
Surya hangat menyapa pagi ini. Melenyapkan hawa dingin yang kian menusuk sehingga kini hanya menyisakan tetesan embun. Pagi pertama ku bersama dengannya di bumi perkemahan. Satu malam penuh cerita yang akan selalu ku kenang. Sebuah kisah klasik untuk masa depan.
Beberapa dari kami sudah bangun. Sebagian yang lainnya masih tertidur pulas. Terutama yang laki-laki. Karena semalaman mereka rela tidak tidur. Mereka ditugaskan menjadi seksi keamanan. Mereka pasti tak menyangka hari sudah secerah ini. Satu-persatu dari kami sudah mulai lengkap. Seluruh anggota berkumpul di lapangan utama sambil menikmati secangkir teh hangat yang disediakan oleh seksi konsumsi.
Sedari tadi, aku terus berusaha mencuri-curi pandang kepada pria itu. Ia tampak lucu ketika baru bangun tidur. Nyawanya belum terkumpul sempurna. Sama saat ia berada dirumah sakit pada waktu itu. Wajahnya begitu polos hingga terkesan lucu bagiku. Jauh dari tampang dingin dan misteriusnya yang selama ini kulihat.
"Dek, coba kumpul kesini sebentar. Kakak bakal bacain surat benci dan surat cinta buat senior." Ucap salah satu alumni angkatan ke-3.
Kami lekas beranjak dari posisi kami sebelumnya. Mendekat ke arah Kak Alya, yang ku maksud sebagai alumni angkatan ke-3 itu. Tahun lalu di momen yang sama, suratku di bacakan di lapangan ini. Secarik kata-kata yang tak mampu tersuarakan olehku. Ungkapan tentang rasa kagumku pada mahluk ciptaan Tuhan yang satu ini.
Berlembar-lembar kertas surat yang terlipat rapih kini sudah mulai sedikit. Karena, selesai dibacakan maka akan diberikan kepada orang yang dituju. Sejauh ini belum ada satupun surat yang di tujukan untuk Kak Sendy. Bahkan hingga tumpukan kertas itu telah habis, tak ada sama sekali surat untuk Kak Sendy. Itu artinya, aku adalah satu-satunya junior yang pernah memberikannya surat cinta. Entah ia masih mengingat hal ini yang terjadi setahun silam atau tidak, aku tak peduli.
Tuhan, bisakah aku berhenti memandang lelaki ini. Aku tau ia lebih dari sekedar indah di mataku. Tapi aku bisa gila lama-lama jika terus-terusan memandang pria ini tanpa henti. Seolah terjebak di dimensi lain yang indah bagai nirwana.
Setelah sesi pembacaan surat, kami kembali membentuk sebuah lingkaran besar seperti acara api unggun kemarin. Tapi kali ini aku tak di samping pria itu. Syukurlah, setidaknya jantungku bisa sedikit lebih lambat temponya dari pada saat berada di dekatnya. Meski mataku mencoba untuk tak memperhatikan sosok yang berada di depanku, tapi ekor mataku selalu tertuju kearahnya. Sial! Mengapa ia terus-menerus melihat ke arahku. Siapa yang ia lihat? Aku? Entahlah mungkin orang lain.
Benar-benar sebuah kisah yang akan selalu ku kenang. Ini adalah dua momen terakhirku bersamanya sebelum Bulan Desember berakhir. Saat ini ia sudah menginjak kelas XII. Yang artinya sebentar lagi ia akan meninggalkan tempat ini. Setelah persami ini, akan ada acara pekan olahraga antar sekolah yang dilaksanakan di kota Binjai. Jadi setelah pekan olahraga itu, bisa ku pastikan ia tak akan ikut latihan marching band seperti biasanya. Dan bisa ku pastikan jika itu adalah penampilan terakhir kami.
***
Aku berjalan tanpa tenaga sambil menenteng tas ranselku yang sudah penuh. Sebenarnya, perkemahan kami dilaksanakan di lingkungan sekolah. Acara persami sudah selesai, tempat ini juga sudah mulai sepi. Di tambah hari ini adalah hari Minggu. Tak ada siapapun disini kecuali penjaga sekolah yang mungkin masih terlelap. Aku duduk di bangku piket yang terletak di dekat pos satpam. Meskipun sebenarnya disana tak ada siapapun kecuali aku. Sebentar, apa pria itu sudah kembali ke rumahnya? Mungkin sudah.
"Hey!" Sahut seseorang yang datang menuju ke arahku.
Aku menoleh mencoba mencari tahu siapa dia. Kali ini dugaan ku salah. Lelaki itu belum pulang. Ia masih berkeliaran sendirian di sekolah ini. Ia mendekat ke arahku. Kemudian meletakkan tas ranselnya di meja sambil menghela nafas.
"Kok belum pulang?" Tanyaku.
"Ya lo sendiri kok belum pulang?"
"Males balik kerumah."
"Kenapa?"
"Panjang ceritanya. Rumah aku udah beda suasananya."
__ADS_1
"Kenapa? Sini cerita sama gua."
Aku ragu untuk menceritakan soal Renata kepada Kak Sendy. Aku tak yakin ia akan menerima kenyataan ini, sama sepertiku.
"Renata." Ucapku memulai pembahasan.
"Kenapa dia, buat ulah lagi?"
"Enggak."
"Terus?"
"Ternyata dia kakak kandung aku. Dan mama sama papa kami berdua pisah waktu kami berumur delapan bulan. Hak asuh Renata mama yang ambil. Tapi karena mama mau menikah lagi, mama nyerahin hak asuh Renata sepenuhnya ke papa. Tapi mama sama sekali enggak pernah ketemu sama aku. Atau bahkan berkunjung ke rumah kami. Padahal dia mama kandung aku. Malah mamaku yang sekarang ini yang sayang sama aku melebihi ibu kandung aku sendiri. Tapi ya udahlah aku juga capek. Ikuti aja dulu sandiwara takdir."
"Seriusan? Renata kakak lo?"
"Iya."
"Kak, aku mau ngomong sesuatu."
"Apaan." Ia lantas terdasar dari lamunan mendung nya.
"Setelah aku ngasih tau semua ini, kakak boleh benci sama aku."
"Apaan sih?"
"Ini." Ucapku sambil menyodorkan sebuah buku.
Buku yang tak terlalu tebal dengan warna dasar nude dan bertuliskan nama pria itu. Sendy, dengan sebuah kalimat dibawahnya "Tentang sebuah rasa yang tak pernah tersampaikan."
Dia masih kelihatan bingung. Tak mengerti apa maksudku barusan.
__ADS_1
"Aku pernah nulis novel tentang kakak. Jauh sebelum kita menjadi sedekat ini. Tentang rasa yang dulu belum sempat ku sampaikan. Sebenarnya aku udah lama pengen ngasih tau soal ini. Cuma mungkin waktunya belum tepat."
Aku telah pasrah dengan keadaan. Jika setelah ini dia berubah pikiran lalu membenciku, mungkin ini sudah konsekuensi yang harus ku terima.
"Jadi selama ini yang mereka bilang bener?" Tanya Kak Sendy dengan raut wajah yang tak terbaca lagi olehku.
"Bilang apa?"
"Lo tau kan waktu itu senior-senior yang benci sama lo, karena lo suka sama gua?"
"Iya, mereka kenapa?."
"Mereka bilang lo lagi nulis buku buat gua. Dan gua pikir mereka cuma bercanda. Mana mungkin lo seniat ini."
"Tapi itu beneran."
"Kenapa lo gak jujur dari awal?"
"Aku pengen jujur, tapi ketakutan terbesarku selalu menang. Aku takut kalau bakal ada jarak diantara kita, aku takut kalau kakak bakal benci sama aku. Tapi sekarang aku udah pasrah. Enggak mungkin aku nutup nutupin hal ini sama kakak. Sedangkan kakak tokoh utama dalam cerita ini."
"Lo kok lancang banget sih sha!" Bentaknya dengan suara yang penuh emosi.
"Lo nulis cerita ini dan ngangkat gua sebagai tokoh utama di dalam cerita ini tanpa sepengetahuan gua. Apa itu enggak lancang? Di sisi lain, lo itu udah sok tau tentang kehidupan gua." Jelasnya dengan emosi yang tak terbendung lagi.
"Maafin aku. Makanya aku jelasin hal ini sekarang." Aku berusaha menahan tangis dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Setidaknya kakak mau baca novel ini. Aku mohon." Ucapku yang kini sudah mulai terisak.
Tanpa sepatah katapun, ia pergi dengan amarah yang masih membara. Ia pergi bersama ranselnya dan novel itu. Yang kuharap ia sudi membacanya nanti jika emosinya sudah mereda.
Ternyata ini lebih buruk dari yang kubayangkan. Lega rasanya setelah aku melawan ketakutan terbesarku. Entah di hari kemudian ia masih marah padaku atau tidak.
__ADS_1