
"Kamu dari mana saja, Sis? Kenapa baru pulang?" tegur Suci saat mereka berpapasan di ruang makan.
"Tadi aku sudah bilang 'kan, keluar untuk membeli pulsa."
"Ini sudah hampir dua jam semenjak kamu pamit untuk membeli pulsa. Memangnya di mana kios nya?"
"OK! OK! Aku mengaku. Aku keluar tidak untuk membeli pulsa saja, tapi aku pergi dengan kawanku."
"Pergi kemana?"
"Apa kamu perlu tahu juga aku pergi kemana?"
"Ini gajimu bulan ini," ucap Suci sembari menyodorkan sebuah amplop berwarna cokelat pada Siska.
Siska pun meraih amplop itu lalu memeriksa isi di dalamnya.
"Hah?! Apa ini tidak salah? Kecil sekali gajiku. Suamimu pelit!"
"Sebelum bicara begitu, apa kamu sudah memikirkan bagaimana kinerjamu di rumah ini? Apa kamu selalu mengerjakan tugasmu dengan baik? Apa kamu serajin mbok Asih?"
"Kamu kok jadi membandingkanku dengan si tua cerewet itu sih!"
"Aku tidak bermaksud untuk membandingkan kalian, tapi kamu tahu sendiri 'bukan? Kinerja mbok Asih. Dia bangun paling pagi dan mengerjakan pekerjaan rumah, juga menyiapkan sarapan. Sedangkan kamu baru bangun setelah semuanya sarapan terhidang di atas meja. Selama ini aku memilih tak menegurmu di hadapan mas Ray ataupun mbok Asih. Karena apa? Aku ingin menjaga perasaanmu dan berharap kamu bisa berubah. Tapi semakin hari kamu justru semakin seenaknya sendiri. Tadi kamu belum mencuci, tapi kamu sudah keluar rumah dan baru pulang dua jam kemudian."
"Jangan mentang-mentang jadi nyonya kamu niss bicara seenak perutmu. Kamu ini gembel yang naik kelas. Kalau tuan Ray tidak menikahimu, pasti sampai sekarang kamu masih jadi babu."
"Ini semua sudah takdir. Jodoh adalah di luar kendali kita. Aku pun tidak pernah bermimpi untuk menjadi istri mas Ray."
"Aku jadi penasaran, jurus apa sih yang kamu pakai sampai-sampai pria sekelas tuan Ray bisa terpikat dengan babu nya sendiri.
"Apa maksudmu bicara begitu? Aku tidak pernah memakai jurus apapun."
"Siska! Tidak sepantasnya kamu bicara begitu pada Suci!" sentak mbok Asih yang baru saja kembali dari berbelanja di pasar.
"Loh, memangnya di mana salahku? Aku bicara fakta kok. Kenapa tuan Ray bisa terpikat oleh perempuan kampung sepertinya. Wajah dan penampilannya masih mending aku kemana-mana."
"Ngomong-ngomong kamu dari mana?" Mbok Asih mengalihkan pembicaraan.
"Tadi aku sudah bilang 'kan? Keluar untuk membeli pulsa."
"Kamu tidak usah bohong. Kamu tadi pergi ke tempat karaoke 'kan"?
"Sial! Bagaimana wanita tua ini bisa tahu jika aku pergi ke tempat karaoke?" batin Siska.
"Mbok jangan bicara sembarangan!" bantah Siska.
"Sudahlah, mengaku saja. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau kamu masuk ke tempat karaoke dengan seorang pria."
"Kamu masuk ke tempat karaoke dengan pria? Apa benar begitu?" cecar Suci.
"Sepertinya penglihatan Mbok mulai bermasalah."
"Penglihatanku masih normal. Lagipula bukan hanya aku saja yang melihat, tapi tuan Ray juga."
"A-a-pa? Tuan Ray juga melihat?"
"Ya. Pria itu tuan Freddy 'kan? Pasti pria itu yang selama ini membelikanmu barang-barang mahal itu."
"Tuan Freddy siapa, Mbok?" tanya Suci.
"Tuan Ray bilang tuan Freddy itu adalah salah satu ayah kawannya. Benar begitu 'bukan, Nona Siska?"
"Ehm … aku-aku, …"
"Siska. Apakah yang dikatakan mbok Asih ini benar?" cecar Suci.
"OK! Tuan Freddy memang pacarku. Aku bertemu dengannya di mall. Dia tidak sengaja menabrakku hingga handphone yang baru saja kubeli hancur berantakan. Dia pun membelikanku handphone baru. Tidak hanya itu, dia juga sering membelikanku barang-barang mahal," papar Siska.
"Rupanya benar dugaanku. Kamu menjadi simpanan om-om hanya biar bisa memiliki barang-barang mahal itu."
"Sembarangan saja kalau ngomong. Aku ini bukan simpanan om-om. Tuan Freddy itu duda, bukan pria beristri. Sudah, aku capek, mau istirahat."
"Enak saja mau istirahat. Itu cucian di belakang numpuk. Memangnya siapa yang mau ngerjain?" protes mbok Asih.
"Nanti saja!" Siska beranjak dari ruang makan lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Loh, kok malah tidur ki piye to?" gerutu mbok Asih.
"Sudah, Mbok. Gak apa-apa, biar aku saja yang mencuci pakaiannya," ucap Suci.
"Loh, kok malah jadi kamu yang nyuci?"
"Nggak apa-apa, Mbok. Mungkin Siska memang sedang capek."
"Biar mbok saja yang mencuci."
__ADS_1
"Tidak usah, Mbok memasak saja untuk makan siang." Suci berlalu dari hadapan mbok Asih lalu berjalan menuju tempat khusus mencuci pakaian yang berada di bagian belakang.
"Untung Suci orangnya baik dan sabar. Kalau tidak, pasti gadis pemalas itu sudah dipecat," gumam mbok Asih.
Mbok Asih baru saja beranjak dari ruang makan ketika tiba-tiba terdengar suara dering ponsel dari kamar utama.
"Nduk, ada telepon!" seru mbok Asih.
"Angkat saja nggak apa-apa, Mbok. Aku lagi nanggung nih!" sahut Suci dari ruang belakang sana.
Mbok Asih bergegas menuju kamar utama dan lekas meraih ponsel Suci yang berada di atas meja rias. Rupanya guru sekolahnya yang menelpon.
[Halo, selamat pagi menjelang siang, Bu Suci.]
[Maaf, Ibu guru. Ini saya mbok Asih asisten rumah tangga bu Suci. Ada apa ya, Bu?]
[Tolong sampaikan pada bu Suci jika Arsen setelah olahraga muntah-muntah. Sekarang dia ada di klinik sekolah. Apa bu Suci bisa menjemput?]
[Astaghfirullahaldzim. Ya Allah, sekarang bagaimana keadaan tuan muda Arsen, Bu guru?]
[Arsen sudah tidak muntah-muntah lagi. Tapi keadaannya begitu lemas, sepertinya tidak mungkin untuk melanjutkan mengikuti pelajaran.]
[Baik, Bu guru. Saya akan segera menyampaikannya pada bu Suci. Terima kasih atas informasinya.]
-Panggilan terputus-
"Nduk! Nduk!" teriak mbok Asih.
"Ada apa, Mbok. Kok teriak-teriak begitu?"
"Tuan muda … tuan muda …"
"Iya, Mbok. Kenapa dengan Arsen?"
"Barusan ibu gurunya yang menelpon. Beliau memberitahu kalau tuan muda sakit di sekolah."
"Astaghfirullahaldzim! Arsen sakit apa, Mbok?"
"Ibu guru bilang kalau tuan muda muntah-muntah setelah berolahraga. Kamu diminta untuk segera datang ke sekolah."
"Mbok lanjutkan mencucinya ya, aku ke sekolah Arsen dulu," ucap Suci.
"Iya, Nduk. Kamu tidak usah pikirkan cucian ini. Yang terpenting sekarang kamu cepat ke sekolah."
"Ya sudah, Mbok. Aku pergi dulu."
"Coba kulihat dulu. Dia ada nggak di luar."
Suci beranjak dari ruang mencuci lalu bergegas menuju teras rumahnya. Rupanya dia tidak menemukan Davin di sana.
"Ya Allah, kemana Davin? Di saat genting begini dia malah menghilang," gumamnya.
"Loh, Bu Suci mau kemana? Sepertinya buru-buru sekali," tegur pak Bondan, sang security yang berjaga di pintu gerbang.
"Anu … aku, Pak. Arsen sakit. Saya akan menjemput di sekolahnya. Apa Davin belum kembali ke sini?"
"Belum, Bu. Pasti dia muter-muter dulu."
"Ya sudah, saya naik taksi saja."
Tidak berselang lama sebuah taksi melintas.
"Antarkan ibu ini ke sekolah Internasional, Pak," ucap pak Bondan pada sang pengemudi.
"Mari, Bu."
"Saya pergi dulu, Pak."
"Ya, Bu. Hati-hati." Pak Bondan membukakan pintu belakang taksi. Suci pun lantas masuk ke dalamnya.
Sesampainya di sekolah.
Suci langsung menuju klinik sekolah tempat Arsen dirawat.
"Arsen, Sayang. Kamu kenapa, Nak?" tanyanya dengan raut wajah panik.
"Tadi saat olahraga tiba-tiba perutku sakit, Bu."
"Memangnya tadi kamu makan apa selain bekal yang ibu siapkan dari rumah?"
"Ehm … tadi ada nenek penjual donat di depan sekolah. Karena kasihan aku membelinya."
"Ibu 'kan sudah sering bilang jangan jajan selain di kantin sekolah."
"Maaf, Bu. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
__ADS_1
"Apa perutmu masih sakit?" tanya wali kelas Arsen, miss Livia.
"Tidak, Miss. Aku hanya mual saja."
"Bagaimana ini, Miss? Apa Arsen saya bawa ke rumah sakit saja?" tanya Suci.
"Tidak perlu, Bu. Arsen hanya perlu istirahat saja. Ibu bisa mengajaknya pulang sekarang."
"Kita pulang sekarang ya, Sayang," ucap Suci. Bocah laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
Setelah berpamitan pada miss Livia, keduanya lantas meninggalkan klinik sekolah.
Suci dan Arsen baru saja menginjakkan kaki mereka di halaman sekolah ketika tiba-tiba Davin menghampiri mereka.
"Kami dari mana saja?" tanya Suci.
"Ehm … maaf, Bu. Tadi saya pulang ke tempat kost saya dulu tapi malah ketiduran. Saya langsung ke rumah Ibu tapi pak Bondan bilang Ibu sedang ke sekolah tuan muda Arsen. Itulah sebabnya saya langsung kesini," papar Davin.
"Ya sudah, kita pulang sekarang."
"Tuan muda kenapa minta dijemput?"
"Arsen sakit. Ibu gurunya yang meminta saya untuk menjemputnya," jelas Suci.
Davin mengangguk paham.
Mereka meninggalkan halaman sekolah lalu menuju mobil.
Sesampainya di rumah.
Mbok Asih menunggu kedatangan Arsen di teras rumah dengan raut wajah panik.
"Ya Allah, Tuan muda nggak kenapa-napa 'kan?" tanyanya.
"Tadi aku sakit perut, tapi setelah muntah dan diberi obat sama Miss Livia perutku sudah lebih baik."
"Tuan muda jajan sembarangan ya?"
"Iya, Mbok. Tadi Arsen membeli kue donat di luar kantin sekolah," jelas Suci.
"Sekarang Tuan muda paham 'kan kenapa bapak dan ibu guru melarang jajan sembarangan?" tanya mbok Asih.
Arsen menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, aku antar Arsen ke kamarnya dulu." Suci menggandeng tangan Arsen lalu mengajaknya masuk ke dalam kamar Arsen.
"Dari tadi di kamar saja, apa tidak bosan?" batin mbok Asih saat melintasi kamar Siska.
"Bangun! Hari ini mobil sampah datang!" seru mbok Asih dari depan pintu kamar.
Tidak berselang lama pintu kamar terbuka.
"Ada apa?"
"Kumpulkan semua sampah di rumah ini lalu bawa ke depan komplek."
"Malas, di luar panas."
"Apa kamu bilang? Malas?! Semua pekerjaan sudah beres, bahkan Suci yang harus turun tangan mencuci pakaian. Hanya disuruh buang sampah saja bilang malas."
"Mbok nggak lagi ngapa-ngapain kan? Mbok saja yang membuang sampahnya. Aku lapar, mau makan siang dulu."
"Kalau nunggu kamu selesai makan siang, bisa-bisa truk pengangkut sampah nya sudah lewat."
"Makanya Mbok saja yang buang sampah nya."
"Hufht! Awas saja nanti aku aduin sama tuan Ray biar gaji kamu dipotong lagi."
"Dasar penjilat!"
"Ini 'kan baru baru jam sebelas siang, tumben anak itu sudah pulang. Tunggu! Kalau Arsen sudah pulang, berarti ada Davin dong." Siska yang tadi sempat bilang lapar itu pun lekas meninggalkan kamarnya lalu berjalan menuju teras.
"Davin!" panggil Siska saat sopir pribadi itu hendak menaiki sepeda motornya.
"Siska. Aku pikir kamu berangkat kuliah."
"Kuliah? Memangnya siapa yang kuliah?" sela mbok Asih yang baru saja keluar dari dalam rumah. Ia tampak membawa kantong plastik berukuran besar berisi sampah.
"Siska, Mbok."
"Kuliah di universitas mana kamu?" sindir mbok Asih.
"Ehm … di kampus ehm, …"
"Mbok sama adiknya majikan kok nggak sopan banget sih!" protes Davin.
__ADS_1
"Hah?! Adik majikan?"
Bersambung …