
"Sha, bukannya jam segini harusnya lo udah naik pesawat ya?" Tanya pria itu.
Ia tak mengalami luka berat, hanya lecet di beberapa bagian saja. Tapi itu membuatku khawatir dengannya. Bisa dibilang kondisinya cukup baik daripada para penumpang lainnya. Bangsal rumah sakit ini telah dipenuhi oleh korban pesawat tadi. Syukur tak ada penumpang maupun awak pesawat yang mengalami cedera berat.
"Sha!" Sahut pria itu.
"Ha? Iya Kak Sen." Jawabku yang baru saja terlepas dari lamunanku.
"Lo kenapa ngelamun?"
"Ah? Enggak kok."
"Terus gimana sama pertanyaan gua tadi?"
"Ha? Pertanyaan yang mana?"
"Tuh kan lo ngelamun deh pasti tadi."
Aku hanya nyengir seolah tak bersalah dalam situasi ini. Walaupun sebenarnya aku memang sedang melamun tadi.
"Lo gak balik ke Siantar? Kan seharusnya sekarang lo di bandara. Mungkin sekarang pesawat lo udah berangkat."
"Biarin aja. Bodo amat."
"Loh kok gitu?"
"Ya masa aku ninggalin kakak sendirian disini."
"Terus tiket lo?"
"Ya hangus la."
"Terus lo balik gimana?"
"Kan bisa besok atau kapan. Lagian masih capek banget. Masa dari Jepang langsung ke Indonesia langsung terbang lagi ke Kualanamu, terus naik kereta ke stasiun Medan. Terus naik bus ke Siantar. Capek banget kak."
"Iya gua tau kok. Terus lo mau nginep di mana?"
"Di rumah sakit."
"Ngapain?"
"Ya sambil jagain kakak. Lagian kan kalau di rumah sakit gratis."
"Ya elu yang gratis lah gua."
__ADS_1
"Enggak apa-apa yang penting kakak cepat sembuh."
***
Aku berdiri di balkon rumah sakit sesekali mengecek ponselku. Renata memutuskan untuk membawa koperku bersamanya kembali ke Siantar. Untung saja aku membawa tas selempang kecil yang berisi beberapa hal penting. Rasanya tubuhku ingin roboh sekarang juga. Benar-benar perjalanan yang melelahkan. Benar juga kata Kak Sendy. Tak seharusnya aku kembali ke Indonesia secepat ini. Tapi, ya sudah lah. Aku akan lebih tidak betah berlama-lama disana. Sudah jam sepuluh malam, harusnya Kak Sendy sudah tertidur. Aku bahkan tak tahu harus tidur dimana malam ini. Atau mungkin aku akan terjaga sepanjang malam. Bahkan aku belum memakan sesuatu dari tadi siang.
"Di depan rumah sakit ini ada warung gak ya?" Gumam ku dalam hati.
Aku segera menuju tangga di ujung koridor. Bangsal tempat Kak Sendy di rawat berada di lantai dua, jadi tak apa jika aku turun menggunakan tangga. Syukurlah masih ada warung bubur ayam yang buka jam segini. Aku memutuskan untuk makan disana sambil menghabiskan waktu tidurku. Sudah jam setengah sebelas, aku kembali ke bangsal tempat Kak Sendy di rawat sambil membawa sebungkus bubur ayam yang memang sengaja ku bawakan untuknya.
***
Siapa wanita itu, aku seperti mengenalnya. Aku mencoba mendekati wanita yang sedang duduk di samping ranjang Kak Sendy. Mereka tampak begitu akrab.
"Eh, Eresha lo dari mana aja gua cariin." Sahut Kak Sendy.
Tanpa menggubris pertanyaannya barusan, aku segera mempercepat langkahku menuju posisi mereka sekarang. Kemudian meletakkan plastik bungkusan bubur ayam itu di meja yang di sediakan disampingnya.
"Renata? Loh? Bukannya sekarang harusnya lo udah balik ke Siantar?" Tanyaku heran.
"Harusnya sih gitu. Cuma tadi gua denger berita dari Bandara. Dan gua buru-buru langsung kesini deh." Jelas gadis itu.
"Terus lo kesini sama siapa?"
"Terus malam ini lo mau tidur dimana?"
"Di rumah sakit ini boleh kan? Sekalian gua jagain Kak Sendy."
"Oh gitu."
Kenapa Renata harus muncul lagi. Harusnya aku yang berada di posisinya sekarang. Tapi tunggu dulu, harusnya aku sadar diri. Aku bukan siapa-siapa nya Kak Sendy. Bahkan aku tak tahu apakah kehadiran ku ini masih dianggap atau tidak.
"Yaudah ini bubur nya gua beliin buat Kak Sendy tadi sekalian. Jangan lupa dimakan." Ucapku sambil menunjuk ke arah bubur ayam itu.
"Lo udah makan?" Tanya Kak Sendy.
"Udah kok. Tenang aja." Balasku.
"Gua suapin ya Sen." Tawar Renata.
Sebenarnya jika boleh, ingin sekali aku berada di posisi Renata sekarang. Mungkin jika aku tak memiliki perikemanusiaan, bisa saja sekarang aku merampas bubur itu dari genggamannya. Tapi lebih baik aku mengalah untuk saat ini.
"Yaudah gua keluar dulu ya." Izinku.
__ADS_1
"Lo mau kemana udah malem gini?" Tanya Kak Sendy.
"Mau cari udara segar." Jawabku.
"Tapi ini udah malem. Di luar dingin." Nasehat pria itu padaku.
Aku berlari keluar bangsal. Sebenarnya aku sudah tak tahan melihat kemesraan mereka disana. Aku merobohkan diriku di kursi tunggu di depan bangsal. Mungkin sebaiknya malam ini aku tidur disini saja. Toh, di dalam juga sudah ada Renata. Tidak mungkin aku juga tidur di dalam. Sudah tidak ada tempat yang tersisa lagi pastinya.
***
Kegelapan telah menyelimuti ku. Mataku terpejam tanpa sepengetahuanku. Hawa dingin menyeruak tajam. Aku belum terlelap sepenuhnya. Antara sadar dan tidak. Jika bisa diibaratkan, jiwaku belum sepenuhnya berada di alam bawah sadar ku. Aku bisa merasakan seseorang datang, mendekat ke arahku. Mungkin pasien lain, atau suster yang sedang sift malam. Aku tak terlalu peduli dengan hal itu.
***
"Hoammm."
Selamat pagi semesta, selamat datang hari baru. Semoga hari ini lebih baik dari yang kemarin. Semoga semesta bersahabat dengan semua manusia. Semoga hari ini seisi dunia bahagia. Aku menarik nafas dalam-dalam kemudian membuangnya. Benar-benar udara pagi yang menyegarkan. Aku membuka mataku perlahan. Cahaya mentari ramah menyapa netra ku. Hangatnya seolah telah mengeyahkan dingin malam tadi. Aku baru menyadari satu hal. Siapa dia? Ia yang menenggelamkan wajahnya dipundak ku. Dengan ragu aku menepikan sebagian rambut yang menutupi wajahnya. Kak Sendy? Mengapa ia berada disini? Apa ia sudah dari tadi malam berada disini? Lalu kemana Renata? Aku tak tega membangunkannya. Ia tampak begitu lelah sama lelahnya seperti aku mungkin. Aku menyandarkan kepalaku ke kepalanya. Secara tiba-tiba sebuah tangan mengelus halus pipiku.
"Lo udah bangun sha?" Tanya pria itu kemudian bangkit.
Ia masih tampak mengantuk. Tak seharusnya ia berada disini. Dan kami hanya berselimutkan Hoodie hitan kesayangannya. Pria ini benar-benar sudah gila. Dia kan sakit seharusnya ia tetap berada di ranjang. Jujur aku kecewa dengan Renata. Kemana ia pergi, dengan cerobohnya membiarkan pria nekat ini tidur diluar.
"Kakak kok tidur di luar?" Tanyaku.
Butuh beberapa saat bagi nya untuk menjawab pertanyaan ku. Ia terlihat masih mengumpulkan sebagian nyawanya yang masih ketinggalan di alam mimpi.
"Ya nemenin lo lah. Pakek nanya segala."
"Kok gak di dalem aja sih kak, bareng Renata. Kan kakak lagi sakit malah tidur di luar."
"Renata kemarin tiba-tiba di telfon sama mama nya dan di suruh cepat-cepat balik ke Siantar. Katanya sih ada urusan keluarga."
"Terus kenapa mesti tidur di luar sih."
"Males aja tidur di dalem sempit, pengap, susah nafas gua. Lo sendiri ngapain tidur di luar?"
"Ketiduran."
Meskipun sebenarnya bukan itu alasan yang sesungguhnya. Hanya saja, tidak mungkin aku mengatakan jika aku harus tidur diluar karena Renata.
"Lo pasti capek banget ya? Sampai ketiduran segala."
Aku hanya tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang aku sendiri tak dapat mengartikannya.
__ADS_1