Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 96


__ADS_3

Pagi itu Siska terlihat keluar dari dalam kamarnya dengan berpakaian rapi.


"Kamu mau kemana pagi-pagi begini?" tegur Suci yang hendak menyiapkan sarapan di meja makan.


"Ehm … mau beli pulsa di depan."


"Mau beli pulsa kok pke berdandan segala," cibir mbok Asih yang yang baru saja muncul dari arah dapur.


"Memangnya kenapa kalau aku berdandan? Aku nggak minta uang buat beli bedak dari Mbok 'kan?" sahut Siska tak kalah ketus.


"Mbok justru heran, kamu punya uang dari mana untuk membeli ini itu. Sedangkan kamu belum gajian."


"Apa semua urusanku Mbok harus tahu? Aku mau beli ini kek itu kek, terserah aku dong."


"Jangan-jangan kamu utang online ya?"


"Sembarangan saja kalau ngomong. Ingat ya, fitnah itu lebih keji dari pembunuhan."


"Habis nya kalau ditanya dapat uang dari mana kamu nggak pernah memberi jawaban yang jelas."


"Ah! Aku mau pergi sekarang."


"Kamu nggak sarapan dulu, Sis?" tanya Suci.


"Nanti saja."


"Awas ya, kalau kamu pergi lama-lama aku bilang ke tuan Ray agar gaji kamu dipotong."


"Iya, bawel," gerutu Siska. Dia lantas meninggalkan ruang tamu.


"Lihat mantan saudara tiri kamu itu. Bangun tidur langsung pergi. Mbok yakin dia tidak benar-benar keluar untuk membeli pulsa," ucap mbok Asih.


Obrolan mereka terhenti saat Arsen menghampiri mereka.


"Selamat pagi, Ibu," sapanya.


"Selamat pagi, Sayang. Ayo sarapan dulu." Suci menarik sebuah kursi. Arsen pun lantas mendudukinya.


"Ayah di mana, Bu?" tanya Arsen.


"Sepertinya sedang bersiap-siap."


Tidak berselang lama Ray pun muncul.


"Selamat pagi, semuanya," sapanya.


"Selamat pagi."


"Wah, nasi goreng ya? Sudah lama Mbok tidak memasak nasi goreng," ucap Ray.


"Bukan mbok yang masak, tapi Suci.


"Nasi goreng istimewa dan spesial pakai cinta," ujar Ray.


"Yang benar nasi goreng spesial pakai telur, Yah," ralat Arsen.


"Iya pakai telur, tapi ayah yakin ibumu memasaknya dengan penuh rasa cinta."


Suci menuangkan beberapa sendok nasi goreng dan telur mata sapi lengkap dengan taburan bawang goreng di atasnya lalu memberikannya pada Ray.


"Terima kasih, Sayang."


Tiba-tiba pandangan Suci tertuju pada mbok Asih.


"Mbok kenapa senyum-senyum sendiri?" tanyanya.


"Mbok senang melihat kalian yang harmonis. Jadi membuat adem di hati."


Suci menanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.


"Sepertinya Rossa mau resign dari perusahaan," ucap Ray sebelum memasukkan sendok pertama nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Memangnya kenapa, Mas?"


"Dia bilang mau menjaga toko miliknya."


"Loh, bukannya kemarin suaminya yang menjaga toko, sementara mbak Rossa kerja di kantor."


"Entahlah. Di telepon tadi dia hanya mengatakan memintaku untuk mencari sekretaris baru. Aku jadi berpikir jika dia sedang dalam masalah."


"Mungkin lebih baik Mas temui saja mbak Rossa di rumahnya," usul Suci.


"Ya. Mungkin nanti sepulang dari kantor aku ke sana."


"Ibu, aku sudah selesai," sela Arsen.


"Tunggu sebentar, kotak bekal mu ada di meja dapur." Suci beranjak dari ruang makan menuju dapur. Tidak lama kemudian dia kembali dengan membawa kotak bekal milik Arsen.


"Dihabiskan ya, Nak," ucapnya.


Bocah laki-laki itu menganggukkan kepalanya.


"Permisi," ucap seseorang dari arah pintu depan.

__ADS_1


"Mas Davin sudah datang, aku berangkat dulu, Yah … Bu."


"Hati-hati ya, Sayang. Semangat belajarnya," ucap Suci.


"Ya, Bu." Setelah bergantian menyalami Suci dan Ray, Arsen pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.


"Mbok, ini gaji Mbok bulan ini," ucap Ray seraya menyodorkan amplop berwarna cokelat pada mbok Asih.


"Alhamdulillah, terima kasih, Tuan."


"Oh ya. Siska di mana?"


"Lagi keluar, Mas. Katanya mau beli pulsa."


"Ya sudah, aku titipkan ke kamu saja," ucap Ray. Suci mengangguk setuju.


Tiba-tiba terdengar dering ponsel dari dalam kamar utama.


"Sepertinya itu suara handphone mu. Kamu periksa dulu, barangkali keluargamu yang menelpon," ucap Ray.


Suci beranjak dari ruang makan lalu berjalan menuju kamarnya. Benar saja, Sang ayah, Bimo yang menelpon.


[Assalamu'alaikum, Pak. Bagaimana kabar Bapak dan adik-adik?]


[Ini aku, Murni.]


[Ada apa, Mur?]


[Mbak … aku sudah bosan terlalu lama menganggur di rumah setelah lulus. Aku boleh 'kan pergi merantau seperti Mbak Suci?]


[Kenapa kamu berpikir begitu?]


[Aku ingin seperti teman-temanku merantau ke kota untuk kuliah ataupun bekerja. Aku bosan dengan kehidupan di kampung yang hanya begini-begini saja. Aku juga ingin mencari pengalaman seperti mereka.]


[Murni, dengar mbak. Mencari pengalaman tidak harus merantau. Kamu 'kan bisa mencari pekerjaan di sana yang bisa pulang setiap hari. Jadi kamu masih bisa mengurus bapak.]


[Ah! Mbak tahu 'kan pekerjaan di sini itu apa saja. Kalau nggak di toko ya di home industri. Gajinya pasti kecil. Kalau di kota 'kan bisa kerja di kantor atau di perusahaan. Gajinya pasti besar.]


[Di kota mungkin gajinya lebih besar daripada gaji di desa, tapi pengeluarannya juga jauh lebih besar.]


[Ehm … aku diajak temanku kerja di salon di kota S, katanya gajinya sebulan lebih dari sepuluh juta. Boleh ya, Mbak. Aku berangkat.]


[Murni, kamu jangan mudah tergiur dengan ajakan teman. Apalagi dengan tawaran gaji yang tidak masuk akal. Bagaimana kalau ternyata setelah sampai di sana apa yang yang kamu dapatkan tidak seperti yang kamu harapkan. Setahu mbak gaji normal di sana nggak sampai lima juta.]


[Teman-temanku sudah pada ke kota semua. Masa aku sendirian di kampung. Pokoknya aku tetap mau berangkat ke kota S!]


[Kenapa kamu jadi keras kepala begini? Mbak yakin bapak juga nggak akan ngijinin kamu berangkat.]


[Aku tetap mau berangkat dengan atau tanpa persetujuan kalian.]


[Aku sudah besar, Mbak. Bisa jaga diri.]


[Kamu tega ninggalin bapak dan Fitri? Kamu nggak kasihan sama mereka?]


[Apa Mbak Suci juga kasihan padaku? Sejak Mbak pergi ke kota, pekerjaanku hanya mengurus rumah dan bapak. Aku bosan, Mbak.]


[Mengurus orangtua juga ibadah, Mur.]


[Ya sudah, Mbak Suci pulang saja ke kampung, terus ngurus bapak di sini. Jangan hanya mau enak-enakan saja hidup menjadi ratu di dalam istana.]


[Astaghfirullahaldzim. Murni. Kenapa kamu bicara sekasar itu sama mbak?! Mbak ini sudah bersuami, jadi sudah menjadi kewajiban mbak untuk tinggal bersama suami.]


[Uang mas Rayyan 'kan banyak, minta buatin saja rumah di kampung, terus pindah ke sini.]


[Tidak segampang itu, Mur. Di sini Mas Ray mengurus perusahaan. Tidak mungkin mas Ray meninggalkannya.]


[Alah! Bilang saja Mbak nggak mau hidup di kampung dengan segala keterbatasannya. Di sana 'kan Mbak enak. Bangun tidur sudah ada yang nyiapin makan, baju sudah ada yang cuciin, dan rumah juga sudah diberesin. Gitu 'kan?]


Suci terdiam.


[Besok aku mau berangkat ke kota S bareng temenku. Uang transport sama uang hidup sebelum gajian sudah ditanggung semua sama pemilik salon.]


[Murni, perasaan mbak nggak enak. Mbak mohon, jangan ambil tawaran itu. Kalau kamu memang ingin bekerja di kota, nanti mbak cari info pekerjaan dari sumber terpercaya dan tidak jauh dari rumah mbak. Jadi kamu bisa tinggal di rumah ini]


[Aku nggak mau tinggal menumpang di rumah Mbak. Aku sudah besar, aku mau belajar hidup mandiri. Sudah ya, Mbak. Aku mau nyuci baju dulu.]


[Murni! Murni! Tunggu! Mbak belum selesai bicara!]


-Tiba-tiba panggilan terputus-


Suci berkali-kali menghubungi kembali nomor sang ayah, namun panggilannya selalu ditolak.


"Astaghfirullahaldzim, kenapa Murni jadi keras kepala begini?" gumamnya.


"Ada apa bapak menelpon?" tanya Ray yang tiba-tiba saja sudah berdiri di ambang pintu.


"Bukan bapak, Mas, tapi Murni."


"Wajah kamu terlihat kebingungan. Ada apa?" tanya Ray sembari duduk di samping Suci.


"Murni bersikeras ingin bekerja di kota S karena tergiur tawaran gaji besar. Entah mengapa perasaanku tidak enak. Aku sudah menasehatinya panjang lebar tapi dia sama sekali tidak mau mendengarkanku."


"Murni masih sangat muda, mungkin dia hanya ingin mencari pengalaman," ujar Ray.

__ADS_1


"Aku sudah bilang padanya kalau mau bekerja di kota biar kucarikan info dari sumber terpercaya dan tempat kerjanya tidak jauh dari rumah kita biar dia bisa tinggal di sini. Tapi dia menolak dengan


alasan ingin hidup mandiri."


"Kita do'akan saja semoga pekerjaan yang ditawarkan pada Murni adalah pekerjaan yang baik," ujar Ray.


"Mas sudah mau berangkat?" tanya Suci.


"Ya. Kamu nggak muncul-muncul jadi aku susul kesini."


Tiba-tiba pandangan Suci tertuju pada dasi Ray.


"Dasi nya kurang rapi, biar biar kurapikan."


"Kamu perhatian sekali sama aku sampai sedetail itu."


"Dasi nya memang miring kok, Mas."


Ray melingkarkan tangannya di pinggang Suci saat istrinya itu membenahi dasi nya.


"Apa sudah selesai?" tanyanya.


"Sudah, sudah rapi sekarang."


"Bukan itu."


"Bukan itu apa?"


"Itu."


"Itu apa?"


"Tamu bulanannya."


"Ini kan baru tiga hari."


"Beberapa kali gagal buka segel, semoga besok langsung jadi."


"Jadi apanya?"


"Jadi Ray Junior."


"Sudah siang, sana berangkat."


"Sebentar lagi. Aku masih mau begini."


Ray semakin erat mendekap tubuh Suci.


"Aku belum mandi."


"Biarin."


"Nduk, …"


Ray cepat-cepat menjaga jarak dari Suci saat tiba-tiba mbok Asih melintas di depan pintu kamar.


"Ya, Mbok."


"Mbok mau ke pasar. Kamu mau titip sesuatu mungkin?"


"Ehm … aku lagi pingin makan sayur gudeg."


"Ya sudah, nanti mbok beli nangka muda."


"Mbok bareng aku saja," ucap Ray.


"Tidak usah, Tuan. Mbok naik angkutan umum saja."


"Nggak apa-apa, Mbok. Sekalian saja. Mas Ray 'kan lewat pasar," timpal Suci.


"Ya sudah deh."


"Aku berangkat dulu," ucap Ray.


"Hati-hati ya, Mas." Suci meraih tangan Ray lalu mengecupnya.


"Mbok ke pasar dulu, Assalamu'alaikum.


Keduanya pun lantas menuju mobil Ray yang berada di halaman rumah.


"Sebenarnya Siska pergi kemana, Mbok?" tanya Ray sesaat setelah mobil melaju.


"Mbok juga tidak tahu kemana sebenarnya anak itu pergi. Kalau memang hanya beli pulsa pasti sudah pulang sedari tadi."


"Sepertinya Siska menyembunyikan sesuatu," ujar Ray.


"Tuan! Berhenti sebentar!" seru mbok Asih.


"Ada apa, Mbok?"


"Lihat di sana. Itu Siska 'bukan?" Mbok Asih mengacungkan jari telunjuknya pada seorang gadis dan seorang pria paruh baya yang baru saja turun dari mobil dan hendak memasuki tempat karaoke.


"Astaga. Benar itu Siska. Tunggu! Sepertinya pria itu tidak asing bagiku," ucap Ray.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2