
‘Ting! Tong!’
Tiba-tiba saja bel rumah Arka berbunyi dengan begitu
nyaring, itu artinya jika seseorang sedang menunggu untuk dibukakan pintu di
luar sana. Sontak hal itu membuat semua mata tertuju ke arah pintu kayu jati
tebal tersebut, termasuk si pemilik rumah ini yang sedang sibuk berkutat dengan
ponselnya. Sedetik kemudian, Arka langsung beranjak dari tempat duduknya dan menuju kea rah pintu
tersebut. Sesaat setelahnya ia kembali dengan membawa bungkusan besar di tangan
kanannya.
“Pizza nya udah datang nih.” ujar Arka sambil meletakkan
bungkusan box pizza tersebut di tengah-tengah kami.
“Makan enak nih kita!” sorak Adit dengan gembira.
“Giliran sekarang aja lo buka mulut!” sindir Arka dengsn
tajam.
“Kita memang sengaja ngasih waktu buat lo sama Eresha biar
ngobrol. Karena kita tahu kalau belakangan ini kalian lagi sering berantem.”
jelas Titan yang juga mulai buka suara.
“Kita enggak gitu kok, bener kan Arka?” bantahku dengan
segera.
“Iya bener, kita baik-baik aja kok.” balas Arka sambil
mengangguki ucapanku barusan.
“Emang kalian tau dari siapa?” tanyaku kepada mereka semua.
Sedetik kemudian, mereka semua langsung mengarahkan jari
telunjuknya kea rah Stefani sambil memasang raut wajah yang tak menyenangkan.
Sementara, gadis itu hanya nyengir seolah tak berdosa. Aku menghela nafasku
dengan kasar sambil berdecak sebal, setelah mengetahui perbuatan gadis itu. Aku
tak tahu, entah apa lagi yang ia katakan kepada mereka semua soal aku dan Arka.
“Stef…” ucapku sambil menatapnya dengan sinis.
“Maaf sha…. Tapi kalian emang lagi sering berantem kan
akhir-akhir ini?” dalihnya secara gamblang.
“Heh! Emangnya lo tau dari mana soal ini? Jangan nyebarin
hoax deh!” ucap Arka dengan nada bicara ketus.
“Emang bener kok, gue liat Eresha belakangan ini sering
keliatan galau gitu.” jelas Stefani.
Arka menatapku sekilas, dengan sorot mata yang sulit untuk
di artikan begitu saja. Kemudian ia menghela nafsnya dengan kasar ke udara.
“Emang bener sha?” tanya Arka dengan wajah yang sedikit di
tekuk.
“Udahlah, ngapain bahas soal itu. Lagian kan itu udah yang
kemarim-kemarin, buktinya sekarang aku udah baik-baik aja kan?” jelasku.
“Gue pikir enggak gitu sha, hari ini lo malah keliatan lebih
buruk.” Timpal Clara yang turut di angguki oleh Stefani dan Arka.
Aku lantas menurunkan pandanganku dari mereka semua.
Sekarang ini aku merasa disudutkan oleh mereka semua, dan hal itu membuatku
mati kutu karena telah kehabisan kata-kata. Ternyata tak semudah itu untuk
mengelabuhi mereka, meskipun aku telah berusaha untuk mengelak. Mereka terlalu
membuatku merasa terancam, karena telah ikut campur soal masalahku.
“Mendingan sekarang kita makan aja ya, jangan ingatkan
Eresha soal itu lagi.” ucap Arka yang berusaha mengalihkan pembicaraan, dengan
aku sebagai topik utamanya.
“Maafin aku ya sha, gara-gara aku kamu jadi kayak gini.”
ujar Stefani sambil menepuk pelan bahuku.
“its oke, stef…” balasku singkat.
Setelah melupakan kejadian barusan, aku segera kembali
menjadi diriku sendiri dan melupakan semua permasalahanya. Mungkin Kak Sendy
memang tak akan pernah dating kemari lagi, untuk sekedar menemuiku atau mungkin
menyapa saja ia sudah tak sudi lag. Aku mencoba untuk tak ambil pusing soal hal
itu, lagipula acara ini tetap akan berlangsung dengan atau tanpa dirinya. Kini
aku mulai terlarut dalam suasana malam yang berubah menjadi kian hangat karena
hadirnya mereka. Lima anak manusia yang Tuhan titipkan kepadaku untuk menjadi
sahabatku, dan salah satunya kini telah kembali menjadi penghuni hati kecilku
yang sempat kosong ini.
Kami semua mulai menyantap makan malam kami dengan khidmad,
terkadang juga di selingi dengan canda tawa yang membuatku sedikit merasa lebih
baik. Mengasingkan diri di sini bersama mereka semua, jauh dari keramaian pesta
pernikahan itu adalah salah satu hal terbaik yang pernah ku alami. Berada dalam
lingkaran persahabatan yang membuat kami
saling bahagia.
***
Sudah hampir tiga puluh menit, kami berada di dalam rumah
ini. Sekarang saatnya bagi kami untuk keluar dan mengecek apa yang sedang
terjadi di luar sana, tentunya setelah membereskan beberapa kekacauan kecil itu
dan membuatnya kembali sebagai mana mestinya. Pasti kami telah melewatkan
banyak hal selama mengurung diri di tempat itu tadi.
“Sha, kita sekalian mau pamitan pulang ya. Udah malam
soalnya, enggak enak kalau lama-lama.” ujar Clara kemudian turut di angguki
oleh yang lainnya.
“Iya nih sha, takutnya kalau lama-lama ntar kita pulangnya
malah kemaleman.” sambung Adit yang turut menambahi perkataan Clara tadi.
“Oh iya udah, enggak apa-apa kok. Aku ngerti kondisi kalian
kok.” balasku sambil tersenyum kecil.
“Kita pamitan sama keluarga kamu dulu ya.” ujar Titan.
Aku mengangguk, mengiyakan perkataan mereka. Sementara
menunggu Adit dan yang lainnya selesai berpamitan, aku dan Stefani sempat
mengobrol ringan sebentar.
“Stef…. Jadinya kamu enggak jadi nge-date bareng Titan malam
ini?” tanyaku pada gadis itu.
“Enggak.” jawab Stefani singkat, seolah itu bukan sesuatu
yang buruk baginya.
Aku sontak terkejut bukan main mendengar jawaban dari gadis
itu barusan, terlebih ia mengucapkan kalimat itu dengan begitu santai.
“Loh, kenapa kok gitu sih?” tanyaku yang masih tak habis
pikir.
“Kata Titan di undur sehari aja, besok kita bakalan jalan
kok. Rencananya enggaku di batalin, cuma di undur doang.” jelasnya secara
gambling.
“Kok tiba-tiba di undur gitu sih? Emangnya ada masalah apa?”
tanyaku sekali lagi.
Jawaban yang di berikannya barusan itu, belum cukup untuk
menjawab semua rasa penasaranku. Lagipula apa alasannya yang membuat pria itu
mendadak membatalkan janjinya seperti ini. Padahal kemarin gadis ini telah
mempersiapkan semuanya dengan sempurna.
“Katanya hari ini jadwalnya tabrakan. Titan kira acara ini
bakalan cepat kelar, ya kira-kira sore atau sekitar jam tujuh malam gitu.
Ternyata malah meleset jauh dari yang kita perkirakan.” jelasnya secara detail.
“Maafin aku ya.” Ucapku sambil menurunkan pandanganku.
“Loh, kenapa kok malah lo yang minta maaf sha?” tanya
Stefani padaku.
“Ya maaf, abisnya gara-gara acara ini kalian enggak jadi
nge-date kan.” jelasku.
“Ini bukan salah kamu sha, lagian acara ini jauh lebih
penting daripada sekedar acara nge-date yang belum tentu jelas gimana
akhirnya.” ujar gadis di hadapanku itu dengan wajah serius.
“Acara nya Kak Renata jauh lebih penting, karena ini
__ADS_1
menyangkut dua hati.” lanjutnya.
“Acara nge-date kamu sama Titan juga penting kan buat kamu?
Itu juga sama-sama tentang dua hatai anak manusia yang sedang jatuh cinta.”
jelasku dengan kata-kata yang telah ku susun sedemikian rupa, agar terdengar
lebih puitis.
“Tapi kan gue enggak tahu akhirnya akan gimana, bisa jadi
happy ending atau malah sad ending.” Ucapnya padaku.
“Jadi ya kita jalani aja dulu, anggap semua hal yang terjadi
nanti kedepannya sebagai kejutan. Dan seperti yang pernah lo bilang ke gue, ada
saatnya bagi cinta bekerja, jadi sekarang kita ikuti aja dulu permainannya.”
balasnya dengan sebuah teori menakjubkan, yang entah dari mana ia bisa
mendapatkannya.
“Hei! Kita balik dulu ya, semuanya!” sahut sebuah suara dari
belakang.
Ternyata itu adalah Adit, Titan dan Clara yang baru saja
selesai dengan urusannya. Kelihatannya mereka bertiga baru saja mendapatkan
bingkisan berupa souvenir berbahan dasar keramik, dan tentunya makan malam
yang di bungkus dalam plastic
transparan. Pasti mama yang memberikan semua ini kepada mereka, lagipula totebag
itu memang di peruntukkan bagi para tamu yang datang sebagai ucapan terimakasih
dari keluarga besar kami.
“Wih, lumayan nih buat di makan sendiri di kamar lo ntar
malam.” ucap Arka sambil sedikit bercanda dengan salah satu sobat karibnya itu.
“Haha…. Iri bilang bos.” balas Adit dengan selera humor yang
tak kalah dengan Arka.
“Dih! Ngapaim juga gue iri, lagian ntar gue bisa dapetin
makanan yang jauh lebih banyak dari lo.” balas Arka.
Aku tak pernah bisa mengerti bagaimana selera humor para
pria saat sedang bercanda seperti ini. Pembahasan di setiap obrolan mereka tak
pernah bisa di mengerti oleh kaum hawa. Mungkin begitu juga sebaliknya dengan
mereka. Itu sebabnya tak jarang jika antara pria dan wanita berseteru karena
perselisihan pendapat. Padahal menurutku, setiap manusia memang sengaja di
ciptakan dengan banyak perbedaan, agar mereka bisa saling melengkapi nantinya.
Bayangkan saja jika semua manusia di muka bumi ini memiliki pola piki yang
sama, dan selalu sama dalam semua hal, bayangkan saja jika mereka semua menjadi
satu frekuensi. Tentunya kehidupan di muka bumi ini tak akan seceria sekarang,
semesta akan terlalu monoton dan membosankan. Tak akan ada menariknya sama
sekali untuk di lihat, namun karena perbedaan itulah yang membuat semesta
menjadi seperti sekarang ini.
“Yuk, kita anterin sampai di depan.” ujar Stefani dengan
antusias.
Sesaat kemudian, kami semua segera beranjak dari tempat itu
untuk mengantarkan mereka hingga di ambang pintu gerbang saja.
“Hati-hati di jalan ya!” ujarku dan Stefani secara
bersamaan.
Hari ini Clara dan Adit pergi dan pulang bersama. Bukan
hanya itu, belakangan ini aku juga sering melihat Adit membonceng gadis itu
dengan sepeda motornya. Aku curiga jika diam-diam Adit sedang berusaha untuk
mendekati Clara. Sementara itu, Stefani terlihat sedang melambaikan tangannya
sambil menatap punggung pria itu yang perlahan menghilang dari pandangannya.
“Yuk masuk!” ajak Arka sambil merangkul pundakku.
Aku mengangguk, mengiyakan perkataannya. Aku tak tahu kapan
acara ini akan segera berakhir, aku bahkan belum sempat mengecek jam tanganku
sejak kami berada di rumah Arka tadi. Ku harap acara ini segera selesai dan
kami bisa kembali ke rumah, aku sudah benar-benar kelelahan. Bisa-bisa aku akan
tertidur di sini jika aku tak bisa menahan kantukku sebentar lagi. Lagipula,
besok adalah hari Senin dan pastinya aku tak menyukai itu Aku sendiri juga tak
tahu kenapa orang-orang membenci hari itu, termasuk aku. Mungkin mereka semua
belum bisa move on dari hari liburnya kemarin.
selesai. Aku tahu jika ini adalah momen sekali seumur hidup yang paling
menyenangkan bagi Renata, tapi tidak untuk kami yang nyaris tepar. Sepertinya
aku harus lebih bisa bersabar lagi, sebentar lagi hari ini akan habis.
“Apa bener sama apa yang dibilang Stefani tadi?” tanya Arka
secara tiba-tiba padaku.
Aku tak tahu harus berkata apa, lagipula kenapa ia harus
menanyakan tentang hal itu di saat aku mulai lupa.
“Sampai segitunya kamu mikirin dia? Bahkan dari jauh-jauh
hari sebelumya.” lanjutnya.
“Kenapa sih, harus bahas soal itu lagi di saat aku mulai
lupa.” balasku.
“Kamu belum lupa soal itu sha, aku tau itu.” ucapnya dengan
tatapan mata yang meyakinkan.
Aku hanya bisa menurunkan pandanganku darinya, aku tak ingin
membalas sorot matanya atau sekedar membiarkannya menatapku. Aku tak ingin jika
pria ini mencuri lebih banyak infoormasi soal suasana hatiku saat ini. Entah
kenapa belakangan ini aku selalu bertemu dengan orang-orang yang sangat
menyebalkan bagiku. Setiap orang yang ku temui akhir-akhir ini selalu menjadi
sok tau dengan kondisiki saat ini, tak terkecuali dengan Arka maupun Stefani.
“Entah pria itu yang memang enggak akan bisa hilang dari
ingatan kamu karena memang sudah di takdirkan untuk seperti itu, atau memang
kamu sendiri yang belum siap untuk semua ini.” jelasnya.
Entah bagaimana caranya, tapi kalimat yang barusan itu mampu
membuatku bungkam dan tak bisa berkutik sedikitpun. Rasanya kalimat itu
benar-benar menusuk tepat di jantungku. Itu adalah satu kalimat yang mampu membuatku terpukul mundur. Pria ini
tahu persis bagaimana caranya untuk menyidirku dengan sekali jurus saja seperti
ini.
“Sampai kamu benar-benar lupa soal Kak Sendy, atau mungkin
enggak akan pernah sama sekali, aku enggak akan pernah pergi.” ucap pria itu.
“Gimana kalau suatu hari kamu bakalan pergi dan ingkari
janji yang kamu buat ini.” balasku dengan nada sendu.
“Kamu bisa anggap aku sebagai pembohong besar sha, kamu
boleh benci sama aku.” jelasnya.
“Mendingan enggak usah buat janji ka, aku tahu kok kalau
kamu bakalan pergi suatu saat nanti. Aku enggak mau membenci kamu cuma karena
hal itu nantinya.” ujarku.
“Maksudnya?” tanya pria itu padaku.
Aku menarik nafasku dalam-dalam sebelum mulai berbicara
kembali. Karena pada kenyataannnya, ini adalah salah satu hal yang sulit untuk
ku akui begitu saja. Meskipun aku belum bisa mencintainnya dengan
sungguh-sungguh, tapi aku tak siap untuk kehilangannya. Dan sekarang aku sedamg
berusaha untuk hal itu, untuk menerima kehadirannya tanpa paksaan sama sekali.
“Suatu saat kamu bakalan pergi jauh dari aku ka…” lirihku
pelan.
“Aku enggak akan pernah ngelakuin hal itu sha, percaya sama
aku.” Dalihnya.
“Sayangnya aku udah enggak bisa percaya soal itu.” balasku.
“Suatu hari nanti kamu bakalan menjemput masa depan kamu ke
seberang pulau ini. Bahkan saat itu kita bukan hanya terbentang jarak sekedar
antar kota atau negeri, tapi benua ka….”
jelasku dengan berat hati.
Sesaat kemudian, pria itu tertegun sejenak. Dalam pikirannya
sedang berusaha untuk memproses dan mencerna semua maksud dari perkataanku
barusan.
“Jadi, soal beasiswa itu ya?” tanya Arka padaku.
Aku mengangguk mengiyakan perkatannya, karena memang benar
__ADS_1
jika itulah yang aku maksud barusan.
“Aku bakalan nyempetin pulang buat ketemu sama kamu kok, setiap
tahunnya kan bakalan ada liburan semester.” jelasnya padaku.
“Ini bukan hanya sekedar Indonesia dan Australia ka…..”
balasku yang berusaha meyakinkan dirinya
“Korea dan Australia.” lanjutku.
“Maksud kamu?” tanya Arka yang masih tak mengerti dengan
maksud dari perkataanku barusan.
Sebenarnya ini adalah hal yang sudah aku impikan sejak masih
duduk di bangku sekolah menengah pertama. Aku tak menyangka jika cita-citaku
itu akan menjadi sesuatu yang menyakitkan untuk saat ini. Di saat hal ini akan
menjadi keputusan terberat dalam hidupku, ketika aku harus memilih salah satu
di antara mereka. Antara cinta atau cita-cita, dua hal yang sangat sulit jika
memintaku untuk memilihnya.
“Setelah tamat SMA nanti, aku bakalan lanjutin studi aku di
Korea. Aku udah aplikasikan beasiswa ini beberapa bulan yang lalu dan sekarang
tinggal nunggu waktu keberangkatan. Lagipula ini udah cita-cita aku sejak SMP
ka, sama seperti kamu.” jelasku.
Ini memang bukanlah hal yang mudah bagi kami berdua, di saat
cita-cita menuntut dua insan untuk saling bepencar. Ini bukanlah pertama
kalinya aku mengalami hal semacam ini. Program pertukaran pelajar waktu itu
nyaris membuatku terjebak di situasi yang sama.
“Kita pasti bisa buat ngadepin itu, selesai kuliah nanti
kita pasti ketemu.” ucapnya.
“Percaya sama aku, pasti bakalan selalu ada jalan buat kita
ketemu lagi.” lanjutnya.
Rasanya aku memang selalu di takdirkan untuk selalu
sendirian, sejak dulu selalu seperti itu. Semua orang yang awalnya selalu berada
di dekatku, perlahan pergi dan menghilang dari hidupku. Bahkan hal itu sudah
terjadi sejak aku masih bayi. Entah hal apa yang membuat mereka selalu
menghindar dariku. Pada kenyataannya semua orang akan selalu datang dan pergi
pada waktunya, walau sebenarnya aku masih ingin agar mereka bisa lebih lama
lagi berada di sini.
“Janji setelah selesai kuliah nanti kita bakalan ketemu
lagi?” ucapku sambil mengacungkan salah satu jari kelingkingku.
“Aku janji, bahkan aku akan cari kamu kemanapun itu.”
balasnya seraya mengaitkan jari kelingkinya di jariku.
“Aku juga akan cari pria itu sampai ketemu.” ucapku.
“Siapa?” tanya Arka dengan raut wajah yang berubah drastis.
“Kamu mau tau namanya siapa?” tanyaku lagi sambil tersenyum
kecil.
Arka lantas menganggukkan kepalanya dengan antusias. Di sisi
lain, aku juga bisa menangkap dengan jelas ekspresi penasaran sekaligus ragu.
“Nama panjangnya Arka Ray Lionando, biasanya dia di panggil
Arka.” ucapku sambil tersenyum puas.
“Dasar kamu ya, bisa aja. Aku kira tadi siapa.” balasnya
sambil mengacak-acak puncak rambutku.
Tak lama kemudian seseorang datang menghampiri kami. Awalnya
ku kira itu adalah salah satu tamu yang ingin duduk di sini. Tapi aku malah di
buat terkejut bukan main di buatnya, karena ternyata orang tersebut adalah Kak
Rayhan yang merupakan teman sekamar nya Kak Sendy. Seingatku, pria ini yang
menemani Kak Sendy saat kembali ke kampung halamannya kemarin. Harus nya jika
Kak Rayhan sudah kembali ke sini, begitu pula dengan Kak Sendy. Namun hanya Kak
Rayhan saja yang datang kemari, kali ini pria itu tengah berdiri di depanku
sambil menyandang tabung gambar yang ia bawa. Aku tak tahu apakah pria ini baru
saja selesai kuliah atau bagaimana, hingga ia turut membawa benda itu saat
datang kemari. Tapi aku tak yakin jika Kak Rayhan dan Kak Sendy berada di satu
jurusan yang sama.
Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru tempat ini,
namun aku tak medapati apa yang sedang ku cari saat itu. Kemungkinan Kak Sendy
juga berada di sini atau mungkin sedang bertemu dengan Renata. Namun pada
kenyatannya aku sama sekali tak melihat batang hidungnya sedikitpun. Tapi
otakku selalu memberi perintah pada diriku agar selalu berpikir positif, bahkan
di saat seperti ini. Bahkan hal itu pula yang membuatku terus-menerus berharap
agar Kak Sendy benar ada di sini. Ternyata aku masih begitu mengharapkan
kehadirannya hingga sekarang, bahkan ketika hari ini hampir usai. Aku tak tahu
apakah kali ini benar-benar ada keajaiban atau tidak sama sekali.
“Nyariin Sendy ya?” tanya Kak Rayhan padaku.
Aku langsung mengangguk dengan cepat. Ku harap pria ini mau
memberitahuku dimana keberadan pria itu, karena ia lah yang terakhir kali
bersama Kak Sendy.
“Sendy lagi enggak ada di sini.” Ucapnya.
Satu hal yang pasti ku rasakan saat itu adalah kecewa,
karena mungkin aku telah berharap banyak soal kedatangannya hari ini.
“Terus Kak Sendy ada dimana dong?” tanyaku kepada pria itu.
“Maaf, tapi gue enggak bisa ngasih tau soal itu sekarang.
Gue enggak mau malah ngerusak suasana bahagia mala mini.” Jelasnya.
Aku bahkan tak tahu apa alasannya sehingga ia tak ingin
memberitahukan soal itu kepadaku. Aku curiga, jangan-jangan Kak Sendy sengaja
meminta temannya ini untuk tidak membocorkan keberadaannya. Meski aku telah
berusaha untuk melupakan dan bersikap bodo amat atas semua yang terjadi
padanya, nyatanya aku tak pernah bisa benar-benar untuk melupakannya. Diriku
tak bisa bersikap seperti orang munafik, karena aku memang tak bisa manafikkan
rasa ini. Arka benar, pria yang satu itu belum benar-benar menghilang dari
hatiku. Ia masih mengisi sebagian dari tempat itu. Tapi mungkin diriku telah
benar-benar enyah dari hati pria itu. Aku yang salah di sini, tak seharusnya
aku memaksakan rasa ini untuk ada dulunya. Jika aku bisa memutar waktu, mungkin
aku lebih memilih untuk tak pernah mengingatnya lagi. Aku akan membiarkan
memori itu hilang begitu saja, tanpa perlu di ingatkan.
Orang-orang memang benar, mereka bilang rasa penyesalan
selalu datang di akhir. Jika berada di awal, namanya pasti pemanasan. Tapi ada
satu pelajaran yang bisa ku ambil dari sini. Penyesalan di takdirkan untuk
berada di akhir, agar manusia berani untuk mengambil resiko. Jika konsepnya tak
seperti ini, mungkin manusia tak akan pernah berani untuk mengambil sebuah
keputusan penting di dalam hidupnya.
“Mendingan lo buka ini aja nanti pas udah sampai di rumah.
Mungkin lo bakalan nemuin jawaban yang lo perlukan di sini nanti.” Ujarnya
padaku.
“Ini apa isinya?” tanyaku.
“Barang-barang dari Sendy buat lo.” jawab Kak Rayhan sambil
menyodorkan tabung gambar tersebut kepadaku.
“Barang apa maksudnya?” tanyaku sekali lagi, kemudian segera
menerima benda yang ia sodorkan kepadaku tersebut.
“Banyak, gue enggak bisa sebutin itu satu-satu. Salah
satunya dia juga ada nyelipin hadiah buat ulang tahun lo kemarin.” jelasnya.
“Tapi gue saranin, supaya lo buka tabung ini pas udah di
rumah aja. Soalnya Sendy enggak mau kalau sampai lo ngilangin salah satu barang
pemberian dari dia.” lanjutnya.
Aku tak mengerti lagi dengan jalan pikir pria yang sempat ku
kagumi itu. Di satu sisi ia seolah menyuruhku untuk mundur, namun di sisi lain
ia juga memberikanku isyarat agar tetap kembali menejarnya. Meskipun sebenarnya
aku tak ingin terus-terusan di pandang sebagai gadis murahan seperti ini. Sudah
cukup aku mengemis cinta padanya seperti gadis yang tak tahu malu dan tak punya
harga diri sama sekali. Tak seharusnya rasa cinta ini membuatku mengemis seperti
ini, bukan cinta namanya jika memaksamu untuk mengemis. Tak seharusnya
__ADS_1
seseorang menjadi merasa di rendahkan seperti ini atas nama cinta.s