
"Nyonya Sofia, tunggu!" seru Siska.
Wanita paruh baya itu pun menoleh ke arah suara.
"Siapa kamu? Dan bagaimana bisa tahu nama saya?" tanyanya.
"Nama saya Siska."
"Siska?"
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Kita memang belum pernah bertemu."
"Lantas, dari mana kamu bisa tahu nama saya?"
"Pak Bondan yang memberitahu. Saya asisten rumah tangga di rumah tuan Ray."
"Pengganti Zola rupanya. Apa kamu sudah lama bekerja di rumah itu?"
"Baru sekitar satu bulan, Nyonya."
"Apa ada yang hal yang ingin kamu bicarakan?"
"Saya memang belum tahu banyak tentang keluarga tuan Ray, tapi saya sempat beberapa kali mendengar tuan Ray ataupun Suci menyebut nama nyonya. Maaf, sepertinya mereka kurang menyukai Nyonya."
"Kamu bukan siapa-siapa, jadi saya rasa kamu tidak berhak tahu apapun tentang keluarga Ray."
"Bagaimana jika kita membahas mantan pengasuh kampungan itu?"
"Bagaimana kamu bisa tahu jika Suci adalah mantan pengasuh Arsen?"
"Tentu saja saya tahu. Saya bahkan mengenal betul siapa perempuan itu."
"Apa dia kawanmu?" tanya Sofia.
Siska menggelengkan kepalanya.
"Suci pernah menjadi saudara tiri saya."
"Saudara tiri?"
"Benar. Bapaknya dan almarhumah ibu saya pernah menikah meskipun pada akhirnya bercerai," papar Siska.
"Apa Suci yang mengajakmu bekerja di rumah ini?" tanya Sofia.
"Tentu saja tidak. Saya sedang membutuhkan uang untuk biaya kuliah saya. Eh, dia malah menawari saya untuk bekerja di rumahnya sebagai pembantu. Sebenarnya saya keberatan, tapi saya terima daripada saya putus kuliah. Sejak jadi nyonya di rumah itu dia berubah angkuh dan sering memperlakukan saya seenaknya. Saya tetap bersabar karena bagaimanapun saya butuh penghasilan untuk membiayai kuliah saya sendiri."
"Astaga. Kelihatannya saja baik dan polos, ternyata dengan saudara berbuat setega itu."
"Kelihatannya saja baik, tapi Suci itu suka mencari perhatian. Mungkin itulah sebabnya tuan Ray mau menikahinya."
"Jika boleh jujur saya tidak pernah menyetujui pernikahan mereka.
"Saya juga tidak habis pikir apa yang dilihat tuan Ray dari perempuan itu. Penampilannya saja kuno begitu, sekolah nya juga hanya sampai SMP saja."
"Entahlah, mungkin benar cinta buta memang bisa membuat seseorang kehilangan akal sehatnya," ujar Sofia.
"Ehm … sekarang Nyonya tinggal di mana?" Siska mengalihkan pembicaraan.
"Saya dan suami saya tinggal di rumah kontrakan."
"Apa Nyonya tidak ingin tinggal di rumah itu lagi?"
"Tentu saja. Sebenarnya saya sudah lelah tinggal di rumah kontrakan sempit dan pengap itu."
"Meskipun hanya ibu angkat, saya rasa Nyonya lebih pantas tinggal di rumah tuan Ray daripada perempuan kampung itu."
"Saya pun sedang mencari cara bagaimana agar saya bisa masuk kembali ke dalam rumah itu."
"Sepertinya saya bisa bantu."
"Bagaimana caranya?"
Siska mendekatkan wajahnya ke arah Sofia lalu membisikkan sesuatu di telinganya.
"Jangan gila kamu! Saya pernah menjadi tahanan dalam waktu yang cukup lama, saya tidak ingin masuk ke sana untuk ke dua kalinya."
"Nyonya tahu 'kan bagaimana kedekatan Suci dengan tuan muda Arsen? Kita harus memikirkan bagaimana caranya agar membuat mereka menjauh."
"Siska! Siska!" panggil mbok Asih dari arah teras.
"Wanita menjengkelkan itu pasti mau menyuruh ini dan itu. Oh ya, saya boleh minta nomor handphone Nyonya 'kan? Sebenarnya masih banyak yang ingin says bicarakan."
"Mana handphone mu?"
__ADS_1
Siska mengambil handphone dari saku celananya lalu menyodorkannya pada Sofia. Dia pun lah mencatat nomor handphone nya di buku telepon.
"Handphone mu bagus juga."
"Ehm … handphone ini adalah pemberian pacar saya."
"Siska! Siska!" Lagi-lagi mbok Asih memanggilnya.
"Maaf, Nyonya. Saya masuk ke dalam dulu sebelum wanita tua itu keluar tanduknya. Oh ya, terima kasih nomor nya, nanti saya hubungi."
Siska berlalu dari hadapan Sofia lalu masuk kembali ke dalam rumah itu.
"Ada apa sih, Mbok. Teriak-teriak gitu. Telingaku mas normal kok."
"Kamu dari mana saja? Kenapa kamu meninggalkan setrika dalam keadaan menyala? Kamu mau rumah ini kebakaran?" cecar mbok Asih.
"Waktu mau keluar tadi setrikaannya udah kumatiin kok," bantah Siska.
"Jadi kamu mau bilang kalau setrikaan itu menyala sendiri? Kecerobohanmu bisa berakibat fatal."
"Iya, iya. Maaf, mungkin tadi aku lupa mencabutnya. Apa Mbok memanggilku hanya untuk memberitahu hal ini saja?"
"Gas di rumah habis. Kamu mau 'kan membelinya di warung depan itu?"
"Apa? Mbok menyuruhku membeli gas? Tabung nya 'kan berat. Aku pasti tidak kuat mengangkatnya."
"Ya Allah Gusti. Memangnya berat tabung berapa kilo? Tidak sampai sepuluh kilo 'bukan? Masa segitu saja tidak kuat."
"Malas ah! Aku baru selesai menyetrika, masih capek."
"Terserah! Kalau kamu tidak mau aku bilang pada tuan Ray." Mbok Asih berlalu dari hadapan Siska dan berniat menuju meja telepon di ruang tamu. Namun Siska menahannya.
"Eh, jangan, Mbok. Mana tabung gas nya? Biar aku tukar dengan yang penuh."
"Kamu nanya? Tentu saja tabung gas nya ada di dapur. Oh ya, ini uangnya. Awas saja kalau kembaliannya kamu pakai."
"Astaga. Punya mulut kok gitu banget sih!" gerutu Siska.
"Ya sudah, sana cepat ambil tabung gas nya."
"Kenapa bukan Mbok saja sih yang ambil?"
"Aku mau istirahat."
"Idih, enak banget nyuruh-nyuruh. Dia nya mau selonjoran," gerutu Siska lagi.
"Iya, iya. Ini juga sudah jalan."
Siska berlalu dari hadapan mbok Asih lalu berjalan menuju dapur. Ia tidak punya pilihan selain mengangkat tabung gas kosong itu lalu menukarnya dengan yang baru.
"Tumben kamu yang belanja, biasanya mbok Asih," ucap pemilik toko.
"Mbok Asih sudah tua, kasihan kalau mengangkat barang berat."
"Kamu baik sekali. Oh ya, selain tabung gas mau beli, kamu beli apa lagi?"
Siska mengedarkan pandangannya di toko yang cukup besar itu. Entah mengapa ia ingin sekali makan eskrim.
"Cuaca hari ini terik sekali. Pasti segar kalau makan es krim," batinnya.
"Sama es krim nya satu cup, Bu."
"Semuanya jadi tiga puluh ribu rupiah," ucap pemilik toko.
Siska mengambil selembar uang pecahan lima puluh ribu dari dalam saku celananya lalu menyodorkannya pada sang pemilik toko.
"Ini kembaliannya, terima kasih."
"Apa saya boleh menumpang duduk di sini sebentar, Bu?" tanya Siska.
"Oh, Silahkan."
Siska duduk di bangku panjang itu sembari menikmati es krim yang yang baru saja dibelinya.
"Saya tidak menyangka jika pengganti nyonya Arini adalah pengasuh anaknya sendiri." Bu Kania pemilik warung memulai obrolan.
"Ya, begitulah, Bu. Saya pun heran kenapa tuan Ray memilih menikahi Suci."
"Tunggu. Dari caramu menyebut namanya, sepertinya kamu mengenal siapa istri baru tuan Ray itu."
"Tentu saja aku mengenalnya, bahkan begitu mengenalnya."
"Sungguh?"
"Sebenarnya Suci masih kerabat saya."
__ADS_1
"Bu Suci menjadikan kerabatnya sendiri sebagai pembantu di rumahnya? Saya tidak menyangka jika dia setega itu."
"Kenyataannya memang begitu. Saya memilih tetap bertahan di rumah itu meskipun saya seringkali mendapatkan perlakuan yang kurang baik darinya."
"Perlakuan kurang baik bagaimana maksudmu? tanya bu Kania penuh selidik.
"Mentang-mentang sudah menjadi nyonya, dia seperti kacang lupa akan kulitnya. Dia seringkali berkata kasar pada saya dan memarahi saya setiap saya melakukan kesalahan sekecil apapun."
"Astaga. Kelihatannya saja baik dan tutur bicaranya lembut. Tapi ternyata begitu."
"Saya tidak bermaksud menjelek-jelekkannya. Tapi setidaknya perasaan saya sedikit lebih lega setelah berbagi dengan Ibu."
"Ya. Saya paham bagaimana perasaanmu."
"Ya sudah, Bu. Saya permisi dulu. Pekerjaan di rumah masih banyak," ucap Siska. Dia lantas membuang cup es krim yang kini sudah kosong ke dalam tempat sampah. Tidak lama kemudian ia pun meninggalkan warung tersebut.
"Sialann wanita tua itu! Aku disuruh mengangkat tabung gas seberat ini."
Di sepanjang perjalanan pulang Siska tak henti menggerutu kesal hingga tiba-tiba salah satu kakinya tersandung batu. Alhasil gadis itu pun jatuh tersungkur. Sementara tabung berbobot sekitar 5 kilogram itu jatuh menggelinding.
"Kamu nggak apa-apa?"
Siska mendongakkan kepalanya saat tiba-tiba seorang laki-laki muncul dan mengulurkan tangannya.
"Ah, tidak apa. Hanya kakiku sedikit lecet."
"Jika tidak keberatan, aku bisa mengobati lukamu."
Tiba-tiba Siska mengamati wajah dan penampilan laki-laki itu. Meski tak setampan Davin, namun penampilannya begitu rapi dengan kemeja berdasi.
"Bagaimana? Kamu mau 'kan? Rumahku di sana." Laki-laki itu mengacungkan jari telunjuknya pada sebuah rumah yang berada tidak jauh dari tempat itu.
"Tidak usah, nanti aku merepotkan."
"Sama sekali tidak. Nanti ada mbak yang membantu. Nama kamu siapa? Sepertinya kamu baru tinggal di sini."
"Namaku Siska. Ehm … aku asisten rumah tangga di rumah tuan Rayyan."
"Oh, tuan Ray yang menikahi pengasuh anaknya itu 'bukan?"
Siska menganggukkan kepalanya.
"Oh ya, namaku Axel. Ya sudah, biar kubawakan tabung nya."
Laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahunan itu pun lantas mengangkat tabung gas lalu membawanya menuju rumahnya. Siska di belakangnya mengekor.
Beberapa saat kemudian keduanya tiba di rumah Axel.
"Ayo masuk. Biar kupanggilkan bibi."
Axel masuk ke dalam rumahnya. Tidak lama kemudian ia kembali bersama seorang wanita berusia empat puluh tahunan. Siska tampak tercengang saat memandang wajahnya.
"I-I-Ibu?"
"Ibu?" Wanita berdaster itu mengerutkan keningnya.
"Namanya mbak Rini."
"Ma-ma-af, Mbak. Wajah Mbak sangat mirip dengan almarhumah ibu saya," ucap Siska.
"Oh, begitu. Mari saya obati lukanya." Mbak Rini menggandeng tangan Siska lalu mengajaknya duduk di sofa.
"Kamu tinggal di mana?" tanya mbak Rini.
"Ehm … aku-aku tinggal di rumah tuan Rayyan."
"Oh, pak Ray." Mbak Rini meneteskan obat di luka Siska lalu menutupnya dengan plester setelahnya.
"Kenapa kamu bisa jatuh?"
"Ehm … aku-aku keberatan membawa tabung gas itu."
"Beratnya 'kan hanya 5 kilo, masa tidak kuat sih." Mbak Rini terkekeh.
"Astaga. Tidak hanya wajahnya saja yang mirip dengan ibu. Bahkan caranya tertawa juga. Apa dia ibu? Tapi mana mungkin. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat ibu mengalami kecelakaan dan meregang nyawa. Apa dia saudara kembar ibu?" gumam Siska.
"Ehm … maaf, Mbak. Apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Kamu mau tanya apa?"
"Mbak Rini berasal dari mana?"
"Saya berasal dari kota S. Memangnya kenapa?"
"Ah, dia bukan saudara kembar ibu. Tapi setidaknya dengan memandang wajahnya kerinduanku pada almarhum ibu bisa sedikit berkurang," batin Siska.
__ADS_1
Bersambung …