Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 7


__ADS_3

  Hari ini benar-benar buruk. Tak seperti yang ku bayangkan. Aku belum tidur hingga selarut ini.


 


 


"Udahlah sha. Ga usah di pikirin." Bujuk Zahra.


 


 


  Gadis itu langsung terjaga dari mimpinya. Ia meletakkan sebuah bantal di atas pangkuannya, kemudian mencondongkan tubuhnya ke arahku.


 


 


"Jangan sedih lagi lah sha. Inget, hidup lo ga melulu tentang dia."


 


 


Aku hanya membisu, tak ingin menggubris kalimat barusan.


 


 


"Udahlah yuk tidur. Udah malem.  Besok sekolah, ntar telat." Ujar Zahra.


 


 


***


 


 


  Hari ini aku berangkat lebih pagi dari biasanya. Bahkan, Zahra belum bangun. Aku sengaja memang tak membangunkannya sepagi ini. Aku tak ingin ia tahu aku akan pergi ke bandara. Jika ia tau, pasti ia akan mengadukannya ke mama. Hari ini Kak Sendy akan berangkat ke Jepang dan aku sengaja ke bandara untuk sekedar melihat sosoknya untuk yang terakhir kalinya mungkin.


 


 


  Aku menaiki bus kota yang masih lumayan sepi penumpang. Aku singgah ke sebuah minimarket di seberang bandara. Ternyata aku belum sarapan. Aku membeli dua buah roti coklat, susu kotak, dan secangkir kopi latte.


 


 


  Aku menunggunya sambil memakan sarapanku. Bandara sudah mulai ramai.


 


 


"Kak Sendy!" Sahutku bergegas menyusul seorang pria yang ku yakini sebagai Kak Sendy.


 


 


  Aku menepuk pundaknya dari belakang, lantas ia berbalik.


 


 


"Eresha? Lo ngapain disini?"


 


 


"Ini, roti sama kopi latte. Jangan lupa sarapan."


 


 


  Kak Sendy meraih bungkusan yang ku sodorkan untuknya dengan ragu. Raut wajahnya tampak bingung saat melihatku seolah baik-baik saja, padahal tak seperti itu.


 


 


"Makasih ya."


 


 


"Sama-sama."


 


 


"Lo kok ke bandara? Lo kesini sama siapa?"


 


 


"Aku cuma mau nganterin sarapan doang kok."


 


 


"Enggak mungkin cuma itu alasan lo. Lo sendirian?"


 


 


"Ya iya lah. Emang sama siapa lagi."


 


 


  Aku mencoba bersikap ketus untuk menutupi lukaku.


 


 


"Udah sana, nanti telat." Sambungku.


 


 


"Tunggu." Ucapnya.


 


 


  Kemudian, dengan tiba-tiba ia menarik tubuhku ke dalam dekapannya. Dekapan yang kali ini terasa lebih tulus dari sebelumnya. Aku hanya bisa mematung ditempat.


 


 


"Makasih atas semua kenangan yang udah lo kasih sama gua. Makasih atas senyuman tertulus yang pernah lo kasih ke gua. Makasih udah hadir di hari-hari gua. Makasih buat semua rasa lo buat gua. Btw makasih juga buat sarapannya." Bisiknya di telingaku.


 


 


  Aku terbungkam, ia tak pernah berbicara sepanjang ini kepadaku.


 


 


"Jangan lupa balik ke Indonesia." Ucapku seraya melepaskan pelukannya.


 


 


Aku mengacungkan kelingking ku.


 


 


"Iya. Gua janji bakal balik ke Indonesia." Balas Kak Sendy sambil menyambut kelingking ku kemudian mengaitkannya pada jari kelingkingnya.


 


 


  Aku tersenyum tanpa semangat.


 


 


"Gue pergi dulu ya. Bye!" Ucapnya seraya pergi meninggalkan ku.


 


 


  Aku hanya menatap punggungnya yang kian menjauh.


 


 

__ADS_1


***


 


 


"Eresha!" Teriak seseorang dari balik pintu.


 


 


  Siapa lagi jika bukan Zahra. Ia pasti marah karena tadi ku tinggal saat berangkat sekolah.


 


 


"Kok lo berangkat ga nungguin gua sih. Udah gitu gua ga di bangunin lagi." Omel gadis itu.


 


 


"Tadi udah gua bangunin lo malah molor aja. Yaudah."


 


 


"Kok tumben lo berangkatnya pagi-pagi banget?"


 


 


"Enggak apa-apa sih. Males aja di rumah."


 


 


"Kenapa?"


 


 


" Kepo lo."


 


 


"Dasar!"


 


 


***


 


 


  Setelah kejadian semalam, aku tak tahu bagaimana keadaan Renata. Aku merasa bersalah, sungguh.


 


 


"Nanti temenin gua yuk." Ajakku.


 


 


"Kemana?" Tanya Zahra.


 


 


"Ke rumah Renata."


 


 


"Ha? Lo serius? Mau ngapain?"


 


 


"Ya ga ada, cuma mau minta maaf aja atas kejadian kemarin."


 


 


 


 


"Lho? Kok ga usah?"


 


 


"Dia pasti masih terpukul banget sama kejadian kemarin. Dan mendingan lo jangan temuin dia sekarang. Tunggu sampai emosi nya stabil."


 


 


"Tapi gua harus minta maaf secepatnya."


 


 


"Ya udah terserah lo. Nah, terus emang nya lo tau alamat rumahnya?"


 


 


"Tau. Kemaren pas lo tidur duluan, gua tanya alamat nya ke Kak Sendy."


 


 


"Bener-bener nekat lo sha."


 


 


***


 


 


  Kami memperlambat langkah ketika sampai di jalan yang dimaksud. Mataku menyisir setiap setiap rumah di jalanan itu. Bingo! Itu dia rumah Renata, persis seperti yang dikatakan Kak Sendy kemarin.


 


 


  Tapi, tunggu dulu. Gerbang nya di kunci. Apa ia belum pulang sekolah? Tapi setidaknya pasti ada seseorang di dalam rumah itu. Tak mungkin Renata tinggal sendirian di rumah sebesar itu.


 


 


"Permisi!" Teriak ku dari luar pekarangan.


 


 


"Mbak cari siapa ya?" Sahut wanita setengah baya yang tiba-tiba muncul dibelakang kami.


 


 


"Ini bener rumahnya Renata kan Bu?" Tanya Zahra.


 


 


"Iya, bener mbak. Tapi Renata nya lagi pergi nyusul orang tuanya." Jelas wanita itu.


 


 


"Nyusul kemana?"


 


 


"Begini, saya kebetulan tante nya Renata. Jadi, Mama nya Renata lagi ada proyek diluar negeri. Dan kemarin tiba-tiba mama nya sakit, makanya Renata pergi nyusulin mama nya. Kalian temen nya Renata ya?"


 


 


"Oh, iya Bu. Kami temennya."

__ADS_1


 


 


"Oh, yasudah ayo masuk dulu."


 


 


  Kami di persilahkan persilahkan masuk ke Rumahnya. Kami hanya duduk di kursi santai yang tersedia di teras. Sementara tantenya sedang kebelakang sebentar katanya.


 


 


"Ini, di minum dulu." Ucap wanita itu sambil menyodorkan teh panas.


 


 


"Aduh, tante ga usah repot-repot." Ujar ku.


 


 


"Enggak apa-apa. Lagian kalian pasti capek."


 


 


"Makasih banyak loh tante." Sambung Zahra.


 


 


"Memangnya kalian mau ngapain ketemu Renata?" Tanya tantenya.


 


 


"Cuma main aja kok tante." Balasku.


 


 


"Emang Renata gak kabarin kalian kalau dia mau nyusul mama nya ke Jepang?"


 


 


"Enggak Tante."


 


 


"Baru kali ini loh Renata bawa temennya ke rumah. Sebelumnya dia tuh ga pernah bawa temennya main ke rumah. Dia memang pendiam anak nya. Dan kata mama nya, temennya juga enggak terlalu banyak. Cuma satu malah."


 


 


"Cuma satu?" Tanya kami serempak.


 


 


"Iya, siapa siapa tuh namanya aduh tante lupa. Oh iya, si Sendy."


 


 


"Sendy?" Tanyaku.


 


 


"Iya, Renata sama Sendy tuh udah deket banget dari kecil. Udah kayak kakak adek. Dulu waktu kecil, Renata sering banget sakit sakitan. Sampai suatu hari, mama dan papa nya Renata cerai. Kondisi Renata semakin buruk. Jadi, mama nya memutuskan untuk mengganti namanya. Dulu namanya Reanna Dearsha, di ganti jadi Renata Arsya."


 


 


"Reanna?" Tanyaku dalam hati.


 


 


  Aku seperti pernah mendengar nama itu, nama yang tak asing lagi bagiku. Seolah pernah kenal sebelumnya.


 


 


"Dulu Renata juga punya adik, namanya Irisha. Tapi, tante dengar, papa nya juga mengganti nama adik nya Renata setelah mereka bercerai."


 


 


"Irisha? Itu mirip seperti namaku." Ujar ku.


 


 


"Serius?" Tanya tantenya.


 


 


"Iya, nama aku kebetulan Eresha tante."  Ucapku yakin.


 


 


***


 


 


  Kami tak berlama-lama di rumah Renata, karena ternyata ia tak ada di rumah. Pernyataan dari tantenya Renata memang membuatku cukup terkejut. Aku yakin, semua hal yang disampaikan tantenya tentang Renata pasti ada sangkut pautnya dengan ku.


 


 


"Eresha, kok enggak dimakan makanan nya? Enggak enak ya?" Tanya mama.


 


 


"Ehmm, enggak kok ma. Cuma masih kenyang aja." Ujarku.


 


 


  Sebenarnya aku ingin menanyakan hal ini pada papa. Tapi aku takut jika hal ini akan menyakiti perasaan mama. Aku tau jika mama bukan ibu kandung ku. Ia menikah dengan papa saat aku masih balita. Tapi bagaimanapun, ia sudah sangat baik padaku dan papa.


 


 


"Pa, Eresha mau nanya sesuatu boleh gak?" Tanyaku.


 


 


"Mau nanya apa?" Tanya papa balik.


 


 


"Ehmm. Papa pernah ganti nama Eresha gak?"


 


 


"Kenapa kok nanya nya gitu?"


 


 


"Enggak apa-apa sih pa, cuma nanya aja."


 


 


"Enggak kok sayang, nama kamu ya emang Eresha dari lahir."


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2