
"Ibu! Jangan!" Tiba-tiba saja Ray merebut pecahan gelas itu dari tangan Sofia. Akibatnya tangannya sendiri lah yang terluka akibat tergores pecahan gelas yang tajam dan runcing itu.
"Aww!" pekiknya seraya memegangi jari-jari tangan kanannya yang berdarah.
"Dokter! Tolong!" teriak mbok Asih.
Tidak berselang lama seorang dokter masuk ke dalam ruang perawatan Sofia.
Rupanya dokter Kinara yang kebetulan melintas di depan ruangan itu.
"Ada apa?" tanyanya.
"Tangan tuan Ray terluka karena terkena pecahan gelas ini," jelas mbok Asih.
"Astaga, Ray! Kenapa bisa begini? Ayo ikut aku, biar kuobati lukamu," ucap dokter Nara sembari menggandeng tangan Ray.
"Saya bisa berjalan sendiri."
Sesampainya di ruang dokter
Kinara yang memang sudah begitu lama memendam perasaan pada Ray itu pun bergegas membersihkan luka di tangan kanannya itu. Setelah meneteskan obat obat luka, ia pun lantas menutupnya dengan kain kassa.
"Terima kasih."
"Tunggu Ray. Apa kamu tidak mau bercerita padaku apa yang sebenarnya terjadi?"
"Aku baik-baik saja. Beberapa hari lagi lukanya akan sembuh."
"Bukan itu maksudku. Kenapa tanganmu bisa terluka begini?"
"Tidak apa, hanya kecelakaan kecil."
Dokter Nara mendengus kesal.
"Saya permisi dulu."
Ray pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.
"Tuan tidak apa-apa?" tanya Mbok Asih saat Ray kembali ke ruang perawatan Sofia.
"Tidak apa, Mbok. Dokter Nara sudah mengobati luka saya."
"Lihat, Nyonya. Setelah apa yang Nyonya lakukan pada tuan Ray, dia justru menyelamatkan nyawa Nyonya," ucap mbok Asih.
Tidak berselang lama dokter Nara memasuki ruangan itu.
"Nyonya Sofia kenapa?" tanyanya.
Sofia hanya diam.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa tangan Ray bisa terluka?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Tak ada seorang pun yang menjawab pertanyaannya. Merasa diacuhkan, dokter cantik itu pun memilih meninggalkan ruangan itu.
"Ray," panggil Sofia.
"Kamu mau 'kan membiayai operasi mata ibu?"
"Memangnya apa kata dokter? Apa dia menyarankan operasi?" Ray balik bertanya.
"Dokter mengatakan ada kerusakan di syaraf mata Sofia. Tetapi beliau tidak menyarankan untuk melakukan operasi," jelas Sean.
"Apa mungkin kebutaan yang dialami ibu bersifat permanen?"
"Kenapa kamu bicara begitu, Ray. Apa sebenarnya kamu senang melihatku begini?"
"Tuan Ray jauh-jauh datang ke sini karena dia masih peduli pada Nyonya. Tapi Nyonya malah menuduh yang bukan-bukan. Seharusnya Nyonya introspeksi diri. Bisa saja yang dialami Nyonya sekarang adalah hukuman dari Tuhan atas dosa-dosa yang pernah Nyonya lakukan, terutama pada mendiang tuan Bayu," ucap mbok Asih.
"Asih! Tutup mulutmu!" sentak sang nyonya.
"Kenapa Nyonya harus marah? Saya berkata benar 'bukan?"
"Lancang sekali kamu."
"Sudahlah, Nyonya. Tidak perlu menutupinya lagi. Tuan Ray pun sudah tahu semua kepicikan Nyonya."
"Ray, jangan dengarkan ucapan pembual ini. Semua yang dikatakan olehnya adalah omong kosong!"
Ray menyeringai kecut.
"Jadi, kamu lebih mempercayai ucapan orang lain dibandingkan ucapan ibumu?"
"Apa Ibu lupa, siapa yang merawat dan mengasuhku sedari kecil? Siapa yang mengajariku menggambar? Siapa yang membacakanku buku cerita menjelang tidur? Siapa yang membawaku berobat saat aku sakit? Semua itu dilakukan mbok Asih, bukan Ibu. Bagiku, mbok Asih ini adalah ibu kandungku," ungkap Ray. Tiba-tiba saja sorot matanya berkaca-kaca.
"Kamu 'kan tahu ibu sibuk?"
"Ya, sibuk berselingkuh di belakang ayah hingga melahirkan Benny."
"Asih! Kebohongan apalagi yang kamu katakan untuk meracuni otak Ray?!"
"Mbok Asih tidak sembarangan bicara kok, Tapi mbok Asih punya bukti," ucap Ray.
"Bukti?"
"Ya, Nyonya. Di hari kematian tuan Bayu saya menemukan buku Diary di kamar beliau."
"Bu-bu-buku diary?"
"Ya. Apa Ibu tahu, betapa besarnya rasa cinta ayah pada Ibu. Sampai-sampai ayah memilih memendam kepedihannya sendiri. Ayah tahu jika dirinya mandul dan tidak akan pernah bisa membuat Ibu hamil. Itulah sebabnya ayah membiarkan Ibu berkhianat di belakangnya. Ibu hanya ingin melihat Ibu bahagia," ungkap Ray.
"Bayu, maafkan aku," lirih Sofia.
"Kenapa baru sekarang Ibu minta maaf. Untuk apa?!"
__ADS_1
"Kamu juga! Bukankah kamu tahu nyonya Sofia ini perempuan bersuami? Kenapa kamu menggodanya?" Mbok Asih mengacungkan jari telunjuknya tepat di hadapan wajah Sean.
"Saya tidak pernah sekalipun menggoda Sofi. Dia lah yang justru mengejar-ngejar saya. Padahal saat itu saya sudah memiliki kekasih."
"Kamu jangan menuduhku sembarangan. Memangnya siapa yang dulu sering minta ini itu?"
"Kamu saja yang kegatelan. Sudah bersuami, mau saja ditiduri laki-laki lain."
"Cukup! Kalian pikir saya mau mendengar perdebatan kalian 'hah?! Kalian berdua sama saja. Pengkhianat! Mari, Mbok. Kita pulang saja."
"Ray! Jangan pergi! Siapa yang akan membayar biaya rumah sakit ibu?!" teriak Sofia.
"Ibu jual saja mobil seharga tiga ratus juta itu untuk berobat," ketus Ray.
"Mobil mana yang kamu maksud?"
"Sudahlah, aku juga tahu. Uang sebesar tiga ratus juta yang katanya mau Ibu gunakan untuk menambah modal usaha, ternyata Ibu gunakan untuk membeli mobil 'bukan?"
Sofia terdiam.
"Jangan-jangan mobil Nyonya tidak dirampok, tetapi diberikan pada Seto karena dia memergoki hubungan Nyonya dengan tuan Sean. Nyonya lebih memilih merelakan mobil itu daripada Seto melaporkan hubungan kalian."
"Sekali lagi kamu bicara, kurobek mulutmu!" ancam Sofia.
"Saya rasa pemikiran mbok Asih masuk akal. Mustahil Seto meminta pulang kampung. Saat melamar pekerjaan dulu, dia mengatakan hidup sebatang kara. Keluarganya tewas dalam musibah tanah longsor di kampungnya."
"Kenapa Nyonya diam saja? Apa Nyonya sedang merenungi kesalahan Nyonya?" sindir mbok Asih.
"Ray … ibu benar-benar minta maaf. Semua yang kalian katakan memang benar. Ibu telah melakukan begitu banyak kebohongan. Uang 300 juta itu ibu gunakan untuk membeli mobil bagi Benny. Dan mengenai perampokan mobil itu hanyalah akal-akalan ibu saja. Seto yang biasanya menurut menunggu di mobil saat ibu menemui Sean, entah mengapa dia mengikuti ibu sampai ke rumah Sean. Dia bahkan merekam apa yang kami lakukan di ruang tamu rumahnya. Rekaman video itulah yang kemudian digunakan untuk mengancam ibu. Akhirnya ibu merelakan mobil ibu untuknya agar dia tidak melaporkan rekaman itu padamu," ungkap Sofia.
"Semuanya sudah jelas sekarang. Aku juga sudah tahu jika mendiang ayah memberikan hartanya penuh untukku. Anda tidak mendapatkan bagian sepeser pun. Kalimat itu juga tertulis jelas di buku diary ayah."
"Anda? Kamu memanggil ibu dengan sebutan anda?"
"Semua yang sudah anda lakukan memang tidak pantas dilakukan oleh seorang ibu. Mulai saat ini, silahkan anda tinggal bersama tuan Sean yang bisa memberikan anda keturunan ini. Anda jangan khawatir, saya tidak akan menarik kembali mobil seharga tiga ratus juta rupiah itu. Permisi, selamat pagi."
"Ray! Tunggu, Nak! Jangan perlakukan ibu begini!" Sofia beranjak dari tempat tidurnya dan berusaha mengejar Ray namun Sean menahannya."
"Sudahlah, Ray sudah pergi. Kamu tidak akan pernah bisa mengejarnya dengan kondisi begini."
Sean memapah tubuh Sofi lalu mengajaknya kembali ke tempat tidurnya.
"Mungkin apa yang kita alami sekarang adalah hukuman dari Tuhan atas dosa-dosa kita di masa lalu. Kamu jangan khawatir, kita masih memiliki mobil. Mobil itu nantinya akan kujual agar penglihatanmu bisa kembali pulih," ucap Sean.
"Jangan kamu pikir aku sudah kalah, Ray. Kamu akan membayar mahal untuk semua ini," gumam Sofi.
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
Happy reading…