
Rossa siuman bersamaan saat Ray memasuki ruang perawatannya.
"Saya di mana?" tanyanya.
"Kamu di rumah sakit. Tadi kamu pingsan di toilet SPBU," jelas Ray.
"Astaga! Bagaimana dengan pertemuan Tuan dengan tuan Cliff dan tuan Hans? Sekarang jam berapa?" Raut wajah Rossa terlihat kebingungan.
"Tidak usah kamu pikirkan."
"Tidak usah dipikirkan bagaimana? Proyek itu bernilai ratusan juta. Kita berangkat sekarang juga. Saya sudah merasa lebih baik kok." Rossa mencoba beranjak dari tempat tidurnya namun tiba-tiba semua yang berada di ruangan itu berputar. Akhirnya ia pun terjatuh kembali.
"Kondisimu belum pulih benar, istirahat lah," ujar Ray.
"Tapi, Tuan. Bagaimana dengan proyek itu?"
"Lupakan saja, tuan Hans sudah membatalkannya."
"Astaga! Batal?!"
"Ya. Tuan Cliff yang menyampaikannya pada saya."
"Saya benar-benar minta maaf, Tuan. Gara-gara saya Tuan kehilangan proyek besar."
Ray mengulas senyum tipis.
"Tidak perlu meminta maaf, mungkin saya belum berjodoh dengan tuan Hans. Saya percaya nanti Tuhan akan memberi proyek yang lebih besar lagi."
Suasana hening sejenak.
"Oh ya, sebelumnya saya minta maaf, tadi saya memakai handphone mu tanpa izin. Saya mencoba menghubungi nomor suamimu tapi dia terus mematikan panggilan teleponnya."
Rossa meraih ponselnya dari atas meja lalu menghubungi nomor suaminya.
[Mas … Mas Niko tadi kemana saja? Kenapa tidak menjawab telepon nya?]
[Aku sedang sibuk]
[Sibuk apa? Di toko 'kan sudah ada karyawan]
[Kamu pikir dengan membayar karyawan, pekerjaanku di toko hanya bersantai-santai saja? Masih banyak yang harus dikerjakan.]
[Mas bisa 'kan ke rumah sakit sekarang?]
[Rumah sakit? Ngapain kamu di rumah sakit?]
[Tadi aku sempat pingsan di toilet SPBU saat melakukan perjalanan ke luar kota]
[Kalau aku kesana siapa yang menemani Cherry di rumah?]
[Titipkan sebentar di rumah mbak Nilam.]
[Kamu gimana sih. Dia kan baru punya bayi. Masa aku titipin Cherry di sana.]
[Astaga, Mas. Usia Cherry sudah tujuh tahun, dia pasti sudah paham apa yang boleh dilakukan dan tidak pada bayi. Dia nggak akan membahayakan bayi nya mbak Nilam.]
[Tetap saja aku nggak enak.]
[Bilang saja kalau kamu nggak mau nemenin aku di rumah sakit karena ingin berduaan dengan Wina!]
__ADS_1
[Astaga. Kamu bicara apa, Rossa? Aku bekerja keras membangun toko ini dari nol hingga sekarang menjadi toko serba ada, dan sekarang kamu malah menuduhku macam-macam.]
[Sudah lah, Mas. Nggak usah nge les! Mungkin kalau aku mati di rumah sakit kamu nggak akan pernah peduli! Lanjutkan saja bersenang-senang dengan gadis itu!]
[Rossa, mengerti lah. Aku bekerja keras demi keluarga kita.]
[Omong kosong!]
Rossa mengakhiri percakapan lalu melempar handphone nya dengan kasar di atas tempat tidur. Detik kemudian tangis nya pun pecah.
"Berpikir positif saja, mungkin suamimu memang sedang sibuk di toko." Ray mengambil kotak tissue dari atas meja lalu menyodorkannya pada Rossa.
"Dari dulu mas Niko memang tak pernah peduli pada saya. Mungkin jika saya mati dia tidak akan pernah merasa kehilangan," isak Rossa.
"Jika memang suamimu tidak bisa datang, saya akan membayar perawat secara khusus agar menemanimu di kamar ini."
"Tidak perlu, Tuan."
"Tidak apa. Kondisimu masih terlalu lemah, paling tidak jika kamu perlu sesuatu ada yang membantu."
"Tuhan, mengapa di dunia ini tidak banyak laki-laki seperti tuan Ray?" batin Rossa.
"Oh ya, saya sudah membayar biaya perawatanmu sampai besok kamu diizinkan pulang."
"Terima kasih, Tuan."
"Nanti sebelum saya pulang saya temui perawat dulu agar menemanimu di sini."
"Terima kasih, Tuan."
"Astaga. Mau berapa kali kamu bilang terima kasih."
"Kamu juga sudah sering membantu pekerjaan saya, jadi apa salahnya jika saya membayar biaya perawatanmu saat kamu sakit."
"Sungguh beruntung pengasuh itu dinikahi laki-laki sebaik tuan Ray," gumam Rossa.
"Tidak apa 'kan jika saya tinggal? Nanti ada perawat yang menemanimu."
"Ah, tidak apa, Tuan. Saya benar-benar meminta maaf sudah banyak merepotkan Tuan."
"Ya sudah, saya permisi dulu, selamat sore," ucap Ray. Dia pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.
"Sus, saya minta perhatikan secara khusus pasien di ruang Anggrek. Dia sendirian di dalam sana," ucap Ray pada seorang perawat.
"Baik, Tuan."
"Ambillah." Ray mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada sang perawat.
"Apa ini, Tuan? Tugas saya memang menjaga dan merawat pasien di rumah sakit ini, Tuan tidak perlu membayar lebih."
"Tidak apa, anggap saja ini sebagai tanda terima kasih."
"T-t-tapi, …"
"Suster jangan khawatir, ini bukan uang suap." Ray terkekeh.
Perawat yang awalnya menolak uang pemberian Ray itu pun akhirnya menerimanya.
"Terima kasih, Tuan."
__ADS_1
"Jika ada apa-apa hubungi saja nomor handphone saya yang sudah saya cantumkan di buku pendaftaran pasien," jelas Ray. Perawat itu mengangguk paham.
"Saya permisi dulu, selamat sore," ucap Ray. Dia pun lantas meninggalkan rumah sakit.
****
Pukul lima sore Ray tiba di rumahnya.
"Selamat sore, Jagoan ayah," sapanya pada Arsen yang tengah membaca komik di ruang tamu.
Tentu saja kedatangan sang ayah disambut bocah laki-laki itu dengan suka cita.
"Ayah kok sudah pulang? Tadi katanya ke luar kota."
"Ehm … ayah tidak jadi ke luar kota, Nak. Jadi ayah bisa pulang lebih cepat."
"Oh, begitu. Di mana ibumu?"
"Di dalam kamar."
"Ya sudah, ayah temui ibumu dulu ya."
Ray beranjak dari ruang tamu lalu berjalan menuju kamarnya.
"Tumben sekali sore-sore begini di kamar. Kamu nggak membantu mbok Asih di dapur?" tegur Ray.
Suci hanya menggelengkan kepalanya tanpa bersuara.
"Kamu kenapa?" tanya Ray.
Lagi-lagi Suci menggelengkan kepalanya.
"Kamu marah sama aku karena tadi aku tinggal pergi saat makan siang di kantor?"
Suci masih enggan bersuara.
"Jangan mendiamkanku seperti ini. Baiklah, jika aku punya salah, aku minta maaf." Ray duduk persis di hadapan Suci lalu mengangkat dagunya.
"Kamu menangis?" tanya Ray lantaran mendapati mata istrinya itu tampak sembab.
"Memangnya siapa yang sudah membuatmu sedih?" imbuhnya.
Untuk ke sekian kalinya Suci menggelengkan kepalanya.
Ray melingkarkan kedua tangannya di pundak Suci namun entah kenapa Suci justru menggeser tubuhnya.
"Kenapa sikap kamu berubah dingin begini?"
"Aku mau ke dapur membantu mbok Asih memasak." Suci beranjak dari tempat duduknya lalu meninggalkan kamar.
"Ada apa dengannya? Tadi saat di kantor
dia masih biasa-biasa saja," batin Ray.
Tiba-tiba saja ponsel Suci berdering singkat. Dari tempat duduknya ia bisa melihat dengan jelas jika pesan baru itu dikirim oleh nomor yang belum tersimpan di buku telepon. Ray tahu, handphone adalah privasi Suci, namun entah mengapa dia begitu penasaran untuk membaca isi pesan itu. Matanya terbelalak saat membaca pesan baru di ponsel istrinya itu.
"Astaga!"
Bersambung …
__ADS_1