Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 94


__ADS_3

Menjelang petang Rossa tiba di rumahnya.


Tentu saja kepulangannya disambut puteri semata wayangnya dengan penuh suka cita.


"Ibu sudah sembuh ya?" tanya gadis kecil bernama Cherry itu.


"Ya, Sayang. Ibu ingin cepat-cepat pulang karena tidak bisa berlama-lama jauh darimu. Oh ya, di mana ayahmu?"


"Sejak aku pulang sekolah tadi ayah belum kembali dari toko."


"Kamu sudah makan siang, Nak?" tanya Rossa.


"Sudah, Bu."


"Ayahmu masakin apa? Sayur sop, atau telur mata sapi buat kamu?"


Bocah perempuan itu menggelengkan kepalanya.


"Ayah menyuruhku membuat mie instan sendiri."


"Keterlaluan kamu, Mas!" Kalimat yang baru saja meluncur dari mulut kecil itu tentu saja membuat Rossa geram. Rupanya selama dirinya di rumah sakit pria itu tidak mengurus putri mereka dengan baik.


"Sayang, kamu sudah mandi belum?" tanya Rossa. Cherry menggelengkan kepalanya.


"Pantas saja ada yang bau asem," ucap Rossa membuat gadis kecil itu terkekeh.


"Kamu mandi dulu ya. Ibu ke toko sebentar. Nanti ibu masak makanan kesukaanmu."


"Baik, Bu." Cherry beranjak dari ruang tamu lalu berjalan menuju kamar mandi.


Jarak dari rumah menuju toko hanyalah beberapa meter saja. Dalam hitungan menit Rossa sudah tiba di toko yang diberi nama "Cherry Mart".


Rossa mendorong pintu kaca lalu masuk kedalam nya. Ia keheranan mendapati seorang pembeli yang tengah berdiri di depan meja kasir namun ia tidak menemukan Wina ataupun suaminya di sana.


"Bu Rossa, ini kasir nya kemana ya? Saya mau membayar belanjaan saya." Wanita yang tinggal tidak jauh dari rumahnya itu mengangkat keranjang berisi penuh barang belanjaan lalu meletakkannya di atas meja kasir.


"Mungkin sedang ke toilet, Bu." Biar saya saja yang menghitung barang belanjaannya."


Rossa pun mulai menghitung satu persatu barang belanjaan itu.


"Oh ya, Bu. Maaf banget, saya tidak bermaksud apa-apa. Tapi saya sudah beberapa kali memergoki pak Niko dan kasir itu bermesraan di dalam ruangan ini."


"Masa sih, Bu."


Meski dadanya begitu perih, Rossa mencoba bersikap wajar di hadapan pelanggannya itu.

__ADS_1


"Benar loh, Bu."


"Oh ya total belanjaannya 12.500."


"Ah, masa belanjaan sebanyak ini hanya habis 12.500. Coba Ibu hitung ulang."


Sekali lagi Rossa menatap layar monitor di depannya.


"Astaga! 125.000, Bu. Bukan 12.500."


"Nah, kalau segini saya percaya."


"Maaf, ya, Bu."


"Tidak apa. Ini uangnya. Saya permisi dulu, Bu Rossa.


"Baik, Bu, terima kasih."


"Kemana si Wina? Kenapa dia meninggalkan meja kasir saat jam kerja?" gumam Rossa.


Tiba-tiba ucapan pelanggannya barusan kembali terngiang di telinganya.


"Jangan-jangan dia dan mas Niko sedang bersama mas Niko di belakang," gumamnya lagi.


Dengan langkah perlahan Rossa mendekati gudang. Ia masih berharap jika suami dan kasir nya itu tengah mengambil barang di dalam sana hingga terpaksa meninggalkan meja kasir dalam keadaan kosong.


Rossa memutar gagang pintu lalu mendorongnya. Ia pun lantas mengedarkan pandangannya di dalam ruangan itu. Nyatanya ia tak menemukan siapapun di dalam sana.


Dari gudang ia bergeser menuju toilet yang berada di bagian paling belakang toko. Ia bisa mendengar suara air yang mengalir cukup deras ke dalam kolam.


"Mungkin Wina sedang di dalam," batinnya.


Tiba-tiba Rossa merasa harus buang air kecil. Itulah sebabnya ia menunggu beberapa saat sampai Wina keluar dari dalam kamar kecil itu.


Sepuluh menit kemudian kran air dimatikan disusul kemudian dengan pintu yang terbuka. Sepasang netra Rossa terbelalak saat melihat siapa yang keluar dari dalam sana. Ternyata bukan hanya Wina yang berada di dalam sana melainkan berdua bersama suaminya, Niko.


"Mas? Kamu?"


"Rossa? Kamu ngapain di sini?"


"Aku yang seharusnya bertanya, apa yang kalian berdua lakukan di dalam sana?"


"Kamu jangan salah paham dulu, Sayang. Tadi ehm … tadi Wina minta bantuanku karena air krannya tiba-tiba macet. Ya 'kan, Win?"


"I-i-iya, Bu."

__ADS_1


"Tadi aku dengar airnya mengalir deras kok. Kalau memang Mas membantu Wina, kenapa pintunya ditutup?" cecar Rossa.


"Oh, sepertinya pintu ini sudah mulai rusak."


Tiba-tiba pandangan Rossa tertuju pada bagian leher Wina. Ia mendapati banyak bekas kemerahan di sana.


"Plak!" Sebuah tamparan yang cukup keras baru saja mendarat di pipi ranum gadis berusia 20 tahun itu.


"Gadis jalaang!"


"Rossa! Apa-apaan kamu!" sentak Niko.


"Cuih! Kalian menjijikkan!" Rossa meludah tepat di hadapan wajah Niko.


"Cepat minta maaf pada Wina!"


"Kamu menyuruhku untuk minta maaf pada gadis pelacuur ini? Dengar. Mulai detik ini aku akan memecat nya!"


"Kamu salah paham, Sayang. Apa yang kamu lihat tidak seperti apa yang kamu pikirkan."


"Kamu pikir aku bodoh 'hah! Aku mendengar pengakuan dari salah satu pelanggan jika dia sering memergoki kalian bermesraan."


"Apa yang dikatakannya tidak benar. Aku begitu mencintaimu, mana mungkin aku menjalin hubungan dengan perempuan lain."


"Omong kosong! Sekarang juga kalian pergi dari hadapanku! Kalian benar-benar menjijikkan! Aku akan segera mengurus perceraian kita!" tegas Rossa.


"OK … OK. Aku mengaku jika aku dan Wina memang menjalin hubungan. Bahkan hubungan kami sudah begitu jauh.


Tapi, jika kamu berpikir untuk mengusirku dari toko ini, kamu tidak akan pernah bisa melakukannya. Kepemilikan toko ini adalah atas namaku."


"Bajingaan! Bangsaat!" Rossa mengangkat tangannya hendak mengarahkannya ke wajah Niko namun Wina menghalaunya. Dia justru mendorong tubuh Rossa hingga membuatnya terjatuh dalam posisi tertelungkup.


"Kamu pikir aku bahagia dengan pernikahan kita? Tidak! Aku tidak pernah merasa bahagia selama menikah denganmu! Silahkan jika kamu ingin mengurus perceraian kita, jadi aku dan Wina bisa secepatnya menikah."


"Laki-laki tidak tahu diri! Apa kamu lupa siapa kamu sebelum kita menikah? Kamu hanyalah seorang pedagang sayur keliling. Aku yang sudah mengangkat derajatmu hingga kamu bisa memiliki toko sebesar ini."


"Mungkin kamu memang memiliki materi berlebih, tapi kamu tidak pernah tahu bagaimana cara menyenangkan hati suamimu. Yang ada di kepalamu hanyalah kerja … kerja … kerja. Bahkan setelah kita memiliki toko sebesar ini pun kamu tak pernah menghiraukan permintaanku untuk berhenti bekerja."


"Oh, jadi ini yang kamu jadikan pembenaran untuk berselingkuh dengan pelacuur ini?"


"Ya. Aku merasa nyaman dengan Wina. Dia bisa membuatku bahagia."


Rossa beranjak dari lantai lalu berjalan menuju bagian depan toko nya. Entah setan apa yang merasukinya ketika tiba-tiba pandangannya tertuju pada pisau dapur yang berjejer rapi di rak dagangannya. Ia pun mengambil salah satu pisau yang masih baru itu lalu membawanya ke arah toilet.


"Kalian akan membayar mahal sebuah pengkhianatan" gumamnya.

__ADS_1


"Astaga. Rossa. Apa yang akan kamu lakukan dengan benda itu?!" Niko dan Wina melangkah mundur ketika Rossa menodongkan benda tajam itu ke arah mereka.


Bersambung …


__ADS_2