Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 117


__ADS_3

"Maaf, saya lupa nama gadis yang satunya lagi."


"Ya Allah, Mas. Bagaimana kalau gadis yang satunya lagi itu Murni?"


"Sepertinya kita harus melakukan pembongkaran pada kedua makam itu," ucap salah satu polisi.


"Saya setuju, Pak," ujar Ray.


"Pak Husein, bisa bantu kami menggali kedua makam itu?" ucap salah satu polisi.


"Baik, Pak."


"Sudah saya katakan, itu hanya gundukan tanah biasa," ucap sang big boss. Kini kedua tangannya dalam cengkeraman salah seorang polisi.


"Diam kamu!" bentak salah satu polisi.


"Pak Husein, silahkan ambil alatnya lalu gali makam itu," titah Ray.


Pria berusia lebih dari setengah abad itu pun bergegas mengambil cangkul dan skop dari gudang lalu membawanya menuju bagian belakang gedung.


"Aku takut, Mas," ucap Suci.


"Tenang lah."


Pak Husein mulai mengayunkan cangkulnya lalu menggali makam yang baru berumur tiga hari itu. Sementara bibir Suci tak berhenti menguntai do'a agar mayat dikubur di halaman belakang itu bukanlah adik kandungnya, Murni.


Benar saja, setelah beberapa saat menggali, tampak lah dua jenazah di dalam gundukan tanah tersebut.


"Silahkan Ibu amati, apakah jenazah itu adalah anggota keluarga yang ibu cari," ucap polisi.


"Mas … aku takut."

__ADS_1


Ray yang kedua tangannya masih menahan Eva itu menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan pada Suci jika semuanya baik-baik saja.


Perlahan Suci mendekati kedua jenazah itu. Ia lantas mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menatap wajah kedua gadis yang bernasib malang itu.


"Bagaimana, Bu? Apakah Ibu mengenali mereka?" tanya polisi.


"Ti-ti-tidak, Pak. Saya tidak mengenali mereka."


"Pasti mereka adalah kedua kawan Murni," ujar Ray.


"Kalau Murni tidak ada di sini, di mana dia sekarang?" tanya Suci.


"Cepat katakan di mana keberadaan Murni!" sentak Ray pada Eva.


"S-s-saya tidak tahu, Pak."


"Jangan menunggu saya berbuat kasar!"


"S-s-saya benar-benar tidak tahu kemana perginya gadis itu."


tanya Ray.


"Be-be-nar, Pak. Lebih tepatnya melarikan diri dari kejaran bos."


"Brengseek kamu! Kamu apakan adik saya hah!" Suci menatap tajam mata sang big Boss.


"Saya-saya tidak berbuat apapun pada gadis itu. Saya hanya, …"


"Plak!" Suci mendaratkan sebuah tamparan yang cukup keras di pipi pria keturunan China itu. "Tidak perlu dilanjutkan!" imbuhnya.


"Bagaimana dengan kedua jenazah ini, Pak, Bu?" tanya salah satu polisi.

__ADS_1


"Saya akan menyewa mobil jenazah untuk mengantar kedua jenazah itu pada keluarganya. Saya yakin kartu identitas mereka masih berada di tempat ini," ucap Ray.


"Tangkap mereka berdua, Pak, dan hukum seberat-beratnya!" seru Suci.


"Jangan tangkap saya, Pak," ucap pak Husein.


"Pak Husein tenang saja, dalam kasus ini Pak Husein tidak bersalah. Kami hanya akan menangkap pria dan wanita ini," jelas polisi.


"Alhamdulillah."


"Sekarang kita harus bagaimana, Mas? Murni menghilang dan tak ada yang tahu di mana keberadaannya," ucap Suci.


"Di manapun Murni berada, aku yakin dia dalam keadaan baik-baik saja," ujar Ray.


"Semoga."


"Baiklah, Pak … Bu. Kami mengucapkan terima kasih. Berkat bantuan kalian, kami bisa membongkar bisnis prostitusii ini. Kami akan memanggil ambulance untuk mengantar kedua jenazah ini kepada pihak keluarganya."


"Sama-sama, Pak."


"Kalian berdua ikut kami ke kantor sekarang!" Salah satu polisi mengambil alih Eva yang sedari tadi dalam cengkeraman Ray.


"Ampun, Pak. Jangan tangkap saya. Saya hanya bekerja saja."


"Diam kamu! Jelaskan semuanya di kantor!" seru polisi.


"Kami permisi dulu, Pak …Bu. Mobil ambulance sedang dalam perjalanan menuju tempat ini."


"Baik, Pak."


Kesatuan polisi itu pun lantas membawa sang big boss, Eva, serta beberapa tamu di panti pijat plus itu meninggalkan tempat itu untuk selanjutnya dibawa menuju kantor polisi.

__ADS_1


"Di mana kamu, Murni," ucap Suci parau.


Bersambung …


__ADS_2