Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 54


__ADS_3

"Kenapa Tuan memandangku begitu?"


"Memangnya siapa yang memandangmu? Sedari tadi aku memandang ke depan biar mobilku tidak menabrak," bantah Ray.


"Apa rumahmu masih jauh?" tanyanya kemudian.


"Mungkin sekitar satu jam lagi."


Suci cepat-cepat menutup mulutnya saat tiba-tiba ia menguap.


"Kalau kamu mengantuk, tidur saja. Nanti kubangunkan jika sudah sampai."


"Memangnya Tuan tahu di mana rumah saya?"


"Desa Makmur 'bukan? Aku bisa mencarinya dengan ponsel pintarku."


Suci tak menanggapi lagi ucapan Ray. Ditolehnya gadis yang duduk di sampingnya itu.


"Pantas saja diam, tidur rupanya. Sudah tahu mau bepergian jauh, kenapa hanya pakai kaos lengan pendek?" gumam Ray.


Ia pun melepas jaketnya lalu dikenakan pada tubuh Suci.


Suci tersentak kaget saat salah satu ban mobil Ray melintasi jalanan berlubang.


"Kita sudah mau sampai, Tuan."


Kemunculan mobil mewah di depan rumah Suci tentu saja membuat warga yang tengah melayat di rumahnya keheranan sekaligus penasaran. Mereka semakin tercengang saat melihat gadis yang keluar dari mobil itu adalah Suci, anak sulung pak Bimo.


"Wah, hebat ya. Baru sebentar kerja di kota sudah bawa pulang mobil mewah."


"Apa Suci menikah dengan laki-laki kaya?"


Bisik-bisik itu sempat tertangkap telinga Suci saat ia melintas di hadapan warga.


"Assalamu'alaikum, semuanya," sapa Ray sesaat setelah turun dari mobilnya.


"Wa'alaikumsalam."


"Waduh, bejo temen uripmu, Nduk. Nemu bojo bagus lan sugih," ucap salah satu tetangga Suci.


(Waduh, beruntung sekali hidupmu, Nak. Ketemu suami tampan dan kaya)


"Mbak Suci!" Murni dan Fitri terlihat keluar dari dalam rumah, mereka lantas menghambur ke dalam pelukan sang kakak.


"Budhe … Mbak. Budhe. Hu … hu … hu…"


"Iya, Mbak sudah tahu."


Dengan langkah lesu Suci memasuki ruang tamu. Tangisnya seketika pecah saat memandang jenazah Tini yang kini telah terbujur kaku di atas lantai yang hanya dilapisi tikar tipis.


Disingkapnya kain tipis yang menutupi wajah sang bibi, sosok perempuan yang sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri itu.


"Budhe … aku minta maaf jika aku punya banyak salah," ucapnya parau.


"Maaf, Pak Bimo. Jenazah harus dimakamkan secepatnya, sebentar lagi Maghrib," ucap salah satu warga.


"Sudah Nduk. Relakan budhemu, jangan memberatkan langkahnya," ucap sang ayah.


"Ayo, Mbak, kita ke makam," ucap Murni.


"Mbak nggak ikut, Dek. Mbak pasti tidak kuat melihat budhe dimasukkan ke liang lahat."


"Ya sudah, biar aku dan bapak saja yang ke makam. Mbak Suci dan dan Fitri di rumah saja. Oh ya laki-laki itu siapa?"


"Namanya tuan Rayyan. Dia adalah ayah dari Arsen, bayi yang kuasuh di kota."


Usai pemakaman.


"Maaf jika Suci merepotkanmu mengantarnya jauh-jauh ke rumah ini," ucap Bimo


"Tidak apa, Pak. Saya hanya khawatir Suci tidak mendapatkan bus jika pulang sore tadi."


"Oh ya, Pak. Kalau boleh aku tahu apa yang sebenarnya terjadi pada budhe Tini? Sepertinya tidak mungkin jika beliau meninggal dunia tanpa sebab," ucap Suci.


"Sebenarnya … sebenarnya budhe mu itu meninggal dunia karena bu Panji."


"Bu Panji? Memangnya apa yang dilakukannya pada budhe?"


Bimo membuang nafas.


"Semuanya berawal saat bapak melihat bu Panji dan kedua anaknya pulang dari kali."


"Kali? Memangnya apa yang dilakukan mereka di kali?" tanya Suci.


"Kamu tahu, semenjak pak Panji dipenjara, hidup bu Panji dan kedua anaknya sangat memprihatinkan. Usaha mereka bangkrut, bahkan untuk bertahan hidup mereka ini hidup sebagai pemecah batu di kali. Tadi siang Bapak tidak sengaja melihat mereka melintas di jalan waktu papak pulang dari mencari rumput. Anak bungsu bu Panji pingsan karena kelelahan. Karena merasa iba,bapak membonceng mereka dan membawanya ke rumah bidan desa. Tapi saat sampai di sana rumah bidan itu kosong sehingga Bapak memutuskan untuk membawa mereka ke rumah kita karena bapak berpikir ada adikmu dan budhemu yang bisa membantu merawat anaknya. Akan tetapi bapak tidak menyangka jika budhemu berteriak histeris saat melihat keberadaan bu Panji rumah ini. Tiba-tiba saja dia menyerangnya. Rupanya bu Panji tidak mau tinggal diam. Dia membalas serangan budemu dengan mencekiknya seperti orang kesetanan. Bapak sudah berusaha melalui pertengkaran mereka tetapi gagal. Budhemu meninggal di tangan Bu panji, Nduk," ungkap Bimo.


"Ya Allah, Malang benar nasib budhe. Lantas, sekarang di mana Bu Panji dan kedua anaknya?"


"Bu Panji sudah ditahan pihak berwajib, sementara kedua anaknya tinggal di rumah kepala desa. Sepertinya bapak kepala desa berkeinginan untuk merawat mereka."

__ADS_1


"Aku tidak menyangka Jika suami istri itu mendekam di penjara karena mendzalimi orang yang sama."


"Ehm … maaf, Nak ehm, …"


"Nama saya Rayyan, Pak."


"Maaf jika malam ini Nak Rayyan harus menginap di tempat saya yang sederhana seperti ini."


"Oh, tidak apa, Pak. Ini sudah lebih dari cukup." Ray merendah.


Malam itu Suci tidur bersama kedua adiknya, sementara Rayyan tidur di kamar bekas almarhumah Tini.


Rayyan tengah tertidur pulas ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan setengah sadar dia mengangkat panggilan itu.


[Halo … halo …]


[Tuan … Tuan]


Tiba-tiba saja panggilan terputus.


"Mbok Asih? Kenapa dia menelponku dini hari begini?" gumamnya.


Ray mencoba menghubungi kembali nomor telepon rumahnya, aneh, ia tidak dapat menghubungi nomor itu. Dia juga menghubungi nomor ponsel Zola tetapi selalu gagal. Perasaan tidak nyaman pun seketika menyeruak.


"Ada apa ini?" gumamnya.


Ray beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri kamar Suci. Iya berniat untuk kembali ke kota saat itu juga.


"Suci," panggilnya seraya mengetuk pintu kamar.


Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Namun bukan Suci yang keluar, melainkan Murni.


"Maaf membangunkanmu dini hari begini. Tetapi saya dan kakakmu harus kembali ke kota saat ini juga," ucap Ray.


"Ehm … anu, Pak. Mbak Suci dari semalam demam. Saya sudah mengompresnya tetapi panasnya tak kunjung turun."


"Boleh saya periksa?"


Murni membuka pintu sedikit lebih lebar dan membiarkan Ray masuk ke dalam kamarnya. Ray lantas meletakkan punggung tangannya di kening Suci. Ternyata benar suhu badannya begitu panas. Ia bahkan menggigil kedinginan.


"Tu-Tu-Tuan."


"Tadinya saya berniat mengajakmu kembali ke kota saat ini juga. Akan tetapi dengan keadaanmu yang seperti ini lebih baik saya menundanya," ucap Ray.


"Memangnya kenapa Bapak mengajak mbakyu saya pulang ke kota dini hari begini?" tanya Murni.


"Saya tidak apa-apa kok Tuan."


Suci melepas kain kompres dari keningnya lalu beranjak dari kasur. Namun tiba-tiba tubuhnya oleng. Beruntung Ray dengan sikap menopangnya.


"Kamu ini sudah kurang sehat, lebih baik kita berobat sekarang. Semoga bidan desa ada di rumahnya."


"T-t-tapi, Tuan."


"Kali ini tidak usah membantah!" tegas Ray.


Kegaduhan yang terjadi di kamar Murni pun memaksa Pak Bimo untuk keluar dari Kamarnya.


"Ada apa ini? Loh, kalian mau ke mana?" tanyanya saat mendapati Murni yang tengah memapah Suci keluar dari dalam kamarnya.


"Mbak Suci sakit, Pak. Aku sudah mencoba mengompresnya tetapi panasnya tak kunjung turun. Pak Rayyan akan membawanya berobat ke bidan desa."


"Kamu di rumah saja, Nduk. Biar bapak yang mendampingi mbakyumu," ucap pak Bimo. Gadis yang beranjak remaja itu mengangguk paham.


Ketiganya pun lantas berangkat menuju rumah bidan desa.


"Assalamu'alaikum," sapa pak Bimo dari luar rumah.


Beberapa saat kemudian pintu rumah terbuka.


"Waalaikumsalam, Pak Bimo? Suci?"


"Kami minta maaf membangunkan Ibu bidan pagi-pagi begini. Badan cuci panas, Murni sudah mengompresnya namun panasnya tak kunjung turun," jelas pak Bimo.


"Mari, silahkan masuk."


Mereka pun lalu masuk ke dalam rumah bidan tersebut.


"Anak saya tidak apa-apa 'kan, Bu?" Tanya Pak Bimo saat setelah perempuan bertubuh gempal itu memeriksa Suci.


Bidan yang biasa dipanggil Bu Dahlia itu mengulas senyum.


"Tidak apa kok Pak. Puteri bapak hanya demam biasa. Saya sudah memberinya obat penurun panas. Akan tetapi saya menyarankan Suci untuk banyak beristirahat. Jangan dulu bepergian ataupun beraktivitas berat," jelasnya.


Pak Bimo mengangguk paham.


"Ini obat untuk Suci. Saya harap dia rutin meminumnya," ucap bidan itu seraya menyodorkan sebuah kantong plastik ke arah pak Bimo.


"Berapa, Bu?" tanya Rayyan.

__ADS_1


"Tiga puluh ribu rupiah, Mas."


"Tidak usah, Nak. Biar bapak saja yang membayar biaya berupa Suci," ucap pak Bimo.


"Tidak apa." Ray mengeluarkan uang pecahan 100.000 dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada bidan tersebut.


"Uang kecil saja, Mas."


"Tidak apa, ambil saja kembaliannya."


"Begini saja, besok uang kembaliannya saya titipkan pada Pak Bimo. Ngomong-ngomong Mas ini siapa? Sepertinya bukan warga kampung sini."


"Saya memang bukan warga sini, Bu. Rumah saya di kota. Kebetulan Suci ini bekerja di rumah saya sebagai pengasuh putera saya. Saya mengantarnya pulang karena budhe nya meninggal dunia. Tadi sudah hampir sore, saya khawatir dia tidak mendapatkan bis menuju kampung ini," jelas Ray.


"Oh, begitu."


"Ya sudah, Bu, kami permisi dulu."


"Semoga lekas sembuh."


"Terima kasih, Bu, Assalamualaikum."


Ray,Suci dan pak Bimo pun lalu meninggalkan rumah bidan desa tersebut.


"Dengar kata bidan tadi, kamu harus banyak istirahat dan jangan bepergian," ucap Ray."


"T-t-tapi, Tuan."


"Tidak usah membantah."


"Jadi bagaimana, Nak? Sepertinya Suci tidak bisa kembali ke kota hari ini," ucap pak Bimo.


"Tidak apa, Pak. Saya akan kembali ke sana sendiri. Jadi bisa menyusul jika dia sudah sembuh."


"Saya Tidak apa-apa kok, Tuan. Kita kembali ke kota sekarang saja," ucap Suci.


"Tidak usah membantah!" tegas Ray yang untuk membuat Suci terdiam.


"Nak Rayyan berangkat ke kota nya setelah Subuh saja. Biasanya di jam-jam itu jalan sudah cukup ramai," ucap pak Bimo.


"Baik, Pak."


**"**


"Saya berangkat kota dulu, Pak," ucap Rayyan.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa ikut pulang hari ini," ucap Suci.


"Tidak apa, kamu istirahat saja biar cepat sembuh."


"Hati-hati."


Ray pun lantas meninggalkan rumah Suci dan berangkat ke kota.


Di sepanjang perjalanannya Ray mencoba untuk terus menghubungi nomor telepon rumahnya dan nomor ponsel Zola, namun tak ada satupun yang tersambung.


Tepat pukul tujuh pagi Ray tiba di rumahnya. Ray membunyikan klakson mobilnya berulang, namun Pak Bondan yang berjaga di pos security tidak kunjung muncul. Ia pun terpaksa turun dari mobilnya dan membuka sendiri pintu gerbangnya.


"Pak Bondan … Pak Bondan," panggilnya dari pintu pos security.


Beberapa saat kemudian pria paruh baya itu pun terbangun.


"Astaghfirullahaldzim! Ma-ma-af, Tuan. Semalaman rasanya saya mengantuk sekali. Saya tidak mendengar saat Tuan membunyikan klakson."


"Aneh! Tidak biasanya pak Bondan begini," batin nya.


"Loh, Tuan pulang sendiri? Di mana mbak Suci?" tanya pak Bondan saat mendapati mobil milik sang tuan kosong.


"Suci sedang sakit di kampung. Saya menyuruhnya untuk menyusul jika dia sudah sembuh."


Setelah memarkir mobilnya di halaman, Ray pun lantas masuk ke dalam rumahnya. Entah mengapa dia merasa suasana rumah pagi itu begitu berbeda dari biasanya. Mbok Asih yang biasanya paling rajin di rumah itu pun tidak terdengar suaranya.


"Mbok … mbok … apa Mbok belum bangun?" Suara Ray terdengar dari depan pintu kamar mbok Asih.


Tidak ada jawaban.


"Mbok … Mbok," panggilnya lagi.


"Astaghfirullahaldzim! Tu-Tu-Tuan! Tuan muda Arsen! Ya Allah!"


"Ada apa, Mbok? Kenapa Mbok panik begitu?" tanyanya.


Bersambung …


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading..

__ADS_1


__ADS_2