Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 68


__ADS_3

 


 


‘Ting! Tong!’


Tiba-tiba saja bel rumah Arka berbunyi dengan begitu


nyaring, itu artinya jika seseorang sedang menunggu untuk dibukakan pintu di


luar sana. Sontak hal itu membuat semua mata tertuju ke arah pintu kayu jati


tebal tersebut, termasuk si pemilik rumah ini yang sedang sibuk berkutat dengan


ponselnya. Sedetik kemudian, Arka langsung beranjak  dari tempat duduknya dan menuju kea rah pintu


tersebut. Sesaat setelahnya ia kembali dengan membawa bungkusan besar di tangan


kanannya.


“Pizza nya udah datang nih.” ujar Arka sambil meletakkan


bungkusan box pizza tersebut di tengah-tengah kami.


“Makan enak nih kita!” sorak Adit dengan gembira.


“Giliran sekarang aja lo buka mulut!” sindir Arka dengsn


tajam.


“Kita memang sengaja ngasih waktu buat lo sama Eresha biar


ngobrol. Karena kita tahu kalau belakangan ini kalian lagi sering berantem.”


jelas Titan yang juga mulai buka suara.


“Kita enggak gitu kok, bener kan Arka?” bantahku dengan


segera.


“Iya bener, kita baik-baik aja kok.” balas Arka sambil


mengangguki ucapanku barusan.


“Emang kalian tau dari siapa?” tanyaku kepada mereka semua.


Sedetik kemudian, mereka semua langsung mengarahkan jari


telunjuknya kea rah Stefani sambil memasang raut wajah yang tak menyenangkan.


Sementara, gadis itu hanya nyengir seolah tak berdosa. Aku menghela nafasku


dengan kasar sambil berdecak sebal, setelah mengetahui perbuatan gadis itu. Aku


tak tahu, entah apa lagi yang ia katakan kepada mereka semua soal aku dan Arka.


“Stef…” ucapku sambil menatapnya dengan sinis.


“Maaf sha…. Tapi kalian emang lagi sering berantem kan


akhir-akhir ini?” dalihnya secara gamblang.


“Heh! Emangnya lo tau dari mana soal ini? Jangan nyebarin


hoax deh!” ucap Arka dengan nada bicara ketus.


“Emang bener kok, gue liat Eresha belakangan ini sering


keliatan galau gitu.” jelas Stefani.


Arka menatapku sekilas, dengan sorot mata yang sulit untuk


di artikan begitu saja. Kemudian ia menghela nafsnya dengan kasar ke udara.


“Emang bener sha?” tanya Arka dengan wajah yang sedikit di


tekuk.


“Udahlah, ngapain bahas soal itu. Lagian kan itu udah yang


kemarim-kemarin, buktinya sekarang aku udah baik-baik aja kan?” jelasku.


“Gue pikir enggak gitu sha, hari ini lo malah keliatan lebih


buruk.” Timpal Clara yang turut di angguki oleh Stefani dan Arka.


Aku lantas menurunkan pandanganku dari mereka semua.


Sekarang ini aku merasa disudutkan oleh mereka semua, dan hal itu membuatku


mati kutu karena telah kehabisan kata-kata. Ternyata tak semudah itu untuk


mengelabuhi mereka, meskipun aku telah berusaha untuk mengelak. Mereka terlalu


membuatku merasa terancam, karena telah ikut campur soal masalahku.


“Mendingan sekarang kita makan aja ya, jangan ingatkan


Eresha soal itu lagi.” ucap Arka yang berusaha mengalihkan pembicaraan, dengan


aku sebagai topik utamanya.


“Maafin aku ya sha, gara-gara aku kamu jadi kayak gini.”


ujar Stefani sambil menepuk pelan bahuku.


“its oke, stef…” balasku singkat.


Setelah melupakan kejadian barusan, aku segera kembali


menjadi diriku sendiri dan melupakan semua permasalahanya. Mungkin Kak Sendy


memang tak akan pernah dating kemari lagi, untuk sekedar menemuiku atau mungkin


menyapa saja ia sudah tak sudi lag. Aku mencoba untuk tak ambil pusing soal hal


itu, lagipula acara ini tetap akan berlangsung dengan atau tanpa dirinya. Kini


aku mulai terlarut dalam suasana malam yang berubah menjadi kian hangat karena


hadirnya mereka. Lima anak manusia yang Tuhan titipkan kepadaku untuk menjadi


sahabatku, dan salah satunya kini telah kembali menjadi penghuni hati kecilku


yang sempat kosong ini.


Kami semua mulai menyantap makan malam kami dengan khidmad,


terkadang juga di selingi dengan canda tawa yang membuatku sedikit merasa lebih


baik. Mengasingkan diri di sini bersama mereka semua, jauh dari keramaian pesta


pernikahan itu adalah salah satu hal terbaik yang pernah ku alami. Berada dalam


lingkaran persahabatan  yang membuat kami


saling bahagia.


***


Sudah hampir tiga puluh menit, kami berada di dalam rumah


ini. Sekarang saatnya bagi kami untuk keluar dan mengecek apa yang sedang


terjadi di luar sana, tentunya setelah membereskan beberapa kekacauan kecil itu


dan membuatnya kembali sebagai mana mestinya. Pasti kami telah melewatkan


banyak hal selama mengurung diri di tempat itu tadi.


“Sha, kita sekalian mau pamitan pulang ya. Udah malam


soalnya, enggak enak kalau lama-lama.” ujar Clara kemudian turut di angguki


oleh yang lainnya.


“Iya nih sha, takutnya kalau lama-lama ntar kita pulangnya


malah kemaleman.” sambung Adit yang turut menambahi perkataan Clara tadi.


“Oh iya udah, enggak apa-apa kok. Aku ngerti kondisi kalian


kok.” balasku sambil tersenyum kecil.


“Kita pamitan sama keluarga kamu dulu ya.” ujar Titan.


Aku mengangguk, mengiyakan perkataan mereka. Sementara


menunggu Adit dan yang lainnya selesai berpamitan, aku dan Stefani sempat


mengobrol ringan sebentar.


“Stef…. Jadinya kamu enggak jadi nge-date bareng Titan malam


ini?” tanyaku pada gadis itu.


“Enggak.” jawab Stefani singkat, seolah itu bukan sesuatu


yang buruk baginya.


Aku sontak terkejut bukan main mendengar jawaban dari gadis


itu barusan, terlebih ia mengucapkan kalimat itu dengan begitu santai.


“Loh, kenapa kok gitu sih?” tanyaku yang masih tak habis


pikir.


“Kata Titan di undur sehari aja, besok kita bakalan jalan


kok. Rencananya enggaku di batalin, cuma di undur doang.” jelasnya secara


gambling.


“Kok tiba-tiba di undur gitu sih? Emangnya ada masalah apa?”


tanyaku sekali lagi.


Jawaban yang di berikannya barusan itu, belum cukup untuk


menjawab semua rasa penasaranku. Lagipula apa alasannya yang membuat pria itu


mendadak membatalkan janjinya seperti ini. Padahal kemarin gadis ini telah


mempersiapkan semuanya dengan sempurna.


“Katanya hari ini jadwalnya tabrakan. Titan kira acara ini


bakalan cepat kelar, ya kira-kira sore atau sekitar jam tujuh malam gitu.


Ternyata malah meleset jauh dari yang kita perkirakan.” jelasnya secara detail.


“Maafin aku ya.” Ucapku sambil menurunkan pandanganku.


“Loh, kenapa kok malah lo yang minta maaf sha?” tanya


Stefani padaku.


“Ya maaf, abisnya gara-gara acara ini kalian enggak jadi


nge-date kan.” jelasku.


“Ini bukan salah kamu sha, lagian acara ini jauh lebih


penting daripada sekedar acara nge-date yang belum tentu jelas gimana


akhirnya.” ujar gadis di hadapanku itu dengan wajah serius.


“Acara nya Kak Renata jauh lebih penting, karena ini

__ADS_1


menyangkut dua hati.” lanjutnya.


“Acara nge-date kamu sama Titan juga penting kan buat kamu?


Itu juga sama-sama tentang dua hatai anak manusia yang sedang jatuh cinta.”


jelasku dengan kata-kata yang telah ku susun sedemikian rupa, agar terdengar


lebih puitis.


“Tapi kan gue enggak tahu akhirnya akan gimana, bisa jadi


happy ending atau malah sad ending.” Ucapnya padaku.


“Jadi ya kita jalani aja dulu, anggap semua hal yang terjadi


nanti kedepannya sebagai kejutan. Dan seperti yang pernah lo bilang ke gue, ada


saatnya bagi cinta bekerja, jadi sekarang kita ikuti aja dulu permainannya.”


balasnya dengan sebuah teori menakjubkan, yang entah dari mana ia bisa


mendapatkannya.


“Hei! Kita balik dulu ya, semuanya!” sahut sebuah suara dari


belakang.


Ternyata itu adalah Adit, Titan dan Clara yang baru saja


selesai dengan urusannya. Kelihatannya mereka bertiga baru saja mendapatkan


bingkisan berupa souvenir berbahan dasar keramik, dan tentunya makan malam


yang  di bungkus dalam plastic


transparan. Pasti mama yang memberikan semua ini kepada mereka, lagipula totebag


itu memang di peruntukkan bagi para tamu yang datang sebagai ucapan terimakasih


dari keluarga besar kami.


“Wih, lumayan nih buat di makan sendiri di kamar lo ntar


malam.” ucap Arka sambil sedikit bercanda dengan salah satu sobat karibnya itu.


“Haha…. Iri bilang bos.” balas Adit dengan selera humor yang


tak kalah dengan Arka.


“Dih! Ngapaim juga gue iri, lagian ntar gue bisa dapetin


makanan yang jauh lebih banyak dari lo.” balas Arka.


Aku tak pernah bisa mengerti bagaimana selera humor para


pria saat sedang bercanda seperti ini. Pembahasan di setiap obrolan mereka tak


pernah bisa di mengerti oleh kaum hawa. Mungkin begitu juga sebaliknya dengan


mereka. Itu sebabnya tak jarang jika antara pria dan wanita berseteru karena


perselisihan pendapat. Padahal menurutku, setiap manusia memang sengaja di


ciptakan dengan banyak perbedaan, agar mereka bisa saling melengkapi nantinya.


Bayangkan saja jika semua manusia di muka bumi ini memiliki pola piki yang


sama, dan selalu sama dalam semua hal, bayangkan saja jika mereka semua menjadi


satu frekuensi. Tentunya kehidupan di muka bumi ini tak akan seceria sekarang,


semesta akan terlalu monoton dan membosankan. Tak akan ada menariknya sama


sekali untuk di lihat, namun karena perbedaan itulah yang membuat semesta


menjadi seperti sekarang ini.


“Yuk, kita anterin sampai di depan.” ujar Stefani dengan


antusias.


Sesaat kemudian, kami semua segera beranjak dari tempat itu


untuk mengantarkan mereka hingga di ambang pintu gerbang saja.


“Hati-hati di jalan ya!” ujarku dan Stefani secara


bersamaan.


Hari ini Clara dan Adit pergi dan pulang bersama. Bukan


hanya itu, belakangan ini aku juga sering melihat Adit membonceng gadis itu


dengan sepeda motornya. Aku curiga jika diam-diam Adit sedang berusaha untuk


mendekati Clara. Sementara itu, Stefani terlihat sedang melambaikan tangannya


sambil menatap punggung pria itu yang perlahan menghilang dari pandangannya.


“Yuk masuk!” ajak Arka sambil merangkul pundakku.


Aku mengangguk, mengiyakan perkataannya. Aku tak tahu kapan


acara ini akan segera berakhir, aku bahkan belum sempat mengecek jam tanganku


sejak kami berada di rumah Arka tadi. Ku harap acara ini segera selesai dan


kami bisa kembali ke rumah, aku sudah benar-benar kelelahan. Bisa-bisa aku akan


tertidur di sini jika aku tak bisa menahan kantukku sebentar lagi. Lagipula,


besok adalah hari Senin dan pastinya aku tak menyukai itu Aku sendiri juga tak


tahu kenapa orang-orang membenci hari itu, termasuk aku. Mungkin mereka semua


belum bisa move on dari hari liburnya kemarin.


selesai. Aku tahu jika ini adalah momen sekali seumur hidup yang paling


menyenangkan bagi Renata, tapi tidak untuk kami yang nyaris tepar. Sepertinya


aku harus lebih bisa bersabar lagi, sebentar lagi hari ini akan habis.


“Apa bener sama apa yang dibilang Stefani tadi?” tanya Arka


secara tiba-tiba padaku.


Aku tak tahu harus berkata apa, lagipula kenapa ia harus


menanyakan tentang hal itu di saat aku mulai lupa.


“Sampai segitunya kamu mikirin dia? Bahkan dari jauh-jauh


hari sebelumya.” lanjutnya.


“Kenapa sih, harus bahas soal itu lagi di saat aku mulai


lupa.” balasku.


“Kamu belum lupa soal itu sha, aku tau itu.” ucapnya dengan


tatapan mata yang meyakinkan.


Aku hanya bisa menurunkan pandanganku darinya, aku tak ingin


membalas sorot matanya atau sekedar membiarkannya menatapku. Aku tak ingin jika


pria ini mencuri lebih banyak infoormasi soal suasana hatiku saat ini. Entah


kenapa belakangan ini aku selalu bertemu dengan orang-orang yang sangat


menyebalkan bagiku. Setiap orang yang ku temui akhir-akhir ini selalu menjadi


sok tau dengan kondisiki saat ini, tak terkecuali dengan Arka maupun Stefani.


“Entah pria itu yang memang enggak akan bisa hilang dari


ingatan kamu karena memang sudah di takdirkan untuk seperti itu, atau memang


kamu sendiri yang belum siap untuk semua ini.” jelasnya.


Entah bagaimana caranya, tapi kalimat yang barusan itu mampu


membuatku bungkam dan tak bisa berkutik sedikitpun. Rasanya kalimat itu


benar-benar menusuk tepat di jantungku.  Itu adalah satu kalimat yang mampu membuatku terpukul mundur. Pria ini


tahu persis bagaimana caranya untuk menyidirku dengan sekali jurus saja seperti


ini.


“Sampai kamu benar-benar lupa soal Kak Sendy, atau mungkin


enggak akan pernah sama sekali, aku enggak akan pernah pergi.” ucap pria itu.


“Gimana kalau suatu hari kamu bakalan pergi dan ingkari


janji yang kamu buat ini.” balasku dengan nada sendu.


“Kamu bisa anggap aku sebagai pembohong besar sha, kamu


boleh benci sama aku.” jelasnya.


“Mendingan enggak usah buat janji ka, aku tahu kok kalau


kamu bakalan pergi suatu saat nanti. Aku enggak mau membenci kamu cuma karena


hal itu nantinya.” ujarku.


“Maksudnya?” tanya pria itu padaku.


Aku menarik nafasku dalam-dalam sebelum mulai berbicara


kembali. Karena pada kenyataannnya, ini adalah salah satu hal yang sulit untuk


ku akui begitu saja. Meskipun aku belum bisa mencintainnya dengan


sungguh-sungguh, tapi aku tak siap untuk kehilangannya. Dan sekarang aku sedamg


berusaha untuk hal itu, untuk menerima kehadirannya tanpa paksaan sama sekali.


“Suatu saat kamu bakalan pergi jauh dari aku ka…” lirihku


pelan.


“Aku enggak akan pernah ngelakuin hal itu sha, percaya sama


aku.” Dalihnya.


“Sayangnya aku udah enggak bisa percaya soal itu.” balasku.


“Suatu hari nanti kamu bakalan menjemput masa depan kamu ke


seberang pulau ini. Bahkan saat itu kita bukan hanya terbentang jarak sekedar


antar  kota atau negeri, tapi benua ka….”


jelasku dengan berat hati.


Sesaat kemudian, pria itu tertegun sejenak. Dalam pikirannya


sedang berusaha untuk memproses dan mencerna semua maksud dari perkataanku


barusan.


“Jadi, soal beasiswa itu ya?” tanya Arka padaku.


Aku mengangguk mengiyakan perkatannya, karena memang benar

__ADS_1


jika itulah yang aku maksud barusan.


“Aku bakalan nyempetin pulang buat ketemu sama kamu kok, setiap


tahunnya kan bakalan ada liburan semester.” jelasnya padaku.


“Ini bukan hanya sekedar Indonesia dan Australia ka…..”


balasku yang berusaha meyakinkan dirinya


“Korea dan Australia.” lanjutku.


“Maksud kamu?” tanya Arka yang masih tak mengerti dengan


maksud dari perkataanku barusan.


Sebenarnya ini adalah hal yang sudah aku impikan sejak masih


duduk di bangku sekolah menengah pertama. Aku tak menyangka jika cita-citaku


itu akan menjadi sesuatu yang menyakitkan untuk saat ini. Di saat hal ini akan


menjadi keputusan terberat dalam hidupku, ketika aku harus memilih salah satu


di antara mereka. Antara cinta atau cita-cita, dua hal yang sangat sulit jika


memintaku untuk memilihnya.


“Setelah tamat SMA nanti, aku bakalan lanjutin studi aku di


Korea. Aku udah aplikasikan beasiswa ini beberapa bulan yang lalu dan sekarang


tinggal nunggu waktu keberangkatan. Lagipula ini udah cita-cita aku sejak SMP


ka, sama seperti kamu.” jelasku.


Ini memang bukanlah hal yang mudah bagi kami berdua, di saat


cita-cita menuntut dua insan untuk saling bepencar. Ini bukanlah pertama


kalinya aku mengalami hal semacam ini. Program pertukaran pelajar waktu itu


nyaris membuatku terjebak di situasi yang sama.


“Kita pasti bisa buat ngadepin itu, selesai kuliah nanti


kita pasti ketemu.” ucapnya.


“Percaya sama aku, pasti bakalan selalu ada jalan buat kita


ketemu lagi.” lanjutnya.


Rasanya aku memang selalu di takdirkan untuk selalu


sendirian, sejak dulu selalu seperti itu. Semua orang yang awalnya selalu berada


di dekatku, perlahan pergi dan menghilang dari hidupku. Bahkan hal itu sudah


terjadi sejak aku masih bayi. Entah hal apa yang membuat mereka selalu


menghindar dariku. Pada kenyataannya semua orang akan selalu datang dan pergi


pada waktunya, walau sebenarnya aku masih ingin agar mereka bisa lebih lama


lagi berada di sini.


“Janji setelah selesai kuliah nanti kita bakalan ketemu


lagi?” ucapku sambil mengacungkan salah satu jari kelingkingku.


“Aku janji, bahkan aku akan cari kamu kemanapun itu.”


balasnya seraya mengaitkan jari kelingkinya di jariku.


“Aku juga akan cari pria itu sampai ketemu.” ucapku.


“Siapa?” tanya Arka dengan raut wajah yang berubah drastis.


“Kamu mau tau namanya siapa?” tanyaku lagi sambil tersenyum


kecil.


Arka lantas menganggukkan kepalanya dengan antusias. Di sisi


lain, aku juga bisa menangkap dengan jelas ekspresi penasaran sekaligus ragu.


“Nama panjangnya Arka Ray Lionando, biasanya dia di panggil


Arka.” ucapku sambil tersenyum puas.


“Dasar kamu ya, bisa aja. Aku kira tadi siapa.” balasnya


sambil mengacak-acak puncak rambutku.


Tak lama kemudian seseorang datang menghampiri kami. Awalnya


ku kira itu adalah salah satu tamu yang ingin duduk di sini. Tapi aku malah di


buat terkejut bukan main di buatnya, karena ternyata orang tersebut adalah Kak


Rayhan yang merupakan teman sekamar nya Kak Sendy. Seingatku, pria ini yang


menemani Kak Sendy saat kembali ke kampung halamannya kemarin. Harus nya jika


Kak Rayhan sudah kembali ke sini, begitu pula dengan Kak Sendy. Namun hanya Kak


Rayhan saja yang datang kemari, kali ini pria itu tengah berdiri di depanku


sambil menyandang tabung gambar yang ia bawa. Aku tak tahu apakah pria ini baru


saja selesai kuliah atau bagaimana, hingga ia turut membawa benda itu saat


datang kemari. Tapi aku tak yakin jika Kak Rayhan dan Kak Sendy berada di satu


jurusan yang sama.


Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru tempat ini,


namun aku tak medapati apa yang sedang ku cari saat itu. Kemungkinan Kak Sendy


juga berada di sini atau mungkin sedang bertemu dengan Renata. Namun pada


kenyatannya aku sama sekali tak melihat batang hidungnya sedikitpun. Tapi


otakku selalu memberi perintah pada diriku agar selalu berpikir positif, bahkan


di saat seperti ini. Bahkan hal itu pula yang membuatku terus-menerus berharap


agar Kak Sendy benar ada di sini. Ternyata aku masih begitu mengharapkan


kehadirannya hingga sekarang, bahkan ketika hari ini hampir usai. Aku tak tahu


apakah kali ini benar-benar ada keajaiban atau tidak sama sekali.


“Nyariin Sendy ya?” tanya Kak Rayhan padaku.


Aku langsung mengangguk dengan cepat. Ku harap pria ini mau


memberitahuku dimana keberadan pria itu, karena ia lah yang terakhir kali


bersama Kak Sendy.


“Sendy lagi enggak ada di sini.” Ucapnya.


Satu hal yang pasti ku rasakan saat itu adalah kecewa,


karena mungkin aku telah berharap banyak soal kedatangannya hari ini.


“Terus Kak Sendy ada dimana dong?” tanyaku kepada pria itu.


“Maaf, tapi gue enggak bisa ngasih tau soal itu sekarang.


Gue enggak mau malah ngerusak suasana bahagia mala mini.” Jelasnya.


Aku bahkan tak tahu apa alasannya sehingga ia tak ingin


memberitahukan soal itu kepadaku. Aku curiga, jangan-jangan Kak Sendy sengaja


meminta temannya ini untuk tidak membocorkan keberadaannya. Meski aku telah


berusaha untuk melupakan dan bersikap bodo amat atas semua yang terjadi


padanya, nyatanya aku tak pernah bisa benar-benar untuk melupakannya. Diriku


tak bisa bersikap seperti orang munafik, karena aku memang tak bisa manafikkan


rasa ini. Arka benar, pria yang satu itu belum benar-benar menghilang dari


hatiku. Ia masih mengisi sebagian dari tempat itu. Tapi mungkin diriku telah


benar-benar enyah dari hati pria itu. Aku yang salah di sini, tak seharusnya


aku memaksakan rasa ini untuk ada dulunya. Jika aku bisa memutar waktu, mungkin


aku lebih memilih untuk tak pernah mengingatnya lagi. Aku akan membiarkan


memori itu hilang begitu saja, tanpa perlu di ingatkan.


Orang-orang memang benar, mereka bilang rasa penyesalan


selalu datang di akhir. Jika berada di awal, namanya pasti pemanasan. Tapi ada


satu pelajaran yang bisa ku ambil dari sini. Penyesalan di takdirkan untuk


berada di akhir, agar manusia berani untuk mengambil resiko. Jika konsepnya tak


seperti ini, mungkin manusia tak akan pernah berani untuk mengambil sebuah


keputusan penting di dalam hidupnya.


“Mendingan lo buka ini aja nanti pas udah sampai di rumah.


Mungkin lo bakalan nemuin jawaban yang lo perlukan di sini nanti.” Ujarnya


padaku.


“Ini apa isinya?” tanyaku.


“Barang-barang dari Sendy buat lo.” jawab Kak Rayhan sambil


menyodorkan tabung gambar tersebut kepadaku.


“Barang apa maksudnya?” tanyaku sekali lagi, kemudian segera


menerima benda yang ia sodorkan kepadaku tersebut.


“Banyak, gue enggak bisa sebutin itu satu-satu. Salah


satunya dia juga ada nyelipin hadiah buat ulang tahun lo kemarin.” jelasnya.


“Tapi gue saranin, supaya lo buka tabung ini pas udah di


rumah aja. Soalnya Sendy enggak mau kalau sampai lo ngilangin salah satu barang


pemberian dari dia.” lanjutnya.


Aku tak mengerti lagi dengan jalan pikir pria yang sempat ku


kagumi itu. Di satu sisi ia seolah menyuruhku untuk mundur, namun di sisi lain


ia juga memberikanku isyarat agar tetap kembali menejarnya. Meskipun sebenarnya


aku tak ingin terus-terusan di pandang sebagai gadis murahan seperti ini. Sudah


cukup aku mengemis cinta padanya seperti gadis yang tak tahu malu dan tak punya


harga diri sama sekali. Tak seharusnya rasa cinta ini membuatku mengemis seperti


ini, bukan cinta namanya jika memaksamu untuk mengemis. Tak seharusnya

__ADS_1


seseorang menjadi merasa di rendahkan seperti ini atas nama cinta.s


__ADS_2