Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 39


__ADS_3

Di sebuah tempat kost.


Sore itu Siska baru pulang dari kuliah. Dia begitu kesal saat mendapati sang ibu tengah berbaring di atas tempat tidur. Ia pun semakin dibuat meradang saat baju seragam nya di cafe masih berada di dalam keranjang baju kotor.


Ya, selain kuliah, Siska atau saudara tiri Suci itu bekerja paruh waktu sebagai pelayan cafe. Ia biasanya akan berangkat pada jam tiga sore dan pulang ke rumahnya saat menjelang tengah malam.


"Astaga. Enak sekali tidur-tiduran. Apa aku harus mengenakan baju seragam kotor 'hah?!" sungutnya.


"Maaf, Nak. Daritadi kepala ibu pusing. Mau beranjak dari tempat tidur saja badan rasanya linu semua," ucap sang ibu, Widya.


"Terus, aku gimana? Apa aku harus berpakaian kotor saat bekerja?"


"Baju seragam kamu 'kan tidak hanya satu. Kamu bisa pakai seragam yang lainnya."


"Di cafe juga punya aturan. Memangnya cafe.itu punya nenekku 'apa? Aku bisa seenaknya."


"Ya sudah, ibu cuci sebentar, lalu dikerjakan pakai mesin cuci. Pasti cepat kering."


"Tidak perlu! Biar aku bawa pakaian-pakaian kotor ini ke loundry."


Dengan menahan kesal Siska memasukkan satu persatu pakaian kotor miliknya ke dalam kantong plastik.


"Kamu nggak beli makanan buat ibu, Nak? Ibu belum makan siang," ucap Widya.


"Nggak! Aku nggak punya duit. Nunggu gajian tiga hari lagi."


"Jadi, selama tiga hari ibu tidak makan?"


"Kalau mau makan sana, cari kerja. Jangan cuma bergantung pada orang lain saja."


"Orang lain? Kamu ini anak kandung ibu. Bagaimana kamu bisa mengatakan jika kamu orang lain?"


"Semenjak Ibu tinggal di sini, pengeluaranku bertambah banyak. Penghasilanku yang biasanya kutabung habis untuk makan."


"Kenapa kamu perhitungan sekali dengan ibu? Apa kamu lupa bagaimana usaha ibu agar bisa mengabulkan semua keinginanmu? Sepeda motor itu misalnya."


Widya mengacungkan jari telunjuknya pada sepeda motor yang berada di depan kamar kost. "Ibu harus menggadaikan rumah pada rentenir tanpa sepengetahuan bapak tiri kamu. Apa kamu mau tahu, akibat menuruti keinginanmu yang wajib terkabul itu kami nyaris diusir dari rumah. Ibu tidak tahu bagaimana nasib Bimo dan ketiga anaknya sekarang. Ibu berpikir kamu satu-satunya puteri ibu. Jadi ibu memutuskan untuk tinggal bersamamu di sini. Tapi, ternyata begini perlakuanmu pada ibu."


"Memangnya Ibu mau perlakuan yang bagaimana? Setiap hari makan enak, kerjaan hanya bersantai-santai saja, begitu? Ingat, Bu. Sekarang kita hidup di kota. Semuanya serba mahal. Aku pusing setiap bulan harus membagi uang gajiku untuk membayar uang kuliah, membayar sewa kost, sekarang bebanku semakin bertambah lagi dengan kedatangan Ibu di sini."


"Beban? Jadi, kamu menganggap ibu sebagai beban? Baik. Jika kehadiranku di sini hanyalah menambah bebanmu, lebih baik aku pergi dari tempat ini."


Meski sedikit kepayahan Widya mencoba beranjak dari tempat tidurnya. Siska hanya memandangi saja saat ibu kandungnya itu mulai memasukkan baju-baju miliknya ke dalam sebuah tas.


"Perlu dicatat, aku tidak pernah mengusir Ibu, tapi Ibu yang memilih meninggalkan tempat ini."


Widya enggan menanggapi ucapan putri kandungnya itu. Dengan menahan kepedihan di hati, sekaligus rasa nyeri di badannya, Widya beranjak meninggalkan tempat kost itu.

__ADS_1


"Aku bersumpah, hidupmu akan menderita karena memperlakukan ibumu seperti ini!"


gumamnya.


Widya berjalan tanpa tujuan. Untuk kembali ke kampungnya rasanya tidak mungkin. Bimo sempat mengatakan jika dia akan mengurus perpisahan mereka. Tapi, untuk bertahan di kota juga bukan sebuah pilihan yang tepat.


Pusing di kepalanya terasa semakin menjadi, ditambah perutnya yang masih dalam keadaan kosong. Tubuh itu pun tiba-tiba saja ambruk dan luruh di atas tanah.


*****


Widya membuka matanya perlahan. Dilihatnya jam dinding di ruangan itu, waktu menunjukkan pukul tujuh malam.


"Tunggu. Bukankah tadi aku di jalan setelah pergi meninggalkan tempat kost Siska? Sekarang aku berada di mana?" Widya bergumam.


"Widya beranjak dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju ruangan di mana ada dua orang yang tengah duduk berhadapan sambil menikmati makanan.


Widya menelan ludahnya saat melihat makanan yang tersaji di meja makan. Semua makanan di sana terlihat lezat dan menggoda selera.


Beberapa saat kemudian si wanita menoleh ke arahnya.


"Eh, Ibu sudah sadar. Mari makan malam bersama kami," ucapnya.


Widya yang merasa sungkan itu menggelengkan kepalanya.


Wanita itu beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Widya yang masih belum beranjak dari pintu kamar.


"Tadi kami menemukan Ibu pingsan di pinggir jalan. Jadi kami membawa Ibu ke rumah kami," ucap si wanita seraya menuangkan nasi beserta lauknya ke dalam sebuah piring, ia lantas menyodorkannya pada Widya.


Widya yang tengah dilanda kelaparan itu pun langsung menyantap makanan tersebut dengan lahapnya.


"Terima kasih, Pak, Bu. Sudah menolong saya," ucap Widya setelah menghabiskan isi piring itu.


"Sama-sama, Bu …ehm …"


"Nama saya Widya."


"Sama-sama Bu Widya. Bukankah sebagai sesama manusia kita harus saling tolong menolong?"


Widya mengamati sepasang suami istri itu. Si pria tampak rapi dengan kemeja berdasi, sementara si wanita mengenakan pakaian dinas. Pekerjaannya mungkin di instansi pemerintah ataupun sebagai pegawai negeri sipil.


"Nama saya Kanaya, panggil saja Naya, dan ini suami saya, mas Aldi."


Laki-laki berusia empat puluh tahunan itu menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


"Ngomong-ngomong, bagaimana Ibu bisa pingsan di jalan? Rumah Ibu di mana?" tanya Aldi.


"Ehm … tadinya saya tinggal bersama puteri saya di sebuah tempat kost. Tapi sore tadi kami bertengkar hingga akhirnya dia mengusir saya."

__ADS_1


"Tega sekali anak itu mengusir ibu kandungnya sendiri."


"Sekarang saya bingung harus tinggal di mana."


"Oh ya, memangnya suami Ibu ke mana?"


"Kami sudah berpisah, sekarang dia ada di kampung."


"Astaghfirullahaldzim!"


"Kamu kenapa, Bu?" tanya sang suami.


"Ibu hampir lupa hari ini ada undangan rapat di kecamatan. Oh ya, tolong Bapak cuci piring bekas kita sarapan, terus cuciannya juga masih ada di dalam mesin cuci. Mungkin sudah kering, tinggal jemur saja di belakang. Sama satu lagi, sekalian. bawa bedcover ke laundry. Ibu harus berangkat sekarang sebelum terlambat."


Kanaya meraih tas selempang nya, dilanjutkan dengan mencium tangan sang suami sebelum akhirnya meninggalkan ruangan tersebut.


"Naya … Naya …" Aldi menggeleng heran.


"Kalau Bapak mau berangkat bekerja, tidak apa. Biar saya saja yang membereskan pekerjaan rumah," ucap Widya.


"Saya tidak enak. Ibu 'kan tamu di rumah ini, masa beres-beres."


"Tidak apa, Pak. Saya sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah."


"Kanaya menjadi guru di sebuah SMA, dia pergi pagi, pulang sudah sore bahkan petang. Ia seringkali tidak sempat membereskan rumah karena kesibukannya. Sebenarnya saya sudah memintanya berhenti bekerja agar dia menjadi ibu rumah tangga biasa saja, tapi dia terlalu sayang dengan pekerjaannya itu. Mungkin inilah sebabnya setelah menikah lebih dari delapan tahun, kami belum juga dikaruniai anak," ungkap Aldi.


"Mungkin Bapak harus lebih tegas lagi pada bu Kanaya," ucap Widya.


"Ya sudah, saya minta tolong bereskan rumah ini. Saya sudah harus sampai di kantor Sebelum jam delapan."


"Baik, Pak. Pasti says kerjakan."


"Saya berangkat dulu, Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Widya mengamati rumah itu. Meski ukurannya tak begitu besar, namun perabotan di dalamnya terbilang mahal.


"Ah! Tentu menyenangkan jika aku bisa tinggal di rumah ini," gumamnya.


Bersambung …


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…

__ADS_1


__ADS_2