tangan wanita itu yang sudah mulai tampak keriput.


Biasanya jika pergi ke sekolah, aku selalu naik bis kota. Dan halte adalah tujuan pertamaku. Aku menunggu bis berikutnya datang bersama beberapa orang disana. Sebagian besar pekerja kantoran, tapi ada juga mahasiswa bahkan anak sekolahan yang ikut menunggu.


Karena kebetulan tempat duduk di bis sudah penuh, aku memutuskan berdiri saja sambil berpegangan di ring yang sudah di sediakan.


Tiba-tiba bus mengerem mendadak. Seluruh penumpang bis terkejut. Tak sedikit yang protes bahkan mengoceh tak jelas kepada supir bis.


Hampir saja aku kehilangan keseimbangan. Tapi, untung saja waktu itu aku berpegangan erat. Jika sampai aku terjatuh, mungil aku akan menahan malu sepanjang perjalanan.


Aku lantas menoleh.


"Ah? Iya. Kok tau?"


"Kan kita satu sekolah."


"Kamu SMA Nusantara juga?"


"Iya dong. Enggak liat nih simbol nya."


"Hehe, maaf."


"Oke enggak masalah. Kenalin Arka, murid kelas 2 IPA 1. Oh iya satu lagi jangan lupa. Ketua kelas."


"Heh? Serius ini murid kelas unggulan? Wahh."


"Iya dong. Nama kamu siapa?"


"Oh, iya aku Eresha Caitlyn Ananda. Panggil aja Eresha. Murid kelas 2 IPA 3."


"Oh, oke."


Bis sudah tiba di halte pertama. Aku segera turun, menerobos lautan manusia di dalam bis. Tinggal berjalan kaki sedikit, lalu sampai di sekolah. Aku merasa lebih lega karena akhirnya aku bisa menghirup udara segar setelah aku nyaris kekurangan oksigen di dalam sana tadi.


"Hey! Tunggu!" Sahut seseorang dari belakang.


Itu Arka, dengan nafas tak teratur ia berlari mengejar ku yang sudah puluhan langkah di depannya. Ya Tuhan bagaimana bisa aku melupakan anak itu. Seharusnya tadi kami turun bersama. Tapi kenapa aku malah meninggalkannya.


"Hosh... Hosh... Hosh..."


Dia tampak masih mengatur nafasnya begitu sampai di posisiku sekarang ini.


"Maaf ya tadi udah ninggalin."


"It's okay."


"Udah?"


"Udah yuk jalan. Tapi pelan-pelan."


"Haha, iya deh."


Kami berjalan di trotoar bersama para siswa lain yang datang dari arah yang sama dengan kami.


"Nanti jam istirahat aku ke kelas kamu ya." Ujarnya.


"Ha? Ngapain?"


"Jadi gini, aku ada tugas mata pelajaran kewirausahaan. Jadi di suruh buat makanan gitu. Kebetulan aku buat bolu cokelat dan aku buatnya lumayan banyak sih. Sebagian aku mau kasih buat kamu."


"Loh, kenapa kok di kasih ke aku?"


"Anggap aja sebagai tanda perkenalan kita yang pertamakali nya."


"Oh, yaudah."

__ADS_1


***


"Hai sha!" Sapa salah satu teman sekelas ku.


"Hai." Balasku.


Aku meletakkan tas ku diatas meja kemudian duduk. Masih ada beberapa menit lagi sebelum lonceng berbunyi.


"Eh, temenin gua ke kelas IPA 1 dong. Gua mau minjem baju olahraga. Punya gua ketinggalan."


"Sekarang nih?"


"Ya iya lah keburu bel."


Stefani teman sebangku ku langsung menarik tanganku.


"Aku tunggu di luar aja ya." Ucapku saat kami telah tiba di depan kelas IPA 1.


"Udah yuk masuk aja." Lagi-lagi ia menarik tanganku untuk turut masuk bersamanya.


Ia menghampiri sebuah meja di belakang. Kelihatannya itu teman akrabnya.


"Eresha?"


"Eh, Arka?"


"Kamu ngapain disini?"


"Nemenin Stefani minjem baju olahraga."


"Eh? Iya dia nemenin gua minjem baju sama Laura." Sambung Stefani.


"Udah yuk." Ajak Stefani.


"Iya. Aku pergi dulu ya Arka."


"Iya."


***


"Lo kok bisa kenal sama Arka?"


"Enggak sengaja ketemu di bis tadi. Terus dia ngajak kenalan dan kita jalan bareng ke sekolah."


"Seriusan?"


"Iya."


"Tunggu-tunggu. Jangan bilang kalau Arka suka sama lo."


"Apaan sih Fan."


"Ih, beneran. Liat nih ya, yang nyaman Arka itu enggak pernah ngajak cewek kenalan duluan. Enggak pernah tuh dalam sejarah hidup dia."


"Terus kalau kali ini dia ngajak kenalan cewek duluan apa salah?"


"Ya enggak sih. Cuma enggak biasanya aja."


***


Tiga mata pelajaran pertama untuk hari ini telah selesai. Fisika, Bahasa Indonesia dan Olahraga. Setelah itu masih ada Kimia yang menanti. Semangat untuk diriku sendiri!


"Kantin yuk!" Ajak Stefani.


"Yuk, aku juga lapar." Balasku.


Aku membereskan beberapa buku dan pena yang berserakan di atas meja, kemudian pergi ke kantin.


"Bruk...!"


Astaga! Aku tidak sengaja telah menabrak seseorang hingga kotak bekalnya jatuh.


"Maaf, aku beneran enggak sengaja." Aku meminta maaf sembari memungut kotak bekal yang jatuh itu.


"Sha?" Ucapnya.


"Arka?"


"Mau kemana?"


Astaga! Bisa-bisanya aku lupa. Tadi pagi aku sudah janji dengan Arka akan makan bolu cokelat buatannya di kelas. Sementara Stefani tampak kebingungan sendiri melihat kelakuan kami hari ini.


"Mau ke kantin."


"Oh yaudah aku ikut. Kita makan bolu nya di kantin aja."


"Oke."


***


Stefani memesan beberapa gorengan dan es teh manis untuk kami bertiga.


"Gue mau nanya sesuatu sama kalian." Ujar Stefani.


"Apaan?" Tanyaku.


"Kalian pacaran?"


Arka yang dari tadi sibuk menyeruput es teh manisnya itu mendadak tersedak. Aku menepuk pelan pundaknya.


"Kok ngomong gitu sih." Ungkap ku.


"Kita enggak pacaran kok. Cuma temen." Jelas Arka.


"Yakin cuma temen? Kalian berdua tuh udah Deket banget. Dan jujur gua kaget sih ngeliat kalian jadi deket gini."


"Udah enggak, intinya kita enggak pacaran titik." Tegas ku.


"Terus kalau enggak pacaran kenapa sampai ngasih bolu cokelat segala? Enggak biasanya."


"Ya kebetulan ada tugas praktik buat makanan gitu. Kebetulan gua buat ini dan sisanya lumayan banyak. Kan mubazir." Jelas Arka sekali lagi.


"Terus kenapa Eresha doang yang di kasih? Gua enggak disuruh ngicipin juga nih?"


"Terus yang dari tadi kamu makan apa? Batu?" Ledekku.


"Hehehe..." Gadis itu hanya nyengir tanpa merasa bersalah.


"Emang kenapa lo bilang kayak gitu sama kita? Lo pengen kita pacaran? Oke kita bakal pacaran." Ujar Arka.

__ADS_1


Kini giliran aku dan Stefani yang tersedak saat melahap kue cokelat buatannya. Kalimat gila yang diucapkannya barusan membuatku mempertanyakan kewarasan pria ini.


"Sha, lo mau enggak jadi pacar gua." Ucap Arka padaku.


__ADS_2