
"Nek, aku pergi dulu ya." Pamitku.
Aku menuju teras depan untuk mengambil sepatu di rak dekat garasi mobil.
"Eh, ini jaket siapa kok bisa ada disini." Aku melihat sebuah jaket terletak begitu saja diatas kursi.
"Apa mungkin milik Arka?" Batinku.
Seingatku, aku tidak pernah memiliki jaket seperti ini. Aku buru-buru memakai sepatuku, mengingat aku harus segera berangkat agar tidak ketinggalan bis.
"Tin... Tin... Tin..."
Seseorang diluar gerbang sana membunyikan klaksonnya beberapa kali. Ia menggunakan seragam SMA lengkap, tapi wajahnya tertutup helm yang dipakainya.
Aku bergegas keluar sambil membawa serta jaket itu bersama ku. Jika benar ini milik Arka, aku akan mengembalikannya saat di sekolah nanti.
"Hei." Sapanya.
Ia membuka helmnya, kemudian merapihkan rambutnya yang berantakan.
"Loh, Arka?" Tanyaku heran.
"Pagi cantik." Iya tersenyum lebar.
"Pagi juga." Aku tak bisa mengelak untuk tak membalas senyumannya.
"Eh, ngapain pagi-pagi ke sini?" Sambung ku.
"Mau jemput kamu lah."
"Eh, ini jaket kamu bukan?" Tanyaku sambil menunjukkan jaket yang tergantung di lengan kiri ku.
"Loh, kok bisa ada sama kamu?"
"Aku nemu di kursi teras tadi."
"Kayaknya aku lupa masukin ke tas kemarin."
"Jangan bilang kalau ini bagian dari skenario kamu?" Ledekku.
"Ya enggak lah. Ini murni karena aku lupa hehe..." Balasnya sambil tertawa.
"Yaudah nih pakai dulu jaketnya biar enggak dingin." Perintahku.
Ia kemudian mengambil jaketnya dan memakainya. Itu terlihat pas di tubuhnya. Lagi-lagi ia merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan itu, dasar pria ini.
"Udah yuk naik, nih helmnya." Ucapnya sembari menyodorkan sebuah helm padaku.
Tak ingin berlama-lama, aku segera memakainya kemudian duduk di atas sepeda motor miliknya.
***
"Aku duluan ya." Ucapnya saat kami akan menuju kelas masing-masing.
Aku hanya mengangguk lalu berjalan menuju tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua.
Pagi ini masih sama seperti pagi-pagi biasanya. Tak ada sesuatu yang istimewa di kelasku.
"Sha, liat pr kimia lo dong." Ujar Stefani.
Mengerjakan tugas di sekolah bukanlah hal yang aneh lagi. Terlebih murid seperti Stefani. Ia bukannya tak ingin mengerjakan semua tugas itu di rumah, tapi keadaan yang memaksanya seperti ini.
Ia tinggal sendirian di kota sebesar ini. Tinggal di rumah kos dekat sekolah menjadi pilihannya agar tak pernah terlambat dan selalu datang cepat ke sekolah untuk mengerjakan semua tugas. Ia bekerja paruh waktu selepas sekolah di salah satu restoran Padang. Ia juga mengambil beberapa pekerjaan sampingan lainnya yang masih bisa ia kerjakan. Tak jarang jika ia harus pulang hingga larut malam.
Meskipun orangtuanya tak pernah absen mengiriminya uang setiap bulannya, tentu saja itu tidak cukup. Biaya hidup di ibukota jauh lebih besar dari yang dibayangkan oleh orangtuanya. Belum lagi jika semua tunggakan harus segera dilunasi saat menjelang ujian semester. Tak jarang itu menjadi beban tersendiri baginya.
Rasanya ia tak tega jika Orangtuanya mengetahui betapa keras hidupnya di Jakarta. Ia tak ingin membuat orangtuanya sedih apalagi kecewa. Setiap di telepon, ia pasti selalu bilang jika uang kiriman orangtuanya cukup bahkan lebih. Padahal nyatanya tak seperti itu. Ia selalu bilang baik-baik saja, padahal tak seperti itu. Tak jarang ia harus meringis kesakitan di kamar kosnya saat malam menjelang. Seluruh tubuhnya terasa begitu linu karena harus bekerja seharian.
Terkadang melihat hal-hal seperti ini yang membuatku jadi lebih bersyukur. Aku masih sedikit lebih beruntung dari mereka.
Aku menghela nafas, kemudian menyandarkan tubuhku di kursi. Sementara Stefani sibuk menyalin semua jawaban milikku ke bukunya.
"Eh, ini apaan sha?" Tanya nya sambil menunjuk tulisan di buku ku.
Aku melirik sebentar.
"NaOH."
"Lain kali nulis yang jelas dikit dong."
"Ya itu aku nulisnya juga gara-gara buru-buru makanya gitu."
Ia tak menggubris perkataanku.
***
"Baiklah, rapat kali ini sudah selesai. Kalian bisa pulang ke rumah masing-masing." Ucap Bu Tar mengakhiri rapat.
Harusnya dua jam yang lalu aku telah berada di rumah. Kini sudah pukul empat sore dan aku bahkan belum makan siang samasekali. Rapat yang diikuti oleh seluruh peserta olimpiade langsung di laksanakan selesai pulang sekolah. Itu membuatku tak memiliki waktu sama sekali untuk mengganjal perutku.
"Ke kantin dulu yuk!" Ajak Arka.
Bagaimana bisa ia tahu jika aku sedang lapar. Mungkin dia bisa membaca pikiranku saat ini. Oh bukan, bisa jadi karena aku terlihat tak bersemangat seperti biasanya.
__ADS_1
"Emangnya kantin masih buka?"
"Masih dong."
Ia menggandeng tanganku, menariknya agar aku mengikuti langkah kakinya.
"Teh, yang ada tinggal apa aja?" Arka memastikan jika masih tersisa sedikit makanan untuk kami.
"Tinggal nasi goreng sama mie goreng mas. Mas nya mau pesan apa?"
"Aku masih goreng aja deh teh. Kalau kamu sha?"
"Aku samain aja kayak kamu."
"Oh oke. Kalau gitu nasi goreng dua, minumnya air putih biasa aja ya teh."
"Oke mas ditunggu ya. Teyeh masak dulu."
"Sip."
"Sha, abis ini kang pulang kan?" Tanya Arka padaku.
"Ya enggak lah. Kan aku udah janji sama Kak Sendy buat bantuin dia."
"Emang enggak capek?"
"Enggak kok."
"Kalau capek biar aku aja yang bantuin Kak Sendy. Kamu istirahat aja."
"Enggak kok ka, kan sekalian jalan-jalan sore. Hehe..."
"Yaudah, nanti janjian dimana sama Kak Sendy?"
"Belum tau nih dia belum ada ngabarin. Masih sibuk di kampus kali ya."
"Bisa jadi." Balas Arka singkat.
"Nih pesanannya." Sambil menyodorkan dua piring nasi goreng.
"Makasih teh." Ucapku.
"Udah, dimakan gih nasinya." Perintah Arka.
Aku mengangguk menuruti perkataannya.
Selama makan, tak ada yang membuka suara diantara kami berdua. Mungkin karena kami terlalu lapar dan terlalu sibuk untuk menghabiskan nasi goreng ini.
Sesekali aku mencuri pandang kepada pria di depanku. Mulutnya terlihat penuh, ia begitu lahap. Lucu melihatnya ekspresi wajahnya saat ini. Aku tersenyum tipis melihat kelakuan pria itu.
***
"Eh, udah lama?" Tanya Kak Sendy.
Kebetulan Kak Sendy membawa sepeda motornya juga hari ini. Jadi kami tak harus berjalan kaki. Sebelumnya, aku dan Arka telah mengganti seragam sekolah kami.
Kami bertiga berkeliling Kota Jakarta sore ini untuk mencari model eksterior bangunan.
Arka menunjuk salah satu bangunan yang menjulang tinggi di depan kami. Kak Sendy yang seolah mengerti dengan isyarat yang diberikan Arka lantas mengangguk. Kami menepi ke pinggir jalan.
"Gimana kak kalau yang ini?" Tanya Arka.
"Boleh juga, sebentar ya aku foto dulu."
Ia langsung beraksi bersama kameranya. Ia memotret bangunan itu dari berbagai arah untuk mendapatkan hasil foto yang terbaik. Kemudian mengecek hasilnya satu-persatu. Jika ada foto yang kurang jelas atau kabur, ia segera memotretnya ulang.
"Udah yuk. Ketempat lain lagi." Ajak Kak Sendy.
Kami berpindah lokasi ke area lainnya entah didaerah mana tepatnya, aku kurang tahu seluk beluk Jakarta.
Tapi kali ini, tempatnya agak jauh dari pusat kota. Ini mungkin terletak di pinggiran kota, aku suka tempat ini. Jauh dari hiruk-pikuk keramaian di kota. Banyak pepohonan, terlihat seperti suasana pedesaan.
Ada sebuah bangunan yang tampak seperti mansion disana. Warna putih mendominasi seluruh bagiannya. Tepat di sampingnya, ada kolam yang lumayan besar, entah berapa meter kedalamannya.
"Wahhhh." Ucapku terkagum.
Kami berhenti di pekarangan mansion itu.
"Nah, supaya kita enggak capek keliling-keliling, disini view-nya bagus. Kita bisa liat semua gedung-gedung pencakar langit dari sini. Kalau masih kurang, kita bisa naik ke lantai dua atau ke rumah pohon yang disana buat dapetin view yang lebih cantik." Jelas Arka.
"Wahhhh kalau ini pas banget sih emang tempatnya." Ujar Kak Sendy sambil berdecak kagum.
"Btw, ini rumah siapa? Kok kamu berani ke sini? Nanti kalau yang punya marah gimana? Kan kita belum izin. Malah kamu bilang mau naik ke lantai dua." Tanyaku kebingungan.
Arka membungkam mulutku dengan jarinya. Astaga! Tolong! Jantungku sudah tidak kuat menghadapi kelakuan pria ini padaku.
"Nanya nya satu-satu dong, jangan nyerocos mulu. Lama-lama kamu ketularan Stefani nih bawelnya." Ledek Arka.
"Ya maaf." Ucapku sambil menahan malu.
Sementara kami mengobrol, Kak Sendy sedang menyiapkan kameranya untuk memotret semua bangunan yang dapat ia lihat dari sini.
"Ini mansion papa aku. Dulu biasa sehabis kerja papa suka ngehabisin waktu disini. Bersantai sambil menikmati waktunya sendirian. Kadang kalau liburan atau akhir pekan papa suka ngajak aku dan mama buat kesini. Aku dulu waktu kecil sering banget main di rumah pohon ini." Jelasnya.
__ADS_1
"Sekarang papa kamu masih sering kesini? Atau sekarang ada disini?" Tanyaku antusias.
"Enggak." Jawabnya singkat.
Raut wajahnya langsung berubah menjadi sedih.
"Kenapa? Papa kamu udah pensiun ya, makanya enggak pernah kesini lagi sepulang kerja?" Tanyaku memastikan.
"Papa udah lama meninggal." Ucapnya dengan nada sedih.
"Oh? Maaf.... Aku enggak tahu. Maaf ya udah buat kamu jadi sedih begini." Balasku.
Aku jadi merasa bersalah tentang ini. Seharusnya aku tak menanyakan soal papa nya tadi.
Oh tidak! Dia menangis, air matanya turun satu-persatu membasahi pipinya.
"Mati aku!" Pikirku.
Apa ia sesedih ini jika mengingat soal papanya? Maafkan aku Arka. Aku tak bermaksud.
Aku langsung menghapus jejak air mata di pipinya. Bisa ku lihat dengan jelas luapan emosi yang begitu dalam dari sorot matanya.
"Maaf kalau aku cengeng." Ujarnya.
"Enggak kok. Siapa bilang cowok enggak boleh nangis. Nangis itu bisa buat kamu lega loh." Ucapku.
Tiba-tiba ia memeluk erat tubuhku. Tangisannya semakin menjadi. Aku jadi semakin merasa bersalah padanya. Dengan sedikit ragu aku menepuk punggungnya, berusaha menguatkannya.
"Sha?" Sahut Kak Sendy.
Arka langsung melepaskan pelukannya, ia kemudian lekas menghapus air matanya.
"Loh, Arka kenapa?" Ucap Kak Sendy kemudian menghampiri kami.
"English kok enggak apa-apa." Balas Arka.
"Kamu habis nangis ya?" Tanya Kak Sendy.
Sekilas pertanyaannya itu tak seperti sedang meledek Arka.
"Enggak kok." Arka berusaha meyakinkan Kak Sendy.
Tak bisa dipungukiri jika Arka habis menangis. Matanya masih merah dan berair.
"Enggak masalah kok kalau kamu nangis. Aku juga masih sering nangis. Ya biasalah masalah keluarga." Jelas Kak Sendy.
"Broken home?" Tanyaku.
"Iya, tapi yaudah lah. Enggak usah dibahas. Semua masalah itu enggak akan bikin masa depan aku hancur kok. Mereka enggak berhak buat ngancurin masa depanku." Balas Kak Sendy.
"Udah-udah kok malah jadi sedih gini sih kita? Kan kita mau ngerjain tugas kan?" Aku mencoba mencairkan suasana.
"Udah yuk kita naik aja ke lantai dua." Ajak Arka.
Kami memasuki mansion itu. Tempat ini terlihat sangat terawat, mungkin keluarga Arka sengaja menyewa penjaga untuk merawat tempat ini.
Semua properti disini tampak terawat. Tak ada sedikitpun debu yang berani menempel. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Mataku tertuju pada sebuah figura besar di dinding dekat tangga.
"Itu foto keluarga kamu ka?" Tanyaku.
"Iya, ini foto mama dan almarhum papa aku." Jelasnya.
"Kamu anak tunggal?"
"Iya." Angguknya.
Aku dibuat kagum dengan isi bangunan ini. Nuansa putih menyelimuti hampir seluruh bagian dan properti di bangunan ini.
***
Kak Sendy sibuk memotret bangunan di seberang sana dari atas balkon. Sementara aku dan Arka begitu menikmati pemandangan yang disuguhkan. Benar-benar luar biasa, bagaimana bisa papanya Arka menemukan tempat sebagus dan sesrategis ini.
"Gedung yang itu kurang kelihatan dari sini. Ketutupan pohon besar ini deh kayaknya." Keluh Kak Sendy.
"Yaudah, gimana kalau kita ke rumah pohon buat ngambil gambar nya? Mungkin bisa lebih jelas." Usul Arka.
Kami kembali menuruni tangga di sudut ruangan. Lalu menuju keluar mansion. Sejujurnya aku sedikit takut naik ke pohon. Aku pernah jatuh dari pohon saat kecil dulu ketika mengambil mainanku yang tersangkut.
Kak Sendy naik lebih dahulu. Disusul dengan Arka yang sudah setengah jalan.
"Yuk naik." Ajak Arka.
Jujur aku tak begitu yakin soal ini. Kayu nya tampak begitu tua dan beberapa kelihatan sudah lapuk karena dimakan rayap. Aku yakin jika bangunan ini tak mampu menahan begitu banyak orang.
"Enggak ah, aku di bawah aja." Elak ku.
"Ayolah, enggak apa-apa kok. Pemandangannya lebih bagus dari pada yang di balkon tadi lho." Ujarnya.
Dengan susah payah aku menelan air liurku sendiri. Aku berusaha mengumpulkan keberanianku, mengalahkan ketakutan yang egois menguasai ku selama ini.
Aku memberanikan diri dan mulai memanjat tangga kayu yang tergantung di pohon. Kakiku bergetar hebat, tapi aku berusaha menenangkan diriku.
Meskipun telah sampai di atas, aku tak bisa benar-benar menguasai diriku sendiri. Tanganku dingin, aku gugup berada di atas sini.
__ADS_1
Astaga! Apa yang terjadi. Kenapa dengan pengelihatanku? Semua hal yang ku lihat bergoyang, hal itu membuatku pusing. Aku berpegangan erat pada kayu pembatas balkon. Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi disini, lama kelamaan semuanya menghitam, gelap, tak ada seberkas cahaya pun menyapa pengelihatanku kini. Aku sudah benar-benar tak bisa bertahan lagi. Tubuhku kehilangan keseimbangan, aku terjatuh dari atas rumah pohon. Setelah itu aku tak sadarkan diri.