
Setelah Renata dan Kak Reksa selesai dengan urusannya, mereka mengajak kami untuk berkeliling butik.
"Eresha mau gaun yang rok nya panjang atau pendek?" Tanya Renata.
"Pendek!" Jawabku dengan cepat.
Apa harus seribet ini persiapan pernikahan mereka. Aku bahkan tak tertarik sama sekali untuk sesi ini.
"Mau coba yang mana?" Tanya Renata sambil menunjukkan dua pilihan gaun.
"Yang mana aja deh, terserah." Balasku acuh tak acuh.
"Menurut aku lebih bagus yang warna ungu." Timpal Arka.
"Oke..." Balasku seraya mengambil gaun itu dari tangan Renata.
Untuk saat ini lebih baik aku menuruti kemauan mereka saja. Mungkin pilihan mereka jauh lebih baik dari apa yang pernah ku pikirkan sebelumnya. Aku ingin cepat-cepat pulang dari sini, benar-benar membosankan.
Aku segera menuju sebuah bilik yang memang disediakan untuk mengepas baju. Diantara dua pilihan yang di berikan oleh Renata, aku bahkan sama sekali tak tertarik pada keduanya. Tapi entah kenapa Arka tiba-tiba memilihkan yang satu ini untukku, mengerti apa ia soal fashion. Tapi ya sudahlah, demi mempersingkat waktu.
Sesaat kemudian aku mencoba gaun berwarna ungu pastel tersebut di badanku. Ukurannya memang sangat pas di badanku, warnanya juga tidak terlalu mencolok. Penampilannya sangat sederhana, namun mampu memberikan sedikit sentuhan feminim pada diriku.
Aku membenarkan roknya yang sedikit berbelit, sebelum meninggalkan ruangan ini. Aku keluar dengan langkah ragu-ragu. Tapi pada akhirnya aku memberanikan diriku juga.
Aku menampakkan diriku dengan penampilan baruku, di depan mereka. Berharap ketiga orang itu segera memberikan keputusan yang cukup memuaskan, agar aku bisa segera melepas pakaian ini dari badanku.
Sudah ku duga, mereka pasti akan menyorotiku dari atas hingga ke bawah. Mengamati setiap detail penampilan ku, dengan tatapan aneh. Jujur aku benci dengan tatapan itu.
"Akhirnya adik aku bisa kelihatan feminim...." Ujar Renata kemudian menghampiri ku.
"Gimana? Kita ambil yang ini?" Lanjutnya.
"Terserah." Jawabku singkat.
"Eresha cantik kan?" Tanya Renata pada kedua pria tersebut.
Sementara sosok yang di tanya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil.
"Udah kan?" Ujarku sambil berbalik menuju ruangan itu lagi.
Aku segera mengganti gaun itu dengan seragamku yang sebelumnya. Busana putih abu-abu itu jauh lebih nyaman dibandingkan dengan gaun tadi. Kemudian menyerahkan benda mahal itu kepada Renata. Gaun itu akan jauh lebih aman di tangannya, jadi aku mempercayakan hal itu padanya.
Selanjutnya kami kembali menjelajahi isi toko untuk menemukan setelan jas yang cocok untuk Arka. Menurutku semua model jas sama saja bentuknya, aku sendiri juga bingung apa yang membuatnya berbeda dari yang lainnya.
Aku baru menyadari satu hal, jika ternyata butik ini lumayan luas. Kaki ku rasanya sampai sudah pegal karena mengitari setiap lorong di butik ini. Dan sepanjang jalan, yang ku lihat hanyalah jejeran busana-busana bermerek.
Sementara Arka mencoba jas miliknya, aku dan kedua kakakku ini duduk menunggu nya di salah satu sofa panjang yang telah di sediakan. Setidaknya kakiku bisa beristirahat sebentar, sebelum mulai berjalan lagi. Aku perlu cukup banyak energi untuk mengelilingi tempat ini.
"Gimana?" Ujar Arka yang tiba-tiba saja keluar dari balik tirai tersebut.
Aku tak bisa menafikkan diriku sendiri. Satu hal yang di tanamkan oleh orang tuaku sejak kecil adalah, jangan pernah membohongi dirimu sendiri. Itu adalah salah satu dari sekian banyak kunci hidup bahagia yang pernah ku terima dari mereka. Itu sebabnya aku tak pernah mencoba untuk melakukannya sejak dulu.
Aku bukan orang yang munafik, hari ini pria itu memang jauh lebih tampan dari biasanya. Ternyata ia bisa serupawan ini saat memakai setelan jas seperti sekarang. Apakah ini sudah mencapai level maksimal yang ia miliki, atau masih ada yang jauh lebih memukau dari ini.
Aku tersenyum lebar ke arah pria itu. Tapi sebenarnya aku sedang berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja sekarangm tapi kenapa kedua sudut bibirku malah terangkat seperti ini. Dasar aku! Kenapa aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri di saat-saat seperti ini, memalukan sekali.
"Gimana sha?" Tanya Kak Reksa padaku.
"Kok nanya ke aku sih? Aku kan enggak ngerti apa-apa soal fashion." Jawabku apa adanya.
"Yang bisa menilai penampilan seseorang hanya lawan jenisnya." Balas Kak Reksa.
"Bagus." Ujarku singkat.
"Gitu doang?"
"Lah, terus mau gimana lagi?"
"Yaudah deh."
Lagipula kenapa harus menanyakannya ke aku, bukannya ke Renata saja. Kan bukan hanya aku satu-satunya perempuan di sini. Lagipula ia jauh lebih mengerti soal itu. Kak Reksa salah sasaran, tapi jika ia menanyakan rumus hukum ke-2 Newton setidaknya aku bisa menjawabnya.
Setelah semua urusan di tempat ini selesai, Kak Reksa segera membayar bill tagihannya. Aku jadi tidak enak dengannya. Sayang sekali uang yang ia keluarkan hanya untuk sepotong gaun ini. Pasti sangat mahal harganya.
Pria itu bukan hanya membelikan dress code untuk kami seperti yang pernah ia katakan sebelumnya. Kak Reksa juga ikut membelikan sepatu high heels untukku. Walaupun sepertinya benda yang satu ini tak akan pernah ku pakai setelah acara tersebut. Rasanya saja aku masih berpikir sekali lagi untuk memakai sepatu ini di acara pernikahan Renata nanti.
Kakiku pasti belum terbiasa dengan benda yang satu ini. Tapi demi hari yang spesial baginya itu, aku akan tetap menggunakannya juga. Sebentar lagi hari penyiksaan itu akan tiba, dan aku harus bersiap untuk itu. Di saat ijab kabul berlangsung nanti, semua anggota keluarga harus menggunakan setelan baju kebaya khas jawa yang telah di sediakan. Kemudian, setelah acara itu selesai dan akan memasuki acara formalnya, kami harus berganti baju kembali dengan gaun yang telah di sediakan. Memikirkannya saja sudah membuatku pusing. Bagaimana nanti ketika sudah terlaksana, mungkin vertigo ku akan kambuh lagi.
***
"Ini punya kalian." Ujar Kak Reksa sambil menyodorkan beberapa tote bag.
"Terimakasih kak." Ujarku.
"Thanks ya kak." Sambung Arka juga.
"Enggak masalah, enjoy aja." Balasnya dengan enteng.
Orang kaya memang selalu bebas. Mereka bisa membeli apa saja yang ia mau, tapi ada beberapa hal di dunia ini yang tak bisa di beli dengan semua uang yang mereka punya. Seberapa banyak pun itu, tetap saja tak akan berlaku untuk beberapa hal yang di kecuali kan tersebut.
"Kak ren, aku belum nganterin undangan punya Kak Sendy." Ujarku.
"Yaudah, gimana kalau kita anterin sekarang? Kamu tahu kan kost dia di mana?" Balasnya.
"Tau kok."
"Yaudah kita ke sana aja langsung ya."
Aku mengangguk cepat mengiyakan perkataannya. Kemudian kami segera meninggalkan tempat itu untuk menuju ke rumah Kak Sendy, kamar kost lebih tepatnya. Aku melirik jam tanganku sebentar, sambil tercengang hebat. Sudah berapa lama kami menghabiskan waktu di tempat itu. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku tak habis pikir, jika pada akhirnya kami akan berada di sana selama dua jam lebih.
__ADS_1
Tiba-tiba aku teringat kepada Kak Sendy. Pria itu pasti akan merasa begitu terpukul saat menerima undangan ini. Bagaimanapun wanita yang sebentar lagi akan menikah ini, pernah menjadi seseorang yang begitu istimewa di hatinya. Aku menjadi sedikit ragu dengan niatku untuk menyampaikan undangan ini. Aku takut melukai hatinya, meskipun pada akhirnya ia juga harus tetap tahu soal semua ini.
***
"Tok...tok...tok..."
Sudah hampir sepuluh menit aku berdiri di sini, tapi tak ada jawaban sama sekali. Apakah sedang tak ada seorangpun di dalam sana, yang bisa membukakan pintu untukku.
"Gimana?" Tanya Arka yang menunggu di atas sepeda motornya.
Aku hanya menggeleng pasrah.
"Cari siapa neng?" Tanya seseorang yang tiba-tiba datang.
"Oh, ini bu mau ketemu sama yang tinggal di kamar kost ini." Jelasku.
Dari penampilannya, kelihatannya ia adalah pemilik kost-an ini yang sedang berkeliling untuk mengecek setiap tempat.
"Oh, kalau yang tinggal di sini si Sendy sama Rayhan." Ucapnya.
"Nah, iya bener bu saya mau ketemu Kak Sendy." Balasku antusias.
"Mereka udah pergi sejak dua hari yang lalu sih. Katanya mau nganterin Sendy balik ke kampung halamannya. Tapi mereka bakalan balik lagi kok." Jelasnya.
"Kapan bu baliknya kira-kira?"
"Kurang tahu kalau soal itu neng. Emang ada perlu apa ya sama mereka?"
"Oh ini bu saya cuma mau kasihin undangan kakak saya ke mereka."
"Kalau begitu nanti langsung saya sampaikan setelah mereka pulang."
"Terimakasih banyak bu."
"Iya neng, sama-sama."
"Kalau begitu saya pamit dulu ya."
Setelah menitipkan undangan tersebut ke pemilik kost nya, aku dan Arka segera beranjak pergi dari sana. Renata dan Kak Reksa telah lebih dulu pergi ke restoran di daerah Jakarta Selatan. Mereka sempat mengajak kami untuk makan malam bersama. Aku dan Arka memutuskan untuk menyusul mereka setelah mengantarkan undangan ini.
Beruntung aku masih tetap membawa hoodie, jadi angin malam tidak terlalu merasuk ke tubuhku. Sementara Arka terlihat begitu fokus dengan jalanan di depannya. Pengelihatannya harus extra lebih teliti di malam hari seperti ini. Sebenarnya aku juga tak terlalu suka keluar di malam hari seperti ini. Karena pada dasarnya mataku memang rabun, hanya saja aku tak suka memakai kacamata yang sering membuatku pusing. Aku lebih memilih untuk memakai lensa kontak yang meski harus sering ku ganti, demi menjaga kesterilan nya.
Tiba-tiba aku teringat akan satu hal. Kira-kira ada gerangan apa yang menyebabkan Kak Sendy pulang ke kampung halamannya. Sampai-sampai harus di temani oleh Kak Rayhan. Padahal ini kan belum memasuki liburan semester. Pasti ada sesuatu yang penting, hingga membuat mereka harus pergi secara mendadak seperti ini. Tak mungkin kedua mahasiswa itu rela tidak masuk kuliah demi liburan.
Aku mengecek ponselku dan memeriksa last seen miliknya. Yang benar saja, pria itu tak pernah membuka aplikasi WhatsApp nya sama sekali sejak dua hari yang lalu. Bertepatan di hari mereka pergi. Tapi kenapa kedua orang itu seolah sedang melarikan diri dari kehidupan yang sebenarnya. Semoga saja mereka bukan melakukan ini karena stres akibat tugas kuliah. Ku harap hal itu tak akan mengganggu kesehatan mental mereka. Kasihan sekali jika sampai itu terjadi kepada dua anak manusia yang tak bersalah itu.
***
Arka memarkirkan sepeda motornya di depan restoran. Sementara aku menunggunya di ambang pintu masuk. Tak lama kemudian ia menghampiri ku sambil merapihkan rambutnya yang berantakan karena memakai helm.
Kami memasuki tempat itu yang perlahan mulai ramai pengunjung. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan untuk menemukan kedua orang tersebut. Tapi mataku tak bisa di ajak bekerja sama kali ini. Sejak pulang sekolah tadi, aku hanya mengandalkan pengelihatanku yang sebenarnya tanpa alat bantu sama sekali. Sangat sulit menemukan mereka diantara puluhan manusia yang ada di tempat ini.
Tiba-tiba saja Arka menarik tanganku ke arah sebuah meja di sudut ruangan. Aku hanya menurut saja sambil membuntuti langkahnya yang jenjang. Aku berusaha mensejajarkan langkahnya yang tak pernah bisa ku imbangi. Langkahku pasti selalu seperti di seret saat ia menarikku seperti ini.
"Maaf lama." Balasku.
"Kita udah pesenin makanan buat kalian." Sambung Kak Reksa.
Kami segera menyantap hidangan yang telah di sajikan tersebut. Tak ada seorangpun yang bersuara, semuanya tampak begitu menikmati makanannya masing-masing. Suasana khidmat begitu terasa di sini.
"Eresha.... Arka...." Sahut Kak Reksa.
Aku lantas mendongakkan kepalaku, kemudian menghentikan kegiatanku sejenak.
"Kalian udah lama pacaran?" Lanjutnya.
Pertanyaan macam apa itu! Nyaris saja aku tersedak makananku sendiri. Kenapa dari tadi pria ini terus mengungkit-ungkit soal itu. Apa tidak ada hal lain yang bisa di bahas kecuali yang satu itu. Atau jangan-jangan ia memang se-kepo itu dengan kami.
"Hey, jawab dong...." Ujarnya sekali lagi.
Aku dan Arka bahkan tak berniat sama sekali untuk menggubris pertanyaannya yang tadi. Kami berdua hanya saling menatap satu sama lain, tak tahu bagaimana caranya menjelaskan hal ini kepada pria yang satu ini.
"Udahlah jangan bahas itu lagi." Balasku sambil tetap melanjutkan makan.
"Iya kak, udahlah enggak usah di bahas." Tambah Arka.
"Loh kenapa?" Tanya pria itu.
"Mereka sebenarnya udah lama putus." Timpal Renata.
Aku menganggukkan kepalaku, setuju dengan Renata. Meski sampai sekarang aku belum benar-benar bisa menerima kenyataan tersebut. Entah kenapa ucapan Renata barusan, rasanya sukses menggores hatiku. Tapi aku bisa berbuat apa, tak ada yang bisa ku lakukan sama sekali. Karena memang itulah kenyataan yang sebenarnya.
"Maaf ya...." Ujar Kak Reksa yang menjadi tak enak seketika.
"Enggak apa-apa." Balasku singkat.
"Santai aja." Timpal Arka.
"Terus kalau sekarang kalian jadi teman sebangku, apa enggak baper?" Tanya Kak Reksa.
"Enggak!" Balasku cepat.
Arka juga turut mengangguk, mengiyakan perkataan ku.
Dasar pria ini! Barusaja ia menyesali perbuatannya, sekarang malah berulah lagi. Andai ia bukan calon suami Renata, pasti aku sudah memaki nya sekarang juga.
"Kenapa kalian enggak balikan aja?" Tanyanya sekali lagi.
"Kak, please jangan bahas itu lagi." Ujarku dengan sopan.
__ADS_1
"Bukannya kakak mau ikut campur atau gimana, tapi kalau di lihat dari garis tangan kalian, ada sebuah simbol ikatan kuat yang sulit untuk di lepas." Jelasnya.
"Kakak bisa ngeramal masa depan?" Tanyaku antusias.
Entah kenapa belakangan ini, setiap orang yang ku temui seolah-olah mengetahui persis tentang diriku.
"Enggak sih, cuma dulu kakak sempat belajar kartu tarot sama temen kakak." Jelasnya.
"Mungkin ikatan yang kakak maksud, ikatan persahabatan kali." Sambung Arka.
Kak Reksa hanya menghela berat melihat kelakuan anak-anak ini. Bagaimanapun caranya ia membujuk kami, tetap saja aku dan Arka sama sekali tak bisa di taklukkan semudah itu. Aku memang terlalu keras kepala dan sudah tetap pada pendirianku sendiri.
"Yaudah lanjutin aja makannya." Ujar Kak Reksa.
Aku sudah tak nafsu makan lagi semenjak mereka membahas hal itu. Aku paling tidak suka jika ada seseorang yang memaksakan kehendaknya kepada ku.
***
"Sudahlah, jangan terlalu memaksakan hal itu kepada mereka." Ujar Renata.
"Tapi aku yakin jika mereka telah di takdirkan untuk bersama." Balas Kak Reksa.
"Mereka masih labil, mungkin suatu saat nanti semuanya akan baik-baik saja. Percayalah pada takdir itu." Jelas Renata.
Aku yang berjalan lebih dulu di depan mereka bisa mendengar semuanya. Bahkan bukan aku saja kelihatannya, Arka mungkin juga merasakan hal yang sama. Ia terlihat tak nyaman mendengar kedua orang itu membicarakan kami di belakang. Sebenarnya telingaku juga terasa panas mendengarkan semua hal itu. Meskipun jarak kami lumayan jauh, setiap kalimat yang mereka ucapkan merambat di angin malam kala itu hingga sampai ke telinga kami.
Tiba-tiba saja Arka menggenggam tanganku, kemudian membalikkan badannya.
"Kita udah balikan! Puas?!" Teriak Arka dengan lantang.
Aku melongo tak percaya mendengar ucapan pria ini barusan. Apa dia sudah benar-benar gila atau bagaimana. Sepertinya bukan hanya aku yang terkejut dengan tindakan Arka yang dilakukan secara tiba-tiba itu. Bahkan dua orang yang saat itu berjalan di belakang kami juga ikut tercengang. Semuanya mematung di tempatnya masing-masing, tanpa berkata sepatah katapun.
"Arka...." Bisik ku.
"Kita lakuin ini cuma di depan mereka." Ujarnya.
"Aku enggak mau kalau kita terus-terusan di tekan seperti ini." Lanjutnya.
"Jadi kita berbohong?" Tanyaku.
"Demi yang satu ini, aku mohon bekerjasama lah denganku." Ujar Arka sambil memohon.
Aku tak tahu harus bagaimana. Ini keputusan yang di ambil secara tergesa-gesa oleh satu pihak. Ia seharusnya memikirkan dulu bagaimana konsekuensi yang harus ia terima nanti.
"Aku enggak bisa ka...." Lirih ku.
"Oke! Kalau aku boleh jujur aku bakal bilang semuanya!" Bentak Arka dengan nada bicara yang lebih tinggi.
"Bilang aja." Balasku singkat.
"Aku masih sayang sama kamu sha... Tapi aku enggak yakin kalau kami juga gitu sama aku. Karena kamu udah punya Kak Sendy." Jelasnya dengan suara parau.
"Aku juga enggak ngerti ka sama perasaan ku sendiri." Lirihku.
Lagi-lagi secara tiba-tiba Arka menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya. Aku berusaha untuk tetap mengimbangi langkah kakinya meski harus tertatih-tatih. Pria ini menyuruhku untuk naik ke atas sepeda motornya. Aku tak tahu apa yang akan di lakukannya, tapi yang jelas ia sedang terlihat begitu emosi.
Mau tak mau aku terpaksa menuruti perintahnya. Meskipun terkadang aku mencemaskan kondisi diriku sendiri. Kak Reksa dan Renata segera menyusul kami dengan mobilnya, setelah mengetahui jika semuanya sedang tak baik-baik saja.
"Arka, mau kemana?" Tanyaku di atas kereta yang sedang melaju kencang itu.
Arka bahkan tak menjawab pertanyaanku sama sekali. Ia sedang di kuasai oleh emosinya yang sudah di ubun-ubun. Pria ini sama sekali tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia telah kehilangan kendali seutuhnya.
Sementara itu, sepeda motor ini terus melaju dengan kecepatan tinggi. Tak menutup kemungkinan jika akan terjadi kecelakaan malam ini. Aku sudah benar-benar pasrah jika aku harus merenggang nyawa di jalanan ini.
"Aku mohon, siapapun tolong hentikan pria ini." Batinku dalam hati dengan penuh harap.
Aku bahkan tak bisa membuka mataku lagi sekarang. Situasi ini benar-benar membuatku mati ketakutan.
"Arka! Jangan ngebut!" Teriakku.
"Arkaaaaa...." Rengek ku.
Kali ini aku sudah benar-benar tak tahu harus melakukan apa lagi. Aku sudah sangat ketakutan dengan tindakan pria ini. Pada akhirnya, seorang gadis yang lemah ini hanya bisa menangis seperti anak kecil.
Sedetik kemudian, pria ini mengerem secara mendadak. Aku berfikir apakah saat itu jiwaku telah benar-benar berpisah dari ragaku dan tak akan pernah kembali lagi. Sepertinya aku harus menerima semua ini dengan lapang dada. Ikhlas akan membuatku jauh lebih tenang di alam sana nanti.
"Sha...." Sahut seseorang sambil menepuk-nepuk pipi ku.
Dengan begitu hati-hati, aku membuka kelopak mataku dan mendapati diriku tengah berada di atas sepeda motor Arka. Aku memeluk erat pria itu, membuang seluruh rasa takutku.
"Apa aku masih hidup?" Tanyaku.
"Maafin aku sha, enggak seharusnya aku begini." Balas Arka.
"Aku tau kamu pernah mengalami dua kali kecelakaan, dan itu buat kamu trauma. Kecelakaan itu satu-persatu merebut kesempurnaan fisik kamu. Harusnya aku enggak bikin trauma itu muncul lagi." Jelasnya.
Kelihatannya pria ini sudah benar-benar sadar seutuhnya. Permintaan maafnya juga terdengar begitu tulus. Aku tahu jika ia tak sengaja melakukan hal ini, semuanya terjadi begitu saja di alam bawah sadarnya. Tapi bagaimanapun juga, kejadian yang tadi itu benar-benar gila, nyaris membuat nyawaku melayang. Kupikir setelah ini aku akan mati di hari ulang tahunku sendiri.
"Sha...." Sahutnya sekali lagi.
"Tangan kamu dingin banget. Kamu enggak apa-apa kan?" Tanyanya seraya menggenggam tanganku.
Aku bisa merasakan panas tubuhnya yang perlahan masuk ke dalam pori-pori kulitku. Rasanya begitu nyaman, ketika sebuah kehangatan menyapa tanganku yang kian membeku.
Arka langsung turun dari sepeda motornya saat itu juga. Aku pun turut turun dari kendaraan tersebut. Kaki ku bergetar sangat hebat, sekujur tubuhku menggigil kedinginan. Sepertinya kejadian barusan sungguh membuat diriku terkejut hebat.
"Muka kamu pucat banget sha..." Ujar Arka sambil menangkup kedua pipiku dengan tangannya yang begitu hangat.
"Maafin aku udah buat kamu sampai ketakutan kayak gini. Aku udah keterlaluan banget ya? Pukul aku sha, kalau aku udah keterlaluan!" Lanjutnya.
__ADS_1
Arka menarikku ke dalam pelukannya. Aku bisa merasakan jika jiwa yang satu ini begitu hangat. Entah kenapa seolah-olah sebuah panas dari api datang untuk melelehkan es yang membeku. Rasanya aku mulai baik-baik saja, tak terlalu shock seperti tadi.
"Hukum aku sha, apapun itu. Aku udah keterlaluan sama kamu." Bisiknya pelan di telingaku.