Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 44


__ADS_3

Setelah acaranya selesai, aku langsung bergegas kembali ke kamar untuk mengerjakan tugas yang sempat ku tunda saat di cafe tadi.


"Makan malam dulu yuk sha." Ajak nenek.


"Aku harus buru-buru ngerjain pr nek, masih banyak soalnya." Balasku.


Sebenarnya aku ingin sekali ikut makan malam bersama mereka. Sangat jarang kami bisa berkumpul bersama seperti ini. Biasanya Renata selalu ada kelas hingga malam hari dan selalu sibuk dengan tugas akhir semester dari kampus.


Aku langsung mengambil laptopku, kemudian bersiap untuk mengerjakan sisa tugasku. Padahal di cafe tadi aku baru sempat mengerjakan dua halaman. Masih ada begitu banyak materi yang belum ku pindahkan semuanya.


Aku mengacak-acak rambutku, stress melihat meja belajarku yang acak-acakan. Bahkan aku tak tahu harus memulainya darimana.


***


01.26


Aku melirik ke arah jam dindinh yang terdengar jelas suaranya malam itu. Wajar saja ini sudah larut malam, bahkan sudah dini hari. Aku tak menyangka jika aku harus tetap terjaga sepanjang malam.


Akhirnya sekarang aku tengah menyelesaikan kalimat terakhir untuk tugasku. Dan...... bingo! Selesai juga.


Aku menyenderkan tubuhku di kursi, sambil merelaksasi beberapa bagian tubuhku yang terasa pegal. Rasanya leher dan pinggangku sudah nyaris ingin patah karena terlalu lama membungkuk.


Masih ada sisa waktu kurang lebih empat jam lagi sebelum berangkat sekolah. Ada baiknya aku langsung tidur, untuk mengistirahatkan tubuhku sejenak. Aku langsung menyimpan semua dokumennya dan memastikan semua sudah beres.


Setelah yakin semuanya telah selesai, aku langsung menuju tempat tidur dengan langkah terhuyung-huyung. Namun dalam hatiku sangat senang, karena akhirnya aku bisa beristirahat.


Tiba-tiba kakiku terhenti di tengah perjalanan yang hanya berjarak kurang dari dua meter tersebut. Aku menepuk pelan jidatku, menghentak-hentakkan kakiku dengan kesal.


"Aishhhh!!!" Gerutu ku.


Kenapa aku bisa lupa jika masih ada tugas matematika yang belum ku kerjakan. Ayolah.... Aku ingin istirahat. Aku merengek sambil terus menerus mengeluh.


Dengan langkah berat, mau tak mau aku harus kembali ke tempat memuakkan itu. Aku sama sekali sudah tak memiliki niat untuk menyentuhnya sama sekali. Apa lagi jika harus mengerjakannya.


Seperti yang kalian tahu, aku ini sangat payah dalam urusan angka perangkaan. Di tambah lagi saat ini aku sudah benar-benar lelah, pasti hal ini sangat sulit bagi otakku.


Dengan berat hati, aku membuka buku cetak yang telah ku tandai halaman tugasnya.


"GEOMETRI."


Tulisan itu terpampang nyata di sana. Di tulis dengan ukuran font sebesar mungkin. Rumus-rumus yang di perjelas dengan tulisan bercetak tebal itu, seolah sedang mengejekku.


Malam itu aku benar-benar berusaha melampaui batas kemampuanku. Hingga aku sudah sampai pada titik akhir. Dimana aku telah benar-benar kalah dan menyerah.


***


"Tring!!!"


Suara nyaring itu tajam terdengar, memekik indera pendengaranku. Dengan perlahan ku buka kedua kelopak mataku. Sesekali mengusapnya halus, kemudian mencoba meraba sekeliling ku.


Setelah pandanganku benar-benar jelas dan sebagian nyawaku sudah terkumpul, ku dapati diriku tengah tertidur di meja belajar. Aku mencoba mengingat kejadian kemarin malam.


"Sial! Aku pasti ketiduran semalam." Batinku dalam hati.


Dengan segenap tenaga, aku beranjak dari tempat itu kemudian menghampiri jam weker yang terus menerus berdering.


"Jam lima..." Ujarku dengan suara parau.


Aku bergegas menuju ke kamar mandi untuk bersiap. Mungkin aku akan mandi dengan menggunakan air hangat saja hari ini. Aku yakin itu dapat membuatku menjadi lebih tenang dan segar. Pikiran yang jernih adalah kunci utama agar bisa menyerap pelajaran dengan baik di sekolah.


Setelah selesai bersiap dan memakai seragam seperti biasanya, aku kembali menghampiri meja belajarku untuk memasukkan beberapa hal penting yang harus ku bawa nanti. Sekaligus aku juga mengecek seluruh tugasku, memastikan jika semuanya sempurna. Jika tidak, bisa kena masalah aku.


Menjadi salah satu siswa yang berada di kelas unggulan memang menjadi tantangan tersendiri bagiku. Selain harus siap bersaing, aku juga harus selalu mengimbangi mereka. Sedikit saja aku tertinggal dari mereka, maka itu tidak menutup kemungkinan jika aku akan gagal di kelas itu.


"Astaga?! Belum selesai juga?"


Aku terkejut bukan main ketika mendapati tugas matematika ku kemarin belum selesai. Masih ada tiga soal lagi yang belum ku kerjakan dari total sepuluh soal. Jumlahnya memang tinggal sedikit lagi, kurang lebih pekerjaan ku sudah rampung sekitar tujuh puluh persen.


Tapi masalahnya adalah, aku tak yakin bisa menyelesaikannya tepat waktu. Mungkin jawabannya hanya beberapa baris, tapi otakku sudah tak mampu untuk berpikir lebih jauh lagi rasanya.


Aku melirik ke arah jam tanganku, sambil terus berusaha memutar otak untuk mencari jalan keluar.


"Setengah enam." Batinku dalam hati.


Sebenarnya masih sempat untuk mencari jawabannya terlebih dahulu sebelum pergi ke sekolah. Tapi lagi-lagi aku tak yakin akan berhasil dan tepat waktu. Jika aku mengerjakannya di rumah, kemungkinan besar aku akan terlambat ke sekolah.


Tanpa pikir panjang, aku segera membereskan semua buku yang hendak ku bawa hari ini. Aku memutuskan untuk mengerjakan sisa nya di sekolah, sama seperti yang pernah di lakukan oleh Stefani.


Tak ada jalan lain, hanya ini satu-satunya cara yang terlintas di pikiranku saat itu. Cara berpikir ku memang sangat pendek, tanpa memikirkan konsekuensinya di masa depan. Aku memang terlalu gegabah dalam mengambil keputusan saat terdesak. Entah kenapa aku selalu gagal untuk berfikir jernih meski aku telah mencobanya.


***


Aku mempercepat langkahku, nyari berlari. Sekolah belum terlalu ramai, hanya terlihat beberapa siswa yang tengah duduk termenung di depan kelas karena belum ada seorangpun dari teman sekelas mereka yang datang. Mereka adalah anak-anak rajin yang selalu datang cepat setiap paginya, atau memang karena hari ini mereka mendapatkan jadwal tugas kebersihan.


Aku telah berada di koridor di depan kelasku. Kelihatannya masih sangat sepi. Dengan ragu aku melangkahkan kakiku untuk masuk ke dalamnya. Sebenarnya juga terselip rasa takut di dalam diriku. Mendadak tempat ini menjadi terkesan begitu menyeramkan ketika sepi seperti ini. Tapi mau tak mau aku harus masuk ke dalamnya untuk mengerjakan tugas, atau aku harus siap di hukum.


Dengan mengumpulkan segenap nyali yang ada, aku berusaha memberanikan diriku. Ku dapati seorang pria duduk sendirian di mejanya sambil mendengarkan lagu dari earphonenya yang tersambung ke ponsel miliknya.


Arka, bagaimana pria itu bisa ada di sana sepagi ini. Sebelumnya tak pernah seperti ini. Kelihatannya ia menyadari kedatangan ku saat itu. Arka langsung menoleh ke arahku, kemudian melepaskan salah satu earphonenya.


"Tumben datang cepat." Ujar Arka.


"I...iya." Balasku dengan sedikit canggung.


Aku harus mengatakan apa? Yang benar saja, masa aku harus mengaku jika aku belum mengerjakan tugas. Mau di taruh di mana mukaku.


***


Aku langsung mengeluarkan buku matematika kemudian bergegas mencari jawabannya, tanpa menghiraukan seseorang yang tengah duduk di sebelahku.


"Belum selesai?" Ujar Arka.


Aku hanya mengangguk pasrah dengan wajah tertunduk.


"Sini coba liat."


Tiba-tiba Arka langsung merampas buku dan ballpoint milikku. Sontak aku terkejut bukan main, aku harus segera menyelesaikannya tapi ia malah bercanda seperti ini.


"Tidak lucu sama sekali, ayo cepat kembalikan." Gumam ku dalam hati.


Aku berusaha mengambil kembali milikku yang telah di ambil secara paksa oleh pria itu.


"Sabar dong, aku mikir dulu." Ujar Arka dengan begitu tenang.


Keningnya berkerut, matanya memicing tajam menatap soal yang sudah menjadi makanan kesehariannya itu.

__ADS_1


Sesaat kemudian ia langsung menuliskan gugusan angka-angka dan variabel serta beberapa istilah matematika di atas kertas putih itu.


Aku hanya bisa memperhatikannya dengan seksama, karena ia tak mengizinkanku sama sekali untuk membantunya.


"Nah, gini kan udah beres." Ujar Arka sambil tersenyum puas.


Aku menengadahkan kedua tanganku kepada pria ini.


"Kenapa?" Tanyanya sambil menyorotiku dengan tatapan aneh.


"Balikin buku ku." Ucapku datar.


"Hmm.... Boleh deh. Tapi ada satu syarat." Ucapnya sambil tersenyum licik.


Aku mendesis kasar di hadapannya.


Bagaimana bisa ia bersikap seperti itu. Bahkan ia samasekali tak memiliki hak untuk mengambil buku ku secara paksa.


Aku menghela nafas panjang, mencoba meningkatkan level kesabaranku untuk menghadapi anak ini. Mau tidak mau saat ini aku harus menuruti keinginan, daripada nilai ku yang harus jadi taruhannya.


"Apa?" Tanyaku dengan nada yang lebih tinggi.


"Bilang terimakasih dong, kan udah di bantuin."


"Itu doang?"


"Eitss... Ya enggak lah."


"Terus apaan dong? Masa banyak banget."


"Gimana kalau kita barter? Kamu ngerjain tugas translate Bahasa Inggris aku buat besok. Nanti filenya aku kirim. Gimana, oke?" Tawar Arka.


"Panjang nggak teks nya?"


"Sekitar seratus lima puluhan kata gitu deh."


Aku berfikir sejenak mempertimbangkan tawarannya.


"Oke." Balasku singkat.


"By the way thanks buat bantuannya." Sambung ku.


***


Bel pertanda jam pelajaran pertama akan segera dimulai telah bergema di seluruh penjuru sekolah. Semua siswa berebut masuk ke dalam kelas, mendahului bel yang terus memburu.


Hari ini pria itu menyelamatkan ku. Hatinya begitu tulus untuk menolong satu sama lain, tanpa mengingat dendam. Masa lalu kami yang kurang baik, tak menjadi alasan baginya untuk membenciku.


Ia berbeda, jarang bisa menemui orang seperti ini. Kebanyakan orang lebih mudah mengingat satu salah dari pada seribu hal baik yang pernah terjadi sebelumnya. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Arka.


***


14.30


Tahun sebelumnya, jam segini biasanya aku sudah pulang. Tapi kali ini semua murid kelas dua belas harus mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan ujian akhir sekolah. Bimbingan ini di laksanakan selama satu delapan bulan kedepan, yang artinya selama batas waktu yang telah di tentukan aku harus rela pulang lebih lama dari biasanya.


Aku dan teman-temanku membereskan barang-barang kami yang berserakan begitu saja saat jam pelajaran terakhir berlangsung. Setelah itu kami menggabungkan beberapa meja menjadi satu. Cukup untuk menampung maksimal enam orang.


Satu hari sebelumnya, aku dan kedua sahabatku ini telah janjian untuk membawa bekal masing-masing dan saling berbagi nantinya. Aku, Clara dan Stefani duduk berhadap-hadapan sambil mengeluarkan kotak makanan kami masing-masing.


Sementara Arka sibuk bersama teman-temannya. Kelihatannya mereka sedang membicarakan suatu topik yang sangat seru. Ketiga pria itu duduk di atas meja dengan salah satu kaki yang sengaja di angkat.


Lihat saja ketiga orang ini, jika di lihat sekilas biasa saja memang. Terkesan sebagai murid yang teladan dan sopan. Terlebih lagi mereka menyandang gelar sebagai murid kelas unggulan.  Namun, lihat saja sekarang kelakuannya. Tak ada bedanya dengan anak lelaki lain, yang pada umumnya memang terkesan "petakilan."


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku melihat kelakuan anak-anak itu.


"Buruan yuk makan, udah laper nih!" Ujar Stefani.


Clara mengangguk setuju dengan perkataan Stefani barusan.


"Yaudah." Balasku singkat.


Kami membuka kotak bekal masing-masing, lalu meletakkannya di tengah-tengah meja. Ubi ungu rebus sebagai sumber karbohidrat yang sederhana cara penyajiannya, di sediakan oleh aku sendiri.


Kami memang telah membagi tugas sebelumnya, aku yang membawa makanan utamanya. Sementara Clara membawa buah-buahan yang telah diolah menjadi salad buah. Dan tentu saja protein tidak boleh di lewatkan begitu saja. Stefani membawa tempe bacem yang ia masak sendiri.


"Selamat makan." Ucap kami secara bersamaan.


Tanpa kami sadari, ternyata suara kami mengundang orang-orang itu untuk datang. Siapa lagi jika bukan Arka dan teman-teman karibnya.


"Parah sih, makan enggak ngajakin." Ujar Adit sambil mengelus-elus pelan perutnya.


"Nah bener, kita juga laper kali." Timpal Titan.


"Porsinya udah pas buat tiga orang doang." Ujarku dengan nada ketus.


Sejujurnya aku tak Sudi jika harus berbagi makan siang dengan mereka. Aku juga butuh mengisi ulang energi ku untuk berpikir lebih keras lagi nantinya.


"Dikit aja..." Ujar Titan dengan wajah memelas.


Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat sambil mengunyah sisa makanan di yang masih tersisa di mulutku.


"Gini deh, besok gantian kita yang bawain makanan buat kalian." Tawar Arka sambil melipat tangannya.


"Nah kalo itu gue setuju!" Balas Stefani antusias.


"Hah?!" Timpal ku.


"Udah deh sha, iyain aja. Lagian di kost gue makanannya itu-itu mulu. Ntar kalian bosen lagi." Jelas Stefani.


"Terserah deh." Balasku singkat.


Ketiga pria itu langsung menyerobot makanan kami dengan bringas, tanpa perlu di perintahkan lagi. Nyaris saja aku tersedak karena terkejut.


Saat ini aku hanya bisa menghela nafas panjang, sambil terus menggerutu sebal terhadap semua orang di hadapanku sekarang ini. Bahkan sekarang nafsu makanku sudah hilang begitu saja.


"Loh kenapa kok nggak makan?" Tanya Arka.


"Enggak, udah kalian aja yang makan." Balasku seolah-olah tak terjadi apapun.


"Kita ganggu ya?" Sambung Titan.


Aku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku dengan cepat. Walaupun sebenarnya memang iya, tapi aku tak ingin menyakiti perasaan mereka.


"Kalau lo merasa enggak nyaman kita ada di sini, enggak apa-apa kok, kita bisa pergi." Lanjutnya.

__ADS_1


"Enggak apa-apa, seriusan. Udah lanjutin gih makannya." Elak ku.


Bagaimanapun juga tetap saja aku merasa tidak enak jika harus menyinggung perasaan mereka. Oleh sebab itu aku menghindarinya.


"Yaudah deh, besok aku bawain bolu cokelat." Balas Arka.


Mataku langsung terbelalak lebar mendengar ucapan Arka barusan.


"Serius?" Tanyaku kembali.


Pria itu hanya mengangguk sambil mengunyah tempe bacem milik Stefani yang di sikat habis olehnya.


Aku langsung bersemangat ketika mengetahui Arka akan membawakan ku bolu coklat buatan mamanya itu. Sudah lama sekali rasanya aku tak mencicipi kudapan yang satu itu.


***


Jam pelajaran tambahan sukses membuatku semakin stress. Belum lagi Sekaa sudah hampir sore, rasanya mataku terasa sangat berat. Namun bagaimanapun juga aku tak boleh mengecewakan mereka yang telah memberikan kesempatan ini kepadaku.


Aku terus berusaha fokus selama jam pelajaran berlangsung. Meski ku akui itu memang sangat sulit untuk dilakukan. Ini bukan tempat yang tepat bagi orang-orang seperti aku dan Stefani. Kami akan sulit berkembang di sini.


***


18.10


Akhirnya selesai juga. Aku bergegas membereskan barang-barang ku yang berserakan di atas meja. Aku ingin cepat-cepat pulang dan sampai di rumah.


"Eh... Aku pinjam buku kamu yang ini ya. Tadi aku ketinggalan catatannya, besok aku balikin." Ujar Arka sambil menahan salah satu tanganku yang memegang buku.


Aku langsung mengiyakannya saja, tak ingin berlama-lama.


"Thanks." Balasnya kemudian memasukkan benda itu ke dalam ranselnya.


Langit sudah tak secerah tadi. Cahayanya meredup, langit mulai memudar. Terlihat beberapa jejak warna jingga menyala yang terlukis indah di atas sana.


Aku sudah memikirkan semuanya di kepalaku sambil menunggu sebuah taxi lewat. Semua kegiatan yang akan ku lakukan setelah ini telah ku jadwalkan sedemikian rupa.


Di satu sisi program belajar tambahan ini memang baik, namun di sisi lain juga ada kerugian-kerugian kecil yang sering di anggap sepele.


Stefani misalnya, ia harus rela mengubah jam kerjanya menjadi malam hari. Atau aku yang tidak bisa beristirahat sebentar saja di rumah. Tapi ini memang bukan saatnya bagiku untuk bersantai-santai lagi. Ini adalah tahun terakhir ku bersekolah, aku harus menghadapinya dengan serius. Karena kehidupan sesungguhnya baru akan di mulai ketika kita lulus nanti.


"Jadi, bersiaplah!"


Tak perlu menunggu lama, kendaraan umum yang satu itu telah datang. Karena memang lokasi sekolah kami yang terletak di pinggir jalan raya. Jadi tak perlu khawatir soal transportasi, jalanan ini selalu ramai selama dua puluh empat jam.


***


Suasana di rumah benar-benar sepi, sunyi, senyap dan begitu tenang tak seperti biasanya. Nenek dan Renata barusaja terbang ke Medan tadi pagi. Karena kota asal kami merupakan salah satu kota kecil, jadi tak ada fasilitas landasan udara untuk pesawat terbang di sana. Sehingga nenek dan Renata harus transit di Medan, kemudian melanjutkan perjalanan dengan kereta atau angkutan umum lainnya.


Aku mendapati bibi yang sedang menonton tv di ruang tengah. Ia tampak begitu menikmati harinya.


Aku segera menuju kamarku untuk mandi kemudian turun lagi ke dapur untuk makan malam. Setelah itu aku juga harus pergi menonton pertandingan Kak Sendy.


Air hangat selalu menjadi solusi utama untuk menenangkan pikiran dan menghilangkan letih seharian. Tak ada yang lebih baik dari yang satu ini.


Aku langsung memakai setelan hoodie dan celana panjang berwarna hitam. Jadi selesai makan nanti, aku bisa langsung berangkat tanpa perlu naik ke atas lagi untuk ganti baju.


Naik turun tangga memang sehat, tapi tidak untuk orang yang mager sepertiku.


"Nonton apa bi?" Tanyaku basa-basi.


Aku memutuskan makan malam di depan tv sambil menemani bibi menonton.


"Ini mbak, film India. Romantis banget tau mbak. Kayak mbak sama mas Arka." Jelas wanita itu.


Nyaris saja aku mati tersedak. Beruntung aku buru-buru meneguk segelas air putih di hadapanku.


Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar kalimat barusan. Kenapa harus di kaitkan dengan aku dan pria itu, bahkan di saat seperti ini. Aku langsung menyelesaikan makan malam ku sambil ikut menyimak film itu.


Seperti film India pada umumnya, yang di gemari oleh kalangan emak-emak komplek. Tapi entah kenapa kali ini aku sampai terbawa suasana.


Setelah selesai mengisi perut, aku melanjutkan mencuci piring. Tak ada salahnya membantu bibi kan. Biarkan setidaknya ia istirahat sehari ini saja. Lihatlah ekspresinya yang begitu menikmati hari ini. Karena nenek dan Renata pergi, jadi pekerjaan rumah tak terlalu banyak seperti biasanya. Seperti kain cucian atau piring kotor misalnya. Bibi juga tak perlu memasak banyak hari ini. Hanya cukup untuk kami berdua saja.


"Bi, Aku pamit keluar sebentar ya." Ujarku sambil memasang sepatu.


"Mau kemana mbak?" Tanya wanita paruh baya tersebut seraya memalingkan pandangannya dari tv.


"Mau nonton temen tanding di aula kampus dekat sekolah." Balasku.


Aku kemudian menghampirinya untuk berpamitan, lalu mengecup punggung tangannya.


"Eresha berangkat dulu ya bi." Pamitku.


"Naik apa kamu ke sananya? Udah malam loh ini."


"Gampang itu bi, naik ojek yang di depan komplek aja."


"Yaudah sebentar bibi panggilin dulu."


"Enggak usah bi, Eresha bisa jalan aja kok ke depan. Lagian kan dekat."


"Udah biar bibi telepon aja mereka."


Tapi bibi tetap bersikeras untuk menelepon salah satu abang gojek pengkolan kenalannya. Aku memilih menurut saja. Bibi memang kenal hampir dengan semua tukang ojek di komplek ini. Setiap hari merekalah yang selalu mengantar bibi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan dapur. Jadi tak heran lagi, jika ia telah begitu akrab dengan mereka.


"Halo, cup! Lo sekarang ke rumah ya. Anterin Eresha ke aula kampus dekat SMA Nusantara." Ujar bibi di telepon.


Tak lama setelah itu ia langsung menutup teleponnya tanpa ku dengar sebuah jawaban terlebih dahulu dari seberang sana.


Bibi mengantarkanku ke depan sambil menunggu ojek tersebut datang. Wanita ini memang baik dan perhatian terhadap kami. Ia sudah mengabdi kepada nenek sejak delapan belas tahun yang lalu. Bahkan aku belum lahir saat itu.


Bibi tidak memiliki anak sampai sekarang, bahkan ia belum pernah menikah. Jadi wajar saja jika ia menyayangi kami selayaknya anak-anaknya sendiri.


"Nah itu dia si Ucup udah datang!" Sorak bibi.


Sebuah sepeda motor kemudian berhenti di depan kami sesaat setelah bibi mengatakan kalimat itu.


"Anterin dia sampai tujuannya ya cup." Ujar bibi.


"Ya iya lah Mpok."


Aku segera naik ke atas sepeda motornya, tak lupa memastikan jika helm sudah terpasang di kepalaku.


"Awas aja kalau sampai neng geulis ini lecet, habis kamu." Ancam bibi serius.


Tapi tetap saja, seserius apapun ekspresinya kalimat itu terdengar seperti candaan antara sepasang teman. Teman karib lebih tepatnya.

__ADS_1


"Hati-hati ya mbak."


"Iya bi, Eresha pergi dulu ya."


__ADS_2