Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 73


__ADS_3

"Ayah dan ibu berangkat dulu, Sayang. Kamu di rumah sama mbok Asih dan mbak Siska dulu ya," ucap Suci pada Arsen yang tengah menonton televisi di ruang keluarga.


"Ya, Bu."


Tiba-tiba Siska muncul dari arah dapur.


Ia keheranan melihat Suci yang penampilannya telah berubah.


"Loh, baju kamu kok, …"


"Mbok Asih bilang baju yang kamu pilihkan tadi kurang pantas bila dipakai untuk acara jamuan makan. Itulah sebabnya aku menukarnya dengan gaun berwarna jingga ini."


"Memangnya tahu apa orangtua itu tentang mode? Baju yang kamu pakai ini norak. Nggak pantas dipakai untuk acara resmi. Kamu ganti saja dengan yang tadi. Itu juga riasannya kenapa dihapus? Baju sama riasannya sudah pas buat kamu."


"Suci ini mungkin tidak begitu pandai memilih busana. Tapi kamu harus tahu, dulu waktu mendiang nyonya Arini masih hidup, saya adalah orang pertama yang diminta pendapat tentang pakaian mana yang akan dikenakannya saat ia akan menghadiri acara pesta ataupun acara formal lainnya. Jadi, saya sudah paham pakaian mana yang seharusnya dipakai Suci hari ini. Dress berwarna hitam hanya pantas dikenakan untuk menghadiri acara pemakaman ataupun melayat," ungkap mbok Asih.


"Sial! Kenapa orangtua menjengkelkan ini lebih paham soal pemilihan busana sih!" umpat Siska.


"Pim Pim!" Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari arah halaman.


"Tuan Ray sudah menunggumu, Nduk," ucap mbok Asih.


"Ya sudah, aku berangkat dulu, Mbok."


"Hati-hati."


"Dadah Ibu," ucap Arsen sembari melambaikan tangannya.


Suci pun lantas meninggalkan ruangan itu


Sesampainya di halaman.


Ray cukup terkesan dengan penampilan Suci. Gaun berwarna jingga dan riasan tipis di wajahnya membuat penampilannya siang itu tampak sederhana namun tetap elegan.


"Pandai juga kamu memilih busana," pujinya.


"Ehm … mbok Asih yang tadi memilhkan baju ini."


Ray mengulas senyum tipis.


"Mbok Asih memang penata busana terbaik," ujarnya.


"Awalnya Siska menyuruhku mengenakan dress berwarna hitam dengan riasan yang cukup tebal, tapi mbok Asih melarangku memakainya. Dia bilang dress berwarna hitam lebih pantas dikenakan untuk menghadiri acara pemakaman."


"Mbok Asih sudah benar, saudara tirimu itu yang keterlaluan. Ayo cepat naik, jangan sampai kita terlambat."


Suci pun lantas duduk di samping kursi kemudi.


"Ehm … saat di depan para tamu undangan nanti kamu jangan memanggilku dengan sebutan tuan ya."


"Memangnya kenapa?"


"Astaga. Kamu 'kan istri saya. Apa kata mereka nanti kalau kamu memanggilku dengan sebutan tuan."


"Jadi, saya harus memanggil apa?"

__ADS_1


"Terserah kamu. Mau panggil Mas kek, Abang kek, Sayang kek. Yang penting jangan memanggilku tuan."


"Aduh … apa ya? Mas saja deh."


"Mas Ray. Seumur hidup baru kali ini aku dipanggil mas." Ray lalu terkekeh.


Sesampainya di tempat jamuan makan.


"Bukannya istrimu sudah lama meninggal? Lalu, siapa perempuan yabg berdiri di sampingmu ini?" tanya salah satu rekan bisnisnya.


"Dia istri saya, namanya Suci."


"Apa dia saudara Arini? Wajahnya kok mirip banget sama mendiang istrimu." Salah satu tamu undangan menimpali.


"Ya, saudara. Saudara sebangsa setanah air," ucap Ray yang sontak membuat tawa beberapa orang yang berada di dalam ruangan itu meledak.


"Bisa saja kamu."


"Hai, Ray," sapa pemilik rumah yang baru saja menghampirinya.


Ray mengulas senyum tipis.


"Terima kasih atas undangannya, Pak Steven," ucapnya.


"Is she your wife?"


(Apakah perempuan ini istrimu?)


"Yeah."


"Suci."


"Selamat menikmati hidangannya."


Pria bertubuh kekar itu menepuk punggung Ray sebelum akhirnya berlalu dari hadapannya.


"Dia orang bule ya?" tanya Suci.


"Tidak juga. Dia asli orang Indonesia, tapi lama bermukim di Paris. Jadi lebih sering menggunakan bahasa Inggris."


"Oh, begitu."


"Ayo kita ke sana."


Ray meraih tangan Suci lalu melingkarkannya di bagian lengannya.


Suci mengangguk setuju. Di tempat ini dia harus bersikap layaknya suami istri yang romantis. Meskipun pada kenyataannya ia masih begitu canggung pada mantan majikannya itu.


"Kamu mau menu yang mana?" tanya Ray saat keduanya berada di hadapan meja prasmanan.


Suci mengamati sajian yang terhidang di atas meja berukuran cukup besar itu. Hampir semua menu asing baginya, akhirnya ia hanya memilih nasi putih dengan sayur sop.


"Itu saja isi piringmu?" tanya Ray.


"Semua menu yang berada di meja ini asing bagiku. Aku takut makanan ini tidak cocok di lidahku."

__ADS_1


"Oh, I see," ujar Ray.


"Ngomong-ngomong kalian sudah berapa lama menikah?" tanya salah seorang rekan bisnis Ray usai acara makan siang.


"Ehm … belum lama kok."


"Kenapa kamu tidak mengundangku?"


"Acara pernikahan kami hanya digelar secara sederhana dengan dihadiri keluarga terdekat saja."


"Nyonya Suci ini dulu lulusan universitas mana ya?" timpal seorang pria yang juga berada di dalam ruangan itu.


"Ehm … saya-saya, …"


"Suci ini lulusan universitas negeri di kota Y," jelas Ray seraya melingkarkan tangan kanannya di pundak Suci."


"Kebetulan adik saya juga lulusan salah satu universitas di kota itu. Nyonya Suci mengambil jurusan apa?"


"Ehm …"


"Jurusan ekonomi," jawab Ray cepat.


Suci menatap haru wajah suaminya itu.


Ray benar-benar mampu menjaga harga dirinya di hadapan rekan-rekan bisnisnya.


"Ah, betapa beruntungnya aku memiliki suami sepertinya," batinnya.


Tempat pukul tiga sore acara jamuan makan siang selesai. Ray pun mengajak Suci meninggalkan rumah mewah itu.


"Terima kasih, Mas …eh, Tuan," ucap Suci ketika dalam perjalanan pulang.


"Terima kasih untuk apa?"


"Tuan tidak mempermalukan saya di depan rekan-rekan bisnis Tuan."


Ray mengulas senyum tipis.


"Mana mungkin saya mempermalukan seorang perempuan yang sudah mencuri hati saya dan putra semata wayang saya."


Suci merasa jantungnya hampir saja melompat dari tempatnya saat Ray tiba-tiba meraih tangan kanannya.


"Jangan panggil saya tuan lagi, kita sudah menjadi suami istri 'bukan?"


"Ba-ba-ik, Tuan … eh … Mas."


"Nah, begitu 'kan lebih enak didengar."


Suci tersentak kaget saat Ray tiba-tiba menginjak rem mobilnya.


"Ada apa, Tuan? Eh … Mas."


"Coba kamu perhatikan laki-laki yang menyetir mobil itu." Ray menunjukkan jari telunjuknya pada seorang pengendara mobil yang berada tidak jauh dari mobilnya.


"Ya Allah, bukankah pria itu, …"

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2