Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 100


__ADS_3

Setelah menerima telepon dari mbok Asih, Ray pun bergegas meninggalkan kantornya untuk kemudian menuju rumah sakit.


"Bagaimana keadaan Arsen?" tanyanya pada Suci.


"Entahlah, dokter sedang memeriksanya."


"Sebenarnya Arsen sakit apa?"


"Tadi dia sempat muntah-muntah saat jam olahraga. Miss Livia pun memintaku untuk menjemputnya di sekolah."


"Kenapa Arsen bisa muntah-muntah? Memangnya dia makan apa?" tanya Rayyan lagi.


"Arsen bilang dia membeli kue donat di luar kantin sekolah karena kasihan dengan penjualnya."


"Astaga, Arsen … Arsen …"


"Aku menjemput Arsen dari sekolahnya dan memintanya untuk beristirahat di dalam kamarnya. Namun sekitar dua jam kemudian badannya panas tinggi. Aku pun memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit ini."


"Apa yang kamu lakukan sudah benar. Panas tinggi pada anak bisa berbahaya jika tidak lekas ditangani," ujar Ray.


Obrolan mereka terhenti saat tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Tampak seorang dokter keluar dari dalam ruangan itu.


"Bagaimana keadaan putera kami, Dokter?" tanya Ray dengan raut wajah cemas.


"Berdasarkan hasil pemeriksaan, pasien terkena demam tifoid atau tifus. Jadi pasien harus dirawat inap."


"Apa penyakit itu berbahaya, Dok?" tanya Suci.


"Saya rasa tidak. Dengan minum obat secara teratur dan istirahat yang cukup, insyaallah pasien bisa segera sembuh."


"Syukurlah. Kira-kira berapa hari putera kami harus diopname, Dok?" tanya Ray.


"Biasanya pasien demam tifoid dirawat tiga hingga empat hari. Silahkan Tuan urus administrasi nya lebih dulu."


"Baik, Dokter."


"Kalau begitu saya permisi dulu," ucap dokter. Dia lantas berlalu dari hadapan Suci dan Rayyan.


"Ehm … Mas."


"Ya."


"Tadi aku buru-buru, jadi tidak sempat membawa baju ganti," ucap Suci.


"Kamu tidak perlu khawatir, biar aku yang mengambil baju ganti kalian."


"Aku minta mbok Asih saja untuk mengantar baju ganti ke sini."


"Mbok Asih mana berani memasuki kamar kita. Sudahlah, tidak apa. Biar aku saja yang mengambil pakaianmu."


"Terima kasih, Mas."


"Aku yang justru harus berterima kasih padamu. Sudah membawa Arsen ke sini meskipun tak ada aku ataupun Davin yang mengantarmu," ujar Ray.


Suci menanggapinya dengan senyum simpul di bibir.


"Aku ke bagian administrasi dan langsung pulang mengambil baju ganti."

__ADS_1


"Mas hati-hati ya, dan jangan lama-lama."


"Memangnya kenapa kalau lama?"


"Nanti aku rindu."


"Astaga. Siapa yang mengajarimu merayu?"


"Tidak ada. Tapi aku belajar menjadi romantis dari Mas."


"Begitu ya."


"Aku masuk dulu, Mas."


Suci masuk ke dalam ruang perawatan Arsen sementara Ray ke bagian administrasi.


Di saat ia berjalan menuju tempat itulah Ray berpapasan dengan dokter Kinara yang baru saja keluar dari ruang dokter.


"Ray? Kamu di sini ternyata. Apa ada yang sakit?" tanyanya.


"Ya, Arsen tadi sempat muntah-muntah di sekolahnya dan mengalami panas tinggi."


"Ini pasti karena ini sambungnya membuatkan bekal sembarangan untuk Arsen."


"Bukan. Penyebab Arsen mengalami sakit perut adalah karena dia jajan di luar kantin sekolahnya. Aku tahu setiap hari Suci selalu menyediakan makanan yang bergizi untuk Arsen."


"Kamu mau pulang ya?" tanya Kinara.


"Ya. Aku mau ke bagian administrasi dulu baru pulang untuk mengambil baju ganti Suci dan Arsen."


"Main-maunya disuruh mengambil baju ganti. Kenapa tidak dia saja yang mengambil bajunya," ucap Kinara ketus.


"Oh ya, kalau kamu mau pulang aku ikut menumpang ya. Rumah kita 'kan searah.


"Memangnya kamu nggak bawa mobil?"


tanya Ray.


"Mobilku masih di bengkel."


"Oh, baik lah."


Setelah mengurus administrasi, Rayyan dan Kinara pun lantas meninggalkan rumah sakit.


"Oh ya. Apa aku boleh bertanya sesuatu?" ucap Ray saat di perjalanan pulang.


"Kamu mau tanya apa?"


"Apa kamu tahu jika ayahmu sedang dekat dengan seseorang?"


"Ehm … ya. Aku tahu. Jika boleh jujur aku tidak suka jika ayah dekat dengan perempuan."


"Memangnya kenapa? Bukankah ibumu sudah lama tiada?"


"Aku hanya ingin ayah setia pada ibu. Dia tidak akan menikah lagi sampai kapanpun."


"Berpikir positif saja, mungkin dengan menikah lagi ayahmu ada yang mengurus."

__ADS_1


"Di rumah kami ada bibi kok. Setiap hari dia yang mengurus semua keperluan ayah."


Ray mengulas senyum tipis.


"Tentu saja tugas istri dan Asisten rumah tangga berbeda. Ayahmu pasti punya alasan jika dia memang ingin menikah lagi."


"Tetap saja aku tidak setuju. Apalagi perempuan yang sekarang dekat dengannya lebih muda dariku."


"Aku tahu siapa perempuan itu."


"Sungguh?"


"Ya. Aku mengenalnya, bahkan aku tahu di mana tempat tinggalnya."


"Siapa perempuan itu?" tanya Kinara penuh selidik.


"Namanya Siska, dia adalah asisten rumah tanggaku."


"Astaga. J-j-jadi, gadis bernama Siska itu pembantu di rumahmu? Tapi, bagaimana kamu bisa tahu kalau perempuan itu adalah Siska?"


"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri saat ayahmu bersama Siska memasuki tempat karaoke."


"Ayah memang keterlaluan! Aku sudah berkali-kali mengatakan agar menjauhi perempuan itu, tapi ayah tak pernah menggubrisku. Lihat saja, kalau ayah sampai menikahi gadis itu, ayah akan menyesal!"


"Jika aku boleh jujur, Siska bukan lah gadis yang baik. Dia suka membantah dan bekerja seenaknya sendiri."


"Kenapa pembantu model begitu masih kamu pakai? Kalau aku jadi kamu, sudah aku buang."


"Dia tinggal di rumahku karena Suci yang iba padanya. Dulu Siska pernah menjadi saudara tirinya sebelum ayah dan ibu mereka berpisah."


"Astaga. Jadi gadis itu dari kampung juga?! Ray, aku ingin bertemu dengan gadis itu. Aku ingin memberi peringatan agar dia menjauhi ayahku."


"Maaf, aku tidak mau ada keributan di rumahku. Mungkin kamu bisa bicara dengannya di luar."


"OK, I see."


"Kita sudah sampai di rumahmu," ucap Ray.


"Terima kasih atas tumpangannya, sampai jumpa lagi." Kinara beranjak dari tempat duduknya lalu keluar dari mobil Ray.


Tidak berselang lama mobilnya pun meninggalkan tempat tersebut.


Sepuluh menit kemudian Ray tiba di rumahnya.


"Mbok, tolong buatkan saya teh hangat," titah Ray pada mbok Asih yang tengah berada di ruang dapur.


"Baik, Tuan. Tuan tunggu saja di depan."


Ray beranjak dari ruang dapur lalu berjalan menuju ruang tamu. Namun dia merasa perlu meletakkan koper nya. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk lebih dulu ke dalam kamarnya.


Ray memutar gagang pintu lalu mendorongnya. Ia pun lantas meletakkan kopernya di atas meja rias. Alangkah terkejutnya dia saat pandangannya tertuju pada tempat tidurnya. Ia mendapati seseorang mengenakan gaun berwarna maroon berbaring di atas sana dengan posisi menghadap tembok.


"Astaga! Siapa dia? Berani-beraninya masuk ke dalam kamar ini dan mengenakan gaun milik Suci tanpa seizinnya," gumamnya.


"Hei! Siapa kamu!" sentaknya.


Perempuan yang mengenakan gaun berwarna maroon itu pun sontak tebangun dan menoleh ke arah Ray. Amarah Ray pun meledak saat tahu siapa perempuan itu.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2