Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 107


__ADS_3

Suci terlihat kebingungan. Di satu sisi ia ingin segera pulang ke kampung halamannya demi bisa melihat jenazah Fitri untuk terakhir kalinya, namun di sisi lain dia tidak mungkin tega meninggalkan Arsen dalam keadaan sakit.


"Kalau kamu mau pulang, pulang lah," ucap mbok Asih.


"Kalau aku pulang, bagaimana dengan Arsen?"


"Kamu tidak perlu khawatir, mbok yang akan menggantikanmu merawatnya. Untuk pekerjaan rumah biar Siska yang urus."


"Sayang, tidak apa 'kan kalau ibu pulang?"


tanya Suci pada Arsen.


"Mbak Fitri meninggal ya, Bu? Nggak apa-apa kok Bu. Kan masih ada simbok di di sini."


"Anak pintar."


"Jadi, kamu mau pulang sekarang juga?" tanya mbok Asih.


"Ya, Mbok. Aku ingin melihat jenazah Fitri untuk terakhir kalinya sebelum dimakamkan."


"Kenapa Ibu tidak minta ayah saja untuk mengantar?" sela Arsen.


"Tuan muda benar, Nduk. Mbok yakin kamu akan lebih cepat sampai di kampung jika diantar tuan Ray dibandingkan jika kamu naik bus."


"Aku takut mengganggu pekerjaan mas Ray."


"Percaya sama mbok, kamu lebih penting dari urusan apapun," ujar mbok Asih.


"Ya sudah, aku coba hubungi mas Ray dulu." Suci meraih ponselnya yang tadi sempat terjatuh lalu menghubungi nomor suaminya itu.


[Halo, Assalamu'alaikum, Mas sedang sibuk ya?]


[Wa'alaikumsalam. Tumben sekali kamu menelpon siang-siang begini. Aku tidak begitu sibuk kok. Tunggu, suaramu terdengar agak lain, kamu habis menangis ya?]


[Iya, Mas. Aku menelpon Mas untuk menyampaikan kabar duka.]


[Kabar duka?]


[Fitri … Fitri adikku meninggal dunia pagi tadi.]


[Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Apa adikmu sakit? Sepertinya bapak kamu tidak pernah memberi kabar jika adikmu sedang sakit.]


[Aku pun belum tahu pasti apa penyebab meninggalnya Fitri. Mas … apa Mas bisa mengantarku pulang ke kampung sekarang? Aku ingin melihat jenazahnya sebelum dimakamkan.]


[Oh, tentu saja. Sekarang juga aku akan bersiap untuk pulang.]


[Aku minta maaf jika aku mengganggu pekerjaan Mas.]


[Urusanmu lebih penting dari apapun.]


[Terima kasih, Mas. Mas memang suami paling pengertian sedunia. Aku jadi tambah cinta sama Mas.]


[Semakin kesini kamu semakin pandai merayu]


[Ya sudah, Mas jemput aku di rumah sakit sekarang, lalu kita langsung ke kampungku.]


[Baik, Permaisuriku.]


[Aku tutup dulu teleponnya. Mas. Assalamu'alaikum.]


"Bagaimana, Nduk? Tuan bisa 'kan mengantarmu pulang kampung?" tanya mbok Asih sesaat setelah Suci mengakhiri panggilan.


"Bisa, Mbok."


"Apa mbok bilang? Sesibuk apapun, tuan Ray akan menyempatkan waktunya untuk istri tercinta."


Suci menanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.

__ADS_1


Setibanya di rumah sakit Ray langsung menuju kamar perawatan Arsen.


"Arsen Sayang, untuk sementara kamu sama mbok Asih dulu ya. Ibumu harus pulang ke kampung karena ada urusan penting," ucapnya.


"Iya, Yah. Aku tidak apa sama mbok di sini. Ayah dan Ibu hati-hati."


"Ya, Sayang."


"Ayah dan ibu pamit dulu ya, Sayang. Ingat pesan ibu. Kamu harus makan dan minum obat tepat waktu," ucap Suci. Bocah laki-laki itu menganggukkan kepalanya.


"Titip Arsen ya, Mbok."


"Iya, Nduk. Kamu jangan khawatirkan tuan muda. Mbok akan merawatnya dengan baik."


"Terima kasih, Mbok. Kami berangkat sekarang. Semoga saat sampai nanti Fitri belum dimakamkan."


"Kalian hati-hati."


"Assalamu'alaikum." Suci dan Ray pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.


Di sepanjang perjalanan, Suci tak berhenti menghubungi nomor adik perempuannya, Murni. Jika siang tadi sang adik mengabaikan panggilannya, kali ini nomornya justru tidak aktif.


"Kenapa? Sepertinya kamu gelisah sekali."


"Dari tadi aku kesulitan menghubungi Murni. Bahkan yang tadi bukan dia yang menyampaikan kabar duka itu, melainkan bapak ketua RT."


"Berpikir positif saja, mungkin handphone Murni kehabisan daya atau dia sedang sibuk mengurus jenazah Fitri."


"Aku tidak menyangka Fitri akan meninggalkan kita secepat ini," ucap Suci. Tiba-tiba raut wajahnya berubah sedih.


"Aku paham perasaanmu. Aku juga pernah merasakan bagaimana sakitnya ditinggal orang yang pernah aku sayangi. Ah, maaf. Aku tidak bermaksud, …"


"Tidak apa kok Mas."


Menjelang sore Suci dan Ray tiba di rumah sang ayah. Saat itu jenazah sang adik baru selesai disholatkan dan warga bersiap membawanya menuju tempat pemakaman.


"Fitri … kenapa kamu pergi secepat ini, Dek?" isaknya sembari memeluk tubuh Fitri yang kini telah terbalut kain kafan.


"Sabar, Nduk. Ikhlaskan dia. Pada saatnya kita juga akan menghadap Rabb kita," ucap salah satu tetangganya.


"Bapak … Fitri, Pak. Hu … hu … hu."


Bimo sama sekali tak menanggapinya. Dia hanya duduk mematung memandang jenazah Fitri yang kini telah terbujur kaku. Sorot matanya tampak kosong dan nanar.


"Maaf, Mbak Suci. Jenazah Fitri harus segera dimakamkan sebelum petang," ucap pak Bayu yang kini menjabat sebagai ketua RT itu.


"Tunggu sebentar, Pak."


Suci memandang wajah Fitri untuk terakhir kalinya lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di keningnya.


"Selamat jalan adikku, sampaikan salam mbak pada ibu," bisiknya.


"Silahkan, Pak."


"Mbak Suci tidak ikut ke makam?" tanya pak Bayu.


"Tidak, Pak. Saya ingin menemani bapak. Sepertinya beliau begitu terpukul dengan kepergian Fitri."


"Biar saya saja yang ikut ke pemakaman, Pak," sela Ray.


"Baiklah. Mari Bapak-bapak, kita segera bawa jenazah Fitri ke tempat pemakaman."


Pak Bayu dengan dibantu Ray lantas mengangkat jenazah Fitri lalu memindahkannya ke dalam keranda. Tidak lama kemudian keranda itu pun dibawa keluar dari ruang tamu untuk selanjutnya dibawa menuju tempat pemakaman.


Suci baru baru menyadari jika sedari tadi dia tidak melihat keberadaan Murni.


"Murni di mana, Pak?" tanyanya.

__ADS_1


Namun sang ayah tak menanggapi. Pria paruh baya itu masih saja duduk mematung dengan tatap mata kosong dan nanar.


"Apa mungkin dia di kamarnya?" gumam Suci. Di pun beranjak dari ruang tamu lalu berjalan menuju kamar Murni.


"Murni … kamu di dalam, Mur?" tanyanya dari depan pintu.


Tak ada jawaban.


"Tidak hanya kamu, mbak juga terpukul dengan kepergian Fitri. Tapi kamu tidak boleh mengurung diri begini."


Masih tak ada jawaban.


"Murni … Murni. Kamu di dalam 'kan? Ayo keluar."


Lantaran tak kunjung mendapat jawaban, Suci pun akhirnya memutuskan untuk membuka pintu kamar itu. Ia semakin heran karena tak menemukan siapapun di dalam kamar tersebut.


"Ya Allah, kemana sebenarnya Murni?" batinnya.


Suci menutup kembali pintu kamar itu lalu kembali ke ruang tamu.


"Fitri kemana, Pak? Kenapa tidak ada di dalam kamarnya?" tanyanya.


"Fitri mati gara-gara bapak. Cepat panggil polisi," ucap Bimo.


"Bapak bicara apa?"


"Fitri mati gara-gara bapak." Bimo mengulangi ucapannya.


"Istighfar, Pak."


"Selamat sore, Bu," sapa seorang polisi yang tiba-tiba saja berdiri di teras rumahnya.


"Selamat sore, Pak. Maaf, ada apa ya?"


"Beberapa saat yang lalu pihak rumah sakit sudah melakukan visum terhadap jenazah Fitri, dan kami dapat mengambil kesimpulan jika jenazah tersebut tewas setelah mengalami pendarahan di bagian belakang otaknya."


"A-a-pa, Pak? Pendarahan di otak? Adik saya tidak memiliki penyakit apapun. Mana mungkin dia mengalami pendarahan di otaknya."


"Begini, Bu. Pendarahan yang kami maksud di sini bukanlah penyakit, melainkan pendarahan yang disebabkan kepala almarhumah membentur sesuatu dengan begitu keras keras semacam terjatuh ataupun dipukul," papar polisi.


"Jadi, sebelum meninggal dunia adik saya sempat terjatuh dan terluka di bagian belakang kepalanya, begitu?"


"Kurang lebih begitu. Tapi untuk penyebab pasti almarhumah mengalami pendarahan di otak masih kami selidiki. Kami cukup kesulitan melakukan penyelidikan lantaran minimnya saksi. Saat kejadian hanya ada almarhumah dan bapak Bimo di dalam rumah ini."


"Jadi, adik saya Murni sudah tidak di rumah sedari pagi?"


"Maaf, untuk hal tersebut kami kurang tahu. Pak Samsul juga sempat memberi kesaksian saat beliau datang ke sini sudah mendapati almarhumah tak bernyawa."


"Saya yang sudah membunuh Fitri, tangkap saya, Pak," sela Bimo.


"Kalimat itu sudah berulang kali diucapkan pak Bimo. Tapi kami tidak bisa menangkapnya tanpa bukti yang jelas." Polisi lainnya menimpali.


"Saya mengenai betul siapa bapak saya. Beliau sama sekali tak pernah bersikap kasar apalagi main tangan pada kami," jelas Suci.


"Kami masih harus melakukan penyelidikan lebih lanjut, tak terkecuali pada saudari Murni yang ibu maksud."


"Sudah kubilang, aku yang membunuh Fitri. Cepat tangkap aku."


"Bapak, cukup! Sampai kapanpun aku tidak akan percaya dengan pengakuan Bapak. Bapak tidak mungkin melakukannya. Sebenarnya Murni di mana, Pak? Apa dia ada hubungannya dengan peristiwa ini?"


"Tidak usah mencarinya, tangkap saja bapak," ucap Bimo.


"Bagaimana ini, Pak? Bapak saya bersikeras mengaku jika dia yang membunuh Fitri."


"Kita tunggu hingga warga kembali dari pemakaman. Semoga kita bisa segera mendapatkan titik terang," ucap polisi.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2