
Hari ini masih sama saja seperti kemarin. Lagi-lagi dan untuk yang kesekian kalinya pula, aku harus tetap terbaring di sini. Aku tak mengira jika akan seperti ini pada akhirnya. Aku tak mengira jika kasur yang selalu menjadi alasan terkuatku untuk pulang setelah berkelana sepanjang hari di atas kerak bumi, akan menjadi sesuatu yang begitu memuakkan dan membosankan.
Jadi pada intinya tak semua yang terlihat indah, nyaman dan selalu kita impikan, akan selalu begitu selamanya. Ada kalanya mereka harus menghadapi perubahan, yang pasti terjadi karena memang begitulah cara kerja waktu. Hari ini aku belajar satu hal lagi, jika segala sesuatu yang berlebihan itu tak akan baik dampaknya. Semua memang harus tepat pada porsinya masing-masing agar tetap seimbang nantinya.
Stefani sudah berangkat sejak pagi-pagi sekali. Mama dan papa juga harus pergi untuk mengantarkan nenek check up rutin di klinik. Sementara itu bibi juga sedang pergi berbelanja ke pasar dekat sini. Dan sekarang aku benar-benar tengah sendirian di rumah ini.
“Huft!” keluhku sambil mengacak-acak rambutku.
Sebenarnya aku merasa jauh lebih membaik dari sebelumnya. Tapi para orang tua itu bilang kalau aku harus tetap beristirahat. Jadi mau tak mau aku harus menuruti perkataan mereka, walaupun sebenarnya aku tak mau.
Aku memakan beberapa sereal dan roti selai kacang di dapur. Taka da yang berbeda sedikitpun, masih sama saja seperti menu untuk sarapanku setiap harinya. Aku tak tahu kenapa diriku tak bisa bosan dengan dua jenis kudapan yang satu itu, meski hampir setiap pagi aku selalu menyantapnya.
“Eh, mbak Eresha udah di sini ternyata.” ucap seseorang yang berada di ambang pintu dapur.
Aku lantas mengalihkan pandanganku kea rah sumber suara tersebut. Dan papda akhirnya aku hanya mendapati bibi yang baru saja pulang dari pasar. Bahkan aku tak tahu sudah sejak kapan wanita itu berada di sana.
“Iya, bi.” balasku dengan singkat.
Wanita itu sama sekali tak menggubris ucapanku barusan, karena itu memang hanya sekedar basa-basi saja. Bibi lantas membereskan barang belanjaan nya yang barusaja ia bawa dari pasar. Beberapa ia cuci dan selebihnya di bungkus dengan rapih untuk di masukkan ke lemari pendingin. Wanita paruh baya itu terlihat begitu telaten dalam melakukan pekerjaannya yang satu ini. Sudah bertahu-tahun ia meelakikan hal ini secara terus-menerus tanpa pernah merasa bosan sedikitpun.
“Oh iya mbak, tadi mama nya mbak bilang ke bibi kalau kemungkinan mereka bakalan pulang sore nanti.” ujar bibi secara tiba-tiba.
“Kok bisa? Emangnya antrian di kliniknya sepanjang itu ya?” tanyaku.
“Bukan mbak, mereka bilang mau mampir dulu ke rumah Mbak Renata.” jelasnya.
“Oh” balasku singkat dengan mulut yang membulat sempurna.
Aku termenung sebentar si atas meja makan, sambil tetap menghabiskan sisa roti selai kacang itu. Aku bahkan tak tahu harus melakukan apa setelah ini, minimal sesuatu yang bisa mengusir kebosananku. Sepetinya aku memang tak memiliki ide sedikitpun untuk yang satu itu. Setelah selesai sarapan dan memakan obatku, aku segera kembali ke kamar. Kelihatannya aku akan menghabiskan waktuku selama seharian untuk tidur di sana.
‘DRRTTT!!!’
Tiba-tiba saja ponselku bergetar pelan. Mungkin hanya notifikasi dari salah satu aplikasi seperti biasanya. Aku kemudian segera mengecek isi notifikasi tersebut. Aku tak tahu harus senang atau sedih dengan yang satu ini. Notifikasi yang barusaja ku terima itu, ternyata adalah sebuah e-mail dari kedutaan besar. Mereka menyatakan jika aku lolos tahap pertama untuk beasiswa tersebut, yaitu hasil dari seleksi nilai rapor. Selanjutnya aku masih harus mengikuti tes tertulis.
Seperti yang sudah pernah ku ceritakan sebelumnya, aku sengaja mengaplikasikan beasiswa ini. Hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa pergi ke negeri yang ku impikan itu, dalam kurun waktu yang lama. Selama ini aku selalu menanggapi semua hal tentang beasiswa ke Korea ini dengan serius dan begitu ambisisus. Namun sekaranag semuanya mendadak berubah begitu saja.
Aku berpikir jika nantinya nasib baik memihak kepadaku, mungkin aku akan lulus di salah satu universitas korea dengan bantuan beasiswa ini. Di satu sisi itu pasti akan menjadi kebanggaan tersendiri bagiku dan keluarga besarku ini. Namun di sisi lain aku tak yakin jika aku benar-benar telah siap untuk kehilangan mereka semua sementara waktu.
Beberapa bulan lagi, semua siswa dan siswi kelas dua belas akan menghadapi ujian kelulusan. Sebuah akhir dari perjalanan kami setelah bertahun-tahun berjuang untuk masa depan. Benar kata orang-orang jika setiap harinya selalu ada yang datang dan pergi di kehidupan kita. Pasti mereka akan bahagia karena telah menyelesaikan studinya selama tiga tahun belakangan ini, termasuk aku tentunya. Namun tak bisa dipungkiri jika suatu saat nanti mereka nantinya juga akan bersedih. Sedih karena belum tentu besoknya mereka akan tetap bisa melihat wajah-wajah yang biasanya selalu dihadapkan kepada merka semua setiap harinya.
Hari kelulusan benar-benar sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata. Terlalu banyak emosi yang tercita nantinya, akan terlalu abstrak juga nantinya untuk dijelaskan. Dan kini aku mulai lelah menghitung hari yang tak kunjung datang itu. Meskipun katanya hanya tinggal sebentar lagi, aku dan semua orang selalu ingin agar hadirnya dapat ditunda dulu. Terlalu banyak kenangan untuk dilupakan begitu saja.
Terkadang waktu memang begitu kejam . Membuat semua yang telah dipertemukan harus kembali dipisahkan, dan hanya menyisakan sebuah luka untuk di kenang. Lalu untuk apa ia datang jika pada akhirnya harus kembali pergi. Namun begitulah hukum kehidupan, dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan. Mereka seperti dua hal yang tak bisa dipisahkan satu sama lainnya, karena saling mengikat satu sama lain.
Masa putih abu-abu itu, benar seperti apa yang dibilang oleh orang-orang. Ah! Terlalu sulit untuk ku gambarkan. Sesekali menjadi sedikit nakal tak masalah, karena memang seperti itulah caranya menikmati hidup. Sedikit keluar dari zona nyamanmu, akan membuat kalian mengerti bagaimana indahnya masa SMA itu. Tapi kalian juga harus bisa membedakan mana yang disebut dengan merusak sama depan, dan mana yang disebut dengan menikmati masa muda.
Jangan terlalu kaku jadi manusia. Sesekali harus bisa beradaptasi dengan keadaan. Jadi diri sendiri itu penting. Bersikap formal tak selalu menjadi yang utama di dalam kehidupan ini.
***
‘BRUKK!!!’
“Suara apa itu?” batinku dalam hati.
__ADS_1
Ternyata suara tersebut berasal dari sebuah figura di sana. Tapi bagaimana bisa foto itu jatuh, untung saja kacanya tak pecah. Sepertinya pakunya tak terlalu kuat untuk menahan beban dari benda ini. Mungkin sebentar lagi aku akan memperbaikinya, jadi tak perlu khawatir. Tapi kenapa harus foto itu yang jatuh? Foto diriku dan Arka yang berdiri besebelahan, tepat diambil setelah olimpiade selesai.
Tapi sepertinya memang hanya sekedar kebetulan saja. Tak seharusnya aku berpikir terlalu berlebihan soal hal sepele ini. Setidaknya aku tak harus mengeluarkan biaya lagi, karena kacanya masih tetap baik-baik saja. Tapi aneh saja bagaimana kaca setipis itu tidak pecah ataupun retak sedikitpun.
“Sha, gue udah pulang!” sahut seseorang dari balik pintuii.
Benar saja jika itu adalah Stefani yang baru saja pulang dari sekolah. Hari ini gadis itu pulang lebih awal dari pada kemarin-kemarin. Itu karena hari ini adalah Hari Jum’at, dan hampir semua sekolah memang selalu memulangkan muridnya lebih awal di hari tersebut. Hari ini dan besok juga tidak ada jam pelajaran tambahan hingga sore. Karena harus menunggu hingga orang-orang selesai shalat Jum’at, Stefani juga akan masuk kerja lebih siang dari yang biasanya.
“Nanti habis Jum’at-an Arka bilang dia mau ke sini.” ujar Stefani yang baru saja sampai tersebut.
“Mau ngapain lagi? Kan kemarin udah.” balasku dengan begitu polosnya.
“Nggak tau tuh anak, mungkin kalau sehari aja nggak ketemu sama lo dia galau kali. Buktinya pas lo dirawat inap aja, dia tiap hari jengukin lo ke rumah sakit.” jelas gadis tersebut.
“Dih! Arka nggak pernah se-alay itu.” bantahku secara blak-blakan.
“Ya jadi mau apapu itu alasan dia, mendingan lo siap-siap dari sekarang deh. Dari pada kejadiannya kayak kemarin lagi, emang lo mau apa?” usul Stefani.
“Ya enggak sih, tapi bodo ah! Lagi mager.” balasku.
“Ya udah sih, kalau lo nggak mau juga.” serahnya padaku.
Belum tentu juga jika nanti pria itu benar-benar datang kemari. Lagipula kan aku mendengar tentang semua ini dari mulut Stefani, dan bukan dari orang itu langsung. Jadi untuk apa mempersiapkan diri untuk sesuatu yang belum tentu akan benar-benar hadir. Jika nanti kejadiannya tak sesuai ekspektasi kita, malah sakit hati ujung-ujungnya. Menjadi mahluk hidup itu tak melulu harus perfeksionis, karena hidup hanya perlu dijalani dengan santai. Jadi pada prinsipnya, sambut saja siapapun itu yang datang dan biarkan dia yang hanya ingin berlalu. Meskipun pada dasarnya yang datang itu juga akan pergi suatu saat nanti.
“Gue berangkat kerja dulu ya.” ucap gadis tersebut sambil menyandang tas selempangnya.
“Oke.” balasku dengan singkat.
“Eh, by the way orang rumah pada kemana sih? Kok tumben sepi amat.” tanya nya padaku.
“Lagi pada ke rumah Renata.” jawabku apa adanya.
“Menurut anda jawabannya apa?” ujarku sambil tersenyum kecut.
“Ya udah deh, kalau gitu gue kerja dulu. Bye!” balasnya sembari kembali berpamitan untuk yang kesekian kalinya.
“Hmmm!” balasku singkat.
Setelah itu aku kembali melanjutkakn kegiatanku untuk bermain dengan ponselku. Hanya ini satu-satunya hal yang bisa ku lakukan sejauh ini. Meski sebenarnya tak terlalu banyak membantuku dalam mengusir rasa jenuh ini.
‘Tok! Tok! Tok!’
Lagi-lagi ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku dari luar ruangan ini. Dan untuk yang kesekian kalinya pula aku harus membukakakn pintu untuk orang tersebut. Entah kenapa, akhir-akhir ini banyak sekali orang yang mengetuk pintu kamarku.
“Ada tamu yang mau ketemu sama mbak di bawah.” ucap bibi yang langsung kepada inti permasalahannya saja.
“Oh, oke bi.” balasku dengan singkat.
Tanpa berlama-lama lagi, aku segera turun ke bawah, untuk menemui seseorang yang dimaksud oleh bibi. Sebelumnya aku tak kepikiran jika tamu yang dimaksud ini adalah Arka, namun setelah aku tiba di sana yang benar saja jika orang itu adalah Arka. Hari ini dia tak datang dengan setelan baju koko dan sarung, seperti layaknya orang yang sehabis shalat Jum,at pada umumnya. Pria itu datang dengan penampilannya yang biasa ia tunjukkan di depan umum, yaitu dengan hoodie toska. Aku tak mengerti entah kenapa belakangan ini hoodie menjadi trend busana di seluruh dunia. Kemanapun aku melangkah, pasti selalu ada minimal satu atau dua orang yang berjalan menggunakan hoodie. Dan salah satu diantara mereka termasuk aku salah satunya.
“Ngapain?” tanyaku sesaat setelah sampai di sana.
“Emang Stefani nggak bilang sama kamu, kalau aku mau datang ke sini?” tanya pria itu balik.
“Dia Cuma bilang kalau kamu mau ke sini, dan nggak bilang apa alasannya kamu ke sini.” jawabku dengan panjang lebar.
“Dasar anak itu ya!” umpat Arka yang tengah terlihat kesal.
__ADS_1
Sudah ku bilang tadi jika aku tak bisa mempercayai Stefani sepenuhnya. Terkadang pasti ada saja sesuatu yang lebih atau kurang dari ucapannya, tak pernah pas sedikitpun. Pasti selalu meleset sedikit saja.
“Ini soal Kak Sendy.” ujar pria tersebut dengan nada bicara serius.
“Kenapa sama dia? Udah balik dari Kalimantan ya?” tanyaku dengan antusias.
“Lebih buruk dari itu sha, semoga kamu bisa nerima kenyataan yang satu ini.” jelasnya.
Entah kenapa rasanya jawaban yang diberikan oleh Arka barusan sama sekali tak membuatku puas. Jika lebih buruk, itu artinya ada kabr buruk soal pria itu. Dan satu hal yang pasti, aku ataupun semua orang di dunia ini pasti tak siap dengan setiap hal buruk yang datang.
Kini aku mulai terbawa suasana yang sama sekali tak membawa atmosfir baik. Baik aku maupun Arka kini sama-sama terlihat begitu serius. Aku tak sabar menunggu apa itu hal buruknya, meski sebanarnya aku tak ingin mendengarkan hal itu sama sekali. Tapi seburuk apapun itu, aku harus tetap mengetahuinya. Sama hal nya seperti ketika kita dihadapkan dengan sebutir obat. Meskipun kita tahu jika itu akan sangat pahit ketika benda itu melewati kerongkongan kita, tapi mau tak mau kita harus tetap meminumnya.
“Aku nggak tau harus mulai dari mana dulu.” ujar Arka sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Memangnya seburuk itu ya?” tanyaku dengan hati-hati.
“Aku nggak tau bagaimana caranya supaya semua ini nggak terdengar begitu menyakitkan, meskipun memang seperti itu pada kenyatannya.” jelas pria itu padaku.
“Mau kamu poles seperti apapun itu, tetap saja nggak akan merubah inti permasalahnnya kan.” balasku.
Arka menarik nafasnya dalam-dalam. Entah kenapa kelihatannya hal yang satu ini sangat sulit bagi pria ini untuk di utarakan. Kata-kata yang tak akan menjadi sesuatu yang menyenangkan itu, seperti sangat berat untuk terucap dari mulutnya.
“Jadi tadi aku sama Kak Rayhan sempat janjian untuk shalat Jum’at di tempat yang sama. Dan sebelum shalat Jum’at nya dimulai, kita sempat bahas beberapa hal.” jelas Arka sebagai pembukaan.
Sejauh ini semua hal yang ia katakan, tak terdengar begitu buruk. Semuanya masih terdengar baik-baik saja. Aku berusaha mendengarkan semua yang ia ucapkan dengan serius dan seksama.
“Kita sempat bahas soal Kak Sendy. Semua hadiah yang kamu terima sebelumnya itu, sebenarnya Kak Sendy pengen ngasih itu beberapa hari sebelum hari ulang tahun kamu. Lebih tepatnya pas kamu masih dirawat di rumah sakit. Malam itu dia pengen nganterin semua ini ke rumah sakit, sekalian mau pamitan. Karena besoknya dia harus berangkat ke Kalimantan untuk studi penelitian itu.” jelas Arka dengan segenap keberaniannya.
“Terus?” tanyaku sembari memancing dirinya agar mau menceritakan semuanya.
“Malam itu dia ngalamin kecelakaan dan setelah itu Kak Sendy di bawa ke rumah sakit yang sama dengan kamu.” lanjutnya.
Mataku membulat sempurna setelah mendengar semuanya dari Arka. Aku tak tahu harus bereaksi bagaimana. Aku benar-benar tercengang saat ini, karena semua hal itu begitu mengejutkan bagiku. Ternyata semuanya jauh lebih buruk dari apa yang pernah ku duga. Ku harap saat ini aku sedang mengalami mimpi buruk, dan segera terbagun dari tidurku ini. Tapi sayang nya ini semua benar-benar nyata.
“Dan dia nggak bisa selamat malam itu. Takdir berkata lain pada cowok yang satu itu.” ujar Arka dengan suara yang bergetar.
Kedua bola mataku memanas, ada sesuatu yang tak bisa ku tahan lagi. Aku menggenggam tanganku kuat-kuat, mencoba agar tak menangis. Kalian tahu persis jika aku sangat membenci hal yang satu itu. Namun untuk kali ini rasanya aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Aku telah lelah jika harus terus-menerus bersembunyi di balik tembok yang seolah-olah terlihat kokoh ini, padahal tidak sama sekali. Aku lelah bertopengkan kata-kata yang membuatku setegar batu karang itu, namun pada kenyatannnya diriku tak lebih dari sebuauh gubuk tua yang telah reot dan nyaris roboh.
“Pasti kamu bercanda kan ka?” tanya ku dengan perasaan yang masih tak kunjung percaya ini.
“Buat apa aku bercanda sama soal kayak gini sha… Kamu tau sendiri kalau bercanda sama maut itu nggak baik.” bantah pria itu dengan segera.
“Itu sebabnya kamar kost-an mereka sempat kosong untuk beberapa waktu. Padahal Kak Rayhan lagi nganterin jenazah Kak Sendy ke keluarganya. Dia dimakamin tepat di salah satu pemakaman umum di kota itu. Kota tempat kisah kalian dimulai lebih tepatnya.” jelas Arka sekali lagi.
“Jadi itu alasannya kenapa dia Kak Sendy balik ke kota itu? Karena dia memang harus pulang ke sana ya waktu itu.” balasku dengan suara yang mulai terdengar parau.
“Karena memang kota penuh kenangan itu telah memintanya untuk kembali sha.” ujar pria yang tengah berdiri di hadapan ku tersebut.
“Kamu harus ikhlas sha.” lanjutnya sambil merangkul bahuku.
“Kalau aja aku tahu yang kemarin itu bakalan jadi yang terakhir. Mungkin aku akan lakuin apapun itu, biar akhir dari cerita ini berakhir bahagia meskipun harus segera ditamatkan.” ucapku pada Arka dengan air mata yang tak bisa kubendung lagi.
“Enggak semua cerita bisa berakhir bahagia sha. Terkadang harus ada cerita yang berakhir tragis.” balasnya sambil membelai halus puncak kepalaku.
Terkadang aku suka berpikir mengapa aku harus menangisinya lagi, untuk yang kesekian kalinya dalam hidupku. Ku rasa sudah terlalu banyak air mata yang kuberikan untuknya. Ia pasti tak akan suka jika kau memberikannya hadiah yang itu-itu lagi. Rasa ini sempat mati, kemudian hidup kembali. Kembali hidup seperti harapan yang kembali bereingkarnasi setelah kematiannya, untuk menjadi sebuah jiwa baru dan harapan baru yang terus tumbuh membesar hingga sesuatu mematikannya kembali. Rasa ini sempat begitu berarti, sebelum pada akhirnya hanya akan tak pernah di anggap seperti ini.
Aku pernah berkali-kali jatuh dan dibantu untuk berdiri oleh orang yang sama pula. Orang yang kini telah benar-benar pergi untuk selamanya dan tak akan pernah kembali untuk membantuku bangkit lagi. Sekarang aku lebih memilih untuk menyimpan rasa itu saja, seperti layaknya sebuah rahasia. Rasa yang sebenarnya telah lama menetap pada hati kecilku. Terkadang nggak semua rasa harus diutarakan, karena nanti malah ribet jadinya.
__ADS_1