
Akhir tahun ini begitu banyak keajaiban yang hadir di dalam hidupku. Entah itu keajaiban yang ku inginkan, atau sebaliknya. Satu persatu keajaiban datang tanpa pernah di duga. Seperti sihir yang diam-diam merasuk. Apakah hari ini akan ada keajaiban lagi? Apa semesta ingin memberiku kejutan kembali? Untuk yang kesekian kalinya.
Jika dihitung dari tanggal jadian kami, masih terlalu sebentar memang. Baru seminggu yang lalu. Usia yang masih tergolong muda. Hanya tujuh hari. Entahlah apakah bilangan ini akan bertambah banyak seiring berjalannya waktu, atau mungkin akan segera tamat.
"Kayu bakar di kumpulkan disini ya." Ujar Kak Novri.
Aku dan kedua teman seangkatanku sedang membersihkan ikan dan ayam yang berkilo-kilo ini. Terlalu banyak untuk ukuran tiga orang pekerja seperti kami. Tapi ya sudahlah, mau apa lagi. Sudah lewat satu jam dari jam yang ditentukan. Seharusnya jam tiga sore, semua anggota sudah datang. Tapi aku tak melihatnya sedari tadi. Apa ia tak akan datang? Seharusnya aku tak berharap terlalu tinggi pada pria seperti dirinya.
Setelah pekerjaanku selesai, kami langsung dikerumuni oleh siswa lainnya. Junior lebih tepatnya. Mereka junior angkatan sepuluh. Satu angkatan di bawah kami. Mengumpulkan tanda tangan dari para senior adalah hal turun temurun yang kami lakukan sejak angkatan pertama. Aku pernah berada diposisi mereka. Aku masih ingat saat pertama kali aku mengobrol dengan Kak Sendy. Saat aku meminta tanda tangannya. Dan disitulah dialog pertama kami berlangsung. Tak banyak memang yang kami bicarakan. Hanya sebatas senior kepada junior saja waktu itu. Aku masih menyimpan kertas yang dibubuhi tanda tangannya itu. Aku menyelipkan nya di dalam binder milikku agar tidak tercecer. Entah dengannya, apakah ia masih menyimpan surat cinta dari ku atau tidak. Surat yang waktu itu semua junior diharuskan menulis masing-masing satu surat cinta dan surat benci. Surat yang memang sengaja ku tujukan padanya waktu itu. Mungkin saat ini surat itu sudah hancur lebur tak berupa di tempat pembuangan akhir. Ah, sudahlah lupakan.
"Kak, temenin aku minta tanda tangan dong." Ujar salah satu junior yang terbilang cukup akrab denganku.
"Boleh yuk." balasku.
"Gimana kalau sama kakak itu aja." Ujarnya sembari menunjuk seseorang.
Mataku mengikuti arah jari telunjuknya. Dan itu mengarah ke.... Eh, tunggu dulu. Bukannya itu Kak Sendy? Sejak kapan dia ada disana. Apa ia selalu hilang dan hadir sesuka hatinya? Seperti jailangkung saja. Kemudian aku menganggukkan kepalaku.
"Kak boleh minta tanda tangannya?"
Kak Sendy yang sedari tadi sibuk berkutat dengan ponselnya akhirnya mengangkat kepalanya untuk mencari tahu siapa yang sedang mengajaknya bicara itu. Ia menoleh ke arahku sebentar, lalu mulai menorehkan tanda tangan di atas kertas dengan garis-garis berwarna biru langit itu. Wajahnya tampak datar, biasa saja. Bahkan saat aku berada tepat di depannya. Aku juga melakukan hal yang sama. Pura-pura tidak kenal. Ya, kami harus melakukan itu bukan tanpa alasan. Tak seharusnya anak marching band tau soal hubungan kami. Ia tak ingin aku dihina habis habisan seperti waktu itu. Lagipula, ini bukan sesuatu yang berat untuk dilakukan bagi kami. Kami sudah biasa seperti ini, bahkan sebelum ada hubungan apa-apa diantara kami.
__ADS_1
"Kak, kalau boleh jujur sebenarnya kakak itu ganteng deh." Ucap junior yang satu tahun lebih mudah dariku.
"Hehe, makasih. Emang banyak sih yang bilang kakak ganteng." Balas Kak Sendy.
Ia tampak tersenyum puas ketika ada seseorang yang memujinya seperti barusan. Bahkan ia tersenyum sembari melirik ke arahku. Berharap aku cemburu akan hal itu. Walau sebenarnya tak bisa dipungkiri bahwa aku cemburu, tapi aku tak ingin menunjukkan nya.
"Pasti pacar kakak cantik deh. Sepadan lah sama kakak."
"Iya dong. Pacar kakak tuh cantik, baik, enggak sombong. Sok cuek sama kakak padahal peduli."
"Wah beruntung banget kakak punya pacar kayak dia. Emang siapa sih kak namanya."
"Aku jadi penonton nih ceritanya?" Ujar ku.
Pria yang di depanku itu hanya nyengir nyengir tak jelas. Dasar, mungkin dia benar-benar sudah gila.
***
Sekarang sudah pukul dua belas malam. Artinya sekarang adalah acara pelantikan para junior. Kami di kumpulkan di lapangan. Barisan para senior dan junior memang sengaja di pisah. Karena akan ada sesi penyerahan alat dari senior ke juniornya secara simbolik. Aku mewakili para senior yang memegang alat Bell untuk diserahkan kepada junior. Sedangkan Kak Sendy juga sama. Ia juga mewakili para senior yang memegang alat Tom. Kami berdiri di barisan paling depan. Meski kami tak berdiri bersebelahan, setidaknya menjadi perwakilan itu sudah membuat kami cukup senang. Disampingku, masih ada dua perwakilan dari Snare dan Simbal. Sehingga kami tak bisa bersebelahan. Tapi ya sudah lah. Lagi pula selama latihan kami juga tak pernah berdiri bersebelahan.
Proses upacara pelantikan berlangsung hikmat dan lancar hingga akhir. Syukur tak ada hal yang tak kami inginkan terjadi. Acara selanjutnya adalah acara api unggun. Begitu api unggun menyala, kami begitu antusias. Apinya menyala kurang lebih sekitar dua meter tingginya. Seperti biasanya, kami segera membentuk sebuah lingkaran besar. Tiba-tiba sebuah tangan menarik tanganku dari belakang kemudian menggenggamnya erat. Spontan aku menoleh kebelakang.
__ADS_1
"Udah disuruh bergandengan tangan. Liat aja tu." Ucap seorang pria di sebelahku yang tak lain dan tak bukan adalah Kak Sendy. Untuk membuktikan perkataannya barusan, aku segera melihat para anggota lain. Yang ternyata memang benar sudah saling bergenggaman tangan sejak tadi. Tapi, sejak kapan aku berdiri di samping pria ini.
Satu persatu kata sambutan dibacakan. Kami mulai bosan dengan kata-kata monoton yang terkesan kaku dan kata-katanya tak pernah berubah dari tahun ke tahun. Selanjutnya memasuki acara kesan dan pesan dari para alumni. Di acara persami kami kali ini, kami kedatangan beberapa orang alumni dari angkatan pertama. Yang katanya terkenal killer.
"Baiklah adik-adikku sekalian, kesan dan pesan kakak malam ini adalah malam suka cita. Malam ini malam penuh cerita, tapi bukan malam jatuh cinta. Malam ini kita saling menjaga, bukan saling menaruh rasa." Ujar salah satu alumni dari angkatan satu yang tak sempat ku ketahui siapa namanya.
Aku menoleh ke arah Kak Sendy. Menatapnya cemas. Kurasa, hubungan kami tak akan bertahan lama setelah mendengar perkataan kakak itu barusan. Pria itu juga sepertinya sadar ketika aku memperhatikannya dengan cemas.
"Tenang aja. Percaya sama gua." Ucapnya dengan penuh keyakinan tanpa melihat kearah ku.
Aku segera memalingkan wajahku darinya. Kembali memandang lurus ke depan. Berusaha melupakan kata-kata yang cukup menusuk barusan.
Kak Ezi segera mengambil sebuah gitar dari dalam sanggar. Untuk mengisi acara malam ini, kami bernyanyi bersama yang akan diiringi oleh permainan gitar akustik dari Kak Ezi. Seharusnya, Kak Sendy juga bisa saja berdiri disana. Ia mahir bermain gitar. Tapi sepertinya ia enggan meninggalkan ku sendirian disini.
Hampir semua lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu galau. Terlebih lagi itu lagu berbahasa Indonesia. Tak jarang aku tak ikut bernyanyi dan lebih memilih diam. Karena aku memang tidak tahu dan tidak hapal betul liriknya, di tambah aku adalah seorang Kpopers yang lebih sering mendengarkan musik bergenre pop dari negeri ginseng itu.
Tapi meskipun aku tak ikut bernyanyi, rasanya aku dapat merasakan makna lagu ini.
"Apa sekarang mereka semua sedang galau sampai-sampai tak ada lagu lain yang bisa dinyanyikan kecuali lagu galau?" Gumam ku dalam hati.
__ADS_1