
"Ada apa, Mbok?" Ray mengulangi pertanyaannya.
"Tuan muda! Tuan muda!"
"Kenapa dengan Arsen? Mbok tenang dulu, tarik nafas, baru cerita," ucap Ray.
"Tuan Arsen diculik. Hu … hu … hu …"
"Diculik?! Mata Ray membulat. "Sebenarnya ada apa, Mbok. Cerita yang jelas. Jangan membuat saya bingung begini."
Mbok Asih mengatur nafasnya yang sempat tak beraturan.
"Tadi malam saya mengajak tuan muda Arsen tidur di kamar ini."
"Lantas, bagaimana Arsen bisa diculik? Di luar ada Pak Bondan yang berjaga, bagaimana bisa penculik masuk ke dalam rumah ini?"
Ingatan mbok Asih pun kembali pada kejadian semalam.
"Malam itu tidak seperti biasanya, Zola membuatkan minuman hangat untuk saya. Tidak tahu mengapa setelah meminum minuman itu rasanya mata ini begitu berat hingga saya pun tertidur pulas. Saya terbangun saat mendengar suara benda jatuh dari arah ruang tamu. Alangkah terkejutnya saat saya memeriksa ruangan itu. Ada dua orang pria bertopeng baru saja turun dari lantai 2. Sepertinya mereka mengambil sesuatu dari sana. Saya cepat-cepat menghubungi Tuan, saya belum sempat berbicara, namun mereka merebut gagang telepon saya dan memutus kabel telepon. Saya cepat-cepat berlari menuju kamar untuk menyelamatkan tuan Arsen. Namun saya kalah cepat. Salah satu pria itu pun membawa paksa tuan muda keluar dalam kamar saya. Saya mencoba merebut paksa kembali tuan muda. Namun salah satu dari pihak itu justru membungkam mulut saya dengan kain yang berbau menyengat. Saya tidak ingat apapun lagi setelahnya," ungkap mbok Asih.
"Bagaimana dengan Zola?"
__ADS_1
"Entahlah saya belum memeriksa kamarnya."
Ray beranjak dari kamar mbok Asih dan bergegas menuju ruang kerjanya yang berada di lantai dua. Matanya terbelalak saat mendapati ruang kerjanya begitu berantakan seperti ada seseorang yang sengaja mengobrak-abriknya. Ray memeriksa file-file penting yang ia simpan di dalam lemari. Ia terduduk lemas di kursi malasnya saat mendapati surat-surat penting dan sertifikat tanah miliknya raib.
Tak hanya itu, perampok itu juga berhasil membobol brankasnya.
"Bagaimana, Tuan? Apa ada yang hilang?" tanya mbok Asih yang baru saja muncul di ruangannya.
"Semuanya hilang, Mbok," ucap Ray parau.
"Astaghfirullahaldzim." Seketika tubuh renta mbok Asih terasa lemas. Ia pun lantas luruh di lantai.
"Tuan mau kemana?" tanya mbok Asih saat mendapati Ray tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya.
"Saya harus memeriksa Zola."
Ray meninggalkan ruang kerjanya dan bergegas menuju kamar Zola yang berada di bagian belakang rumahnya. Alangkah terkejutnya saat mendapati juru bersih-bersih itu terduduk di sudut ruangan dengan tangan terikat dan mulut tertutup lakban.
"Astaga! Zola!"
Ray bergegas menghampiri Zola lalu membuka lakban yang menutup mulutnya.
__ADS_1
"Mereka merampok rumah ini, Tuan. Hu … hu … hu …"
"Ya, saya sudah memeriksa ruang kerja saya. Mereka mengambil semua isi di dalamnya."
"Bagaimana dengan tuan muda Arsen?" tanya Zola.
"Mereka juga menculiknya."
"Astaga. Siapa pelaku perampokan ini? Bayi tidak berdosa pun ikut menjadi korban."
Ray terdiam sejenak, ia lantas berpikir.
"Siapa sebenarnya pelaku perampokan di rumah ini? Apakah Zola tidak terlibat di dalamnya?" batin Ray.
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading..
__ADS_1