
Sekarang sudah langit suah sepenuhnya gelap. Gulita
menyelimuti angkasa raya. Ribuan bintang bertabur di atas sana. Menghiasi
angkasa, sehingga tidak lagi terlihat menyeramkan. Meski sudah hampir pukuul
sepuluh malam, tapi nyaris tidak ada perubahan sama sekali di pusat kota selain
suasana yang kian gelap. Dari pagi buta hingga hampir tengah malam seperti ini
saja suasananya masih tampak ramai. Banyak manusia yang berlalu lalang di
jalanan utama sejak tadi.
Tidak perlu merasa cemas, beberapa orang yang tinggal di
kota besar seperti ini sudah menganggapnya sebagai hal wajar. Kota ini seperti
tidak pernah ada matinya. Kisahnya seperti tidak pernah ada usainya.
20.45
Lima belas menit lagi, jaru jam akan menunjukkan pukul
sepuluh malam tepat. Seperti rencana mereka sebalumnya jika semua orang sudah
sepakat untuk sampai di sana setidaknya dua jam sebelum kapal musuh bersandar. Seharusnya
mereka sudah berada di sana sejak tiga puluh menit yang lalu. Tapi, ada
beberapa hal yang tidak bisa ditunda. Sehingga terpaksa tim ini menunda jadwal
untuk pergi. Sekarang hanya tersisa setengah dari waktu yang sudah ditentukan.
“Apa kita bisa sampai di sana dalam waktu kuang dari lima
belas menit?” tanya Arjuna.
Yang ia maksud adalah pelabuhan.
“Kalau ada yang tahu rute tercepatnya, kita bisa mencoba
yang satu itu paling tidak,” balas Jeff.
Tapi sayangnya jawaban tersebut sama sekali tidak membantu. Karena
pada faktanya tidak ada yang tahu rute tercepat menuju sana selain jalan yang
biasanya mereka lalui.
“Sudahlah, jangan buang-buang waktu untuk berpikir!” celetuk
Agatha.
Mereka sudah berada di parkiran sejak tadi, tapi bukannya
langsung berangkat, ini malah sibuk memikirkan masalah yang jelas-jelas tidak
ada jalan keluarnya. Dengan terlalu lama berpikir seperti ini, sama saja dengan
buang-buang waktu.
Tanpa mempedulikan rekasi teman-teman satu timnya yang lain
atas ucapannya barusan, Agatha langsung menyalakan mesin sepeda motornya. Hari ini
gadis itu akan pergi sendiri ke sana. Tidak menumpang bersama yang lain seperti
biasanya. Mengingat jika perlengkapan menembak jarak jauh yang dibawa gadis itu
cukup memakan banyak tempat, sehingga akan terasa jauh lebih baik kalau ia
membawa sepeda motor sendiri saja.
__ADS_1
“Tetaplah berpikir di sini sampai waktunya habis!” sarkas
Agatha kemudian menutup kaca pelapis helmnya.
Tidak pikir panjang, Agatha buru-buru memacu kendaraannya di
jalan raya. Kali ini dia tidak mengebut. Tenang saja. Gadis itu hanya menaikkan
kecepatan sepeda motornya sedikit dari pada biasanya. Dengan begitu, setidaknya
ia bisa sampai lebih awal. Walau pun kecil kemungkinan untuk tiba tepat waktu.
Tepat beberapa detik setelah Agatha pergi, semua orang
saling melempar pandangan satu sama lain. Tanpa terkecuali. Sepertinya mereka
baru menyadari kalau apa yang dikatakan oleh Agatha sebelumnya benar. Terlalu
banyak berpikir seperti ini hanya akan membuang-buang waktunya.
Tanpa pikir panjang lagi, mereka buru-buru menyusul Agatha
selagi gadis itu belum pergi jauh. Ia tidak boleh sampai di sana sendirian. Ini
adalah misi tim. Lagi pula untuk apa gunanya tim dibentuk jika pada akhirnya
mereka hanya menyelesaikan masalahnya sendiri-sendiri. Sebagai rekan satu tim
yang baik dan bertanggung jawab, mereka tidak akan membiarkan Agatha
mengerjakan semuanya sendirian.
‘VROOM!!!’
Agatha yang semula tengah fokus terhadap jalanan di
depannya, sontak menoleh sekilas ke arah sumber suara ketika suara berisik itu
muncul secara tiba-tiba.
Ternyata itu adalah sepeda motor Arjuna. Pria tersebut
tengah berkendara tepat di sebelahnya. Sementara sisanya berada di belakang,
membuntuti mereka berdua. Secara tidak langsung, Agatha dan Arjuna berperan
jadi penunjuk jalan bagi yang lainnya. Padahal ini bukan yang pertama kalinya
tim mereka pergi ke pelabuhan tersebut. Jadi seharusnya mereka sudah hapal
dengan rute tersebut.
***
Sesuai dugaan. Mereka sampai di pelabuhan lewat dari waktu
yang telah ditentukan. Tapi, untunglah tidak terlambat terlalu lama. Hanya
sepuluh menit. Tapi, tetap saja Agatha tidak bisa terima, itu adalah sepuluh
menit yang cukup berharga.
Begitu menepikan sepeda motornya, Agatha langsung menerobos
masuk begitu saja. Namun, tiba-tiba saja petugas pelabuhan yang sedang berjaga
malam itu menghentikannya.
“Hei! Apa yang kau lakukan malam-malam di sini?!” tany pria
berbadan kekar tersebut dengan nada yang tidak menyenangkan.
Agatha berdecak sebal karena seseorang mencoba untuk
__ADS_1
menghentikan langkahnya. Padahal bukankah Arjuna sudah memberi tahu orang-orang
ini sebelumnya jika tim khusus dari kepolisian akan kemari untuk menggagalkan
transaksi narkoba yang sebentar lagi akan terjadi.
Karena sedang tidak memakai baju seragam, satu-satunya
barang yang Agatha punya untuk menunjukkan identitasnya adalah kartu identitas
mereka. Kebetulan ia selalu membawa kartu tersebut kemana-mana bersamanya. Terutama
pada saat sedang menjalankan misi seperti ini. Pada saat melaksanakan misi
rahasia, mereka dilarang untuk memakai baju seragam, agar tidak menimbulkan
kecurigaan. Pihak lawan pasti akan mudah mengenalinya. Jadi, satu-satunya
pakaian yang paling aman dan tentunya bisa mereka pakai adalah jaket serta
rompi anti peluru.
‘TAP! TAP! TAP!’
Tak lama kemudian meuncul suara langkah kaki yang terdengar
begitu nyaring dari arah berlawanan. Bagaimana tidak nyaring, lebih dari lima
orang melangkah secara bersamaan.
“Apakah mereka juga sama denganmu?” tanya si penjaga
tersebut.
“Periksa saja satu-persatu. Jangan sampai ada penyusup yang
menggagalkan rencana kami,” balas gadis itu kemudian pergi begitu saja.
Agatha sudah selesai diperiksa, jadi ia bisa langsung pergi.
Berbeda dengan yang lainnya. Mereka harus diperiksa lebih dulu untuk mengurangi
kemungkinan terburuknya. Yaitu, adanya penyusup yang berpura-pura menjadi
anggota tim tambahan. Meski sejauh ini masih aman dan tidak ada tanda-tanda sama
sekali, tetap saja mereka harus berhati-hati. Waspada akan membuat aman.
Sementara teman-temannya yang lain masih diperiksa, Agatha langsung
pergi menuju mercusuar. Tempat dimana dirinya ditugaskan. Sama seperti anggota
yang lainnya, mereka juga langsung pergi ke tempatnya masing-masing. Sesuai
dengan yang sudah direncanakan tadi.
“Sial!” umpat gadis itu kesal.
Melihat deretan anak tangga yang berada di hadapannya saat
ini saja sudah berhasil untuk membuatnya kesal. Tidak ada jalan lain untuk
pergi ke atas selain melewati anak tangga ini. Pasalnya, tangga adalah akses
satu-satunya menuju puncak. Padahal semua orang juga tahu kalau musuh terbesar
gadis ini adalah tangga. Dia tidak suka menggunakan tangga untuk naik ke lantai
berikutnya. Tapi, untuk saat ini mau tak mau ia tetap harus melewatinya.
Dari pada terlalu lama mengeluh
seperti ini, tidak akan menyelesaikan masalah. Dengan berat hati, Agatha mulai
__ADS_1
berlari-lari kecil menaiki anak tangga. Berharap jika kakinya tidak akan jadi
kram ketika sampai di atas. Benar-benar menyebalkan, huh!