
THE NEW ERA OF 2021
“Sepertinya akan ada begitu banyak hal tidak menyenangkan yang akan terjadi di tahun ini. Akan ada begitu banyak kejutan yang tak pernah ku inginkan sama sekali untuk terjadi, namun mereka tetap saja akan tetap terjadi.”
Itu adalah kalimat pertama yang aku ucapkan pada saat malam pergantian tahun kala itu. Sekaligus menjadi malam terakhir tahun 2019. Malam penghujung tahun yang memiliki jutaan kisah, dan sayangnya harus segera disudahi. Intusisiku selalu berkata lebih awal daripada yang lainnya. Seperti terkaan acak yang tiba-tiba saja muncul, lalu menjadi kenyataan. Terkadang intuisiku tak melulu benar, sesekali juga meleset dan aku tak terlalu percaya sepenuhnya dengan hal semacam itu.
Tak terasa setahun sudah ku lalui tahun tanpa cerita itu di tempat ini. Semuanya seperti terasa fana dan semu. Benar-benar tak bisa dibayangkan jika dunia yang dulunya tegar, kini berubah menjadi tak baik-baik saja. Jutaan orang yang berpijak di muka bumi ini berharap agar semuanya selesai dengan damai. Sudah begitu banyak kehilangan yang membuat jutaan tangis terdengar dengan jelas setiap harinya. Tak bisa dipungkiri jika salah satu dari mereka adalah aku.
Sepanjang tahun 2020 ku habiskan di dalam asrama kampusku. Semuanya kami jalankan dengan serba bergantung kepada jaringan internet. Kini tampaknya seluruh sisi di belahan bumi manapaun terlihat sama saja. Tak peduli mau dipandang dari arah yang mana ataupun kapan waktunya.
Korea Selatan adalah tempatku sekarang berpijak. Berdiri di atas kaki sendiri, karena taka da seorangpun yang bisa ku andalkan di sini selain diriku sendiri. Jika kalian masih ingat, setahun yang lalu aku sempat memperjuangkan hal ini. Berjuang mati-matian demi bisa berdiri di sini. Aku berhasil mendapatkan beasiswa itu dan berkatnya aku bisa berada di sini.
Jika boleh jujur, saat ini aku sedang merindukan Indonesia dan semua orang yang pernal ku kenal saat berada di sana. Sebentar lagi akan ada liburan akhir semester, sekaligus liburan akhir tahun. Durasinya lumayan panjang, karena kami akan baru masuk kuliah kembali pada bulan Maret. Aku tak sabar ingin cepat-cepat kembali ke sana. Aku ingin bertemu semua orang yang pernah ku kenal dan menanyakan bagaimana kabar mereka setelah sekian lama tak berjumpa. Jakarta dan Pematangsiantar adalah dua kota paling berkesan di dalam ingatanku sejauh ini. Banyak hal menarik yang dulu pernah ku alami dan belum tentu sekarang akan tetap sama.
Kira-kira bagaimana kabar pria itu sekarang? Apakah masih sama keras kepalanya seperti yang dulu? Si jenius itu sekarang nyaris tak bisa ku temukan lagi di sini. Sudah lama sejak hari terakhir kali kami bertemu. Kenapa aku harus memiliki begitu banyak memori bersamanya, jika kini aku tengah harus repot-repot menghapus semuanya begitu saja seolah tak pernah terjadi.
Aku nyaris tak pernah lagi menghubungi seorang pria bernama Arka yang dulu memiliki tempat tersendiri di hatiku. Kami saling hilang kontak begitu saja, tanpa tahu kenapa. Yang aku tahu terakhir kali soal dirinya, jika setelah lulus dia akan melanjutkan studinya di Australia sebagai mahasiswa jurusan arsitektur. Kami terpisah di antara dua benua, saling mengadu nasib di negeri orang. Berpijak diantara dua daratan yang terpisah jauh tanpa rasa cemas sedikitpun.
“Bagaimana kabarnya? Apakah rasa itu masih berkobar di dalam dirinya, sama seperti dulu?”
“Tidakkah dia memiliki seseorang yang baru?”
“Bagaimana akhir dari cerita yang pernah ditulisnya dulu bersamaku?”
“Apakah sudah tamat atau masih berlanjut?”
“Jika sudah tamat, aku begitu penasaran dengan kalimat terakhir yang ia tulis pada bab terakhir kisahnya itu.”
“Akankah ia menyukai cerita yang dibuatnya itu, atau malah sebaliknya?”
Pertanyaan itu selalu muncul berkali-kali di dalam pikiranku akhir-akhir ini. Tak ada yang tahu mengapa itu terjadi, bahkan diriku sendiri tak mengerti. Jadi jangan tanyakan kepada siapapun itu jika kalian penasaran, karena tak akan ada yang bisa memberitahu kebenarannya. Namanya sudah cukup lama tak ku sebut. Sama sekali tak pernah terlintas di pikiranku sejak pertama kali aku pindah ke sini. Setiap harinya selalu ku jalani dengan biasa-biasa saja, tanpa perlu pusing-pusing memikirkan soal dirinya.
Tapi sepertinya hari ini akan berbeda. Sebenarnya bukan hanya hari ini,jika aku boleh jujur. Satu atau dua hari yang lalu, aku merasa jika ada sesuatu yang salah dengan diriku tanpa bisa ku ketahui apa itu. Aku tahu jika diriku sedang tak baik-baik saja, tapi tak tahu mengapa. Aku tak bisa tahu lebih banyak soal itu, meski aku ingin. Seperti ada sebuah tembok besar yang membatasiku untuk tak melangkah lebih jauh lagi ke sana, untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Aku tak tahu apakah aku masih bisa menemui pria itu lagi suatu saat nanti. Entah bagaimana jadinya jika suatu hari nanti kami saling berpapasan di sebuah jalanan tanpa disengaja. Mungkin situasinya akan menjadi sedikit canggung. Atau mungkin yang lebih buruknya lagi, kami malah tak ingin saling menyapa. Bukan karena sombong, tapi karena ego masing-masing.
Kini aku mencoba membaca ulang sebuah cerita lampau yang bahkan alur ceritanya sendiri aku sudah hapal betul. Tapi rasanya tak pernah bosan jika harus melakukannya lagi dan lagi. Aaku akan terus melakukan hal yang sama setiap harinya secara sukarela. Aku masih belum rela jika harus menamatkan kisah itu sekarang. Walaupun pada kenyataannya cerita itu sudah selesai sejak lama. Tanpa perlu diberitahu sama sekali, semua tokohnya juga sudah tau tentang hal itu. Dan sebab itu pula para pemainnya memilih untuk meninggalkan cerita ini lebih cepat, sehingga pada bab terakhir kisahnya, cerita ini seperti kehilangan seluruh nyawanya.
Boleh saja jika kita berkehendak lain atau semacamnya. Seperti melanjutkan kisah ini di buku seri kedua mungkin. Tapi diriku terlalu memaksakan diri agar cerita ini tetap berlanjut, walau aku tahu jika akhirnya akan menyayat hati.
Beberapa hal mencoba untuk pergi sendiri dari ingatan kita, namun beberapa juga tak dapat pergi karena dicegah. Kenangan yang aku sendiri tak tahu apa itu sebenarnya, masih melekat sangat erat dengan diriku. Entah ia kenangan baik atau malah sebaliknya, aku sama sekali tak tahu soal itu. Tapi yang jelas aku masih tetap membiarkannya bersangkar di dalam pikiranku hinggga saat ini, atau justru ia yang memaksa untuk tetap tinggal di sana.
Aku berharap agar suasana kota Jakarta nanti masih sama persis seperti saat terakhir kali aku memandangnya dari balik jendela pesawat. Walau aku tahu jika sudah banyak yang berubah dari tempat itu. Tempat dimana diriku pernah terjebak diantara dua hati anak manusia yang sama-sama kucintai. Ku tinggalkan semua kenanganku di sana. Ku kubur mereka dengan cara yang baik, supaya nanti saat kembali mereka juga menyambutku dengan cara yang baik pula.
***
Aku mengusap-usap kedua kelopak mataku secara perlahan, sambil berharap agar diriku lekas terlepas dari rasa kantuk yang membelenggu diriku semalaman. Aku menarik napas dalam-dalam, kemudia melemparkan pandanganku ke arah jendela. Matahari sudah mulai naik, melebihi tinggi gunung di seberang sana. Saat itu pula aku baru menyadari jika saat ini sudah hampir memasuki waktu makan siang dan aku baru saja terbangun.
Aku berusaha mendudukkan diriku di ujung tempat tidur, sembari menunggu agar kesadaranku kembali seutuhnya. Diantara hingar-bingar ibukota yang mulai memekakkan kedua telingaku, pikiranku sedang berusaha keras untuk mengurutkan semua kegiatan yang akan kulakukan hari ini. Ini benar-benar akhir pekan cukup menyibukkan bagiku.
Aku mulai melangkah masuk ke dalam kamar mandi utntuk segera bersiap. Aaku tak punya lebih banyak waktu lagi untuk bersantai, meski aku ingin hal itu terjadi. Satu pepatah yang pernah aku dengar adalah, jika kau tak merasa lelah, itu artinya kau tak sedang memperjuangkan apapun. Walau sebenarnya aku tak tahu sedang berjuang untuk apa saat ini.
“Arghh!!!” geramku ketika kakiku tak sengaja terantuk dengan kaki meja.
Aku mengelusnya pelan, hingga rasa sakitnya cukup berkurang untuk diabaikan. Hari ini aku bangun cukup siang karena semalam baru saja selesai belajar untuk persiapan ujian. Tempat-tempat les dan café di sini sedang sibuk-sibuknya untuk melayani para pelajar dan mahasiswa yang akan membutuhkan tempat belajar yang cukup tenang. Semua tempat di sini nyaris buka dua puluh empat jam sehari, karena Korea Selatan sedang mengadakan ujian akhir semester. Dan hal itu serentak dilakukan di seluruh pusat pembelajaran.
Setelah ini aku akan pergi makan siang bersama Amel, teman satu asramaku yang merupakan warga negara Indonesia juga. Kami sudah bersama-sama sejak pertama kali masuk ke sini. Cukup bagi kami untuk menjadi seorang teman yang baik antara yang satu sama lainnya. Amel masuk ke kampus ini lewat biaya pribadi, dan aku tahu itu pasti berat bagi sebagian orang seperti diriku. Tapi gadis itu bisa mendapatkan apa saja yang ia mau, karena ia berasal dari sebuah keluarga yang cukup berada.
Aku mengoleskan sedikit concealer di bagian bawah mataku yang terlihat mulai menghitam. Kemudian meratakannya dengan spons agar terlihat lebih menyatu dan natural. Tak lupa dengan bedak tabur dan sedikit lipstik berwarna pink lembut. Cukup dengan hal-hal kecil ini saja sudah mampu membantu untuk menyembunyikan semua itu. Setidaknya aku kini terlilhat lebih segar dan bersemangat di mata orang-orang yang melihatku nanti. Meski pada kenyatannya tidak seperti itu.
Beberapa hal buruk memang perlu ditutupi karena dunia tak perlu tahu sejauh itu. Orang-orang bisa berasumsi jauh lebih buruk dari apa yang kita kira selama ini. Tapi juga tak perlu menutupinya secara terlalu berlebihan. Dengan membiarkan beberapa hal buruk itu muncul dengan lembut dan perlahan tak akan membuat duniamu hancur seketika. Mereka justru akan menjadi penetralisir yang tersirat maknanya. Hidup ini harus seimbang, antara sedih dan bahagia. Tidak boleh terlalu banyak atau terlalu sedikit pula. Karena hidup tak melulu tentang bahagia, jadi sedikit air mata tak akan berarti apa-apa.
Hari ini aku memakai tas selempang berwarna putih susu pemberian Arka setahun yang lalu. Ia memberikannya tepat sehari sebelum aku pergi. Padahal saat itu aku tahu dengan jelas jika ia tak tahu sama sekali kapan tanggal keberangkatanku. Tapi intuisinya berkata dengan sangat jelas dan tindakannya juga sangat tepat. Prediksinya tak meleset sama sekali.
Baru kali itu aku melihatnya begitu mempercayai dirinya sendiri, mempercayai perasaannya yang selama ini tak pernah digubrisnya sedikitpun. Kala litu pula keberuntungan ikut campur tangan dalam aksinya. Mereka semua bekerja sama dalam satu tujuan yang akhirnya mampu terbukti. Takdir juga sedang memihak padanya kala itu.
“Seharusnya kamu bakalan terlihat lebih cantik kalau pakai tas ini.” ucapnya waktu itu.
Sebenarnya aku adalah tipe orang yang cepat melupakan segala sesuatu, ditambah lagi jika dulu aku pernah mengalami kecelakaan bis yang menyebabkan diriku kehilangan ingatan untuk sementara. Tapi kini efek jangka panjangnya masih terus berlanjut entah sampai kapan. Aku berharap agar mimpi buruk itu tak pernah terjadi padaku. Tapi sayangnya takdir terlalu kejam dan entah menyimpan dendam apa sampai tega melakukan hal ini kepadaku.
“Udah selesai siap-siapnya?” tanya Amel padaku.
“Udah.” jawabku singkat, sambil mengangguk-anggukkan kepalaku.
Kami berdua bergegas meninggalkan asrama yang masih terlihat sepi itu. Kebanyakan dari mereka masih tertidur pulas dan baru bangun saat petang tiba, lalu kembali ke tempat yang monoton itu untuk belajar. Sejujurnya aku bangun lebih awal karena cacing-cacing di dalam perutku memaksaku untuk memberi mereka sepotong roti atau makanan lainnya.
Aku dan Amel memutuskan untuk sarapan sekaligus makan saing di salah satu restoran yang hanya khusus menjual makanan Indonesia. Nama tempat itu adalah Warung Lesehan. Tempatnya tak begitu jauh dari asrama kami, cukup naik bis saja sudah sampai. Kami pikir tak ada salahnya jika mencoba makanan Indonesia untuk sesekali. Lagipula lidah kami sudah cukup lama tak merasakan semua hal itu.
__ADS_1
Karena ini adalah akhir pekan, tempat ini menjadi lumayan ramai dari pada hari-hari biasanya. Tempat ini di dominasi oleh orang-orang Indonesia yang bekerja atau tinggal di Korea Selatan dan ingin merasakan makanan di negeri asalnya, tanpa harus repot-repot menunggu pulang kampung. Bisa dibilang, ini merupakan restoran favoritku dan Amel selama merantau di negeri orang.
Meskipun namanya lesehan, tapi tempat duduk yang disediakan di sini benar-benar seperti sedang di warteg. Meja dan kursi berukuran panjang disusun dengan sedemikian rupa sehinggga menciptakan suasana yang sama persisi seperti di Indonesia. Aku tak habis pikir, bagaimana pemilik warung ini begitu niat dalam mengerjakan segala sesuatunya di tempat ini.
Aku dan Amel mengambil tempat duduk diantara celah beberapa orang. Tempat ini sudah mulai penuh dan sesak di saat jam makan siang seperti ini. Beruntung kami berhasil mendapatkan tempat duduk yang tersisa, meski harus berhimpitan dengan yang lainnya.
“Lo mau pesen apa?” tanya Amel sambil membenarkan posisi duduknya.
“Nasi soto aja deh.” balasku tanpa pikir panjang.
“Minumnya?” tanyanya lagi.
“Kayak biasa aja mel, emangnya ini baru pertama kalinya lo ke sini bareng gue?!” balasku yang mulai kesal.
“Ya siapa tu lo mau sesuatu yang berbeda kali ini.” ujarnya.
“Enggak!” tegasku sekali lagi.
Gadis itu menarik napasnya dalam-dalam sebelum memulai berteriak untuk memesan makanan. Semua hal di sini benar-benar seperti membawaku kembali ke Indonesia.
“Kak! Nasi soto dua porsi sama es teh manisnya juga dua ya!” teriaknya dengan lantang, berusaha memecah keriuhan suasana di sini.
Tiba-tiba seseorang menepuk pelan pundakku dari belakang. Aku lantas menoleh untuk mencari tahu apa yang salah dengan diriku. Ku dapati seorang pria dengan wajah khas Indonesia nya sedang menatapku heran. Meskipun separuh wajahnya tertutup oleh masker yang sedang ia kenakan, entah kenapa aku begitu yakin jika pria ini bukan penduduk pribumi.
“Eresha ya?” tanyanya dengan hati-hati.
Aku terkejut bukan main saat mengetahui jika orang asing ini bisa menebak namaku dengan tepat. Padahal sepertinya kami tak pernah bertemu sebelumnya. Aku juga tak sedang memakai kartu tanda pengenal dari kampus yang bisa menunjukkan identitasku.
“Apa dia seorang peramal?” batinku dalam hati.
Jujur kini situasinya bukannya terasa canggung, tapi malah berubah menjadi mengerikan. Bayangkan saja jika kalian sedang berada di posisiku saat ini. Aku tak mampu lagi membendung diriku untuk berhenti berpikiran yang macam-macam.
Sepertinya pria itu sadar jika aku terlihat begitu kebingungan sekaligus ketakutan. Ia berhasil membuat seluruh bulu kudukku berdiri tegak. Rasanya seperti selama ini kau sedang dimata-matai oleh seseorang dan sekarang pelakunya telah mengungkap jati dirinya secara terang-terangan. Di sisi lain pria itu malah tertawa geli di balik masker yang sedang ia kenakan itu.
“Masih ingat sama aku?” tanya ari itu sembari menurunkan maskernya, hingga aku bisa melihat wajahnya dengan jelas kini.
Tak perlu banyak waktu untuk mengenalinya, wajahnya sudah tak begitu asing bagiku. Sangat mudah untuk mengingatnya kini. Entah keajaiban macam apa lagi yang menghampiriku kali ini. Aku nyaris tak percaya jika ini benar-benar terjadi padaku. Aku mematung di tempat sambil berusaha meyakinkan diriku jika ini bukanlah mimpi atau halusinasi. Aku berharap begitu dan semoga saja ini benar terjadi di dunia nyata. Sekarang aku hampir tak bisa membedakan mana yang benar ada dan mana yang tidak ada.
“Gue seneng liat lo pakai tas ini disaat kita ketemu lagi setelah sekian lama.” ujarnya sambil tersenyum kecil.
“Gue?” batinku dalam hati.
Dulu ia memanggilku dengan sebutan aku-kamu. Itu yang kami lakukan sejak awal hubungan kami dimulai sampai akhir dari cerita itu harus disudahi. Hanya aku yang dia panggil begitu saat itu, begitu pula denganku. Namun kini, sesuatu yang spesial itu tampaknya telah berubah menjadi hal yang biasa saja. Benar kata pepatah lama itu, jika setiap orang akan datang dan pergi pada waktunya. Mungkin saat ini diriku telah beranjak pergi dari relung hatinya.
“Ada apa? Baik-baik aja kan?” tanya nya saat mengetahui jika ada sesuatu yang salah dengan diriku.
“Enggak apa-apa.” dalihku.
“Kalian pernah saling kenal?” tanya Amel yang tiba-tiba menimbrung pembicaraan kami.
Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku, mengiyakan perkataannya barusan.
“Udah lama ya enggak ketemu.” ujar Arka.
“Terakhir kali ketemu pas kita sama-sama terjebak di kondisi yang enggak baik-baik aja.” balasku.
“Kenapa takdir setega itu? Dia buat kita berjarak sebelum kita bisa memperbaiki semuanya.” jelas pria itu.
“Takdir memang selalu kejam, kita enggak bisa milih kan?” balasku dengan apa adanya.
“Bahasan kita terlalu berat ya, untuk pertemuan pertama seperti ini?” lanjutku.
Sementara itu di sisi lain, Amel terlihat memperhatikan kami dengan begitu seksama. Gadis itu terlihat kebingungan dengan tingkah laku kami. Jangankan dia, aku sendiri saja tidak mengerti dengan apa yang terjadi barusan. Bukankah yang pertama kali ditanyakan saat bertemu kembali setelah sekian lama adalah kabar satu sama lainnya? Tapi mengapa pembicaraan kami justru mengarah kepada masa lalu itu secara tidak langsung. Aku tak tahu siapa yang lebih dulu membawanya hingga ke sana. Yang jelas aku tak bisa menyalahkan siapapun di sini. Jadi akan lebih baik jika pembicaraan itu cepat berakhir, sebelum hal yang tak diinginkan terjadi lagi.
“Lo ngapain, kok bisa sampai di sini?” tanyaku.
Aku tak lagi menggunakan kata aku-kamu dalam pembicaraan ini. Ku rasa yang tadi itu sudah cukup membuktikan jika kami tak pantas lagi untuk saling menyampaikan kata itu.
“Oh itu, jadi gini.” ucapnya sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
“Gue ada tugas penelitian dari kampus buat ya…. Semacam meneliti gaya arsitektur setiap bangunan di negara-negara asia.” jelasnya secara gamblang.
“Sebenarnya gue bisa aja sih cari sumber di internet. Cuma, gue pengen liat semua itu secara lebih detail dan ngelakuin semuanya secara lebih nyata.” lanjutnya.
“Gue pengen jadi kayak kak Sendy yang turun langsung ke lapangan. Lo pasti masih ingat waktu itu.” ungkapnya.
Aku hanya mengangguk pelan, mengiyakan perkataannya barusan.
__ADS_1
“Terus itu alasannya makanya lo bisa sampai sini?” tanyaku.
“Iya, emangnya ada alasan lain lagi?” tanya pria itu balik.
Jujur saja pertanyaan yang ia lontarkan barusan seperti anak panah yang entah datang dari mana. Ia menusuk tepat pada organ yang membuatku tetap hidup hingga saat ini. Aku merasa mati sesaat setelah perkataan yang diucapkannya itu terasa seperti sedang menyerangku.
Aku harap ada alasan lain yang sedang ia sembunyikan di dalam sana. Aku harap ada kata-kata lain yang jauh lebih manis sedang bersembunyi di balik dirinya. Setidaknya biarkan aku bernapas lega untuk kali ini saja. Biarkan aku hidup kembali untuk satu detik saja.
“Negara di Asia kan banyak, kenapa harus jauh-jauh ke sini?” tanyaku sekali lagi.
“Bukannya di Indonesia juga ada banyak?” lanjutku.
“Gue pengen eksplor hal baru aja sih, emangnya salah?” tanya pria itu balik.
Lagi-lagi kali ini dia seperti menyerangku utntuk yang kesekian kalinya.
“Enggak ada yang berhak untuk nentuin jalan hidup lo.” balasku dengan pasrah.
Amel menggeser mangkuk soto yang masih panas itu tepat ke hadapanku. Ia menyuruhku cepat-cepat makan kemudian meninggalkan tempat ini. Setelah ini kami masih harus berbelanja kebutuhan dapur di supermarket. Andai aku bisa menghabiskan lebih banyak waktuku di sini, walau semaunay hanya berujung pada penyesalan.
Bertemu kembali dengannya di sini seperti keajaiban yang tak pernah ku duga sama sekali. Sudah cukup lama kami tak saling bertatap muka seperti ini. Sorot matanya seperti selalu punya cara tersendiri untuk menyampaikan sesuatu yang tak ingin disampaikan oleh mulutnya. Aku tahu jika selama ini dia terlalu keras pada dirinya sendiri. Tapi itulah dia, seseorang yang tak pernah mengizinkan siapapun untuk merubahnya.
Banyak hal yang ingin ku katakana padanya hari ini. Tapi entah kenapa semua kalimat yang telah tersususn rapih itu tiba-tiba saja mendadak menghilang dari kepalaku. Mulutku mendadak bungkam, lidahku juga turut kelu. Sepertinya semesta tak mengizinkan jika diriku harus mengatakan kebenaran.
“Gimana kuliah lo di sini?” tanya Arka tiba-tiba.
“Baik-baik aja kok. Kalo lo gimana? Lo jadi kan ke Aussie?”
“Kuliah gue biasa aja sih, normal-normal aja seperti orang kebanyakan.”
“Terus lo di sana tinggal sama siapa?”
“Asrama lah, mau dimana lagi coba? Lagian ditahun pertama kita tuh wajib tinggal di sana.”
“Berarti kita sama.”
“Asrama lo dimana?”
“Enggak jauh dari sini kok.”
“Lo pasti kangen sama makanan Indonesia kan? Makanya lo dating ke sini?”
“Gue tau lo juga rasain hal yang sama.”
“Semua itu emang enggak mudah, tapi selalu ada jalan buat kita.”
“By the way, lo udah berapa lama di sini?”
“Baru dua hari yang lalu sih.”
“Tinggal dimana?”
“Ada, di apartemen dekat sini juga.”
“Bagus deh.”
__ADS_1