Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 78


__ADS_3

 


 


Aku tak pernah menyangka jika pada akhirnya ceritaini harus tamat di atas kertas, tanpa ku ketahui siapa penulisnya. Eresha dan Sendy hanyalah sepasang tokoh yang berada dalam cerita ini, mengikuti alur cerita yang dituulis oleh penulisnya. Aku tahu jika penulis itu pasti sedang membenci cerita ini sekarang. Sama seperti aku, yang sama sekali tak mengharapkan akhir tragis seperti ini.


“Kak Rayhan ada cerita soal bunga crisanthemum sama kalung itu nggak?” tanyaku pada Arka dengan suara terisak.


Namun jawaban yang ku dapatkan lagi-lagi tak bisa sesuai dengan yang ku harapkan. Pria itu hanya menggeleng pelan dengan perasaan pasrah..


“Kak Rayhan Cuma bilang kalau stick yang kamu terima itu, adalh stick yang selama ini dia pakai buat latihan. Bahkan sampai penampilan dia kemarin pas lomba di kampus itu.” jelas pria tersebut.


Aku lantas kembali menegakkan posisi tubuhku dengan segera. Aku tak ingin terus-menerus terlarut dalam kesedihan ini. Meskipun rasanya ku masih ingin meluapkan seluruh emosiku secara total.


“Mending kamu pulang aja dulu ka, aku butuh waktu buat sendirian dulu.” ujarku kemudian segera meninggalkan pria tersebut, tanpa menunggu jawaban darinya lagi.


Dengan langkah tertatiih, aku berlari menaiki tangga untuk menuju kamarku yang berada di lantai dua. Rasanya kakiku tengah bergetar hebat, sehingga membuat keseimbanganku tak terlalu baik jadinya. Aku tak peduli dengan Arka atau siapapun yang tengah berada di sekitarku saat ini. Aku yakin jika pria itu pasti mengerti dengan keadaanku yang sekarang, ia dusah cukup dewasa untuk memahami situasi ini,


‘BAMMM!!!!’


Aku membanting pinku kayu jati tersebut dengan sangat kencang. Sehingga menciptakan suara debaman keras dan membuat benda di sekitarnya ikut bergetar pelan. Tubuhku terduduk lemas di atas lantai ubin tersebut, aku memeluk kakiku sendiri sambil tersedu-sedu. Setelah puas meluapkan semua amarahku, aku segera meraih benda itu di atas meja belajarku.


Jika Kak Sendy memberikanku hadiah stick ini, maka itu artinya ia telah mengajakku untuk selalu terikat dengan masa lalunya. Padahal ada beberapa masa lalu yang tak bisa dikenang untuk selamanya, karena telah termakan usia. Bagiku benda yang satu ini merupakan sebuah kutukan bagiku. Membuatku terjebak dalam lagu lara dengan ketukan abstrak yang hanya bisa memekakkan teliga siapapun yang mendengar irama asal tersebut. Aku terlalu benci dengan semua lagu ini, aku menyesal kenapa dulunya kita pernah membuat melodi ini bersama-sama.


Aku berharap untuk tidak pernah mengingat semua itu lagi. Kehilangan seluruh ingatanku karena kecelakaan waktu itu akan jauh lebih baik. Aku pernah mendengar sebuah cerita tentang seorang anak perempuan dan anak laki-laki. Mereka pernah dan terpaksa bersama karena sebuah lagu yang mereka ciptakan. Dan kini salah satu dari mereka telah terjebak dalam lagu itu untuk selamanya. Perlahan membunuhnya dengan nada-nada tinggi yang mampu melumpuhkannya. Dan pada kenyataannya, salah satu orang itu adalah aku.


Mungkin satu-satunya cara untuk terlepas dari jeratan simfoni indah itu, adalah dengan membuang semua barang ini jauh-jauh. Ku rasa itu juga alasannya kenapa Kak Rayhan bilang di akhir video itu, jika aku boleh membuangnya jika kau tak suka. Karena memang aku tak akan pernah menyukai semua benda pemberiannya itu pada akhirnya. Jika aku tahu soal semua ini jauh lebih dulu, mungkin aku tak akn pernah menyentuh atau bahkan membukanya sama sekali.


“Tapi apakah aku salah jika kini aku membenci jiwa yang telah mati?” batinku dalam hati.


Setelah mengumpulkan segenap keberanianku, akhirnya aku melakukan hal ini juga meski denagan berat hati. Tanpa segan-segan aku mematahkan stick tersebut tepat di hadapanku saat itu juga. Lagipula untuk apa dia memberiku benda ini, padahal Kak Sendy tahu persis jika aku tak bisa menggunakannya sama sekali. Hanya orang bodoh yang berpikir seperti itu. Apa gunanya jika hanya disimpan atau dipajang, jika pada akhirnya juga akan menjadi sebuah sampah. Akan lebih baik jika aku segera membuatnya agar lebih cepat menjadi sampah. Tapi lagi-lagi selalu ada ornag yang mencoba untuk mencegahku untuk melakukan hal yang menurutku benar ini.


“Sha!” sahut seseorang dari luar ruangan ini, sambil menggedor-gedor pintuku untuk beberapa kali.


Dari suaranya, kehilatannya aku mengenal siapa pemilik suara tersebut. Siapa lagi jika bukan Arka, aku kenal persis dengan suara yang setiap harinya selalu ku dengar itu. Aku tak habis pikir jika Arka akan menyusulku hingga naik ke atas sini. Padahal aku telah meyuruhnya uuntuk pergi dan meninggalkanku sendirian di sini. Aku perlu menata kembali hatiku, untuk seseorang manusia yang tak akn pernah bisa disebut seperti itu lagi.


“Ayolah, apa dia tak percaya jika aku akan baik-baik saja berada di dalam ini sendirian.” gerutuku di dalam hati.


Aku tak tahu apakah pria itu tak bisa mempercayaiku untuk kali ini atau bagaimana. Tapi aku bisa menjamin ucapanku yang barusa, ia bisa memegang kalimatku yang tadi itu. Mungkin karena aku telah terlalu sering berbuat sesuatu yang ia sebut dengan perbuatan nekat, namun tidak bagiku yang hanya menganggap nya sebagi hal yang sungguh biasa saja.


Aku mencoba untuk tak menangis lagi, karena semua yang ku lakukan saat ini sama sekali tak ada gunanya. Dengan perasaan yang ku buat sedemikian rupa, agar terlihat tegar. Aku segera menyeka air mataku yang telah membuat penampilanku menjadi semakin buruk seperti ini. Tak ada gunanya menangisi orang yang telah pergi, jika dengan itu dia tak akan pernah bisa kembali lagi.


Sebaiknya aku tak perlu mencarinya lagi sekarang. Karena aku telah sampai pada ujung dari masa pencarian panjang itu. Sebuah jalanan yang buntuh pada akhirnya, dan yang lebih mirisnya lagi aku tak bisa menemukan sesuatu yang aku cari itu.


Pergilah aku telah merelakanmu, terimakasih karena telah pernah hadir di dalam kehidupanku. Dirimu membawa jutaan nada yang kemudian kita susun setelahnya, lalu kamu pergi bahkan sebelum lagu itu belum sempat selesai. Sekarang aku tak akan pernah memintamu kembali lagi. Surga loka sudah cukup menenangkan bukan bagimu, itu malah jauh lebih baik dari pada kehidupan di dunia yang penuh akan hiruk pikuk.


Aku merelakanmu untuk pergi, walaupun hatiku sendiri tak pernah benar-benar bisa untuk melakukan itu. Tapi aku harus bisa, karena aku tahu itu yang terbaik. Sekarang jiwamu sudah berada di dalam keabadian, selamat beristirahat untuk waktu yang sangat panjang. Bahkan lebih lama dari hibernasi beruang ketika musim dingin datang. Kau pantas menerimanya, setelah cukup lelah bergelut dengan dunia yang tak pernah ramah ini. Sekarang aku tak perlu mengkhawatirkanmu lagi, karena aku tahu jika kau akan tetap baik-baik saja di sana.


“Sha, ada satu hal lagi yang harus kamu ketahui.” ujar Arka dari balik pintu.


Aku kembali menyeka air mataku untuk yang kesekian kalinya, memastikan agar semuanya terlihat seperti baik-baik saja. Yang tadi itu aku yakin bukan apa-apa dan tak akan berpengaruh lebih buruk dari apa yang ku bayangkan. Kejadian itu tak akan banyak membuatku berubah, aku juga yakin jika kesedihan ini tak akan bertahan lama. Sama seperti bunga layu yang harus gugur, untuk kembali mekar.

__ADS_1


Dengan mengumpulkan segenap keyakinan, aku memuka pintu kamar tersebut dengan penuh harap. Berusaha memasang sebuah senyum yang terkesan agak sedikit dipaksakan. Tapi tak apa, karena beberapahal baik memang harus sedikit dipaksakan agar terlihat sempurna.


“Aku nggak apa-apa kok, kita keluar aja yuk.” ujarku kepada pria itu yang telah menungguku sedari tadi.


“Pe-pe-pergi kemana? Kan kamu masih sakit.” balas Arka yang terlihat kebingungan.


“Kemana aja, aku butuh sedikit udara segar setelah kabar buruk tadi.” jelasku.


“O-oke, ya udah aku minta izin sama bibi dulu.” balasnya kemudian segera pergi dari hadapanku.


Aku mengangguk lemah, mengiyakan perkataannya. Setelah itu aku langsung mengambil hoodie yang tergantung di sana, aku tahu jika udara di luar sana akan terlalu dingin bagiku. Dengan ragu-ragu, aku meraih stick quintom tersebut yang tergeletak begitu saja di lantai. Mungkin setelah ini aku akan membuangnya saja di jalanan, atau lebih baik jika langsung ke tempat pembuangan.


***


Karena tadi bibi bilang harus kembali ke rumah sebelum jam empat sore, dan kami jug atak diizinkan untuk melakukan perjalanan yang terlalu jauh. Jadi aku dan Arka memutuskan untuk pergi ke taman di kompleks ini. Biasanya tempat itu tak terlalu ramai, jadi mungkin aku akan suka jika berada di sana. Pilihan yang tidak terlalu buruk.


Sambil menunggu Arka yang sedang membelikan es krim, sesekali aku menendang kerikil kecil yang berada tepat di depankku. Meskipun kata dokter aku belum boleh memakan es krim selama masih sakit, namun aturan itu tak berlaku sama sekali untuk seorang gadiss yang keras kepala sepertiku.


Aku menatap sepasang stick quintom tersebut dengan sorot mata yang nanar. Aku tak tahu harus melakukan apa dengan yang satu ini. Mungkinkah aku akan benaar-benar membuangnya atau tidak. Kenapa aku malah jadi plin-plan seperti ini, padahal tadinya niatku yang satu ini sudah benar-benar bulat. Aku memang payah! Dasar payah!


“Ini.” ucap Arka yang tiba-tiba datang dengan sebuah es krim coklat di tangannya.


“Terimakasih.” balasku dengan singkat, sembari menerima cone es krim tersebut.


“Kamu nggak sedih memangnya setelah tahu soal itu tadi?” tanya Aka padaku.


Aku menoleh sekilas ke arah pria itu yang tengah duduk di sampingku. Sorot matanya seolah sudah tak sabar ingin mendengar jawaban dariku.


“Kalau pun aku sedih lama-lama, emangnya dia bisa hidup lagi? Enggak mungkin kan?” balasku.


Meskipun pada kenyataannya memang begitu, tapi aku tak pernah berpikir seperti itu sama sekali.


“Kamu nggak pernah bener-bener tau cerita kita itu gimana.” ucapku dengan berat hati.


“Thanks buat infonya.” lanjutku.


“Sama-sama.” balasnya dengan singkat.


Setelah itu, Arka langsung terdiam dan hanya fokus pada es krim nya yang nyaris meleleh karena terlalu asik mengobrol bersamaku. Aku tahu jika pria itu sengaja tak ingin membahas ini lebih jauh, meskipun masih ada beberapa pertanyaan lagi yang belum sempat ia ajukan kepadaku.


Cukup sederhana memang, tapi mampu sedikit mengobati luka ini walaupun tak benar-benar bisa kembali pulih lagi. Hanya mampir ke taman kecil ini, sembari menyantap es krim coklat kesukaanku. Sungguh hal-hal kecil yang mampu membuatku merasa lebih baik. Setelah merasa cukup, Arka kembali mengantarkanku untuk kembali ke rumah dengan tepat waktu. Pria ini telah menepati janji yang ia buat kepada bibi tadi. Setelah Arka pulang aku kembali kesepian di tempat ini. Sebuah istana yang penghuninya entah pergi kemana.


***


Hari ini aku sudah merasa sedikit lebih baik, jadi aku bisa kembali berkumpul bersama mereka di meja makan. Setelah sebelumnya hanya makan malam sendirian di kamar, terkadang ditemani oleh bibi atau kadang juga dengan mama. Semua keluarga telah berkumpul di tempat itu dengan jumlah yang lengkap. Termasuk Stefani yang hari ini pulang lebih awal, karena ia masuk kerja juga lebih awal.


“Sha, tadi mama sudah minta surat izin ke sekolahmu.” ujar mama di tengah acara makan malam.


Aku lantas mendongakkan kepalaku yang dari tadi hanya fokus kepada makanan tersebut.


“Mama sudah urus semuanya, jadi besok kamu sudah bisa pergi.” lanjutnya.

__ADS_1


“Terimakasih banyak ma.” balasku sambil mengunyah sisa makanan di mulutku.


“Sama-sama sayang. Mama berharap supaya semuanya lancar dan sesuai seperti yang kamu harapkan.” jelas wanita paruh baya tersebut.


“Good luck!” timpal papa yang ikut menambahi ucapan mama barusan.


Aku tersenyum kecil kepada mereka semua. Meskipun beberapa saat yang lalu hubunganku dengan mereka sempat renggang untuk beberapa waktu, namun kini semuanya telah kembali normal seperti sedia kala.


“Emang Eresha mau kemana om, tante?” tanya Stefani yang terlihat kebingungan.


Gadis ini hany amenyimak percakapan keluarga kecil ini sedari tadi. Tapi ia tak pernah tahu sama sekali dengan apa yang sebenarnya sedang kami perbincangkan saat itu. Jujur aku sedikit ragu untuk menjawab pertanyann nya barusan. Selama ini aku memang tak pernah menceritakan soal ini kepadanya sedikitpun.


“Besok dia ada tes untuk seleksi tahap akhir.” jelas mama secara gamblang.


“Eresha ikutan seleksi beasiswa kuliah ke luar negeri, ke Korea Selatan.” sambung papa.


“Overseas….” ucapku sambil tersenyum ragu.


Stefani langsung melongo tak percaya dengan apa yang barusaja ia dengar itu. Bahkan gadis ini juga menjatuhkan sendoknya secara tidak sengaja. Mulutnya ternganga lebar dan masih tetap terpaku pada satu objek nyata, yaitu aku yang tengah duduk tepat di sebelahnya. Aku tak yakin jika Stefani sedang dalam kondisi yang baik-baik saja sekarang ini. Perubahan sikapnya tak begitu meyakinkan bagiku.


“Lo seriusan mau kuliah di luar negeri sha?!” tanya Stefani sambil menangkup pipiku dengan kedua telapak tangannya.


“I-i-iya.” balasku dengan ragu-ragu.


“Kalau lulus semua tes nya sih.” lanjutku.


Kali ini malah berbalik aku yang dibuat terkejut bukan mian olehnya. Ku harap gadis ini segera menyingkirkan tangannya ini dariku. Yang benar saja, aku tak suka dengan baunya karena ia baru saja selesai makan ikan bakar dengan tangannya. Sangat amis dan rasanya juga sedikit berminyak.


“Congrats!!!” ucap gadis itu dengan antusias.


Awalnya ia memang melepaskan tangkupan tangannya itu, sama seperti yang ku harapkan. Tapi setelah itu sama sekali tak begitu dan tak pernah ku duga sebelumnya. Stefani memelukku setelahnya, tanpa memberitahuku terlebih dahulu.  Sebenarnya apa yang dilakukan oleh gadis ini tak ada salahnya sama sekali. Hanya saja aku tak suka dengan keadaan telapak tangannya yang sangat kotor dan menjijikkan itu saat menyentuhku..


“Bajuku…..” batinku dalam hati dengan keadaan pasrah.


Aku hanya bisa tersenyum kecut sekaligus merasa lega, setelah ia benar-benar menjauh dariku. Sepertinya aku harus mengganti pakaian ku lagi setelah ini. Aku sudah tak bisa membayangkan lagi seperti apa baunya nanti jika kau tetap memakainya untuk tidur.


“Gue bakalan doain yang terbaik buat lo besok.” ujarnya dengan begitu bersemangat.


“Harus dong!” balasku.


“Tapi by the way aku besok enggak akan di sini untuk beberapa hari ke depan.” jelasku.


“Emangnya lo mau kemana?” tanya Stefani dengan ekspresi yang langsung berubah menjadi datar.


“Harus ke Bandung buat beberapa hari ke depan.” jawabku dengan sedikit perasaaan ragu.


Lagi-lagi untuk yang kesekian kalinya, gadis ini kembali tercengang dan mematung di tempat. Apa semua hal yang ku katakan barusan itu salah. Tapi ku rasa tidak sama sekali, atau jangan-jangan memang Stefani saja yang begitu sensitif.


“Clara ninggalin gue ke luar kota, terus lo juga ntar ninggalin gue ke luar kota. Terus pasti abis itu lo bakalan ninggalin gue ke luar negeri.” rengek gadis itu sambil menghentak-hentakkan kakinya.


Aku dan seluruh mata yang sedang berada di ruangan tiu, menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Tapi hampir mirip seperti tatapan yang terlihat mencerminkan menjijkkan. Sebenarnya tak seharusnya ia berbuat seperti ini karena menurutku terlalu berlebihan. Tak sebanding dengan usianya yang nyaris beranjak dewasa.

__ADS_1


 


 


__ADS_2