
Dengan ragu-ragu, aku mengengam tabung gambar ini dengan kuat-kuat. Meskipun aku tak tahu pasti apa isi di dalamnya, yang jelas aku akan langsung membukannya seketika sampai di rumah nanti.
“Terimakasih Kak Rayhan, buat ini.” ujarku kepada pria itu.
“Lo seharusnya berterimakasih sama Sendy buat semua ini.” balasnya dengan nada bicara datar.
“Tapi gue pikir lo udah terlambat untuk ngelakuin semua itu.” Lanjutnya.
“Maksudnya?” tanyaku.
“Semua jawaban dari pertanyaan lo itu, ada di dalam ini.” jawab pria itu sambil menunjuk ke arah benda tersebut.
Aku hanya mengangguk mengiyakan perkataannya, memilih untuk tak memperpanjang masalah ini. Toh, percuma saja. Karena setiap kali aku menanyakan hal yang sama, ia selalu menjawabnya dengan jawaban yang sama pula. Semuanya ada di dalam tabung gambar ini, entah kenapa rasanya setiap inci dari benda ini sangat penting dan berarti.
“Ya udah, kalau gitu gue pamit pulang ya.” ujarnya.
“Enggak mau makan atau apa dulu gitiu kak?” cegahku dengan segera.
“Enggak usah, terimakasih banyak. Lagian gue ke sini cuma mau nganterin itu.” jelasnya.
“Lagi pula undangannya cuma buat Sendy aja kan?” tanyanya.
“Enggak kok, kalau kakak mau datang juga boleh. Enggak ada yang ngelarang.” balasku yang langsung membantah pertanyaannya barusan.
“Kalau gitu aku titip salam ya buat Kak Sendy, sama sekalian sapaikan ucapan terimakasih dari aku.” ucapku dengan wajah yang tertunduk.
“Iya.” balasnya singkat.
Tak lama kemudian, pria itu segera membalikkan badannya dan beranjak dari temoat itu. Entah apa yang terjadi, yang jelas matanya tadi sangat sembab seperti orang yang terus-menerus menangis selama berhari-hari. Aku juga curiga dengannya, saat pria itu mengucapkan kata”Iya” dengan senyuman getir yang terlihat agak di paksakan. Tapi aku memilih untuk tak ambil pusing soal itu, meskipun gelagatnya saat itu terlihat begitu aneh. Kak Rayhan terlihat sedang menyembunyikan sesuatu dari semesta, dan yang jelas aku tak tahu apa itu.
“Hadiah ulang tahun dari Kak Sendy ya?” tanya Arka dengan ekspresi wajah yang tak menyenangkan.
Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaannya barusan. Saat ini aku lebih memilih untuk bungkam saja dan tak terlalu banyak membahas soal benda yang barusaja ku terima hari ini. Aku tak ingin membuat Arka mereasa semua usaha yang telah di lakukannya ini menjadi sia-sia. Aku tahu pria itu telah berusaha keras untuk ini, jadi aku tak ingin membuatnya kecewa. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri unutk mulai melupakan Kak Sendy.
“Senang dong, dapat hadiah dari dia.” ujarnnya.
“Enggak tau, aku bahkan enggak tahu harus bereaksi bagaiman sekarang.” balasku dengan raut wajah datar yang tak menunjukkan ekspresi apapun.
“Ada rasa bahagia yang tak terlihat, karena tenggelalm diantara lauutan kecewa.” ujar pria itu dengan segala kemampuannya.
Belakangan ini aku merasa jika setiap kata yang terlontar dari mulutnya, akan terdengar begitu indah dan penuh makna bagiku. Entah hanya aku yang merasakan hal itu, atau mungkin orang lain juga merasakannya. Arka bukan lagi seseorang yang dulu ku kenal, kini ia jauh lebih banyak berubah. Pria di hadapanku ini bukan lagi seorang anak laki-laki kaku yang dulu ku kenal. Kini sedikit sentuhan kecil dari seni membuatnya menjadi lebih menarik, hidupnya jauh lebih berwarna dari pada sebelumnya. Sekarang dunianya tak mmonoton dan membosankan lagi, kini ia jauh lebih pandai dalam mengekspresikan suasana hatinya.
***
Kini sudah pukul dua belas malam tepat, sebentar lagi hari akan berganti. Para tamu juga nyaris sudah tak terlihat sama sekali di tempat ini. Suasana yang awalnya riuh dan ramai, kini di sulap bak tanpa kehidupan sama sekali oleh sang waktu. Beberapa staff yang dikirimkan dari sebuah perusahaan event organizer yang mereka sewa, juga telah tampak membereskan kekacauan ini.
Sementara aku duduk di salah satu kursi yang memang belum dibereskan oleh mereka, dengan mata yang sudah berat dan tak bisa bertahan untuk lebih lama lagi. Stefani sendiri, masih tetap terjaga dan saat ini sedang berkutat dengan poselnya. Sekarang kami sudah berada di penghujung hari yang sekaligus sebagai pertanda dari akhir acara ini.
“Ngantuk?” tanya Arka yang masih terrjaga dan tengah duduk di sampingku.
Aku hanya mengangguk lemah, mengiyakan perkataanya barusan. Tak bisa ku pungkiri jika kali ini rasa kantukku benar-benar sudah tak bisa di ajak untuk bekerja sama lagi. Aku sendiri tak tahu apa yang membuat mereka bisa tetap bertahan hingga selarut ini, bak hewan nokturnal pada umumnya.
Namun siapa sangka, jika lagi-lagi pria ini memprlakukanku dengan begitu manis. Secara tiba-tiba, ia meraih puncak kepalaku, kemudian membawabya dengan lenbut ke atas pundaknya. Sebuah tawaran yang tak akan ku tolak begitu saja untuk kali ini. Lalu tanpa perlu di periintahkan, pria ini membelai halus kepalaku dengan jemari kasarnya itu. Sebenarnya, hal yang di lakukanya itu malah membuatku semakin mengantuk. Kelihatannya Arka tahu persis bagaimana cara untuk menidurkan peri kecil ini.
Tanpa perlu memakan waktu yang lama, aku segera terlelap dan…….
“Selamat tidur semuanya.”
***
‘Kring!!!’
Pagi ini seperti biasanya, suara nyaring dari benda bundar itu selalu membuatku terjaga di pagi hari. Dengan perasaan malas yang di tambah dengan mataku yang masihi mengantuk, membuatku enggan untuk meninggalkan tempat tidurku. Jika bisa menawar pada sang waktu, ingin sekali rasanya agar aku bisa sedikit lebih lama lagi berada di sini. Tapi sayangnya semua itu mustahil untuk di lakukan. Jika aku terus menunda untuk bangun, maka resiko terbesarnya yang harus ku hadapi adalah terlambat. Dan aku tak ingin jika sampai hal buruk itu merusak pagi ku hari ini.
Dengan terpaksa aku harus bangkit dan meninggalkan kasur empukku ini. Lankahku yang terasa begitu berat ini, tetap ku paksa untuk berjalan menuju ke kamar mandi. Sedikit pengorbanan dan sebuah perlawanan kecil, akan membuatku merasa lebih baik hari ini. Aku berjalan ke kamar mandi dengan langkah yang tertatih-tatiih, sesekali aku juga meraba benda-benda di sekelilingku sebagi penujuk jalan. Hal itu wajar saja jika terjadi padaku, karena nyawaku belum terkumpul sepenuhnya.
__ADS_1
‘BRAKK!!!’
Aku membanting pintu kamar mandi dengan sangat keras, sehingga membuat benda di sekitarnya ikut bergetar pelan. Hal itu juga lah yang membuatku terkejut bukan main, dan kedua kelopak mataku kembali terbuka dengan sempurna.
“Aishh….” gerutuku pelan, sambil mengacak-acak rambutku yang memang sudah berantakan.
Tiba-tiba saja aku baru menyadari satu hal yang tak kalah membuatku terkejut bukan main. Bagaimana bisa aku masih tetap menggenakan gaun ini dari kemarin. Apa semalaman aku tak melepasnya? Atau mungkin kemarin ada sesuatuu yang terjadi, tapi sialnya aku tak bisa mengingat hal itu. Ingatanku memang benar-benar payah, bahkan unutk mengingat kejadian yang baru terjadi kemarin malam saja aku tak bisa.
Tak ambil pusing soal itiu, aku segera mandi dan bersiap untuk ke sekolah. Meskipun hari ini rasanya badanku sakit semua karena acara pernikahan Renata kemarin, mau tak mau aku harus tetap pergi ke tempat itu. Setelah selesai bersiap, aku langsung turun ke bawah untuk sarapan bersama yang lainnya. Kelihatannya Stefani sudah sampai di sana lebih dulu, lagipula tas sekolah miliknya sudah tak berada di kamarku lagi.
“Pagi semuanya!” sapaku kepada semuanya ssetelah sampai di meja makan.
“Pagi juga sha!” jawab yang lainnya.
Aku segera mangambil tempat di salah satu bangku yang masih kosong di ujung sana. Tanpa berlama-lama lagi, aku segera mengambil sarapan yang di sediakan pagi ini. Biasanya aku tak menyentuh makanan yang di masak bibi untuk sarapan, dan selalu sarapan dengan roti atau sereal. Tapi kali ini entah kenapa rasanya aku ingin mencicipi nasi goring itu sedikit saja. Biarpun biasanya aku tak suka sarapan dengan makanan yang terlalu berat, tapi kali ini aku tak seperti itu. Mungkin karena kemarin aku terlalu kelelahan, shingga hari ini nafsu makanku bertambah drastis.
“Masih ngnatuk sha?” tanya Stefani padaku.
“Dikit lah, paling nanti juga hilang.” jawabku sambil menyantap nasi goring buatan bibi.
“Kayaknya lo kemarin kecapekan banget, sampai-sampai lo ketiduran di sana.” ujar Stefani.
“Mungkin.” balasku dengan singkat.
“Untung ada Arka yang bawain lo ke mobil pas ketiduran. Soalnya lo kebo banget sih, soalnya udah kita bangunin tapi lo nya malah asik molor.” jelas gadis itu.
“Maksudnya?” tanyaku yang takk mengerti dengan maksud dari ucapannya barusan.
“Ya kemarin anak itu yang gendong lo buat masuk ke mobil. Bahkan dia juga loh yang bawa lo sampai ke kamar. Kalau gue mana kuat ngangkat lo sendirian.”jelasnya sekali lagi.
Oh, jadi ternyata kemarin aku ketiduran di lokasi pesta. Pantas saja aku masih memakai gaun itu hingga pagi. Tapi aku tak menyangka jika Arka akan melakukan hal sebaik itu padaku. Kenapa aku bisa tak mengetahui soal itu. Dasar bodoh! Mana ada orang yang sedang terlelap, bisa mengetahui kondisi di sekitarnya.
“Iya, untuk ada teman kamu itu.” ucap mama.
“Pacar tante!” timpal Stefani.
Sontak hal itu membuatku terkejut bukan main. Bagaimana bisa dia membocorkan soal itu di hadapan keluargaku sendiri, dan membuatku malu di depan mereka. Sebelumnya aku tak pernah menceritakan apa-apa soal asmaraku kepada keluarga ini. Karena kembali lagi kepada mama dan papa yang tak pernah memberiku izin untuk hal itu. Tapi sekarang semuanya sudah terlambat, rahasia yang ku sembunyikan dengan rapat-rapat dari mereka semua malah berakhir sia-sia seperti ini. Tamat sudah riwayatku.
“Eh, serius?!” ujar mama.
“Mati aku!” batinku dalam hati.
Aku sudah benar-benar di buat mati ketakutan di buat wanita ini. Lihat saja nanti di sekolah, akakn ku berikan balasan yang setimpal untuknya.
“Bagus dong, iya kan pa?” ujar mama sekali lagi.
“Iya ma, itu artinya anak kita udah ada yang jagain ma. Jadi kita enggak perlu khawatir lagi sama Eresha.” balas papa yang ikut sependapat dengan mama.
Aku mendongakkan kepalaku sambil melongo tak percaya. Jawaban macam apa itu, apa mereka benar-benar sedang dalam kondisi sadar saat kalimat itu terlontar dari mulut mereka. Apakah lidah kedua orang tuaku tak kelu sama sekali untuk mengatakan soal itu. Aku tak habis pikir dengan jalan pikiran mereka yang selalu berubah-ubah setiap saat dan sulit unutk di tebak. Biasanya mreka selalu menganggapku tak pantas atas hal itu, karena usia ku yang masih terlalu muda. Tapi sekarang keduanya benar-benar berubah total hingga seraatus delapan puluh derajat.
“Kelihatannya anak itu juga baik.” ujar papa.
“Dia bisa papa percaya.” lanjutnya.
“Mama juga sependapat sama papa kamu.” tambah waita paruh baya itu.
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku tanpa sebab. Rasanya aneh jika melihat mereka seperti ini, sangat tak masuk akal bagiku. Tanpa berlama-lama lagi, mengingat hari sudah semakin siang aku segera menyelesaikan sarapanku yang tinggal tersisia sedikit lagi itu.
“Aku berangkat sekolah dulu ya.” pamitku kepada semuanya, sembari menyeka mulutku dengan tisu.
“Iya hati-hati di jalan ya nak.” balas mama dan papa secara bersamaan.
Sementara itu, nenek sedang sibuk mengunyah makanan di mulutnya dengan susah payah. Jadi wanita tua itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja.
***
__ADS_1
Aku dan Stefani pergi ke sekolah menggunakan bis kota, seperti biasanya. Tak ada sesuatu yang spesial hari ini, semuanya terlihat biasa saja sama seperti hari-hari biasanya. Ini yang aku suka jika berangkat lebih pagi seperti ini. Udaranya masih luamayan bersih, karena kendaraan belum terlalu padat. Selain itu, kendaraan umum yang ku tumpangi saat ini juga masih terbilang sepi sehingga aku bisa mendapatkan tempat duduk.
Sesampainya di sekolah, kami langsung menuju ke ruang kelas. Sejauh ini hariku baik-baik saja, tanpa ada masalah sedikitpun dan semoga saja selalu seperti ini hingga di penghujung hari. Meskipun terkadang beberapa masalah akan membuat sensasi menantang di kehidupan kita, tapi aku malah menganggap jika sebuah masalah malah akan menjadi sebuah parasit bagiku. Aku jauh lebih suka dengan hidupku yang tanpa masalah.
“Hai!” sapa Stefani kepada semuanya.
“Eh, kalian udah pada datang?” tanya Clara.
“Hmmm…..” ucapku sambil berdeham pelan.
Kami selalu menjadi orang yang datang paling akhir setiap paginya, diantara mereka semua. Adit terkadang juga seperti itu. Bukan hal yang buruk bagaiku memang, tapi mungkin buruk untuk Stefani. Anak itu selalu tak ingin ketinggalan informasi dengan topik terbaru yang sedang mereka bahas setiap paginya.
“Hari ini enggak lupa bawa topi kan?” tanya Arka padaku.
“Enggak.” Jawabku dengan singkat.
Pria ini selalu mengingatkanku soal hal itu setiap hari Senin. Itu karena aku nyaris selalu meninggalkan benda itu di rumahku. Dan tak jarang pula aku harus memakai topi miliknya yang sengaja ia tinggalkan di loker sekolah, untuk berjaga-jaga di situasi seperti ini. Arka memang selalu memiliki dua buah topi, atau bahkan lebih. Jika kalian kedapatan tak memakai topi saat upacara berlangsung, maka kalian akan langsung di tarik keluar barisan oleh anak-anak OSIS yang sedang berjaga di belakang. Kemudia setelah upacara selesai, mereka yang menyalahi aturan tersebut akan di hukum tepat di hadapan para siswa lainnya. Dan itu adalah sesuatu paling memalukan yang pernah ku lihat sebelumnya. Beruntung aku tak pernah mengalami hal itu sama sekali.
“Eh, katanya akhir bulan ini sekolah kita bakal ngadain pentas seni loh.” ujar Titan sembari membenarkan posisi duduknya.
“Oh, ya?!” balasku dengan antusias.
Pria itu mengangguk, mengiyakan perkataanku.
“Berarti sebentar lagi dong.” timpal Adit.
“Iya, kalau enggak salah sih tanggal tiga puluh nanti sih.” jelas Titan sambil berusaha mengingat informasi tersebut.
“Lo tau soal ini dari mana?” tanya Arka yang mulai terlihat serius.
“Tadi ada kok di tempel di mading posternya.” jawab Titan dengan begitu yakin.
Arka lantas mengangguk paham dengan jawaban yang di berikan oleh sahabatnya barusan itu. Pria itu tampak berpikir sejenak, sambil mengelus-elus dagunya sendiri.
“Siswa kelas dua belas boleh berpartisipasi nggak?” tanya Arka sekali lagi.
“Ya boleh lah, kayak murid baru aja lo.” jelas Titan dengan sedikit menyindir sahabatnya itu.
“Emangnya lo mau ikutan ngisi acara buat pentas seni nanti?” tanya Adit dengan wajah polosnya.
“Bukan gue.” jawab pria tersebut dengan singkat.
“Terus?” tanya yang lainnya secara bersamaan.
“Eresha.” Balas Arka denagn singkat.
Sontak hal itu membuatkku terkejut bbukakn main, apa maksudnya berbicara seperti itu barusan. Lantas seketika itu pula, semua mata tertuju ke arahku dengan sorot mata yang menyimpan jutaan tanya.
“Gue pernah denger cerita dari salah satu temen dekatnya Eresha pas masih tinggal di Pematangsiantar dulu. Katanya Eresha ini jago nge-dance dan pernah beberapa kali ngikutin kejuaraan. Dan yang paling buat gue terkesan itu, dia pernah tergabung dalam tim dance sekolahnya untuk mewakili sekolahnya di perlombaan tahunan.” jelas Arka dengan panjang lebar.
Bagaimana bisa ia tahu soal itu, apalagi sampai sedetail itu. Arka bahkan tahu soal hal itu hingga ke bagian-bagian kecilnya yang nyaris tak penting sama sekali. Sekali lagi aku hanya bisa terpelongo dengan apa yang barusan terjadi.
“Iya, gue juga pernah denger dari temen lo yang namanya si Rahma itu. Katanya kalian dulu juga satu tim dance.” sambung Stefani yang menambahi ucapan Arka barusan.
“Sama katanya posisi lo di tim itu sebagai dancer utama bareng temen lo si Anya-Anya gitu kalau enggak salah. Eh, tapi bener nggak sih kalau nama dia Anya?” lanjutnya.
“Hmmm….. bener.” balasku sambl berdeham kesal.
“Kasih tau aja terus semuanya, buka terus! Bongkar aja semuanya sekalian! Terus, lanjutin, bagus!” batinku dalam hati.
Aku bahkan tak tahu bagaimana caranya mereka bisa mendapatkan informasi seperti itu. Aku curiga jika diam-diam mereka menguntit semua pesan WhatsApp ku dengan ketiga sahabatku itu.
“Ikutan aja gih!” tambah Adit yang ikut menimpali.
Yang lainnya juga turut mengangguk setuju dengan usul pria itu barusan. Padahal aku sangat yakin jika ia tak benar-benar serius dengan ucapannya barusan. Mengingat jika Adit memang tak pernah serius dengan semua ucapannya dan hanya asal ceplas-ceplos.
__ADS_1
“Ogah!” balasku dengan cepat.
Tentu saja aku tak ingin kembali berkecimpung di dunia itu. Kelihatannya kecelakaan itu membuatku mengalami trauma pada beberapa bagian ototku. Sejauh ini yang paling membuat kepercayaan diriku menghilang adalah trauma di bagian lututku. Mereka bisa kambuh kapanpun yang mereka mau, bahkan di saat yang sama sekali tak ku inginkan sekalipun. Dan aku tak mungkin memberitahukan soal semua ini kepada mereka. Cukup mereka tahu soal penyakitku saja, tidak dengan yang satu ini.