
Setelah selesai makan, kami segera kembali ke kelas. Sebentar lagi jam pelajaran akan segera di mulai. Kami harus sampai di sana lebih dulu, sebelum bel berbunyi.
"Pulang sekolah nanti jadi kan?" Tanya Arka yang sedang berjalan di sampingku.
Tanpa pikir panjag, aku segera mengangguk mengiyakan perkataannya.
"Serius?" Tanya pria itu lagi.
"Iya...." Balasku singkat.
"Jadi aku udah di maafin nih?"
"Iya..."
"Terimakasih sha, aku janji enggak akan ngulangin hal itu lagi."
"Ya janji sama mama kamu lah, bukan aku. Yang khawatir sama kamu kan mama kamu."
"Aku tahu kok kalau kamu juga khawatir. Mata kamu enggak bisa bohong."
"Terserah."
***
Kali ini seluruh sekolah kembali melanjutkan kegiatannya. Tempat ini kembali hidup untuk tujuan utamanya, setelah sempat jeda sejenak.
"Ka...." Bisik ku pelan sambil menyengol tangannya.
"Apaan?" Tanya Arka bingung.
"Tuh...." Ujarku sambil menunjuk ke arah Titan.
Pria itu hanya melengos begitu saja setelah melihat Titan yang hendak meminta jawaban.
"Usaha makanya!" Sorak Arka pelan kemudian segera kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Sekarang pelajaran yang paling ku benci sedang berlangsung. Tapi tidak untuk dengan pria yang satu ini. Semua angka dan rumus yang di sajikan dipapan tulis seolah menjadi suplemen penambah energi baginya. Berbeda denganku yang tak pernah mengerti secuil pun akan materi yang di sampaikan. Aku tak pernah paham bagaimana konsep aljabar, sehingga x ditambah y bisa sama dengan z.
Meskipun sudah hampir tiga tahun menjalani kehidupan sebagai anak jurusan IPA, nyaris setiap hari berkunjung ke laboratorium dan menghitung percepatan gaya gravitasi, aku tak pernah benar-benar paham dengan itu semua.
Aku merasa lebih cocok di dunia seni. Kembali lagi ke filosofi hidup ku yang sudah menggeluti dunia musik sejak sekolah dasar, mengikuti berbagai kompetisi tari, melukis, bahkan seni sastra. Aku merasa jika diriku tengah salah jalur. Jiwa yang tersesat ini perlu bantuan seseorang yang bisa menyelamatkan ku.
Kurasa aku telah menemukan jawabannya, senior yang ku temui dua tahun lalu. Pria itu mengajarkan ku bagaimana caranya untuk menjadi diriku sendiri. Sementara Arka hanyalah pendatang yang mengajarkan ku bagaimana caranya menikmati kehidupan yang tengah kujalani sekarang. Tak ada yang salah atau benar dari mereka berdua. Bagiku kedua pria itu adalah orang yang berhati baik. Sangat baik, hingga aku jatuh hati. Tapi sayangnya aku hanya bisa memilih salah satu. Andai saja aku boleh egois, aku tak akan melepaskan salah satu dari mereka. Namun aku bukanlah manusia seperti itu.
***
Seperti biasanya, aku kembalikan ke tempat ini lagi. Di saat semua orang telah berhamburan keluar dari sekolah, aku masih tetap berada di sini. Setiap harinya selalu ada sesuatu yang ku tunggu di trotoar ini, meskipun terkadang sering tak menentu apa yang datang padaku.
"Yuk, naik!" Ajak Arka yang tiba-tiba saja sudah berada di depanku bersama motornya.
__ADS_1
"Enggak bakal ngebut lagi kok." Lanjutnya, berusaha menyakinkan ku.
Tanpa berlama-lama lagi, aku segera mengikuti kemauannya. Meskipun di dalam hati kecilku terselip sebuah keraguan. Tapi pria ini selalu bisa meyakinkan diriku atas semua keraguan yang ku miliki.
"Mau kemana sih? Dari kemarin kamu belum kasih tau aku." Tanyaku di tengah perjalanan.
"Gimana mau ngasih taunya sama kamu, kan semalam masih ngambek." Balasnya.
"Yaudah kasih tau sekarang." Ujarku dengan penasaran.
"Nanti kamu pasti tau kok." Ucapnya dengan enteng.
Aku hanya bisa menghela nafas panjang akibat jawabannya dari pertanyaan yang ku ajukan barusan. Tak ada gunanya juga, jika aku terus memaksanya untuk memberitahu ku. Pria ini jauh lebih keras kepala daripada aku.
Aku terus mengamati setiap kelok jalanan yang kami lewati. Sepanjang jalan aku berusaha terus-menerus menerka dalam hati, kira-kira akan di bawa kemana aku oleh pria ini. Lagipula kenapa ia harus merahasiakan tempat itu, jika pada akhirnya aku juga akan mengetahuinya.
Tiba-tiba saja Arka menepikan sepeda motornya di sebuah pekarangan. Tunggu, sepertinya aku tahu tempat ini. Aku tak begitu ingat dengan jelas, tapi aku yakin jika sebelumnya aku pernah datang ke sini.
Aku segera turun dari sepeda motor tersebut, kemudian mengamati pemandangan yang tak asing itu. Dasar! Ingatanku memang benar-benar payah.
"Yuk, masuk!" Ajak Arka.
Aku mengangguk singkat, mengiyakan perkataannya.
Kami berjalan beriringan menuju pintu masuk. Sementara Arka membeli tiket, aku tetap terus mengamati sekitarku. Tak lama, pria ini segera menarik tanganku dengan begitu semangat. Menyeretku lebih tepatnya, kadang aku iri dengan postur tubuhnya yang jenjang ini. Ia bisa dengan mudah melakukan semua hal.
Betapa terkejutnya aku saat melihat pemandangan luar biasa yang disuguhkan di depanku. Aku berdecak kagum, sambil tetap menatap lurus ke depan.
"Suka banget! Tapi aku ngerasa pernah ke sini deh kayaknya." Ucapku tanpa memalingkan pandanganku sedikitpun.
"Kamu lupa kalau kita emang pernah ke sini?"
"Kapan?"
"Ingat nggak pas selesai olimpiade, kita kan ngerayain kemenangan kita di sini."
Aku berusaha keras untuk mengingat kejadian itu. Semoga saja memorinya belum lenyap seutuhnya dari ingatanku.
"Oh...." Ucap ku lega.
"Masa udah lupa sih." Protes Arka.
"Semenjak penyakit itu semakin parah, daya ingat aku juga semakin melemah." Jelasku dengan berat hati.
"Udah, enggak usah pikirin hal itu lagi." Balas Arka seraya merangkul bahuku.
"Sekarang kita cuma boleh have fun di sini, enggak ada lagi yang namanya sedih-sedih." Lanjutnya.
Lagi-lagi secara mendadak, pria ini kembali menarik tanganku. Dengan terpaksa, aku harus berlari-lari kecil untuk menyusul langkahnya. Ia membawaku ke bibir pantai. Awalnya aku menolak, karena takut jika sepatuku malah menjadi basah. Namun pria ini ternyata lebih menyebalkan dari yang ku kira sebelumnya. Tanpa rasa bersalah, ia memaksaku agar tetap melangkah maju ke dalam genangan air tersebut. Sesekali ombak membelai halus kakiku sebagai bentuk sapaan nya.
__ADS_1
"Aku sengaja bawa kamu ke sini, supaya kamu bisa ngelepasin semua beban pikiran kamu." Ujarnya.
"Sebentar lagi sunset, kamu harus liat pemandangannya dari sini. Saat-saat yang seperti itu enggak boleh disia-siakan gitu aja." Lanjutnya.
"Terus kita tetap berendam di sini?" Balasku.
Sedetik kemudian, pria itu tertawa kecil. Padahal aku merasa jika tak ada sesuatu yang lucu dengan ucapanku barusan. Tak bosan-bosannya, pria ini terus melakukan sesuatu secara tiba-tiba.
Tanpa aba-aba terlebih dahulu, Arka langsung menggendong tubuhku yang jauh lebih kecil jika dibandingkan dengannya. Ia membawaku kembali ke tepi pantai untuk menikmati pemandangan matahari terbenam dari sudut lain kota ini. Aku hanya bisa diam membisu sat ia memperlakukan ku seperti itu. Sejak kapan ia bisa menjadi semanis ini denganku.
"Nyadar nggak sih, kalau kita belakangan ini selalu pulang malam?" Ujarku.
"Namanya juga baru kelar sekolahnya sore." Jawab Arka.
"Tapi ada untungnya juga, kita selalu bisa liat senja setiap hari." Lanjutnya.
Kami duduk begitu saja di atas pasir putih nan halus yang berserakan di tepi pantai. Debur suara ombak sayup-sayup terdengar di telingaku. Perlahan sinar jingga itu mulai terlihat jelas. Menyapu seluruh langit ibukota dengan pesonanya yang begitu memukau.
"Aku harap kamu bisa lebih tenang setelah ini, aku enggak mau kehilangan kamu." Ucap Arka tanpa mengalihkan pandangannya dari sang surya.
"Aku juga enggak mau kehilangan kamu, kecelakaan waktu itu buat semua orang trauma." Jelasku.
"Aku janji bakalan jagain kamu sebisa aku." Balas Arka sambil merangkul bahuku.
Aku hanya ingin agar kita masih bisa bertemu di masa depan nanti. Walau aku tahu sangat sulit rasanya menembus batas waktu itu. Jarak yang terbentang nanti, mungkin saja antar benua.
Aku harap pria ini selalu bisa menjaga dirinya sendiri, walaupun tak ada aku di sisinya. Begitu pula denganku nantinya. Agar kami bisa saling bertemu nantinya di masa depan. Entah sebagai sosok yang sama, atau mungkin berbeda. Entah di belahan bumi mana lagi waktu akan mempertemukan kita. Tapi aku akan selalu menunggu sampai waktu itu terjadi.
"Habis ini mau langsung pulang atau kita makan dulu?" Tanya Arka tiba-tiba.
"Terserah deh." Balasku singkat.
Sedetik kemudian, Arka langsung membantuku untuk berdiri. Ia kembali menarik tanganku untuk yang kesekian kalinya. Namun untuk yang kali ini terasa lebih santai. Langkanya lebih terasa lambat dari yang sebelumnya. Ia mengajakku ke sisi lain tempat ini. Perjalanan kami menyisakan jejak tapak kaki yang perlahan memudar karena terbawa ombak.
"Aku enggak akan lupain ini sha, enggak tau kalau kamu." Ucapnya sambil tetap berjalan lurus ke depan.
Ia terus melangkah maju meski tak jelas entah kemana tujuannya. Pria ini seperti sedang mencari ujung dari pantai ini. Aku menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba, mencegahnya pergi lebih jauh lagi. Bisa saja ia tersesat dan mungkin tak akan kembali lagi.
"Kamu mau tahu gimana caranya supaya aku tetap ingat momeni ini?" Ujarku.
"Gimana?" Balasnya singkat.
"Caranya cuma satu, kalau waktu terus berputar di tempat yang sama, mungkin aku enggak akan pernah ngelupain ini." Jelasku.
"Oke, kalau gitu aku akan buat kamu supaya terjebak di waktu ini untuk selamanya." Balas Arka yang tak mau kalah.
"Gimana caranya?" Tanyaku penasaran.
"Magic." Jawabnya sambil membungkam mulutku dengan telunjuknya.
__ADS_1
Ini hanyalah ide aneh yang di ciptakan oleh dua insan yang tak kalah anehnya. Aku tahu jika itu tidak masuk akal. Tapi Tuhan punya seribu satu cara yang lebih ajaib untuk mewujudkan semua keanehan itu.