
"Bye, sha! Good night, have a nice dream!" Ujar Arka sembari menutup panggilan video call nya.
"Yah! Apaan sih anak ini, malah di matiin." Protes Stefani yang baru saja ingin ikut menimbrung.
"Sha, guess minta PJ nya sama lo aja ya." Lanjutnya sambil menengadahkan kedua tangannya ke arahku.
"Nih..." Balasku seraya mengembalikan ponsel miliknya.
Sebelum gadis ini mengeluarkan ocehan-ocehan lainnya, aku segera berlari ngacir meninggalkan tempat ini. Aku berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih, yang sedang ku butuhkan saat ini.
Saat di tengah perjalanan, tiba-tiba saja aku melihat keramaian kecil di ruang tengah. Semua orang masih tampak berkumpul di sana setelah makan malam tadi. Mungkin sedang membahas persiapan untuk pernikahan Renata besok. Itu adalah momen sakral sekali seumur hidup yang belum tentu bisa terulang untuk kedua kalinya, semoga saja jangan sampai begitu. Itu sebabnya semua hal harus di siapkan dengan matang-matang, harus sempurna hingga detail terkecil sekalipun.
"Sha! Sini nak!" Sahut mama dari ruang tengah.
"Iya ma!" Ujarku sambil segera berlari kecil menuju kerumunan orang tersebut.
Aku melihat ada satu orang asing yang ikut bercengkrama di tengah-tengah mereka. Aku tak pernah melihat orang ini sebelumnya.
"Sini duduk!" Perintah mama.
Aku mengangguk mengerti kemudian segera duduk tepat di sampingnya.
"Kenalin ini tante Dea, dia bakalan bantuin kalian buat fitting baju besok sama sekalian make up- in kalian." Jelas mama.
"Kalian? Maksudnya aku juga?" Tanyaku heran.
"Ya iya lah." Balas mama singkat.
Aku tak tahu harus bereaksi bagaimana. Aku hanya bisa menggaruk kepalaku yang tak gatal.
"Eresha bisa make up sendiri kok ma." Ujarku dengan ungkapan menolak yang sedikit diperhalus.
"Tapi kan kamu enggak bisa make up." Balas mama.
"Nanti di bantuin sama Stefani." Ucapku yang terus berusaha mengelak.
"Udah, biar di make up-in mbak Dea aja, aku lebih percaya." Timpal Renata.
"Ya udah deh terserah." Jawabku pasrah.
Kini aku kalah telak melawan mereka yang jumlahnya jelas jauh lebih banyak, ketimbang aku yang hanya seorang diri. Mau tak mau kali ini aku terpaksa mengalah lagi, sesekali rasanya aku harus berdamai dengan ego ku sendiri.
Padahal sebenarnya aku tak ingin sama sekali hal itu. Jika wajahku di rias dengan seorang make up artist yang terlihat profesional seperti ini, pasti hasilnya jauh dari apa yang aku bayangkan. Sebenarnya aku tak suka menggunakan riasan wajah yang terlalu tebal, dan penampilan yang terlalu mencolok. Tapi dimana-mana setiap acara formal seperti ini, pasti tak lepas dari dandanan seperti itu.
"Okey, enggak apa-apa sha. Cuma untuk sehari doang." Batinku dalam hati.
"Eresha ke dapur dulu ya, mau ngambil air putih." Ujarku seraya beranjak dari sana.
Mama dan yang lainnya hanya mengangguk pelan mengiyakan perkataanku. Kemudian kembali sibuk dengan urusannya masing-masing. Setelah merasa cukup dengan sedikit air putih, aku kembali lagi ke atas. Terserah mau berapa paragraf omelan yang di lontarkan oleh gadis itu, aku tak peduli lagi soal itu sama sekali.
"Sha!" Teriak Stefani dari dalam kamar.
Padahal baru saja aku akan membuka pintu ini. Tapi rasanya niat itu sudah hilang begitu saja setelah mendengar ia memanggil namaku dengan begitu.
Aku memutar balik badanku untuk kembali ke ruang tengah. Aku mengurungkan niatku untuk masuk ke tempat itu lagi. Mungkin aku akan menyimak semua obrolan orang-orang dewasa itu disana. Meskipun pasti akan terasa membosankan, tapi itu jauh lebih daripada telingaku sakit karena harus mendengarkan suara melengking Stefani. Sekarang posisiku menjadi serba salah seperti ini. Aku sama sekali tak bisa menemukan tempat yang benar-benar nyaman bagiku, bahkan kamarku yang biasanya menjadi tempat ternyaman, kini tak lagi sama seperti dulu.
"Sha, tunggu dulu!" Ucap Stefani yang menyusul ku dari belakang.
Tiba-tiba saja gadis itu menghentikan langkahku dengan cara menahan salah satu tanganku. Aku menggerutu kesal dalam hati, kenapa aku bisa kalah cepat di bandingkan gadis ini. Seharusnya tadi aku berlari saja agar bisa turun ke bawah lebih cepat. Sekarang aku malah tertangkap dan tak bisa berkutik sama sekali. Aku curiga jika gadis ini diam-diam telah mengawasi ku dari tadi.
"Jangan minta PJ sama aku please...." Ujarku tanpa membalikkan badan sedikitpun.
Ku harap Stefani memberikanku kesempatan untuk kabur dari sini.
"Bukan itu sha!" Balas Stefani.
"Terus apa dong kalau bukan PJ?" Tanyaku.
Aku lantas segera membalikkan badanku ke arahnya.
"Ayo ikut gue ke kamar dulu." Ujar Stefani sambil menarik-narik tanganku.
Mau tak mau aku harus ikut dengannya ke dalam kamar. Ku harap dia tak melakukan hal aneh denganku. Lihat saja jika ia sedang mencoba mengerjai ku.
"Bantuin gue pilih baju dong..." Ucapnya dengan wajah memelas.
"Jadi cuma itu?" Tanyaku memastikan.
Stefani mengangguk pelan dengan ekspresi memelas yang masih ia pertahanan dari tadi. Sebenarnya jika saja dia bukan sahabatku, ingin sekali rasanya aku menonjok wajahnya dengan ekspresi menjijikkan itu. Seolah-olah ia sedang meminta untuk dikasihani.
Aku hanya menghela nafas panjang. Setidaknya aku bisa bernafas lega, karena ia sudah lupa dengan pajak jadian yang dimintanya tadi. Padahal yang barusan tadi bukan jadian, melainkan balikan. Apa dia tak bisa membedakan kedua hal tersebut yang jelas-jelas sudah jauh berbeda.
"Pilihin dong, yang menurut lo cocok buat gue." Ujar Stefani sambil menunjukkan koleksi baju-bajunya.
Mataku terbelalak lebar ketika melihat tempat tidurku yang mendadak menjadi kapal pecah seperti ini. Padahal belum ada satu jam aku meninggalkan tempat ini. Yang benar saja, bagaimana bisa semua pakaian anak ini berserakan di atas kasurku. Apa ia se-frustasi itu untuk memilih sebuah gaya.
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuannya. Walaupun rasa kesal ku sudah berada di ubun-ubun, aku berusaha untuk selalu meningkatkan level kesabaranku saat menghadapi orang-orang seperti ini.
"Pakaian untuk apa emang?" Tanyaku sambil memilah-milah tumpukan pakaian tersebut.
"Besok Titan ngajak gue jalan." Ucap Stefani sambil memainkan jarinya.
Aku langsung melongo tak percaya saat ia mengatakan hal itu. Gadis itu hanya membutuhkan waktu beberapa hari untuk menaklukkan hati pria itu. Aku curiga jika gadis ini diam-diam menggunakan ajimat khusus untuk hal itu.
Bagaimana bisa seorang pria seperti Titan bisa dengan mudahnya jatuh hati kepada seorang gadis seperti Stefani. Gadis muda yang sama sekali tak memiliki sisi feminim, bahkan tak jarang ia bersikap kasar. Tapi cinta tak pernah bisa di tebak. Ini lah cara cinta bekerja.
"Serius?" Tanyaku tak percaya.
Gadis itu hanya mengangguk mengiyakan perkataanku sambil tertunduk malu. Perlahan tapi pasti, pipin berubah menjadi merona.
"Ciieeeee......" Ledekku.
"Apaan sih!" Balasnya sambil tersenyum malu.
"Udah buruan pilihin gih!" Lanjutnya.
"Mending tunggu Renata aja deh, aku enggak paham soal beginian." Jelasku yang mulai pusing karena melihat tumpukan kain tersebut.
"Ya elah, nyesal gue manggil lo ke sini." Ujar Stefani dengan perasaan kecewa.
"Sorry...." Balasku.
__ADS_1
Sementara Stefani sibuk dengan urusannya, aku berbaring di samping tumpukan pakaian tersebut sambil memainkan ponselku yang baru saja selesai di charge.
Yang benar saja, ada lebih dari dua puluh panggilan video masuk dari Arka sekitar dua puluh menit yang lalu. Aku tak habis pikir jika pria itu benar-benar seniat ini. Aku lantas membiarkan notifikasi itu begitu saja, karena pada akhirnya pria itu telah menelepon Stefani dan urusan kami telah selesai.
Tapi omong-omong bagaimana dengan Kak Sendy. Semenjak kurang lebih seminggu yang lalu, ia tak ada kabar Sam sekali. Minimal mem-posting sesuatu di media sosialnya. Tapi untuk kali ini tidak sama sekali. Pria itu benar-benar menghilang bergitu saja tanpa jejak sama sekali. Secara tiba-tiba lenyap dari semua orang. Ada masalah apa yang membuatnya harus kembali ke sana, hingga meninggalkan kegiatan di kampusnya. Di tambah lagi, ia tidak satu dua hari di sana. Aku harus mencari tahu tentangnya, bagaimanapun itu. Minimal untuk memastikan jika Kak Sendy sedang dalam kondisi yang baik-baik saja.
Aku mencoba meneleponnya beberapa kali, tetapi hasilnya nihil. Nomernya selalu tak aktif sejak seminggu yang lalu. Sebenarnya ada apa dengan pria itu. Jujur saat ini aku bingung harus bagaimana, aku khawatir jika sampai sesuatu yang buruk terjadi kepadanya. Aku sempat berpikir untuk pergi menemuinya ke kost, siapa tahu saja Kak Sendy sudah pulang. Tapi sekarang sudah larut malam, rasanya tak mungkin lagi jika aku ke sana sekarang. Selain sudah sepi, pasti juga rawan begal. Untuk sekarang rasanya aku hanya bisa berharap agar pria itu sudi datang ke pernikahan Renata besok.
Aku menatap nanar pesan singkat yang sempat ku kirimkan beberapa menit lalu. Sebuah tanda centang satu berwarna abu-abu, bukanlah sebuah pertanda baik bagiku.
"Kak!"
"Kakak di mana?"
"Aku dengar kakak balik ke Siantar ya?"
"Kenapa kak?"
"Kakak kok nggak online?"
"Kak...."
"Kakak baik-baik aja kan?"
"Oh, iya aku kemarin ke kost kakak. Tapi kakaknya sama Kak Rayhan nggak ada di kost."
"Tapi aku udah nitipin sesuatu sama ibu kost."
"Kakak udah baca undangan nya?"
"Kakak mau datang kan besok?"
"Eresha mohon, balas kak!"
Semua pesan-pesan yang ku kirimkan itu rasanya tak ada gunanya lagi. Tulisan-tulisan tersebut belum di terima oleh seseorang yang ku tuju. Andai saja aku memiliki indera ke enam yang bisa melihat di mana keberadaannya, pasti semuanya terasa lebih mudah. Aku berharap agar ia membalas pesan-pesan itu, atau minimal membacanya saja. Itu sudah jauh lebih dari cukup bagiku.
Aku merebahkan diriku di atas kasur sambil menghela kasar. Jika di pikir-pikir, kenapa aku terlalu egois seperti ini. Padahal pada kenyataannya, pria itu dan Renata sempat satu dalam sebuah kisah cinta yang mereka ciptakan sendiri. Dan tiba-tiba aku datang, membawa ancaman bagi hubungan mereka. Diriku seolah seperti tamu tak diundang yang menjadi bagian klimaks dari kisah mereka.
Walaupun sebenarnya aku memang sangat mencintainya dulu, tak apa jika sampai sekarang aku harus menjadi pengagum rahasia nya. Tak sepatutnya ia tahu tentang jati diriku. Karena nyatanya, mencintai dalam diam jauh lebih menyenangkan. Meski terkadang harus ada perih yang di tanggung sendiri. Tak berbicara bukan berarti tak merasakan.
Sebuah rasa yang dipaksakan tak akan baik. Mungkin akan terdengar begitu indah jika tiba-tiba seseorang yang kau kagumi menjadi berbalik suka padamu. Namun jika itu semua atas keterpaksaan, akan ada jutaan tangis yang menanti di masa depan.
Mungkin Tuhan memang sudah menakdirkanku untuk menjadi pengagum rahasia saja. Pria itu tak akan pernah bisa ku gapai, apalagi ku genggam. Ia pasti sudah lari lebih dulu, atau mungkin juga menghilang. Terkadang aku benci jika harus jatuh cinta, karena aku tak siap dengan rasa sakitnya.
"Tak apa jika pergi, aku akan tetap mengangumi mu di sini." Batinku dalam hati.
Pria itu lah satu-satunya orang yang pernah membuatku begitu mencintai seseorang. Kemarin aku bertemu dengannya di sana, hari itu kita sempat menjadi satu dalam sebuah lagu. Kak Sendy telah datang dengan cara yang baik, mungkin sekaranglah saatnya ia pergi dengan cara yang baik pula.
***
'Kriettt!!!'
Seseorang baru saja membuka pintu ruangan ini. Bisa ku tebak siapa dia, hanya dari aroma parfum mewah yang ia gunakan. Meskipun sebenarnya itu hanya sample parfum ternama yang ia dapatkan secara cuma-cuma dengan berbagai cara. Wanita itu berdiri mematung di ambang pintu. Mulutnya terbuka lebar karena melihat kekacauan yang kami buat. Bukan kami, kekacauan yang Stefani ciptakan lebih tepatnya.
"Ya, ampun!" Teriaknya sambil memegangi kedua pipinya.
Hentikan itu! Orang-orang bisa mengira jika wanita ini sedang kenapa-kenapa. Bisa-bisa seluruh orang di rumah ini, langsung berlarian ke sini untuk melihat ada apa sebenarnya. Lagipula tak perlu bersikap se-lebay itu, biasa saja.
"Kok berantakan gini sih?" Tanya Renata yang masih terkejut.
"Kakak pernah lebih parah kok." Ujarku.
"Enak aja, aku selalu rapih ya!" Tegasnya.
Aku tahu jika ia sedang mencoba membela dirinya sendiri. Mana mungkin ia mau dijelek-jelekkan seperti itu di hadapan orang lain.
"Kak Renata....." Rengek Stefani.
"Bantuin pilihin baju dong." Lanjutnya.
Renata hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan gadis muda itu. Awalnya, ia kira jika kami akan mengobral seluruh pakaian yang kami punya. Menjual barang setengah pakai, yang masih bagus tentunya.
"Baju gimana? Emang mau ke mana?" Tanya Renata yang kemudian duduk di tepi tempat tidur.
"Buat nge-date!" Timpal ku dari balik tumpukan pakaian.
Aku bangun dari posisiku, kemudian duduk di salah satu sisi tempat tidur. Aku menepikan beberapa helai kain yang nyaris menimbun ku hidup-hidup di sana.
"Serius? Mau nge-date sama siapa?" Tanya Renata.
"Euhmmmm..... Sama....." Jawab Stefani sambil memainkan jarinya.
"Ah, lama! Udah sama gebetannya yang kemarin." Sambung ku.
'BRUKK!!!'
Yang benar saja, gadis itu malah melemparkan setumpuk pakaian yang ia pegang ke wajahku. Bukannya berterimakasih, malah melemparku dengan kain-kain ini. Dasar tidak tahu berterimakasih!
"Oooo, iya-iya aku tahu." Ucap Renata sambil mengangguk paham.
Sedetik kemudian, matanya mulai menyortir baju-baju di hadapannya. Dengan keahlian yang ia miliki, Renata mengambil beberapa potong pakaian pilihannya. Hal ini sepertinya sangat mudah baginya, itu wajar saja karena wanita yang satu ini memang selalu mementingkan penampilan. Tidak seperti aku dan Stefani, kami menggunakan pakaian apa saja asalkan nyaman. Tak peduli kombinasi warnanya cocok atau tidak.
"Aku udah pilihin beberapa look, coba kamu pilih atau coba satu-satu." Ujar Renata sambil menyodorkan beberapa helai kain berbagai warna.
Stefani mengangguk antusias, kemudian segera menerima barang tersebut. Dengan begitu bersemangat, ia mencoba untuk mengepas pakaian tersebut satu-persatu di depan cermin. Stefani melihat penampilan dirinya sendiri dari pantulan benda tersebut, sesekali ia berputar ke berbagai arah agar bisa melihat detail penampilannya secara keseluruhan.
Ekspresinya tampak begitu girang saat itu. Aku juga turut tersenyum kecil melihat gadis itu menemukan kebahagiaannya sendiri. Semoga saja ia akan terus begini sepanjang hari, cinta telah benar-benar membuatnya gila. Tapi ku harap untuk kali ini ia tak merasakan bagaimana sakit hati, meskipun kemungkinan besar itu pasti terjadi.
Ada hal yang membuatnya begitu yakin untuk jatuh cinta, yaitu Titan. Pria itu sukses menaklukkan hati gadis ini. Seseorang yang tak mudah jatuh cinta selama ini, karena takut jika akhirnya harus kecewa. Namun kali ini, pria itu mampu menjawab semua keraguannya.
"Apa rasa ini artinya akan sama dengan mengkhianati persahabatan kami berenam?" Batinku dalam hati.
Aku tak yakin jika hubungan aku dan Arka, Stefani dan Titan akan baik-baik saja. Mengingat selama ini kami semua menjadi satu dalam lingkar persahabatan. Aku takut Clara malah kecewa dengan keputusanku tadi. Aku pernah mengecewakan gadis itu karena tak bisa menepati janjiku, dan sekarang aku tak ingin membuatnya kembali kecewa untuk yang kedua kalinya. Aku takut jika persahabatan kami malah akan menjadi taruhannya. Semua orang pasti tak siap jika persahabatan ini harus kandas begitu saja.
***
Setelah selesai dengan urusan memilih baju untuk kencan dengan Titan besok, kami semua langsung tepar begitu saja di atas kasur. Bahkan karena sudah terlalu larut malam, Stefani tak sempat lagi membereskan kekacauan itu. Ia hanya memasukkan semua pakaian-pakaian itu secara asal ke dalam kantong plastik, kemudian meletakkannya di bawah tempat tidur. Setidaknya sekarang ada sedikit ruang untuk kami bertiga agar bisa beristirahat.
Besok pasti hari yang melelahkan bagi semuanya. Meskipun begitu, di sisi lain ada kebahagiaan yang tak bisa di deskripsikan. Tapi tetap saja untuk sekarang ini kami harus segera tidur, karena besok harus bangun lebih awal. Besok aku harus menjadi orang lain selama seharian penuh. Menjadi seorang gadis feminim, dengan selalu memakai rok kemana-mana. Semoga saja aku bisa bertahan dalam situasi itu.
Malam itu adalah malam penuh cerita, sekaligus malam terakhir ku bersama Renata. Karena setelah menikah nanti, wanita ini akan pergi dari tempat ini. Aku pasti akan merindukan nya, meskipun sesekali ia sempat membuatku kesal bahkan pernah membencinya.
__ADS_1
"Selamat malam semuanya!" Ucapku sambil membenarkan selimutku.
"Selamat malam!" Balas Stefani dan Renata secara bersamaan.
Biarkan kali ini aku terlelap dalam suasana malam. Tenggelam dalam lautan mimpi, yang membuatku merasa nyaman. Di saat purnama sedang memeluk bintang, bisikkan padanya jika aku sangat merindukannya. Sampaikan salam rinduku kepadanya, orang yang tak bisa ku gapai saat ini bahkan untuk selamanya. Angin malam, belai halus rambutnya dengan penuh kasih sayang. Buat ia tertidur dalam pangkuan sang malam.
***
"Sha! Bangun!"
"Eresha!"
"Bangun!!!"
Suara berisik dari mana itu, dari mana ia berasal. Cih! Komentar kasar tak berperi kemanusiaan itu telah membuatku terjaga dari tidur ku. Aku dapat merasakan ada sebuah tangan yang mengguncang-guncang tubuhku dengan kasar. Sesekali tak lupa ia juga menampar pipiku dengan pelan. Sebenarnya aku telah sadar sepenuhnya, hanya saja mataku masih enggan terbuka. Aku masih ingin tetap terlelap di sini untuk beberapa saat saja. Aku janji tak akan lama, tapi suara dan semua gangguan itu terus mencoba untuk membangunkan ku.
"Apaan sih!" Teriakku dengan mata setengah terbuka.
"Buruan siap-siap, sebentar lagi acaranya udah mau di mulai!" Ucap seseorang yang tak bisa ku kenali wajahnya.
Dengan seenaknya saja, orang itu menarik tanganku agar aku segera bangun. Mau tak mau aku harus bangkit, dan duduk di ujung tempat tidur. Dengan pandangan yang tak begitu jelas, aku berusaha mengumpulkan seluruh nyawaku. Perlahan namun pasti, akhirnya aku bisa melihat seluruh objek di depanku dengan nyata dan jelas.
Ternyata suara menyebalkan yang lancang mengusik tidurku tadi adalah Stefani. Gadis itu nyaris sudah sempurna dengan setelan kebaya miliknya. Kelihatannya aku sudah melewatkan sesuatu di sini.
"Kenapa semua orang sudah bersiap sepagi ini, memangnya jam berapa sekarang?" Gumam ku pelan.
"Jam setengah enam sha!" Teriaknya tepat di depanku.
Sementara otakku memproses kalimat yang di ucapkan oleh Stefani tadi, aku berusaha melihat jam di salah satu sisi kamarku, sambil mengucek mataku yang masih terasa berat. Mataku langsung terbelalak lebar ketika akhirnya aku mulai paham dengan yang di katakan gadis itu. Yang benar saja, aku sudah terlambat setengah jam dari yang ku perkirakan sebelumnya.
Dengan langkah yang sempoyongan, aku berjalan terhuyung-huyung tanpa arah menuju ke kamar mandi. Aku harus segera bersiap jika tak ingin melewatkan acara penting ini. Dengan kecepatan kilat, aku melakukan semuanya dengan cepat dan terburu-buru. Sudah tak banyak lagi waktu yang tersisa. Aku masih ingat pesan mama kemarin, ia bilang kami semua harus sudah selesai jam enam pagi. Karena di jam tersebut, semua wanita di rumah ini akan dirias sedemikian rupa oleh Mbak Dea yang kemarin datang.
"Mati aku!" Pikirku.
Setelah selesai dengan urusan di kamar mandi, aku segera keluar dengan handuk yang masih membungkus kepalaku. Dengan tergesa-gesa, aku mencoba menemukan kebaya milikku yang terakhir kali seingatku masih ada di dalam lemari.
"Ini pakaian lo udah gue siapin." Ujar Stefani yang sedang mengeringkan rambutnya.
Aku lantas segera berlari ngacir menuju kasur, untuk mengambil kebaya yang sudah di hamparkan di atasnya. Bagian yang paling membuatku stress adalah saat akan memakai kemben dan kain batik lilit. Kedua barang ini sangat tak cocok untuk orang yang sedang terburu-buru sepertiku.
"Stefani bantuin dong!" Ujarku yang sudah tak sabar.
"Dasar! Makanya jangan ngebo aja!" Balasnya sambil berdecak sebal.
Stefani membantuku untuk memakai kain batik lilit sebagai rok, yang bahkan aku sama sekali tak mengetahuinya. Tapi tidak dengan gadis ini yang begitu lihai dan terampil. Setelah selesai dengan urusan kebaya yang lumayan ribet, akhirnya kami segera turun ke bawah.
Yang aku rasakan saat ini adalah sesak seperti sedang terjepit. Namun lagi-lagi aku tak bisa berbuat apa-apa. Setidaknya aku hanya akan menggunakan pakaian ini hingga prosesi akad nikah selesai saja, setelah itu aku akan berganti kostum menggunakan gaun.
Sambil menunggu giliran untuk dirias wajahnya, aku mengeringkan rambutku dengan hairdryer di sudut ruangan. Terlihat jelas semua orang telah bersiap dengan pakaiannya masing-masing. Setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit, akhirnya sekarang tiba giliran ku untuk sirias.
Aku duduk di depan meja rias portabel yang sengaja di bawa oleh Mbak Dea dari rumahnya. Sesekali aku membenarkan posisi dudukku, dengan kaki yang terbelit kain batik. Perlahan namun pasti, Mbak Dea mulai memoleskan beberapa cairan kental berwarna mirip dengan kulit, yang mereka sebut sebagai foundation. Sesuai namanya, benda itu digunakan sebagai dasar untuk make up berikutnya. Kemudian di lanjutkan dengan memberikan detail warna yang mempertegas setiap sisi wajahku.
Sementara aku dan yang lainnya di rias, mama dan papa menyambut tamu yang sudah mulai berdatangan di depan. Untuk Renata sendiri, ia sedang dirias di ruangan yang berbeda. Dengan make up artist yang berbeda juga tentunya. Karena wanita itu perlu tampilan yang lebih menonjol dari yang lainnya, itu sebabnya untuk make up saja menghabiskan waktu hampir tiga jam.
Tak lupa selain merias wajahku, Mbak Dea juga menambahkan ornamen lainnya sebagai pemanis. Ia memakaikan anting berwarna silver dengan sentuhan batu permata sebagai pelengkapnya. Wanita ini juga menata rambutku dengan sedemikian rupa, dengan tampilan tetap dibiarkan tergerai begitu saja, namun diberikan sentuhan artistik dengan beberapa lilitan rumit nan indah.
Beberapa tamu telah menunggu di depan, untuk menyaksikan momen sakral ini. Untuk acara akad nikah, pihak keluarga dari kedua mempelai memutuskan untuk di laksanakan di rumah Renata. Sementara untuk acara selanjutnya akan dilaksanakan di rumah Kak Reksa.
Aku dan Stefani segera keluar dari rumah setelah selesai dirias, untuk menyambut beberapa tamu. Selain itu, para teman-temanku yang mendapatkan undangan juga telah menunggu di depan katanya. Mungkin lebih tepat jika aku menyebutnya dengan sahabat.
"Eresha! Stefani!" Sahut Clara yang datang dari kejauhan.
Aku melambaikan tanganku ke arah gadis itu yang berjalan menuju ke sini. Ia tak sendirian datang kemari, Clara datang bersama ketiga pria itu. Kelihatannya mereka semua barusaja datang. Padahal baru kemarin kami bertemu di sekolah, pada akhir pekan. Tapi tetap saja, kami selalu berpelukan untuk saling melepas rindu satu sama lain.
"Hampir pangling tadi, hehe..." Ujar Clara sambil tertawa kecil.
"Kalian berdua cantik banget hari ini." Tambah Adit yang berdecak kagum.
"Liat tuh ka! cewek lo ternyata cantik banget, ckckck...." Ujar Titan sambil menyenggol lengan Arka.
"Dia memang selalu cantik kok, enggak cuma hari ini aja." Balas Arka sambil tersenyum miring.
"Terserah kalian aja deh." Serahku pada mereka.
"By the way, lo juga cantik stef." Ucap Titan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Aku berdeham pelan sambil tersenyum ke arah mereka berdua. Ada dua hati yang sedang terbang ke angkasa saat ini. Melambung tinggi, tanpa peduli nantinya akan jatuh atau tetap melayang.
"Yuk, masuk!" Ajak ku.
Kami berjalan menuju ruang utama dari tempat ini, sebagai lokasi untuk dua orang saling mengikrarkan janji suci. Tadi aku sempat melihat Kak Reksa dan keluarganya yang masuk lewat pintu belakang. Sepertinya sekarang mereka semua sedang bersiap-siap.
Aku dan yang lainnya, duduk di barisan paling belakang. Alasan yang pertama adalah karena seluruh pihak keluarga dan para tamu akan memenuhi barisan paling depan dan seterusnya. Tapi ada satu alasan lagi yang membuatku dan kelima orang ini memilih barisan paling belakang, tentu saja kami ingin bersandar di tembok selama acara berlangsung. Kami terlalu malas untuk tetap duduk dengan tegak, bisa-bisa setelahnya punggung kami malah menjadi sakit karena terlalu lama menegang.
Dengan susah payah aku berusaha untuk duduk dengan pakaian ini. Benar-benar membuatku repot saja. Aku melipat kakiku ke belakang, seperti layaknya orang Jepang ketika sedang duduk. Tak bisa ku pungkiri jika kakiku akan terasa pegal, karena terlalu lama duduk dalam posisi seperti ini. Lagipula aku masih belum terbiasa dengan cara duduk seperti ini, karena biasanya aku tak pernah melakukan hal ini sebelumnya.
"Oh, iya. Mama kamu mana, kok nggak kelihatan dari tadi?" Tanyaku pada Arka yang tengah duduk di sebelahku.
"Ada kok, mama lagi bantuin Reksa buat siap-siap." Jelasnya.
"Ohh..." Ucapku dengan mulut yang membulat sempurna.
Tapi aku sama sekali tak melihat wanita lewat itu sedari tadi. Apa mungkin karena aku terlalu sibuk sendiri dengan mereka, sehingga aku tak begitu menghiraukan sekitarku. Tapi ya sudahlah, setidaknya wanita itu datang ke sini.
Untuk yang kesekian kalinya, aku kembali teringat dengan pria itu. Kenapa ia tak kunjung datang, atau mungkin Kak Sendy memang tak akan datang kemari. Untuk yang kesekian kalinya pula, aku kembali mengecek ponselku. Pesan yang kemarin ku kirimkan, tak kunjung ia baca. Sepertinya pria itu memang sengaja menjauh dari keluarga ini. Keluarga yang telah memberinya begitu banyak luka.
Aku mencoba meneleponnya untuk beberapa kali, sebelum acara di mulai. Tapi tetap saja, hasilnya selalu sama setiap harinya. Rasanya semua usaha yang ku lakukan saat ini sia-sia tanpa ada hasil sedikitpun.
"Nelepon siapa sih dari tadi? Kok kelihatannya nggak tenang gitu." Tanya Arka yang sepertinya menyadari perubahan emosiku.
"Kak Sendy..." Jawabku dengan hati-hati.
"Jadi itu yang membuat kamu sampai gelisah kayak gini?" Tanya Arka sekali lagi.
"Bukan gitu ka....." Balas ku.
Seperti yang sudah ku duga sebelumnya, pasti pria ini akan merasa cemburu jika aku melakukan hal itu. Tapi di sisi lain, ku harap ia mengerjakan dengan posisiku saat ini.
"Sejak seminggu yang lalu, dia hilang kontak ka." Jelasku mencoba memberikan pengertian kepadanya.
"Terus karena itu kamu nyariin dia?" Tanya nya untuk yang kesekian kalinya.
__ADS_1