Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 6


__ADS_3

  Aku berdiri di tepi jalan sambil sesekali memainkan kerikil didepanku. Sebuah sepeda motor menepi ke arahku.


 


 


"Yuk, buruan." Ujarnya.


 


 


  Aku hanya mengangguk mengiyakan perkataan nya, kemudian segera naik ke atas sepeda motor itu.


 


 


"Gue doain lo dapet juara satu, biar bisa ngeharumin nama sekolah kita." Ucapnya.


 


 


"Semoga." Jawabku singkat.


 


 


  Hari ini aku dan teman-temanku akan berkompetisi. Bukan soal menang atau kalah sebenarnya. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik. Dan semoga yang disemogakan semesta wujudkan.


 


 


  Udara pagi akhir pekan ini cukup berkualitas untuk dihirup. Tak banyak kendaraan melintas seperti biasanya.


 


 


  Tunggu dulu, mungkin kalian bertanya-tanya siapa yang sedang bersamaku. Coba tebak! Ya, dia Kak Sendy. Hari ini dia mengantarku ke tempat lomba. Setelah itu kami akan menghabiskan akhir pekan ini bersama, sebelum ia pergi.


 


 


  Aku tak memeluknya erat saat itu. Kami tak seperti adegan romantis di film, yang si wanita akan memeluk si pria saat di bonceng. Sampai tiba-tiba, sesuatu yang tak kuduga terjadi. Kak Sendy mengerem mendadak, tepat di persimpangan. Sebuah mobil telah menabrak pohon besar di tepi jalan. Kak Sendy turun dari keretanya, meninggalkan ku. Ia menghampiri si pengemudi mobil itu.


 


 


  Aku mematung ditempat. Wajahku pucat pasi. Lima tahun lalu, tepat saat aku masih berumur sepuluh tahun. Aku pernah mengalami kecelakaan hebat di jalan lintas sumatera ketika hendak mudik. Aku yang saat itu duduk di kursi paling depan bersama papa yang sedang mengemudi, mengalami luka parah. Kami menabrak sebuah truk pengangkut kayu. Kami segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Tak banyak hal yang bisa kuingat saat itu. Yang ku ingat hanyalah suara jeritan dan banyak darah. Beruntung tak ada korban jiwa, papa masih selamat meski sempat mengalami koma. Mama dan adikku hanya mengalami luka ringan. Sementara kaki kiri ku terancam cacat, dan itu sebabnya kaki kiri ku menjadi lemah.


 


 


  Mungkin aku masih trauma dengan kejadian itu. Kejadian yang hampir merenggut nyawa kami. Kak Sendy menepuk pundakku dari belakang.


 


 


"Lo kenapa? Kok kayak orang ketakutan gitu?" Tanya nya khawatir.


 


 


Aku menggelengkan kepalaku, tanpa berkata sepatah kata pun.


 


 


"Cabut yuk." Ajakku.


 


 


"Lo kenapa sih?" Tanya pria itu.


 


 


"Udah, ayuk nanti telat." Desakku.


 


 


  Aku tak ingin berlama-lama disini. Aku benci jika harus mengingat hal buruk yang pernah terjadi di hidupku.


 


 


"Jawab dulu pertanyaan gua. Lo kenapa kok tiba-tiba jadi begini?"


 


 


"Ayuk buruan kita pergi."


 


 


"Jawab dulu."


 


 


"Iya nanti aku jelasin. Sekarang kita cabut dulu dari sini."


 


 


  Kak Sendy sepertinya mulai cemas melihat keadaanku. Akhirnya ia menuruti permintaan ku untuk segera pergi dari tempat itu.


 


 


***


 


 


  Aku dan teman-temanku sibuk bersiap di belakang panggung. Giliran kami tampil sebentar lagi. Kuharap hal buruk tak terjadi lagi kali ini. Semoga kaki ku tak menjadi alasan kegagalan kami hari ini. Jujur saja aku gugup, aku terus berdoa untuk yang terbaik.


 


 


***


 


 


  Setidaknya aku bisa bernapas lega. Mungkin kami belum bisa menjadi yang terbaik kali ini. Tapi setidaknya gelar juara dua sudah cukup membuat kami puas. Syukurlah kaki ku mampu bertahan.


 


 


  Kami keluar dari gedung tempat lomba berlangsung. Harusnya setelah lomba, kami semua akan merayakan kemenangan kami dengan hang out bersama. Tapi, jujur saja kami sudah terlalu lelah, dan acara itu ditunda besok sepulang sekolah.


 


 


  Aku dan Kak Sendy berada di tengah keramaian kota yang mulai padat. Aku dan pria itu berboncengan seperti tadi. Entah akan kemana kami pergi. Hingga kami menepi di sebuah mall. Pria itu memarkirkan keretanya di halaman khusus.


 


 


"Kok ke mall?" Tanyaku.


 


 


"Emang ga boleh?" Tanya nya balik.


 


 


"Ya bukan gitu. Tumben aja." Ketus ku.


 


 


  Kami naik ke lantai dua mall. Entah kemana dia akan membawaku. Kami hanya berkeliling lantai dua dari tadi. Kemudian ia menarik tanganku untuk masuk ke salah satu toko buku. Aku masih kebingungan dan hanya mengikuti langkah jenjangnya. Ia tampak mencari-cari sesuatu yang terselip diantara buku-buku tebal yang tertata di rak.


 


 


  Aku tak membuka suara sedari tadi. Percuma saja jika aku bertanya apa yang sedang ia cari, percayalah ia tak akan menjawab pertanyaan semacam itu. Baiklah mari kita buktikan.


 


 


"Nyari buku apaan sih?" Tanyaku.


 


 


  Benar saja, sesuai dugaanku. Ia tetap sibuk sendiri tanpa menghiraukan aku.


 


 


"Nah, ini dia." Ucapnya girang sambil mengambil buku itu.


 


 


"Itu kan Novel Mariposa." Sambung ku.


 


 


"Iya, kakak gua pengen banget baca novel ini. Jadi gua beliin deh." Jelas nya.


 


 


"Ooo." Balasku.


 


 


  Setahuku ia adalah anak sulung. Lalu kakak? Kakak siapa yang ia maksud? Sudahlah aku tak mau ambil pusing soal itu. Mungkin kakak sepupunya. Kami segera pergi ke kasir.

__ADS_1


 


 


"Mbak bisa di bungkus pakai kertas kado gak?"


 


 


"Oh, bisa mas."


 


 


  Apa harus seistimewa itu? Oke, mungkin kakak nya ulang tahun. Tapi aku masih penasaran, untuk siapa novel itu.


 


 


***


 


 


  Kami turun ke lantai satu dan singgah ke sebuah cafe. Kami memesan dua Latte dan Redvelvet cup cakes.


 


 


"Mana janji lo tadi?" Ucap pria itu.


 


 


"Janji apa?" Tanyaku bingung.


 


 


"Lo bilang mau ceritain semua. Yang pas kecelakaan tadi." Jelasnya.


 


 


"Ooo, itu. Jadi gini, mungkin aku masih trauma. Ga tau entah kenapa tadi pas liat kecelakaan itu, aku jadi keinget kecelakaan lima tahun lalu."


 


 


"Kecelakaan?"


 


 


"Iya, dulu aku pernah ngalamin kecelakaan dan itu buat kaki kiri ku jadi lemah."


 


 


"Sorry gua baru tau soal ini."


 


 


"Gapapa kali kak."


 


 


"Ini mas pesanannya." Ucap pelayan cafe sambil menyodorkan pesanan kami.


 


 


  Diluar hujan lumayan lebat. Dari tadi langit sudah mendung memang, tak secerah biasanya. Tak ada pilihan selain menunggu hujan reda. Kak Sendy bilang, hari ini kami akan menghabiskan akhir pekan bersama sebelum ia pergi. Tapi, tak ada sesuatu yang istimewa hari ini, bahkan tak jarang kami saling membisu. Bukan ini yang ku harapkan. Aku hanya ingin mengukir kenangan terindah di akhir pekan ini, meski atas sebuah keterpaksaan.


 


 


"Balik yuk. Gua antar." Ujarnya.


 


 


Aku hanya mengangguk pasrah.


 


 


***


 


 


"Makan diluar yuk." Ajak Zahra.


 


 


"Tumben lo ngajakin gua." Ledekku.


 


 


 


 


  Aku mengambil jaket dan tas selempang yang berisi dompet dan hal penting lainnya. Pengelihatan ku memang buruk ketika malam hari. Dan itu sebabnya aku selalu memakai kacamata di malam hari. Sementara Zahra memanaskan mesin sepeda motor yang akan kami gunakan. Mama dan papa belum pulang ngantor jam segini. Jadi, kali ini Zahra yang mengendarai sepeda motor. Kami mencari rumah makan di pusat kota. Dan akhirnya kami mampir di salah satu rumah makan favorit kami untuk hang out biasanya.


 


 


  Kami memesan dua porsi bakso lava yang sedang top sale waktu itu. Aku sibuk berkutat dengan ponselku sambil menunggu pesanan kami datang.


 


 


"Ini mbak pesannya." Ucap pelayan rumah makan itu.


 


 


"Makasih ya mbak." Ucapku.


 


 


  Aku beranjak dari meja makan menuju wastafel. Lumayan banyak orang saat itu. Saat aku kembali, meja disekitar kami telah terisi penuh. Termasuk meja di samping ku. Ada seorang pria dan seorang wanita di sana. Tunggu dulu, aku sepertinya pernah melihat wanita itu. Aku juga seperti mengenal pria yang duduk di depan wanita itu. Dasar, payah! Kenapa ingatanku begitu buruk.


 


 


  Aku segera kembali ke mejaku. Aku tercengang, setengah tak percaya. Itu kan Kak Sendy, ya benar itu dia. Aku tak salah lagi, pantas saja aku seperti mengenalnya. Aku tak berniat menyapanya sama sekali. Bahkan ia tak terlihat menyadari keberadaanku yang duduk di sebelah mereka.


 


 


  Aku hanya menatapnya tajam, ada sejuta pertanyaan yang ingin ku dapatkan jawabannya hari ini juga. Aku terus mengamati setiap gerak-gerik pria itu. Entah ia memang benar-benar tak menyadari keberadaan ku, atau ia hanya berpura-pura tak tau.


 


 


"Lo besok jadi pergi ke Jepang?" Tanya wanita di depannya.


 


 


"Iya jadi." Jawab Kak Sendy setengah sedih.


 


 


"Tapi lo harus janji bakal balik lagi ke Indonesia."


 


 


"Iya gua janji. Eh, iya ini gua ada sesuatu." Ucap Kak Sendy seraya menyodorkan sebuah hadiah yang di bungkus dengan kertas kado berwarna merah.


 


 


  Itu tampak seperti buku yang kami beli di toko buku tadi.


 


 


"Apaan ni?"


 


 


"Buka aja dulu."


 


 


"Sebentar, biar gua tebak. Ini pasti buku kan?"


 


 


"Udah buka aja dulu."


 


 


  Wanita itu segera membuka bungkusan kado itu. Lagi-lagi dugaan ku benar, itu novel yang kami beli tadi. Ia bilang, novel itu untuk kakaknya. Apa wanita itu adalah kakak nya?


 


 


"Kan bener buku. Eh, tunggu ini kan novel Mariposa kan?"


 


 

__ADS_1


"Lo suka kan?"


 


 


"Suka banget lah. Makasih ya btw."


 


 


"Iya sama-sama. Yang penting lo suka. Setidaknya ini bakal jadi kenang-kenangan terakhir dari gua buat lo."


 


 


"Terakhir? Maksudnya? Gua ga mau tau, pokoknya lo harus balik ke Indonesia."


 


 


"Enggak kok gua bercanda."


 


 


"Bercanda lo keterlaluan tau gak."


 


 


"Iya sorry. Mulai besok jaga diri lo ya. Karena besok gua harus pergi."


 


 


"Iya, lo juga jaga diri ya di sana."


 


 


  Kak Sendy mengacak-acak gemas puncak kepala wanita itu. Mereka tak tampak seperti kakak adik pada umumnya, mereka lebih terlihat seperti sepasang kekasih.


 


 


***


 


 


"Eh, Eresha!" Sahut seseorang.


 


 


Aku lantas mendongakkan kepala ku.


 


 


"Eh, Kak Sendy." Sapa ku.


 


 


"Lo udah lama disini? Kok gua baru nyadar."


 


 


"Udah, sebelum kakak dateng malah."


 


 


"Lo sih pake kacamata segala, kan gua jadi pangling."


 


 


"Hehe, sorry."


 


 


"Eh, btw kenalin ini namanya Renata."


 


 


"Kenalin, Renata. Pacarnya Sendy." Ucap wanita yang bernama Renata itu sambil mengulurkan tangannya padaku.


 


 


Aku terdiam sejenak. Pacar?


 


 


"Hei, kok ngelamun?" Sahut Renata yang masih mengulurkan tangannya.


 


 


"Oh, enggak kok. Ehmm pacarnya ya. Oh iya iya. Kenalin Eresha." Ucapku sambil buru-buru membalas uluran tangannya.


 


 


  Zahra menatapku cemas. Ia tau aku sedang tak baik-baik saja setelah mengetahui jika Renata adalah pacarnya Kak Sendy. Aku kehilangan nafsu makan ku seketika. Jadi, novel yang kami beli tadi? Untuk Renata?


 


 


  Kak Sendy juga menatapku cemas. Ia tampak merasa bersalah setelah memberi tahu kenyataannya. Sementara itu, Renata menatap sekelilingnya dengan raut wajah bingung.


 


 


  Aku meremas kesal tanganku. Kemudian segera beranjak dari tempat itu. Aku pergi dengan perasaan kesal, marah, dan sedih yang bercampur aduk.


 


 


"Eresha! Tunggu!" Aku bisa mendengar suara pria itu berteriak jauh dibelakangku.


 


 


  Aku tak menghiraukannya sama sekali. Aku benar-benar benci akan semua hal yang terjadi hari ini.


 


 


  Tiba-tiba saja ada seorang yang memelukku dari belakang. Aku tak berbalik atau hanya sekedar menoleh. Tapi, hoodie hitam itu.... Aku yakin ini milik Kak Sendy. Ia memelukku cukup erat. Ia menghentikan langkahku seketika.


 


 


"Jangan pergi dulu sha." Mohon pria itu.


 


 


"Udahlah kak. Gua udah capek sama semua sandiwara lo." Ucapku setengah tergugu.


 


 


"Gua pengen jujur sama lo. Walaupun gua terpaksa pura pura perhatian sama lo, tapi jujur gua suka sama lo."


 


 


"Lo udah punya pacar kak. Jangan gila! Gua ga mau di bilang PHO." Ucapku.


 


 


Kali ini aku tak bisa menahan air mataku. Aku mengigit bibirku, supaya tak terisak.


 


 


"Tapi kalo hati gua milihnya lo, gua bisa apa."


 


 


"Sebesar apapun usaha yang dilakukan, kalau kita enggak di gariskan untuk bersama. Ya gak akan bisa kak."


 


 


"Gua cinta sama lo. Dan gua minta maaf kalau selama ini gua selalu nyakitin lo."


 


 


"Udahlah kak. Lepasin."


 


 


"Ga akan, sebelum lo maafin gua." Ucap pria itu sambil mengeratkan pelukannya, kemudian menyandarkan kepalanya di atas pundak ku.


 


 


  Tangisanku semakin menjadi. Aku meraih tangannya yang tengah mendekap ku erat. Aku mencoba menyingkirkan tangannya, melepaskan rangkulannya dari ku. Tapi, itu semua percuma, aku terlalu lemah. Begitu pula hatiku, terlalu lemah, tak setegar yang ku kira rupanya.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2