Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 52


__ADS_3

"Sekali lagi tolong maafkan aku karena telah banyak merepotkan mu." Ujarku.


"Tak apa, sudah jangan bahas itu lagi."


"Apa sudah dari tadi siang di sini?"


"Aku tak pernah meninggalkanmu, sejak kau tak sadarkan diri."


"Itu artinya aku membuatmu tak masuk kuliah hari ini?"


"Tak apa, aku sudah bicara dengan dosen dan meminta izin."


Gara-gara aku ia sampai rela tak masuk kelasnya hari ini. Dia benar-benar baik untuk ukuran seorang petugas UKS.


"Lagipula nyawamu jauh lebih penting." Lanjutnya.


"Terimakasih banyak atas bantuanmu."


"Sudahlah kau tak henti-hentinya mengucapkan kedua kata itu sejak tadi. Lagipula kita sama-sama tak masuk kelas hari ini. Kita adalah murid nakal yang bolos saat jam pelajaran, Haha..." Balasnya.


Benar juga, kenapa aku baru menyadari hal itu. Aku tidak mengikuti kelas sejak tadi pagi, hanya fisika saja yang sempat ku pelajari. Aku juga melewatkan jam pelajaran tambahan di sore hari. Sekarang aku harus bagaimana, pasti aku tertinggal begitu banyak pelajaran. Aku juga tidak tahu apakah aku di anggap hadir atau tidak.


"Sepertinya besok aku akan di panggil ke ruangan BK." Ucapku yang sudah pasrah dengan keadaan.


"Tenang saja, pihak sekolah sudah tahu jika tadi aku membawamu ke sini. Jadi kau tidak akan kena masalah. Aku tahu jika kau ingin tahun terakhir mu ini baik-baik saja." Ujarnya.


Syukurlah, setidaknya aku bisa bernafas lega sekarang.


"Aku juga telah membuat surat izin tidak masuk sekolah untukmu." Lanjutnya.


"Apa itu artinya aku tidak bisa masuk sekolah besok?"


"Ayolah tolong mengerti, kondisimu masih belum stabil. Jangan terlalu memaksakan diri." Jelasnya


Semangatku tiba-tiba ciut ketika Alhin mengatakan hal itu padaku. Aku tak ingin melewatkan sehari, bahkan sedetikpun di tahun terakhirku bersekolah.


"Bolehkah aku pinjam ponselmu?" Tanyaku dengan ragu.


"Untuk apa?"


"Ponselku tertinggal di laci, jadi aku harus memastikan apakah seseorang telah mengambilnya atau tidak." Jelasku.


Alhin mengangguk mengiyakan perkataanku kemudian memberikan ponselnya kepadaku. Tanpa pikir panjang, aku segera mengetikkan nomerku di atas layar kaca tersebut. Berharap ada seseorang yang menemukan ponselku dan segera mengantarkannya ke sini. Aku sangat butuh benda itu sekarang juga.


"Jika seseorang menemukan ponsel ini, siapapun itu tolong segera kembalikan kepadaku. Bisakah anda mengantarkan nya ke Rumah Sakit Sejahtera sekarang juga? Akan ku tunggu di sini. Terimakasih sebelumnya telah menemukan benda berharga ku ini.


-Eresha"


Kurang lebih begitulah bunyi pesan yang ku kirimkan ke nomer teleponku sendiri.


"Terimakasih..." Ujarku sambil menyerahkan kembali ponsel miliknya.


Alhin hanya mengangguk.


Aku melirik sebuah jam yang tergantung di salah satu sisi dinding ruangan ini. Lagi-lagi aku baru menyadari jika ini sudah larut malam. Hampir memasuki pukul sepuluh malam. Kenapa aku tak tahu soal itu. Pantas saja tempat ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Ku kira ini masih pukul tujuh atau delapan malam. Ternyata malah jauh dari dugaaan ku sebelumnya.


Tiba-tiba seseorang datang dan mencoba masuk dari pintu ruangan ini. Ia adalah wanita paruh baya dengan setelan daster dan rambut yang di jepit menjadi satu. Ia berjalan masuk ke ruangan ini dengan begitu terburu-buru. Suara sendal jepit yang ia pakai menggema ke seluruh ruangan.


"Siapa dia?" Bisik Alhin pelan.


"Bibi..." Balasku.


"Ya ampun mbak.... kenapa kok bisa begini sih mbak?" Tanya bibi sambil menangkup kedua pipiku.


Ia mengecek semua bagian tubuhku, memastikan jika aku tak terluka sama sekali.


"Berhubung udah ada seseorang yang jagain, saya pamit pulang dulu ya. Sudah malam, enggak enak berlama-lama." Ujar Alhin.


"Oh, iya mbak monggo. Terimakasih banyak ya mbak sudah mengantarkan mbak Eresha ke sini." Balas bibi.


Alhin kembali mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Hati-hati di jalan...." Timpal ku.


"Baiklah semua saya pergi dulu ya..." Ujar Alhin sambil menyandang tas miliknya.


Aku menatap punggungnya yang kian menjauh dariku, kemudian sosok manusia berhati malaikat tersebut keluar dan menghilang begitu saja dari ruangan ini.


"Mbak, kenapa kok bisa masuk rumah sakit lagi?" Tanya bibi.


"Biasalah bi, lagi kambuh doang penyakitnya." Jawabku dengan nada santai.


"Makanya mbak jangan kecapean." Balas wanita tersebut.


Aku mengangguk mengiyakan perkataannya.


"Stefani udah pulang bi?" Tiba-tiba aku teringat akan gadis itu.


"Tadi pas bibi pergi belum si mbak."


"Terus rumah di kunci?"


"Ya iya toh, kayak biasanya."


"Terus ntar kalau Stefani udah pulang gimana cara dia masuknya? Ya kali masa dia di suruh manjat pagar gitu bi..." Balasku.


Sebenarnya tak menutup kemungkinan jika ia akan nekat manjat pagar seperti yang ku duga sebelumnya.


Aku ingin menelpon Stefani saat ini dan memberi tahukan padanya jika kunci rumah ada di bawah pot. Kasihan jika semalaman ini ia harus tidur di luar. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, aku sama sekali tak mengingat nomer teleponnya. Untuk saat ini aku hanya bisa berharap agar dia tidak menunggu kami di luar rumah.


Padahal aku baru saja bangun beberapa menit yang lalu, kenapa sekarang rasanya mataku mengantuk sekali. Rasanya kedua kelopak mataku sudah terlalu berat untuk di pertahankan agar tetap terbuka. Perlahan tapi pasti diriku terlelap dengan sendirinya tanpa ku sadari.


***

__ADS_1


Arka baru saja sampai di rumahnya. Ia mencampakkan tasnya ke segala arah, kemudian segera menuju kamar mandi. Kenikmatan yang tak bisa dipungukiri lagi, mandi dengan air hangat di malam hari seperti ini selalu bisa menenangkan diri sejenak.


Arka berganti dengan pakaian yang lebih santai dari sebelumnya. Ia kemudian segera turun ke bawah untuk makan malam bersama mamanya.


"Gimana nak sekolahnya?" Tanya mama Arka seperti biasanya.


"Ya b aja sih ma.... kayak biasanya." Balasnya sambil menyendok beberapa centong nasi ke piringnya.


Arka tetap saja tak bisa tenang sebelum mengetahui kemana sebenarnya gadis itu pergi.


"Ma...." Sahut Arka pelan.


"Iya nak?"


"Arka mau cerita." Ujarnya.


"Mau cerita apa nak? Udah langsung cerita aja sama mama." Balas Mamanya Arka.


Semenjak ayahnya meninggalkan mereka berdua, wanita ini menjadi lebih dekat dengan anaknya. Perlahan ia mulai meninggalkan semua kesibukan yang membelenggunya selama ini. Ia mulai sering menghabiskan waktu bersama Arka yang sering kali merasa kesepian.


"Soal Eresha ma...." Ujar aku dengan hati-hati.


Sebenarnya ia sedikit ragu harus menceritakan hal ini atau tidak pada mamanya. Tapi Arka sangat butuh saran dari mamanya, mengingat Eresha dan mamanya sama-sama seorang wanita.


"Kenapa sama Eresha? Kamu mau balikan sama dia?" Sindir mamanya.


"Ish... enggak ma.... Ini serius."


"Oke, apa itu?"


"Tadi Eresha menghikang dari sekolah. Dan sampai sekarang salah satu dari kita belum ada yang tau Eresha kemana."


"Kok bisa gitu? Terus kalian udah lapor ke pihak sekolah?"


"Belum ma..." Balas Arka dengan pasrah.


Terlihat jelas raut wajah wanita itu yang ikut berubah cemas setelah anaknya memberitahukan soal hal itu kepada nya.


"Arka takut Eresha nekat ma... Suasana hati dia lagi enggak baik." Lanjutnya.


"Mungkin dia perlu waktu sendiri dulu nak. Yang penting kamu berdoa aja supaya dia baik-baik aja." Balas Mamanya Arka sambil menepuk-nepuk pundak anaknya.


Sejak di sekolah tadi semua orang selalu mengatakan hal yang sama. Termasuk Clara dan mamanya sendiri. Entah kenapa semua orang memiliki pendapat yang sama hari ini.


"Mungkin Eresha memang lagi perlu waktu buat sendirian." Batinnya dalam hati.


Saat ini mungkin Arka tak perlu ikut campur lebih dalam lagi soal kehidupan gadis itu. Karena sekarang mereka hanya sebatas sahabat. Tapi sahabat mana yang tak khawatir menghadapi situasi seperti ini yang menimpa sahabatnya sendiri.


Arka tak ambil pusing soal hal itu, ia memilih untuk melanjutkan makan malamnya yang sempat tertunda. Kemudian segera kembali ke kamarnya untuk belajar.


***


Arka baru saja selesai makan, sekarang ia berada di kamarnya. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi sambil memainkan pena di tangannya. Arka memutuskan untuk mengecek ponsel gadis itu lagi.


Arka tertawa kecil ketika melihat lockscreen ponselnya. Bagaimana tidak, itu adalah foto Eresha saat sedang berpose lucu. Ia begitu imut saat itu.


Arka beranjak dari meja belajarnya, tanpa menghiraukan tumpukan tugas-tugas itu sama sekali. Pria itu segera mengambil hoodie dan kunci sepeda motor miliknya. Ia menuruni tangga dengan langkah yang terburu-buru.


Sudah hampir jam dua belas malam. Ia yakin jika mamanya telah tidur. Arka membuka setiap pintu dengan perlahan agar tak mengganggu tidur sang mama. Dengan tergesa Arka mengeluarkan sepeda motornya dari garasi kemudian beranjak pergi dari tempat tersebut dengan kecepatan penuh.


Tapi ternyata dugaan Arka salah, mamanya belum terlelap sama sekali. Wanita itu sedang bernostalgia dengan memorinya beberapa tahun silam yang kini tak bisa terulang kembali. Ia memandangi lekat foto-foto pria yang di cintai nya itu sambil sesekali menitikkan air mata. Pria yang pernah menjadi isi bab terkelam dalam hidupnya.


"Mau kemana anak itu malam-malam seperti ini? Pakai kebut-kebutan segala. Enggak biasanya Arka seperti ini." Ujar Mamanya Arka yang mengintip putranya tersebut dari balik jendela.


Ia tak bisa berbuat apa-apa karena Arka sudah terlanjur pergi. Saat ini wanita paruh baya itu hanya bisa berharap agar anaknya di lindungi dari segala macam mara bahaya yang mengancam keselamatannya selama di perjalanan.


Kecelakaan yang pernah di alami Arka saat itu, hingga membuatnya koma untuk beberapa hari cukup membuat trauma yang mendalam pada mamanya. Wanita ini tak siap jika ia harus turut kehilangan anak semata wayangnya yang selalu ia banggakan itu. Ia belum siap jika Arka harus ikut bersama papanya.


***


Sepeda motor Arka melaju kencang di jalanan ibukota. Menembus setiap inchi angin malam yang tak jarang membuatnya merinding. Namun hal kecil seperti itu tak membuatnya gentar untuk mencapai tempat yang ia tuju. Tekadnya sudah bulat, tak ada seorangpun yang bisa menghentikannya termasuk mamanya sendiri.


Arka memperlambat laju sepeda motornya saat sudah memasuki tempat yang ia tuju. Ia memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah sakit tersebut. Tempat ini memang selalu ramai selama dua puluh empat jam. Arka berjalan dengan tergesa menuju meja administrasi.


"Permisi mbak..." Ujarnya pada salah satu perawat yang sedang berjaga malam itu.


"Ada yang bisa di bantu mas?" Balas wanita tersebut.


"Boleh saya tahu di mana ruang rawat inap atas nama Eresha?"


"Maaf mas, tapi jam besuk sudah habis sejak jam satu jam yang lalu."


Arka menghela panjang karena kecewa. Tapi seorang Arka bukanlah sosok yang mudah putus asa. Otaknya selalu memiliki jalan pikiran yang berbeda dari orang kebanyakan.


"Tapi saya ingin mengantarkan barang milik pasien. Boleh saya masuk? Saya juga di minta oleh keluarga pasien untuk menjaganya malam ini."


Arka tak berhenti untuk terus mencoba. Selalu ada alasan masuk akal yang bisa ia andalkan di situasi seperti ini.


"Baiklah, mari saya antarkan." Ujar si perawat tersebut.


Arka mengangguk cepat, kemudian segera membuntuti langkah perawat tersebut dari belakang. Dalam hatinya Arka bersorak-sorak gembira ketika akhirnya rencana kecilnya ini berhasil.


Akhirnya ia menemukan jawaban dari pertanyaan yang seolah menjadi teka-teki tersendiri baginya. Tapi masih ada satu jawaban lagi yang ia perlukan. Dan sekarang Arka sedang berjalan untuk menjemput jawaban tersebut.


Tiba-tiba langkah perawat ini berhenti di depan satu ruangan. Hal itu membuat Arka turut melakukan hal yang sama.


"Ini mas ruangannya." Ujar si perawat tersebut.


"B26..."


Pria ini mencoba mengeja nama ruangan dengan suasana lorong yang gelap pada saat itu.


"Oh, kalau begitu terimakasih banyak mbak atas bantuannya." Lanjutnya.

__ADS_1


"Sama-sama mas. Saya pergi dulu, mari..." Balas si perawat yang tadi mengantar Arka.


Tanpa menghiraukan perawat tersebut yang telah beranjak pergi, Arka segera membuka pintu ruangan tersebut dengan hati-hati. Tentu saja ia tak ingin berlama-lama di tempat yang minim cahaya seperti ini. Ia pernah berdalih jika sebenarnya ia tak takut dengan tempat yang gelap, hanya saja ia mengaku jika matanya akan terasa sakit karena kurangnya cahaya saat melihat objek di sekitarnya. Itulah sebabnya ia tak suka berlama-lama tinggal di tempat yang gelap gulita kecuali saat tidur di kamarnya sendiri.


Arka masuk ke ruangan berukuran tiga kali tiga meter tersebut. Ia sengaja berusaha meredam suara langkah kakinya sendiri. Arka tak ingin membangunkan dua orang di sana yang sedang tertidur pulas. Namun lagi-lagi usahanya gagal. Bibi terbangun dan langsung terjaga dari bunga-bunga tidurnya saat itu.


"Mas Arka?" Tanya bibi sambil mengusap-usap matanya.


Pengelihatannya masih samar-samar dan hanya melihat sesosok bayangan yang melangkah maju kearahnya dan Eresha. Perlahan bayangan tersebut menjadi solid dan terlihat begitu nyata, membentuk sesosok pria dengan perawakan tinggi dan wajah nan rupawan.


Karena menyadari jika keberadaannya telah di ketahui, Arka membuka persembunyiannya. Dengan langkah pasti dan percaya diri ia terus maju menuju gadis itu.


"Mas Arka ngapain di sini?" Tanya bibi.


"Cuma mau ngembaliin handphone Eresha yang ketinggalan." Ujar Arka sambil meletakkan benda tersebut di kasur.


"Tadi ada SMS masuk, suruh nganterin handphone ini ke sini." Lanjutnya.


"Oh, gitu ya mas.... punten sudah di antarkan ke sini. Malah ngerepotin mas nya malam-malam ke sini." Balas bibi.


"Enggak apa-apa kok bi."


Arka menatap nanar gadis itu, ia sangat iba dan tak sanggup jika harus melihat Eresha terbaring lemah tak berdaya seperti ini. Di tambah lagi, ini bukan pertama kalinya terjadi. Sudah untuk kesekian kalinya Arka melihat secara langsung pemandangan menyedihkan seperti ini.


Ia pernah mendengar cerita dari Sendy tentang gadis ini. Pria itu bilang jika Eresha adalah anak yang aktif di sekolah. Terlebih jika ia sedang latihan, gadis ini tak pernah bisa diam. Tapi sekarang keadaannya berbalik seratus delapan puluh derajat.


"Mau duduk dulu mas?" Tawar bibi.


"Oh enggak usah bi, ngerepotin. Lagian bibi pasti masih ngatuk kan?" Balas Arka.


Wanita paruh baya itu hanya tersenyum kecil melihat kebaikan hati pria ini. Tak salah lagi jika Eresha pernah memilihnya untuk menjadikan Arka sebagai salah satu orang terdekatnya.


"Tapi Mbak Eresha lagi tidur mas, apa mau saya bangunkan sebentar?" Tawar bibi.


Arka langsung menggeleng cepat sambil berkata, "Enggak usah bi, kasian Eresha nya pasti masih ngantuk. Lagipula dia perlu istirahat supaya cepat pulih."


Bibi mengangguk mengiyakan perkataannya, kemudian membenarkan selimut gadis itu yang sudah turun hingga ke paha. Padahal ia tak bergerak sama sekali, gadis ini terlalu pulas.


"Ngomong-ngomong Eresha kenapa bisa di rawat di sini bi?" Tanya Arka yang penasaran.


"Penyakitnya kambuh lagi mas... Dokter bilang karena terlalu banyak pikiran belakangan ini." Jelas bibi.


Arka terdiam sejenak, ia bungkam tak bisa berkata sepatah katapun. Tiba-tiba ia teringat pada perkataan mamanya saat makan malam tadi dan ucapan Clara saat di sekolah tadi. Semua kata-kata yang terlontar dariĀ  mulut mereka tadi, bukan hanya sekedar omong kosong tanpa makna. Semuanya di latar belakangi oleh intuisi yang tak bisa di mengerti oleh Arka sebagai seorang pria.


Pria itu begitu kagum dengan wanita-wanita tersebut. Ikatan batin mereka sesama perempuan sangatlah kuat satu sama lain.


"Terus siapa yang bawa Eresha ke sini?" Tanya Arka lagi.


"Bibi kurang tau mas... Tapi yang seingat bibi sih, dia tadi yang nelepon ke rumah juga dan ngasih tau kondisi Eresha." Jawab bibi.


"Ciri-cirinya gimana bi?"


"Dia orangnya enggak terlalu tinggi sih mas, cantik, kulitnya putih, masih muda lagi. Kira-kira sekitar umur dua puluhan gitu mas. Kayak keturunan orang China gitu mas." Jelas bibi.


Arka mencoba mengingat-ingat seseorang di sekitarnya yang memiliki ciri-ciri mirip seperti yang di sebutkan bibi barusan. Tapi pria itu yakin jika ia tak pernah melihat seseorang dengan ciri-ciri seperti itu.


Eresha menghilang saat jam sekolah dan lenyap begitu saja saat menuju ke UKS. Kemungkinan dia adalah seseorang yang juga sedang berada di sekolah saat itu. Bisa jadi juga jika itu adalah petugas UKS. Tapi Arka masih ingat dengan jelas wajah petugas UKSĀ  sekolahnya. Wanita itu sudah cukup berumur dan kulitnya juga kuning langsat.


Sepertinya bukan petugas UKS, mungkin saja siswa lain yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


Gadis ini tampak sangat kelelahan sehingga ia tertidur dengan begitu pulas malam ini. Jiwanya letih menanggung semua beban yang ia terima. Hingga dirinya sendiri memaksanya untuk berhenti sejenak. Memberikan sedikit jeda pada raganya agar bisa berbenah.


Arka tak bisa berlama-lama di sini, meskipun ia sangat ingin. Ia masih harus menyelesaikan tugasnya yang ia tinggalkan begitu saja setelah membaca pesan ini tadi. Dengan berat hati Arka harus segera berpamitan pulang. Meski sebenarnya ia ingin lebih lama lagi berada di sini. Arka ingin menemani gadis ini di masa-masa tersulit nya.


Sebagai seorang sahabat ia harus mendukungnya. Walaupun kata persahabatan itu masih sangat sulit untuk di terimanya. Ia belum terbiasa.


"Bi, Arka pamit dulu ya. Maaf kalau Arka enggak bisa lama-lama di sini." Pamit Arka.


"Iya mas, terimakasih sudah repot-repot mau datang kemari. Mbak Eresha pasti bakalan senang kalau tau mas Arka di sini." Balas bibi.


"Haha... iya bi. Oh iya, titip salam dan Eresha ya kalau di udah bangun nanti." Ujar Arka.


"Oh, siap laksanakan mas."


"Kalau begitu Arka cabut dulu ya bi..." Ucap Arka sambil mengecup punggung tangan wanita tersebut.


"Iya mas hati-hati di jalan."


Bibi mengantarkan Arka sampai ke pelataran di depan rumah sakit. Wanita ini benar-benar salut dengan Arka. Selain pintar dan tampan, ternyata ia juga sangat sopan terhadap semua orang. Tak terkecuali dengan bibi yang hanya seorang asisten rumah tangga di rumah Eresha. Sangat jarang menemui anak muda yang seperti ini di zaman sekarang.


Ia tak sepatutnya di sia-siakan begitu saja. Gadis manapun pasti akan berpikir berulang kali untuk menjauhi pria yang satu ini. Arka nyaris terlihat begitu sempurna di mata semua orang.


Wanita paruh baya ini juga masih tak tahu apa alasannya kedua anak remaja itu berpisah. Mereka selalu bungkam ketika ditanya soal itu. Padahal bisa di bilang mereka ini sangat cocok dan sama-sama pantas untuk saling memiliki satu sama lain. Sampai sekarang dunia tak tahu mengapa mereka mengakhiri semua kisah manis yang seharusnya masih bisa di lanjutkan itu. Belum seharusnya kisah mereka tamat begitu saja.


Arka kembali melintasi jalanan ibukota yang tak pernah sepi. Kali ini sepeda motornya melaju dengan lebih santai. Sekarang ia jauh lebih tenang di banding sebelumnya. Setidaknya hatinya sudah merasa cukup lega.


Tiba-tiba Arka teringat dengan gadis menyebalkan itu. Dimana ia sekarang, seharusnya ia sudah pulang kerja. Sebenarnya Arka tiba-tiba menjadi teringat dengannya bukan tanpa alasan. Ia tak tega jika melihat seorang gadis yang selalu mencari masalah dengannya itu, mendadak menjadi gelandangan.


Arka menepikan sepeda motornya sebentar, kemudian mengutak-atik ponselnya.


"Halo! Lo dimana?" Tanya Arka.


"Masih di cafe, kenapa?" Jawab suara dari seberang.


"Lo enggak pulang ke rumah Eresha?"


"Kayaknya gue tidur di cafe aja deh, enggak enak main nyelonong aja."


"Udah, mending lo tetap tidur di rumah Eresha aja. Mereka udah ngasih izin, tadi gue baru aja ketemu mereka."


"Lo ketemu sama Eresha di mana?"


"Di rumah sakit, udah besok gue ceritain lagi." Balas Arka kemudian segera menutup teleponnya.

__ADS_1


Arka tahu jika ia obrolannya ini akan di buat menjadi sangat panjang oleh gadis itu. Lebih baik besok saja Arka menjelaskan kepada mereka semua. Agar lebih menghemat tenaga.


Setelah itu Arka kembali menyalakan mesin sepeda motornya, kemudian bergegas untuk segera kembali ke rumah. Hari sudah semakin larut, tak baik bagi anak seusianya berkeliaran di luar sendirian malam-malam seperti ini.


__ADS_2