
“Nih, mangkuknya.” ucap Stefani yang tiba-tiba datang dengan membawa mangkuk di tangannya.
“Thanks.” balasku dengan singkat.
‘SYURR!!!’
Bunyi tersebut lantas terdengar sesaat setelah aku menuangkan kuah bakso tersebut, di atas tumpukan bola daging dan mie putih tersebut. Asapnya yang masih mengepul di udara, menandakan jika kudapan yang satu ini masih fresh from the oven.
‘DRRTTT!!!’
Tiba-tiba ponselku bergetar pelan di atas meja. Mau tak mau aku harus mengurungkan niatku sementara untuk menyantap makanan tersebut. Padahal sayang sekali jika bakso ini justru keburu dingin karena terlalu lama dibiarkan, atau malah keburu habis karena Stefani tak memberiku kesempatan.
“Siapa sih malam-malam gini nelpon.” gerutuku pelan.
“Angkat aja, siapa tau penting.” balas Stefani yang ternyata mendengar kalimatku barusan.
“Urgent kali.” lanjutnya, sambil menyeruput kuah bakso yang masih panas tersebut.
Aku mengikuti saran gadis ini barusan, dia benar siapa tahu ada yang penting. Nama Arka adalah satu-satunya yang ku temui di sana. Tulisan tersebut terpampang jelas di atas layar, dengan opsi menerima atau menolak panggilannya. Huft! Ada apa lagi dengan pria ini.
“Halo! Ada apa malam-malam nelpon?” tanyaku sambil menyamtap bakso tersebut.
“Gelap, aku enggak bisa liat apa-apa.” jawabnya.
“Maksudnya?” tanyaku yang kebingungan.
Padahal ia belum sempat menjawab pertanyaanku yang pertama tadi. Sekarang pria ini malah membuatku semakin penasaran dan ingin mengajukan beberapa pertanyaan lagi. Secara tidak langsung, Arka malah membuat dirinya sendiri yang kerepotan sekarang. Terkadang manusia memang selalu begitu, lebih suka memperumit semua hal sederhana di sekitarnya.
“Ini panggilan video, jangan ditemplokin ke telinga.” jelasnya dengan nada bicara yang lebih tenang.
Sedetik kemudian setelah ia mengatakan hal itu, aku baru menyadarinya. Kenapa bisa-bisanya aku menjadi tak fokus seperti ini, sungguh tak biasa. Benar-benar buat malu saja, mau diteruh di mana mukaku sekarang.
“Sorry…” ucapku sambil nyengir seolah tak berdosa.
Kemudian aku segera menjauhkannya dari telingaku, dan meletakkannya di ujung meja belajar. Tentu saja dengan layar yang menghadap ke arahku. Semoga saja pria itu tak sempat melihat sesuatu yang menjijikkan di sana tadi.
“Cuma mau mastiin kalau bakso nya tadi udah kamu makan.” ujarnya sambil membenarkan rambutnya yang agak berantakan.
“Udah kok.” balasku apa adanya.
“Siapa? Arka?” bisik Stefani dengan hati-hati.
Aku mengangguk singkat mengiyakan perkataannya. Sebenarnya aku sengaja tak ingin membuat wajah Stefani ikut tersorot kamera ponselku. Bisa gawat nantinya, jika sampai Arka tahu kalalu aku membaginya dengan gadis ini. Meskipun ia telah melarangku untuk melakukan hal itu tadinya, tapi aku mana tega jika harus menghabiskan ini sendirian sementara Stefani hanya menonton. Aku tak tahu ada dendam kesumat apa pria ini terhadap Stefani, hingga segitunya.
“Udah malam gini belu tidur?” tanya Arka.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku sembari menyantap sisa makanan tersebut. Hanya agar lebih meyakinkan jika aku telah benar-benar menghabiskan makanan ini sendirian, tanpa membaginya dengan Stefani atau siapapun.
“Kamu udah mau tidur ya?” tanyaku balik.
“Oh, belum.” balasnya secara gamblang.
Aku bisa menyyimpulkan jika pria itu akan segera tidur, karena posisinya yang terlihat sedang merebahkan dirinya di atas kasur atau sesuatu yang semacamnya.
“Aku lagi di studio, terus bosen aja mau ngapain.” ujarnya.
“Ya main musik lah.” balasku dengan santai.
Memang itu kan yang harus di lakukan? Aku tidak salah kan? Tentu saja aku benar, memangnya hal apa lagi yang bisa dilakukan di sana selain main music. Tergantung ia sedang berada di studio apa dulu sih sebenarnya.
“Mama udah masuk kamar, enggak enak kalau aku ganggu.” Jelasnya sambil sesekali memetik gitarnya dengan sembarang.
Aku bisa mendengar suara gitar tersebut, yang dimainkan dengan asal-asalan. Walaupun sebenarnya ia tahu persis bagaimana cara bermain gitar yang benar. Tapi nada dan tempo yang terkesan abstrak selalu tersuarakan ketika seorang musisi merasa kebingungan. Mencari nada dan tempo yang sesuai secara satu-persatu dan acak.
“Main musik sendiri bukan masalah kan?” tanyaku.
“Iya sih, tapi kalau main musiknya bareng-bareng jauh lebih seru.” jelasnya.
Apa yang dikatakan oleh Arka barusan ada benarnya juga. Jika bermain musik bersama-sama rasanya akan lebih seru, karena musik yang kita mainkan akan terasa lebih hidup. Lagu itu akan memiliki sebuah nyawa yang membuatnya lebih menarik. Ketika semuanya menjadi satu dan membentuk sebuah simfoni, mendengarkannya adalah sebuah kenikmatan tiada tara.
Namun ada kalanya sebuah nada harus berdiri sendiri. Menyanyikan lagunya sendiri secara mandiri, dari intro hingga ending. Tanpa intrumen alat perkusi atau melodis. Memamng aka nada saatnya yang memaksa nada itu harus sendirian. Harus tetap memainkan lagu itu sendirian, meskipun ia enggan. Karena satu-persatu instrumen tersebut telah pergi meninggalkannya sebelum lagu ini selesai. Menjelma dari sebuah lagu utuh yang kini hanya menyisakan sebuah melodi sendu nan lara.
“Main lagu akustik sendirian juga keren.” ujarku.
“Sekarang banyak orang yang nge-cover lagu akustik dengan nyanyi secara solo.” jelasku.
“Gimana kalau sekarang aku nyanyi sambil nemenin kamu makan?” tanya pria itu padaku.
“Boleh.” balasku dengan singkat.
“Mau lagu apa?” tanyanya sekali lagi.
“It’s all up to you.” serahku padanya.
“Okay, wait a minute.” balasnya.
__ADS_1
Sedetik kemudian, aku bisa melihat Arka yang mulai bangkit dari posisinya tersebut. Aku tak tahu pasti dimana sekarang ia meletakkan kamera poselnya tersebut. Yang pasti posisinya sekarang ini sangat bagus, karena objek nan rupawan yang menjadi sorotan utamanya mendapatkan cahaya yang lumayan cukup. Setelah selesai mengatur tata letak kamera ponseel miliknya, pria itu kemudian mundur beberapa langkah untuk memulai pertunjukannya. Kali ini Arka menyelenggarakan live konser dari studio musik milik almarhum papanya tersebut. Tapi sayangnya hanya aku yang bisa melihat penampilan tersebut, layaknya seorang penonton dengan tiket VVIP.
Tak banyak orangyang tahu jika Arka lumayan jago bermain musik, suaranya juga takk terlalu buruk untuk didengar. Ia lebih memilih untuk lebih menonjolkan kemampuan berhitungnya saja, ketimbang bakatnya yang satu ini. Ku pikir ia perlu diapresiasi untuk talentanya yang satu ini. Ku rasa pria itu memang multi talenta. Jika dipikir-pikir sepertinya begitu, dan dia memang ditakdirkan untuk menjadi seperti itu.
Siapa yang tak kenal dengan Arka di sekolah ini, seorang murid yang jauh lebih popular daripada Ketua OSIS tersebut. Berada di kelass unggulan yang membuat namanya semakin besar, oleh sebab itu jangan pernah meragukan isi otaknya. Catatan prestasinya di dunia olimpiade tak perlu diragukan lagi. Tubuhnya yang tinggi dan proposional tersebut, juga membawanya ke dalam dunia olahraga. Sempat menjadi kapten basket sekolah untuk satu periode jabatan. Siapa kira jika ternyata Arka juga jago di bidangmusik dan seni.
Ah! Pria itu terlalu sempurna bagi setiap orang yang mengenalnya. Tapi bagaimana bisa seorang pria yang nyaris tak memiliki kekurangan itu, bisa jatuh cinta denganku. Seorang gadis yang tak terlalu tinggi, juga biasa-biasa saja. Tak ada sesuatau yang bisa dibanggakan dariku. Aku tak mengerti apa yang membuatnya memilih diriku ketimbang gadis lain di sekolah ini yang jauh lebih sempurna dan hebat tentunya.
Lantunan bait-bait lagu yang termat puitis itu mulai disenandungkan. Entah kenapa hari ini aku merasa diperlakukan sangat istimewa baginya. Aku tak pernah mendengar lagi yang ia nyanyikan ini sebelumnya. Kelihatannya lagu ini tak begitu popular oleh artisnya, namun kenapa bisa lagu sebagus ini tak begitu popular di pasaran. Maknanya bisa ku tangkap dengan jelas, kalimat indah yang di rangkai dengan pilihan diksi yang kian apik. Di bungkus sedemikian rupa dalam sebuah lagu yang entah apa judulnya.
‘PROK! PROK! PROK!’
Aku memberinya apresiasi sebagai bentuk dukungan atas usahanya saat itu. Lagu bagus semacam itu memang pantas untuk diberikan sebuah penghargaan. Tak harus di nilai dari seberapa besar materi yang diberikan utuk penghargaan tersebut, tapi ketulusan yang menjadi dasar kebanggaan bagi penciptanya.
“Judul lagu yang barusan kamu nyanyiin itu apa?” tanyaku.
“Belum ada judulnya.” jawab Arka dengan santai.
“Ini lagu yang dibuat sama papa untuk dipersembahkan di hari ulang tahun mama. Cuma pap keburu enggak ada. Aku sempat dilibatkan papa dalam proses penulisan liriknya dan buat lagu ini.” jelasnya.
“Sampai sekarang mama ataupun aku belum nemuin judul yang tepat untuk lagu ini, mungkin papa juga gitu.” lanjutnya.
“Sorry….” ucapku dengan sangat hati-hati.
“Engak apa-apa, lagian semua orang berhak untuk tahu kok.” balas Arka yang terlihat biasa-biasa saja.
Jujur aku menjadi tak enak dengan pria yang satu ini. Secara tidak langsung aku telah membuka luka lama itu. Aku tahu jika Arka dan keluarganya belum bisa benar-benar melepaskan kepergian almarhum papanya tersebut. Masih terasa sangat sulit bagi mereka untuk melupakan sosok figur yang sangat berarti bagi keluarga kecil tersebut.
“Lagunya bagus, liriknya nyentuh banget.” pujiku dengan yang sejujurnya.
“Papa waktu itu bua lagu ini pakai hati.” jelasnya.
“Kenapa enggak kasih judulnya dari salah satu kata paling indah dari lirik lagu itu?” tanyaku.
“Semua kata-kata yang ada di sini indah sha, sulit buat memilih salah satu dari mereka.” jawabnya debgan wajah tertunduk.
Semenjak ku tanyakan siapa pemilik lagu ini tadi, pria itu selalu menenggelamkan wajahnya. Pandangannya tertunduk dan enggan menatap layar ponselnya sendiri. Aku tahu jika barusan diriku telah melakukan sebuah kesalahan besar yang terjadi tanpa disengaja. Yang sudah pergi memang tak baik jika diingat dengan terlalu berlebihan. Karena pasti sedikit banyaknya akan menimbulkan goresan kecil yang terus menjelma menjadi luka.
“Are you okay?” tanyaku kepada pria itu, setelah menyadari perubahan emosinya.
“Enggak kok, cuma terbawa suasana aja.” dalihnya.
Padahal aku tahu persis jika ia sedang tak baik-baik saja. Ia tak bisa menutupi itu, bagaimanapun caranya.
“Kamu belum mau tidur?” tanya Arka sembari mengalihkan pembicaraan.
“Belum.” jawabku singkat.
“Enggak tau, belum ngantuk aja.” ucapku apa adanya.
Aku sendiri tak tahu apa yang membuatku tak kunjung tertidur. Padahal biasanya aku sudah mulai mengantuk, atau bahkan terlelap. Apalagi hari ini aku lumayan lelah karena banyaknya kegiatan yang kulakukan. Hari ini seolah malam menolakkua untuk tertidur di bawah bintang-bintang. Malam menginginkanku agar tetap terjaga sampai fajar menyapa.
“Nanti kalau mau tidur jangan matiin video call nya ya, please.” ujar Arka dengan raut wajah yang mendukung.
“Why?” tanyaku sekali lagi.
“Enggak apa-apa, aku cuma pengen ngeliat kamu pas tidur.” jelasnya.
“Terserah deh.” balasku dengan singkat.
Tunggu dulu kenapa mendadak kamarku menjadi sepi sekali seperti ini. Tak biasanya gadis itu menjadi setenang ini. Stefani sama sekali tak bersuara sedari tadi, bagaimana bisa aku melupakan gadis yang satu itu.
Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan untuk mencari sosok gadis tersebut. Dan yang benar saja, Stefani ternyata langsung tertidur tepat di sebelahku begitu selesai makan. Pantas saja kali ini dia bisa sedikkit lebih tenang, ternyata anak perempuana ini telah pergi kea lam bawah sadarnya. Kasihan, ia pasti kelelahan setelah kencan seharian dengan Titan. Aku tak tahu apakah kencannya itu berlangsung dengan baik-baik saja, atau malah sebaliknya. Tapi jika di lihat dari ekspresinya tadi, kelihatannya tak ada sesuatu yang salah dengan kencan itu. Aku yakin jika semuanya baik-baik saja.
“Sebentar.” pamitku pada Arka.
Tanpa menunggu jawaban dari pria itu, aku langsung pergi begitu saja. Aku mengambil selimut untuk Stefani yang tengah tertidur di meja belajarku itu. Tak tega jika aku harus membangunkannya seperti ini, namun aku juga tak memiliki cukup tenaga untuk menggotongnya kembali ke kasur.
“Enggak lama kan?” tanyaku setelah kembali lagi bersama Arka.
“Enggak kok, santai aja.” balasnya.
“Aku belum buka hadiah dari Kak Sendy kemarin, sekarang mungkin aku mau buka. Kamu mau liat?” ujarku.
“Why not.” balasnya yang kini mulai sok kebarat-baratan.
Sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk membongkar apa isi tabung gambar tersebut. Stefani sepertinya sudah benar-benar tertidur pulas. Lagipula rasa penasaranku sudah terlalu berlebihan jika harus menunggu lebih lama lagi. Bukankah jika lebih cepat, maka akan lebih baik pula.
Dengan sangat hati-hati aku membuka tabung gambar tersebut, sambil menunjukkannya ke Arah pria itu. Aku menuang semua isinya ke atas meja belajar milikku. Tak banyak, aku hanya menemukan tiga buah benda di sana. Tapi ada sesuatu yang sangat spesial di sana.
“Apa aja isinya?” tanya Arka yang mendekatkan dirinya ke arah kamera.
“Stick drum, eh stick buat quintom deh kayaknya.” jawabku sambil mengamati benda tersebut.
“Foto….. sama flashdisk.” lanjutku.
Aku mulai membuka ikatan pita tersebut, yang menyatukan sebuah foto dengan sepasang stick quintom di sana. Aku mengamati foto tersebut secara seksama, mencoba mengingat kapan kami mengambil foto tersebut. Sialnya aku benar-benar tak ingat kapan lebih tepatnya sosok Eresha dan Sendy terabadikan dalam foto tersebut. Terlebih lagi foto ini di ambil dengan pose candid, pastinya aku sedang tak sadar jika ada kamera saat itu. Tapi kenapa bisa pas seperti ini, kedua figure itu terbingkai di dalam foto yang sama.
“Aku enggak ingat jelas kapan foto ini di ambil.” ujarku pada Arka, sambil menunjukkan bagian depan foto tersebut.
__ADS_1
“Eh, tunggu sebentar. Ada surat di belakangnya.” sambungku begitu saja.
Ternyata ada sesutatu yang dituliskan tepat di halaman putih kosong pada bagian belakang foto tersebut. Tempat yang sangat tak terduga unutk menuliskan sebuah pesan di dalamnya. Atau jangan-jangan pria itu kehabisan kertas surat saat hendak menuliskan ini, sampai-sampai ia memilih untuk menulis pesannya di balik foto ini.
“Dear Eresha.”
Aku mulai membaca isi pesan tersebut dengan suara yang agak lebih kuat, agar Arka bisa mendengar isi surat tersebut. Walaupun biasanya aku selalu membaca semua hal di dalam hati, namun tak untuk yang satu ini.
“Selamat ulang tahun, entah yang ke berapa. Maafkan aku karena tak mengingat usiamu dengan benar. Hari ini aku memberikanmu ucapan ulang tahun jauh lebih cepat. Karena besok aku harus pergi ke Kalimantan untuk melakukan penelitian lagi. Aku dengar penyakitmu kambuh lagi, semoga kau cepat sembuh. Jaga dirimu baik-baik selama aku pergi. Sekali lagi selamat ulang tahun untukmu dan nikmati hadiahnya.” ujarku sambil membaca isi surat tersebut yang ditulis dengan tulisan tangan.
Aku terdiam sejenak setelah membaca isi surat tersebut, begitu pula dengan Arka. Diriku berusaha mencerna maksud dari perkatannya barusan. Cara berpikirku memang tergolong lambat jika dibandingkan dengan teman-temanku yang lainnya di kelas tersebut. Itu sebabnya kenapa aku tak pernah menganggap pantas diriku sendiri untuk berada di sana.
“Apa ini alasannya kenapa Kak Sendy menghilang selama berhari-hari.” batinku dalam hati.
“Itu berarti Kak Sendy lagi di Kalimantan dong, makanya nggak bisa datang kemarin.” ujar Arka secara tiba-tiba.
Aku tak tahu kenapa pikiranku bisa sama persis dengan pria ini. Apakah itu artinya jika sekarang Kak Sendy sedang berada di Kalimantan. Terkadang insting manusia memang jauh lebih peka jika dibandingkan dengan logika. Tapi entah kenapa kali ini aku tak bisa mempercayai instingku sendiri, biasanya perasaanku selalu benar. Namun kali ini aku merasakan jika ada sesuatu yang salah, aku tak benar-benar yakin jika pria itu sedang berada di sana.
“Udah aku bilang kan kemarin, kamu malah enggak percaya.” ucap Arka.
“Bilang apa?” tanyaku.
“Jangan terlalu khawatir sama Kak Sendy, dia pasti baik-baik aja.” jawabnya sambil membenarkan posisi kamera yang mulai tak tegak lagi.
“Entah kalau aku yang ada di posisi itu, kamu bakal sekhawatir itu atau enggak.” lanjutnya.
“Jangan gitu, ucapan itu adalah doa. Enggak baik doain diri kamu sendiri dengan yang buruk-buruk.” balasku dengan apa adanya.
“Kamu benar ka, mungkin saja dia sedang baik-baik saja saat menulis surat ini. Tapi kita tidak tahu bagaimana setelahnya. Manusia tak akan tahu apa yang akan terjadi pada dirinya si kemudian hari.” batinku sekali lagi dalam hati.
Aku tak mungkin menceritakan tentang semua yang kurasakan ini kepada Arka. Mana mungkin ia percaya dengan semua omonganku. Pria itu akan berpikir jika semuanya mustahil, kalau setiap hal yang kurasakan sering menjadi kenyataan. Aku tak tahu apakah kemampuan ini benar-benar akurat seratus persen. Aku juga tak tahu apakah aku harus beryukur atas ini, atau malah sebaliknya. Tak jarang hal ini pula yang malah membuatku tenggelam dalam lautan cemas yang berkepanjangan.
Sepertinya kali ini aku akan dihadapkan dengan jutaan pertanyaan. Perasaanku kali ini merasa jika dia sedang tak baik-baik saja. Yang kurasakan memang sering tak jelas apa alasannya. Kini aku menjadi gusar dan ragu atas instingku sendiri. Apakah kali ini aku harus mempercayainya lagi, atau malah sebaliknya. Ku harap tak ada sesuatu yang buruk terjadi padanya, semoga perasaanku yang kali ini salah total.
__ADS_1