Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 50


__ADS_3

"Kau hebat, bagaimana caranya kau bisa melakukan ini?"


Ujar si petugas UKS sembari menangani lukaku.


"Haha... Semua orang juga tahu hal ini, dan mereka pasti akan melakukan hal ini saat berada di situasi yang sama." Jelasku.


"Tidak bukan begitu, maksudku memang semua orang akan menyumbat lubang hidung mereka seperti ini saat mimisan. Tapi biasanya mereka hanya melakukannya secara sembarangan. Berbeda denganmu, kau benar-benar tahu caranya bagaimana menghentikan pendarahan untuk sementara."


"Oh... Soal itu aku sempat mempelajarinya dulu. Waktu masih SMP aku tergabung dalam kelompok palang merah remaja di sekolahku."


"Ah, pantas saja..."


Ini adalah petugas UKS yang baru. Dia mahasiswa kedokteran di salah satu kampus swasta, sekarang ia sudah memasuki tahun ke enamnya sebagai mahasiswa. Namanya kalau tidak salah adalah Alhin, aku sering mendengar orang-orang menyebutkan namanya seperti itu. Dia sangat ramah kepada semua orang.


Sebenarnya saat ini ia sedang mencari pekerjaan sampingan. Ia bekerja paruh waktu sebagai petugas UKS di sekolah kami. Lalu sorenya Alhin melanjutkan kehidupan di kampusnya hingga malam.


"Apa kau mau langsung kembali ke kelas?" Tanya wanita itu sambil membereskan kekacauan kecil yang ia buat.


"Mungkin sebentar lagi, boleh aku beristirahat sebentar di sini?"


"Tentu saja, kenapa tidak. Kau juga kelihatannya butuh banyak istirahat. Kau sedang kelelahan, tapi bukan ragamu. Mentalmu sedang tak baik-baik saja."


Aku terkejut bukan main saat ia mengatakan hal itu padaku. Sial! Bagaimana ia bisa mengetahui kondisi psikologis ku. Apakah seorang dokter juga mempelajari ilmu psikolog saat berkuliah seperti ini.


"Semuanya terpancar dari sinar matamu." Ujarnya dengan tenang.


Ia menarik sebuah bangku ke arahku. Alhin duduk tepat di sebelahku saat itu. Ia menemaniku selama berada di UKS. Kebetulan saat itu memang sedang tidak banyak pasien dan hanya aku saja.


"Mereka bilang mata adalah jendela menuju diri seseorang." Ujarnya sambil menyondongkan tubuhnya ke arahku.


"Apakah semua orang memang bisa menebak seperti itu?"


"Tidak semuanya, tapi ada beberapa yang ahli dalam hal itu. Termasuk dirimu..."


"Aku?"


Apa benar aku yang sedang di maksud olehnya?


"Tentu saja, memangnya aku sedang bicara dengan siapa sekarang."


"Kau tahu? Sebenarnya kau adalah seorang gadis pembaca pikiran yang hebat. Kau bisa lebih dari apa yang ku lakukan tadi." Lanjutnya.


"Ah, sungguh? Tapi aku tak pernah berpikir begitu."


"Baiklah beristirahat sejenak di sini. Jangan kembali ke kelas dulu, tempat itu hanya akan memperburuk kondisimu sekarang." Ujarnya.


Ia menutupi kakiku dengan selimut yang ala kadarnya di ruangan ini. Sebenarnya AC di ruangan ini membuatku cukup kedinginan. Ini karena faktor ukuran ruangannya yang terlalu kecil di bandingkan dengan kelas. Sehingga suhu di sini jauh terasa lebih dingin daripada di kelas, meski merey menggunakan suhu yang sama di setiap ruangannya.


Kemudian ia segera beranjak dari sana dan kembali ke meja kerjanya. Ia terlihat sedang menyusun dan mencatat beberapa obat-obatan yang baru saja masuk. Ia juga membersihkan lemari obat, memilah-milah mana obat yang masih layak pakai dan mana obat yang sudah kadaluarsa. Sepertinya ia juga berbakat untuk menjadi seorang apoteker.


Aku meraba saku rok ku, berharap bisa mendapatkan sesuatu dari dalam sana. Tapi yang ku cari tak ada di sana, lalu di mana ia. Sepertinya tadi aku sudah memasukkannya ke saku sebelum pergi dari kelas.


"Dimana ponselku?" Batinku dalam hati.


Aku berusaha mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu. Memang aku yang teledor meninggalkannya di laci atau benda itu terjatuh saat di toilet. Dasar! Kenapa aku masih mengandalkan ingatanku yang payah ini. Seharusnya aku mengandalkan intuisi ku yang kelihatannya lebih baik daripada otakku.


Tapi sepertinya memang tertinggal di laci. Mati aku! Bagaimana kalau hilang. Kenapa aku bisa begitu teledor. Aku menepuk pelan jidatku sendiri, menyesali hariku yang penuh dengan kesialan.


***


"Di kamar mandi dengan ada, di kantin juga enggak ada." Ujar Stefani dengan nafas memburu.


Sedari tadi mereka telah berkeliling sekolahan untuk mencari gadis itu. Ia tak berada di tempat yang biasanya ia kunjungi saat jam istirahat seperti ini.


"Ting...ting...ting..."


Bel pertanda jam istirahat telah selesai kembali berbunyi. Mengisyaratkan semua siswa agar segera masuk ke kelasnya masing-masing, karena jam pelajaran berikutnya akan segera di mulai.


"Mungkin Eresha udah masuk ke kelas, mendingan kita masuk aja yuk!" Ajak Stefani yang mulai kelelahan.


Arka mengangguk pasrah menururi permintaan gadis ini. Ia berjalan dengan langkah lemas seperti mayat hidup. Pria ini nyaris putus asa. Ia kesal terhadap dirinya sendiri. Di tempat sekecil ini saja ia tak berhasil menemukan gadis itu, bagaimana jika nantinya lebih buruk lagi dari ini.


Arka menatap nanar ponsel gadis itu yang masih ia genggam sedari tadi. Sekarang pikirannya benar-benar sudah buntu. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi sekarang.


"Apa sebaiknya gue nelepon Kak Sendy ya? Terus gue ceritain masalah ini sama dia, siapa tau dia bisa bantu." Gumam Arka pelan.


"Eh, mendingan jangan dulu deh. Gue yakin kok kalau gue pasti bisa ngatasin ini sendirian." Lanjutnya.


Arka membuntuti langkah kedua gadis yang tengah berjalan di depannya. Ia masih tetap dalam lamunannya, berbicara pada dirinya sendiri.


"Kenapa sih lo sepeduli ini sama dia ka!" Batinnya dalam hati.


Ia segera mengalihkan pikirannya, karena saat ini mereka telah berada di kelas. Semua murid telah masuk, tapi tidak dengan gadis itu. Arka mendapati kedua sahabatnya yang sedang duduk di tempat duduknya dan Eresha.


"Ngapain lo pada?" Tanya Arka sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Emang lo liat kita lagi ngapain?" Adit malah bertanya balik.


"Muka lo kenapa kok suntuk gitu?" Timpal Titan.


"Enggak apa-apa, udah sana balik ke habitat lo pada, gue mau duduk!"


Tanpa segan-segan, Arka mengusir sahabatnya sendiri. Titan mendesis sebal terhadap Arka.


Mereka sudah menganggap hal semacam ini sebagai guyonan. Persahabatan mereka yang sudah terjalin sejak dulu membuat ketiganya sudah saling mengenal satu sama lain.

__ADS_1


"Eresha mana kok belum masuk? Udah bel loh padahal."


Akhirnya Adit menyadari jika ada sesuatu yang salah dengan gadis itu.


"Tau ah!" Balas Arka singkat.


Arka mendorong pelan tubuh Adit, berusaha menepikan pria itu dari tempat duduknya.


"Lo berantem sama lagi sama Eresha?" Tanya Adit.


"Kayaknya enggak deh dit." Sambung Titan.


"Soalnya tadi gue liat dia jalan arah ke UKS. Tapi gua enggak bisa mastiin kalau itu dia." Sambung Titan.


Mata Arka langsung terbelalak lebar. Begitu pula dengan kedua gadis yang duduk di belakang Arka.


"Seriusan lo liat dia?!" Tanya Arka.


Titan mengangguk cepat.


"Kok lo enggak bilang ke kita sih!" Sambung Stefani.


"Ya mana gue tau kalau kalian nyariin dia." Balas Titan mencoba membela dirinya sendiri.


Pengakuan yang ia berikan barusan seakan-akan membuat posisinya sekarang semakin tersudut.


"Kalau Eresha ke UKS, jangan-jangan dia kenapa-kenapa lagi." Batin Clara dalam hati.


Clara sengaja tak mengatakan hal itu secara terang-terangan. Ia tak ingin membuat Arka semakin cemas. Ia pasti akan berfikir jika sesuatu yang salah telah terjadi pada gadis itu.


"Apa jangan-jangan dia nekat lagi?" Ujar Arka dengan hati-hati.


"Jaga mulut lo!" Ketus Stefani.


"Udah, mungkin dia lagi ya.... biasalah cewek suka kedatangan tamu. Buktinya dia habis dari toilet langsung ke UKS kan?"


Clara mencoba menenangkan teman-temannya. Meskipun ia tahu persis jika bukan hak itu yang sebenarnya terjadi pada Eresha.


"Bisa jadi sih..." Balas Arka.


Sementara yang lainnya turut mengangguk mengiyakan perkataan Clara. Sebenarnya apa yang di katakan oleh gadis itu terdengar begitu masuk akal dan cukup meyakinkan bagi mereka.


***


Aku merebahkan diriku di atas kasur UKS, matras lebih tepatnya. Sangat bosan rasanya berada di sini, aku hanya bisa termenung melihat langit-langit ruangan serba putih ini. Wanita itu masih sibuk dengan pekerjaannya. Aku tak mungkin mengajaknya bicara sekarang ini.


"Apakah aku sudah boleh kembali ke kelas?"


Akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka suara. Alhin langsung mengalihkan perhatiannya sepenuhnya kepadaku. Ia segera menghampiriku.


"Aku bosan berada di sini lama-lama." Balasku.


Aku sudah benar-benar tak tahan. Bahkan aku tidak bisa bermain ponsel hanya sekedar untuk mengusir kejenuhan ku. Semoga saja seseorang menemukan ponselku di laci dan menjaganya untukku.


"Baiklah biar ku antarkan ke kelas mu. Sebentar biar ku bereskan kekacauan ini." Ujarnya.


Aku hanya mengangguk mengiyakan perkataannya, sambil berusaha bangkit dari posisiku saat itu. Sebenarnya aku merasa tak enak jika harus merepotkan nya seperti ini. Terlebih ia sedang sibuk-sibuknya sekarang.


"Kemari biar ku bantu." Ujarnya seraya menggapai tanganku.


Ia benar-benar memiliki jiwa tolong menolong yang tinggi. Alhin pantas untuk menjadi seorang dokter. Bisa ku rasakan jika semua yang ia lakukan padaku benar-benar tulus dari hatinya. Mungkin ia benar, aku bisa membaca pikiran seseorang jauh lebih baik darinya. Tapi bukan untuk saat ini, mungkin di masa depanku nanti.


Alhin membopong tubuhku dan membawanya keluar ruangan. Tak lupa ia juga mengunci UKS untuk sementara waktu selama ia pergi bersamaku. Tubuhku sebenarnya masih begitu lemah untuk sekedar berjalan.


"Dimana ruang kelasmu?" Tanya Alhin padaku.


Aku mengarahkan telunjukku ke lantai dua. Sebuah kelas yang terlihat mencolok dari bawah sini. Aku mengernyitkan dahi ku, di atas sana terlalu silau untuk di tatap dengan mata telanjang.


"Di kelas itu? Kau murid kelas unggulan?" Alhin kembali bertanya padaku.


Aku mengangguk lemah mengiyakan perkataan Alhin.


Sial! Sinar matahari siang ini begitu terik. Padahal baru jam berapa ini, ku kira ini belum memasuki tengah hari. Panasnya begitu menyengat, membuatku seperti seorang vampir yang terbakar di bawah matahari. Akan jauh lebih baik jika aku semakin cepat pergi dari tempat ini.


Tiba-tiba langkah kami terhenti di depan anak tangga yang menghubungkan antara lantai satu dengan lantai dua. Aku meneguk salivaku dengan susah payah. Rasanya berjalan tadi saja sudah hampir membuatku mati. Sekarang apakah aku harus naik tangga ini?


"Kau yakin bisa melakukan ini?"


"Entahlah, tapi sepertinya tidak akan berhasil."


"Duduklah dulu di anak tangga ini. Kau butuh mengumpulkan cukup energi untuk naik ke atas sana."


Aku menyeka keringat yang menetes dari dahi ku kemudian turun menyusuri wajahku.


"Sudah ku bilang istirahat saja untuk sementara di UKS." Lanjutnya.


Sebenarnya dia ini manusia atau malaikat yang Tuhan titipkan untuk menjagaku? Aku tak pernah menemukan petugas UKS sebaik dirinya. Aku tak tahu dari apa hatinya terbuat. Apakah dari kapas untuk pembersih luka atau semacamnya. Ia begitu peduli kepadaku.


Semoga ia bisa lebih lama bekerja di sini. Kurasa aku akan sangat membutuhkannya selama di sekolah. Terkadang selalu terjadi situasi yang tak bisa ku tebak sebelumnya. Keadaan yang memaksaku dengan licik, membuatku lemah tak berdaya. Tak jarang aku berfikir jika sementa ingin membunuhku secara perlahan.


"Oh... Lihatlah sekarang kau jauh lebih pucat!" Seru Alhin sambil menangkup kedua pipiku.


"Kau baik-baik saja? Apa kau merasakan sesuatu yang aneh pada dirimu?" Lanjutnya.


"Ayolah... terbuka denganku. Ceritakan semua keluhan mu agar aku bisa menanganinya dengan tepat. Kau harus jujur padaku dengan kondisimu yang sekarang." Ujar Alhin.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa..." Balasku dengan suara lirih.


"Apa sebelumnya kau juga pernah mengalami hal seperti ini?"


"Itu sudah dulu sekali."


"Yang kau alami saat ini bukan penyakit ringan yang biasa ku temui di kasus sekolah. Jujur akan membuatmu aman."


Alhin tetap bersikeras, ia berusaha membujukku agar aku menceritakan semuanya kepada dia. Tapi memang tak tahu apa yang harus ku beritahu padanya.


"Bisa kita lanjutkan perjalanan nya? Semakin cepat aku sampai di kelas akan semakin baik." Jawabku.


Alhin menghela nafas berat, ia kembali membantuku untuk bangkit dan berdiri. Dia benar-benar sabar, kelihatannya aku sudah keterlaluan. Seharusnya aku menolak tawarannya tadi, aku bisa kembali sendiri ke kelas. Aku pasti telah begitu merepotkannya dan membuat pekerjaannya menjadi terbengkalai.


Kami segera melanjutkan perjalanan yang sebenarnya singkat, namun kali ini terasa sangat jauh bagiku. Terlalu berat bagiku untuk mencapai tempat itu. Andai saja di bangunan ini di sediakan lift, pasti akan lebih mudah bagiku.


Baru naik dua anak tangga, tiba-tiba hal yang ku benci kembali menjemput ku. Ia kembali mengajakku bermain setelah sekian lama tak pernah ku kunjungi. Tiba-tiba tubuhku roboh begitu saja. Beruntung Alhin dengan sigap langsung menangkap tubuh ringkih ku ini.


Aku benci fase ini, kalian menjebak ku!


Lagi-lagi dunia yang hitam kelam bak malam abadi menarik paksa diriku untuk ikut bersamanya. Ia membawa jiwaku untuk berkeliling di tempat itu lagi. Sungguh tempat yang membosankan! Aku benci hal ini! Di sini tak ada seberkas cahaya yang bisa menemaniku. Mungkin sebenarnya si tempat ini terdapat matahari, hanya saja ia tak bisa terlihat karena gelap telah merebut cahayanya. Kini mentari itu turut hitam legam, kelam seperti dunianya. Kenapa harus ada sang hitam, bila putih menyenangkan.


***


Kegiatan belajar mengajar di kelas berlangsung seperti biasanya. Walaupun ada beberapa dari mereka yang pikirannya tak sedang berada di ruangan ini. Termasuk Arka dan yang lainnya.


Titan selalu selangkah lebih maju pemikirannya dibandingkan dengan Adit teman sebangkunya. Bagaimana tidak, anak ini selalu bisa mencari kesempatan dalam kesempitan. Pria ini langsung gerak cepat ketika mengetahui Eresha tak masuk kelas untuk kali ini. Dengan sigap ia langsung mengisi tempat duduk yang kosong itu, ia selalu memanfaatkan keadaan di sekitarnya.


Siapa yang tak kenal dengan Arka. Pria yang terlalu sulit untuk berteman dengan banyak orang. Semua orang mengakui kepintarannya, bahkan juga kepemimpinannya. Ia pernah menjuarainya olimpiade tingkat provinsi bersama para kandidat lainnya tahun lalu. Jangan lupa, Arka juga merupakan kapten basket sekolah. Walaupun sekarang ia sudah tak menjabat di posisi itu lagi, karena sudah di gantikan oleh adik kelasnya.


Titan memanfaatkan situasi ini sama seperti Indonesia memanfaatkan vacum of power saat masa penjajahan Jepang. Ia memerdekakan dirinya sendiri dengan memanfaatkan kepintaran Arka dalam bidang matematika. Titan akan selamat dari pelajaran maut ini selama ia selalu berada di sisi sahabatnya yang satu ini. Bahkan ia rela meninggalkan Adit sendirian di sana tanpa tahu bagaimana nasibnya nanti.


Terkadang kita harus egois dalam belajar. Persaingan semakin ketat seiring berjalannya waktu. Sifat egois memang di dominasi para murid di kelas ini. Jika mereka ingin tetap bertahan dan memenangkan persaingan ini di akhir, itulah yang harus mereka lakukan.


Meskipun mereka bisa di bilang sedikit egois, namun anak-anak ini tetap menjaga harga diri mereka. Tak satupun dari mereka yang pernah berbuat curang selama di sini, semuanya di lakukan secara sportif.


"Boleh pinjam busur lo?" Bisik Titan pada seorang gadis yang duduk di belakangnya.


"Ini, ambil aja lain kali." Balas Stefani sambil memberikan benda berbentuk setengah lingkaran tersebut.


Stefani meremas kuat rok nya sendiri. Ia berusaha terlihat biasa-biasa saja walaupun sebenarnya ia ingin berteriak saat itu juga. Mimpi apa ia kemarin, sampai-sampai bisa sedekat ini dengan pria itu.


Detak jantungnya berdegup sangat kencang, semakin tak terkendali. Bahkan ia bisa mendengarkan suara detak jantungnya sendiri. Ia berharap agar pria itu tak menyadari hal ini. Stefani masih enggan untuk mengakui semuanya. Masih terlalu dini baginya, ia perlu beberapa bukti lagi. Bukti yang cukup membuatnya yakin jika ia benar-benar jatuh cinta dengan pria ini.


Stefani masih sangat awam, ia takut akan resikonya. Ia tak mau merasakan sakit hati. Itu sebabnya Stefani tak pernah jatuh cinta sebelumnya, ia tak percaya dengan hal itu. Hingga hari ini semesta membuatnya mati kutu.


Namun Stefani tetaplah seorang Stefani. Ia terlalu takut jika hubungannya akan kandas tanpa alasan, sama seperti sahabatnya. Pacaran pasti selalu berakhir dengan kata putus. Entah itu harus putus karena perpisahan atau karena pernikahan.


Pada dasarnya cinta juga seperti itu. Cinta dan patah hati adalah satu kesatuan yang tak pisah di pisahkan. Akan selalu ada rasa kecewa dan benci di balik indahnya kasih. Tergantung seberapa mampu kita mengendalikan perasaan benci tersebut agar tak berujung pada penyesalan. Semuanya kembali kepada diri kita masing-masing. Kita lah yang memegang kendali atas diri kita sendiri.


"Baiklah silahkan nikmati jam istirahat kalian, pelajaran kita lanjutkan setelah masuk nanti." Ujar wanita itu dari depan kelas.


Wanita paruh baya tersebut yang tengah memegang kendali atas kelas ini selama dua jam ke depan. Setelah ia pergi keluar kelas, barulah para murid berani beranjak dari mejanya masing-masing. Anak-anak di kelas ini nyaris bisa di bilang sempurna. Selain isi otak mereka yang bisa di andalkan, tata krama mereka juga jauh lebih baik dari kelas lain. Tak pernah sekalipun salah satu dari mereka yang membangkang guru selama bersekolah di sini.


Arka segera mengantongi ponsel gadis itu, yang tiba-tiba menghilang sejak tadi pagi. Sementara barang-barang Eresha sendiri masih tetap pada tempatnya, tak di sentuh sedikitpun dari tadi oleh pemiliknya.


"Mau kemana lo ka?" Tanya Adit yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.


"Ngagetin aja sih lo! Kebiasaan banget!" Bentak Arka.


Nyaris saja jantung pria itu ingin copot rasanya. Entah kenapa sejak dulu Adit sangat suka bersikap seperti ini. Ia selalu muncul secara tiba-tiba layaknya jump scare di film horor. Tapi ternyata bukan itu tujuan utama Adit. Ia hanya ingin menghampiri sahabat sekaligus teman sebangkunya yang tega meninggalkannya sendirian di sana. Adit dan Titan memang tergolong murid yang agak lemah di bidang perhitungan atau perangkaan.


"Gue cek Eresha dulu di UKS, siapa tau dia memang lagi ada di sana." Ujar Arka.


"Gue ikut!" Seru Clara.


"Yaudah terserah, lo ikut nggak!" Ujar Arka pada Stefani dengan nada yang sedikit tinggi.


"Enggak usah ngegas gitu dong!"


"Intinya lo ikut enggak?"


"Enggak, gue di sini aja nunggu kabar dari kalian. Pegel tau naik turun tangga mulu dari tadi." Keluh Stefani sambil memijat kakinya.


"Kalau nggak mau capek, loncat aja lo dari selasar biar langsung sampe di bawah."


"Lo duluan aja deh ka, sebagai kelinci percobaan dulu. Baru ntar habis itu gue..."


Sementara yang lainnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka tak habis pikir dengan kedua orang ini yang merupakan sahabatnya. Apakah mereka tidak lelah terus-terusan berdebat soal hal kecil seperti ini.


Kelihatannya mereka lebih cocok masuk ke jurusan IPS, kedua orang ini sudah salah masuk jurusan dari awal tahun pertama mereka bersekolah di sini. Bakat terpendam mereka yang selalu di asah setiap hari, semakin meyakinkan Adit dan kawan-kawannya.


Keahlian berdebat yang mereka miliki sekarang ini akan jauh lebih berguna di jurusan itu. Para guru akan dapat mengarahkan mereka untuk menjadi seorang pengacara. Adit dan kedua temannya itu yakin jika mereka akan selalu memenangkan sidang nantinya dengan keahlian ini.


"Krik...krik..."


Adit berusaha memecahkan keheningan suasana saat itu. Setelah puas beradu mulut, akhirnya kedua anak itu bungkam. Mereka sudah kehabisan stok amunisi untuk menyerang lawannya, saat ini Arka dan Stefani seri.


"Udah capek atau udah selesai?" Sindir Titan.


Arka lantas melemparkan tatapan mautnya kepada pria menjengkelkan itu. Bisa-bisanya ia malah memanas-manasi dirinya di saat seperti itu. Namun Titan terlihat biasa saja menanggapi sorotan tajam Arka kepadanya. Itu tak berarti apa-apa baginya.


"Jadi nggak nih nyusulin Eresha, keburu masuk." Ujar Clara.


"Ya jadilah, yuk buruan." Balas Arka.

__ADS_1


__ADS_2