Pengagum Lara

Pengagum Lara
Hurry Up!


__ADS_3

Sekarang sudah langit suah sepenuhnya gelap. Gulita


menyelimuti angkasa raya. Ribuan bintang bertabur di atas sana. Menghiasi


angkasa, sehingga tidak lagi terlihat menyeramkan. Meski sudah hampir pukuul


sepuluh malam, tapi nyaris tidak ada perubahan sama sekali di pusat kota selain


suasana yang kian gelap. Dari pagi buta hingga hampir tengah malam seperti ini


saja suasananya masih tampak ramai. Banyak manusia yang berlalu lalang di


jalanan utama sejak tadi.


Tidak perlu merasa cemas, beberapa orang yang tinggal di


kota besar seperti ini sudah menganggapnya sebagai hal wajar. Kota ini seperti


tidak pernah ada matinya. Kisahnya seperti tidak pernah ada usainya.


20.45


Lima belas menit lagi, jaru jam akan menunjukkan pukul


sepuluh malam tepat. Seperti rencana mereka sebalumnya jika semua orang sudah


sepakat untuk sampai di sana setidaknya dua jam sebelum kapal musuh bersandar. Seharusnya


mereka sudah berada di sana sejak tiga puluh menit yang lalu. Tapi, ada


beberapa hal yang tidak bisa ditunda. Sehingga terpaksa tim ini menunda jadwal


untuk pergi. Sekarang hanya tersisa setengah dari waktu yang sudah ditentukan.


“Apa kita bisa sampai di sana dalam waktu kuang dari lima


belas menit?” tanya Arjuna.


Yang ia maksud adalah pelabuhan.


“Kalau ada yang tahu rute tercepatnya, kita bisa mencoba


yang satu itu paling tidak,” balas Jeff.


Tapi sayangnya jawaban tersebut sama sekali tidak membantu. Karena


pada faktanya tidak ada yang tahu rute tercepat menuju sana selain jalan yang


biasanya mereka lalui.


“Sudahlah, jangan buang-buang waktu untuk berpikir!” celetuk


Agatha.


Mereka sudah berada di parkiran sejak tadi, tapi bukannya


langsung berangkat, ini malah sibuk memikirkan masalah yang jelas-jelas tidak


ada jalan keluarnya. Dengan terlalu lama berpikir seperti ini, sama saja dengan


buang-buang waktu.


Tanpa mempedulikan rekasi teman-teman satu timnya yang lain


atas ucapannya barusan, Agatha langsung menyalakan mesin sepeda motornya. Hari ini


gadis itu akan pergi sendiri ke sana. Tidak menumpang bersama yang lain seperti


biasanya. Mengingat jika perlengkapan menembak jarak jauh yang dibawa gadis itu


cukup memakan banyak tempat, sehingga akan terasa jauh lebih baik kalau ia


membawa sepeda motor sendiri saja.

__ADS_1


“Tetaplah berpikir di sini sampai waktunya habis!” sarkas


Agatha kemudian menutup kaca pelapis helmnya.


Tidak pikir panjang, Agatha buru-buru memacu kendaraannya di


jalan raya. Kali ini dia tidak mengebut. Tenang saja. Gadis itu hanya menaikkan


kecepatan sepeda motornya sedikit dari pada biasanya. Dengan begitu, setidaknya


ia bisa sampai lebih awal. Walau pun kecil kemungkinan untuk tiba tepat waktu.


Tepat beberapa detik setelah Agatha pergi, semua orang


saling melempar pandangan satu sama lain. Tanpa terkecuali. Sepertinya mereka


baru menyadari kalau apa yang dikatakan oleh Agatha sebelumnya benar. Terlalu


banyak berpikir seperti ini hanya akan membuang-buang waktunya.


Tanpa pikir panjang lagi, mereka buru-buru menyusul Agatha


selagi gadis itu belum pergi jauh. Ia tidak boleh sampai di sana sendirian. Ini


adalah misi tim. Lagi pula untuk apa gunanya tim dibentuk jika pada akhirnya


mereka hanya menyelesaikan masalahnya sendiri-sendiri. Sebagai rekan satu tim


yang baik dan bertanggung jawab, mereka tidak akan membiarkan Agatha


mengerjakan semuanya sendirian.


‘VROOM!!!’


Agatha yang semula tengah fokus terhadap jalanan di


depannya, sontak menoleh sekilas ke arah sumber suara ketika suara berisik itu


muncul secara tiba-tiba.


Ternyata itu adalah sepeda motor Arjuna. Pria tersebut


tengah berkendara tepat di sebelahnya. Sementara sisanya berada di belakang,


membuntuti mereka berdua. Secara tidak langsung, Agatha dan Arjuna berperan


jadi penunjuk jalan bagi yang lainnya. Padahal ini bukan yang pertama kalinya


tim mereka pergi ke pelabuhan tersebut. Jadi seharusnya mereka sudah hapal


dengan rute tersebut.


***


Sesuai dugaan. Mereka sampai di pelabuhan lewat dari waktu


yang telah ditentukan. Tapi, untunglah tidak terlambat terlalu lama. Hanya


sepuluh menit. Tapi, tetap saja Agatha tidak bisa terima, itu adalah sepuluh


menit yang cukup berharga.


Begitu menepikan sepeda motornya, Agatha langsung menerobos


masuk begitu saja. Namun, tiba-tiba saja petugas pelabuhan yang sedang berjaga


malam itu menghentikannya.


“Hei! Apa yang kau lakukan malam-malam di sini?!” tany pria


berbadan kekar tersebut dengan nada yang tidak menyenangkan.


Agatha berdecak sebal karena seseorang mencoba untuk

__ADS_1


menghentikan langkahnya. Padahal bukankah Arjuna sudah memberi tahu orang-orang


ini sebelumnya jika tim khusus dari kepolisian akan kemari untuk menggagalkan


transaksi narkoba yang sebentar lagi akan terjadi.


Karena sedang tidak memakai baju seragam, satu-satunya


barang yang Agatha punya untuk menunjukkan identitasnya adalah kartu identitas


mereka. Kebetulan ia selalu membawa kartu tersebut kemana-mana bersamanya. Terutama


pada saat sedang menjalankan misi seperti ini. Pada saat melaksanakan misi


rahasia, mereka dilarang untuk memakai baju seragam, agar tidak menimbulkan


kecurigaan. Pihak lawan pasti akan mudah mengenalinya. Jadi, satu-satunya


pakaian yang paling aman dan tentunya bisa mereka pakai adalah jaket serta


rompi anti peluru.


‘TAP! TAP! TAP!’


Tak lama kemudian meuncul suara langkah kaki yang terdengar


begitu nyaring dari arah berlawanan. Bagaimana tidak nyaring, lebih dari lima


orang melangkah secara bersamaan.


“Apakah mereka juga sama denganmu?” tanya si penjaga


tersebut.


“Periksa saja satu-persatu. Jangan sampai ada penyusup yang


menggagalkan rencana kami,” balas gadis itu kemudian pergi begitu saja.


Agatha sudah selesai diperiksa, jadi ia bisa langsung pergi.


Berbeda dengan yang lainnya. Mereka harus diperiksa lebih dulu untuk mengurangi


kemungkinan terburuknya. Yaitu, adanya penyusup yang berpura-pura menjadi


anggota tim tambahan. Meski sejauh ini masih aman dan tidak ada tanda-tanda sama


sekali, tetap saja mereka harus berhati-hati. Waspada akan membuat aman.


Sementara teman-temannya yang lain masih diperiksa, Agatha langsung


pergi menuju mercusuar. Tempat dimana dirinya ditugaskan. Sama seperti anggota


yang lainnya, mereka juga langsung pergi ke tempatnya masing-masing. Sesuai


dengan yang sudah direncanakan tadi.


“Sial!” umpat gadis itu kesal.


Melihat deretan anak tangga yang berada di hadapannya saat


ini saja sudah berhasil untuk membuatnya kesal. Tidak ada jalan lain untuk


pergi ke atas selain melewati anak tangga ini. Pasalnya, tangga adalah akses


satu-satunya menuju puncak. Padahal semua orang juga tahu kalau musuh terbesar


gadis ini adalah tangga. Dia tidak suka menggunakan tangga untuk naik ke lantai


berikutnya. Tapi, untuk saat ini mau tak mau ia tetap harus melewatinya.


Dari pada terlalu lama mengeluh


seperti ini, tidak akan menyelesaikan masalah. Dengan berat hati, Agatha mulai

__ADS_1


berlari-lari kecil menaiki anak tangga. Berharap jika kakinya tidak akan jadi


kram ketika sampai di atas. Benar-benar menyebalkan, huh!


__ADS_2