Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 27


__ADS_3

Aku sudah lumayan mengantuk, jadi ku minta Arka untuk mematikan video call kami. Menikmati sekotak maratabak telur yang masih panas, di tambah dengan segelas teh hangat benar-benar kenikmatan duniawi yang tak bisa ku pungkiri. Aku mempersiapkan beberapa barang untuk ku bawa besok. Aku sama sekali tak membawa buku pelajaran untuk besok, hanya beberapa buku bacaan Bahasa Inggris, power Bank dan beberapa Snack serta yang paling penting adalah alat tulis. Kami besok akan berangkat pukul setengah tujuh pagi. Itu artinya kami berangkat tiga puluh menit lebih cepat sebelum jam pelajaran dimulai.


Tempat olimpiade nya masih terletak di dalam kota, diselenggarakan di salah satu universitas ternama di Jakarta. Yap! Kami semua akan berkompetisi di Universitas Indonesia atau yang biasa kalian sebut dengan UI. Aku tak sabar menunggu hari esok datang. Setelah selesai menyiapkan semua perlengkapan, aku menyetel alarm pukul empat pagi, satu jam lebih cepat dari biasanya. Karena besok aku harus berangkat lebih awal.


Kini saatnya tidur, melepas semua penatku hari ini. Aku langsung terlelap sesaat setelah kubaringkan tubuhku di kasur empuk ini. Hari ini benar-benar melelahkan.


***


"Bilang aja mau minta iya kan?"


"Ya sesama manusia ada baiknya kita untuk saling berbagi."


"Udah enggak usah banyak bacot. Nih."


"Masa makan enggak ada minumnya."


Lagi-lagi suara itu terngiang begitu saja di kepalaku. Kejadian itu seperti sebuah film yang di putar kembali di dalam ingatanku. Tapi anehnya sampai sekarang aku tak bisa mengetahui siapa pria itu. Aku ingin melihat wajahnya. Wajah itu telah lama menghilang dari ingatanku, tapi tidak dengan semua suara suara itu, kejadian tragis itu.... Semuanya masih melekat di kepalaku kecuali sosok pria itu. Dia adalah orang misterius yang selalu hadir dalam ingatanku. Ia bahkan tak ingin memberi tahu siapa ia sebenarnya.


Aku terbangun dari bunga-bunga tidurku. Aku tak tahu jelas apakah itu mimpi atau hanya gambaran sebuah kejadian yang terulang kembali di ingatan ku untuk kesekian kalinya.


Mataku yang masih mengantuk melirik sebentar ke arah jam.


"Pukul satu." Gumam ku.


Aku kembali melanjutkan tidurku, mengingat besok adalah hari yang sangat penting bagiku.


***


"Kringgggg!!!"


Dengan mata yang masih enggan terbuka, aku meraba meja di sebelahku berusaha menemukan jam weker yang sudah berdering dari tadi. Dengan susah payah aku melawan rasa kantukku untuk bangun.


"Jam empat lewat sepuluh." Ucapku sambil melihat jam dengan mata yang tak bisa kubuka sepenuhnya.


Harusnya aku sudah bangun sepuluh menit yang lalu. Entah sudah berapa kali aku menunda alarm ini, yang pasti sangat banyak. Aku bergegas ke kamar mandi untuk bersiap kemudian memakai seragam lengkapku hari ini.


"Drrttt"


Ponselku bergetar pelan, aku sengaja membuat ponselku dalam mode senyap agar aku tak terganggu saat tidur. Lagi-lagi pesan dari Arka.


"Nanti aku jemput lagi ya." Tulisnya di pesan WhatsApp tersebut.


Sebaiknya aku bersama Arka saja, menunggu bis akan terlalu lama. Aku bisa saja terlambat karena harus menunggu bis di halte. Hal itu terlalu memakan banyak waktu.


"Boleh." Balasku singkat.


Aku tengah bersiap, kemudian mengambil tas ku dan hoodie hitam milikku yang tergantung di lemari. Biasanya aku memang tak memakai hoodie saat ke sekolah. Tapi kali ini aku merasa ingin memakainya. Lagipula semenjak aku di Jakarta, hoodie ini menjadi sangat jarang ku pakai, bahkan hampir tak ku sentuh sama sekali. Terakhir kali aku memakainya saat masih tinggal di kota kecil itu. Saat Zahra menginap di rumahku, kemudian kami pergi ke salah satu restoran untuk mencari makan malam. Mendadak aku menjadi rindu dengan gadis itu, begitu juga dengan dua sahabatku yang lainnya.


Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Aku segera turun ke bawah untuk sarapan. Bibi masih memasak sarapan untuk kami. Aku duduk di kursi meja makan sambil membuat roti isi selai.


"Loh mbak, kok cepat banget bangunnya. Tumben enggak seperti biasanya." Ujar bibi sambil tetap mengaduk-aduk nasi goreng di penggorengan.


"Iya bi, hari ini Eresha ada olimpiade di UI jadi kita semua rombongan dari sekolah berangkatnya jam setengah tujuh." Jelasku.


Aku kemudian menghampiri kulkas, mencari sekotak susu yang seharusnya belum habis.


"Wah, hebat mbak nya. Olimpiade apa mbak?"


"Olimpiade Bahasa Inggris bi." Balasku sambil menuang susu kotak tersebut ke gelas berukuran 256ml.


"Semangat ya mbak."


"Terimakasih banyak loh bi. Oh iya bi, ngomong-ngomong nenek belum bangun?" Tanyaku.


Karena biasanya nenek dan bibi selalu memasak sarapan bersama di dapur.


"Belum mbak, sepertinya nenek kelelahan karena orderan kemarin lumayan banyak."


"Benar juga ya." Batinku dalam hati.


Padahal seharusnya nenek tak harus melakukan ini semua. Ia sudah hidup berkecukupan selama ini. Lagipula, tanpa menjalankan usaha catering itu nenek masih tetap bisa menyambung hidupnya. Sejujurnya aku kasihan melihat nenek. Di usianya yang sudah tak muda lagi, ia harus bekerja atas keinginannya sendiri.


"Yaudah, aku ke kamar nenek dulu ya bi."


Aku kembali naik ke atas untuk melihat nenek.


***


Masih sepagi ini, Arka sudah sampai didepan rumah Eresha. Beberapa kali ia berusaha menelepon Eresha, tapi hasilnya nihil. Bagaimana tidak, Eresha meninggalkan ponselnya untuk mengisi ulang daya di kamarnya. Sementara gadis itu kini tengah berada di bilik lain rumah ini.


"Mana sih Eresha. Kok ditelepon enggak di angkat." Ucapnya sambil mematikan ponselnya.


Arka lalu turun dari sepeda motornya.


"Permisi!" Teriaknya dari luar gerbang.


Bibi yang tengah berada di dapur saat itu langsung berlari keluar untuk mengecek siapa yang sudah bertamu sepagi ini.


"Maaf cari siapa ya?" Tanya bibi.


"Eresha nya ada di rumah?"


"Oh, mbak Eresha. Ada kok, temennya ya? Masuk aja silahkan."


Bibi menuntun Arka untuk ikut dengannya ke dapur, karena ia tahu pasti selesai menemui neneknya Eresha akan kembali ke meja makan.


"Silahkan duduk disini dulu. Sebentar lagi mbak Eresha nya turun kok." Ucap bibi kemudian melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena harus membukakan pintu untuk pria ini tadi.


"Loh, ini kan tas Eresha. Terus dianya mana kok enggak ada?" Batin Arka dalam hati begitu melihat tas gadis itu terletak begitu saja di atas meja tanpa sang pemilik.


"Mungkin lagi siap-siap kali ya. Kan cewek kalau dandan lama banget." Gumamnya.


Tak lama Eresha turun setelah menemui neneknya di atas tadi. Ia memastikan jika neneknya baik-baiknya saja.


***


"Loh Arka?" Ucapku terkejut bukan main.


Sementara seseorang yang ku maksud hanya menoleh ke arahku sambil tersenyum.


"Ngapain?" Interogasi ku.


"Lah, kan tadi udah aku jelasin di chat."


"Ya iya aku tahu. Tapi kok cepat banget."


"Lebih cepat lebih baik."


"Terserah deh."


"Kamu kenapa kok hari ini beda, lagi badmood?"


"Enggak kali biasa aja. Emang beda gimana?" Tanyaku sambil memakan roti isi selai yang ku buat tadi.


"Ngomongnya jadi dingin gitu."


"Ya angetin lah." Balasku ketus.


"Yaudah sini." Ujarnya sambil merentangkan kedua tangannya.


"Ngapain sih?" Aku kebingungan di buat pria itu.


Bukan kali ini saja dia membuatnya kebingungan seperti orang bodoh.


"Mau di peluk kan?"


"Apaan sih?" Aku terkejut bukan main mendengar jawabannya barusan.


Bagaimana bisa ia mengatakan hal semacam itu disini. Apa ia tak melihat jika bibi ada di ruangan ini juga?


"Kan tadi kamu suruh angetin. Kan kalau di peluk jadinya hangat."


"Ya enggak gitu juga kali. Ada bibi tuh, kalau dia denger omongan kamu barusan terus dia lapor ke nenek habis itu nenek marah dan enggak akan ngasih izin buat kamu main ke sini lagi gimana?" Jelasku sambil memastikan jika bibi tak mendengar obrolan kami barusan.


"Udah sarapan?" Tanyaku.


"Belum, hehe..." Jawabnya sambil menyengir lebar.


"Kok belum makan sih? Kan kita mau olimpiade. Itu otak juga harus dapet asupan makanan sebelum berfikir keras. Lagian kamu kan nanti pasti nguras habis otak kamu tuh buat hitung-hitungan."


"Ya gimana mau sarapan, tadi aja aku buru-buru ke sini."


"Emang yang nyuruh kamu sepagi ini ke sini siapa? Ya salah kamu sendiri lah. Udah tuh sarapan pakai roti."


Aku beranjak dari tempat dudukku untuk mengambilkan segelas susu untuk Arka.


"Enggak di buatin nih rotinya?"


"Jangan manja!" Jawabku dengan tatapan sinis.


"Tu cewek lagi kenapa sih, lagi PMS kali ya." Gerutunya sambil mengoleskan selai di roti.


"Nih minumnya." Ucapku sambil menyodorkan segelas susu di hadapannya.

__ADS_1


"Mau kemana lagi?" Tanya Arka.


"Mau makan sereal." Jawabku santai.


Setelah selesai membuat semangkuk sereal, aku kembali duduk di dekat Arka untuk menyantapnya bersama.


"Bukannya kamu tadi udah makan?" Tanya Arka.


"Ya terus kenapa emangnya kalau aku udah makan, enggak boleh makan lagi gitu?"


"Ya jangan berlebihan lah sha, enggak baik."


"Berlebihan dari mana? Kalau di itung-itung nih ya, aku tadi makan roti cuma satu terus minum susu segelas. Itu tuh masih kurang menurut aku."


"Dasar perut gentong."


"Kami bilang apa tadi?"


"Perut gentong."


"Dasar enggak sadar diri." Ledekku sambil mengacak-acak puncak kepala Arka.


Aku turut serta tertawa saat melihat pria itu tertawa. Ia ibarat happy virus bagi semua orang disekitarnya.


"Tuh kan ketawa lagi. Nah gitu dong masa pagi-pagi mukanya udah kusut."


"Udah diem." Aku membungkam mulut Arka dengan telunjukku.


Tubuh Arka langsung mematung di tempat.


"Abisin sarapannya buruan." Perintah ku.


Orang yang ku maksud hanya mengangguk kecil.


***


"Bi, aku berangkat dulu ya. Kalau nanti nenek udah bangun bilangin kalau aku udah pergi ke sekolah ya."


"Aman mbak. Semangat ya olimpiade nya nanti."


"Pasti itu bi. Terimakasih ya."


Aku memakai hoodie yang sengaja ku letakkan di meja makan tadi kemudian menyandang tasku lalu bergegas pergi keluar untuk memakai sepatu.


"Aku nyalain sepeda motor dulu ya." Ujarnya Arka.


Aku mengangguk mengiyakan perkataannya. Sementara Arka menyalakan sepeda motornya, aku memasang sepatuku di teras rumah.


Setelah selesai dan memastikan semuanya telah siap, setelah benar-benar yakin tak ada satu hal kecil pun yang ku lupakan, aku bergegas menghampiri Arka yang sudah menungguku.


Seperti biasa Arka menyodorkan helmnya padaku. Aku memakai helm tersebut kemudian naik ke atas sepeda motor Arka. Sepeda motor ini melaju meninggalkan kompleks perumahan.


Harus ku akui jika pria ini terlihat lebih gagah saat menaiki sepeda motor ini. Tiba-tiba untuk kesekian kalinya, pria misterius itu kembali hadir di dalam ingatanku.


Sore itu ketika mentari perlahan bergerak turun, warna langit mulai menjingga. Ketika latihan marching band baru saja selesai, saat melodi itu tengah berpamitan pada kami semua. Pria misterius itu memintaku untuk ikut dengannya menaiki sepeda motor miliknya. Ia membawaku ke suatu tempat. Bukan tempat yang istimewa mungkin, jauh dari kata indah. Hanya di depan minimarket di jalanan pinggir kota, menikmati sebungkus roti sambil memandangi jalanan yang penuh akan kendaraan yang lalu lalang. Tapi aku suka momen itu, aku semua kejadian itu tak pernah beranjak pergi dari ingatanku. Tapi kenapa harus wajah pria itu yang pergi dari sana.


***


Kami telah sampai di sekolah. Aku lantas turun dari sepeda motornya. Sementara itu, Arka memarkirkan kendaraannya di barisan dekat gerbang agar mudah dikeluarkan saat pulang sekolah nanti.


"Yuk." Ajaknya setelah selesai memarkirkan sepeda motornya.


Aku kembali mengangguk. Kami berjalan beriringan ke arah kerumunan orang di dalam sana. Sebagian siswa sudah berkumpul di sana. Aku memandangi jam yang melingkar di tanganku.


"Sepuluh menit lagi." Gumam ku.


Jujur aku sedikit gugup. Bagaimanapun juga ini adalah pertama kalinya aku mengikuti olimpiade. Bebas siswa sibuk dengan buku mereka. Sebagian lagi mencoba menghapal luar kepala. Aku tak yakin bisa mengharumkan nama sekolah ini nantinya.


Aku berusaha sekuat tenaga agar semua kosa kata yang telah ku hapal mati-matian kemarin malam tak pergi begitu saja dari ingatanku.


Suasana menjadi riuh dan ramai karena sebagian dari mereka menghapal dengan suara lantang. Jujur itu sangat menggangu konsentrasi ku. Aku berusaha tetap fokus sambil memejamkan mataku.


Saat aku sedang berusaha untuk fokus, ada tangan yang menutup telingaku secara tiba-tiba. Aku membuka mataku untuk mencari tahu siapa orang tersebut. Ternyata itu adalah pria yang dari tadi berdiri di depanku.


"Biar enggak berisik." Ucapnya.


Bagaimana bisa pria ini mendadak berperilaku manis seperti ini. Aku hanya tersenyum tipis padanya sebagai tanda terimakasih atas kebaikan hatinya.


Tangan hangatnya yang menutupi telingaku membuatku merasa lebih hangat dari sebelumnya. Udara pagi ini memang lebih dingin dari biasanya. Tak sia-sia aku memakai hoodie kali ini.


"Perhatian anak-anak." Bu Tar datang memecah keriuhan suasana.


Aku segera melepaskan tangan Arka dari kepalaku.


"Sekarang semuanya berbaris rapih di depan pintu bis ya. Masuknya satu-persatu. Jangan rebutan, jangan dorong-dorongan. Paham?" Jelas Bu Tar.


"Paham Bu!" Jawab kami serentak.


Kami segera berjalan menuju bis. Hanya ada satu barisan di depan pintu bis, sehingga barisan kami terlihat seperti antrian panjang. Peserta olimpiade seluruhnya berjumlah dua puluh orang.


Arka menuntunku masuk ke dalam bis. Ia menggenggam erat tanganku. Kami memilih sebuah kursi di bagian tengah. Arka masuk duluan, ia memilih duduk di dekat jendela. Sesaat aku hendak duduk disebelahnya, tiba-tiba saja....


"Hai." Seorang gadis yang tidak tahu sopan santun itu menyerobot tempat dudukku begitu saja.


Aku dan Arka spontan terkejut bukan main.


"Eh, apa-apaan sih." Protesku tak terima.


"Hai Arka, aku boleh duduk di sini kan?"


Ia berusaha untuk membuka obrolan dengan Arka. Namun saat itu juga Arka memasang tampang dinginnya serta tak menggubris perkataan gadis itu.


Arka yang kelihatan mulai muak dengan tingkah laku gadis itu langsung berdiri dan beranjak dari sana. Ia menarik tanganku untuk pergi mencari tempat duduk yang masih kosong.


"Arka mau kemana? Kok pergi sih." Sahut gadis itu.


Namun tetap saja Arka tak menghiraukannya sedikitpun.


"Di depan aja yuk." Ujar Arka sambil menunjuk salah satu tempat duduk di depan sana.


Aku mengangguk, mengikut saja pada Arka.


Saat kami baru saja akan berjalan ke bangku yang dimaksud Arka tadi, tiba-tiba bis ini sudah menancap gasnya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Itu membuatku kehilangan keseimbangan. Tapi dengan sigap Arka menangkap tubuhku yang hampir jatuh itu. Seisi bis berteriak histeris melihat kami.


Tak ingin jadi pusat perhatian, aku segera bangkit dan menyingkirkan lengan Arka dari tubuhku.


"Pelan-pelan ya." Bisiknya di telingaku.


Ia memperingatkan ku agar berjalan dengan hati-hati, karena bis sedang melaju kencang saat ini.


Aku kembali mengangguk mengiyakan perkataannya. Aku berjalan menyusuri lorong bis sambil berpegangan di bangku penumpang. Sementara, Arka menyusul di belakangku.


Tak lama setelah aku duduk, Arka datang dan segera mengambil tempat tepat di sebelahku.


"Cewek yang tadi itu siapa?" Tanyaku penasaran.


"Oh, itu tadi Clara. Anak kelas sebelah." Ungkapnya padaku.


"Jadi kamu kenal dia."


Arka mengangguk.


"Terus dia kok bisa ada di sini? Anak olimpiade juga?"


"Iya, anak olimpiade kimia."


"Dia kok gitu sih sama kamu tadi?"


Arka melirikku sebentar dengan tatapan yang tak bisa ku artikan apa maknanya.


"Udah lah enggak usah di bahas. Aku males kalau bahas soal dia."


"Jawab ka!" Paksa ku.


Dapat ku lihat dengan jelas keraguan yang begitu besar dari raut wajahnya. Ia berdecak sebal ketika mengetahui jika ia harus menjawab pertanyaan ku. Ia terlihat tak suka jika aku membahas tentang Clara.


"Dia mantan aku." Jawabnya dengan wajah tertunduk.


"Mantan? Pantesan."


Pantas saja jika Clara bersikap sok akrab dengan Arka, ternyata mereka memang pernah dekat.


"Pantesan kenapa?" Tanya Arka yang mulai panik.


"Pantesan kalau dia sok dekat banget sama kamu." Ketus ku sambil memalingkan wajah darinya.


"Cermburu ya?" Godanya.


Aku masih bungkam seribu bahasa. Aku melemparkan pandanganku ke jalanan yang tengah kami lewati. Meski kepalaku sedikit pusing karena harus melihat kendaraan yang lalu lalang, tapi itu lebih baik daripada melihat wajah pria ini.


Aku tak suka jika ia dekat-dekat dengan gadis itu lagi. Terlebih status Arka yang sekarang ini masih menjadi pacarku. Aku yakin Clara sedang berusaha untuk mendekati Arka lagi. Tingkah lakunya barusan benar-benar murahan. Rasanya aku sudah muak melihat wajah nya meski kami baru bertemu.


Secara tiba-tiba Arka memalingkan wajahku yang sibuk menatap lewat kaca itu dengan kedua tangannya. Kali ini ia membuatku harus terpaksa menatap wajahnya. Ia menangkup kan tangannya di kedua pipiku.

__ADS_1


Rasa kesal masih menguasai seluruh perasaanku hingga sulit bagiku untuk luluh dengan sikap manisnya padaku kali ini.


"Sha, dengerin aku. Dia itu cuma masa lalu aku yang udah terkubur jauh di dalam sana. Dan aku berusaha untuk enggak menggali hal itu lagi." Jelasnya.


Aku melepaskan kedua tangannya dari pipiku.


"Tunggu sebentar, orang-orang bilang kan kamu enggak pernah pacaran sebelumnya."


Aku mulai teringat akan satu hal. Banyak orang yang mengatakan jika Arka tidak pernah berpacaran sebelumnya.


"Waktu itu enggak banyak yang tahu emang soal hubungan kita."


"Terus kenapa kamu mutusin dia?" Tanyaku.


"Dia udah ngekhianatin aku. Disaat dia pacaran sama aku, dia malah pacaran sama Roni Ketua OSIS kita. Dia memanfaatkan situasi, dimana waktu itu memang enggak ada yang tahu kalau dia pacaran sama aku."


Lalu, bagaimana jika suatu hari nanti ingatanku tentang pria misterius itu kembali. Pria yang dulu sempat ku cintai, bahkan hingga sekarang. Hanya saja aku tak tahu siapa dia. Ia menghilang ketika Arka datang mengisi hatiku. Bagaiman jika suatu hari nanti aku bertemu dengan pria itu dan kembali ke pelukannya, apa Arka akan membenciku sama seperti ia membenci Clara saat ini.


"Terus gimana hubungan dia sama Roni?" Tanyaku lagi.


"Kandas, itu semua cuma berlangsung sebentar doang. Enggak sampai sebulan.".


"Terus kenapa dia masih ngejar kamu?"


Arka mengangkat kedua bahunya menyatakan jika ia tak tahu apa-apa soal itu.


"Tapi aku enggak akan jatuh ke lubang yang sama kok. Aku enggak akan pernah takluk oleh Clara. Akan terlalu sulit bagi dia buat menaklukkan aku lagi kayak dulu." Sambung nya.


"Kenapa kok gitu?"


Aku yakin jika pria ini sedang berusaha menggombal.


"Karena di dalam hati aku ada...." Ia sengaja menggantung kalimatnya.


"Ada apa?"


"Ada seorang ratu yang telah menaklukkan hati aku. Dan aku enggak akan bisa lepas apa lagi berpaling dari orang itu. Orang itu seperti punya sihir yang membuat aku enggak bisa berkutik. Setiap dia bicara, semua kata-katanya itu seperti mantra ajaib yang sedang ia rapalkan."


"Nenek sihir dong, haha..."


"Ya enggak lah, masa iya nenek sihir. Orang itu adalah kamu." Ucapnya dengan nada serius.


"Aku?"


Arka kembali mengangguk.


"Kalau gitu sekarang aku akan sihir kamu. Aku akan buat kamu tertidur."


"Lalu akan sadar ketika menerima ciuman dari cinta sejatinya?" Tanya Arka sambil tersenyum nakal.


"Satu... Dua... Tiga... Tertidur lah..." Ucapku kemudian beraksi menutup mata Arka seperti para pesulap yang sedang menghipnotis rekannya.


Pria itu berpura-pura tertidur di pundak ku.


"Baiklah, mulai sekarang kamu harus nurutin semua kata-kata aku." Ucapku.


"Menurut kamu cewek yang bernama Eresha Caitlyn Ananda itu gimana?"


"Eresha itu cantik seperti peri yang turun dari surga. Hatinya baik, lembut, suka menolong. Ia juga pintar, ia tak pelit untuk berbagi senyuman indahnya itu. Dia mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Eh, enggak paling sempurna juga deh. Kan enggak ada yang sempurna di dunia ini. Hmmm.... Lebih tepatnya dia itu nyaris sempurna."


Aku tertawa mendengar pengakuan pria itu barusan.


"Kok ketawa?" Tanya Arka kemudian terbangun.


"Kok bangun? Kan belum aku suruh bangun." Aku masih saja tak bisa menahan tawa karena pria ini.


***


Kami sudah sampai di kampus itu, tempat yang sebentar lagi akan menjadi saksi perjuangan kami.


Aku dan Arka turun dari bis, kini suasana menjadi lebih serius bahkan sangat serius. Aku melihat banyak rombongan pelajaran lainnya yang baru saja turun dari bis mereka. Aku semakin gugup saja. Tak begitu jauh, di dalam sana ada organ yang sudah tak beraturan lagi temponya. Detak jantungku semakin menjadi-jadi. Dengan susah payah aku menelan saliva ku sendiri. Tanganku berkeringat dingin.


Kami di minta berbaris dengan rapih. Karena Bu Tar akan membagikan kartu tanda pengenal.


"Terimakasih Bu." Ucapku ketika Bu Tar memberikan kartu itu padaku.


Aku masih tak percaya jika sekarang aku menjadi peserta olimpiade dan akan bersaing dengan banyak siswa dari sekolah lainnya.


Kami diarahkan Bu Tar untuk masuk ke dalam aula yang menjadi tempat diselenggarakannya perlombaan. Sesampainya di dalam, kami di persilahkan untuk duduk di bangku penonton. Kami akan tetap duduk disini sampai giliran kami sudah tiba nanti. Aku duduk bersebelahan dengan Arka. Tapi satu hal yang membuatku jengkel adalah kenapa gadis itu harus ikut duduk di sebelahku, siapa lagi jika bukan Clara. Lagian masih banyak kursi yang kosong. Kenapa dia harus memilih duduk disini. Jadi kurang lebih posisiku sekarang berada diantara mereka berdua, Arka dan Clara.


Ruangan sudah hampir penuh. Aku tak bisa mengontrol diriku sendiri saat ini. Aku terlalu gugup. Arka yang sepertinya menyadari hal itu lantas menatapku sekilas, meski aku menghiraukannya karena aku terlalu sibuk atas diriku sendiri saat itu.


"Tenang aja, kamu pasti bisa. Gimana kalau kita buat tantangan." Bisiknya pelan di telingaku.


"Tantangan apaan?"


"Siapa yang bisa dapetin skor paling tinggi di antara kita, bakalan jadi pemenangnya. Dan siapapun yang kalah wajib traktir yang menang. Gimana?


"Oke."


Aku menerima tantangan Arka tanpa pikir panjang.


"Oke, kita liat aja nanti."


***


Kini ruangan sudah benar-benar penuh. Seluruh peserta sudah masuk bersama guru pembimbing mereka masing-masing. Aku berusaha menenangkan diriku sendiri. Sementara Clara terlihat biasa saja, seperti tak ada beban sama sekali. Ia terlihat begitu santai seolah sudah biasa menghadapi situasi semacam ini.


Pembawa acara terlihat memasuki ruangan ini bersama para juri lainnya. Ia mengintruksikan agar semua peserta mempersiapkan dirinya karena acara akan segera di mulai. Kemudian ia membacakan urutan mata pelajaran yang akan diperlombakan. Sial! Bagaimana bisa aku berada di urutan ke dua.


Clara turun lebih dulu ke samping panggung, karena Kimia mendapatkan giliran pertama. Ia terlihat cukup percaya diri saat menaiki panggung.


Waktu terus berjalan, soal demi soal yang dibacakan juri hampir selesai. Dengan mudahnya gadis itu menghitung reaksi-reaksi yang terjadi. Seolah itu semua sedang terjadi di kepalanya. Tangannya dengan sigap menekan tombol lebih dulu, membuat peserta yang lain terlihat kewalahan menghadapi anak ini. Harus ku akui kemampuannya di bidang ini luar biasa. Tak salah lagi jika Bu Tar memilihnya untuk cabang mata pelajaran kimia. Kecepatan berpikirnya memang patut di acungi jempol.


Aku di minta Bu Tar untuk menuju ke samping panggung di pertengahan acara bersama para peserta olimpiade Bahasa Inggris lainnya untuk bersiap. Aku berdiri dengan gugup, tapi kali ini aku sudah bisa melawan rasa takutku.


"Semangat!" Ucap Arka pelan.


Aku mengangguk lemah.


Aku bersama empat orang lainnya tengah berdiri di samping panggung menunggu giliran. Aku kembali meyakinkan diriku jika aku bisa menaklukkannya.


Tak lama sesi mata pelajaran kimia telah berakhir dan Clara memimpin nilai untuk saat ini. Bisa dipastikan jika ia akan membawa pulang medali itu.


Clara turun dari panggung dengan wajah puas.


"Eh, ada yang mau tanding nih. Semangat ya." Ucapnya dengan tatapan tak suka.


"Baiklah sekarang mari kita sambut peserta olimpiade untuk mata pelajaran Bahasa Inggris!" Seru si pembawa acara.


Kami berlima naik ke atas panggung kemudian memberi hormat pada penonton. Mataku tertuju kepada Clara yang mengisi tempat dudukku di samping Arka yang tengah kosong. Aku berusaha tak terpancing dengan akal busuk Clara. Ia sengaja ingin membuatku emosi lalu kehilangan konsentrasi dan kalah. Tapi aku tak semudah itu untuk dijatuhkan.


Aku berusaha untuk kembali fokus tanpa menghiraukan mereka sedikitpun. Pikiranku saat ini sepenuhnya hanya tertuju pada olimpiade ini. Aku akan melahap semua soal itu sendirian dan enggan berbagi ke peserta lainnya, sama seperti yang di lakukan oleh Clara tadi. Bahkan aku akan melakukan itu lebih baik darinya.


"Jika kau ingin menang, bersikaplah egois." Batinku dalam hati.


Hukum rimba berlaku disini. Siapa yang lebih kuat dia yang menang.


Gemuruh suara tepuk tangan penonton terdengar dari segala penjuru. Kami di persilahkan duduk di tempat yang telah di sediakan. Mataku menatap lurus ke depan, aku samasekali tak menghiraukan sekitarku.


Pembawa acara membuka lembaran soal pertama. Aku memasang telingaku lebar-lebar, memastikan tak ada sedikitpun yang keliru. Satu kesalahan kecil saja bisa merusak semuanya yang telah ku latih selama ini.


"Baiklah pertanyaan pertama."


"Apakah bentuk kata kerja ketiga dari kata ride?"


Tanganku spontan menekan bel itu. Beruntung aku menjadi orang pertama yang menekannya.


"Silahkan jawabannya."


"Riden." Jawabku dengan yakin.


"Ya! Benar!" Ucap salah satu juri di ujung sana.


Ini adalah awal yang baik bagiku. Aku telah mengumpulkan poin di pertanyaan pertama. Ku harap hasilnya sesuai dengan yang ku harapkan.


Pertanyaan kedua hingga selanjutnya berhasil ku babat habis. Aku sendiri hampir tak percaya dengan apa yang ku lakukan barusan. Ini jauh melampaui ekspektasi ku selama ini. Aku bahkan tak memberikan kesempatan sedikitpun bagi lawanku untuk menjawabnya.


Hingga tiba saatnya untuk pertanyaan terakhir, pertanyaan pamungkas. Jika aku bisa menjawab pertanyaan ini, maka itu artinya aku akan mendapatkan skor sempurna.


"Thesis, arguments and reiteration is a generic structure part of?"


Aku berusaha menerjemahkannya secara cepat di otakku kemudian tanpa membuang waktu aku segera menekan bel nya.


"Ekspotion text!" Jawabku dengan lantang.


"Sempurna!" Seru si pembawa acara.


Aku masih belum yakin dengan apa yang baru saja ku lakukan hingga sekarang. Aku tersenyum puas dengan hasil skor ku. Siapapun tolong katakan jika ini bukanlah mimpi. Aku telah membuktikannya pada dunia jika aku jauh lebih baik daripada Clara.


Aku berlari ke arah tempat duduk kami dengan perasaan bangga. Mereka memberikanku tepuk tangan. Bu Tar tampak tersenyum bangga sambil mengacungkan jempolnya padaku. Aku segera menghampiri Arka dengan perasaan yang tak bisa ku deskripsikan.


Aku memeluk Arka dengan begitu bahagia, sangat bahagia. Arka pun kelihatannya sama.

__ADS_1


"Selamat ya! Kan udah aku bilang kalau kamu pasti bisa. Kamu hebat." Bisik Arka pelan di telingaku.


__ADS_2