
"Kenapa tidak bilang dari tadi?"
"Aku 'kan sudah bilang, jangan sekarang. Tapi Mas nggak mau berhenti."
"Kapan buka segel nya kalau begini?"
"Sabar ya, seminggu lagi."
"Itu 'kan lama sekali."
"Nggak lama kok."
"Oh ya, kamu ingin punya berapa anak?" tanya Ray.
"Ehm, …"
"Kalau aku ingin memiliki tujuh anak. Apalagi kalau semuanya kembar."
"Apa? Empat belas anak. Yang benar saja. Bagaimana aku merawat anak sebanyak itu."
"Kita 'kan bisa menggunakan jasa baby sitter."
"Nggak mau!"
"Kamu nggak mau punya anak banyak dariku?"
"Aku nggak mau memakai bantuan pengasuh. Jika punya anak nanti aku akan merawat dan membesarkannya dengan tanganku sendiri. Kalaupun aku butuh bantuan sepertinya mbok Asih sudah cukup membantu," ungkap Suci.
"Baiklah."
"Ehm … Mas. Rossa itu sudah menikah atau belum?" Tiba-tiba Suci mengalihkan pembicaraan.
"Kamu mau tahu banget ya." Ray terkekeh. "Memangnya kenapa kalau dia belum menikah atau sudah menikah?"
"Ya nggak apa-apa sih. Aku hanya mau tahu saja."
"Rossa sudah menikah dan memiliki anak."
"Syukurlah."
"Apa katamu barusan?"
"Ah, nggak kok. Aku kira dia belum menikah. Badannya masih bagus."
"Kamu pasti merasa lega dan berpikir jika dia sudah bersuami tidak akan menggodaku."
"Kalaupun dia menggoda itu tergantung bagaimana Mas menyikapinya. Kalau Mas menanggapinya ya mungkin, …"
"Kamu tidak perlu khawatir. Semenjak mengucapkan akad nikah denganmu aku sudah berjanji pada diriku dan pada Tuhanku untuk selalu membahagiakanmu. Aku tidak akan pernah menyakiti apalagi mengkhianatimu." Ray meraih tangan Suci lalu menggenggamnya erat.
Senyum mengembang di bibir Suci.
Kalimat demi kalimat yang meluncur dari bibir Ray sungguh menyejukkan hatinya. Dia benar-benar sudah jatuh cinta pada suaminya itu.
"Terima kasih, Mas. Aku sungguh beruntung memiliki suami sepertimu," ujar Suci. Ray menanggapi ucapan itu dengan mendaratkan sebuah kecupan lembut di keningnya.
"Sudah malam, ayo kita tidur."
Ray merengkuh tubuh Suci lalu mendekapnya. Malam itu keduanya terlelap dengan perasaan yang begitu damai dan diselimuti kebahagiaan.
****
Sementara itu di sebuah rumah kontrakan.
"Kamu kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Sofia pada suaminya, Sean yang tengah asyik memainkan ponselnya.
"Lihat ini." Sean memperlihatkan layar ponselnya pada Sofia.
"Astaga! Pria di foto itu Rayyan 'bukan? Dan siapa perempuan yang digendongnya?"
"Entahlah, yang jelas perempuan itu bukan istri barunya."
"Untuk apa kamu mengambil foto mereka?"
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak paham juga? Foto ini akan menjadi pemicu pertengkaran Ray dengan si pengasuh kampungan itu."
"Benar juga. Aku lebih memilih berpura-pura baik untuk mengambil simpati mereka. Ngomong-ngomong dari mana kamu mendapatkan nomor Suci?"
"Itu bukan hal yang sulit bagiku. Aku cukup mendatangi penjual pulsa yang berada di dekat rumah mereka. Apa kamu sudah bertemu dengan pengasuh itu?"
"Ya. Aku sudah bertemu dan mengobrol dengannya di sekolah Arsen. Jika aku terus mendekati perempuan itu, tidak lama lagi aku bisa masuk kembali ke dalam istana itu. Aku tidak sudi berlama-lama tinggal di rumah kontrakan sempit dan pengap ini."
"Sabar dong, Sayang. Semua butuh proses. Jangan sampai karena kita terlalu terburu-buru, rencana kita justru menjadi berantakan."
"Aku bersumpah akan membuat Ray dan keluarganya hancur," gumam Sofia.
*****
Pagi hari di rumah Ray.
Ray dan keluarganya kecilnya tengah sarapan bersama di meja makan ketika ponselnya berdering. Rupanya telepon dari salah satu rekan bisnisnya.
[Selamat pagi, Tuan Aldrick]
[Selamat pagi, Tuan Ray. Bagaimana dengan kabar anda? Sudah cukup lama kita tidak bertemu.]
[Kabar saya baik, Tuan.]
[Begini, Tuan. Saya ingin menawarkan kerjasama dengan perusahaan Tuan]
[Kerjasama?]
[Benar. Tapi, saya rasa kita tidak biss membicarakannya di sambungan telepon. Saya mengundang anda untuk datang ke kantor saya pagi ini.]
[Pagi ini?]
[Benar. Saya harap jam sembilan pagi ini anda sudah tiba di kantor saya. Selamat pagi]
[Tunggu, Tuan …"]
Tiba-tiba panggilan terputus.
"Siapa yang menelepon, kawan Ayah ya?" tanya Arsen. Ray menganggukkan kepalanya.
"Ya. Dia menawarkan kerjasama dengan perusahaanku. Tapi sepertinya aku akan menolaknya."
"Kenapa?"
"Aku 'kan sudah janji untuk ikut di tampil di acara pentas seni di sekolah Arsen."
"Mas kemarin baru kehilangan proyek besar 'bukan? Kenapa sekarang ada tawaran kerjasama malah ditolak. Tidak masalah jika Mas memang tidak bisa datang ke sekolah Arsen. Yang terpenting sudah ada aku yang menemaninya saat di atas panggung."
"Benar, Yah. Kalau Ayah mau berangkat bekerja tidak apa kok. Aku sama ibu saja," sela Arsen.
"Tapi, Nak."
"Ayah 'kan bekerja untuk aku dan ibu juga. Tidak apa-apa, Ayah pergi temui kawan ayah saja."
"Terima kasih untuk pengertiannya, Sayang," ujar Rayyan.
"Aku sudah selesai, Bu," ucap Arsen setelah meneguk gelas berisi susu yang tinggal separuh.
"Ibu juga sudah selesai," ucap Suci.
Beberapa saat kemudian terdengar suara seseorang mengetuk pintu depan.
"Itu pasti mas Davin. Ayo, Bu. Kita berangkat sekarang. Jangan sampai terlambat," ucap Arsen penuh semangat.
Dia pun lantas berlari menuju ruang tamu.
Rupanya benar, Davin sopir pribadi Arsen datang menjemputnya.
"Selamat pagi, Tuan Rayyan… Nyonya … eh, Bu Suci," sapanya.
"Selamat pagi."
"Loh, Bu Suci mau keluar rumah juga?" tanya Davin.
__ADS_1
"Hari ini saya ke sekolah Arsen untuk mendampinginya di acara pentas seni," jelas Suci.
"Oh, begitu rupanya."
"Kamu mencari siapa?" Suci keheranan saat mendapati Davin celingukan seolah tengah mencari seseorang.
"Ah, ti-ti-tidak, Bu. Saya mencari jam."
"Sekarang jam setengah tujuh, Mas," timpal Arsen sembari memandang jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Oh, ya sudah, mari kita berangkat," ucap Davin.
"Kami berangkat dulu, Mas." Suci meraih tangan Ray lalu menciumnya penuh takdzim dan diikuti Arsen setelahnya.
"Hati-hati."
Suci, Arsen, dan Davin beranjak dari teras lalu menuju mobil yang berada di halaman rumah.
Setibanya di sekolah.
Sekolah tempat Arsen menuntut ilmu adalah Sekolah Internasional. Sudah pasti siswa yang bersekolah di sana tergolong dari keluarga yang berada. Ini adalah kali pertama Suci menginjakkan kaki di sekolah tersebut.
Entah benar atau hanya perasaannya saja, hampir semua orangtua yang tiba lebih dulu di sana memandangnya sebelah mata. Sapaan ramahnya justru ditanggapi dengan wajah sinis dari mereka.
"Arsen, ini ibu baru kamu ya?" tanya salah satu orangtua siswa.
"Benar, Bu."
"Oh, saya pikir asisten rumah tangga di rumahmu," cibir perempuan berpenampilan modis itu.
"Apa Ibu nggak tahu, ibunya Arsen ini 'kan dulunya pengasuhnya yang berasal dari kampung," bisik ini lainnya.
"Ibu jangan mengadi-ngadi deh. Masa iya pengusaha sekelas pak Rayyan menikahi perempuan kampung."
"Eh, dibilangin ngeyel. Kalau nggak percaya tanya sendiri sama Arsen."
"Arsen, memang benar ya, ibu baru kamu ini dulu pengasuhmu?" tanya salah satu ibu.
"Benar, Bu. Memangnya kenapa kalau ibuku ini adalah pengasuhku? Yang penting dia baik dan sayang sama aku."
"Eh, Bu. Jangan-jangan ayahnya Arsen dipelet sama dia," bisik salah satu ibu yang rupanya tetap terdengar oleh Suci.
"Saya memang pernah menjadi pengasuh Arsen. Tapi saya tidak suka dengan tuduhan Ibu jika saya melakukan hal serendah itu. Saya masih memiliki iman," bantah Suci.
"Menurut saya tidak wajar kalau ayahnya Arsen tertarik dengan perempuan kampung sepertimu. Pantasnya pak Rayyan bersanding dengan perempuan yang kaya dan terpelajar."
"Saya memang perempuan kampung yang tidak berpendidikan tinggi, tapi saya tahu bagaimana cara menghargai dan menghormati orang lain. Percuma saja penampilan berkelas tapi mulut seperti tidak pernah disekolahkan."
"Apa kamu bilang?! Dasar perempuan tidak tahu diri! Sudah miskin, belagu lagi!"
"Sikap saya tergantung bagaimana sikap anda pada saya. Anda sopan, saya lebih sopan. Begitu pun sebaliknya."
Perdebatan terhenti saat tiba-tiba seseorang menghampiri mereka.
"Ini ada apa Ibu-Ibu? Acara pentas seni sudah mau dimulai, kenapa kalian masih mengobrol di sini?"
Rupanya wali kelas Arsen yang biasa disapa miss Livia.
"Ini, Miss. Mereka menghina ibu saya," jelas Arsen.
"Apa benar begitu?" tanya perempuan bertubuh ramping itu.
Semua ibu-ibu yang berada di tempat itu terdiam sambil menundukkan wajahnya.
"Sebagai orangtua, seharusnya Ibu-ibu bisa memberi contoh yang baik di hadapan anak-anak kita. Ibu harus tahu ucapan mana yang pantas didengar atau tidak oleh mereka. Saya harap ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya saya mendengar hal seperti ini. Mari kita masuk ke dalam, acara akan segera dimulai."
Satu per satu ibu-ibu membubarkan diri lalu masuk ke dalam aula tempat diadakannya pertunjukan pentas seni. Pun dengan Suci. Dia menggandeng tangan Arsen lalu mengajaknya masuk ke dalam aula. Di saat memasuki ruangan itulah hak tak terduga terjadi. Perempuan yang tadi mencibir Suci habis-habisan tiba-tiba saja terjatuh ke lantai. Usut punya usut salah satu hak sepatunya patah hingga membuat kakinya keseleo.
"Kalau begini Ibu tidak bisa tampil di atas panggung. Ibu harus beristirahat di klinik sekolah," ucap miss Livia.
"Ibu … kita 'kan sudah berlatih keras menyanyi, masa tidak bisa tampil. Hu … hu … hu …" Tangis seorang bocah laki-laki yang berada di samping perempuan itu tiba-tiba pecah.
"Sepertinya inilah definisi dari kalimat karma dibayar kontan," batin Suci.
__ADS_1
Bersambung …